Faithful (Chapter 4)

Title: Faithful

Author: EunikeM (@eunike_keke0708)

Cast: Exo-K Chanyeol, F(x) Luna, Exo-M Kris

Support cast: F(x) Krystal, F(x) Sulli, Exo-M Lay and.. find it!

Genre: Romance, Frindship, comedy (?) marriage

Rating: Teen

Lenght: Chaptered

Woohoooo.. i’m back 😀 sudah chapter 4 ternyata.. wkwwk semoga kalian semakin suka yaa pokoknya harus suka hahaha agak dikit maksa ^^ skali lagi ini FF biar agak mendramatisir yaa, oyahhh, FF ini kubuat agak lucu-lucu dikit *emang lucu thor?* hahaha biar gak serius amat wkwwk dan terimakasih yg sudah mau baca, comment, nge-post dan kasih kritik, saran J jangan bosan2nya baca Ffku ini 😀 kalo bosan ntar diculik sama Kris 😛 *loh* okee cekidot. *maap yee kalo epepnya terselip bau-bau kehororan hahaha sesuai dengan muka… muka siapa yaa? wkwkwk :p*

go (2)

“Ahkirnya putus juga mereka” “baguslah kalau begitu” dua orang yang berdiri dibalik pohon tak jauh dari tempat berdiri Luna dan Chanyeol tertawa bersama. Melihat dua orang sejoli yang baru tiga hari menjadi pasangan sudah berahkir begitu saja.

          “Aduh! Sakit tau, jangan pegang-pegang pantat orang sembarangan!” pekik salah satu manusia yang mengintip aksi putusnya hubungan Chanyeol dan Luna. “Iya, maaf” pinta satunya lagi. “Jangan-jangan kau suka pantatku ya Lay?” tanyanya. “Siapa juga yang suka, yang ada itu jijik tahu Luhan hyung!” Lay mulai memukul lagi pantat Luhan dan tersenyum jahil sambil berlari pergi dari tempat berdirinya. “Aaahhh!! Lay! Kau! Awas kau!” Luhan yang semakin tidak tahan digoda oleh adik tingkatnya ini, ahkirnya ikut berlari mengejar Lay. Mereka berlari mengitari pohon dan lapangan seperti scene di film-film India yang biasa mereka tonton.

Tiba-tiba saat mata Lay menangkap hal yang janggal, ia berhenti mendadak. Karena, tidak tahu Luhan ada di belakangnya, mereka pun terjatuh dan saling tindih menindih. “Aduh! Kepalaku, hati-hati dong kalau lari” Lay mengelus kepalanya yang sakit akibat terkena sedikit benturan dari lapangan outdoor kampus. “Bukannya kau yang tidak hati-hati? Dasar adik tingkat durhaka!” belum sempat Luhan menjitak kepala Lay. Tangan Luhan yang ia kepalkan untuk didaratkan keatas kepala Lay, dihadang olehnya. “SSSttt.. lihat itu! Victoria-noona bukan?” tiba-tiba mata Lay dan Luhan bersama-sama mengarah ke ujung lapangan dan mendapati wanita tersebut. “Mau apa dia kemari?” tanya Luhan penasaran. “Ya, tanya saja pada orangnya!” jawab Lay seenak jidatnya. “Ya, biasa juga jawabnya, pabo!” alhasil kepalan tangan Luhan berhasil mengenai puncak kepala Lay. “Aish, appo hyung!” “Eh, itu liat Chanyeol bersamanya” Luhan mulai mengalihkan pembicaran. “Mana?” “itu..” Diputarnyalah kepala Lay oleh Luhan kearah dua orang yang sedang mereka pergoki. “Oh, jadi begitu kelakuan Chanyeol selama ini?” Tanya Lay dengan nada dinginnya. “Kalau memanggil yang lebih tua itu, pakai hyung atau sunbae. Kau ini orang Korea masa tidak tahu, aku saja yang orang Cina setampan Robert Pattinson saja tahu” jawab Luhan membenahi. “Jelas lebih tampan idolaku Rob Pattinsion, pacarnya saja cantik. Kalau kau? Pacar saja tak punya. Oya, sudi sekali aku memanggilnya seperti itu.” Jawab Lay sedikit melirik kearah Luhan. “Eh, lihat lagi, Chanyeol merangkul Victoria” kata Luhan antusias. “Biar aku memfotonya, sebagai bukti. Dasar playboy!” Lay berkata sambil mengeluarkan ponsel miliknya dari saku dan mengambil beberapa kali gambar mereka. “Ah, dapat!” “mana? Mana? Aku mau lihat” “hyung,  kau ini mau tahu saja” “kau ini, adik durhaka!” “baiklah-baiklah, ini kulihatkan, nanti kau menangis” ucap Lay seraya tertawa. “Aish, terserah kau!” Luhan dengan kesal meraih ponsel milik Lay dari genggaman kawannya.

—***—

            “Kakak!” Seseorang merangkul pundak Luna, ia pun hanya bergeming. “Hm?” “kau kenapa hari ini?” “badmood” “Oh, kalau begitu, ayo kita makan!” teriak Krystal antusias. “Makan? Kau saja sana” suruh Luna. “Ah, kau tidak seru! Ayo makan!” “aku tidak lapar” “ayolah, ada menu baru di cafetaria” rengek Krystal. “Memang apa?” tanya Luna dengan tatapan masih pada buku kuliahnya. “Sushi dan tadi kalau tidak salah, ada muffin blueberry, sirloin steak, gellato ice cream dan..” tiba-tiba tangan Krystal ditarik oleh Luna. Ahkirnya, ia tergiur juga untuk pergi ke cafetaria. “Ayo! Aku ingin mencoba semuanya!” Pekik Luna antusias. “Tadi tidak mau, begitu aku sebutkan menunya mau, bagaimana kau ini?” “iya, iya, maaf, ayo! Lima belas menit lagi aku ada kelas” “oke!” Mereka berdua berlari dari perpustakaan menuju cafetaria dan memesan hampir seluruh menu baru yang disajikan disana.

—***—

            “Kak, kau yakin makan sebanyak ini?” tanya Krystal heran sambil memandangi seluruh makanan di mejanya. “Hm” Luna hanya bergeming sambil melahap pesanannya. Mulai dari ice cream, makanan ringan, makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin bahkan lemak jenuh pun ada. “Kau yang akan menghabiskannya?” tanya Krytal lagi. “Hm” Kembali Luna hanya bergeming. “Lalu bagianku mana?” “ambil saja yang kau suka” Luna masih tak mengalihkan pandangannya dari makanan yang ia santap. “Kau kalau sedang stress, pasti makan yang banyak ya?” “yap! Itu kau tahu!” “kau tak takut gendut? Nanti tak ada yang suka dengan mu” “ah, gendut itu pertanda makmur. Artinya, orangtuaku peduli denganku. Buktinya, Kris suka padaku” “siapa?” Krystal mulai menggoda Luna disela-sela waktu makan mereka. “Kris” “siapa kak?” “Kris! Puas?!” Krystal mulai tersenyum jahil melihat reaksi kakak tingkatnya. “Oh, aku ke kelas dahulu ya, bye!” Luna beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Krystal. “Hei! Siapa yang mau makan ini semua? Siapa juga yang mau membayarnya!?” Teriak Krystal. “Abiskan saja! Oya, kau yang membayarnya ya, nanti akan aku ganti. Bye~ love you!” Luna menjawab sambil berlalu dan tersenyum manis kepada Krystal yang masih mematung di tempat duduknya. “Akhh! Kakak! Kau menyebalkan  sekali hari ini. Mana makanannya banyak sekali. Aku pula yang suruh membayar” Teriak Krystal frustasi.

—***—

            “Habisnya, 18.600 won” ibu penjaga kantin berbicara sambil matanya masih tertuju pada alat hitung didepannya. “Hah? 18.600?” Krystal sangat terkejut akan uang yang harus ia kelaurkan. Bayangkan saja, ia hanya memakan tiga buah yang dipesan Luna dan tiga sendok gellato ice cream, sedangkan Luna memakan sisanya dan memesan seenaknya sendiri. Tidak dibayar pula. “Iya nak, kalian makannya banyak juga ya?” Krystal hanya tertawa malu untuk menanggapi pernyataan dari ibu kantin dan melihat betapa tipisnya dompet Krytal. “Aduh! Tinggal 20.000, bagaimana bisa ini? Aku juga perlu beli buku. Baiklah, ini bu uangnya, terimakasih” “sama-sama” Krystal segera melesat pergi naik ke kelasnya. Iapun masih meratapi dengan tidak rela, uangnya habis hanya karena makan di cafetaria “Aish, tinggal empat ribu pula” tak lama kemudian, Krystal dapat ide yang sangat cerdik. Ia segera berlari ke dekapan kakaknya yang berada kurang lebih delapan meter dari tempatnya berdiri. Luhan, kakaknya sedang duduk dan berbincang bersama dengan Kris.

Oppa!” Teriak Krystal kencang sambil memeluk Luhan dari samping. Seumur-umur Luhan, ia tidak pernah dipeluk oleh adiknya sendiri. “Kau kerasukan apa ha?” Luhan bertanya dengan tatapan sedikit jijik dengan kelakuan adiknya. “Kau, sebagai kakakku yang baik hati, beri aku pinjaman uang ya?” Krystal menunjukkan jurusnya yaitu, aegyo puppy eyes. “Aku tidak mau, aegyo-mu tidak mempan padaku” “ah, oppa pleasseee” Krystal merengek sambil menarik-narik kemeja Luhan. “Kau ini sebagai kakak tidak boleh jahat dengan adikmu sendiri” Kris yang sedari tadi tertawa geli melihat dua mahluk dihadapannya pun ikut bicara. “Ah, Kris diam saja kau! Dia hanya berpura-pura manja untuk minta uang padaku.” “Ayolah oppa pinjamkan aku uang” pinta Krystal. “Memangnya berapa?” “hanya 20.000 won saja” “hah? 20.000 won?” Luhan menanggapinya dengan menjauhkan tubuh Krystal dari dirinya. “Karena tadi Luna-oenni makan banyak sekali dan dia menyuruh aku untuk membayarnya, kata dia nanti akan diganti. Tapi, aku butuh..” belum selesai Krystal berbicara, Kris tiba-tiba menyela. “Biar aku saja yang mengganti. Habis berapa?” “serius hyung?” “iya, jadinya aku mengganti berapa?” “emm, 20000 won” ujar Krystal bohong dan senyum malu-malu. “Baiklah, ini uangnya” Kris mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberinya pada Krystal. Tak sengaja, atau lebih tepatnya sangat sengaja, mata Krystal melirik isi dompet Kris dan ia bergumam dalam hati. “Ckckck, Ya ampun, anak seorang dosen Wu, isi dompetnya kira-kira mencapai satu juta won. Wah, hebat!” “Krystal?” Kris melambai-lambaikan telapak tangannya didepan wajah Krystal. “Oh, iya hyung, terimakasih banyak ya” “sama-sama.” “Oya, aku ke kelas dahulu ya. Bye!” Krystal beranjak dari tempat duduknya dan tak lupa ia melakukan adegan yang begitu mengejutkan. “Chu~” pipi Luhan seakan terkena sengatan lebah setelah dicium oleh Krystal. “Hyaaa!! Apa yang kau lakukan pada pipiku??!!” Luhan berteriak dan segera mengusap-usap pipinya. Tanpa basa basi lagi, Krytsal dengan cepat berlalu dari hadapan mereka dan Krispun selaku saksi mata langsung, tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa kram kali ini.

—***—

And I’ve just let these little things 
Slip, out of my mouth,
‘Cause it’s you, oh it’s you,
It’s you,
They add up to
And I’m in love with you,
And all these little things
,

Lagu dari lima pria tampan, One Direction berjudul little things berdendang disaat ruangan yang sedang hening-heningnya.  Ponsel Luna berbunyi disela-sela kelasnya bersama Wu seonsaengnim. “Mohon, ponsel harus dalam keadaan silent” Dosen Wu secara tidak langsung menegur Luna dengan masih melanjutkan kegiatannya yaitu menuliskan beberapa catatan dipapan tulis kaca. Luna diam tak bergeming sama sekali. Entah itu meminta maaf, atau mengambil ponsel dari sakunya dan menonaktifkan suaranya.

Geurae Wolf, naega Wolf, Awoo~
Ah, saranghaeyo!
Nan neukdego, neon minyeo
Geurae Wolf, naega Wolf, Awoo~
Ah, saranghaeyo!
Nan neukdego, neon minyeo

Untuk kedua kalinya ponsel Luna berbunyi. Kali ini, pertanda ada telepon masuk. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar seenaknya sendiri. Kemudian, Luna segera menekan layar ponsel yang bergambar telepon berwarna hijau dan ia mengangkat teleponnya. Dengan agak lambat dan malas, ia menyungginggkan senyuman sinis ketika mengetahui siapa yang menelepon. “Ada perlu apa anda dengan saya?” “Luna, aku ingin berbicara dengan mu sekarang!” “kau bodoh? Aku masih ada kelas” “Wu seonsaengnim?” “memangnya kenapa Chanyeol? Masalah?” lelaki yang menelepon diseberang sana hanya berdecak ria dan segera menutup teleponnya. “Dasar lelaki bodoh!” gumam Luna sinis. Segera ia melangkahkan kaki masuk ke kelasnya lagi. Wu seonsaengnim pun seakan sudah mengerti perasaan Luna sekarang. Jadi, ia tidak akan memarahinya walaupun bertindak seenaknya sendiri.

Tumben dosen satu ini tidak mengomel atau menyindirku dengan sinis?” batin Luna. Ia semakin membenci dosen favoritnya ini. Entah karena masalah ayahnya ataupun berjuta-juta pertanyaan yang ia ajukan tidak pernah digubrisnya sedikitpun. Mungkin keadaan akan berbalik. Dimana semua pertanyaan yang Wu seonsaengnim ajukan pada Luna tak akan dijawabnya. Seperti kejadian yang berikut ini.

“Luna, bagaimana dengan tugas skripsimu?” Luna hanya diam dan masih sibuk dengan catatannya. “Luna? bagaimana dengan skripsimu?” Wu seonsaengnim lebih melembutkan lagi perkataannya. Masih sama dengan tadi, Luna tak menggubrisnya. “Baiklah, kuanggap kau sudah memulainya. Oya anak-anak, ketika saya tidak bisa melayani skripsi kalian. Kalian dapat meminta bantuan dari asisten dosen baru di kampus kita. Victoria. Ia merupakan lulusan terbaik jurusan farmasi dari salah satu universitas internasional di China. Konsultasi bisa mulai kalian lakukan pada besok pagi dijam yang sudah tertera di papan pengumuman. Terimakasih” dan dosen Wu pun segera bernajak dari duduknya, lalu meninggalkan ruang kelas.

Pandangan Luna yang tadinya tertuju penuh pada catatannya, begitu mendengar nama “Victoria” dan “universitas internasional di China” ia merasa itu adalah Victoria, teman semasa sekolah menengahnya. “Yang benar saja, ia lulus lebih dulu dibanding aku. Pintar kali ia” gumam Luna sambil memutar-mutarkan bolpen disela-sela jari tangan kanannya. “Kalau begitu aku akan meminta bantuannya saja, dari pada meminta bantuan pada dosen seperti itu.” Luna merasa dirinya begitu jahat hari ini. Tidak hanya masalahnya dengan Chanyeol ataupun karena dosen yang satu itu.

—***—

            Dengan sedikit hujan gerimis diluar sana, Luna masih memfokuskan tatapannya didepan leptop berlambangkan apel yang terlihat dimakan setengah. Ya! Jangan tanya lagi! Sampai saat ini ia masih berada dalam ruang perpustakaan sekolah. Walaupun ia tidak ada kelas malam, tetap saja awak beserta raganya tak berpindah dari tempat bahkan bangkunya. Tinggal dua setengah bulan lagi ia akan menghadapi sidang untuk kali terahkir masa kuliahnya dan akan mendapat gelar sarjana farmasi. “Ah, dingin sekali disini.. bisa kau kecil..” badan Luna sedikit gemetar dan ia menoleh kebelakang untuk meminta sang penjaga perpustakaan menaikkan suhu pendingin ruangan sehingga terasa lebih hangat. “Kemana ia? Kenapa perpustakaan ini sudah sepi?” Luna kemudian berpaling kearah jam yang tertancap tepat diatas pintu. Jam tersebut menunjukkan pukul sembilan malam. “Ha? Jam sembilan? Pantas saja penjaga perpustakaannya menghilang” “jadi merinding bila lama-lama disini, lebih baik aku pergi secepatnya” segera Luna membereskan leptop beserta buku-bukunya dan berlari terbirit-birit keluar dari perpustakaan. Ya! Memang lampu di perpustakaan jika sudah lebih dari jam tujuh malam akan menjadi remang-remang dan… kau tahu? Suasananya sangat mencekam *kenapa jd FF horor? Wkwkw kembali ke topik.*

“Aish, jam sembilan malam? Aku akan pulang sendiri nanti” Luna merutuki dirinya. Saking seriusnya mengerjakan skripsi dan mempersiapkan untuk sidang beberapa bulan lagi, ia belajar hingga tak kenal waktu. “Bagaimana ini? Aku takut jika sendirian” keluh Luna lagi. Tiba-tiba dari kejauhan, ia melihat siluet seseorang yang berada dibalik lorong menuju ruang perpustakaan. Tubuhnya terlihat tinggi besar dan.. ia berjalan mendekat kearah Luna. Sontak, iapun mengeluarkan butiran keringat dingin dan mulai gagap cara bicaranya. *tuh kan FF horor lagi hhahaah.* “Si..si..siapa i..itu?” Luna mulai mundur perlahan, “Ja..ja..jangan me..me..mendeka..kat ke.. a..arah..k..ku” ketakutan dan kegagapan(?) yang ia rasakan makin menjadi dan ia hanya bisa berbalik arah lalu menutup matanya rapat-rapat. Kakinya terasa sangat berat untuk berlari, bahkan berjalan normal saja terasa kaku dan mati rasa, entah seberapa takutnya anak ini.

“Hei! Luna! Sedang apa kau disini?” suara berat seorang lelaki membuat Luna berbalik. Siapa tahu itu adiknya, Lay. Jadi, ia bisa menemani Luna pulang seperti biasa. Ketika  ia berbalik perlahan dan menatap wajah seseorang yang bersuara berat tadi, ketakutannya semakin menjadi. “Hyaaaaaa! Hantu! Ayah! Ibu! Aaaaa…” kali ini ia berhasil lari terbirit-birit. Entah kemana ia lari, sama seperti scene di film-film horror yang sering ia tonton dan sekarang ia mengalaminya sendiri. “Luna.. jangan lari! Awas! Nanti kau ter..” belum selesai lelaki bersuara berat ini memperingatkan Luna, kejadian yang ia takutkan terjadi.

“BRUKKK!” Suara tubuh seseorang jatuh dan menabrak dua tong sampah sekaligus membuat Luna menyerngit kesakitan. Pantatnya yang tepat terpentul di lantai, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Dari belakang, lelaki bersuara berat ini mendekatinya. Luna hanya bisa diam dan menutup mata, pasrah akan apa yang akan pria ini lakukan padanya. “Luna, ayo berdiri” sedikit demi sedikit, kelopak matanya terbuka. Ia melihat ada tangan terulur disebelahnya, dengan sedikit perasaan takut, Luna mencoba menelusuri siapa pria itu. “Jangan takut, ini aku..” “Kris?” teriak Luna menggema diseluruh lorong. “Iya ini aku, ayo bangkit” Kris tersenyum lebar, walau telinganya sedikit sakit mendengar teriakan Luna. “Ah, aku bisa bangun sendiri” ia menolak bantuan Kris dan segera bangkit dari duduknya lalu membersihkan bagian celana jeansnya yang kotor.

“Sedang apa kau disini malam-malam? Kampus ini sedikit horror jika sudah jam delapan keatas” Kris tersenyum jail saat berpura-pura menakuti Luna. “Ah! Jangan bercanda! Mau horror atau tidak horror, aku tidak takut!” ia merasa sangat berdusta pada dirinya sendiri, padahal ia takut setengah mati. “Yakin kau tidak takut?” godaan Kris semakin menjadi dan membuat Luna kehabisan kata-kata. “A..a..aku yakin!” berusaha tegas, namun kata-katanya masih saja gagap. “Jangan bohong, aku tahu kau ini takut. Ayo kuantar pulang, jika kau tidak berani pulang sendirian.” “Tidak usah! Terimakasih, ok?” dengan cepat, ia tegas menolak tawaran Kris. “Sekali lagi, yakin ingin pulang sendiri?” “Arrgghh! Kenapa ia tahu jika aku takut?” batin Luna. “Berdasarkan apa kau berkata jika aku takut?” “tadi, kau yang mengucapkannya” “ja..jadi, kau dengar?” “jelas, aku mendengarnya. Yasudah, ayo pulang bersama ku saja. Anak perempuan tidak boleh pulang terlalu larut malam” “kau duluan saja Kris. Aku bisa pulang sendiri.” “Kau benar-benar yakin? Biasanya jam segini jalanan tidak aman” Kris kembali tersenyum jahil sambil mengangkat pergelangan tangan kanannya dan melihat kearah jam tangan yang ia pakai. “Kris! Kali ini kau… teramat sangat menyebalkan!” pikir Luna dalam-dalam. “Ah, baiklah! Terpaksa aku terima tawaranmu” “tawaran apa?” Kris berpura lupa, agar terlihat seperti Luna yang meminta ditemaninya pulang. “Iya! Ayo temani aku pulang! Puas?” mata Luna membesar seperti bola matanya ingin keluar. “Ok! Baik noona!” kali ini Kris tersenyum senang, ahkirnya dapat kesempatan pulang bersama Luna.

—***—

            Karena begitu takutnya Luna akan gelapnya kampus, yah.. Walau diterangi beberapa lampu, tetap saja ia merasa takut karena suasana yang remang-remang dan sepi. Langkah kakinya semakin cepat menuruni anak tangga. Suara sepatu yang menggema dan terasa buru-buru, kini telah mendarat diatas tanah. Lebih tepatnya ditempat parkir. Luna segera buru-buru mencari mobil silvernya, berlari kearah kanan, kekiri dan kepalanya celingukan kesana kemari. Kris yang memang sedari tadi bingung melihat Luna yang juga sedang kebingungan, perlahan mendekat dan menepuk pundaknya. “Aaaa…! Kau mengagetkanku!” Luna terlonjak kaget karena seseorang menepuk pundaknya. “Dari tadi kan aku dibelakangmu. Kau sedang mencari apa?” “mobilku” jawab Luna sambil matanya masih melihat sekeliling. “Mobilmu? Bukannya tadi Lay yang membawa mobilmu pulang?” “ah, iya. Aku lupa!” Luna menepuk keningnya keras. Sungguh sangat pelupa ia kini. “Kau ini bagaimana? Tadi sudah setuju pulang bersamaku.” “Iya! Maaf, aku memang pelupa! Yasudah ayo pulang!” jawab Luna dengan nada kesal.

Kris mempersilahkan Luna melangkahkan kakinya masuk dalam mobilnya dan menutupkan pintu seolah Luna adalah tuan putri. Baru Kris yang berikutnya masuk dalam mobil. Di dalam mobil hitam yang kini mereka tumpangi, Kris maupun Luna merasa sangat canggung. Walaupun suara gemuruh jantung Kris yang berdebar keras amat terasa, menjadi salah satu kendala untuk mulai berbicara pada wanita disebelahnya. Dari pada Luna merasa seperti sepasang manusia yang sedang berperang dingin, ia yang mulai mengucapkan kalimat. “Kris..” Luna berbicara tanpa menoleh sedikitpun. “Ya?” “Kau tahu? Aku sudah putus dengan Chanyeol?” “Hah! Kenapa ia harus membicarakan si..si.. tiang listrik itu?” *padahal juga Kris tingginya sama kaya Chanyeol wkwk.* tanyanya dalam hati. “Em, iya.  Memangnya kenapa? Kalian kembali bersama lagi?” jawab Kris datar tanpa menoleh kearah wanita yang duduk disampingnya. “Ha? Apa katamu?” Luna terkejut akan pertanyaan Kris yang tak ia duga. Padahal, dalam pikirannya, Kris akan senang atau bahkan cemburu mendengar Luna berbicara tentang Chanyeol. “Aduh, noona. Jangan teriak!” pinta Kris pelan. “Hyaaaa!! Jangan panggil aku noona, memangnya aku jauh lebih tua dibanding kau apa?” teriakan Luna kembali memekakan gendang telinga Kris, hingga rasanya ingin pecah sekarang juga. “Iya, iya baiklah. Tapi jangan berteriak lagi” kata lelaki jangkung ini sambil menutup telinga sebelah kirinya dengan tangan kiri pula.

“Oya, kenapa kau bisa bertanya padaku seperti itu?” “aku hanya mengira-ngira saja” “Tapi itu mustahil Kris” tiba-tiba suasana hati Luna berubah menjadi haru dan kepalanya tertunduk lesu. Sebenarnya Kris sudah muak tiap kali melihat Luna bersedih bahkan menangis jika mengingat Chanyeol. Tapi, bagaimanapun juga Luna adalah pujaan hatinya dan Kris seperti merasakan juga apa yang Luna rasakan. “Em.. Sudahlah Luna, itu hanya masa lalu yang mungkin.. yah, harus kau lupakan” tangan kiri Kris yang sudah terangkat setengah hendak menyentuh pundak Luna untuk menenagkannya, tiba-tiba ia urungkan. Kris takut jika Luna tahu perasaan yang sebenarnya pada wanita ini. Walau itu terlalu berlebihan, hanya karena menenangkan Luna, tiba-tiba si pujaan hati tahu isi hati Kris yang sebenarnya.

“Luna, sudah sampai didepan halaman rumahmu” kata-kata lembut Kris membuyarkan lamunan Luna, ia pun segera menoleh kearah yang empunya suara dan tersenyum tipis. “Ah, terimakasih. Oya, bagaimana kau bisa tahu rumahku?” “oh itu, ayahku sering lewat sini dan aku juga pernah lewat sini. Untung aku masih ingat jalannya.” Tiba-tiba Luna teringat akan kematian anjing albinonya yang disebabkan oleh ayahnya Kris. Pantas saja ayahnya sering lewat sini, yang menabrak saja ayahnya. “Luna?” Kris mengibas-ibaskan punggung tangan kanannya tepat didepan kedua mata Luna. “Ah, iya. Maaf tadi aku melamun” “melamunkan Chanyeol?” “lagi-lagi membahas Chanyeol” batin Luna. “Sudahlah, jangan bahas siapa.. si tiang apalah itu” “tiang listrik” Kris membenarkan. “Ya, terserahlah tiang jemuran juga boleh. Aku masuk kerumah dulu ya, ini sudah, apa!?” Luna kembali membuat gendang telinga Kris hampir pecah. Ia berteriak terkejut agak mendramatisir sambil melihat jam dipergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Korea. “Aduh, aku bisa kena marah ayah dan ibu. Yasudah, aku masuk dulu. Bye~ see you tomorrow at our SIU~ *sebutan beken buat kampusnya.* Luna segera membuka pintu mobil bagian kiri dan melangkahkan kakinya satu persatu dan melesat hingga hilang dibalik pintu rumahnya. Kris hanya bisa terdiam dan melihat punggung Luna hingga tenggelam dibalik pintu. “Bye~” Kris membalasnya ketika Luna sudah masuk ke rumahnya. “Huuhh..” Kris menghela nafas berat. Jantungnya kali ini masih belum bisa berhenti berdetak keras, belum kembali seperti normal biasanya. Begitu emasnya kesempatan ini untuk mengantar Luna pulang kerumah. “Seandainya Chanyeol tak mengisi hari-harinya, bahkan hatinya” Kris mengguman dan ia merasa hatinya begitu sakit seperti tertusuk ribuan pisau. Dibalik itu semua, Chanyeol juga merupakan teman mainnya sejak kecil. Ia tahu Kris menyukai Luna, tapi… kenapa Chanyeol tega pada dirinya? “Ah, aku seperti anak kecil saja” Kris seraya tertawa kecil sambil memandangi wajahnya di spion depan mobil. Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa seorang perempuan yang melengking dari luar mobilnya. Bulu kuduk Kris mulai berdiri dan butiran-butiran kristal yang terasa dingin dikulit menyengatnya. “Halusinasiku mulai lagi. Kenapa jadi aku yang takut?” Iapun merutuki dirinya sendiri. “Sudahlah, lama-lama tempat ini horor seperti di kampus tadi.” Segera ia menyalakan stater mobilnya dan menekan gas hingga mobil Kris dapat beranjak dari tempat itu.

—***—

            Luna kembali mengingat perkataan Kris dimana ia berkata, . “Em, iya.  Memangnya kenapa? Kalian kembali bersama lagi?” “Haih! Kenapa ia bisa berkata seperti itu? Bukanya dia suka padaku? Bisakah dia pura-pura mengelak atau mengalihkan pembicaraan? Bukannya bertanya seperti itu”seru Luna sambil menepuk-nepuk keras bantalnya diatas kasur.

Ponsel yang ia letakkan diatas tasnya bergetar beberapa kali. Untung saja getarannya keras.  Jadi, membuat gendangnya tersentuh. Reflek, tangan kanan Luna mengambil ponselnya dan ia melihat sebuah nama terpampang dilayar ponsel. “Haish, orang ini lagi.” Dengan malas, ia mengangkat telepon tersebut.

—***—

 

Ahihihik… *tawa ala bernard bear :p* bersambong lageeee

Tunggu chap selanjutnya yaaa 😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s