The Pathway of Love

Title: The Pathway of Love

Author: moodorks

Cast: EXO [bias] and you

Genre: Romance

Rating: PG – 13

Length: Drabble

Note: Your comments is available!

 

Jaket kuning, tas hijau, bus merah. Aku suka melihatmu. Ya. Aku suka. Karena objek yang kulihat itu kau. 

Jaket hoodiemu yang kebesaran saat kau pakai ke sekolah, dengan bus pagi merah tiap harimu. Juga tas ransel hijau yang selalu kau pangku saat kau duduk di halte. Aku tahu. Semua tentangmu. Aku tidak pernah menaiki bus merahmu sekalipun. Tidak pernah. Arah rumah kita pun berlawanan. Aku juga bukan stalker mesum pulang dini hari demi kau. Aku hanya suka. Aku suka melihatmu.

Saat kau turun dari halte bertingkat itu, tertawa dengan teman-temanmu, berjalan cepat saat sendirian. Aku tahu. Dan aku suka.

Bahkan aku tahu, iris matamu itu coklat, seperti warna rambutku. Dan rambutmu itu hitam, seperti iris mataku.

Bagaimana aku tahu semua? Tentangmu? Mungkin kita berjodoh. Atau mataku memang jeli saat ada kau di dekatku. Ya. Karena aku suka melihatmu.

Motorku terhenti saat terdengar tawa keras yang familiar. Itu suaramu. Ya aku tahu. Aku hafal. Tapi kau tak melirik sedikitpun ke arahku. Senyumku canggung, mendadak lebar saat kau mendatangiku. Ya bersama temanmu. Temanmu yang ada keperluan denganku. Dan kau mengantarkannya. Dan aku suka itu.

Aku mengenalmu saat kita menjadi panitia bersama di sebuah festival. Kau menampakkan sederet gigimu saat sesuatu yang lucu mulai terdengar. Dan kau selalu berkeringat saat ada simulasi dimana kau harus banyak berbicara.

Aku suka saat festival kita sukses, dan kau bahagia. Foto bersama dengan partnermu, dan ya aku yang memegang kamera. Senyummu tetap biasa saat kulihat dengan kamera itu. Tetap indah.

Aku menyesal saat akhirnya penutupan festival selesai dan aku membiarkanmu pulang begitu saja. Melihatmu berdekatan dengan lelaki motor merah itu. Dan kalian tertawa bersama. Bahkan aku tak fokus sampai hasil jepretanku blur tak karuan.

Temanku si pendek memanggilku untuk menolongmu mengambilkan barang yang tertinggal. Aku suka. Dan senang hati aku membantu. Hanya saja kau terlalu cepat untuk merespon, hingga akhirnya aku belum mengucapkan terima kasih kembali.

Wajahmu kaget saat aku meneriakkan namamu. Ekspresi yang pertama kali aku lihat, dan aku suka. Ternyata kau tidak monoton. Kau salah tingkah saat aku mendekatimu. Dan aku salah tingkah saat kau bertanya bagaimana bisa aku tahu namamu.

Festival kota melibatkan beberapa orang dari sekolah, termasuk kau dan aku. Aku suka. Wajahmu berseri saat kau terpilih mewakili sekolah dan itu artinya istimewa. Dan aku berseri saat tahu kau juga terpilih bersamaku.

Aku dengan temanku si pendek sudah mulai kesal saat berada di antrian festival saat tiba-tiba wajahmu mendekat dari arah pintu masuk. Kau bersama teman-temanmu datang. Dan aku tersenyum. Aku senang.

Kau berdiri agak jauh dariku. Kenapa? Aku ingin bersebelahan denganmu. Mengukur selisih tinggi kita. Mengamati dengan jelas bentuk rambutmu yang berwarna hitam pekat. Tapi kau menolak. Kau pergi sebelum aku berani mendekatimu.

Hari ini giliranmu dalam festival. Tapi tugas sekolah menghadangku untuk datang. Tidak. Aku tidak suka saat wajahmu terbayang jelas di hadapanku. Ini hanya ilusi. Dan aku tidak suka ini.

Temanku si pendek tertawa saat bercerita kau menanyakanku. Benarkah? Bahkan dia tertawa saat kau mengataiku dengan si pendek pasangan homo. Ini tidak terdengar lucu. Dan memang tidak lucu.

Kau melewati pagar dengan wajah lesu. Itu wajah biasamu saat pagi hari. Aku tahu. Karena aku suka. Dan siang hari kau akan ceria tanpa ada malu sedikitpun. Moodmu mudah berubah. Aku juga tahu itu.

Sebelum pelajaran kau sudah memakan bekalmu beberapa sendok. Karena kau belum sarapan dari rumah. Dan ada kalanya botol minumanmu selalu tumpah di dalam tas. Menyebabkan kau marah-marah hingga menangis. Aku suka melihatmu.

Teman lelakimu menunggu di sebelahku. Aku tahu kalian hanya teman. Dan kau juga bukan seleranya. Sampai temanmu ini sedang berbicara dengan seseorang di depan sana. Aku mencoba melihat orang itu. Seperti pikiranku saat ini, kau ada disana. Ah tidak kuat lama-lama melihat wajahmu yang merona. Aku tahu, kau habis berlari mencari temanmu ini. Hingga oksigen dalam tubuhmu habis dan pipimu mulai merona.

Berhari-hari dan berbulan-bulan. Ternyata sulit mendapatkanmu. Yang notabene adik kelasku. Tapi aku tahu semua tentangmu. Dan kau pasti tahu kenapa.

Setiap pertemuan forum kita kau selalu menjauh. Aku tidak tahu kenapa kau selalu menjauh. Kata temanku si pendek aku tidak bau. Kepalaku juga tidak berketombe. Katanya aku tampan. Mungkin ini yang menyebabkan kami disangka pasangan homo.

Aku mulai sadar, ternyata kau lebih dekat dengan si pendek. Bahkan sangat dekat sampai tiap istirahat si pendek tidak ada di kelas hanya untuk menemuimu. Pikiranku berkecamuk. Jalan cerita cintaku ternyata tak semulus rambut hitammu.

Si pendek berteriak saat aku menolak pernyataan cinta dari temanmu. Aku tahu. Sekarang aku tahu. Semuanya. Kau menghindariku demi temanmu. Temanmu suka denganku. Padahal dia teman dekatmu. Sahabatmu. Dan kau lebih memilihnya daripada aku. Kau baik. Baik sekali.

Dan si pendek ini menyukaimu. Aku tidak tahu itu. Dan ternyata masalah kita sama. Tapi aku tetap tidak bisa merelakanmu. Yang menemukanmu dulu itu aku! Dan si pendek ini hanya mengikutiku.

Tiba-tiba kau sudah meninggalkan sekolah ini. Tanpa sebab. Tanpa ada kata mengapa dan karena. Apa ini salahku? Apa aku harus menghindarimu lalu kau akan kembali? Si pendek mulai meraung-raung dan aku berkaca-kaca di sebelahnya. Temanmu yang pernah menyatakan cinta padaku sudah memohon maaf padaku, dan sekarang dia menangis paling kencang.

Tidak ada yang mengerti kenapa kau begini. Tidak ada yang mengerti dibalik warna kuning, hijau, dan merah. Tidak ada yang mengerti dengan wajah lesumu di pagi hari dan wajah ceriamu di siang hari. Tidak ada yang mengerti kau sering menangis dan marah di saat bersamaan. Tidak ada yang mengerti semua hal tentangmu. Kecuali aku. Dan aku suka itu.

Jaket kuning, tas hijau, bus merah. Aku suka melihatmu. Ya. Aku suka. Karena kau alasanku untuk membuka mata.

| F I N |

Iklan

12 pemikiran pada “The Pathway of Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s