Best Birthday Gift

best-birthday-gift

Author : Jung Seomi (@JungSeomi1 / http://galleryofexofanfic.wordpress.com)

Title :  “Best Brithday Gift”

Main Cast : Park Chanyeol a.k.a Baekyun’s Older Brother |Byun Baekhyun a.k.a Chanyeol’s Younger Brother

Suport Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Jongin

Genre : Brothership,Angst, sad

Length : Oneshoot

.

.

.

 

18 November

South Korea

Chanyeol mendesah. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding rumahnya. Menatap adik kecilnya yang tengah berlarian di kamarnya sambil bersenang-senang. Adik yang baru berusia 14 tahun, empat tahun lebih muda darinya Ia dan keluarga kecilnya tinggal di sebuah kompleks perumahan yang terpencil di desa yang hampir terlupakan. Namun, disana ia mendapat kesenangannya.

“Hyung! Kau tidak mau bermain bola dengan Baekki?” tanya Baekhyun. Chanyeol mendekat dan mengusap surai Baekhyun “Mian Baekki-ah… Hyung lelah. Baekki tahu kan kalau Hyung seharian terus-terusan bekerja?” tanya Chanyeol sambil memegang pundak Baekhyun. “Arra, lalu kapan hyung menemaniku lagi?”

“Pasti. Hyung janji padamu” Janji Chanyeol. Setelah ayahnya meninggalkan mereka karena penyakit leukemia yang baru di derita ayahnya semenjak setahun yang lalu. Chanyeol harus menghidupi Baekhyun sendirian.

“Aku mencoba mendengarkan janjimu hyung” kata Baekhyun yang bergegas ke kamarnya. Chanyeol menghela nafasnya berat menatap Kaki Baekhyun yang kian menjauh hingga lenyap di balik pintu kamarnya.

Ia menatap ke arah langit yang berubah warna dari kuning keemasan menjadi gelap. Matanya menatap bintang yang kian bertambah kian berlalunya detik. Ia kemudian menatap kearah jam tangannya 06.21.57 itulah angka yang tertera. Hampir setengah tujuh malam.

Chanyeol menghela nafas. Ia beranjak menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tua yang masih betah disana setelah bertahun-tahun lamanya. Ia mencoba tertidur. Yah, meski sulit. Ia mengaku ia mengalami insomnia belakangan ini. Meski padahal ia sangat lelah harus bekerja menjadi salah satu tukang konstruksi.

.

.

.

19 November

Chanyeol mengerjapkan matanya. Mengurangi kadar cahaya berlebihan yang mulai menembus kedalam retinanya. Ia tersenyum pada dunia. Ia pula melingkari kalender mejanya, 19 November.

Ia menuju kamar Baekhyun guna membangunkan adiknya yang diyakininya pasti tengah tertidur pulas. Ia menatap wajah tenang Baekyun yang sedang tertidur. Menatap kedua kelopak Baekhyun yang masih menyatu membentik sebuah garis yang membuatnya nampak sangat imut. Ia jadi merasa bersalah, akhir-akhir ini ia memang sering melupakan Baekhyun. Ia harus bekerja keras sepanjang waktu. Dan semua itu juga untuk Baekhyun.

Chanyeol mengguncang tubuh Baekhyun. “Baekki-ah saatnya kau bangun, kau harus sekolah kan?” kata Chanyeol sangat lembut. Baekhyun melenguh “Ahhh~ Hyung Baekki masih ngantuk. Bentar lagi yah?” tanya Baekhyun. Chanyeol hanya mendesah kemudian mengangkat tubuh Baekhyun yang langsung membulatkan matanya selebar mungkin. “Huaaa! Hyung! Apa yang kau lakukan???!! Aku bisa berjalan sendiri! Yakk! Hyung! Turunkan”

Dan mendengar makian Baekhyun Chanyeol tersenyum dan menurunkannya. Ia menjulurkan lidahnya. “Kau harus belajar bangun pagi Baek” kata Chanyeol yang disambut rengutan Baekhyun yang imut. Tidak lupa ia memberikan Death –cute– Glarenya pada Chanyeol. Membuat Chanyeol tertawa. “Kau adik yang imut Baek”

“Yang benar saja” keluh Baekhyun kabur ke kamar mandi. Chanyeol tertawa riang melihat adiknya yang melampiaskan diri pada air yang diguyurkan secara tidak berperikemanusiaan oleh Baekhyun.

Ia kemudian pergi ke dapur menyiapkan sarapan. Di desa tertinggal ini memang tidak terlalu banyak menu yang bisa di sediakan karena sulitnya mendapatkan bahan. Chanyeol hanya membuat nasi goreng sebagai menu sarapan hari ini.

Baekhyun keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia terasenyum manis melihat dua piring nasi goreng tersaji manis di meja makan. Ia langsung berlari menyambar salah satunya.

“Huaaa…. Enak hyung. Kau belajar memasak?” tanya Baekhyun. Chanyeol hanya tersenyum simpul “aku hanya bisa membuat nasi goreng baek” Chanyeol membalas pujian Baekhyun dengan merendah. “Pokoknya Masakan hyung enak”

“Heum. Terimakasih Baek”

Setelah kalimat itu meluncur dari mulut Chanyeol semua terdiam dan menciptakan ruang hampa yang hening. Hanya terdengar suara detik jarum jam berputar dan suara sentuhan sendok dengan piring. kedua anak laki-laki tersebut tenggelam dalam dunia pikir mereka masing-masing. Baekhyun mendesah, bersamaan dengan desahan Chanyeol. Mereka saling menatap begitu lama tanpa suara.

Hingga Baekhyun akhirnya berdiri dari duduknya “Aku sudah selesai hyung. Aku hendak berangkat” katanya sambil berangkat. Chanyeol tersenyum. Sedang Baekhyun menjauh. Beberapa langkah, langkah Baekhyun terhenti karena suara Chanyeol “Hati-hati Baek, titip salam sama pacarmu”

“aku tidak punya pacar hyung”

“kau tidak laku ya?”

“Terserah kau saja hyung”

Baekhyun merengut lagi dan pergi meninggalkan Chanyeol. Akhirnya ia berjalan cepat tanpa mendengar kalimat apapun pada Chanyeol yang menyebalkan setengah mati. Tapi tetap saja Chanyeol itu hyungnya satu-satunya.

Baekhyun merapikan seragamnya dan masuk kedalam gerbang sekolahnya. Tidak terlalu ramai karena memang tenpat ini tidak memiliki populasi penduduk yang padat. Ia berjalan mendekat ketika mendapati seorang temannya yang melambaikan tangannya. Ia tahu itu siapa

“Baekhyun, wajahmu terlihat seperti setrikaan yang sudah lima tahun di lipat dan pada akhirnya berkerut dimana-mana. Apa yang terjadi eoh?” tanya Luhan, sahabat Baekhyun. Baekhyun mendesah sambil semakin menekuk wajahnya. “kau jelek Baek”

“Diam lu, kau satu-satu yang tahu semua tentangku? Aku takut lu”

“Sudahlah Baek, nikmati hidupmu dan lupakan itu. Anggap tidak pernah terjadi apapun” kata Luhan menenangkan Sahabatnya.

“Lu, aku lelah menghindari fakta. Itu sulit lu, sungguh” katanya yang langsung menitikkan air matanya. Dan Luhan tahu apa yang mengganggu sahabatnya ini. Bahkan hanya Luhan yang tahu.

“Sudahlah Baek, tenanglah” kata Luhan memeluk Sahabat terbaiknya tersebut

“Lu, kau tahu? Sebentar lagi dia ulang tahun lu, 27 hari lagi”

“Siapa Baek? Jung Rin Ah? Yeoja manis itu?”

Duaghh

“Aww Appo Baek” ringek Luhan memegang kaki yang baru saja menjadi sasaran objek tendangan maut Baekhyun. “Tentu saja Hyungku Lu” katanya. “aku ingin memberinya hadiah” tambahnya

“apa yang ingin kau berikan?” tanya Luhan

“entahlah. Kau punya saran?”

“tidak juga. Aku tidak terlalu tahu yang disukai seorang hyung. Aku tidak punya hyung. Tapi punya namdosaeng, Sehun” kata Luhan. Baekhyun mendesah. Ia harus memberi Chanyeol sesuatu yang benar-benar membuat Chanyeol terkesan.

.

.

.

20 November

“Baekhyun menatap Bayang dirinya pada kaca cermin kamarnya. Wajahnya benar-benar jelek. Ia mendesah berat. Semakin lama selalu bertambah buruk

“Baek, apa yang sedang kau pikirkan. Mendesah seperti orang dewasa begitu”

“Hyung…”

“Omo Baek, wajahmu pucat! Gwenchanayo?” tanya Chanyeol

“Hanya lelah”

“Istirahatlah tidak perlu berangkat sekolah hari ini. Hyung berangkat dulu ya?”

“Tapi Hyung!”

.

.

.

Baekhyun membuka pintu rumahnya dan melihat seorang Xi Luhan yang masih berseragam sekolah lengkap. Baekhyun tersenyum miris. “Lu…”

“Baekhyun gwenchana?” tanya Luhan khawatir. Ia tahu semua soal Baekhyun. Dan Baekyun tersenyum penuh luka sekali lagi. Baekhyun mempersilahkan Luhan duduk. “kita harus ke dokter lagi Baek”

“aku tidak punya Uang Lu…”

“Tapi kau butuh Baek. Dan Chanyeol hyung harus tahu”

“Jangan Lu, Ini lebih baik. Aku hanya perlu memberikan padanya kado ulang tahun Lu”

“Berilah dia dengan apapun itu. Asalkan itu tulus maka itulah kado terbaik untuknya Baek, berjuanglah! aku padamu!” kata Luhan. “Aku harus pulang Baek, Sehun hyung pasti mencariku” kata Luhan yang beranjak pergi. Baekhyun menunjukkan senyum lemahnya pada Luhan sebelum Luhan pergi

.

.

.

Baekhyun menatap pantulan cahaya dirinya di cermin di hadapannya. Ia sendiri merasa lebih baik. Namun cadangan Tissuenya menipis. Ia harus meminta Luhan membelikannya.

“BAEK! Hyung Pulang!”

“Hyung!”

“Whoaa~ Kau terlihat baikan Baek” kata Chanyeol disambut senyum manis Baekhyun

“Kalau begitu tidak apakan Hyung meninggalkanmu seminggu saja? Hyung ada order kerja di Seoul. Hyung janji membawa oleh-oleh dari Seoul. Otte?”

Baekhyun terkejut atas penuturan Chanyeol. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak tahu harus bagaimana. Semakin hari usianya makin pendek atas ulah penyakit Leukemia menyebalkan yang juga di derita ayah mereka. Dan Baekhyun menyembunyikan ini secara resmi dari Chanyeol, Hyungnya

Baekhyun masih berpikir. Melihat adiknya begitu, Chanyeol mencoba membujuk Baekhyun “Jebal Baek, Jebal….” katanya. Baekhyun mendesah dan mengiyakan.

Ia tahu konsekuensinya

Ia sangat tahu

“Chanyeol Hyung, Mianhae”

.

.

.

21 November

Seoul, South Korea

Chanyeol lega melihat seluruh pemandangan dihadapannya. Ia tengah berada di sini. Pusat segala aktifitas negara ini, ibukota Korea Selatan, Seoul. Ia mendesah, dan memikirkan ekspresi Baekhyun saat ia pulang. Meskipun ia pulang pada hari Ulang tahunnya, ia akan memberikan Baekhyun kejutan. Mereka akan makan di sebuah Restoran yang menadapat rating sedikit tinggi. Chanyeol ingin sekali melihat ekspresi senang Baekhyun saat itu.

Dengan wajah penuh kecerian, ia mulai menggarap pekerjaannya bersama teman-temannya. Ia dan teman-teman sepekerjaannya mulai menggarap pekerjaan dengan bayaran tinggi ini dengan berbagai macam alasan. Tapi, hanya satu alasan untuk Chanyeol, BAEKYUN

Ini untuk adik tersayangnya Baekhyun

.

.

.

Chanyeol merebahkan tubuhnya ke karpet tempat yang sudah di sediakan oleh perusahaan untuk tinggal selama di Seoul. Hari ini cukup melelahkan, kerja di Seoul artinya bekerja 2 kali lebih cepat. Ia menatap Kai yang tengah berbaring disampingnya sudah mendengkur keras membuat Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya heran, secepat itukah seorang Kim Jong In akan tertidur?

Ah, Chanyeol malas memikirkannya. Ia kembali terpikir kepada adiknya yang belakangan ini sakit, terselip rasa khawatir berlebih pada wajah tampannya. Ia sedikit mendesah dan mengeratkan selimutnya, cuaca sangat dingin ditempat ini.

Chanyeol mencoba menutup mata untuk tidur, tapi rasanya ia memang sedang terkena insomnia berat. Padahal, pekerja berat sepertinya harus banyak tidur, dan dia tahu tepat apa sebabnya, ia terlalu memikirkan adik tersayangnya

“Baek, kau baik-baik saja kan?”

Chanyeol mendesah dan kembali melakukan percobaan untuk tidur, dan akhirnya ia berhasil namja tiang listrik itu tengah menggapai mimpi indahnya, Bersama Baekhyun

|21 | 22 | 23 |24 | 24| 26 |

Setiap hari Chanyeol selalu melingkari tanggalan meja kesayangannya yang bahkan dibawanya, hari ini hari terakhir ia disini, nanti malam, ia bisa merayakan hari bahagianya bersama adiknya, Baekhyun dan Chanyeol yakin ini hari terbaik yang pernah ada pada daftar hari yang mereka lalui sejak hidup tanpa orang tua.

.

.

.

27 November

South Korea

Chanyeol menapakkan kaki panjangnya keluar dari Bus yang telah berhasil membawanya dengan selamat kembali kerumah kesayangannya. Di tasnya, ia telah menyimpan uang hasil kerjanya selama seminggu, ia ingin cepat-cepat pulang dan memberikan kejutannya pada Baekhyun.

Chanyeol berlari ke rumah kecilnya, ia ingin secepat mungkin sampai. Dan bahkan, ia menggunakan kekuatan kilat untuk berlari kembali kerumahnya.

Ia tersenyum ketika sebuah bangunan rumah kecil berada di depannya. Ia kemudian menarik knop pintu dan segera berteriak “Baek! Hyung Pulang!”

Namun, ia tidak melihat Baekhyun, ia justru melihat Shabat Baekhyun, Luhan sedang menangis tersedu-sedu disana.

“Luhan? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Chanyeol. Luhan terus menangis, Hingga munculah Sehun dari dalam rumah Chanyeol

“Yeol, aku rasa ada yang perlu kita bicarakan”

“Dimana Baekhyun?”

“Ayo kita bicar-“

“DIMANA BAEKHYUN?!!”

“PARK CHANYEOL! DENGARKAN AKU TERLEBIH DAHULU!” Sehun trurut naik pitam. Chanyeol sulit diajak bicara. Chanyeol mendesah kemudian menyuruh Sehun mengatakan apa maksudnya dan yang tepenting dimana Baekhyun

“Chanyeol, maafkan aku mengatakan ini”

“sudahlah langsung ke inti, dimana adikku?”

“Adikmu? Hhhh begini… um… Baekhyun”

“ayolah cepat!”

“Baekhyun sudah meninggal!” Teriak seseorang penuh emosi yang meledak-ledak. “Dan tanpa dirimu!” orang itu melanjutkan. Dan dia adalah Luhan

“Apa katamu?! Jangan main-main dengan ucapanmu!” kata Chanyeol mengangkat kerah Luhan. Sehun terlihat panik melihatnya “Yaa! Park Chanyeol! Lepaskan dia!”

Chanyeol mengendalikan emosinya dan terlihat sangat Shock dapat terlihat jelas dari garis wajahnya yang takut.

 Ia menatap ke depan dengan pandangan menerawang, air matanya hampir terjatuh dan bahkan sudah terjatuh, hatinya sakit, lidahnya kelu

Tidak mungkin, Hari ini harusnya menjadi hari paling membahagiakan, namun justru sebaliknya. “Sehun-ah, katakan semua ini bohong. Hanya kejutan Ulang tahun yang kau buat bersama Luhan dan Baekhyun. Iyakan?” tanya Chanyeol masih tidak percaya.

Sehun tersenyum getir, ia punya adik, ia tahu rasanya menjadi Chanyeol sekarang. Ia menepuk pundak Chanyeol “Dia pasti bahagia Chanyeol, tadi malam tepat jam duabelas, sebelum pergi, bahkan ia sempat mengucapkan selamat Ulang tahun padamu.

.

.

.

FLASHBACK

22 November

South Korea

Baekhyun termenunng dikamarnya, ia memikirkan Chanyeol, berpikir apa yang mungkin saja bisa terjadi nanti, mengingat Leukemianya sudah tingkat akut, Baekhyun tidak mau terlalubanyak berharap. Ia hanya ingin menyelesaikan rajutan syalnya untuk Chanyeol, entah apa yang ia pikirkan ia pikir itu tulus untuk memberikan hyung kesayangannya sebuah syal yang ia rajut sendiri

Namun ia bisa merasakan cairan kental mengalir di hidungnya, segera ia menuju ke kamar mandi, sudah pasti itu adalah darah. Semua penderita penyakit ganas itu sudah dapat memahami keadaan bila tiba-tiba keluar cairan kental dari hidungnya.

Ia tersenyum miris sembari terus mencuci hidungnya agar tidak berwarna merah. Ia mendesah berat. Dan mulai berharap lagi

Harapannya adalah “Tuhan… berikan aku waktu untuk bisa bersamanya di hari itu. Jangan buat hari itu menjadi hari yang paling menyedihkan baginya… Buatlah ia tersenyum dihari itu… Jangan biarkan airmatanya menetes di hari itu… Dihari Ulang Tahunnya

Baekhyun melangkah ke ruang keluarganya dan mulai melanjutkan Syal khususnya untuk Hyung tersayangnya, Park Chanyeol

.

.

.

23 November

South Korea

Luhan menengok Baekhyun lagi hari ini. Ia datang membawa makanan kesukaan Baekhyun tapi Baekhyun terlihat tak bersemangat dan wajahnya sudah sangat pucat. Sehari dirumah Baekhyun, 2 kali Baekhyun sudah pingsan

Bahkan Luhan menyarankan untuk menghentikankegiatan merajut. Karena berkali-kali tangan mungil Baekhyun tertusuk jarum membuat Luhan lebih khawatir “Baek, haruskah kita menghubungi Chanyeol hyung? Kelihatannya itu dibutuhkan”

Baekhyun menggeleng lemah, ia kembali merajutkan syalnya

Dan ia sudah mendapat 1/8 Syal berwarna hijau muda itu.

.

.

.

24 November

South Korea

Luhan semakin tidak mengerti dengan keinginan Baekhyun menyelesaikan Syal tersebut, Luhan sendiri sudah menawarkan dirinya menyelesaikan Syal tersebut, tapi Baekhyun menolaknya mentah-mentah. Tangan Baekhyun yang gemetaran mencoba terus bertahan, membuat Luhan diam-diam menangis, ia tersentuh atas ketulusan sahabatnya itu

“Tuhan, Kuharap ia bisa menyelesaikan syal itu dan memberikannya kepada Chanyeol hyung” gumam Luhan

.

.

.

25 November

South Korea

Baekhyun dengan susah payah melingkari tanggalan mejanya. Ia kemudian mengarahkanpandangannya menuju ke bantalnya yang penuh darah, mungkin semalam ia mimisan lagi.

Ia berjalan ke dapur, menemukan Luhan sedang membuat sarapan “Luhan…” katanya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Luhan dengan sangat jelas

“Eo Baek? Kau sudah bangun? Ayo kita sarapan”

“Oh Ne, Gomawo Lu, aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu”

“Jangan pernah mengatakan hal yang seperti itu lagi” kata Luhan marah. Baekhyun hanya tersenyum kecil. Setelah selesai makan Baekhyun hendak mencuci piring namun diambil alih oleh Luhan “Kerjakan Syalmu”

Baekhyun tersenyum tipis dan kembali mengerjakan syalnya

Sudah 5/6 syal itu selesai

.

.

.

26 November

South Korea

Baekhyun berbaring di kamarnya, ia sudah sangat lemah dan kondisinya makin terus kritis, tapi namja itu nekat tetap melanjutkan rajutannya. Luhan masih setia menemaninya di samping ranjangnya. Luhan terus menahan tangis melihat Baekhyun yang begitu gigih membuat rajutannya, padahal jelas keadaannya sudah tidak memungkinkan Lagi

Hingga akhirnya ia sudah tidak tahan lagi, “Baek, hentikan… sudahlah Baek, kau sudah tidak mampu lagi”

Alih-alih menghentikan, Baekhyun yang lemah itu masih terus melanjutkan pekerjaannya. Membuat Luhan semakin kalut.

“Baek, Kumohon…”

.

.

.

26 November

South Korea

23.36 KST

Sudah hampir waktunya untuk menggapai hari pada tanggal 27. Baekhyun sudah semakin lemah, bahkan melanjutkan syalnya saja sudah tidak mampu lagi. Ia melihat Luhan bersama Sehun yang sudah ada disampingnya, Luhan memanggil Sehun

Ia menatap kedua orang itu bergantian, kepalanya terasa nyeri dan hidungnya kembali meneteskan darah. Ia tertawa getir “Tuhan tidak mengabulkan doa ku” katanya Lemah

“Baekhyun,….”

“Luhan, aku mengantuk…. Aku ingin tidur Lu,”

“Tidurlah Baek, aku akan menjadi bantalmu hingga kau tertidur”

“Terimakasih Luhan”

Luhan memposisikan dirinya untuk dijadikan landasan kepala sahabatnya. “Selamat Ulang Tahun Chanyeol hyung” katanya

Kemudian ia menutup matanya

Dan Luhan maupun Sehun tahu, Baekhyun tidak akan pernah terbangun  lagi selamanya.

Luhan menangisi Baekhyun, Sehunpun juga… ia sangat tersentuh atas apa yang Baekhyun lakukan, ia benar-benar membuat siapapun menangisinya.

“Baek…. Bangun Baek…. Bangun…. ini Ulang tahun hyungmu kan? Kau juga belum menyelesaikan syalmu Baek….” Tangis Luhan pecah. Sehun memeluk Luhan

.

.

.

27 November

South Korea

20.00 KST

Chanyeol masih terlihat Shock. “Dia sudah pergi Yeol, ini bukan sebuah candaan” kata Sehun sedih. Ia paham apa yang Chanyeol rasakan sekarang

Chanyeol terus menangis di depan makam Baekhyun sambil terus memegang Syal buatan Baekhyun yang masih belum jadi. Memang tidak rapi dan sangatlah terkesan aneh, tapi inilah yang Baekhyun berikan untuknya, bahkan nafas terakhir Baekhyun adalah Syal ini

“Kau bodoh Baek, kenapa kau tidak memberitahuku apapun?”

“Kau bodoh Baek….”

“Hyung tenanglah… Baekhyun tersenyum” kata Luhan menghibur meski dirinya sendiri bergerai air mata.

“Baekhyun tersenyum di saat terakhirnya”

Chanyeol menatap Luhan lekat “Dan ia mengatakan, Selamat Ulang Tahun padamu pada nafas terakhirnya” katanya. Dan itu justru membuat Chanyeol semakin menangis

Ia Juga bodoh

Bodoh tidak menyadari penyakit Baekhyun

Bodoh meninggalkan Baekhyun selama seminggu

Ia terlalu Bodoh

“Aku Bodoh Baek, terimakasih Syalmu. Ini hadiah Ulang tahun terbaik di dalam hidupku”

Chanyeol kembali menatap Syal hijau muda yang belum selesai itu. Ia kemudian kembali menangisi Kebodohannya

Ia menyesal atas segalanya

END

Okay All, mian bikin yang sad heheh, tau kan aku suka bikin yang sad? Eumm Aku sendiri bingung mau ngomong apa… yang jelas aku yakin FF ini gagal total deh… Ah serah… mau gagal mau enggak aku gak peduli Yang penting ada! *nyengir*

Iklan

38 pemikiran pada “Best Birthday Gift

    • Aku HunHan Shippers xD, sebenernya, FF ini buat Chanyeol B’day dulu… banget. Tapi yah gimana lagi? Baru di post sekarang

  1. ah.. aku nangis nih baca’nya T.T
    sweet brother u,u *hug baek*
    eh, btw kita sama thor.. HunHan Shipper ^o^ *hi-five, haha
    ff’nya keren lah pokoknya! aku suka 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s