The Fate (End of Yours)

Author : bynx62 (@Alliake)

Genre :  Angst, Sad, Friendship, Romance

Length : Two shoots (6371 words)

Rating : G

Main cast :

– Shin Hye Mi (OC)
– Park Chan Yeol
– ??????

Disclaimer : Sesuai janji author sebelumnya, ini sequel dari cerita ‘Invisible’. Ini sudah lebih dulu dipost di wp author, lho/abaikan Maaf sebelumnya, author buat cerita ini jadi dua part. Soalnya supaya ceritanya bisa lebih greget, gitu, hehe. Semoga sequelnya ini tidak mengecewakan readers sekalian. Happy reading~

Warning : Jalan waktu tidak berurutan, jadi setiap scene tidak seluruhnya dalam satu kejadian yang sama.

Summary : “Ketika kau percaya pada adanya takdir, maka saat itu juga kau akan percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

 

 

The Fate (End of Yours)

The Fate (cover)

Keramaian yang menyeruak seketika memudar dengan cepat, kemudian berganti dengan keheningan yang mampu menggemakan derap langkah. Seperti biasa—setiap harinya, aku duduk termenung memperhatikan ratusan orang yang berbondong-bondong meninggalkan jejak tak berbekas mereka. Menunggu sampai gedung kampusku saat ini diselimuti oleh kesunyian. Tidak mengerti dan pasti apa penyebabnya, hanya saja aku merasa sangat malas untuk segera pulang seperti yang lainnya. Ada semacam keganjilan yang sedikit ‘menggangu’—entahlah.

Aneh memang. Padahal biasanya, bunyi bel pulang adalah salah satu suara favoritku—setelah bel istirahat. Sayangnya itu, dulu

Derap langkahku terus menggema ke setiap sisi, sampai terhenti sejenak di depan pintu yang menjadi penghalang diriku dengan ruangan lain di dalam. Akhir-akhir ini—ah, tidak—lebih tepatnya semenjak aku menginjak gedung ini untuk melanjutkan pendidikan, hampir setiap hari waktu kuhabiskan di ruangan ini. Tempat dimana aku bisa dan biasa mengekspresikan segala hal dalam untaian nada yang saling mengalun dengan harmonis, dan—tentunya—salah satu tempat yang jelas berhubungan dengan jurusan yang kupilih.

Seni. Entah sejak kapan aku mulai menyukai hal yang dapat menjadi suatu penggambaran emosi tidak langsung dari sang seniman kepada hasil karyanya. Dimana aku sekarang—tanpa siapapun sadari—tidak lagi banyak menunjukkan apa yang dirasakan secara terang-terangan. Kulangkahkan kakiku mendekat, bergerak perlahan menghampiri sebuah grand piano di sudut ruangan.

Pantulanku pada piano yang mengkilap membuatku sejenak menyernyit bingung dan aneh. Aku bukan lagi Park Chanyeol, si happy virus. Meskipun tidak sepenuhnya ‘gelar’ itu hilang, tapi tetap saja untuk tersenyum dan tertawa seperti dulu pun rasanya berbeda. Seolah ada yang berubah. Seperti ada sesuatu yang hilang.

Tidak. Sepertinya sudah jelas—sangat jelas—alasan untuk semua keanehan ini yang terasa asing bahkan pada diriku sendiri.

.

Gelak tawa menghiasi meja kami yang sedang asyik bercengkrama. Banyak candaan dan pembicaraan yang dilontarkan. Tapi, entah kenapa itu semua tidak menarik perhatianku saat ini. Bagiku semuanya hanya terdengar samar-samar. Aku sibuk tenggelam dengan duniaku sendiri. Tak tahu mengapa, sesuatu yang asing menyelimuti perasaanku sejak pagi tadi.

Karena merasa semakin terusik akan sesuatu itu. Akhirnya aku memutuskan untuk menjauh sejenak. Sekedar untuk mencari tahu sesuatu yang membuatnya jadi penasaran. Sesuatu dalam diriku yang terasa sedikit… aneh.

Aku terus berjalan tanpa arah, sementara pikiranku sendiri melambung jauh entah kemana. Beribu pertanyaan dan perkiraan memenuhi otakku. Hingga kemudian aku menemukan satu hal yang—mungkin—adalah jawaban atas pertanyaan dan perasaan aneh yang masih menyelimuti.

Tidak mau ambil pusing mengenai dugaanku benar atau salah, aku langsung melangkahkan kaki menuju satu tempat. Tempat dimana aku bisa langsung menemukannya. Sayang, dugaanku meleset. Kekecewaan dan rasa heran muncul begitu aku tidak berhasil menemukan sosok yang kucari. Tidak berhenti sampai disitu, aku kembali mencari.

“Sulli-ya!”seruku membuatnya langsung menoleh.

“Hm? Wae?”tanyanya

Aku mengatur napasku sejenak sebelum melontarkan pertanyaan.“Apa hari ini Hyemi tidak masuk eoh? Aku tidak—“

“Eoh? Tidak masuk apanya?”tukas Sulli cepat.”Dia, kan, memang sudah pindah sejak dua hari yang lalu.”

Sungguh. Dadaku mencolos mendengarnya. Seperti puluhan pisau tertancap tepat dimana kantung udaraku berada. Dalam dan sesak.

MWO? Pindah?”ulangku lebih terlihat syok.

Dia refleks memukul pelan tepat pada keningku dengan lembaran kertas di tangan.“Tsk, kau ini pikun atau bagaimana, sih? Sahabatmu sudah pindah kok dibilang tidak masuk.”

Sahabat. Sejenak, kata itu terdengar aneh untukku.

Seulas senyum kucoba ukirkan.“Ah, ani, aku hanya—“

“Merindukannya, eoh?”tebaknya asal.”Kau, kan, bisa menghubunginya.”

“Haha, ya benar.”jawabku disela tawa yang kupaksakan.

“Ya sudah, aku ke kelas dulu.”pamit Sulli.

Selepas dia pergi, saat itu juga pertahananku runtuh begitu saja. Lututku seolah tak dapat lagi menopang beratnya sesak yang kurasakan. Tubuhku merosot ke tanah seketika.

.

Belum selesai sudah sebuah lagu kunyanyikan, permainan jemariku di atas tuts piano mendadak berhenti kemudian berganti dengan hempasan keras di atasnya yang membuat dentingan nyaring tak beraturan. Sesak itu muncul kembali, bersamaan dengan kilasan memori yang berputar ulang.

Aku tidak ingin mencoba untuk melupakannya, karena saat mencoba itulah kenangan itu akan semakin melekat dalam bayangan. Tapi, aku juga tidak ingin mengingatnya. Karena saat itu terjadi—seperti saat ini—segenap emosi berkecamuk hebat dalam diriku. Rasanya sungguh menyiksa—sangat.

Sesakit inikah perih yang kau rasakan, Hye?

 

Neon paboya, Chanyeol. Jeongmal pabo.”

 

>>>>><<<<<

 

Ratusan orang sibuk berlalu lalang sehingga dari kejauhan lebih terlihat seperti lautan manusia. Kuhirup sedalam dan sebanyak mungkin oksigen di sekitar. Tak hentinya pandanganku menyapu sejauh mata menatap. Kulepas shades yang bertengger manis di wajah agar tidak ada menghalangi. Segaris senyum tipis ikut menyertai bersama dengan perasaan yang aku sendiri pun tak dapat mengartikannya.

Aku kembali.

Ya, setelah cukup lama meninggalkan kota kelahiranku ini tak disangka aku akan menginjakkan kembali kakiku disini. Sangat tak disangka, karena sejujurnya aku bahkan tidak memiliki secuil niat sebelumnya dan tidak ada satu rencana apapun. Rasa enggan itu masih ada—begitupula dengan penyebabnya. Terdengar bodoh memang, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Sebuah tangan besar yang tiba-tiba melingkar manis di pundakku, membuatku tak mungkin menolak untuk menatap pemiliknya. Mataku yang langsung beradu tatap dengan miliknya lagi-lagi berhasil menarikku tenggelam ke dalamnya. Selalu begitu. Mungkin, kalau aku tidak segera melepaskan titik pandangku dari senyum manis yang dapat menghinoptis semua mata itu, aku tidak tahu apakah aku dapat kembali ke permukaan kesadaran atau tidak sama sekali.

Huh. Terdengar berlebihan memang. Tapi, begitulah bagaimana semua yeoja terjatuh pada pesonanya. Salah satunya—ya—aku.

“Aku sungguh minta maaf tidak bisa menemanimu berkeliling hari ini. Kau yakin tidak apa?”tanyanya setelah memasukkan barang-barang kami. Pertanyaan itu kembali terlontar untuk kelima kalinya semenjak kami dalam perjalanan. Aku tak mengerti, harus berapa kali dan seberapa banyak kata untuk meyakinkannya.

Sejujurnya, dialah penyebab kedatanganku kembali ke kota ini. Dia mengajak dan memintaku untuk menemaninya yang sedang menyelesaikan suatu proyek besar dengan salah satu rekannya.

Gwencanayo. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Kau urus saja dulu bisnismu.”jawabku sedikit malas—dan bosan.

Ia sekilas mengacak sayang puncak kepalaku.“Ya sudah, hati-hati.”ujarnya yang kemudian beranjak pergi. Dahiku menyernyit sejenak keheranan.

Tunggu—Lho? Mau kemana dia?

Mwo? Kau mau kemana?”tanyaku yang sontak menahan pergelangan tangannya.

“Kemana apanya? Tentu saja menemui rekanku.”jawabnya santai, meski tidak dapat dipungkiri wajahnya menggambarkan gurat kebingungan.

“Ah, aniyo. Maksudku, kau tidak pergi bersama denganku?”ulangku. Sehari sebelum keberangkatan kami, sudah disediakan alat transportasi yang nanti dapat digunakan bersama. Sekedar jaga-jaga kalau kendaraan kami masing-masing belum juga sampai. Karena itu aku bingung mengapa dia malah beranjak pergi, bukannya masuk ke dalam mobil.

“Tidak. Aku naik taksi saja, meeting sebentar lagi mulai soalnya. Kau duluan, oke?”ucapnya.

Lagi-lagi, aku menahannya untuk beranjak.“Lalu, barang-barangmu?”

Tidak pasti alasannya apa, dia langsung berkacak pinggang.“Memangnya kau pikir ini mobil siapa, heum?”ucapku membuat memutar malas bola mataku. Huh. Oke, kuakui ini memang salah satu dari sekian banyak kendaraan pribadi keluarganya—termasuk supirnya juga.

Aku mendengus pelan.“Baiklah, terserah kalau itu maumu.”acuhku.

Ia langsung beranjak pergi dan menghampiri salah satu taksi. Kali ini, aku—tentu saja—tidak menahannya lagi.“Kabariku kalau sudah sampai ya!”serunya.

“Huh, yang benar saja. Lebih baik aku tidur.”balasku setengah berteriak.

“Tak masalah. Aku akan segera ikut serta setelah meeting ini selesai.”lanjutnya yang diakhiri kedipan mata penuh arti sebelum masuk ke dalam taksi.

MWOYA?

Ya! Kau—“

Kalimatku langsung terpotong setelah menyadari suara nyaringku yang seketika menggelegar dan memancing puluhan mata di sekitarku. Tch, sial. Sangat memalukan. Aku yakin, dia pasti sedang tertawa puas sekarang. Kuhentakkan sepatu bootsku di atas tanah sebagai pelampiasan. Tak ingin lebih lama menjadi pusat perhatian, aku langsung masuk ke dalam mobil dan segera menuju rumah.

Rumah yang kumaksud tentu saja rumah dimana aku tinggal dulu. Tidak ada yang berubah dengan rumah ini—sepanjang perjalananku tadi pun tidak banyak perubahan. Bahkan halamannya saja masih bersih seperti dulu. Tidak lain tidak bukan, tentu saja pasti Seo Ahjumma yang membersihkan dan merawat rumah ini. Sejak awal, orangtuaku sengaja membiarkan rumah ini ditempatinya agar tetap terawat.

Dengan dibantu Jae Ahjusshi, aku membawa beberapa koperku ke dalam rumah setelah mendapat sambutan hangat dari Seo Ahjumma. Bibi bahkan langsung mengajak  ke meja makan, dan aku langsung disuguhi banyak makanan yang memenuhi meja. Perlu diketahui, itu semua adalah makanan kesukaanku.

Karena porsi yang terlalu banyak itu, selain mengajak bibi untuk makan bersama tak urung aku langsung menarik Jae Ahjusshi untuk ikut serta. Awalnya ia nampak ragu dan enggan, tetapi setelah mendapat bujukan maut(?) dan sedikit paksaan dariku akhirnya ia luluh juga. Singkat cerita, siang itu menjadi perbincangan hangat dan menyenangkan di meja makan. Hari yang kupikir akan sedikit membosankan, ternyata terjadi sebaliknya.

Tak terasa, waktu sudah menjelang sore. Entah sudah berapa kali mataku melirik handphoneku dan tak hentinya mengecek kalau-kalau ada notification baru. Tapi sayangnya, tetap saja tak kunjung ada balasan apapun. Setelah membereskan barang-barangku—tentunya dengan bantuan bibi juga—aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar rumah sejenak.

Di tengah-tengah kesibukanku berdebat dan berunding dengan pikiranku mengenai tempat mana yang akan kutuju, tak ayal sebuah ide melintas.

“Ng, ahjusshi? Apa ahjusshi tahu dimana apartemen tuan muda tinggal?”tanyaku.

Kulihat Jae Ahjusshi sesekali mengalihkan pandangannya pada kaca di atasnya.”Tentu saja. Nona ingin saya antarkan?”tawarnya yang langsung kusambut anggukan.

Dia bilang akan langsung mengunjungiku jika pertemuannya selesai. Tapi, bisa saja dia terlalu letih dan lupa. Ya, mungkin saja.

Beberapa menit bercengkrama dengan jalanan kota, akhirnya kami sampai pada sebuah apartemen sederhana yang ukurannya pun tidak begitu besar. Simple but classy. Begitulah kira-kira. Penampilan luar yang menurut sangat simpel itu membuat dahiku berkerut sejenak. Belum lagi ditambah ‘aura’ yang menandakan tempat ini sedang tak berpenghuni meyakinkanku satu hal.

“Apa tuan muda meminta tinggal sendiri?”tanyaku.

“Saya kira begitu.”jawabnya.”Saat saya membawakan barang-barangnya pun tidak ada siapapun di dalam. Mungkin karena itu, tuan muda memberikan duplikat kunci apartemennya pada saya.”

“Tch, jeongmal paboya.”gumamku. Sangat jelas apartemennya cukup jauh dari rumahku, dan dia memilih untuk tinggal sendiri disini. Dia pikir dia bisa apa? Menggoreng telur saja sampai gosong plus keasinan. Apa dia mau mati, huh?

 “Ahjusshi sekarang tunggu saja di tempatnya meeting dan jemput dia pulang. Nanti akan saya kirimkan alamatnya. Kalau dia mulai berkomentar, jawab saja saya yang suruh.”jelasku. Setelah mendengar intruksiku, Jae Ahjusshi langsung mengangguk mengerti kemudian beranjak pergi.

Aku langsung menyalakan lampu saat memasuki ruangan yang kelewat hening ini. Benar. Tidak ada siapapun. Bahkan, apartemen yang terlihat minimalis ini pun tetap saja terlalu besar untuk ditempati seorang diri. Kulihat, beberapa koper tersusun rapi di dekat sofa di bagian tengah ruangan. Baiklah, sepertinya secara tidak langsung aku menerima ‘kerja bakti’ suka rela.

Sepulangnya nanti, akan kuhabisi dia dengan ocehan panjang lebarku.

 

>>>>><<<<<

 

Entah sudah berapa ribu bintang yang kutatap, aku sama sekali tidak merasa bosan. Bahkan, jika mereka bisa bergerak dan menyembunyikan diri atau bisa berbicara bahkan memarahiku untuk berhenti menatap mereka, aku tidak akan sedikitpun berpaling. Itu, karena aku sudah tidak peduli.

Aku tidak peduli jika aku akan membeku disini karena tidur telentang di atas hamparan rumput hanya dengan jaket tipis. Tapi, ketidak pedulian tersebut perlahan membuatku merasa letih. Terlalu letih untuk bersikap seolah tidak peduli dan baik-baik saja.

Dengan sekali gerakan cepat, kutegakkan punggungku. Pandanganku langsung terpaku pada bayanganku yang seketika tergambar pada permukaan kaca bening yang tenang. Aku kembali ragu. Mungkinkah bayangan itu adalah diriku? Diriku yang sekarang?

Sudah cukup. Aku sudah mendapat karma. Aku sudah mendapat pembalasan atas kebodohan sikapku. Aku sudah merasakan apa yang dirasakannya. Aku sudah merasakan rasanya kehilangan. Tidak bisakah ini usai?

Tapi, bagaimana?

 

Rasa ini. Sesak ini. Bayang ini. Semuanya seperti menghantuiku. Wajahnya. Kebodohanku. Penyesalan. Tidak bisakah perasaan itu hilang? Ini sudah lebih dari empat tahun. Seberapa dalam luka yang kau dapatkan selama dua tahun itu? Mengapa hukuman ini belum juga berakhir? Apa yang harus kulakukan?

Memang sempat terpikir olehku untuk mengejarmu. Tapi, takdir seolah tak mengizinkan. Aku sudah terlambat untuk itu semua. Lalu sekarang, aku disini hanya pasrah dengan penyesalan yang terus membabi buta pikiranku. Terus begitu, tanpa berkurang sedikitpun.

Mataku kembali menatap mereka. Tak jarang aku berharap pada salah satu di antara milyaran bintang di atas sana yang mau berbaik hati mengabulkan satu permintaanku. Permintaanku untuk memundurkan waktu kembali, saat dimana semuanya belum berubah. Saat dimana ‘permainan’ ini belum dimulai.

Tapi, tersadar. Pemintaan itu terlalu besar untuk terjadi. Aku pun menggantinya dan membuat permintaan lain yang lebih mungkin untuk terjadi. Meski, kemungkinan tersebut sangat kecil.

Aku hanya berharap, dapat berjumpa denganmu sekali lagi, Hye. Itu saja.

 

Tanpa diminta, setetes cairan bening mengalir bebas melewati setiap lekuk wajahku. Sial. Aku memaksa untuk tersenyum. Hanya saja, ini terlalu pahit. Dapat kurasakan sengatan kecil di sekitar mataku, memancing cairan itu keluar lebih banyak. Tapi, aku tidak menyerah begitu saja. Aku berusaha tegar. Kuusap kasar bekas yang terbentuk, lalu meremas erat apapun di sekitarku.

Ya, aku memang tidak ingin menyerah. Sayangnya, tidak dengan tubuhku. Ini sudah terpendam begitu dalam. Tubuhku seolah tidak sanggup lagi untuk menahannya lebih. Setelah sekian lama—untuk pertama kali—segenap emosi yang kupendam meledak begitu saja. Tumpah bersama puluhan air mata yang mengalir dengan bebasnya.

Sapuan lembut nan menusuk angin malam, seolah membungkus rapat tubuhku dan membuatku untuk lebih lepas lagi. Mungkin, inilah titik akhir dari sikap ‘keras’ yang selama ini kupertahankan. Saat dimana aku disadarkan kalau aku tidaklah sekuat dan setegar yang kupikirkan. Aku hanya mencoba untuk terlihat begitu, tapi sayangnya tidak—tidak bisa.

Aku tak tahu pasti kapan tepatnya ini semua akan berakhir. Tapi, aku yakin pasti akan. Kuharap, waktu dapat menjawabnya dengan tepat.

 

>>>>><<<<<

 

Hawa dingin berulang kali mengembun keluar dari mulutku. Tak jauh beda dengan kedua telapak tanganku yang mencoba mencari kehangatan dari balik saku blazer tebalku. Umpatan kecil tak sedikit kugumamkan saat angin yang dinginnya menusuk kulit berhasil menyelinap masuk. Selalu begini jika sudah memasuki bulan terakhir musim gugur dan menuju tajamnya musim dingin. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan peraturan alam. Toh, akan ada saatnya, bukan, ini semua akan berganti kembali dengan atmosfer udara yang lebih hangat.

Tanpa sadar, langkahku sudah mengarah dan memasuki salah satu kafe. Sempat sejenak langkahku terhenti setelah menyadari kalau ini adalah salah satu tempat favorit kami biasa menghabiskan waktu dulu. Ya, dulu.

Mataku langsung tertuju pada kursi yang biasa kami tempati. Kilasan memori yang terputar kembali seolah menghipnotisku untuk melangkah mendekat. Tetapi, satu tepukan pelan di pundakku membuyarkan bayangan halusinasi yang—tanpa sadar—kubuat.

Ya, Yeollie!”seru satu suara membuatku sontak menoleh.

Lensa mataku langsung menangkap sosok yeoja yang dikenal dengan senyum manis khas miliknya—Sooyoung. Dia salah satu teman kuliahku—tentunya—yang juga satu jurusan.”Soo-ya? Sedang apa kau disini?”tanyaku.

“Aku memang biasa kesini—yah—sekedar membeli cemilan manis atau meluangkan waktu. Kau sendiri?”jawabnya. Sejenak ia menjulurkan lehernya, lalu memeriksa sekitar di balik punggungku.”Sedang ada janji dengan seseorang, ya?”

Aku terkekeh kecil.“Tentu saja tidak.”ujarku.”Aku juga ingin membeli minuman hangat. Tadi, aku sedang jalan-jalan di sekitar sini. Jadi, sekalian saja mampir dulu—ke sini.”

Dia langsung ber’oh’ ria seraya mengangguk paham. Karena kebetulan aku bertemu dengannya dan dia merasa cukup beruntung karena tidak harus duduk sendiri disini sampai mati bosan, kami lalu memutuskan menempati salah satu tempat duduk yang masih kosong dan berbincang sejenak sambil menikmati makanan kami masing-masing.

Banyak hal yang kami debatkan dan bicarakan. Mulai dari hal yang berhubungan dengan kuliah, hobi dan minat kami, setiap orang yang kami kenal di kampus, bahkan cerita kocak kami masing-masing.

Hebat, bukan?

Aku bisa membuat setiap orang yang mengenalku dan melihatku sebagai namja yang diselimuti oleh kebahagiaan setiap saatnya. Seolah hidupku—sangatlah—baik-baik saja tanpa terbebani masalah apapun. Aku sengaja, karena sejujurnya aku sangat berharap hidupku sama seperti dugaan mereka. Semulus  ceritera fiksi dan berakhir seindah hayalan di dalam mimpi.

Tapi, ini bukanlah di negeri dongeng atau mimpi indah yang dapat direkayasa sendiri. Semuanya memiliki takdir masing-masing yang sudah disusun, bahkan sebelum raga terbentuk dan jiwa belum mengisinya. Naas memang, dalam skenario hidupku ada scene miris dan menyedihkan yang sudah terjadi dan mau tak mau harus kujalani.

“Ng, Yeollie, aku pulang duluan ya. Oppaku mulai cerewet lagi.”ujarnya setelah tadi sempat menerima panggilan.

Aku menelan suapan terakhir spaghettiku sebelum berkomentar.”Eoh? Kita sama berarti. Aku baru saja mau bilang noonaku pasti sebentar lagi akan mengomeliku kalau aku tidak pulang sekarang.“

“Sepertinya kita sama-sama memiliki saudara yang sama bawelnya.”ucapnya ada benar. Aku kembali berkomentar sebagai tanda kesetujuanku dengan ucapannya. Obrolan kami berlanjut selama dalam perjalanan pulang. Tapi, tak berlangsung lama karena kami mengambil arah yang berbeda saat di persimpangan jalan.

Aku kembali ditemani oleh keheningan. Hanya suara deru mesin dari beberapa kendaraan lalu-lalang yang mengiringi setiap langkahku. Hempasan keras angin membuatku kembali mengeratkan blazer dan menenggelamkan kepalaku di balik hoodie disertai balutan syal di leher. Puluhan dedaunan yang berguguran tersibak jauh seolah melarikan diri darinya. Seperti halnya diriku yang tanpa sadar sudah mempercepat langkah.

Entah kesialan jenis apa yang tengah menghampiriku, tepat saat akan melewati tikungan jalan aku menabrak—atau mungkin ditabrak—seseorang. Aku tidak tahu siapa yang lebih keras menabrak atau ditabrak, kami sama-sama terhempas cukup jauh dari tempat semula.

“Akh.”rintihku. Dadaku seketika terasa sesak sehingga napasku menjadi sedikit tercekat karena kepala orang asing itu menabrak tepat disana. Mungkin, memang benar jika tak selamanya memiliki tinggi badan melebih rata-rata dari orang pada umumnya itu membanggakan.

Kudengar ia juga sempat mengaduh kesakitan, dan kini tengah mengusap pelan kepalanya. Astaga, sekeras itukah insiden tabrakan kami tadi?

Mianhae, agasshi. Saya benar-benar tidak tahu tadi.”ucapku seraya membungkuk singkat.

“Ah, aniya.”balas agasshi itu yang kusadari seorang namja—juga.”Mianhae. Saya terlalu terburu-buru sampai tidak memperhatikan sekitar lagi.”

Nado. Saya juga sedikit terburu-buru tadi.”ucapku.“Kalau begitu saya duluan. Annyeong.”

Annyeong.”jawabnya yang masih sempat terdengar.

Selepas itu, aku langsung bergegas pergi dan melanjutkan langkahku yang sempat tertunda. Suhu di sekitarku rasanya mendadak semakin ekstrim saja. Mukaku pasti sudah pucat pasi sekarang. Kalau tidak bergegas, dapat kupastikan besok aku bisa saja terserang flu. Belum lagi ditambah celotehan panjang dari noonaku, dan pastinya akan semakin menjadi-jadi jika dia tahu kalau aku sampai sakit.

Huh. Cukup sudah kesialanku malam ini.

 

>>>>><<<<<

 

“Hyemin-a~”

Samar-samar aku mendengar satu suara memanggil namaku. Aku berusaha mengumpulkan nyawaku untuk melihat siapa yang dengan beraninya menganggu tidurku. Kilasan cahaya menusuk mataku, membuatku mengerjap sejenak. Tak butuh waktu lama, aku langsung menemukan wajahnya tak jauh di depanku.

Satu lenguhan kecil keluar begitu saja dari mulutku.“Lima menit lagi, arra. Aku masih mengantuk.”ucapku yang kemudian berbalik agar tidak menghadap wajahnya dan menarik selimut.

Jagiya ~ Ayo bangun.”panggilnya seraya menggoyangkan pelan tubuhku. Aku hanya bergeming. Mungkin sebentar lagi dia akan pergi. Tapi dugaanku salah, dia tiba-tiba menarik selimutku dalam sekali hentak. Tidak kuat memang, tapi berhasil membuatku terbangun kembali dan berdecak kesal ke arahnya.

“Baiklah.”kataku yang langsung terduduk. Tapi, sedetik kemudian jatuh tertidur kembali.“Semenit lagi.”

“Aku tidak ingin ada penolakan.”tukasnya kembali berusaha menarik selimutku. Tapi kali ini aku lebih sigap.

Kutarik selimutku sampai menutupi kepala.“Berhenti mengganguku.”racauku setengah sadar. Apa salahnya, sih, aku tidur beberapa jam saja? Setelah semalaman kuhabiskan hanya untuk menunggunya, bagaimana bisa dia dengan teganya membangunkanku sekarang?

“Dalam hitungan ketiga kalau kau tidak bangun juga, maka aku akan menciummu.”ancamnya.

Dengan mata terpejam dan kesadaran yang mulai menipis, aku mendengus kecil mendengar ucapannya. Lelucon yang bagus. Tapi aku tidak akan tertipu. Bagaimana mungkin dia menciumku dengan posisi kepalaku sepenuhnya tertutup selimut begini? Huh, yang benar saja.

“Baiklah, aku akan mulai menghitung.”lanjutnya lagi. Entah hanya perasaanku saja atau memang kenyataan, aku merasa salah satu sisi tempat tidur ini seperti baru saja mendapat beban lain.

Sejenak, aku berpikir ulang. Seingatku semalam aku tertidur di atas sofa, dan sekarang aku sudah berada disini. Tidak, bukan itu yang menjadi masalah. Hari-hari sebelumnya juga begitu. Masih dengan mata terpejam tapi dengan kesadaran yang cukup untuk berpikir, aku kembali menduga-duga. Meski aku tidak mendengar apapun, tapi tetap saja aku tidak sepenuhnya tenang jika dia belum juga beranjak pergi. Harus kuakui, perasaanku kini mendadak ada rasa ganjil.

“Tiga!”serunya tiba-tiba bersamaan dengan sesuatu yang mendekapku sangat cepat.

Aku spontan bangkit dan mendorong jauh apapun itu.“Kyaaa! Baiklah, aku sudah bangun sekarang.”ucapku yang langsung menatap garang ke arahnya yang kini terkekeh puas karena ulahnya sendiri.“Kau puas?”

Sial. Pagi-pagi begini aku sudah olahraga jantung.

“Tidak—ng, belum.”ujarnya membuatku menatapnya tidak mengerti. Apa yang sebenarnya diinginkan namja ini?”Tidak sampai kau mencuci mukamu sekarang dan bersiap-siap. Aku tunggu di bawah.”

Dengan langkah malas aku menuju kamar mandi dan berhenti di depan wastafel. Apa maksudnya membangunkanku sepagi ini dan menyuruhku bersiap-siap? Biasanya juga tidak pernah begini. Tak mau ambil pusing aku langsung saja membasuh mukamu kemudian sikat gigi. Setelah menyisir rambut dan merapikan pakaian, aku segera menemuinya.

“Sebenarnya kita mau kemana, eoh?”tanyaku. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum simpul penuh arti. Sudah dua puluh menit aku berkutat dengan iPadku untuk mengusir kebosanan selama perjalanan, tapi mobil yang kami naiki belum menepi juga—dan ketika kutanya tujuan kami sebenarnya kemana dia hanya menjawab begitu. Aneh sekaligus mencurigakan.

Tak lama setelah itu, akhirnya mobil menepi dan mesin mobil dimatikan. Mataku langsung menatap sekitar.  Aku bingung harus berkomentar apa. Rumah-rumah tersusun berjajar sangat rapi meskipun tidak ada satupun rumah yang bercorak atau berdesign yang sama dan banyaknya pepohonan disini membuatnya terasa asri. Sangat berbeda dengan perumahan di sekitarku.

Ketika turun dari mobil, pandanganku langsung tersuguhi oleh sebuah rumah yang entah mengapa terlihat cukup familiar.“Ini rumah siapa?”tanyaku. Sejenak, aku berpikir. Ah—tunggu dulu. Mungkinkah?“Ah, tidak, tidak. Apa kau sudah gila?”sambungku cepat ketika menyadari sesuatu.

“Apanya?”tanyanya heran sekaligus terkejut.

Aku menatapnya lekat, mencoba meminta penjelasan.“Kau membangunkanku sepagi ini karena ingin memperkenalkanku  pada klienmu, begitu? Oh, atau, kau bermaksud menemui klien kita?“cecarku seraya melipat kedua tangan.“Tidakkah kau lihat aku bahkan belum mengganti baju? Aku bahkan tidak berdandan sama sekali, buruknya lagi aku baru terbangun beberapa menit yang lalu dan belum menyiapkan apapun. Astaga, lebih baik kita tunda pertemuannya sekitar—hm—sejam lagi, oke? Aku pasti terlihat buruk sekarang.”

Mungkin jika di depannya, tidak akan jadi masalah bagiku untuk terlihat buruk sekalipun. Tapi, aku akan lebih cerewet dari siapapun jika sudah menyangkut atau berhubungan dengan pekerjaan begini. Kukira, semua orang juga begitu.

“Nona Shin.”tegurnya menghentikanku.

Refleks aku menoleh, dan menahan langkahku untuk masuk ke dalam mobil.“Apa penjelasanku tadi belum jelas? Aku—“

“Rumah ini bukan milik klien atau siapapun itu.”potongnya seraya memegang kedua pundakku yang secara tidak langsung memaksaku untuk menghadapnya. Matanya menatapku dalam seolah berusaha menjelaskan suatu hal.“Ini, rumah kita.”

Mwo?”pekikku—sangat syok—“You must be kidding.”

“Tidak, aku serius.”ungkapnya tenang, sedangkan aku masih syok setengah mati. Jika ini hanya lelucon, ini adalah lelucon paling buruk yang pernah kudengar.

“T-tapi bagaimana bisa? Sejak kapan?”

Ia hanya tersenyum kecil, lalu menarikku perlahan untuk memasuki rumah tersebut.“Masih ingat dengan desain yang kuminta waktu itu? Yang kubilang ada seorang klien memintaku untuk membuatkan desain keseluruhan interior sebuah rumah padamu?”

.

Meskipun sudah sering kali diterpa tajamnya musim dingin, tapi tetap saja aku tidak tahan dengan suhunya yang dua kali lipat dari tempat tinggalku dulu. Seorang pelayan yang berjalan menghampiri mejaku, kusambut dengan senyum selebar mungkin. Aku berhenti mengusap kedua tanganku dan langsung menyeruput cokelat panas yang kupesan.

Seharusnya aku sekarang berada di depan perapian dengan selimut tebal dan minuman hangat bersama anjing kesayanganku, bukan berjalan keluar menerpa badai sedingin es dan duduk disini. Gemerincing bel pertanda masuknya seseorang membuatku melirik ingin tahu. Seringaian khas yang diberikan langsung kubalas dengan tatapan membunuh. Setelah tanpa rasa bersalah menyuruhku untuk menemuinya disini, dia malah tersenyum begitu. Keterlaluan.

Tanpa minta persetujuan dariku, ia langsung duduk di depanku dan melepaskan mantelnya. Aku hanya mendengus malas seraya membuang muka, sedangkan dia memesan secangkir kopi kesukaannya.

So, now what?”tanyaku memulai pembicaraan. Lima menit diam tanpa suara membuatku jadi risih sendiri.

I’ve just realized that you’re going mad to me so I—“

Aku menarik napas cukup dalam.“Just tell me, what’s your reason ask me to come here?”tanyaku menyela kalimatnya.

Ia lalu mengambil map kecil yang dibawanya, lalu mengeluarkan kertas-kertas penuh garis yang saling terhubung dan membentuk sketsa. Aku menatap malas tumpukan kertas tersebut. Saat begini bukan waktu yang tepat untuk membahas pekerjaan, kan?

“Kau ini, seperti tidak ada hari esok saja. Apa tidak bisa ditunda dulu?”kataku.

Dia menggeleng singkat.“Tidak. Mereka meminta sketsanya sudah ada besok.”jawabnya. Baiklah, akan aku coba.

“Apa konsepnya?”tanyaku.

“Bisa dikatakan mereka akan menjadi sepasang pengantin baru. Aku sudah membuat sketsa rumah, dan mereka menyukainya.”ujarnya sambil menunjukkan sebuah sketsa besar yang cukup rapi.“Ini bagian dalam rumah, tapi—yah—seperti yang bisa kau lihat, kupikir ini memang harus ditangani orang yang ahli dibidangnya.”

Kuperhatikan setiap sketsa yang dibuatnya, sesekali menelaah konsep yang coba ditunjukkan dari keseluruhan gambar.

“Jadi, tidak ada klu yang jelas? Maksudku, apa mereka ingin rumah yang classy but elegan, atau simple tapi memiliki corak sendiri bagi pemiliknya atau apa?”tanyaku lagi. Kuseruput lagi minumanku. Aku ragu, dengan kondisi dan cuaca begini apa aku bisa mendapat ide yang bagus.

Huh. Andai saja dia mau mendengarku untuk membahasnya di rumahku saja, ini semua bisa cepat selesai dan aku sudah beristirahat sekarang.

“Oh, tidak. Mereka bilang itu terserah yang mendesignnya. Katanya, sesuai konsep interior rumah idaman designernya.”jelasnya.

Alisku langsung bertaut tajam.“Lho? Bagaimana bisa begitu? Ini, kan, rumah mereka?”tukasku heran. Baru kali ini aku bertemu klien yang angkat tangan soal rumahnya sendiri.

Kulihat ia berpikir sejenak.“Ngg, atau begini saja. Sesuai sketsa rumah yang kubuat, bisa terlihat kalau rumah mereka tidak begitu besar melainkan luas di bagian dalam, lalu di sekitar rumah ada taman dan di bagian belakang dipasang kolam renang. Kemudian, posisi rumah pada bagian depan menghadap jalanan dan membelakangi matahari terbenam sekaligus sebuah pantai. Lalu—“

“Ah, aku mengerti. Aku harap mereka tidak keberatan jika akan ada banyak ventilasi dan jendela di rumah ini.”ucapku cepat. Aku baru saja seperti mendapat bola lampu yang menyala tepat di atas kepalaku. Entah bagaimana aku bisa mendapatkannya.

“Ya, aku sudah membuat di beberapa sisi yang sesuai.”lanjutnya.

“Disini juga perlu.”tambahku. Malam itu, kami terlalu asyik berdiskusi sampai semuanya selesai dan tak terasa malam semakin larut.

.

Kilasan memori dan pemandangan ruangan di dalam rumah membuatku semakin tertegun. Design dan penataannya sama persis yang kubuat waktu itu. Jadi maksudnya—mungkinkah?

“K-kau…ini…”

“Aku harap kau tidak marah denganku karena membohongimu waktu itu.”jelasnya.”Sebenarnya, tidak ada klien manapun saat itu. Aku sengaja berbohong supaya bisa membangunnya sesegera mungkin dan menjadi kejutan untukmu. Sekaligus, sebagai ucapan minta maaf dan terima kasih karena sudah mau merelakan waktu istirahatmu selama dua minggu ini. Kau suka, heum?”

Aku tidak sanggup berkomentar apapun. Suaraku seperti menghilang entah kemana dan kesadaranku mulai di atas ambang. Tubuhku mendadak lemas dan air mataku langsung mengalir tanpa diminta. Sekarang aku mengerti, hadiah istimewa yang dimaksudnya saat ulang tahunku beberapa minggu yang lalu.

“Eoh? Hye-ya, kau menangis?”tanyanya kaget sekaligus heran. Sentuhan kedua tangannya pada bahuku membuat tangisku tak dapat kubendung lagi.”Waeyo? Apa kau tidak suka?”

Spontan, aku langsung menghambur ke dalam pelukannya.”Pabo. Mana mungkin aku tidak menyukainya.”akuku.”Aku sangat menyukainya. Thank you very big much.”

Ia mengusap pelan punggungku, lalu menarikku perlahan.“No problem.”lirihnya.“Sudah, hapus air matamu itu. Kau jelek tahu kalau menangis begitu.”

Aku  hanya terkekeh kecil seraya mengusap kasar kedua air mataku. Tangan hangatnya kemudian menggegam tanganku dan menuntunku berkeliling.  Tak henti-hentinya senyum menghias wajahku. Aku sungguh tidak menyangka bertemu dan akan bersama selamanya dengan namja sepertinya. Kuharap, kebahagiaan seperti ini tidak segera berakhir.

“Kau tidak penasaran kenapa aku mengajakmu sepagi ini ke sini?”tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng pelan, sementara dia dengan sangat antusias menarikku menuju lantai kedua.

Ia lalu berhenti sejenak di depan sebuah pintu.“Tadaa~ Otthokae?”ujarnya seraya menyunguhkan pandangan yang langsung terpampang begitu pintu dibuka. Jika mengingat sketsa yang kami buat waktu itu, ini merupakan kamar utama dan jendela besar yang terbuka lebar di depanku sekarang—tentu saja—adalah hasil ideku waktu itu.

“Whoa, indahnya ~”ungkapku tanpa mengalihkan pandanganku dari pantai yang membentang luas di ujung sana. Belaian angin sepoi-sepoi memancingku untuk menikmatinya.“Udaranya juga segar.”

As I ever told to you before, bagian belakang rumah tepat membelakangi pantai. Jadi, setiap pagi kita langsung disambut udara pagi yang segar.”terangnya disertai eye smile khas miliknya.

Aku terdiam sejenak, memperhatikan manik indah di kedua matanya.“Kau mempersiapkan sampai sejauh ini.”gumamku dengan suara sedikit serak.

Senyum itu kembali terlukis dengan indahnya.“Apapun itu. Asal kau bahagia.”akunya, yang tiba-tiba lalu mencubit gemas kedua pipiku.

Appo!”rintihku seraya menepis kasar kedua tangannya. Ia hanya terkekeh geli, sementara aku sibuk mengusap kedua pipiku dan melirik tajam ke arahnya. Kuakui aku memang kesal, tapi—sial—diam-diam aku menyukainya. Huh, entahlah. Aku  tidak pernah bisa serius untuk memarahi atau kesal padanya.

“Oh ya, mau lihat baju pengantin kita?”tanyanya yang membuat senyumku langsung mengembang.

Kajja!”jawabku antusias tanpa berpikir lagi, dan menarik tangannya untuk pergi. Sudah kubilang bukan, aku tidak pernah bisa kesal padanya. Meskipun berat untuk meninggalkan tempat tersebut, tapi aku juga menjadi penasaran dengan gaun yang akan kupakai nanti, dihari spesial dimana kehidupan baru yang sesungguhnya akan dimulai. Tak butuh waktu lama untuk sampai, mengingat lokasinya strategis dan terkenal di seluruh penjuru kota.

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?”tanya sang resepsionis ketika menyambut kedatangan kami.

Dia tersenyum simpul.“Kami ingin menemui Nyonya Xi yang mengurus baju pengantin ‘Sepasang Merpati’.”jawabnya. Perhatianku seketika teralihkan ketika dia menyebut ungkapan tersebut. ‘Sepasang Merpati’? Terdengar konyol, tapi satu senyuman tipis terbentuk karenanya.“Apakah beliau ada?”

Nona tersebut nampak mengecek sesuatu sebentar sebelum menjawab. “Ah, kebetulan Nyonya Xi ada di ruangannya, lantai dua pintu pertama.”jelasnya.

“Baiklah, gamsahamnida.”ucapnya seraya membungkuk kecil, yang kemudian diikuti olehku. Kami lalu menaiki tangga menuju lantai kedua dan mengikuti intruksi yang sudah diberikan. Kedatangan kami langsung disambut dengan puluhan tatapan penasaran.

Annyeong, Xi Ahjumma.”sapa kami hampir bersamaan. Menyadari siapa yang menghampirinya sekarang, beliau menyambut kami hangat.

“Annyeong-Ah, kalian rupanya. Ayo ikut ahjumma.”tuntunnya.“Baju pengantin kalian sudah selesai, hanya tinggal menambah beberapa sentuhan pada baju pengantin wanitanya.”

Sekali lagi, kekaguman menyelimuti perasaanku. Sangat indah.“Yeopo~”seruku girang. Aku hampir menangis, tidak percaya dengan semuanya.“Terlihat sama persis dengan sketsanya.”

“Tentu.  Kau tidak akan menyesal telah mempercayai bibimu ini.”ucapnya. Tanpa ragu, aku langsung memeluknya erat sebagai luapan perasaanku saat ini dan ungkapan terima kasih yang tidak bisa hanya diungkapkan dengan kata-kata.

“Ah ya, minggu depan bibi datang, kan?”harapku.

Ia lalu mengusap sayang puncak kepalaku“Aigoo~ Tidak perlu kau tanya pun, ahjumma pasti akan datang dan akan jadi orang pertama yang tiba.”candanya.“Sudah lama—semenjak kelahiranmu—bibi  tidak lagi bertemu dengan ibumu—dan terakhir kalinya berkomunikasi saat membahas gaun untuk pernikahan putrinya ini. Bibi yakin kalau ibumu mengundang seluruh angkatannya, ini akan jadi reuni yang menyenangkan.”

Bisa dikatakan Xi Ahjumma adalah salah satu teman dekat ibuku semasa sekolah dulu. Teman yang dulunya juga pernah memberikan saran dan membantu dalam pembuatan pakaian pengantin kedua orangtuaku. Seseorang yang sangat berbakat dan teman terbaik bagi ibuku.

“Ibu menceritakan banyak hal tentang teman-temannya dulu. Dia terlihat begitu semangat dan katanya sudah menulis daftar berisi nama teman-temannya itu—salah satunya, ya, bibi.”ungkapku.

Jeongmal eoh?”tanyanya tidak percaya, yang langsung kujawab dengan anggukan mantap.”Kalau begitu, bibi sudah dapat membayangkan betapa meriahnya acara pernikahan kalian nanti.”

Aku yakin ibuku dulu memiliki masa remaja yang menyenangkan, dan dikelilingi teman yang membanggakan. Kuakui aku iri, sekaligus bangga padanya. Berharap mengalami masa menyenangkan yang sama, tapi bukankah suatu saat aku juga akan merasakannya?

Ah, tidak. Aku sudah memilikinya. Tanpa sadar aku sudah memperhatikan dan tersenyum padanya.

“HUAA! Noona~! Hyung~! Jeongmal bogoshipoyo~”

Perhatianku langsung teralih dengan seruan sekaligus pelukan kecil tiba-tiba di sekitar kakiku. Dia putra bungsu Xi Ahjumma, Xi Lu Han.

Aku langsung berjongkok sehingga sejajar dengannya.“Luhan-a? Nado bogoshipo nae gwiyeobda saeng~”ujarku seraya mencubit pipinya yang menggemaskan.

“Ng? Gwiyeopda? Aku ini namja paling tampan tahu!”protesnya. Aku hanya tertawa kecil.

“Tapi menurut noona, kau sangat cantik dan juga imut. Kalau saja kau seorang yeoja, noona akan merasa memiliki saingan baru nantinya.”ucapku lebih terdengar sebagai ledekan.

Pertama kali dalam seumur hidup, aku bertemu dengan namja berwajah imut dan manis sepertinya. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana dia kelak. Kuharap dia tidak mendapat bully-an atau tatapan iri oleh yeoja di sekitarnya.

Noona jahat!”rutuknya. Ia lalu menunjukkan pout yang membuatnya terlihat lebih imut.

Noona paling baik tahu.”sanggahku, lalu mencolek hidung kecilnya.“Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Nanti noona traktir es krim.”

Ani!”tolaknya. Wah, sudah bisa melunjak dia rupanya.

“Ya sudah, apa saja yang kamu minta noona belikan. Ottokhae?”tawarku lagi.

Kulihat dia nampak berpikir sejenak.“Janji?”tanyanya. Rayuanku selalu berhasil rupanya.

Kiss promise?”ucapku sambil menunjuk pipiku. Dia nampak bingung sejenak, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman kecilnya. Aku hanya tersenyum kecil lalu mencubit gemas cuping hidungnya.

“Oke, kajja~”

 

>>>>><<<<<

Sungguh. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri saat ini. Berulang kali aku tenggelam dalam lamunan, sehingga tak jarang aku membuat kesalahan dan tidak bisa berkonsentrasi. Tanpa melihat pun aku menyadari belasan tatapan aneh dan pembicaraan tidak menyenangkan di sekitarku. Aku merasa sangat buruk sekali. Akhirnya, daripada ini menjadi semakin buruk kuputuskan untuk permisi keluar sebentar dengan alasan ingin pergi ke belakang.

Tapi, rasanya aku tidak mungkin akan mengumpat dan bergumam disana. Itu sama saja seperti setelah tersandung kemudian menabrak. Memalukan.

Tujuan utamaku tentu saja hamparan rumput luas di belakang kampus. Kuluapkan segala kekesalan pada diriku sendiri dengan iseng menendang sekuat tenaga kerikil yang tanpa sengaja tertangkap mataku. Inginkan untuk berteriak, tapi aku masih sadar kalau berada di tempat umum. Kuhirup sebanyak mungkin oksigen, kemudian menghembuskannya perlahan. Lelah berkeliling, akhirnya aku memilih untuk berbaring sejenak di bawah pohon rindang.

Belum rasanya aku bernapas sejenak, sesuatu tiba-tiba menarikku dari belakang dan memaksaku berdiri. Tubuhku semakin memberontak setelah mengetahui perusak momenku.

Ya! Sooyoung-a! Berhentilah mengganggu, kembalilah ke kelas.”rutukku seraya melepaskan diriku dari cengkramannya. Tapi bukannya menurut, dia terus berusaha menarikku dan memaksaku mengikutinya.

Ppali!”serunya. Meski tak mengerti dengan sikapnya itu, aku akhirnya mengalah dan mengikutinya dengan malas. Ada apa dengannya ini?

Dia masih menarikku dan kami terus berjalan. Ya, kami berjalan. Cukup melelahkan memang jika mengingat tujuan akhirnya yang tak kuketahui. Dia memang terkadang usil dan sok berlagak misterius. Kalau kali ini aku masuk lagi ke dalam permainannya itu, aku akan mempersiapkan pembalasan setimpal untuknya.

Karena tidak begitu memperhatikan, aku tidak menyadarinya yang ternyata sudah berhenti. Alhasil jitakan mentah mendarat mulus tepat di kepalaku sebagai balasan karena menginjaknya tanpa permisi. Baru saja aku hendak protes, ekspresinya yang berbeda membuatku ikut beralih searah dengan tatapannya. Raut wajahku yang semula terkesiap berubah menjadi penuh tanda tanya. Apa gerangan maksudnya mengajakku ke sungai Han?

“Kau menyuruhku mati, huh?”tanyaku lebih terdengar seperti protes. Dia pasti menyadari ada yang salah denganku, mungkin untuk itu dia mengajakku ke sini sehingga membuatku lebih mudah untuk… oke, khayalanku terlalu tinggi sepertinya. Terbukti dari death glare yang ditunjukkannya.

Ketika aku sudah siap dengan semburannya atau jitakannya itu, dia hanya menghela napas dan menggeleng pelan. Sepertinya memang ada yang salah dengannya hari ini. Perlahan namun pasti, Sooyoung berjalan mendekat. Tak mengerti apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja dia berteriak sekencang dan sekeras mungkin. Telingaku sejenak berdenging karena suaranya itu.

Ya! Apa yang kau—“

“Berteriaklah,”ucapnya,”lepaskan semua yang membebani dadamu.”

Aku terdiam. Masih tak mengerti. Dia baru saja menyuruhku berteriak? Jadi ini maksud dari tujuannya mengajakku disini?

“Lakukanlah. Buka mulutmu lebar-lebar lalu berteriaklah sekencang mungkin.”titahnya seraya memperagakan. Aku –tentu saja—tahu apa yang harus kulakukan, hanya saja aku masih sedikit ragu.

Kembali, dia melayangkan jitakan khas miliknya. Sepertinya aku harus sesekali memeriksa kepalaku, takut kalau ada saraf otakku yang rusak karena ulahnya itu.

“Apa yang kau pikirkan, huh?”tukasnya, membuatku berpaling kikuk. Bodoh, pantas saja dia memarahiku.”Lakukanlah. Jangan ragu.”

Sejenak aku termenung. Hanya memandang ke arah gelombang air yang tenang dan jernih. Sangat tenang sehingga membuatku tanpa sadar terhanyut oleh perasaanku kembali. Sejujurnya aku tidak mengerti dengan apa yang kurasakan, tapi mengingat apa yang sedang kualami tanpa sadar aku berteriak. Sangat kencang sehingga seluruh pendengaranku hanya dipenuhi suaraku saja. Aku bahkan tak sadar itu.

Tepukan keras pada pundak membuatku refleks menoleh.”Kau melakukannya dengan baik.”ucapnya.”Mungkin aku memang tidak tahu apa yang kau alami, tapi jika kau sadar tubuhmu tidak bisa menahannya lagi sebaiknya kau luapkan saja. Itu akan membuatmu lebih baik.”

Aku terdiam, memperhatikannya sejenak yang masih menatap lurus ke depan.”Gomawo.”lirihku yang ternyata terdengar jelas olehnya.”Terima kasih karena sudah memperhatikanku selama ini. Tapi, kuharap kau tidak memiliki rasa apapun padaku.”

Dia menoleh cepat, tertarik dengan gumamanku barusan.”Nde?”ucapnya meminta ulang.

“Kuharap jawabannya tidak.”lanjutku berpaling. Aku tidak sanggup jika harus menatap matanya dan mengetahui kenyataannya adalah sebaliknya.

Hening sejenak. Apa mungkin dia tengah merenung atau mencoba menahan tangis? Oh Tuhan, maafkan aku, Sooyoung. Baru saja aku hendak mengeluarkan suara, terdengar gelak tawa yang mengagetkan sekaligus membingungkan. Tentu saja, Sooyoung pemilik tawa tersebut. Aku hanya menatapnya sementara kepalaku diselimuti ratusan pertanyaan. Apa ada hal lucu yang terjadi?

Ia menepuk-nepuk bahuku.“Tak kusangka, kau rupanya over percaya diri juga.”ucapnya disela tawanya yang mulai mereda. Dia tertawa singkat sebelum melanjutkan kalimatnya.”Sepertinya kau sudah salah paham, Tuan Park. Mungkin, aku harus memberitahumu satu hal agar kau percaya.”

Dahiku semakin berkerut menanggapi kalimat terakhirnya. Meskipun sebenarnya rasa malu mulai merangkak menuju ubun-ubunku. Sial. Mengapa yeoja sangat sulit dimengerti?

“Tapi, kau harus janji mau membantuku, oke?”ucapnya. Aku hanya manggut mencoba mengerti seraya mengaitkan jari kelingking dengannya yang diacungkan sebagai tanda persetujuan. Ia menatapku sejenak, kemudian tawa kecilnya terdengar kembali.

Sungguh, ingin rasanya menghilang saja dari hadapannya. Mukaku sudah penuh dengan coretan rasa malu yang kucoreng sendiri.

“Ah, apa kau haus?”tanyanya memecah kecanggungan.”Ini semua membuat kerongkonganku terasa kering.”

Anehnya, aku hanya sanggup bergumam panjang. Entah kenapa lidahku mendadak kelu. Sepertinya rasa malu sudah mematikan sebagian sarafku. Bodoh. Ini membuatku terlihat semakin buruk.

“Baiklah, diam artinya kau mau.”putusnya.”Tunggu sebentar disini, arra? Setelah ini aku akan menceritakannya.”

Ia sudah berjalan cukup jauh dariku, tapi masih sangat jelas terdengar olehku kekehannya. Dia pasti tengah bersusah payah menahan tawanya. Mengapa sikapku jadi salah dan memalukan begini?

Kutenggelamkan kepalaku dalam lipatan kedua lenganku, lalu sesekali membenturkannya. Kembali, aku berteriak kepada bentangan sungai di hadapanku. Meski tidak sekeras sebelumnya, karena aku yakin dia pasti akan menertawaiku lagi.

Tak mengerti  hal apa yang mempengaruhiku, kaki melangkah menuju taman tak jauh di belakangku. Lagipula, Sooyoung tidak akan sulit mencariku—meski aku juga tidak akan luput dari ocehannya nanti. Aku terus melangkah hingga sebuah bola kaki menggelinding dan berhenti tepat di depanku. Segera saja aku memungut bola tersebut, dan hal itu bersamaan dengan langkah terburu yang menuju ke arahku.

Pemilik langkah tersebut terhenti seketika ketika aku menoleh tepat ke arahnya—tepat pada matanya. Terdengar jelas detak kers jantungku setelah menyadari dan mengingat jelas sosok yang kini berdiri beberapa inchi saja dariku. Kami hanya terbelalak, diam, saling menatap tak percaya.

Apakah aku tengah bermimpi sekarang? Mungkinkah ini dia?

 

Waktu mungkin sudah menghapus jarak kami, tapi tidak untuk ingatanku pada matanya yang kini beradu tatap denganku. Aku tak tahu apa yang dirasakannya, tapi aku dapat merasakan dengan jelas gejolak hebat yang bercampur dalam diriku. Lagi, aku mengalami ‘membekunya’ sebagian saraf dalam diriku dan membuatku tak sanggup melakukan apapun.

Gemerisik langkah dan sebuah suara lain langsung memutuskan eye contact yang berlangsung cukup lama.

Jagiya~ kau dimana? Kenapa lama se—oh!”

Laki-laki itu, yang kini berdiri tepat di belakangnya, entah kenapa membuatku sejenak mengira. Apa mungkin aku pernah bertemu dengannya? Kenapa rasanya dia cukup familiar? Lalu, panggilan itu… apa itu ditujukan pada orang yang sangat kuyakini adalah sahabatku dulu.

“Apa kalian saling kenal?”tanya namja tersebut setengah berbisik padanya, kemudian tersenyum ramah padaku.

Dia tersenyum canggung, kemudian berdeham kecil.”Dia, sahabatku semasa sekolah dulu, Park Chan Yeol.”jawabnya, membuatku terbelalak terbuncah oleh perasaan campur adukku sendiri. Ternyata, itu benar dia; Shin Hye Mi. Kukepal erat tanganku, menahan.

Sebisa mungkin, kutarik ke atas ujung bibirku membentuk senyum tipis.”Annyeong haseyo, Park Chan Yeol imnida.”

“Yeolli,”ucapnya membuatku tak mampu menahan mataku untuk tidak menatapnya. Sudah lama sekali rasanya aku tak mendengar panggilan itu dari mulutnya. ”perkenalkan, dia calon suamiku…“

 “Annyeong haseyo, Chanyeol-ssi. Byun Baek Hyun imnida.”

 

–  TBC  –

 

 

Annyeong~

Setelah cukup lama menghilang dari dunia per-ff-an, akhirnya author kembali lagi. TT

Duh, sorry to say, tapi ini karena author kemarin lagi diserang virus malas menulis. Padahal ide udah tumpah kemana-mana(?) Author juga sudah buat banyak judul baru, tapi karena masih dalam masa pemulihan mungkin butuh waktu untuk menyelesaikannya.

Tapi, untuk bagian kedua dari ff ini, author usahain cepat selesai. Doakan saja ya semua~ ^^

Don’t be a silent reader, and don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ❤

 

13–11–21 ~

Iklan

18 pemikiran pada “The Fate (End of Yours)

  1. Authorrr T.T) ff nya … KEREN BANGET, ahhhh feelnya dapet bangetlahh pokoknyaa, trus rada sedih + kesel juga sih sama chanyeol yang baru pekanya pas hyemi mau nikah 😦 tapi..tapi ahhh ini pokoknya harus cepet dijalnjut ya thorr 😦 aku kira yang ini emang udah mau end, tapi masih tbc? Haha gapapa lanjutkan saja thor 🙂 keep writing and fighting author :D, aiyah untuk chapter selanjutnya aku mau ngasih saran thor, buat ngasih nama POV nya, misal chanyeol pov/ hyemi pov, biar ga bingung sama sudut pandangnya 🙂 hehe.. Okehh cukup sekian dari komenannya, sekali lagi mangat thor dan jangan lama2 buat chapt selanjutnya ^^

    • MAKASIHHH T.T
      Mohon ditunggu yaa~ :))

      Trims buat sarannya cintah, tapi begitulah gaya author kalo nulis cerita. Soalnya biar reader ikut mikir dan curious sama ceritanya 😀

  2. huaaaaaaaaaa udah dari awal gak dijelasin ternyata calon suaminya byun baekhyun!!argghhh feel-nya dapet banget sumpah!endingnya bakal gimana tuh udah mau nikah baru ketemu astaga thor ini terlalu daebak!!please chap 2 jangan lama-lamaaaaaa ><

    • Makasiih utk pujiannya, author jadi terhura T T

      Author kan sengaja, supaya jadi surprise gituu hhe ^^v
      Okee akan author usahakan yaa! ‘-‘q

  3. WAAAAAAAAAAAAA SERUUU BANGETTTTTT. tpi sedikit ga ngerti sih soalnya ceritanya beda beda gitu… tapi ffnya kerennn… diakhirnyaaa bregh… doohh penasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s