All Flowers In China (Chapter 2)

All Flowers In China (part 2)

 

IMG_6637 1 (1)

Author : Carla蓝梅花

 

Rate : PG

 

Length : Chaptered

 

Genre : Romance, Angst, Sad, Sad Romance.

 

Cast: EXO-M Chen / Kim Jong Dae

 

Kimberley Chen / Chen Fang Yu (can imagine as yourself)

 

Other cast : EXO members and many more

 

Annyeong yeoreobeun! Ni men hao^^ Chapter 2 nya sudah di release!!!. Terima kasih buat semua yang udah comment dan kasih saran di chapter 1 nya. ^^, tulisan yang di BOLD = flashback. Sediakan sapu jika typo berserakan (?)

 

Warning!!!

 

Main cast maupun support cast belongs to me God. The story belongs to ME!!! Murni fanfiction dari imajinasi author sendiri. Tidak ada maksud memperburuk nama artis yang diperankan.

Thanks buat admin yang sudah mau post FF ini.

Don’t copy without permission!!! Please RCL and…

 

Happy reading^^~

 

“I’ll forever be your Peter Pan, I’m still here in time looking forward to it”

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Kimberley POV

 

Seoul, 23rd August 2010

 

Aku beranjak mengambil tas dan barang-barangku dan berjalan menuju tempat biasa aku menunggu di jemput oleh supir pribadi ayahku, paman Li.

 

30 menit lamanya aku menunggu. Tsk, sebenarnya kemana paman Li? Biasanya dia cepat sekali jika menjemputku. Lebih baik kuputuskan untuk meneleponnya. Kuambil ponsel yang terdapat di tasku dan mencari nomor paman Li.

 

Tut… Tut… Tut…

 

Aish, kenapa tidak diangkat? Sebenarnya kemana paman Li? Aku sudah kepanasan dan membusuk menunggunya disini. Aku paling tidak suka menunggu hingga lama seperti ini. Perutku sudah mulai keroncongan karena lapar. Apa aku harus naik bus daripada menunggu disini terlalu lama? Baiklah, aku akan naik bus saja.

 

Aku tiba di halte bus seberang sekolahku yang cukup terkenal di Korea Selatan, School Of Performing Arts, atau orang mengenalnya dengan sebutan SOPA. Aku duduk di kursi halte itu, menunggu bus yang tak kunjung datang. Aku mulai gelisah, kuhentak-hentakkan kakiku ke aspal.

 

Seketika pikiranku melayang-layang kemana-mana. Firasatku tidak enak. Entah apa firasat itu, tapi di dalam benakku sekarang, ada sesuatu yang mengganjal. Aku takut. Tapi aku tak tahu apa yang sedang aku takutkan dan khawatirkan.

 

TIN TIN!

 

Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Kudongakkan kepalaku. Bus telah menungguku untuk naik. Kurasa bus ini sudah dari tadi tiba, karena aku melamun aku jadi tidak mengetahui kapan bus ini datang.

 

Kulangkahkan kakiku, beranjak naik ke dalam bus. Banyak orang didalam bus ini, semua orang tertuju melihatku dengan tatapan yang aneh. Tak kuhiraukan tatapan mereka, toh aku dan mereka tidak saling mengenal. Kududukkan diriku di kursi dekat jendela. Langit mulai mendung dan udara dingin mencekam. Ada apa sebenarnya ini? Firasat yang tadi kurasakan masih tak kunjung hilang walaupun aku sudah berusaha membuang firasat aneh itu jauh-jauh. Kupejamkan mataku sejenak, tanpa sadar benih-benih air mata tak bersalah jatuh mengalir begitu saja tanpa kusuruh.

 

Aku sudah sampai disini, diseberang rumahku. Aku memberikan uang kepada supir bus itu dan turun dari bus. Dapat kulihat rumahku dari sini. Rumah yang besar bak istana bernuansa serba coklat muda dan terdapat taman bunga disekelilingnya.

 

Kuhembuskan nafasku ketika sampai di depan pintu pagar rumahku. Kubuka pintu pagar tersebut. Kenapa sepi sekali? Kugedikkan bahuku, tanda tak peduli. Aku berjalan menyusuri taman yang cukup besar yang harus kulewati untuk dapat sampai di depan pintu rumah mewah ini.

 

Saat aku berjalan, tiba-tiba mataku menemukan sesuatu yang aneh di bawah pohon bunga Lily di depanku. Aku berjongkok di depan pohon tersebut, mengambil benda yang sedari tadi membuatku bertanya-tanya. Seketika aku membelalakkan mata dan menutup mulutku dengan tangan. Apa ini? Pisau?! Apa bibi Fang lupa mengembalikan pisau ini ke dapur setelah memotong rumput? Tidak, memotong rumput tidak akan menghasilkan darah! Jantungku makin berdetak kencang. Tidak. Tidak mungkin. Aku langsung berlari menuju rumah istanaku dan melempar pisau itu ke tanah. Aku terobos pintu rumah yang terbuka sedikit.

 

Jantungku yang sedari tadi tegang dan berdetak kencang seolah berhenti berdetak. Semua beban yang ada di bahuku seketika hilang. Tubuhku lemas dan kakiku tak mampu berpijak lagi. Aku pun beringsut jatuh. Tatapanku kosong melihat sekeliling. Kuperjapkan mataku berkali-kali tanda tak percaya. Kakiku refleks menghampiri sesuatu di bawah tangga dengan gerakan pelan dan lemas.

 

 

 

 

 

Eomma…

 

 

 

Appa…

 

 

 

Bagai tertusuk beribu-ribu pedang perang nan panjang dan tajam, hatiku sakit. Hatiku sakit melihat tubuh eomma dan appa yang pucat, dingin, dan tak bernyawa lagi. Kusentuh bagian wajah eomma dan appa. Aku tak percaya akan semua ini. Tak kusadari firasat aneh yang sedari tadi kualami terjawab sudah.

 

Air mataku mengalir deras dan tak dapat kubendung lagi. Kucabut paksa pisau-pisau yang tertancap di tubuh eomma dan appa. “Eomma, Appa, bangunlah. Aku sudah mencabut pisau maksiat itu dari tubuh kalian. Bangunlah eomma, appa. Jebalyo,” kuguncang-guncangkan tubuh mereka, kuharap mereka bangun dan membuka mata sedikit saja.

 

“Eomma, bangunlah. Jangan tinggalkan aku sendiri. Appa, aku bisa apa tanpa mu? Aku masih butuh kalian. Aku tak mau jadi anak yatim piatu. Bangunlah dan sadarlah. Eomma, Appa, dengarkan aku. Eomma, Appa, IREONA!! Jebal, IREONA!!!” aku berteriak sekencang mungkin, meluapkan semua emosi dan amarah yang ada dalam diriku.

 

Tuhan, apakah kau masih hidup? Apakah kau tertidur? Kenapa kau tidak mendengarkanku? Kenapa kau tidak kunjung membangunkan dan menghidupkan mereka kembali? Kenapa kau tega membiarkanku melihat tubuh kedua orang yang sangat berharga di hidupku ini dengan keadaan yang pucat pasi dan tak berdaya seperti ini? Apa salahku?

 

“Appa, Eomma… Aku mencintai kalian. Maafkan aku selama ini. Kumohon kalian bangunlah sekarang. Kumohon,” kugenggam tangan mereka erat-erat. Aku masih tak percaya, siapa bajingan yang telah membunuh mereka? Kenapa mereka membunuh kedua orang tuaku sekarang? Apakah sudah sebegitu parahnya kesalahan orang tuaku?

 

 

Kuhela nafasku berat. Berat, sungguh berat rasanya. Untuk menghembuskan nafas saja aku tak sanggup. Apakah mulai sekarang, aku harus menjalani hidup sendiri?

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

Author POV

 

Seoul, 28th August 2010

 

Dingin yang menusuk tulang siang itu mengiringi acara pemakaman kedua orang bermarga Chen. Tampak seorang gadis muda berdiri lemas menatap kuburan kedua orang tersebut. Tatapannya kosong. Tak terdapat ekspresi apapun dari wajahnya.

 

Semua orang beranjak pergi setelah acara pemakaman tersebut selesai, mereka berpamitan dan sesekali memeluk gadis itu. Gadis itu tak kunjung pergi dari tempat pemakaman. Ekspresinya masih datar dan tubuhnya masih lemah tak berdaya.

 

“Eomma, Appa… Apakah kalian bahagia disana? Semoga, semoga kalian bahagia disana. Kalian tahu, rumah megah kita sudah disita oleh bank. Lily akan berusaha cari tempat tinggal dan pekerjaan dengan sisa uang appa dan eomma yang ada di tabungan Lily. Memang ini menyedihkan dan Lily tau ini pasti sulit,” gadis itu kemudian diam, mengambil nafas sebelum melanjutkan perkataannya

 

“Appa, eomma, jangan tinggalkan aku sendiri. Eomma Appa harus janji, kalian harus ada di samping Lily dan jangan lupakan Lily. Aku sayang kalian, eomma, appa. Yeongwonhi saranghae,” tangisnya pecah, gadis itu menangis tepat di samping kubur kedua orang tuanya.

 

Sesaat kemudian, salju pun turun. Dingin semakin mencekam dan langit menjadi gelap, seakan ikut bersedih bersama gadis menyedihkan dan tak berdaya itu.

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

“You see, we got winter again. As we agreed, let’s move on”

 

Seoul, 23rd August 2012

 

“Oppa, kajja kita berangkat sekarang,” Lily yang baru selesai berpakaian menghampiri Chen yang menunggunya di ruang tamu apartemen kecil dan sederhana milik Lily

 

“Eum? Baiklah,” mereka berdua beranjak meninggalkan apartemen itu dan menuju tempat pemakaman

 

“Jadi, appa eomma-mu sudah 2 tahun meninggal?” tanya Chen sambil membantu Lily membawakan bunga red rose kesukaan eomma-nya

 

“Ne, Oppa. Tak terasa ya,” Lily menghela nafas, memikirkan eomma appa-nya membuatnya lemas dan kembali teringat dengan kejadian pahit 2 tahun yang lalu

 

15 menit perjalanan dari apartemen Lily, akhirnya mereka sampai di tempat peristirahatan eomma dan appa Lily. “Appa, eomma, wo lai le, ni men hao ma? (aku disini, apakah kalian baik-baik saja?)” Lily berkata dan tersenyum sambil membersihkan makam kedua orang tua yang sangat dicintainya

 

“Appa eomma, wo ba wo de peng you, ta shi Chen (aku membawa temanku, dia Chen)” Lily menepuk pundak Chen yang sedari tadi memperhatikannya, kemudian mereka berdua berdoa di depan makam appa dan eomma Lily

 

“Lily, kau merindukan mereka?”

 

“Eum, soal itu kau tak perlu tanyakan, Oppa. Itu sudah pasti,” Lily tersenyum dan menata bunga mawar yang tadi ia bawa di makam eomma dan appa-nya

 

“Kau yeoja yang kuat, Lily. Jika aku jadi dirimu, aku belum tentu bisa seperti ini,” Chen memeluk kedua lututnya, memperhatikan Lily yang sibuk menata bunga mawar

 

“Aniyo, aku tidak seperti yang kau bayangkan, Oppa. Kadang, aku merasa menyesal dan kesepian ditinggal sendirian oleh mereka. Lebih parah lagi, waktu hari pemakaman tanggal 28 adalah ulang tahunku. Sungguh, hadiah yang terburuk yang pernah aku dapat,” ekspresi Lily mendatar, Chen yang melihat itu hanya mampu terpaku mendengar ucapannya

 

“Aku paham posisimu, Lily. Tapi sekarang kau tak boleh merasa kesepian lagi, aku ini temanmu dan aku siap menemanimu kapan saja kau mau,” mereka berdua tersenyum bahagia. Tanpa mereka mengetahui, eomma appa Lily juga ikut bahagia disana, melihat putri kecilnya sudah mempunyai teman

 

Beberapa menit setelah itu, mereka berdua beranjak pergi meninggalkan tempat pemakaman itu. Jalanan kota Seoul sore itu tidak terlalu ramai dan udara dingin mulai menusuk hingga kedalam tulang.

 

So baby don’t go,

 

Dai wo dao hui you ni de di fang yong yuan dou zai yi qi zou

 

Oh wo men yao yi qi fei dao shi jie de jui zhong xin

 

 

“Oh, yeoboseyo?” Chen mengangkat ponselnya yang tiba-tiba bordering

 

“Ne, hyung? Ah ye, aku ingat. Baiklah. Annyeong,” BIP. Ia langsung mematikan ponselnya dan mulai berjalan lagi -disamping Lily-

 

“Lily, kau sudah mempunyai, err, namjachingu?” tanya Chen, terdapat ekspresi takut dan ragu-ragu dari wajahnya

 

“Eh, apa? Namjachingu?” Lily terkejut, tiba-tiba saja Chen membuyarkan lamunannya

 

“Ne, namjachingu. Haeyahabnikka?”

 

“Geurae, eobsseoyo,” Lily menggelengkan kepalanya. Kedua mata indah Chen tampak berbinar-binar. Haruskah aku mengatakannya sekarang, batin Chen.

 

“Lily-ah, mau kah kau…”

 

“Ne? Mau apa?”

“Kau menjadi yeojachingu ku?” bagai tersambar petir, Lily membelalakkan mata, menatap Chen seolah tak percaya

 

“Yeojachingu? Oppa sedang bercanda ne?”

 

“Tidak, aku serius. Sungguh, aku, eumm, mencintaimu. Saranghae,” Lily menatap Chen dalam-dalam, mencari kebohongan di dalam kedua matanya. Tapi tak sedikitpun kebohongan ditemukan olehnya

 

“Tapi, Oppa, aku bukan yeoja yang baik, aku tak pintar maupun cantik. Lebih baik kau mencari yeoja yang lebih baik dariku. Sungguh, kau akan menyesal jika bersamaku,” ia menundukkan kepalanya, Chen yang melihat itu, meraih kedua tangan lemah Lily, menggenggam erat-erat

 

“Lily, dengarkan aku, lihatlah aku dan jangan menjauhkan diri dari cinta. Kumohon, aku tak peduli bagaimana keadaanmu, tak peduli kau berasal darimana, bagaimana kehidupanmu dahulu, aku tak peduli, yang terpenting adalah hatimu, aku yang akan membuatmu sempurna,”

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

“T-Minus 10, 9, 8, I’ve got a space ship that we can fly away tonight”

 

Seoul, 29th August 2012

 

Kimberley POV

 

Sudah hampir 1 minggu aku menjadi yeojachingu Chen Oppa. Entahlah, dia sangat baik dan he treats me well, so far. Hubungan kami menjadi lebih dekat dan tak jarang dia mengajakku berjalan-jalan, makan siang bersama dan bahkan dia membantuku berjualan bunga pagi-pagi sekali.

 

Hari ini hari Sabtu, seharusnya aku jualan pagi ini tapi Chen Oppa menyuruhku menemaninya menemui teman-temannya. Baiklah, aku juga jarang sekali bertemu orang yang bisa dijadikan teman. Bagaimanapun juga aku sudah tidak bersekolah, biaya tinggal, makan dan pengobatanku sudah cukup menghabiskan tabunganku dan tidak ada sisa lagi untuk membayar uang sekolah.

 

Jika kalian bertanya mengapa aku tadi mengatakan biaya pengobatan, memang aku sedang dalam masa pengobatan. Aku sakit. Penyakit yang kualami bisa dibilang parah, atau mungkin sangat parah? Aku menderita kanker darah, atau bisa kalian sebut Leukemia. Dokter menyarankanku untuk di opname dan transfusi darah ke China karena memang katanya disana dokter yang menangani sangat hebat, namun apa boleh buat, uangku belum cukup. Dan satu lagi, aku juga mempunyai penyakit asma. Malang sekali diriku ini.

 

Sejauh ini, belum ada yang mengetahui penyakit yang kuderita. Bahkan Chen pun belum tahu. Aku selalu merahasiakan ini kepadanya, entah kapan aku akan memberi tahu kepadanya tapi yang jelas aku tak mau dia khawatir.

 

Aku berjalan menuju apartemen Chen. Aku sudah sering kesini selama aku menjadi yeojachingu-nya. Apartemennya sangat rapi dan terawat.

Kutekan tombol yang berada di depan pintu apartemennya. TING TONG. Kutekan tombol itu berkali-kali. Apa dia masih tidur ya?

 

KLEK. Chen membuka pintu, penampilannya sudah rapi dengan kaos V-Neck dan celana selutut dan kulit putihnya yang mulus membuat dirinya terlihat sangat tampan dan segar. Baiklah, aku mengaguminya.

 

“Oh, Lily, kau sudah datang. Kita langsung pergi saja ya?”

 

“Ne, Oppa. Kau sudah rapi sekali, memangnya acara resmi ya?” aku masuk kedalam apartemennya dan membuntutinya ke dapur.

 

“Tidak, hanya acara biasa, kajja,” Chen oppa menarik tanganku keluar dari apartemennya.

 

Saat sampai di café, aku dapat melihat 11 orang namja dan 11 orang yeoja di tempat itu. Mereka melihatku dengan tatapan aneh, entah aku tak tahu apa maksudnya, aku jadi sedikit risih. Aku membungkuk pelan sebagai tanda perkenalan kepada mereka, mereka pun juga ikut membungkuk, membalas perlakuanku.

 

“Nah, hyung, ini yeojaku, namanya Kimberley. Kalian bisa memanggilnya Lily,” ujar Chen oppa, memperkenalkanku.

 

“Wah, Lily, kau cantik sekali,” kata namja yang duduk di depanku, sontak aku tersipu malu, kurasa wajahku sudah seperti udang rebus sekarang.

 

“Jadi, siapa yang menjadi pemenang taruhan ini, hyung?” seru seorang namja yang warna rambutnya berwarna pelangi, setelah sedari tadi kami semua bersenda gurau. Tunggu, apa yang ia katakan tadi? Taruhan?

 

“Ya, kita harus ambil suara, siapa yang paling banyak disukai itulah yang jadi pemenangnya,” percakapan ini semakin aneh, ada sesuatu yang mengganjal di benakku

 

“Baiklah, kalian para yeoja, silahkan tuliskan nama namja yang kalian suka disini,” namja berwajah dingin, bertubuh tinggi yang tingginya dapat menyamai pintu, memberikan yeoja-yeoja disini –termasuk aku–secarik kertas dan pulpen. Kurasa hanya aku yang tak mengerti suasana disini. Chen Oppa juga tidak memberi tahu apa-apa sebelumnya padaku.

 

“Oppa, apa maksudnya ini? Aku tak mengerti,” tanyaku bingung kepada Chen oppa

 

“Ah? Oh, ani, ini hanya sebuah-“ belum selesai Chen oppa menjawab pertanyaanku, namja seram itu memotong perkataannya

 

“Apa? Jadi selama ini kau tidak mengetahui maksud dari semua ini?” ia bertanya padaku, aku mengangguk pelan

 

“Hah, payah. Kita ini sedang taruhan, dan bahan taruhannya adalah kalian, para yeoja,” DEG. Jadi, aku hanyalah bahan taruhan? Jadi, Chen Oppa tidak benar-benar menyayangiku?

 

Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, tubuhku bergetar. Tanpa banyak omong, langsung ku sambar tasku yang tergeletak di atas meja, berjalan keluar dari café murtat ini. Dapat kudengar suara gaduh Chen Oppa yang meneriakkiku, tapi tak kuhiraukan.

 

Tiba-tiba nafasku sesak, paru-paruku seperti diremas oleh tangan monster besar dan rasanya seperti ditusuk oleh beribu-ribu benda tajam. Aku jatuh ke trotoar jalan dan tak lama semuanya menjadi gelap.

 

TBC

 

Iklan

6 pemikiran pada “All Flowers In China (Chapter 2)

  1. Ceritanya sedihh , kasian banget lah sama Lily . Lily cewe yg tegar salutt banget sama Lily . Aduhh si Chenn , malah ikutan taruhan kasian kan Lily nya jadi sakit hati kan 😀 . Next post nya cepetaaaaannn yaa

  2. thor keren.. happy ending y..ya..ya…. # maksa
    s lilynya udah menderita banget thor,, kan kasian klo g hapiend,,
    mw nanya thor siapa sih yg bunuh orng tua lily???
    pnsran tingkt tinggi….

    keep writing thor,, semangatttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s