Always Be By Your Side [CHAPTER 1]

Always Be By Your Side Cover

Judul   : Always Be By Your Side

Author : danastridhn

Genre  : Romance, friendship

Length : Chapters

Rating : PG-15

Main Cast: Oh Sehun, Han Chan Gi

Supporitng Cast: Park Ha Ni, Park Chanyeol, Byun Baekhyun

FF ini juga ku post di http://littlesweetfanfiction.wordpress.com/

Mohon maaf kalo masih ada typo atau ceritanya kurang jelas. Don’t be a silent reader, ditunggu komentarnya^^

 

—–

 

Yobseo?” Aku mengangkat handphoneku yang berdering.

“Chan Gi-ah, mengapa kau tidak menjawab teleponku dari tadi?”

Mianhe Ha Ni. Sejak dari pesawat handphone ini baru kunyalakan.” Jawabku sambil menarik koper.

Gwaenchana. Kau sudah sampai?”

Ne, aku sudah sampai di Korea.” Aku melangkah keluar dari Bandara Internasional Incheon.

***

Namaku Han Chan Gi, seorang mahasiswa dari Indonesia jurusan tata rias dan kecantikan, atau bisa dibilang, make up. Sejak kecil aku sudah menyukai make up, sering kali aku diam-diam menggunakan blush-on milik ibuku. Bagiku, make up sama halnya seperti menggambar, jauh lebih menyenangkan dibandingkan jurusan matematika atau fisika yang penuh dengan angka dan lambang aneh yang sulit kumengerti.

Kini aku sudah berada di semester ke 3 kuliah. Yah, bisa dibilang aku sangat beruntung, karena aku mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan untuk belajar di Negeri Hanbok ini. Selain mendapat beasiswa, aku juga mendapat kesempatan untuk bekerja untuk magang di perusahaan tersebut. So here I am, ready to face my future.

“Chan Gi!” Seorang gadis melambaikan tangannya padaku. Aku segera menghampirinya.

“Ha Ni-ah, annyeong!” Sapaku riang.

Annyeong! How’s your flight? Pasti lelah sekali ya?”

“Sangat membosankan. Aku harus duduk berjam-jam selama perjalanan dari Indonesia sampai ke sini.” Kupijat sedikit lenganku yang daritadi sudah pegal-pegal.

“Hahaha, itu wajar. Aku juga selalu begitu setiap kembali ke Indonesia.” Kata Ha Ni. Park Ha Ni adalah temanku yang memiliki keturunan setengah Indonesia dan setengah Korea. Kami berteman baik sejak kami masih kecil. Namun saat SMP, ia harus meninggalkanku untuk pindah dan tinggal di Korea bersama Ayahnya.

“Jadi, apakah kau sudah siap untuk hari pertamamu sebagai mahasiswi di Universitas Seoul besok?” Tanya Ha Ni saat kami sedang menunggu bis.

“Huh, jujur saja hal ini agak menakutkan bagiku. Bagaimana jika aku tidak bisa belajar dengan baik nantinya?”

“Oh ayolah, dengan kemampuan berbahasamu yang sudah sebaik ini, aku yakin kau bisa belajar layaknya mahasiswa normal di Korea.”

Oh well, kita lihat saja nanti.”

***

Hari pertamaku di Seoul University pun dimulai. Setelah keluar dari apartemen tempat aku tinggal, aku segera berangkat menuju kampus. Di kelas, cukup mudah bagiku untuk memahami apa yang dikatakan oleh sang profesor. Semua mahasiswa yang berada di sana terlihat sangat serius saat mereka belajar, bagaimana tidak? Seoul University bisa dibilang merupakan universitas terbaik di Seoul. Hal ini hanya membuatku ikut-ikutan terpacu untuk lebih serius lagi.

Cheogi, apakah kau mempunyai kertas dan pulpen? Aku lupa membawa punyaku.” Tiba-tiba seorang lelaki dari belakang bertanya padaku.

“Tentu, ini dia.” Aku segera menyerahkan 2 lembar kertas dan sebuah pulpen.

“Ah, gomawoyo.” Ia mengambilnya sambil tersenyum senang. Ada-ada saja. Murid macam apa yang pergi kuliah tanpa membawa alat tulis? Karena tidak ingin kehilangan konsentrasiku, maka dengan cepat aku kembali memusatkan perhatian pada dosenku. Akhirnya saat waktu menunjukkan pukul 10.30 kelas kuliahku selesai.

Usai kelas, perutku keroncongan bukan main. Mungkin akibat konsentrasiku yang terlalu tinggi tadi pagi, akhirnya menguras semua energiku. Gawat, padahal setelah kuliah aku masih harus mendatangi tempat magang. Aku segera pergi keluar kampus untuk mencari kios-kios yang menjual berbagai jenis jajanan jalanan ala Korea. Lumayan juga untuk mengganjal perutku yang sudah ribut ini.

***

“Semuanya jadi 4000 won.” Kata ajumma penjaga kios.

Ne, kamsahamnida.” Ujarku sambil menyerahkan 4 lembar uang 1000 won. Sambil berjalan, aku melahap sepotong topokki. Hmm… enaknya. Jajanan pinggir jalan di Korea memang lezat! Aku terus berjalan sambil memusatkan perhatian pada topokki di tanganku.

BRUK!!!

Tiba-tiba aku menabrak seorang pria yang sedang berjalan berlawanan arah denganku. Sepertinya aku menabraknya cukup keras, karena kepalaku saja sampai sakit karena menabraknya. Sambil mengusap-usap dahiku yang kesakitan, aku memandangi pria tersebut, dari atas sampai bawah.

Wajahnya tampan, terlalu tampan. Seumur hidupku belum pernah aku melihat wajah setampan pria ini. Namun ia jelas terlihat kesal, otomatis pandanganku tertuju pada kemeja putih yang dikenakannya. Pantas saja dia kesal, kemejanya yang putih bersih itu kini penuh dengan saus topokki milikku yang tumpah saat kami bertabrakan. Wajahku merah padam karena malu.

Cwesonghamnida! Jongmal cwesonghamnida!” Aku meminta maaf berulang kali sambil membungkuk 90 derajat di depannya. Oh god, aku tidak bisa membayangkan seberapa kesalnya dia saat ini.

Saat aku mengangkat kepala untuk menatapnya, dengan matanya yang dingin ia menatapku dengan tajam. Kemudian aku mengeluarkan tisuku dan mencoba untuk membersihkan noda itu di kemejanya. Dengan cepat pria itu segera menahan tanganku.

“Tidak usah, biarkan saja. Lain kali perhatikan kemana arahmu berjalan!” bentaknya dengan nada yang meninggi

“Ma..maaf…” ujarku pelan sambil tertunduk malu. Pria itu kemudian dengan cepat berjalan melewatiku. Babo Chan Gi! Ini baru hari keduamu di Korea dan kau sudah menimbulkan masalah. Jinjja babo ya! Aku memukul kepalaku sendiri.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 tepat. Waktunya untukku memulai pekerjaan magangku. Untungnya aku sudah bisa melupakan kejadian memalukan tadi siang, karena aku tidak mau datang ke hari pertama bekerja dengan mood yang kacau seperti tadi.

Akhirnya aku sampai di depan sebuah gedung yang bertuliskan ‘SM Entertainment’. Baiklah Chan Gi, ini kesempatanmu untuk membuktikan bahwa kau tidak akan menyia-nyiakan beasiswamu yang sangat berharga. Fighting!!

***

Dengan langkah mantap, aku masuk ke dalam gedung SM Entertainment. Namun di meja resepsionis tidak ada siapa-siapa, hanya ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk di lobby. Yah, mungkin resepsionisnya sedang makan siang, lagipula sekarang sudah memasuki waktu makan siang, pikirku. Di saat aku sedang berdiri di depan meja resepsionis seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Han Chan Gi?”

N… ne, Han Chan Giimnida.” Ujarku sedikit terbata-bata.

“Ah, perkenalkan namaku Park Chanyeol. Aku manager supervisor di sini. Apakah anda adalah pekerja magang yang akan bekerja hari ini?” Tanya pria tinggi yang bernama Chanyeol itu dengan senyumnya yang lembut dan ramah, membuatku menjadi sedikit lebih rileks.

“Benar, saya akan bekerja sebagai pegawai magang di sini.”

“Baiklah, mari silahkan duduk.” Ia mempersilahkanku untuk duduk di sebuah sofa panjang.

“Mulai sekarang kau akan bekerja sebagai road manager.” Kata Chanyeol membuka percakapan.

“Road manager?” Aku belum terlalu familiar mendengar kata itu.

“Iya, road manager adalah orang yang akan menemani sang idol nanti. Kau akan menyediakan semua yang idol butuhkan selama ia bekerja di lapangan. Namun karena engkau hanya bekerja paruh waktu maka kau hanya akan menjadi road manager selama setengah hari. Apakah kau mengerti?” Tanya Chanyeol setelah menjelaskan semua kepadaku panjang lebar.

Aku mengangguk tanda mengerti.

“Baiklah, sebelum mulai bekerja sebaiknya kau bertemu dengan sang idol sendiri. Ikuti aku.”

***

Akupun mengikutinya menuju ke sebuah ruangan VIP. Chanyeol kemudian memberi isyarat padaku untuk berdiri di dekat pintu, kemudian ia berjalan mendekati seorang pria yang sedang berdiri membelakangi kami.

“Sehun-ah, ke sini sebentar. Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu.”

“Oh hyung, apakah kau membawa baju gantiku? Kemejaku terkena tumpahan saus topokki di jalan tadi. Seorang gadis ceroboh baru saja…”

Kata-kata pria itu terhenti ketika ia berbalik dan melihat wajahku. Dan untuk sesaat, jantungku berhenti berdetak. Oh god, ini adalah mimpiku yang paling buruk.

***

 “Oh, kau gadis ceroboh itu…” Gumamnya pelan ketika melihatku. Mimpi burukku baru saja bertambah lima kali lipat.

“Ehem… Sehun-ah, dia adalah road managermu yang baru.” Ujar Chanyeol.

A..annyeonghaseo, Han Chan Gi imnida.” Aku memperkenalkan diri. Sehun menatapku dengan tatapan dingin. Sama persis seperti tatapan yang ia berikan saat kami pertama kali bertemu.

“Baiklah Chan Gi-sshi, mulai sekarang kau akan bekerja sebagai road manager Oh Sehun.”Chanyeol mengarahkan tangannya pada Sehun.

“Hyung! Are you serious? Aku tidak yakin dia bisa menjadi managerku.” Kata Sehun. Ukh, kata-katanya setajam belati yang menusuk harga diriku. Kasar sekali.

“Ya! Hati-hati dengan perkataanmu!” Chanyeol memukul kepala Sehun dengan ringan.

Arasso, arasso.” Sehun hanya merengut sambil mengusap kepalanya.

“Baiklah kalau begitu, sehabis ini Sehun dijadwalkan untuk sesi pemotretan. Sebaiknya kau antarkan dia ke lokasi pemotretan sebentar lagi.” Chanyeol tersenyum sambil melihat ke arahku. Setelah itu ia memberiku sebuah map berisi kertas-kertas.

“Ini semua dokumen yang kau perlukan selama bekerja, juga ada jadwal Sehun disitu. Jika kau butuh bantuan, just call me, oke?” Aku hanya mengangguk. Kemudian Chanyeol melangkah keluar ruangan, meninggalkan aku dan Sehun berdua di ruangan itu.

***

Setelah Chanyeol pergi, ruangan itu menjadi sepi. Aku masih berdiri dengan canggung di dekat pintu, mengenggam erat map yang diberikan Chanyeol padaku.

“Um… Sehun-ssi…”

“Karena kau telah terlanjur menjadi managerku maka ada beberapa peraturan yang harus kau patuhi.” Sela Sehun memotong kata-kataku.

“Pertama, kau dilarang untuk menyentuh barang-barangku, kedua kau tidak boleh menggangguku saat aku sedang tidur, dan yang ketiga…” Sehun berhenti sejenak dan menghela nafas.

“Karena kita akan sering bersama, jangan harap kau bisa menjadi lebih dekat denganku, dan jangan pernah berlagak kalau kau mengenalku dengan baik.” Katanya dengan menatapku dalam-dalam. Aku membalas tatapannya dengan wajah yang kebingungan.

“Kita berangkat sekarang.” Lanjut Sehun sambil meraih jaketnya dan berjalan keluar ruangan. Aku masih terpaku di depan pintu. Masih mencoba untuk memahami apa yang baru saja terjadi tadi dan mencerna semua kata-katanya.

Benar-benar… apakah namja ini tidak punya kata-kata yang lebih baik untuk diucapkan? Bahkan ini baru pertama kali aku berbicara dengannya secara formal.

Sesaat kemudian Sehun muncul lagi, “Kau jadi mengantarku atau tidak?”

“Ah, ne…!” Aku langsung mengambil tasku dan mengikutinya keluar. Setelah beberapa langkah kami berjalan, iaberhenti dan melemparkan kunci mobil padaku.

“Kau menyetir.” Ujarnya singkat. Aku menangkapnya dengan muka tak percaya. Maksudku, aku tahu sebagai seorang road manager memang sudah menjadi tugasku untuk menyetir. Tapi tidak bisakah dia memintaku dengan cara yang lebih sopan? Huh, nappeun namja.

***

Sesuai dengan alamat yang tertera di jadwal Sehun, kami sampai di sebuah gedung redaksi majalah. Oh, rupanya pemotretan untuk majalah, gumamku dalam hati. Aku memarkirkan mobil tepat di depan gedung. Sehun langsung keluar dan memasuki gedung. Dengan terburu-buru aku mengambil tasnya dan mengikutinya masuk ke gedung tersebut.

Saat kami memasuki studio, sang fotografer sedang mengatur pencahayaan dan para make up artist sudah siap dengan semua peralatan mereka. Sehun segera duduk di meja rias sementara beberapa orang mulai mengatur rambut dan riasan wajahnya. Aku berdiri di dekat sang fotografer sambil mendengarkan soal rincian kegiatan pemotretan ini.

“Baik, kita mulai photoshoot kali ini!” Ujar si fotografer sambil mengambil posisi. Sehun pun sudah siap di posisinya, lengkap dengan rambut yang ditata dan pakaian yang dimodelkannya. Ia mulai berpose sesuai dengan arahan si fotografer.

Penilaianku disaat kami pertama bertemu memang tidak salah. Sehun benar-benar tampan. Walaupun sikapnya yang menyebalkan, entah kenapa ada sesuatu dalam namja itu yang selalu menarik perhatianku. Dengan kulitnya yang kelewat putih, rambutnya yang dye dengan warna putih metalik membuat penampilan semakin chic.

Ya! Apa yang sedang kau lakukan Chan Gi! Sadar! Sadar! Kau harusnya membenci dia! Aku memarahi diriku sendiri sambil menepuk kepalaku.

“Baik, semuanya kita take a break dulu! Lalu lanjutkan untuk sesi ke dua.”

Semua orang langsung kembali sibuk. Sehun kini kembali ke ruang rias, untuk ganti pakaian baru. Setelah selesai, ia keluar dan memberi isyarat padaku untuk datang kepadanya.

“Ada apa?” Tanyaku begitu sudah berada di depannya.

“Belikan aku sesuatu untuk di minum. Tenggorokanku terasa kering.”

“Baiklah, minuman apa yang kau inginkan?” Tanyaku lagi. Setelah berpikir sejenak, Sehun pun menjawab.

“Bubble tea.”

***

            Bubble tea? Pria ini memiliki selera yang cukup aneh ternyata.

Aku segera keluar untuk mencari toko yang menjual minuman tersebut. Aku sedang berjalan dan mencari counter minuman yang biasanya berada di tepi jalan ketika tiba-tiba seorang lelaki memandangku.

            “Oh? Kau…?” Telunjuknya terarah padaku. “Kau gadis yang meminjamkan pulpen padaku tadi pagi, bukan?” Ah, rupanya lelaki di kelas tadi.

            “Ne, Han Chan Gi imnida.” Aku memperkenalkan diri sambil tersenyum.

            “Naneun, Byun Baekhyun ineyo.” Ia membalas senyumku. “Apa yang kau lakukan di sini?”

            “Aku hanya membeli minuman. Bagaimana denganmu?”

            “Aku hanya berjalan-jalan saja. Tiap hari aku melewati jalan ini karena ini jalan ke rumahku. Biasanya aku mampir di restoran kimbap depan sana, kau lihat?” Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah bangunan. Aku mengangguk.

            “Aku suka sekali kimbap di situ. Sama persis seperti yang eomma sering buatkan saat aku masih kecil dulu. Oh ya, di dekat situ juga ada toko swalayan besar. Jika sedang bosan aku sering mampir ke sana. Toko itu benar-benar memiliki segala macam benda! Seperti kasur, lemari, peralatan masak, alat mandi, permen-permen… ”

            “Mianhe Baekhyun-ah, aku sedang agak terburu-buru sekarang, jadi aku harus pergi dulu.” Aku segera memotong kata-katanya. Kalau aku tidak menghentikannya, mungkin dia akan terus berkicau sampai berjam-jam.

            “Oke oke, arasseo. Oh iya ngomong-ngomong, ini pulpenmu. Terima kasih sudah mau meminjamkannya padaku pagi ini.” Ujarnya sambil menyerahkan pulpenku. Kemudian aku pun pergi sambil melambaikan tangan padanya.

***

            “Gawat! Sudah hampir jam satu!” Sebentar lagi pemotretan akan selesai dan aku sudah harus mengantar Sehun kembali ke gedung SM. Aku berlari secepat mungkin sambil membawa segelas bubble tea. Saat aku sampai, Sehun sudah menungguku, ia bersandar pada pintu mobil kami.

            “Kenapa lama sekali? Padahal aku hanya menyuruhmu untuk mengerjakan satu hal, dan itu saja kau tidak bisa mengerjakannya dengan benar.” Ujar Sehun ketus.

            “Mianhe… Tadi… banyak… orang… antri…” Aku berusaha berbicara seraya mengatur nafas karena habis berlari tadi. Maklum, aku bukan pelari yang cepat dan staminaku bisa dibilang rendah.

            “Sudah, lupakan saja.” Dengan kasar Sehun mengambil bubble tea-nya dari tanganku dan langsung masuk ke dalam mobil.

Benar-benar namja ini… Sama sekali tidak memiliki sopan santun! Karena kesal aku menarik lengannya sehingga dia tidak jadi duduk di mobil.

            “Mwoya?!” Protes Sehun dengan nada setengah marah. Namun aku tak menghiraukan dirinya yang sedang kesal itu, karena aku lebih kesal lagi.

            “Dengar ya, aku bersusah payah untuk membeli minuman ini. Bahkan aku sampai berlari padahal aku tidak bisa berlari dengan cepat! Tapi apakah aku mendengar ucapan terima kasih? Tidak! Yang kudapat hanyalah bentakan darimu. Apakah kau akan terus bersikap seperti ini sepanjang hari?!”Aku meluapkan segala emosiku dan kata-kata itu hanya mengalir dengan sendirinya.

            “Aniyo, aku tidak akan bersikap seperti ini sepanjang hari.” Ujar Sehun padaku.

“Aku akan bersikap seperti ini selamanya.” Lanjutnya dengan senyum mengejek. Kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya di hadapanku.

            “Ya! Oh Sehun!” Dengan kesal aku memukul-mukul kaca jendela mobil. Namun Sehun tidak menghiraukanku. Ia memasang headphonenya dan berpura-pura aku tidak ada disitu. Akhirnya aku menyerah dan masuk ke mobil dan membanting pintunya. Ah, rasanya aku ingin cepat-cepat mengakhiri hari ini.

***

            Aku duduk di teras belakang gedung SM, masih memikirkan kejadian tadi. Ah… sebenarnya orang macam apa Oh Sehun itu? Seumur hidupku belum pernah aku menemukan orang seperti dia.

Aah…! Michoso! Aku menempelkan dahiku pada meja.

            “Hari yang berat, huh?” Tanya sebuah suara di belakangku. Saat aku mengangkat kepala, Chanyeol sedang berdiri di belakangku sambil membawa dua gelas kopi di tangannya.

            “Oh, annyeonghaseo sunbaenim.” Kataku sambil membungkuk.

            “Ini, untuk menambah energimu.” Ujarnya sambil meletakkan segelas kopi dan duduk di depanku. “Bagaimana hari pertamamu bekerja?”

            “Ukh, melelahkan.” Mendengar jawabanku, Chanyeol hanya tersenyum.

“Bekerja dengan Oh Sehun sangat melelahkan.” Aku mendengus kesal.

            “Yah aku tahu, terkadang bekerja dengan Sehun bisa sedikit melelahkan.”

            “Sedikit?” Aku melirik Chanyeol.

            “Oh ayolah, it’s not so bad.” Kata Chanyeol dengan senyum menghibur.

            “Aku tak begitu yakin sunbae, rasanya lama-lama aku bisa gila jika tiap hari harus berhadapan dengan orang seperti dia.” Aku kembali menempelkan daguku di meja. Mendengar hal itu Chanyeol tersenyum geli.

            “Well, semoga kau bisa melakukan yang terbaik dalam pekerjaanmu. Dan ingat, jika kau memerlukan sesuatu, apa pun itu just let me know.”

            “Arasseo, kamsahamnida sunbae.

***

18 pemikiran pada “Always Be By Your Side [CHAPTER 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s