Day By Day

Poster - Day by Day

Judul     : Day By Day

Author  : Ririn_Setyo

Cast       : Kris Duizhang, Song Jiyeon.

Genre    : Romance

Length  : One Shot

Rating   : PG-15

FF ini juga di publish di blog pribadi saiiya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com

*

*

Kisah ini adalah kisah sepasang anak manusia bernama Song Jiyeon dan Kris Duizhang, kisah yang sudah di rancang dengan sangat manis bahkan sejak mereka belum di lahirkan, dan persahabatan di antara kedua orang tua merekalah yang menjadi penyebabnya.

Kris adalah seorang anak laki-laki yang lahir di tahun 1990, merupakan anak hasil perkawinan dua negara Canada dan China, lahir di Guangzhou provinsi bagian Republik China dan mempunyai kewarganegaraan Canada seperti ayahnya. Kris terlahir di keluarga konglomerat yang sangat sibuk, bahkan sejak lahir Kris sudah di asuh oleh seorang wanita paruh baya penuh kasih sayang dan berhati lembut bak ibu peri, bernama bibi Chen yang selalu Kris anggab sebagai ibu keduanya.

Sedangkan Jiyeon adalah seorang anak perempuan yang lahir di tahun 1991 di kota Seoul Korea Selatan, orang tua gadis itu juga sangat sibuk dengan pekerjaanya sebagai pengusaha, namun ibu Jiyeon memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai sekretaris dari suaminya sendiri, sejak Jiyeon lahir ke dunia, hingga membuat Jiyeon mendapatkan limpahan kasih sayang dari sang ibu yang terkadang membuat Kris sedikit cemburu.

Kris dan Jiyeon sudah saling mengenal sejak Jiyeon merayakan ulang tahun pertamanya, mereka pun mulai terlihat selalu bersama sejak orang tua Kris membuka cabang perusahaannya di Korea Selatan tepat di usia Kris menginjak 4 tahun, dan memutuskan untuk menetap sementara di Seoul, sejak itulah hubungan yang sebenarnya di antara Kris dan Jiyeon di mulai.

Orang tua mereka memasukkan mereka di sekolah yang sama, tanpa bibi Chen yang tetap berada di Guangzhou, Kris kerab kali menginap di rumah Jiyeon, jika orang tuanya harus kembali ke Guangzhou karna alasan pekerjaan. Tepat di ulang tahun Jiyeon yang ke 6, orang tua mereka memutuskan untuk menjodohkan mereka dan hubungan mereka pun semakin akrab dan tak terpisahkan, mereka selalu menghabiskan waktu bersama, sekolah, belajar, liburan dan Natalan bersama.

Waktu kecil Kris adalah seorang bocah laki-laki yang lucu, ramah, dan suka tertawa, namun semuanya berubah di saat usia Kris menginjak umur 12 tahun. Orang tua Kris pindah ke Vancouver Canada lagi-lagi karna urusan pekerjaan, dan memutuskan tidak membawa Kris pindah ke Vancouver, meninggalkan laki-laki itu di Korea bersama kelurga Jiyeon, dengan alasan agar Kris bisa lebih terawat dan lebih bisa mengenal Jiyeon. Sejak itulah sifat Kris berubah menjadi pribadi yang kaku, dingin dan tak tersentuh, terlebih kepada Jiyeon karna Kris selalu menganggab Jiyeon lah sebagai penyebab dia harus berpisah dengan orang tuanya.

Jiyeon dan Kris tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan berprestasi, mereka berdua bahkan bersekolah 2 tahun lebih cepat dari anak-anak sebayanya dan kini mereka sudah terdaftar sebagai siswa siswi YeomKwang High School. Mereka selalu berada di sekolah yang sama sejak dulu, berangkat dan pulang bersama, Kris sangat popular di kalangan siswi perempuan karna kecerdasan dan wajah rupawan yang terpahat sempurna, dengan tinggi badan menjulang hingga menyentuh angka 187 cm, namun tidak ada satu gadis pun yang mampu menyentuhnya karna sifat dingin laki-laki itu, dan karna semua orang tahu jika Kris dan Jiyeon sudah si jodohkan sejak kecil.

Begitu pula dengan Jiyeon gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik dan ramah, punya banyak teman dan tidak sedikit pula siswa laki-laki yang dengan terang-terangan menyukai gadis itu., namun Jiyeon selalu menolaknya dengan sebuah alasan konyol.

*

*

YeomKwang High School

.

“Mianhae—“ ucap Jiyeon untuk kesekian kalinya saat ada laki-laki yang menyatakan cinta padanya. “Aku hanya akan menerima laki-laki yang memiliki tinggi badan, melebihi dari tinggi badan tunangan ku, Kris.” Ucap Jiyeon dengan wajah menyesalnya, membuat laki-laki tampan di depannya tersenyum kecewa.

“Aku tahu jika aku tidak setinggi itu, tapi aku,—“

“Mianhae Donghae-ssi aku benar-benar tidak bisa,” ucap Jiyeon dengan suara pelannya, karna sungguh menolak Donghae lebih berat dari menolak Kyuhyun dan Siwon.

Siwon dan Donghae adalah kakak kelas Jiyeon, sedangkan Kyuhyun berada di tingkat yang sama dengannya, bahkan Kyuhyun berada satu kelas dengan Kris. Donghae adalah laki-laki dengan pribadi yang sangat lembut dan sopan, berbeda sekali dengan Siwon dan Kyuhyun, Donghae selalu memperlakukan Jiyeon dengan manis dan istimewa seolah-olah Jiyeon adalah harta yang paling berharga di dunia ini, membuat Jiyeon benar-benar merasa bersalah karna sudah membuat laki-laki itu kecewa.

Bukan karna statusnya sebagai tunangan dari Kris yang membuat Jiyeon, menolak semua laki-laki yang menyukainya, tapi semua itu Jiyeon lakukan karna ada sesuatu perasaan aneh yang di rasakannya kepada seorang laki-laki, yang bahkan selalu memarahinya dengan alasan yang tidak jelas, laki-laki yang selalu bersikap dingin dan tidak peduli sama sekali dengan dirinya, laki-laki yang hanya akan bersikap seolah-olah peduli kepada dirinya, jika sedang berada di hadapan orang tua mereka dan laki-laki itu adalah Kris Duizhang.

Perasaan aneh yang Jiyeon rasakan mulai terbentuk sejak orang tua mereka memutuskan jika mereka harus mulai berkencan di usia Jiyeon yang menginjak usia 13 tahun, mengharuskan mereka berdua berkencan romatis di setiap hari minggu. Awalnya Jiyeon hanya tertawa menanggapi rencana orang tuanya itu, tapi dengan seiringnya waktu berjalan dan entah sejak kapan, yang pasti kini Jiyeon selalu merasakan perasaan aneh jika gadis itu berada terlalu dekat dengan Kris, selalu merasa kesal jika ada gadis lain yang menyukai Kris, dan jantungnya selalu akan berdegub kencang tiap laki-laki itu menatapnya terlalu lama.

*

*

Jiyeon terlihat melamun di sepanjang langkahnya menuju parkiran mobil, pikiran gadis itu masih melayang ke fakta yang baru saja dia dapatkan dari Luhan sahabatnya, yang mengatakan jika Kris akan berkencan dengan seorang gadis minggu ini. Jiyeon merasa gelisah dan takut, gadis itu bahkan mengabaikan Kris yang berjalan pelan di sampingnya, membuat Kris melirik gadis itu dari ekor mata dinginnya karna biasanya Jiyeon akan sangat cerewet menceritakan semua kegiatan gadis itu di tiap harinya, hingga Kris harus menyumbat kedua telingganya dengan headseat karna merasa terlalu bosan dengan semua ocehan gadis itu.

“Aku dengar hari ini kau baru saja menolak Donghae,” ucap Kris yang memecahkan keheningan di antara mereka. “Apa kau sangat menyesal, sampai kau menjadi gadis bisu?” ucap Kris lagi, tapi Jiyeon tidak menjawab gadis itu memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil saat mereka sudah berdiri di depan mobil mereka.

Kris menatap Jiyeon dengan tatapan tidak pedulinya, laki-laki itu pun terlihat mulai menghidupkan mesin mobil, dan menjalankannya dengan kecepatan sedang. Jiyeon menolehkan kepalanya yang dia sandarkan di jok mobil, menatap Kris yang terlihat focus dengan jalanan kota yang terlihat ramai di depannya.

“Kris,—“ ucap Jiyeon dengan suara ragunya, Kris tidak menjawab. “Apa benar jika— jika hari minggu besok kau akan berkencan dengan,—“

“Ya kau benar, aku akan berkencan dengan Eunji.” Jawab Kris dengan suara dinginnya yang khas, membuat Jiyeon terpaku untuk beberapa saat. “Lalu— aku— aku bagaimana? Maksud ku bagaimana dengan kencan,—kita?” Jiyeon meremas jarinya dengan gusar saat mata dingin itu menatapnya tak suka.

“Kita akan tetap pergi bersama, tapi— setelah itu aku akan meninggalkan mu di taman kota, kau boleh melakukan apapun yang kau mau, setelah aku selesai dengan Eunji aku akan kembali menjemput mu.” Ucap Kris dengan lancar dan tanpa beban, mengabaikan Jiyeon yang terlihat terluka dengan airmata yang mulai berkumpul di ujung mata bening gadis itu.

“Eoh! Arraseo.” Ucap Jiyeon sesaat sebelum kembali menyandarkan kepalanya di jok mobil, mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela hingga membuat Kris tidak dapat melihat butiran airmata yang mulai jatuh dari sudut mata gadis itu.

*

*

*

Jiyeon’s Home

.

Jiyeon berjalan menunduk saat gadis itu baru masuk ke dalam rumah, di ikuti Kris yang berjalan di belakangnya. Kris tampak membungkuk hormat ke arah Jieun ibu dari Jiyeon yang terlihat tersenyum menyambut kepulangan mereka berdua, namun sesaat kemudian Jieun terlihat khawatir saat melihat putrinya yang tidak bersemangat.

“Jiyeon-aa gwenchana?” tanya Jieun sambil membelai wajah putrinya yang terlihat sedikit pucat. “Eoh! Aku baik-baik saja ibu, aku hanya sedikit lelah.”

Jieun tampak kembali membelai wajah Jiyeon dengan lembut. “Ingat kau tidak boleh kelelahan sayang,” Jiyeon mengangguk, gadis itu sudah sangat hafal dengan kondisi lemah tubuhnya, yang sejak dulu akan selalu demam tinggi jika gerimis membahasi tubuhnya, atau jika gadis itu kelelahan.

Kenyataan yang terkadang membuat Jiyeon, merasa iri dengan semua teman-temannya yang bisa melakukan banyak hal, tidak seperti dirinya gadis itu bahkan tidak pernah mengikuti olah raga apapun karna kelemahan fisiknya itu.

Jiyeon kembali melanjutkan langkahnya, menuju kamar tidurnya yang ada di lantai dua tepat di depan kamar tidur Kris, gadis itu tampak menatap Kris yang hendak masuk ke dalam kamarnya saat gadis itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Kris,—“ panggil Jiyeon dengan suara lirihnya, Kris menghentikan gerakan tangannya di knop pintu, laki-laki itu lagi-lagi tidak menjawab bahkan Kris tidak membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah Jiyeon.

Jiyeon menarik nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak, suara gadis itu bahkan terasa tertahan di tenggorokannya yang mulai tersumbat karna menahan desakan airmata yang kembali sudah mendesak untuk keluar.

“Semoga kencan mu menyenangkan,” ucap Jiyeon pada akhirnya sesaat sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu, Kris membalikkan tubuhnya menatap pintu kamar Jiyeon yang berwarna biru muda itu dengan tatapan dingin yang tidak dapat di artikan oleh siapapun.

*

*

Jiyeon’s Room

.

Jiyeon merebahkan tubuh lemahnya di atas ranjang tidurnya, airmata gadis itu sudah kembali mengalir dari kedua sudut mata beningnya yang mulai memerah. Gadis itu kembali merasakan nyeri di dadanya saat bayangan Kris yang berkencan dengan Eunji mulai memenuhi pikirannya.

Kwon Eunji adalah gadis pintar yang berada satu kelas dengan Kris, merupakan anggota pemandu sorak yang terkenal karna kecerdasan dan wajah imutnya, yang mampu membuat sebagiaan besar siswa di sekolahnya memuja gadis itu.

Eunji adalah tipe gadis yang terlihat imut dengan semua expresi di wajahnya, gadis itu sering kali ber agyeo di depan Kris yang mampu membuat laki-laki dingin itu tertawa. Sangat berbeda jika laki-laki itu sedang berada di dekatnya, Kris bahkan pernah memarahi Jiyeon saat gadis itu berusaha membuat Aegyo di depan laki-laki itu.

“Kenapa kau sangat membenci ku, Kris?” tanya Jiyeon dengan memandang foto yang menjadi wallpaper di smarphone miliknya.

Foto Kris yang di ambil gadis itu di kencan mereka 5 bulan lalu, waktu itu Kris dengan sangat terpaksa perpose di depan Jiyeon yang terus memaksanya untuk membuat selca yang lucu. Ya Jiyeon memang hobi sekali mengambil selca dari Kris, yang terkadang membuat Jiyeon mendapat umpatan kesal bahkan jitakan dari laki-laki dingin itu.

“Aku ingin kau seperti dulu lagi Kris, seperti saat kita kecil dulu.” Butiran bening kembali jatuh di sudut mata Jiyeon yang kembali memanas, gadis itu menekuk tubuhnya dengan terus menangis, berharap jika Kris akan kembali seperti dulu, kembali menjadi laki-laki hangat yang senang tertawa dan selalu menjaganya dari semua hal buruk di luar sana.

*

*

*

The Date Day

Kwanghan Pavilion

Chunhyang Theme Park- Namwon

.

Kris terlihat menatap sesaat benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya, saat dirinya baru saja tiba di sebuah taman indah yang terkenal dengan cerita dongeng Chunhyangjeon, kisah cinta bak Romeo dan Juliet versi Korea.

Laki-laki tinggi itu mengenakan kaos hitam berlengan pendek, dengan sebuah topi yang menutupi kepalanya, menatap sekilas Jiyeon yang terbalut kaos berwarna putih dengan hotpants hitam yang membuat kaki indah gadis itu terexpos sempurna. Senyum samar terlihat di wajah dingin Kris saat matanya melihat Jiyeon yang terlihat melamun di sampingnya, sesaat sebelum  Kris berjalan pelan menuju Kwanghan Pavilion berwarna maroon yang ada di tengah taman indah ini.

“Kris tunggu aku,” panggil Jiyeon sesaat sebelum berlari mengejar Kris yang sudah berada jauh di depannya, gadis itu mengutuk dirinya sendiri yang melamun hingga tidak sadar jika Kris sudah mulai melangkah meninggalkannya.

“Tunggu—a—aku—“ ucap Jiyeon dengan nafas yang tersengal saat sudah berhasil mengejar Kris, gadis itu terlihat mengusap dadanya yang terasa sesak karna terlalu lama berlari.

“Kau lamban Jiyeon!” ucap Kris dengan nada dinginnya yang khas, mata tajam laki-laki itu menatap Jiyeon yang masih berusaha mengatur nafasnya dengan tatapan dalam penuh kekhawatiran, yang tersembunyi di balik mata dinginnya.

“Kemana Eunji? aku belum melihatnya.” Ucap Jiyeon seraya mengedarkan pandangannya, gadis itu membenarkan letak tas yang ada di bahunya lalu menyampirkan jaket yang sedari tadi di pegangnya, dan tidak sadar dengan tatapan Kris pada dirinya sedari tadi.

Kris mengalihkan pandangannya, saat Jiyeon masih terlihat sibuk mencari sosok Eunji. “Mana aku tahu,” jawab Kris cuek lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Nanti kau selesai jam berapa Kris?” tanya Jiyeon seraya merangkul lengan Kris dengan erat, kebiasaan gadis itu sejak dulu jika sedang berjalan di samping laki-laki itu. “Jangan terlalu malam, aku takut ibu mengkhawatirkan kita nantinya.” Ucap gadis itu lagi dan lagi-lagi tidak mendapat jawaban apapun dari Kris.

Jiyeon terdiam sesaat, melepaskan rangkulan tangannya di lengan Kris lalu berdiri di hadapan Kris dengan tersenyum. “Aku lapar Kris, jadi kita akan berpisah di sini, hubungi aku jika kau sudah selasai, aku akan menunggu mu di dalam pavilion.” Ucap Jiyeon tanpa jeda dan bergegas membalikkan tubuhnya, karna sungguh gadis itu tidak akan tahan jika harus melihat Kris berjalan mesra dengan Eunji.

Namun langkah Jiyeon terhenti saat dengan tiba-tiba Kris sudah menahan lengannya, menatapnya dengan tatapan yang tidak di mengerti oleh Jiyeon. “Kita tidak akan pernah berpisah!” ucap Kris dengan tetap menatap Jiyeon dengan tatapan seriusnya, membuat Jiyeon terdiam seketika.

Kris mengalihkan pandangannya saat mata bening milik Jiyeon terus menatapnya. “Aku juga lapar, kajja.” Ucap Kris lalu menarik tangan Jiyeon untuk mengikuti langkahnya, mengabaikan tatapan terkejut dari Jiyeon di belakang sana.

*

*

Restaurant

.

Jiyeon menatap Kris yang terlihat sibuk dengan smarphone di tangannya, gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan semua yang Kris lakukan dan katakana hari ini. Laki-laki itu bahkan terlihat cuek saat Jiyeon mengingatkan tentang rencana kencan laki-laki itu hari ini.

“Apa Eunji sudah menghubungi mu, Kris?” tanya Jiyeon dengan mulai mengaduk mie panas yang telah tersaji di hadapan mereka, Kris tidak menjawab laki-laki meletakkan smarphone yang sedari di pegangnya di atas meja lalu mengambil alih mangkok mie Jiyeon dan mulai mengipasinya dengan lembar kertas menu yang ada di atas meja.

Jiyeon tersenyum sejak dulu Kris memang akan mendinginkan makanan yang akan gadis itu makan, karna Jiyeon tidak bisa memakan makanan panas. Kris kembali menyodorkan mangkuk mie yang terlihat mulai mendingin ke pada Jiyeon.

“Gomawo,” ucap Jiyeon lalu mulai melahap mie itu dengan lahap, mie dengan bumbu racikan koki China yang menjadi makanan favorid dari Kris Duizhang.

“Setelah ini aku akan langsung ke pavilion, dan kau bisa langsung menemui Eunji.” Ucap Jiyeon sambil kembali memasukkan mie ke dalam mulutnya yang membuat pipinya mengembung persis seperti ikan koki.

Kris menahan senyumnya, tangannya terulur ke bibir Jiyeon yang terdapat sisa saos lalu membersihkannya dengan ujung jarinya, membuat Jiyeon membeku dengan wajah yang di rasakannya mulai merona.

“Tidak usah mengatur ku, urusi saja makanan mu, Song Jiyeon.” Ucap Kris lalu melatakkan smarphone yang sedari tadi di pegangnya dan mulai melahap Mie dan daging asap yang mulai mendingin itu dengan lahap, mengabaikan Jiyeon yang sudah menatapnya tanpa berkedib.

“Eoh! Jiyeon-aa kau tidak mau mengambil selca?” tanya Kris tiba-tiba saat baru saja menyelesaikan makan siangnya.

“Nde?” ucap Jiyeon dengan raut wajah terkejutnya, karna ini untuk pertama kalinya Kris yang meminta dirinya untuk mengambil selca laki-laki itu.

Dengan ragu Jiyeon mengeluarkan smarphonenya, mengarahkan kamera pada Kris yang terlihat tersenyum ke arahnya. “Ayo cepat!” ucap Kris saat di lihatnya Jiyeon yang tak juga mengambil foto dirinya.

“Arra,” jawab Jiyeon dengan sebuah senyum manis, yang terukir di wajah cantiknya.

CKREK—

*

*

Kris dan Jiyeon sudah kembali berjalan pelan di dalam area taman, Jiyeon terlihat senang saat dirinya dan Kris sudah berada di depan pintu Kwanghan Pavilion. Gadis itu terlihat tertawa lalu menarik Kris, untuk duduk di bangku yang ada di pavilion.

“Kris, apa kau tahu tentang dongeng Chunhyangjeon?” tanya Jiyeon dengan memiringkan wajahnya, menatap Kris yang menatap lurus ke depan.

“Dulu pada zaman pemerintahan Dinasti Joseon, putra dari Gubernur kota Namwon yang bernama Lee Mongryong, jatuh cinta pada seorang gadis keturunan Gisaeng (penghibur dari kalangan rakyat biasa) bernama Chunhyang, saat pertama kali mereka bertemu di pavilion ini.” Ucap Jiyeon sambil menyadarkan kepalanya di bahu Kris, yang tak beraksi sama sekali.

“Hubungan mereka tidak di restui, tapi— dengan perjuangan mereka yang begitu keras akhirnya mereka berdua bisa bersatu juga. Ah! Kisah cinta romatis penuh perjuangan yang berakhir kebahagian,—” Jiyeon menggantungkan kalimatnya. “Seandainya semua kisah cinta berakhir bahagia, pasti akan sangat menyenangkan.” Lanjut Jiyeon dengan suara lirihnya, membayangkan kisah cintanya dengan Kris yang harus segera di lupakana gadis itu yang bahkan belum pernah di mulai sedikit pun.

Jiyeon menegakkan tubuhnya, berjalan pelan menuju pintu pavilion menatap pemandangan indah di depannya dengan tersenyum getir. Kris menatap punggung gadis itu dengan tatapan dinginnya, perlahan laki-laki itu pun berdiri, tangannya memegang jaket Jiyeon yang tertinggal di bangku dan mulai melangkahkan kakinya hingga berdiri di samping gadis itu.

“Pakai jaket mu,” ucap Kris seraya menyerahkan jaket itu ke Jiyeon, matanya menatap langit yang terlihat mulai mendung.

Jiyeon menatap sekilas Kris yang berdiri di sampingnya, gadis itu segera memakai jaketnya dan sedikit mengeratkannya, entahlah gadis itu merasa jika suhu saat ini sangat dingin, sedingin hatinya yang semakin gusar.

“Kris,—“

“Aku mau mengitari tempat ini sekali lagi.” Ucapan gadis itu terpotong seketika saat Kris mulai bersuara.

“Nde?” Kris menatap Jiyeon perlahan tangan laki-laki itu meraih jemari Jiyeon lalu mulai menariknya, membuat Jiyeon sedikit terkejut.

“Kris, bagaimana dengan Eunji?” tanya Jiyeon sambil berusaha menghentikan langkah Kris, laki-laki itu tidak menjawab dan terus menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya, bahkan Kris semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemari gadis itu.

“Kris bagaimana jika Eunji sudah datang dan mencai mu? Kau harus menghubunginya atau— kau bisa menyuruhnya untuk menunggu mu di Pavilion,—“

Kris tampak berdecak kesal lalu menghentikan langkahnya. “Kenapa kau cerewet sekali Jiyeon,—“ ucap Kris dengan nada kesalnya, mata dinginnya menatap Jiyeon dengan tajam, membuat Jiyeon sedikit menunduk takut.  “Kencan kami batal, kau mengerti?” Jiyeon mengangkat kepalanya.

Jiyeon terkejut gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Kris dengan tatapan tidak percayanya. “Nde?”

“Jangan bertanya apa alasannya, yang harus kau lakukan sekarang adalah temani aku jalan-jalan di taman ini tanpa pertanyaan, kau mengerti?” ucap Kris dengan dingin, membuat Jiyeon mengangguk pelan dan pasrah saat Kris kembali menarik tangannya untuk mengikuti langkahnya.

Jiyeon berjalan pelan di samping Kris dengan senyum yang tanpa sadar sudah terbentuk di wajah cantik gadis itu, mata beningnya menatap jemarinya yang masih di genggam erat oleh Kris dan sungguh membuat jantung gadis itu berdegub tak terkendali sedari tadi.

Jiyeon kembali tersenyum entahlah yang pasti saat ini gadis itu merasa sangat bahagia karna kencan Kris dan Eunji batal. Jiyeon tidak peduli jika saat ini dia terlihat egois, karna merasa bahagia dengan kencan Kris yang batal, gadis itu bahkan berencana akan membatalkan semua rencana kencan Kris yang berikutnya.

Jiyeon mengeratkan genggaman tangannya, merangkul lengan Kris dengan tangan bebasnya yang lain. Kini Jiyeon ingin selalu berada disamping laki-laki dingin itu, tanpa ada gadis lain yang menganggu, karna sekarang ada satu perasaan yang Jiyeon mulai yakin benar, perasaan jika dirinya sudah jatuh cinta dengan laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya itu, benar-benar sudah jatuh ke dalam rasa cinta yang begitu besar dan tulus kepada, Kris Duizhang.

.

.

EPILOG

.

Restaurant

.

Jiyeon menatap Kris yang terlihat sibuk dengan smarphone di tangannya, gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan semua yang Kris lakukan dan katakan hari ini. Laki-laki itu bahkan terlihat cuek saat Jiyeon mengingatkan tentang rencana kencan laki-laki itu hari ini.

“Apa Eunji sudah menghubungi mu, Kris?” tanya Jiyeon dengan mulai mengaduk mie panas yang telah tersaji di hadapan mereka.

Kris menatap sekilas Jiyeon yang mulai mengaduk makanannya, mata dingin laki-laki itu menatap pesan singkat yang baru saja dikirimnya kepada seseorang. Kris tersenyum samar, meletakkan smarphone nya di atas meja lalu mengambil alih, mie panas Jiyeon dan mulai mengipasinya dengan kertas menu yang ada di atas meja karna satu alasan, laki-laki itu tidak ingin Jiyeon yang tidak bisa memakan makanan panas itu kembali menangis.

Masih teringat jelas di benak Kris saat melihat Jiyeon yang menangis karna makanan panasnya, saat itu mereka baru berumur 7 tahun dan sejak itu Kris berjanji tidak akan membuat Jiyeon menangis lagi karna alasan apapun, karna Kris akan sangat terluka jika melihat airmata gadis itu.

Gadis yang selalu menemani hari-harinya, gadis yang akan selalu terlihat cantik di matanya dan membuatnya tertawa tanpa harus ber-aegyo, gadis yang akan selalu bicara panjang lebar hingga membuat dirinya lupa dengan rasa rindu terhadap orang tuanya, gadis yang terlihat selalu di acuhkannya, gadis yang terlihat sangat di benci oleh dirinya, gadis yang selalu menjadi pelampiasan kekesalan Kris terhadap orang tuanya, tapi jauh di dalam hatinya Kris tetap sangat menyayangi gadis itu seperti dulu, menyayangi gadis yang selalu mampu membuatnya khawatir karna kelemahan fisik gadis itu.

Ya Kris akan selalu seperti itu, akan selalu menyayangi Jiyeon dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.

.

To : Eunji

Maaf aku tidak bisa menerima ajakan mu, untuk berkencan hari ini. Karna jika aku melakukannya, aku akan menyakiti hati tunangan ku!

.

Message Delivered

.

~ THE END ~

17 pemikiran pada “Day By Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s