Misunderstanding

Misunderstanding

Author : @indahwonwon | Genre : Romance, Teen, Fluff | Length : Oneshot

| Rating : PG-16 | Main cast : Meifan (OC), Kris / Wu Yifan (EXO’s Kris) |

Author’s Notes :

Annyeooooooooong~ Thanks for publishing my story. I’m back again btw. Kali ini aku bawa sequel about MeiKris dan di cerita ini bakal ada semacam trouble. Happy reading fellows reader-nim. Like usual, I need your comment because your comment like Oxygen, guys. Don’t be a silent reader please ^^

Enjoy!!

 

.

.

.

 

Misunderstanding

 

Baby, akhirnya kau datang juga.” Kris yang baru saja kembali dari toilet dan bertemu dengan gadisnya  di pintu ballroom hotel. Ia mengulas sebuah senyuman pada gadisnya.

“Kris kenapa kau suka sekali memaksa? Kau menyebalkan.” Sedangkan Mei, ia tak membalas senyuman Kris malah sebaliknya melemparkan rasa kesalnya dengan memukul lengan kanan bagian atas Kris sekuat yang ia bisa.

Kris hanya mengaduh sekilas lalu mendekat kearah Mei membantu melepas mantel milik gadisnya dan menyerahkannya pada seorang pelayan untuk menyimpannya ke ruang penyimpanan. Yap, musim dingin hampir tiba sehingga cuaca Seoul khususnya di malam hari cukup menusuk kulit. Sehingga siapapun yang memutuskan keluar di malam hari tak bisa tanpa baju hangat atau mantel.

“Err.. Mei what’s wrong with your dress?” Kris menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Mei dari atas hingga ujung kaki.

“Aku hanya memakai apa yang eonnie pilihkan, aku yakin pasti kau yang memilih gaun ini!”

Kris memang meminta tolong pada coordi noona untuk membantu Mei bersiap-siap tapi siapa sangka ternyata noona memilihkan dress ini untuk gadisnya. Tapi Kris suka.

How can, eighteen years old kid looks so damn hot? By the way, I like how this dress showing your upper back,” Sebelah sudut bibir Kris tertarik membentuk sebuah seringaian.

“YA! Byuntae ahjussi,”

Kris lalu meraih pinggang gadisnya dan melingkarkan sebelah lengannya disana, sekaligus membungkam kekesalan gadisnya.

“Stt.. just enjoy the party, baby. Lagi pula kita berdua memang di undangkan,” Kris tahu Mei akan langsung bungkam setiap Kris memeluk pinggangnya, akhirnya sambil berjalan beriringan Kris membawa Mei memasuki ballroom menemui si penyelenggara acara private ini.

“Kris bisa lepas tanganmu dari pinggangku? Aku risih dengan tatapan semua orang,” Mei berusaha melepas lengan Kris dari pinggangnya, mengatur ekspresi wajahnya senormal mungkin dan bicara sepelan yang ia bisa pada Kris. Ia benar-benar risih saat harus menjadi pusat perhatian.

“Kenapa? You are my baby dan mereka tak ada urusan apapun, lagi pula coba kau perhatikan lagi, mereka memperhatikanmu karena kau begitu cantik. Bahkan rasanya aku kembali jatuh cinta padamu. Like the first time we met,”

“Kris, it sound so cheesy bisa berhenti menggodaku? Moodku sedang tidak baik asal kau tahu.” Mei menyerah dan membiarkan Kris merangkulnya.

 

.

.

.

 

Di salah satu meja yang berisi beberapa orang penting seperti kolega perusahaan sedang berbincang dengan si pemilik acara. Kris membawa gadisnya kesana. Ia menyentuh bahu pria paruh baya itu pelan,

“Soo Man Sonsaengnim ada yang ingin bertemu denganmu,” Dari balik punggung Kris, Mei muncul lalu mengulas sebuah senyuman.

Annyeonghaseyo samchon,” Lalu ia membungkuk memberi hormat.

“Meifan, ini kau nak? Astaga aku hampir pangling bertemu denganmu. Kau sudah tumbuh besar dan semakin cantik,”

Samchon, ayah menitipkan permintaan maaf karena tidak bisa hadir ke acara ini.”

“Kau datang ke acara ini, itu sudah mewakili ketiadaan ayahmu. Bagaimana ayahmu, apa ia sehat-sehat saja? Ia masih bertugas di Prancis?”

“Ayah baik-baik saja, samchon. Tapi kemungkinan ayah akan kembali dipindah tugaskan ke New Zealand,”

Ayah Mei seorang diplomat asal China, sehingga Mei lahir dan besar di banyak Negara. Empat tahun yang lalu ia baru berusia empat belas tahun, Mei bersama keluarganya pertama kali pindah ke Korea karena tugas ayahnya. Namun dua tahun kemudian ayahnya kembali di pindahkan, tepatnya ke Prancis. Dan Mei memilih menetap disini walau harus sendiri tanpa ayah dan ibu atau saudara sedarah karena Mei anak tunggal. Ia beralasan Korea hampir seperti kampung halamannya, China. Ia benci harus menjadi dewasa di Negara barat sana, dan ia tak bisa menjadi minoritas.

“Sampaikan pada ayahmu lain waktu saat ia punya waktu senggang ia harus kemari, katakan padanya aku menuntut hutang permainan mahyong yang ia janjikan setahun yang lalu,”

“Pesan samchon pasti akan aku sampaikan pada ayah,”

“Kau tak ingin lebih lama lagi terlibat dengan kumpulan orang tua ini kan? Sudah sana, dan Kris ajak kekasihmu ini berkeliling,”

Samchon, dia bukan─” Mei cukup di buat terkejut dan terbata.

“Mei, tak perlu berbohong pada samchon mu ini, kau sudah seperti putriku sendiri semenjak ayahmu menitipkan gadis kecilnya padaku. Dan Kris jangan macam-macam pada anakku ini. Jaga dia dengan baik!”

“Apapun untuk anak kecil ini, Sonsaengnim.” Kris yang dilimpahkan perintah yang akan dengan senang hati ia lakukan, mengangguk semangat lalu memamerkan senyumannya.

Mei dan Kris lalu meninggalkan meja yang di penuhi dengan para pria paruh baya dengan segala obrolan kerja sama atau jual beli saham.

 

.

.

.

 

Mei sedang menyibukkan dirinya dengan kue-kue kering yang baru saja ia ambil dan memilih duduk di salah satu meja kosong. Sudah hampir satu jam Kris meninggalkannya sendiri. Ia masih ingat saat Kris bilang hanya akan pergi lima menit menemui teman lamanya di seberang ruangan. Mei tahu obrolan bersama teman lama akan terasa membosankan jadi ia membiarkan Kris dan memilih berhadapan dengan makanan. Bahkan sebelum pergi Kris masih sempat menggodanya. Ia sengaja berjalan memutari Mei hanya untuk mencium punggung bagian atas Mei yang terbuka.

“Apa yang dibicarakan tiang listirk itu hingga selama ini,”

Mei benar-benar bosan karena pesta ini begitu asing untuknya. Walaupun ayahnya orang penting dan banyak mengenal orang-orang hebat tetapi Mei lebih memilih terlihat biasa saja. Sejak dulu saat ayah dan ibunya menghadiri acara besar seperti malam ini ia selalu menolak untuk turut serta. She just wanna be ordinary people with ordinary life.

Dan Kris, walaupun ia seorang idola yang memiliki banyak penggemar di hampir seluruh belahan bumi tetapi di mata Mei, Kris tetaplah seorang sosok anak lelaki biasa yang ia temui pertama kali di salah satu sudut sungai Han, berusia lima tahun lebih tua darinya, menjadi kekasihnya saat Kris memasuki masa pre-debut─ perilisan teaser grupnya dua tahun yang lalu, juga merangkap menjadi kakak sekaligus sahabatnya. Bagi Mei, Kris tetaplah Wu Yifannya yang manja dan kekanakan, yang selalu bisa mengaduk-aduk perasaannya, yang selalu memarahi Mei untuk belajar dengan rajin ketimbang berkencan dengan novel-novelnya. Entahlah, saat Kris bersama Mei ia seperti memiliki dunianya sendiri yang orang lain tak pernah ketahui.

 

Kebosanan Mei sudah di puncak, ia memilih menuju ke taman hotel melalui pintu samping di sudut ruangan ballroom. Suasana di taman sangat kontras dengan suasana di dalam. Disini begitu tenang dan dingin. Mei lebih memilih berada di luar walaupun dingin ketimbang berada di dalam ruangan hangat dan ramai tetapi ia sendiri. Ia malah terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tua─ clueless.

Ia melihat kolam renang, berniat melepas killer heels yang ia kenakan lalu duduk di pinggiram kolam mencelupkan kakinya. Namun ide luar biasanya menguap saat ia menemukan dua orang─ lelaki dan perempuan di seberang kolam. Mei dapat mengenali walaupun lampu taman hanya bersinar temaram. Ia sangat hafal segala sesuatu tentang kris. Ia bisa melihat wanita itu melingkarkan lengannya di leher Kris memeluknya erat. Mei hanya bisa memandangi dari seberang dengan tatapan kosong, rasanya ia seperti baru saja di tampar di muka umum.

Kali ini seperti baru saja dilindas kereta bukan hanya hatinya yang hancur, tubuhnya pun serasa hancur. Pikirannya mendadak kacau, seperti ada sesuatu yang mendesak di dadanya yang memaksa Mei meneteskan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya saat dengan kedua matanya sendiri ia melihat wanita di seberang sana berciuman dengan Kris.

Emosinya tak bisa di kendalikan lagi. Ia memilih berbalik meninggalkan tempat itu dan pergi secepat yang ia bisa. Mei mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangan kecil miliknya. Ia mengetik cepat sebuah pesan pada seseorang lalu meninggalkan ballroom tanpa perlu pamit pada siapapun.

 

.

.

.

 

Kris mendorong paksa Stella, wanita yang sudah memeluk dan berusaha menciumnya tanpa izin. Selang beberapa detik ia merasakan ponselnya bergetar di dalam kantung jas. Kris lupa dengan luka di tengkuknya. Wanita ini mabuk berat dan ia terobsesi pada Kris. Bahkan Kris sudah menolak wanita itu berkali-kali sejak dulu sehalus mungkin tanpa menyakiti perasaannya.

Kris mendapat sebuah pesan masuk, ia membacanya cepat,

 

From: My Kiddos Wifey

I’m leaving. No need to looking for me.

 

Beberapa detik kemudian Kris kembali mendapat pesan masuk,

 

From: My Kiddos Wifey

Just GET A ROOM If you wanna keep playing with your NEW GAME but not in a swimming pool.

 

Kris berusaha menyingkirkan wanita yang masih menggelayut di lengannya, berusaha kembali memeluk Kris. Ia mendorong wanita itu sedikit keras hingga terduduk di kursi santai di pinggir kolam.

“Stella, stop bothered my life. I have her and I love her more than everything. So stop your obsessed about me. I admit that you are really beautiful and I’m pretty sure you can get the better once but NOT me. Please stop it, Stel!” Emosi Kris sudah tak bisa tertahankan, wanita ini sudah benar-benar keterlaluan. Mengganggu kehidupan pribadinya. Karena wanita ini, Mei sudah salah paham. Yang ada di pikiran Kris sekarang adalah pergi dari tempat sial ini dari hadapan wanita yang sudah membuatnya mendapat masalah dengan gadisnya dan menjelaskan apa yang terjadi sejelas-jelasnya.

Kris mulai meninggalkan wanita itu, ia masih bisa mendengar Stella yang berteriak-teriak memanggilnya. Wanita itu masih di bawah pengaruh alkohol.

“Kris, don’t go! You leave me because of that kid, huh? You stupid bastard! Kris!”

Kris di ujung taman berteriak menjawab celotehan Stella yang masih hangover,

“Aku memang bodoh jika sampai aku kehilangan Mei hanya karena permainanmu yang kekanakan ini,”

 

.

.

.

 

Mei memang sudah meninggalkan tempat itu tetapi ia tidak berusaha menghentikan taksi atau apapun yang bisa membawanya pulang kembali ke apartemen. Ia lebih memilih berjalan kaki. Membiarkan pergelangan kakinya merasakan sakit yang lebih lagi akibat memakai heels terkutuk ini. Ia sama sekali tak berfikir untuk melepasnya. Bahkan rasa sakit di kedua pergelangannya tak sebanding dengan perasaan sakit di hatinya. Waktu hampir menujukkan tengah malam tetapi jalanan di pusat kota masih jauh dari kata lengang. Beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengan Mei melihatnya dengan rasa iba, bingung, aneh atau apapun. Ia sama sekali tak peduli walaupun ia terlihat sangat buruk juga menyedihkan.

I hate you. Really hate you, idiot..

Mei baru sadar ia pergi tanpa membawa mantelnya saat angin malam bertiup membelai kulitnya yang hanya terbungkus gaun malam yang sama sekali tak membantunya melawan hawa dingin. Ia berusaha memeluk dirinya sendiri sambil terus berjalan. Dan langka Mei membawanya ke tempat favoritnya yang menjadi saksi bermacam cerita yang tak pernah ia bagi pada orang lain. Sungai Han.

 

Gadis itu memilih duduk di tangga yang menghadap sungai Han. Tempat ini sudah begitu banyak menyimpan ceritanya. Mei sudah mematikan ponselnya semenjak meninggalkan hotel. Dari dalam tas kecil miliknya Mei mengeluarkan I-Pod Touch kesayangannya. Saat menggeser tombol kunci layar, matanya menangkap wallpaper yang terpajang di layar I-Podnya. Foto yang diambil satu tahun yang lalu saat ia dan Kris merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Kris mengenakan topi ulang tahun kecil sedangkan Mei masih menggunakan piyamanya yang berbentuk hamster dengan tudung kepala yang di kenakan. Di foto itu bahkan mereka masih tersenyum dengan lebar, Kris masih memeluknya dengan sayang dan Kris masih mencium pipinya penuh cinta. Mei berusaha mengabaikan pikirannya dan mulai memutar lagu dari I-Podnya secara random.

 

The day I  first met you

You told me you’d never fall in love

But now that I get you

I know fear is what it really was

Now here we are

So close yet so far

Haven’t I passed the test?

When will you realize

Baby, I’m not like the rest?

(Demi Lovato – Give Your Heart A Break)

 

Sebait lirik itu yang pertama menyapa indra pendengarannya. Biasanya ia akan menyanyikannya dengan suara keras karena ini salah satu lagu favoritnya tapi lain halnya untuk saat ini. Lagu itu seperti mengejeknya mungkin. Angin malam kembali berhembus. Mei mulai menggigil walaupun ia berusaha keras menghangatkan tubuhnya dengan menggosok telapak tangannya lalu memeluk dirinya sendiri. Mei sedikit membungkuk memeluk kakinya, memposisikan pipinya di atas lutut. Membiarkan suasana tenang ini menghanyutkannya. Ia masih enggan beranjak.

 

.

.

.

 

Hyung aku harus kembali ke dorm saat ini juga!” Kris menghampiri manager hyung yang tadi sedang asik berbincang dengan salah seorang tamu undangan.

“Oh Kris, kau kenapa? Apa yang terjadi?” Sebelumnya manager hyung menarik Kris ke salah satu sisi yang agak sepi untuk menanyainya.

“Mei. Aku sudah membuat kesalahan terbodoh. Aku harus menemui Mei saat ini juga hyung. Tolong berikan kunci mobil padaku. Kumohon hyung. Tolong mengerti keadaan ku saat ini,” Kris terlihat begitu gelisah. Ia berkali-kali meremas telapak tangannya. Bahkan ia lupa bagaimana cara terlihat baik-baik saja. Mei dan segala rasa bersalah pada gadisnya menghantui pikirannya.

“Hanya kali ini aku mengizinkanmu berkendara sendiri. Hati-hati di jalan. Jangan sampai kau melanggar lalu lintas. Setelah ini jelaskan apa yang terjadi padaku, kau mengerti?”

Kris meraih kunci SUV yang disodorkan padanya. Secepat mungkin ia berlari menuju keluar, menuju pelataran parkir. Memposisikan dirinya se tenang mungkin di balik kemudi lalu memasang seatbelt. Ia tak mungkin berkendara dalam keadaan emosi atau ia akan celaka. Mesin mobil menderu meninggalkan pelataran parkir membelah jalanan malam yang masih ramai bahkan saat tengah malam seperti sekarang.

Kris menggunakan sebelah tangannya yang tak memegang kemudi untuk menghubungi ponsel Mei. Sudah puluhan kali ia berusaha menghubungi tetapi ponsel gadisnya tidak aktif. Ia tahu, Mei sengaja mematikannya.

Thinking Kris, thinking!” Kris bicara pada dirinya sendiri. Ia teringat sesuatu. Ia kembali meraih ponselnya, menghubungi front office apartemen.

Setelah menunggu nada sambungan beberapa detik, sambungan di seberang di jawab oleh seseorang,

“Yeoboseyo?”

“Ya, yeoboseyo Kim ahjussi. Ini aku Kris penghuni apartemen 1201.”

“Selamat malam tuan Kris, ada yang bisa saya bantu?”

Ahjussi, apa nona Meifan apartemen 511 sudah kembali?”

“Maaf tuan Kris, saya sudah berjaga semenjak sore dan nona Meifan sama sekali belum kembali semenjak pukul tujuh malam tadi.”

“Kalau begitu, bisakah ahjussi menghubungiku lagi jika Mei sudah pulang?”

“Baik tuan Kris. Saya akan menghubungi saat nona Meifan kembali.”

“Selamat malam ahjussi, terima kasih banyak.”

Kris memutus sambungan telponnya. Ia benar-benar kehabisan petunjuk. Mei sama sekali belum kembali ke apartemen. Ia mulai berpikir hal terburuk yang terjadi pada Mei. Namun akal sehat Kris menepis pemikiran negative itu. Sudah hampir satu jam ia mencari dan ia masih belum bisa menemukan Mei. Kris menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memukul keras kemudi dengan kedua tangannya, lalu membenamkan wajahnya diantara lengannya yang di posisikan di depan stir.

Baby, where are you now?” Suara Kris terdengar sangat lirih. Demi apapun ingin rasanya ia menangis detik ini. Ia benci karena menyakiti gadisnya. Andai ia bisa mengembalikan waktu, ia ingin kembali ke saat pertama mereka bertemu. Mencoba memperbaiki setiap kesalahan yang pernah ia perbuat sebelumnya pada gadisnya.

Kris ingat tempat itu. Tempat dimana pertama kali mereka bertemu. Ia yakin Mei pasti berada disana. Kris kembali menyalakan mesin mobil mengemudikannya menuju tempat itu.

 

.

.

.

 

Setelah memarkirkan SUV-nya Kris sambil berlari meneriakkan nama Mei, memanggil gadisnya. Ia hampir menyusuri sepanjang sungai Han dan ia masih belum bisa menemukan Mei.

“Mei, kau dimana? I’m so sorry about hurting you again..

Kris masih berusaha mencari-cari Mei. Saat ia hampir kehabisan napas karena berlari ia melihat tubuh kecil itu duduk di tangga yang menghadap sungai. Gadisnya meninggalkan ballroom hanya mengenakan gaun malam. Kris melepas jasnya lalu menyampirkan ke tubuh Mei. Gadis itu sedikit terkejut saat merasakan ada yang menyampirkan sesuatu padanya. Kris langsung menarik Mei kedalam pelukannya.

“Mei, maafkan aku. Tolong dengar semua penjelasanku..” Kris semakin mengeratkan pelukannya pada Mei. Sedangkan Mei, ia terlalu lelah untuk merespon apapun setelah pergolakan antara pikiran dan hatinya cukup menguras tenaganya.

“Mei aku mohon jangan diam, aku rela kau memakiku atau bahkan memukulku detik ini dari pada kau diam seperti ini.”

“Tak ada yang perlu kau jelaskan, tuan Li.” Mei memanggil Kris dengan marga milik ayah Kris yang sudah sejak lama tak ia gunakan lagi. Ia tahu gadisnya begitu tersakiti. Tapi apa tak ada kesempatan untuknya memperbaiki keadaan?

“Mei, kumohon─” Kris kehabisan kata-kata, dan tanpa ia perkirakan dan tanpa ia tahu air matanya mengalir. Kris menangis. Membiarkan air matanya mengenai bahu Mei.

Mei bisa merasakan dingin di bahunya. Ia tahu Kris menangis di bahunya. Dan entah mengapa hatinya ngilu. Mei tahu Kris bukan tipe yang akan menyelesaikan masalah dengan air mata, Kris terlalu tegar bahkan untuk sekedar menangis. Mei ingat betul ini kali kedua Kris menangis di hadapannya setelah empat tahun yang lalu di tempat ini. Mei menggerakkan sebelah lengannya, mengusap lembut rambut Kris.

“Kris..”

Kris sedikit melonggarkan pelukannya. Mei masih mengusap lembut kepalanya. Ia sedikit senang karena gadisnya masih menaruh perhatian padanya.

“Tolong dengarkan penjelasanku kali ini, aku mohon. Setelah ini jika kau ingin memukulku terserah padamu. Tapi tolong dengarkan aku dulu,”

Kris bisa mendengar gadisnya menghela napas, “Bicaralah..”

 

“Wanita itu Stella, Stella Lim. Ia model dari agensi yang akan menjalin kerjasama dengan SM C&C Itu alasan kenapa ia ada di pesta. Kami memang saling mengenal bahkan sebelum aku mengenalmu, tetap hanya sekedar itu saja. Aku tak tahu ia sudah terobsesi padaku semenjak aku masih menjalani trainee. Ia sering menghubungiku, mengirimi pesan tetapi aku bersumpah bahkan satu pesan pun tak pernah ku tanggapi. Aku hanya menganggapnya sebagai kenalan, itu saja. Kumohon percaya padaku, Mei.”

Sekali lagi Kris kembali mendengar Mei menghela napasnya,

“Apa seorang kenalan bisa berpelukan dengan begitu mesranya? Dan juga ciuman itu─”

Kris berhenti memeluk Mei, lalu duduk dihadapan gadisnya.

“Aku keluar karena ibu menelponku, aku tak mungkin mengangkat telpon di dalam ruangan yang begitu bising, kau bisa mengecek caller historyku.” Kris menyerahkan ponselnya ke tangan Mei.

“Saat akan kembali, tiba-tiba wanita itu muncul dan langsung memelukku. Ia mabuk berat. Demi Tuhan, aku susah payah berusaha menjauhkannya tetapi kukunya menggores tengkukku. Mendadak ia berusaha menciumku tetapi aku masih bisa menahan kepalanya, aku bersumpah aku sama sekali tak pernah berciuman dengan wanita itu.”

Kris melepas dua kancing teratas kemeja putihnya, lalu berbalik memperlihatkan tengkuknya yang terkena luka cakaran. Mei tahu luka itu perih bahkan masih berdarah. Ia menyentuh pelan luka di tengkuk Kris dan Kris menggeram menahan perih. Mei sudah mendengar semua penjelasan Kris juga bukti yang memperkuat penjelasannya dan Kris memang berkata jujur. Tapi masih ada rasa ragu pada Mei. Ia sudah tak lagi mempercayai Kris dan ingin mereka berakhir atau ia hanya terbakar cemburu?

“Mei, disini. Di tempat ini aku meminta, bisakah kita memperbaiki keadaan dan memulainya lagi? I lost without you..” Kris menggenggam hangat kedua tangan Mei.

Mei berhenti berdebat dengan hati dan pikirannya. Ia sudah memiliki jawaban dan ia harus menyelesaikannya disini.

“Maaf Kris,” Mei melepaskan genggaman tangan Kris darinya.

 

.

.

.

 

Mei berdiri membiarkan Kris yang masih terduduk di hadapannya. Mei berjalan mendekati pagar di pinggir sungai Han. Ia masih mengenakan jas milik Kris di bahunya. Malam sudah begitu larut, angin yang berhembus menerbangkan rambutnya yang terurai dari ikatannya yang melonggar.

Kris kembali mendekat, tanpa perlu izin memeluk Mei dari belakang. Mei menyentuh dada kirinya. Sebelah tangannya menyentuh pergelangan Kris. Merasakan debaran jantungnya yang berdetak bergantian dengan debaran jantung Kris yang bisa ia rasakan dari aliran darah yang mengalir di lengan Kris.

“Biarkan aku memelukmu jika ini untuk yang terakhir kalinya..”

Kris mengeratkan pelukannya, jika memang ini pelukan terakhirnya untuk Mei. Ia mengecup bahu Mei yang terbuka.

“Kalau aku tak mengizinkan kau melepas pelukanmu, kau juga tetap akan menjadikan ini yang terakhir?”

Kali ini Kris bingung dengan apa yang Mei ucapkan.

Let’s we start it from beginning once again, together.

Kris membalik cepat Mei menjadi berhadapan dengannya, “Mei?”

“Aku juga minta maaf, maaf karena aku sudah menuduhmu dan menyalahkanmu bahkan dengan sesuatu yang bukan salahmu..”

Thank you so much, baby. Thank you for believe in me, thank you for staying beside me once again..

Mei menghambur memeluk Kris. Memeluknya seperti ia biasa memeluk boneka beruangnya. Kris membalas pelukan Mei. Sesekali mencium puncak kepala gadisnya.

 

Kali ini mereka memilih berjalan menyusuri sepanjang sungai Han. Mei mengeluh saat ia merasakan pergelangan kakinya sakit. Kris berlutut memastikan. Pergelangan kaki Mei memar. Ia dengan paksa melepas killer heels yang menyiksa gadisnya ini.

“Idiot, siapa yang menyuruhmu memakai sepatu setinggi ini semalaman?”

“Siapa yang menyuruhmu untuk bertumbuh begitu tinggi?”

Baby, seharusnya kau yang bertumbuh sedikit lebih tinggi lagi,”

Mei memukul kepala Kris yang masih berlutut di depannya.

“Ayo naik ke punggungku, kita pulang!”

Tanpa perlu banyak pikir Mei langsung naik ke atas gendongan Kris. Ia melingkarkan lengannya di bahu Kris. Kris menyelipkan tangannya di bawah lutut Mei. Mereka kembali melanjutkan menyusuri sungai.

Mei teringat pada I-Podnya yang masih tergantung di lengannya. Ia memasang sebelah earphone ke telinganya dan sebelah lagi ke telinga Kris.

 

Let me go home
It’ll all be all right
I’ll be home tonight
I‘m coming back home

(Michael Buble – Home)

 

Home is where the heart is.. I found you like my second home. Place for me rest my tiredness of life when I far from my own home.

 

.

.

 

Kkeut!

Oke, thanks for reading my story till the end guys. Hope you enjoy it ^^

Komentar, kritik dan saran yang membangun dari seluruh reader-deul sangat ditunggu.

*deep bow*

Iklan

44 pemikiran pada “Misunderstanding

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s