Heir & Heiress (Chapter 6)

1377344880971

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 6: Realized.

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-M), SOOJUNG (F(X)). & the others, find by your own.

SUMMARY:

The story about Cold-hearted Heir & Heiress. Terjebak dalam sangkar emas. Arranged marriage yang sudah biasa terjadi dalam kalangan kelas atas seperti mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menurut. Hari tetap berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah disaat salah satu menemukan jalan menuju kebebasan di depan matanya, perasaan yang mulai berubah, dan hidup mereka yang menjadi semakin rumit.

Everything ended by a choice.

 

FOREWORDS:

@nandaniptr: AH ANNYEONG! Akhirnya kita sampai di chapter 6 *hard sobs* ada yang nunggu nggak? Hehe gaada ya? yauda deh..

Cukup mager juga tapi kita berusaha keras menyelesaikan ff ini dengan cepat hehe. Kami berdua juga sudah menyiapkan ff baru jadi kalo kami update jangan lupa baca juga ya ;p

Bayangan ending sudah ada. Jadi kalian tinggal menunggu saja prosesnya selesai. 😉 Sekali lagi kami ingatkan, COMMENTS & LIKES R HIGHLY APPRECIATED!

Mind to visit & follow our blog? At http://www.beautywolfff.wordpress.com

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

 

YOON HAERA’S POV

Jadi ini yang namanya patah hati?

Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta dalam artian yang sesungguhnya. Atau ini sekedar kagum saja. Atau apa? Aku tidak begitu paham. Namun jauh disana, aku merasa sedikit sesak. Aku tidak tahu makna patah hati dan bagaimana rasanya.

Aku berusaha tersenyum dengan agak sedikit memaksa. Kupaksakan bibirku untuk mengucapkan sesuatu.

“Ah…Selamat, Luhan-oppa.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja. Luhan menghela napas lega.

“Syukurlah, kukira kau sedang sakit, Haera-ya. Tiba-tiba kau diam dan berdiri mematung seperti itu. Aku cukup khawatir.” Matanya berbinar ceria.

Damn you, please stop it.

Dari kejauhan terlihat para pelayan datang dan mulai menaruh makanan di meja.

“Mari kita makan.” Soojung menyelamatkan kami semua dari suasana canggung ini. Aku segera mengambil tempat duduk tepat di sebelah kanan Sehun. Ia menatapku lama. Aku membalas tatapannya dengan pandangan bertanya-tanya.

Lalu ia membuka mulutnya.

“Ada apa denganmu, Haera? Apa kau baik-baik saja?”

Aku menjawab dengan anggukan pelan dan sedikit senyum untuk menenangkan hatinya. Apa aku benar-benar terlihat…aneh?

“Kalau begitu, baguslah.” Ia menanggapi singkat. Lalu kembali menatap lurus ke arah makanannya. Soojung dan Luhan serta kekasihnya sudah bercakap-cakap dengan seru. Mereka terlihat sedang serius mendiskusikan sesuatu. Hanya tinggal aku dan Sehun yang saling berdiam-diaman tanpa mengucapkan sepatah katapun. Moodku sedang tidak baik. Aku memilih untuk meneruskan untuk memakan makananku daripada melihat Luhan dan kekasihnya bersenda gurau tepat di depanku.

Kuharap semua orang segera melupakan respon diamku tadi dan tidak usah memperdulikan aku lagi. Aku tidak mau ada yang tahu tentang hal ini.

 

Tapi, hei, lihat itu.

Mereka saling menatap mata satu sama lain lalu tertawa.

Tangan mereka terkait erat. Seperti tidak akan pernah terpisahkan.

Aku sudah kalah.

 

**************

Sudah seminggu terlewati.

Rasanya aku harus menata ulang perasaanku yang sedang berantakan ini.

Kupandang wajahku di cermin. Disitu terpantul sosok seorang gadis dengan rambut acak-acakan dan mata sedikit sembab sehabis menangis. Hidungnya dan wajahnya memerah. Sungguhkah itu aku? Benar-benar jelek—Aku tertawa sendiri melihat bayanganku di kaca.

Aku melangkahkan kaki mendekat ke lemari. Kuambil notes merah di dalam boks berwarna merah hati yang kusimpan di rak lemari paling atas tepat di sebelah pintu menuju perpustakaan. Setelah menyiapkan semuanya, aku memasuki ruangan pribadiku itu dan berjalan lurus menuju sudut dengan karpet beludru. Kutarik tirai yang menutupi jendela. Lalu kurebahkan badanku di karpet itu dan kusenderkan kepalaku di bantal. Mataku tak lepas memandang langit malam yang dipenuhi bintang-bintang yang bersinar dengan terangnya di luar.

Bukankah bagus jika aku tidak terlalu berlarut-larut?

Menyimpan perasaan selama satu tahun kurasa bukan hal yang mudah. Biarpun aku baru menyadarinya tadi siang dan itu benar-benar menyakitkan.

Tapi setelah kupikirkan lagi matang-matang. Ini semua tidak salah. Bagaimanapun juga, perasaanku tidak akan pernah berbalas, dan ini bagus. Aku harus segera melupakan Luhan.

Karena, pada akhirnya, aku akan bersama Sehun. Tidak ada celah lagi untuk orang lain. Masa depanku sudah ditentukan, kau ingat?

 

Dan kurasa aku mungkin, agak sedikit bersyukur karena patah hatiku ini tidak berlebihan. Tidak seperti kebanyakan orang yang patah hatinya bertahan berbulan-bulan sampai raut wajah mereka tidak berbentuk lagi karena terlalu sering menangis. Aku mengusap mataku pelan. Cukup seminggu saja. Cukup.

Kuambil bolpoin dan notes merah yang setia menemaniku dari aku kecil. Semua cerita istimewa aku tulis disana. Semuanya. Mulai dari pengalamanku saat pertama kali mulai bersekolah. Liburan bersama keluargaku. Kemenanganku dalam lomba yang pertama kalinya. Saat Date—I can’t say that it was a date, not official yet but…let’s just called it a date.—pertamaku dengan Sehun. Serta pengalaman patah hati yang pertama. Semuanya terangkum jelas menjadi serangkaian kalimat yang membentuk cerita pendek. Kubolak-balik halamannya dan aku membacanya lagi dari awal.

Ini semua lucu.

Kurasa aku sudah mulai beranjak dewasa sekarang. Hidupku berjalan semestinya. Aku tumbuh besar dan mulai merasakan cinta. Ini bagus. Awalnya aku menganggap bahwa hidupku akan begini saja. So boring. Tanpa ada lika-liku yang berarti. Tapi aku salah. Akhirnya hidupku mulai mempunyai ritme dan nadanya sendiri. Ia membentuk satu kesatuan cerita dan disinilah aku sekarang. Menanti chapter selanjutnya dari hidupku. Menanti kejutan dari Tuhan yang sudah ia persiapkan jauh-jauh untukku,

Dan mereka, tak akan bisa mengubah masa depan yang dipersiapkan Tuhan untukku.

Kini aku bisa tersenyum dalam tidur.

 

**************

 

Kini kami sudah berada di kelas 3. Kelasku, 3-1. Indeks prestasiku meningkat. Kali ini aku, Soojung dan Sehun masuk ke dalam satu kelas. Sehun duduk tepat di sebelahku. Sementara Soojung berada di depannya. Kami semua semakin dekat—paling tidak hubunganku dan Soojung mulai berangsur-angsur membaik—dan aku berusaha sedikit demi sedikit membuka diri pada seorang Oh Sehun, calon suami yang ditentukan jauh-jauh hari oleh kedua orang tuaku.

Aku berpikiran bahwa bukan salah seorang Soojung jika ia jatuh cinta pada Sehun. Ia benar-benar orang yang menyenangkan. Persis dengan sifat yang ia tunjukkan saat kami pergi ke Myeongdong. Kebaikannya tidak dibuat-buat. Ia benar-benar tulus, dan satu poin plus lagi untuknya, ia pintar dalam hal melontarkan candaan.

Dan tanyalah diriku sendiri, mengapa aku baru menyadarinya sekarang?

Berbicara dengannya bisa sampai berjam-jam. Ada saat kami berdiskusi mengenai sebuah kartun, dan itu tentang Puteri Duyung. Diceritakan ia adalah seorang Puteri dari Raja Laut yang jatuh cinta dengan seorang manusia. Ia menyelamatkan laki-laki itu. Puteri Duyung segera kabur sebelum laki-laki itu melihatnya karena ia merasa ia tidak pantas berada di sisi laki-laki itu. Saat manusia itu membuka mata, yang dilihatnya bukan Puteri Duyung, namun perempuan lain. Di satu sisi yang lain, Puteri Duyung bahkan sudah merelakan suaranya yang merdu itu demi bertemu dengan pangerannya yang ia selamatkan.

Akhirnya? Laki-laki itu menikah dengan perempuan yang ia lihat saat pertama kali membuka mata. Puteri Duyung itu terjun bebas ke laut, dan menjadi gumpalan buih.

Menurutku, kisah ini sangat menyedihkan. Namun Sehun berkata realistis dan mengatakan padaku.

“Kenyataan tidak seindah dongeng, Haera-ya. Berpikirlah lagi. Jika kau menjadi laki-laki itu, jelas kau akan memilih perempuan itu karena kau tidak mengetahuinya.

Dan laki-laki itu jatuh cinta padanya. Biarpun Puteri Duyung sudah berkorban sedemikian rupa, jika laki-laki itu sudah terlanjur jatuh cinta? Kau bisa melakukan apa?”

Aku terdiam sesaat. Aku ingin membalas perkataannya, tetapi ia benar.

“Kau…selalu saja bisa melihat semua cerita dari sudut pandang lain.”

“Bukalah matamu, dan lihat sekeliling, Haera-ya. Banyak yang belum kau sadari.” Sehun tersenyum kecil saat membalas ucapanku.

Tiba-tiba aku teringat lagi dengan Luhan.

Hah?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berusaha menepis pikiran itu. Aku tersenyum miris dan berkata pelan.

“Kau benar.”

 

Bel berdentang tiga kali. Aku menyampirkan tasku di bahu dan bersiap pulang. Sehun dan Soojung sedang berbicara serius sebelum saling mengucapkan salam perpisahan. Aku segera menyampirkan scarf motif bunga-bunga berwarna merah pastel dari beludru yang dulu dibelikan oleh Sehun di leherku. Setelah saling melambai, Sehun berbalik. Aku sudah berada tepat di depannya sekarang. Ia diam sesaat dan tak lama kemudian, ia tertawa kecil. Aku menatapnya bingung.

“Ada apa denganmu?”

“Ah tidak.” Sehun menggeleng, lalu melanjutkan lagi. “Scarf itu.”

Aku memandang lagi benda yang terlilit di leherku itu. Tiba-tiba wajahku memanas. Aku memalingkan muka dan segera melangkah keluar kelas.

“Ayo kita pulang.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Terdengar suara tawa kecil Sehun yang biasa kudengar di belakangku. Aku terdiam dan menunduk, sedikit malu.

Ia segera menyusul berjalan di sebelahku.

“Hei, kau mau menemaniku tidak?” Tanyanya.

“Kemana?”

“Pesta ulang tahun sahabatku. Ah tidak, tidak ada penolakan. Kau harus ikut.” Ia berkata tegas. Aku menoleh padanya dan mengernyitkan dahi.

“Ini pemaksaan.” Ujarku datar.

“Ayolah… ikut bersamaku.” Sehun memandang mataku dengan pandangan memohon. Aku berpikir sebentar. Tapi pada akhirnya, aku hanya menurut saja.

Lagipula aku juga ingin mengetahui Sehun di luar bersama sahabatnya seperti apa.

“Baiklah.”

 

Birthday Party.

04.04pm.

Aku menatap kerumunan di tengah gedung. Disana berdiri MC dengan postur tubuh standar, dan rambut berwarna pirang kecoklatan, dan sekelompok laki-laki tampan yang berjejer dan terlihat sibuk membahas sesuatu. Aku dan Sehun yang baru saja tiba, langsung mendapatkan sorotan dari para tamu. Rambutku terurai bebas bergoyang-goyang seiring langkahku melewati red carpet. Sehun menggamit lenganku. Kami datang sebagai pasangan, tentunya.

“Ah ini dia yang sudah kita tunggu, Selamat datang Oh Sehun.” MC itu berkata keras.

“Halo Jongdae-hyung kau cocok sekali menjadi MC.” Sehun hanya tertawa membalas sapaan MC yang bernama Jongdae itu keras-keras, lalu diikuti para tamu yang bertepuk tangan riuh. Aku mengangguk canggung kepada mereka semua. Segera kupercepat jalanku agar Sehun mengikutinya.

Sehun mendatangi seseorang disana. Laki-laki berkulit putih dengan wajah kekanak-kanakan.

“Selamat Ulang Tahun, Baekhyun-hyung.” Sehun tersenyum lebar. Ia terlihat senang lalu balas memeluk Sehun erat. Aku disebelahnya hanya tersenyum dan menunduk sopan.

Hyung? Ia terlihat sangat muda untuk disebut Hyung.

Jeongmal Gamsahamnida! Ah, inikah calon yang kau katakan itu, Sehunnie? Ah, arraseo. Kau memang mempunyai selera yang bagus.” Laki-laki bernama Baekhyun itu menggoda Sehun. Sehun hanya melotot memberi kode untuk Baekhyun agar ia diam.

“Salam kenal, Haera-ssi. Aku mengetahuimu dari cerita Sehun.”

“Oh…ne.” Aku tidak tahu harus membalas apa selain berkata iya.

Tiba-tiba para laki-laki yang berkumpul tadi datang dan bergabung bersama Sehun dan Baekhyun.

“Sehun kita sudah beranjak dewasa sekarang. Sudah mempunyai kekasih rupanya.” Laki-laki tinggi berkulit agak cokelat yang berpakaian necis itu menyenggol Sehun pelan sambil tertawa.

Ya! Tidak, Jongin-ah…Kami hanya sebatas…” Sehun berusaha mencari kata-kata yang pas. Namun segera dipotong oleh suara rendah seorang laki-laki lain.

“Kapan akan diresmikan?” Seorang lagi yang bermata bulat dengan postur tubuh lebih pendek dari Sehun ikut bersuara. Wajahnya sangat innocent.

“Apa-apaan kalian semua. Tidak.” Sehun menggeleng keras. “Ia hanya pasanganku di pesta ini. Dan jawaban dari pertanyaanmu…Kyungsoo-hyung, uh, kami belum berstatus apa-apa.” Akhirnya Sehun menemukan kata-kata yang pas untuk mendefinisikan kami berdua.

“Mengapa harus berbohong pada kami. Katakan saja.” Salah satu dari mereka menyeletuk lagi. Kali ini yang berbicara berambut hitam dengan tinggi yang hampir sama dengan Sehun. Suaranya berat.

“Tidak, dan kau.. Chanyeol-Hyung. Sungguh…” Sehun diam sesaat. “…Ah, mungkin tepatnya, masih belum.” Ia mengoreksi lagi kata-katanya dengan pelan. Telingaku menangkap dengan samar. Namun yang kulakukan hanya diam. Memperhatikan mereka berbicara.

“Kau suka sekali berbohong.” Laki-laki tampan yang tampaknya seperti seorang blasteran, tingginya diatas rata-rata dan berada di sebelah lelaki bernama Chanyeol itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Ah Kris-hyung…” Sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya, suara seseorang dari belakang kami memotong perkataannya dan membuat semua kepala menoleh ke arahnya.

“Hei!”

 

“Luhan-oppa?” Spontan aku bergumam. Ia melambaikan tangannya semangat dan segera berjalan lurus ke arah kami. Getaran itu masih ada. Namun tidak, tidak terlalu menekan seperti yang kemarin-kemarin. Aku berusaha tenang dan mengatur nafas.

Sehun segera mengalihkan perhatiannya dan menolehkan kepalanya menatap kedua mataku. Lalu ia menghela napas panjang, sepertinya memahami sesuatu.

“Maafkan aku Haera, tunggulah sebentar disana. Aku mau membicarakan sesuatu dengan mereka.” Sehun berbisik. Menarik pergelangan tanganku untuk menjauh dari mereka. “Lebih baik daripada kau tidak mengerti sama sekali apa yang kubicarakan. Aku akan segera kembali” Ia tersenyum kecil. Aku mengangguk mengerti, lalu ia segera berlalu dan meninggalkanku sendiri.

Kusenderkan bahuku di dinding pilar dan menatap kerumunan yang menarik perhatian itu. Kelompok laki-laki tampan semakin ramai dengan tambahan Luhan dan Sehun. Terkadang Sehun mendengarkan cerita dan tertawa terbahak-bahak. Ia terlihat lepas. Tanpa ada kesan dibuat-buat. Sehun memang masih remaja normal. Di sekolah memang dia terlihat diam. Namun disini? Ia terlihat berbeda sekali. Aku memperhatikannya dengan seksama.

Tawanya benar-benar menyenangkan.

Aku cukup betah melihatnya berlama-lama. Kadang aku ikut tersenyum saat ia tersenyum. Mengikuti ekspresinya. Kurasa semua penilaianku tentang Sehun salah. Ia bukan anak yang anti-sosial, sok kaya, suka menjaga image dan lainnya. Semuanya hilang tak berbekas melihatnya disini.

**************

Dan, inilah aku. Berada di tempat yang sama dan dalam keadaan yang sama seperti kemarin.

Memikirkan ulang tentang perasaanku yang sesungguhnya. Sepertinya aku sudah menemukannya.

Aku mulai sadar, bahwa setahun belakangan ini. Hidupku benar-benar berbeda.

Tanpa kusadari, aku sudah mengalami adventure yang sesungguhnya dengan seorang Oh Sehun. Saat aku memutuskan pasrah dan mulai menerima perjodohan itu. Dikejar-kejar anak satu sekolah untuk dimintai keterangan karena aku datang bersamanya di awal masuk sekolah. Lalu didamprat oleh Soojung. Pergi ke Myeongdong—istimewanya, kami berjalan kaki. Mengunjungi berbagai tempat. Dimarahi bersama. Bertemu Luhan dan merasakan patah hatiku yang pertama. Semuanya. Aku menyadari yang selalu ada untukku selama ini adalah dia.

Aku memejamkan mata. Terulang lagi kejadian yang berputar berkali-kali dalam otakku seperti kaset rusak. Semua tingkah laku Sehun yang sepele namun dapat membuatku diam mematung sepersekian detik. Semua kelakuannya yang unpredictable.

Mencoba perjodohan dengan Sehun bukan hal yang buruk. Ia tampan. Ia baik. Ia lucu. Ia sangat gentleman. Dan yang bodoh sebetulnya adalah aku.

Hei, ada apa denganmu, Haera?

Aku berusaha mengenyahkan pikiran yang membingungkan ini dengan tidur.

Sudahlah.

 

 TO BE CONTINUED

Iklan

21 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s