100 Paper Cranes (Chapter 3)

Title: 100 Paper Cranes

Chapter 3: Frustated.

 100 PAPER CRANES 3 POSTER

Summary:

I think that I started to like her, more than I expected to do.”

–Park Chanyeol

Pertemuan tidak terduga. Chanyeol, seorang mahasiswa populer, player kelas atas dan Chaerin, kalangan terkucilkan yang amat membenci laki-laki.

Usaha keras. Perasaan yang mulai berubah. Penantian. Kesabaran penuh.

Pada akhirnya, mereka harus mengakui bahwa takdir Tuhan-lah yang memang berkuasa atas segalanya.

Akankah mereka berhasil menggapai kebahagiaan mereka sendiri?

 

Author: npt. @nandaniptr | Main Cast: Park Chanyeol (EXO-K), Kim Chaerin (OC) | Support Cast: Find by Your Own. | Genre: Drama, Romance, Angst | Duration/Length: Chaptered|Rating: PG-15

 

INSTANT HEART ATTACK?

“Kau..”

Gadis di hadapanku ini mundur perlahan-lahan. Ia menatapku dengan pandangan antara percaya dan tidak percaya. Aku hanya bisa menahan tawa dalam hati. Yuri-noona dan Younha, menatap kami berdua dengan pandangan bingung.

“Oh, Chaerin-ah, kau sudah mengenal kakakku?” Tanya Younha sambil membulatkan matanya heran. Ia menggeleng-gelengkan kepala lalu menjawab dengan agak sedikit tergagap.

“Ah tidak..dia..”

Sebelum ia memundurkan tubuhnya lebih jauh, aku segera menarik pergelangan tangannya dan membuat posisinya kini berada tepat di sebelahku. Ia terlihat kaget dengan apa yang kulakukan barusan. Mata yang biasanya sayu itu membulat menatapku heran, lalu sebelum ia melanjutkan perkataanya, aku segera mengambil alih ucapannya yang sempat terputus.

“Kami berteman, Younha.” Aku tersenyum semanis mungkin. “Benar kan?” Pandanganku beralih ke arah Chaerin, mau tak mau ia menjawab dengan senyuman paksa dan anggukan kecil. Sesekali ia menginjak kakiku yang berada di dekatnya dan membuatku mengaduh sedikit.

Sialan, injakan kakinya sakit sekali.

Tak lama kemudian, seseorang datang dan menepuk pundak Yuri, kakakku. Lelaki itu bernama Song Joong Ki, yang sudah 2 tahun belakangan ini resmi menjadi kekasih Yuri. Mata kakakku berbinar ceria melihat kedatangannya. Joongki-hyung memberinya kado, memeluknya sebentar dan mengajaknya berbicara. Lalu ia mengajak Yuri untuk mengikutinya ke depan untuk memotong kue tart yang sudah ia siapkan.

“Aku ikut eonni!” Younha setengah berlari mengikuti Yuri-noona dari belakang. Ia menghentikan langkahnya sebentar dan menoleh ke arahku dan Chaerin.

“Kalian tidak ikut?” Tanyanya. Aku menggeleng keras. Chaerin hendak berjalan menuju Younha dan mengikutinya namun segera kuhentikan langkahnya. Lalu aku berkata lagi pada Younha.

“Sebentar, aku masih mempunyai urusan dengan Chaerin. Pergilah duluan.” Ujarku. Chaerin melirikku sedikit. Aku tersenyum. Younha menaikkan alisnya, merasa sedikit bingung.

“Ada apa memang….”

“Bukan urusanmu, sudahlah pergilah duluan.” Aku memotong perkataannya dan segera mengusir Younha dengan halus.

“Ah ya sudahlah.” Ia mengerucutkan bibirnya sedikit. “Cepatlah menyusul, oppa. Kutitipkan Chaerin padamu!” Lalu ia segera berlari mengejar Yuri-noona yang sudah berada jauh darinya. Chaerin hendak mengucapkan sesuatu untuk mencegah Younha pergi, tetapi Younha sudah keburu hilang dari hadapan kami.

Kini hanya kami berdua yang berada di ruang makan ini, semuanya sudah berada di ruang depan untuk merayakan ulang tahun Yuri. Chaerin mengambil nafas panjang sebelum akhirnya berbicara padaku.

“Kau, benar-benar kakak kandung dari Younha?” Ia bertanya lagi untuk memastikan. Aku tetap diam sambil menuangkan lagi wine yang ada di meja ke dalam gelas tinggi yang kupegang. Segera kuambil satu gelas berisi minuman soda, bukan wine, dan menyerahkannya pada Chaerin.

“Kau mau?” Tawarku. Ia menggeleng.

“Ya sudah.” Aku mengembalikan gelas itu ke tempatnya semula. Lalu menyesap minuman yang ada di tanganku ini sedikit demi sedikit.

“Serius, jawablah pertanyaanku.” Ia menyandarkan diri di meja bufet dan menatapku lama. Aku menyelesaikan tegukanku, lalu meletakkan gelas di meja makan dan balas memandang matanya dalam-dalam. Kami saling berhadap-hadapan dan keadaan menjadi hening sesaat.

Sampai akhirnya aku membuka mulutku.

“Sudah jelas kan?” Aku menjawab santai. Chaerin terlihat berpikir sebentar. Lalu mulutnya menggumam.

“Dunia benar-benar sempit sekali.”

Aku tertawa kecil mendengar gumamannya, kemudian aku berpindah posisi menjadi ikut bersender di sebelahnya.

“Kau benar, mungkin kita berjodoh, Chaerin-ssi.” Aku menggodanya sedikit. Wajahnya menjadi sedikit memerah, lalu ia mengalihkan pandangannya dan melengos kesal.

“Mulai lagi. Not even in your dreams.” Ujarnya kasar.

Nothing impossible.” Jawabku lagi. Ia  tidak menghiraukan perkataanku dan segera berlalu menuju ruangan depan. Aku mengikutinya dari belakang.

Ah, Tuhan memang baik.

**********

Sebenarnya, aku hanya sekedar mengetahui ada anak bernama Kim Chaerin di universitasku. Ia terkenal sebagai si kutu buku yang tersisih dari pergaulan. Dingin dan tidak bersahabat. Teman-temanku senang membuat lelucon dan bercerita mengenai Chaerin yang senang memakai kacamata tebal, berkepribadian cuek dan kaku serta selalu menyendiri di kursi bawah pohon dekat cafeteria atau berada di pojokan perpustakaan. Mereka juga mengatakan bahwa adikku berteman dengan si kuper itu. Aku tidak pernah mengetahui raut wajahnya yang asli seperti apa. Aku selalu menghiraukan candaan mereka meskipun terkadang aku ikut tertawa mendengar gurauan mereka tentang Chaerin.

Dan kini aku merasa agak sedikit terpukul.

Chaerin yang ‘itu’, yang sering mereka buat bahan tertawaan, ternyata adalah perempuan secantik ini. Lihat saja dandanannya sekarang. Ia mencepol rambutnya ke atas, tampil simple namun elegan dengan memakai dress putih selutut yang terlihat sangat cocok dengan warna kulitnya. Aku terpana sesaat waktu menyapukan pandanganku pertama kali pada Chaerin yang datang bersama Younha di pesta ini.

Mungkin mereka saja yang tidak mengetahuinya. Di luar, ia akan melepaskan kacamatanya dan menjelma menjadi seseorang yang berbeda. Sangat berbeda. Apalagi saat menjadi seorang badut. Chaerin benar-benar membuatku tertarik. Apalagi karena hari ini.

Dunia benar-benar sangat kecil rasanya sampai-sampai perempuan yang sedang kuincar adalah sahabat adikku sendiri.

Pagi ini aku berangkat dengan sedikit bersemangat. Younha yang berada di sebelahku saat menaiki mobil terlihat heran lalu mengernyitkan dahi melihat tingkahku hari ini.

“Ada apa kau Oppa? Kau terlihat sangat…aneh.” Ia berujar. Aku menghentikan nyanyianku lalu menatapnya.

“Aku sedang menyukai seorang gadis.” Jawabku singkat. Lalu kembali bernyanyi asal. Younha mengangguk-angguk paham.

“Kau tidak pernah berubah, Oppa.” Ia berkata datar.

“Hey, kali ini aku serius, Younha-ya.” Balasku lagi.

“Kau bohong.”

“Benar. Aku rasa aku sedikit mulai jatuh cinta padanya.”

“Siapa dia?” Younha dengan nada malas menanyakan hal yang paling kutunggu hari ini. Aku memberi jeda sebentar lalu tersenyum lebar.

“Kim Chaerin.” Ucapku mantap. Younha yang pandangannya semula lurus ke depan tiba-tiba menoleh ke arahku dengan raut wajah amat terkejut, shock dengan pengakuanku.

“Apa kau bilang?” Intonasi suaranya meninggi. “Ulangi.” Ia memastikan lagi

“Aku…mulai menyukai sahabatmu itu, Kim Chaerin.” Aku mengulangi perkataanku. Younha menatapku tajam dan membuka mulutnya.

“Oppa…jangan coba-coba kau…”

“Aku sudah mengatakan kalau aku serius, Younha.”

“Darimana kau mengenalnya? Tidak mungkin dari pesta kemarin kan?” Tanya Younha lagi. Pandangan matanya menyelidik.

“Aku…mengenalnya saat ia menjadi seorang badut di sudut jalan di depan taman. Kau tahu kan? Yang berada di balik topeng badut itu ternyata adalah dia.” Aku menerawang sebentar. “Cantik sekali. Dan dunia memang selalu membantuku menemukan orang yang kucari. Kebetulan yang menyenangkan adalah saat mengetahui ternyata dia sahabatmu…dan kurasa aku mulai menyukainya.” Aku menjelaskan panjang lebar.  “Aku serius, dan kata ini sudah kusebutkan tiga kali padamu Younha. Kau harus memercayainya.”

“Chanyeol-oppa…Jangan pernah mengatakan itu padaku karena aku tidak akan percaya. Kau sudah menyebutkan kata serius untuk berkali-kali setiap kau berpacaran dan akhirnya selalu kandas di tengah jalan karena kau yang menyakiti mereka dengan berbagai alasan.” Younha mengatakan tegas. Kami berhenti tepat di lampu merah. Sembari menunggu, aku balas menatap wajah adikku.

“Kau tidak tahu…kali ini aku..”

“Aku yang paling mengerti kau, Oppa. Kau tidak bisa memegang omonganmu sendiri. Aku tidak akan membiarkan Chaerin tersakiti olehmu.” Ia mendengus.

“Percayalah padaku.” Aku berusaha meyakinkan adikku bahwa kali ini aku serius mendekatinya dan bermaksud untuk meminta bantuannya. Namun ia tetap kukuh pada pendiriannya.

Aku menggaruk-garukkan kepala frustasi. Sebegitu buruknya citraku di mata adikku sendiri?

“Mungkin yang kau rasakan hanya kagum. Pastikan dulu perasaanmu sendiri.” Younha mengakhiri pembicaraan kami. Lalu aku diam. Berpikir. Adikku benar.

Mungkin aku harus memastikannya sendiri.

 

**********

“Ya, Park Younha!” Aku menemukan adikku di bawah pohon dekat kantin bersama seorang perempuan berkacamata tebal. Ia memelototiku. Berbisik untuk menyuruhku pergi. Namun aku tidak menurutinya dan tetap mendatangi tempatnya.

“Dan kau, halo, Chaerin-ssi.” Aku menyapa perempuan itu. Ia tetap acuh tak acuh. Pandangannya lurus ke arah buku yang sedang ia pegang, tanpa menoleh lagi. Aku mengambil buku itu dengan paksa dari genggamannya.

Chaerin menengadahkan kepala dan memandangku kesal. Ia pasti merasa terganggu.

Maafkan aku, Chaerin. Tetapi itulah satu-satunya cara untuk membuatmu melepas pandangan dari bukumu itu dan melihatku.

“Saat ada yang menyapamu, hendaknya kau jawab sapaan itu, Chaerin-ssi.” Ujarku sedikit menyindir sambil tetap tersenyum ramah. “Apalagi kau juniorku.”

“Sudahlah, Oppa. Jangan ganggu dia.” Younha melerai dan mengambil kembali buku itu dari genggamanku lalu mengembalikannya pada Chaerin.

Mianhae. Aku hanya ingin sedikit lebih dekat denganmu. Chaerin. Bersikap baiklah sedikit” Aku berkata dengan jujur. Chaerin mengalihkan pandangan kesal. Younha menghela napas panjang. Menggeleng-geleng melihat tingkahku.

“Oppa…jangan bercanda.”

“Ah aku ada kelas lima menit lagi. Aku duluan ya Younha, Chaerin, bye!” Aku berbalik dan meninggalkan mereka sambil melambai-lambaikan tangan. Lalu segera berlari berpacu dengan waktu agar tidak terlambat.

Aku tidak mengetahui bahwa dari tempat Chaerin, ia mengikuti arahku berlari, tidak melepaskan pandangannya, lalu berbisik kecil pada dirinya sendiri.

Orang aneh.”

 

**********

Sepulang rapat mingguan, aku keluar dari ruang pertemuan sambil membawa map berisi dokumen penting di tangan kiri. Setelah mengobrol sejenak dengan semua anggota klub, aku memutuskan untuk pamit dan pulang. Kupakai sweater berbahan wol untuk menghangatkan tubuh. Kakiku mulai berjalan menuju tempat dimana mobilku terparkir. Jarum jam yang berada di pergelangan tanganku menunjuk ke angka 2.

Di dalam mobil, segera kunyalakan tape dan teralun nada lembut dari K.Will dengan lagu barunya, You don’t know love. Aku ikut bersenandung bersamaan dengan lagu itu. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, meneliti satu persatu kafe yang mungkin bisa kudatangi untuk sekedar beristirahat.

Akhirnya kutepikan mobilku dan sampailah kini di depan pintu sebuah coffee shop kecil dengan dekorasi minimalis. Dinding kayu penuh foto-foto Polaroid berjejer bertemakan kopi dan segala sesuatu tentang itu yang digantung dengan sebuah tali, serta lantai kayu berwarna cokelat tua yang sedikit berderit saat diinjak. Jendela-jendela kecil di sisi-sisi kedai kopi itu menawarkan suasana hangat seperti berada di rumah, menarik orang yang melihatnya.

Coffee shop itu cukup lengang, mungkin hanya berisi satu dan dua orang yang berbicara santai sembari menikmati secangkir kopi dan kue di mejanya.

“Kling…”

Suara bel kecil menandakan ada pelanggan baru yang masuk. Perempuan di kasir itu tersenyum menyambutku.

“Mau memesan apa?” Tanyanya ramah.

Aku memutar otak sesaat. Mataku memandangi dengan seksama satu persatu menu yang ditawarkan, lalu ekor mataku menangkap nama kopi yang membuatku teringat pada seseorang.

Vanilla Latte dan Oreo Cheesecake satu.” Aku tersenyum lalu meletakkan kembali menu itu di meja kasir. Setelah semuanya beres, aku bergeser dan menunggu kopiku dibuat. Aku memandang salah satu barista perempuan di hadapanku yang sedang cekatan meracik kopi pesananku dan menuangkan susu kental dengan takaran tertentu, lalu tangannya yang lentik itu mulai membuat latte art dengan bentuk daun menyirip secara hati-hati. Ia menunduk, wajahnya tertutup topi baret hijau yang ia kenakan. Aroma vanilla membumbung di udara. Harum yang kusukai, sama seperti milik Chaerin.

Sekitar lima menit kemudian ia selesai dengan urusan membuat kopiku. Aku mengetuk-ngetukkan jari di meja dengan agak tidak sabar. Barista di hadapanku ini mendongak sembari menyelipkan rambut di pelipis ke belakang kupingnya. Lalu mata kami bertemu.

“Chaerin-ssi?”

Terhenyak, dan tanpa sadar aku memanggil namanya. Ia terlihat kaget lalu mulai menutupi mulutnya dan terbatuk-batuk kecil. Dengan segera  Chaerin meletakkan cangkir kopiku di nampan beserta tisu di sebelahnya.

“Terima kasih.” Ia menunduk, pura-pura tidak mengenaliku lalu melapkan tangannya ke celemek dan berlari ke belakang. Aku terdiam kaku di tempat.

Apa selain menjadi badut, ia bekerja disini sebagai barista?

Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil nampan berisi pesananku lalu mengambil tempat duduk di sofa empuk dekat jendela yang mengarah langsung ke jalanan. Dari sini aku juga dapat melihat isi ruangan belakang dengan jelas.

Aku memutuskan untuk menunggunya.

“Chaerin-ssi!” terdengar suara panggilan dari arah mesin espresso— tempat membuat kopi. “Ada pelanggan!” Ujar perempuan penjaga kasir. Chaerin keluar dengan tergesa, lalu meminta maaf karena membuat pelanggan lain menunggu. Ia segera menyiapkan bahan peracik kopi lalu mulai mengerjakannya dengan serius seperti tadi. Aku memperhatikannya dengan seksama dari tempatku duduk sambil menggenggam cangkir kopiku di tangan kanan dan mulai memejamkan mata, meminumnya perlahan. Setelah itu kubuka kembali mataku dan kuletakkan kembali cangkir kopi itu di meja. Kemudian aku memotong kecil-kecil kue di meja dengan garpu kecil yang disediakan. Mataku tak lepas memandang Chaerin.

Ia tetap cantik. Dengan memakai apapun. Setelah membereskan semuanya, ia masuk ke ruang belakang, lalu melambaikan tangannya dengan senyum ke arah teman-temannya, serta ke perempuan penjaga kasir itu juga. Sepertinya tadi itu adalah pelanggan terakhirnya sebelum ia berganti shift, Chaerin segera melepaskan celemek yang ia pakai lalu menggantungkannya di tiang gantungan di dekat daun pintu.

Kemudian ia menyampirkan tas hijaunya yang biasa ia pakai dan mulai melangkah keluar coffee shop.

Aku segera bangkit dari tempatku duduk dan keluar pula mengikuti langkahnya. Ia terlihat sangat terganggu, tiba-tiba Chaerin menoleh dan membentakku kasar.

“Mengapa kau mengikutiku?” Nadanya meninggi. Aku menghentikan langkahku. “Darimana kau tahu aku bekerja disini?” Lanjutnya. Ia menatapku tajam. Nada suaranya masih tetap sama. Penuh emosi.

“Mana aku tahu kau bekerja disini.” Jawabku kesal. Kuhela napas berat. Mengapa perempuan di hadapanku ini selalu memikirkan hal negatif tentangku? Bahkan aku yang biasanya selalu tenang kini mulai merasa terpancing emosi juga.

“Kau mengikutiku ya?” Tuduhnya lagi. Aku menggeleng keras.

“Tidak, Chaerin-ssi. Kebetulan saja aku ingin pergi meminum kopi enak setelah rapat panjang yang melelahkan. Dan aku memilih coffee shop ini karena terlihat nyaman. Aku tidak tahu ternyata kau bekerja disini.” Jelasku panjang lebar. Chaerin menyipitkan matanya sangsi, memandangku lama. Lalu berbalik pergi. Aku mencekal tangannya, mencegahnya berlalu.

“Kau mau pulang? Aku antar ya? Bagaimana?” Tawarku. Intonasi suaraku mulai merendah. Emosiku sedikit demi sedikit mulai reda.

Dia hanya menepiskan tangannya kasar.

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

Dan akhirnya, ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Menghilang sepenuhnya dari pandangan mataku.

Aku tetap berdiri dan terdiam. Kecewa.

Mengapa sulit sekali membuatnya bersikap baik padaku?

Aku berjalan ke tempat awal aku memakirkan mobilku dan segera menduduki kursi pengemudi. Kututup pintu mobil dengan bantingan keras. Kupukul setirku berkali-kali. Perempuan ini mulai membuatku frustasi.

Aku mulai menyalakan gas dan mengarahkan mobilku menuju rumah. Di sepanjang perjalanan aku berpikir keras untuk membuatnya luluh. Sedikit saja. Entah rasanya kesal sekali melihatnya tidak memperdulikan aku sama sekali. Namun setelah lama berpikir, yang kutemui hanyalah jalan buntu.

To be continued

***

Annyeong haseyo~~~

Sampai di chapter 3 huh hah huh hah. Hwaiting for the next chapter!

Well, kerasa ngga si frustasinya Chanyeol kayak apa? Kkkk, Chaerin memang terlampau dingin ya, kasar lagi. Tapi adakah Chaenyeol/Chanrin-shipper disini? Saya! *tunjuk tangan sendiri

Please, leave a comment below here. Each of your comment means a lot to me! Don’t be a silent readers, k?

Gamsahamnida everyone!<3

17 pemikiran pada “100 Paper Cranes (Chapter 3)

  1. Aku kasihan sama Chanyeol… 😥 aku juga penasaran thor.. Kenapa sih Chaerin benci laki2.. Ada apa sih? Di lanjut yah thor! Luv you :* ❤

    • Itu karna appa-nya pengecut dimatanya si chaerin appa-nya lebih memilih perempuan lain dibanding eumma-nya si chaerin jadi.. chaerin menganggap semua laki – laki itu sama nah gitu alasannya chinguuuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s