XOXO (Kiss and Hug) The Series (Don’t Go-D.O Version)

Xoxo (kiss and hug) the series (don’t go – D.O ver)

Author: laelynur66

 

Main cast: Do Kyungsoo (exo)

            Hyejin  (oc)

Support cast: all member Exo

 

Length: chapter or Series (?)

 

Genre: friendship, sad

 

Rating: PG-15

 

Authior note : balik lagi bersama author ga jelas ini. Pertama2 terima kasih masih tetap mau baca ff ini!!! T0T…. kedua, bagi reader yang biasnya kyungsoo, di persilahkan buat nabok authornya!!! Author juga biasnya kyungsoo nihh, author gatau diri yang seenak jidatnya ngebully bias sendirii.. huaaaaa mianhae, kyungsoo-yaa!! *nangis di pojokan* maaf juga kalau bnyak typo merajalela.. hueheheheheeh.. oh ya, semua versi author udah punya kok naskahnya, tergantung cepat atau lambatnya admin yang ngepost ajja! Huekekekekekek *pissmiinn!!!*. Semakin cepat dipost, semakin cepat author ngirimnya. Oke cukup.

*bowbarengkyungsoo*

 

The story ended without even starting.

PhotoGrid_1381153088620

***

 

“kau akan pergi?”

“ya”

“kau akan meninggalkanku?”

“tentu saja”

“tapi, kenapa?”

“entahlah”

 

***

 

Kejadian itu berulang kembali untuk kedua kalinya. Saat di mana aku berlari meninggalkan taksi yang kutumpangi tanpa membayar, saat nafasku terasa menggantung di kerongkonganku, ketika aku tidak menemukannya di kerumunan orang di bandara Incheon. Saat rasa frustasi begitu menyerangku.

Sekarang di sinilah aku, duduk tepat di sampingnya di ruang tunggu, memandangi wajah tanpa ekspresinya dari samping. Sosok satu tahun lalu yang begitu kukagumi, sosok yang diam-diam kucintai satu tahun yang lalu, sosok yang satu tahun lalu meninggalkanku tanpa berkata apapun tanpa memberiku kesempatan untuk mengatakan apapun. Dan sekarang kenyataan pahit yang harus kuterima adalah dia akan kembali pergi.

“noona!” panggilku. Tidak ada respon sama sekali. Aku mencoba menyentuh bahunya saat pemilik mata indah itu memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti.

“kenapa, kenapa kau melakukan ini padaku noona?” tanyaku dengan suara serak.

“apa? Aku melakukan apa padamu?” tanyanya dingin.

“dulu, kau pergi tanpa memberitahuku, sekarang kau kembali dan tidak juga memberitahu. Apa aku tidak penting lagi bagimu hingga aku baru tau di saat terakhir kau akan pergi lagi?” dapat kurasakan suaraku bergetar, air mataku pun sudah menyeruak di pelupuk mataku.

“aku harus pergi!” serunya tanpa menghiraukanku lalu bangkit berdiri. Aku bangkit dari dudukku dan memandang sosoknya dari belakang

“aku mencintaimu noona, aku menyukaimu! tidakkah itu cukup untukmu tetap tinggal dan bersamaku di sini?” kataku sesaat setelah Hyejin noona melangkah. Langkahnya terhenti, lalu berbalik kembali menghadapku.

“cukup, itu cukup Kyungsoo-ya. Bahkan lebih dari cukup untukku! Tapi, justru semua itulah yang harus membuatku pergi. Aku ingin bersamamu Kyungsoo-ya, tapi keadaan yang tidak memungkinkan” katanya padaku. aku membatu di tempatku.

“keadaan seperti apa yang tidak memungkin itu noona? Kenapa noona? Kenapa?” aku benar-benar sudah tidak mampu membendung airmataku. Aku tau sebagai laki-laki menangis itu adalah pantangan, tapi kurasa disaat seperti ini menangis itu adalah suatu keharusan.

“lihat dirimu, Kyungsoo-ya. Kau seorang idol, seluruh dunia mengenalmu, sementara aku? Aku siapa bagimu! Kau sangat dekat denganku, tapi tahukah kau aku selalu merasa bahwa kau sangat jauh dalam jangkauanku!” Hyejin noona mulai terisak di hadapanku dan beberapa orang yang berlalu lalang mulai memperhatikan kami.

“biarkan aku pergi Kyungsoo!” tambahnya lalu berbalik dan berjalan meninggalkanku tanpa sekalipun menoleh padaku, sosoknya terus menjauh dari hadapanku, keadaan sekitarku seakan blur Karena fokusku hanya tertuju padanya. Pandanganku semakin kabur karena airmata yang membanjiri mataku, tapi sosoknya yang semakin menjauh itu justru semakin jelas. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan jika itu semua adalah alasan yang digunakannya untuk meninggalkanku, aku mencintainya sungguh, tapi status dan ketenaranku juga penting bagiku. Dia adalah harapanku. Tapi menjadi seorang idol adalah impianku.

Dengan perasaan, hati, jiwa dan tubuhku terasa hancur lebur aku berjalan keluar meninggalkan ruang tunggu bandara, aku harus kembali ke dorm mengistirahatkan jiwa dan hatiku.

 

***

 

Braaak!

Dengan kasar aku membanting pintu kamarku, suasana ruang tamu yang begitu ramai dengan gelak tawa para hyung dan dongsaengku mendadak sepi. Rasa menyesal sedikit terasa di hatiku, tapi begitu mengingat betapa hancurnya hatiku saat ini semuanya tampak tidak mengapa bagiku. Dan di sinilah aku, di kamarku. Dan beginilah keadaanku, melakukan hal yang paling di pantang oleh para lelaki, menangis. Ini semua karenanya. Dua kali dia pergi meninggalkanku dan dua kali pula aku membiarkannya pergi. Kutarik nafasku dalam-dalam. Percayalah, menangis tanpa suara itu lebih menyakitkan daripada menangis meraung-raung. Dengan kepala kutelungkupkan pada tanganku aku duduk dan menangis saat kurasa seseorang membuka pintu dan berjalan ke arahku.

“hyung? Apa yang terjadi?” suara husky milik Jongin memecah keheninganku. Masih dengan posisiku sebelumnya aku menggeleng.

“hyung!” panggilnya lagi dan menyentuh pundakku.

“aku ingin sendiri Jongin-ahh!” desahku pelan.

“baik aku akan membiarkanmu sendiri, tapi katakan dulu ada apa?” seru Jongin. “apa ini karena Hyejin noona?” tambahnya. Hyejin noona, hanya dengan mendengar namanya disebut rasa sakit itu kembali menyeruak. Dengan segenap tenagaku aku mendongak menatap Jongin.

“hyung. Kau menangis?” tanyanya khawatir dan berjongkok di hadapanku. Aku hanya bisa menatapnya dengan airmata yang masih mengalir di pipiku lalu mengangguk, bodoh, tentu saja aku menangis. Dengan sangat pelan Jongin menepuk pundakku.

“dia pergi Jongin-ahh, dia pergi lagi!” aku kembali terisak. “dia meninggalkanku lagi Jongin-ahh”

“apa ini seperti tahun lalu? Saat dia pergi tanpa memberitahumu?” Tanya Jongin sinis. Aku tau Jongin tidak begitu menyukai Hyejin noona. Tapi aku juga tau dia berusaha menutupinya. Dan aku menghargai itu.

“aku sudah mengatakannyakan? Berhenti mencintainya hyung! Dia tidak pantas untukmu. Apa lagi yang kau harap dari orang yang meninggalkanmu? Apa yang kau harap dari cinta sepihak yang kau jalani ini! berhenti mencintainya!” cerca Jongin dengan penuh amarah. Rasa sakit di dadaku semakin terasa tatkala hatiku membenarkan perkataaan Jongin, apa yang kuharap dari semua ini.

“tapi Jongin, dia mencintaiku juga, hanya saja dia harus pergi!” cicitku nyaris tidak terdengar sama sekali.

“dengarkan aku hyung. Orang yang mencintaimu akan selalu berada di dekatmu. Tidak dengan meninggalkanmu seperti ini!” nada suara Jongin mulai terdengar baik. “apa yang dikatakannya padamu?” tanya Jongin.

“dia tidak bisa bersamaku karena aku seorang idol” jawabku dengan suara yang masih sedikit bergetar.

“hahah, omong kosong hyung! Dan kau percaya?” maki Jongin. Aku mengangguk. Jongin tertawa sinis.

“sekarang bersihkan wajahmu, kau tampak menyedihkan hyung!” ujar Jongin lalu bangkit berdiri dan melangkah meninggalkanku.

“hyung, wanita itu tidak hanya Hyejin noona, aku akan mencarikanmu yang lebih baik lagi!” ucap Jongin sesaat sebelum menutup pintu.

Rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya. Wanita itu tidak hanya Hyejin noona. Kata-kata Jongin itu yang membuatku sedikit kuat. Ya, wanita tidak hanya Hyejin noona.

 

***

 

Pagi ini saat para member masih berada di alam mimpi mereka dan aku sudah berada di alam sadarku aku melaksanakan ritual sehari-hariku. Setelah mandi dan memakai seragamku, aku berjalan ke dapur dan mengenakan celemek lalu mulai membuat sarapan untuk para member. Suho hyung terkejut saat melihatku sudah berada di dapur dengan peralatan ‘perang’ di tanganku, membantuku membangunkan para member. Jadwal kami hari ini hanya sekolah hingga siang hari dan selanjutnya akan tampil di beberapa show, begitu kata Suho hyung yang sudah bertengger di kursi kebesarannya dengan ipad di tangan dan secangkir kopi di hadapannya.

Tidak berapa lama dengan mata setengah terpejam Sehun datang dan langsung menarik kursi lalu duduk di hadapan Suho hyung, di susul Chen hyung, Xiumin hyung, Luhan hyung, Lay hyung, Kris hyung, chanyeol dan Baekhyun hyung datang bersamaan, lalu Tao. Hanya satu orang yang belum menampakkan dirinya.

“mana Jongin?” tanyaku pada Tao yang menelungkupkan kepalanya di meja,

“dia bilang lima menit lagi!!” jawab Tao dengan suara serak baru bangun tidurnya.

Aku melirik jam yang menunjukkan pukul setengah tujuh, ini memang masih terlalu pagi.

“bangunkan dia, kalau tidak bangun juga siram dengan air!” ucap Suho hyung dan masih fokus dengan ipad di tangannya. Tao mendongak menatap Suho hyung. “kau tau hyung  ancaman seperti itu tidak akan mempan untuknya!” ucap Tao sembari menguap.

“katakan padanya, Sohee mencarinya!” timpal Chanyeol

“sohee? Ada apa dengannya?” cerca beberapa member yang tidak mengetahui rahasia Jongin ini. Dengan sigap Tao membungkam mulut Chanyeol hyung dengan tangannya dan melotot padanya.

“ada apa ini? apa ada sesuatu yang kami tidak tau?” Tanya Suho hyung penasaran. Kurasa sangat penasaran karena ipad yang dipegangnya diletakkanya begitu saja di meja dan focus pada apa yang kami bicarakan.

“kau tidak tau hyung? Sepertinya mereka berpacaran, aku, ahh tidak, kami melihatnya nyaris berciuman di bawah pohon di taman belakang sekolah!” jelas Sehun dengan santainya sepertinya rasa kantuk sedang menggentayangi otaknya dan membuat mulutnya bocor seperti ini.

Baekhyun menjitak kepalanya dan mengucapkan kata pabo tanpa suara, sementara Chanyeol dan Tao melotot ke arahnya. Rahasia Jongin ini memang hanya aku, Tao, Sehun, Chanyeol dan Baekhyun yang tau. Suho hyung tampak syok. Kris hyung melongo, Lay hyung tidak peduli, Xiumin dan Luhan hyung saling pandang penuh arti. Mati kau Jongin-ahh!

Dan di sinilah kami, duduk mengelilingi Jongin yang tampak seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, oke, perumpamaanku memang sedikit berlebihan. Tapi sungguh, wajah Jongin terlihat begitu nelangsa saat Suho hyung menginterogasinya. Aku mundur beberapa langkah, menjauh dari para member yang berkumpul membentuk lingkaran. Membereskan meja makan dan mengangkat beberapa piring kotor. Suasana dorm begitu ramai, tapi tetap saja aku merasakan ada yang kosong di dadaku. Aku berbalik, menatap ke arah jendela menatap langit kota Seoul yang tampak cerah di musim gugur ini.

Hyejin noona? Sekarang kau berada di mana? Aku merindukanmu.

“kyungsoo-ya?” aku menoleh saat seseorang menyebut namaku dan tersenyum saat mendapati Xiumin hyung sudah bertengger di hadapan bak cuci piring menggosok beberapa piring, aku mendekat padanya. Mendengarkan ocehannya yang tidak begitu penting.

“jadi Kyungsoo-yaa, berapa member yang sudah memiliki kekasih?” tanyanya padaku tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring yang sedang digosoknya.

“entahlah, aku tidak yakin.” Jawabku singkat. Xiumin hyung menoleh menatapku.

“jangan berbohong padaku, D.O!” ucapnya dengan menekan kata d.o.

“kurasa hanya Jongin, dan Tao!” jawabku. “jangan bohong!” Xiumin hyung tidak percaya.

“yang aku tau, Jongin memang berpacaran dengan Sohee, lalu Tao dengan Eun ji tapi mereka putus. Lalu Sehun dengan Hyesoo noona..”

“hyesoo?” guru sementara di sekolah itu?” Xiumin hyung memotong perkataanku lalu melotot kaget ke arahku.

“aku tidak yakin hyung! Maka dari itu jangan memotong pembicaraanku!” protesku. Xiumin hyung mengangguk pasrah.

“lalu?” tanyanya pelan.

“hanya itu yang aku tau hyung!” kataku bersungguh-sungguh.

“lalu, bagaimana denganmu?” Xiumun hyung bertanya padaku.

“aku?”

“bagaimana dengan Hyejin..?” Xiumin hyung tidak melanjutkan perkataannya sadar akan betapa keramatnya nama itu. Kembali kurasakan rasa sakit di dadaku, rasa kosong yang kurasakan kembali menjadi rasa sakit saat mendengar namanya. Kutarik nafasku menahan gemuruh di dadaku. Lalu berbalik meninggalkan Xiumin hyung yang sepertinya sangat menyesal. Kurasa aku akan minta maaf padanya nanti.

 

***

 

“kau mau ke mana hyung?” suara Tao membuyarkanku dari lamunanku. Kami semua berbalik menatap seseorang yang di tanya oleh Tao. Lay hyung tersenyum memamerkan lesung pipi di pipi kirinya. Penampilannya tampak sangat rapi seperti seseorang yang akan berkencan.

“aku akan ke klinik, check up! Aku lupa kalau dua hari yang lalu jadwal check upku!” katanya dan berbungkuk memasang sepatunya.

“benarkah?” Tanya kami sedikit curiga.

“tentu saja!” jawabnya cepat lalu berjalan keluar.

“Lay hyung itu selalu saja lupa, bahkan untuk dirinya pun dia terkadang lupa” gumam Sehun dan mendapat jitakan dari beberapa member. Magnae satu ini memiliki kemungkinan besar untuk menjadi  seorang evil magnae.

“Kenapa kalian memukulku! Itu kenyataan!” Bela Sehun tidak terima dirinya mendapat jitakan.

“Tapikan dia hyungmu Sehun-ahh!” Sahutku. Sehun hanya cemberut.

 

***

 

Semua sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah saat ini, sebenarnya aku pun sudah siap sedari tadi, aku hanya perlu memakai sepatu. Tapi berhubung di dorm hanya aku satu-satunya orang yang peduli pada kebersihan dapur, aku selalu membersihkan dapur sembari menunggu yang lain siap dan memanggilku.

Kurogoh saku mengeluarkan ponselku, menatap lama layar ponselku. Profil Hyejin noona yang sedang tersenyum menjadi wallpaper pada layar ponselku. Aku menyembunyikan ini dari Jongin, jika Jongin tau kurasa dia akan membanting ponselku bahkan lebih parah membelahnya menjadi dua.

“D.O yaa!” Aku menoleh menatap seseorang yang memanggilku. “Hyung!” Sahutku. Lay hyung berdiri di ambang pintu dengan memegang botol obat di tangannya.

“Kyungsoo, sepertinya aku lupa meminum obatku!” Ujarnya dan berjalan ke arahku. Kukerutkan keningku menatapnya heran.

“Bukankah tadi kau sudah meminumnya hyung?” Aku bertanya heran. Aku masih mengingatnya dengan jelas, aku yang mengambilkan segelas air untuknya tadi.

“Benarkah? Seingatku, tadi itu aku meminum vitaminku!” Sahutnya ragu.

“Hyung, aku melihatnya sendirii! Kau mengeluarkan satu dari botol itu dan kau meminumnya!” Jelasku dan membuatnya mengangguk.

“Aisshhh, aku lupa!” Rutuknya pada diri sendiri.

“Sudahlah hyung!” Seruku lalu menggiringnya meninggalkan dapur.

 

“Kyungsoo!” Lay hyung memanggilku.

“Apa lagi sihh hyung!” Rungutku. Hanya tinggal kami berdua saja, menunggu pintu lift di hadapan kami terbuka.

“Aku lupa!” Gumamnya.

“Apa lagi?” Seruku sedikit kesal.

“Entahlah, aku lupa!” Sahutnya. Aku menghela nafasku pasrah.

“Ting” pintu lift terbuka.

Kulangkahkan kakiku memasuki box canggih ini diikuti oleh Lay hyung di sampingku.

“Kyungsoo!”

“Hmmm” kutatap Lay hyung yang berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding lift dengan salah satu tangannya di masukkan di saku celananya. Dengan sekali gerakan Lay hyung menarik tanganku, mengamati gelang yang kukenakan di tanganku. Menatapnya dengan seksama.

“Wae hyung?” Tanyaku heran.

“Rasanya, aku pernah melihat seseorang menggunakan gelang seperti ini!” Ucapnya sedikit ragu

“Benarkah hyung?” Tanyaku mencoba peduli. Aku tau betul Lay hyung itu seperti apa, hal yang baru beberapa saat dilakukannya pun bisa dilupakannya apalagi menyangkut hal kecil semacam ini.

“Ne, kalau tidak salah…” Lay hyung terdiam sepertinya mencoba mengingat.

“Kapan terakhir aku ke klinik?” Tambahnya.

“Tiga hari yang lalu” jawabku singkat. Lay hyung terdiam cukup lama.

“Ting” pintu lift di hadapan kami terbuka. Dengan sigap aku keluar dari box ini diikuti Lay hyung di belakangku. Menyusul para member yang sudah menunggu di lobby. Pembicaraan tentang gelang yang kukenakan pun terhenti, Lay hyung juga tidak mengungkitnya lagi.

 

***

 

“Ahhhh, hyung kepalaku pusing!!” Jongin berteriak dari dalam kamarnya. Aku, Sehun dan Tao yang sedang menonton tv mengernyit bersamaan.

“Kepalaku pusiiing hyuuung!!!” Seru Jongin lebih keras. Kutarik nafasku dan bangkit dari dudukku menghampiri Jongin yang berbaring di ranjangnya dengan posisi bantal menutupi kepalanya.

“Coba kemari!” Ucapku dan duduk di tepi ranjangnya. Jongin mengangkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuanku.

“Kau tidak demam!” Kataku sembari menepuk jidat lebarnya.

“Apakah aku harus demam dulu hyung baru kepalaku Akan pusing?” Serunya kesal. Aku terkekeh.

“Tunggu sebentar!” Kataku dan bangkit dari dudukku dan mendapat lemparan bantal dari jongin karena berdiri mendadak dan menyebabkan kepalanya membentur sisi ranjang.

“Hyuuuung!” Rungutnya.

“Mianhae, aku akan mencarikanmu obat!”

Aku melesat ke arah dapur di mana kotak p3k kusimpan. Menghamburkan isinya di meja saat aku tidak menemukan obat penghilang sakit kepala.

“Sehun-ahh!” Aku memanggil Sehun dari arah dapur.

“Wae hyuuuuung!!” Sahutnya. “Dan aku tidak mau jika kau menyuruhku keluar hanya untuk membeli obat!” Tambahnya. Aishhhh, bocah itu!

“Tao!” Teriakku lagi.

“Anggap saja aku imposibble hyung!” Serunya. Hahhhh, duo magnae ini sama sekali tidak berguna. Seandainya Kris hyung ada, kurasa dia akan dengan senang hati melakukannya.

Aku berjalan meninggalkan dapur dan menatap sebal pada Sehun dan Tao yang sedang tersenyum lebar menatapku juga.

“Jongin, tunggu sebentar ne!” Ucapku di ambang pintu kamar Jongin, lalu dengan cepat aku mengambil jaket masker wajah dan kacamata.

“Hati-Hati hyuuung!” Seru Tao dan Sehun bersamaan, lalu terkekeh.

 

***

 

Angin musim gugur sedikit dingin saat ini membawa hembusan udara musim dingin yang akan segera tiba, kurapatkan jaket yang kukenakan, berjalan di trotoar yang dipenuhi dedaunan berwarna kecokelatan yang berguguran dari pohon maple yang berjejer di sebelah kananku, berada di keramaian tapi entah kenapa aku selalu merasa kosong dan hampa. Hyejin noona kau menyukai musim gugurkan? Apakah di sana juga sedang musim gugur? Kuhembuskan nafasku pelan dan berbelok memasuki sebuah apotek. Mengambil nomor antrian dan menunggu nomorku di panggil. Beberapa orang menatap heran padaku, mungkin dari caraku berpakaian, atau karena aku menggunakan kacamata padahal awan musim gugur saat ini sangat kelabu, matahari bahkan tidak menampakkan diri hanya membiaskan cahayanya. Kurasakan ponselku bergetar lalu mengeluarkannya dari sakuku.

 

From: kkamjong

hyung, kepalaku sudah kembali baik! Cepatlah kembali, kami lapar!!!.

 

Aku mendengus membacanya dan tidak beringsut dari tempatku, memutuskan untuk tetap menunggu. Setidaknya jika ada member yang sakit aku sudah memiliki persiapan obat. Aku kembali menunggu. Termangu duduk di tempatku, kulayangkan pandanganku pada kaca besar di sampingku. Memandang orang yang berlalu lalang, beberapa berhenti dan berbelok masuk pada sebuah cafe di seberang jalan, menikmati secangkir kopi di cuaca seperti ini memang pilihan tepat kurasa. Saat indra penglihatanku menangkap sosok yang sangat kukenal berjalan keluar dari salah satu cafe di seberang jalan dengan membawa satu cup kopi di tanganya. Alam bawah sadarku begitu mengenali sosok yang sedang berdiri di seberang jalan menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Hyejin noona? Aku yakin itu dia walaupun terlihat sedikit kurus, tapi aku yakin jika itu dia, aku benar-benar mengenali sosoknya. Aku bangkit dari dudukku dan berlari dengan cepat menyusul Hyejin noona di seberang jalan yang sudah berjalan menjauh. Jika saja jalan yang kulalui ini tidak begitu dipadati orang yang berlalu lalang, mungkin aku sudah bisa menyusulnya. Waktuku tersita dengan meminta maaf pada orang yang kutabrak. Aku kembali mendongak mencari sosoknya, kusapukan pandanganku segala penjuru tapi sosoknya sudah menghilang, aku tidak melihatnya di manapun.

Rasa frustasi menyerangku. “Hyejin noona” desahku pelan memanggil namanya.

Waktu terasa berjalan begitu cepat, deru kendaraan, suara gelak tawa, percakapan dari orang yang berlalu lalang di sekitarku tampak terdengar samar di telingaku. Aku berdiri termangu di tempatku, menatap kosong pada jalanan di hadapanku dan samar-samar aku bisa mencium aroma roti manis yang baru saja keluar dari pemanggang, mungkin dari cafe yang berada tepat di belakangku. Tapi semua itu tidak mampu mengalihkan perhatianku. Saat ini aku benar-benar merasa kosong, lubang di hatiku menganga lebar, rasa sakit itu semakin terasa. Hyejin noona, benarkah itu dia? Sebenarnya apa yang terjadi? Jika benar itu dia.. berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalaku. Kusentuh gelang yang tersemat di lenganku, gelang pemberian darinya, masih tergambar jelas di benakku bagaimana dengan bangganya Hyejin noona mengatakan bahwa gelang ini hanya ada dua di dunia. Gelang spesial yang didesain khusus olehnya, untukku dan untuknya. Aku tersentak saat menyadari hal kecil yang kulupakan karena ketidakpedulianku. Aku kembali teringat pada percakapanku dengan Lay hyung satu minggu yang lalu saat di lift. Seseorang dengan gelang yang sama seperti yang kukenakan. Dengan cepat kulangkahkan kakiku kembali ke dorm. Aku harus menanyakannya kembali pada Lay hyung, kalaupun dia melupakannya, aku harus membuatnya mengingat kembali. Harus.

 

***

 

“Hyuuung!” Aku menjawil pundak Lay hyung yang sedang duduk santai menonton tv.

“Ne?”

“Hyung, lihat ini” seruku lalu menunjukkan gelang yang kukenakan di hadapannya.

“Hmmm” gumamnya. “Ada apa dengan gelangmu?” Tambahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari gelangku.

“Kau ingat hyung, waktu itu kau pernah mengatakan padaku bahwa kau pernah melihat seseorang menggunakan gelang seperti ini!” Jelasku dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulut.

“Benarkah? Akuu..”

“Iya hyuung, kau pernah mengatakannya! Cobalah ingat kembali!” Aku memotong perkataannya karena aku tau Lay hyung akan mengatakan bahwa dia sudah tidak mengingatnya.

“Gelang, gelang, gelang yang sama dengan Kyungsoo” Lay hyung bergumam sembari memejamkan matanya, mungkin berusaha mengingat.

“Ahh, bukankah aku sudah mengatakannya padamu?” Serunya dan menatapku bingung.

“Belum hyung, kau belum mengatakan apapun!” Seruku bersemangat.

“Satu minggu yang lalu saat aku di klinik, aku melihat seorang yeoja yang memakai gelang yang sama denganmu!” Kata Lay hyung dan menyentuh gelang di lenganku. “Kurasa itu yang ingin  kukatakan padamu waktu itu!” Tambahnya lalu menatap wajahku.

“Di mana hyuuung?” Tanyaku sedikit tidak sabar

“Mmm, di klinik! Waktu itu perawat sedang mengambil darahku untuk diperiksa, lalu yeoja itu duduk di sebelahku sedang di ambil darahnya juga” Ujar Lay hyung berusaha mengingat.

Aku terdiam, jika benar itu Hyejin Noona, untuk apa dia memeriksakan darahnya?

“Kau melihat wajahnya hyuuung?” Tanyaku lagi.

“Mmmmm…”

“Lihat, apa wajahnya seperti ini hyung?” Seruku lalu menunjukkan poto Hyejin noona di ponselku pada Lay hyung.

Lay hyung menggeleng, “kalaupun aku melihatnya mungkin aku sudah lupa! Lagipula aku tidak begitu memperhatikan wajahnya, aku sibuk berbicara pada perawat yang menanganiku!” Ucap Lay hyung dan menjauhkan ponselku darinya.

“Aisshhh, hyung! Cobalah ingat lagii!!!” Desakku.

“Aisshh, kenapa kau tidak ikut saja nanti saat aku mengambil hasil check upku? Mungkin orang itu akan kembali lagi mengambil hasil check upnya!”

Aku terdiam, jika memang benar itu dia apa yang harus kulakukan? Tapi saran dari Lay hyung juga kurasa aku harus mengikutinya. Setidaknya aku sudah mencoba.

“Kyungsoo? Gwenchana?” Tanya Lay hyung. Aku mengangguk.

“Memang ada apa dengan gelang itu?” Tanya Lay hyung lagi.

Aku kembali terdiam.

“Kyungsoo-yaa?”

“Gelang ini, hanya aku dan Hyejin noona yang memilikinya hyung!” Cicitku. Lay hyung mengangguk, “Aku mengerti!” Sahutnya. “Minggu depan, ikutlah denganku!” Tambahnya dan tersenyum simpul. Aku mengangguk dalam diam, bersyukur dalam hati tidak perlu menjelaskan lebih dalam padanya, tapi Lay hyung mengerti.

“Hyung, bisakah kau merahasiakan ini?” Pintaku lalu menatap sekelilingku, beruntung memang hanya ada kami berdua di sini. Lay hyung kembali mengangguk tanpa bertanya apa-apa lagi.

 

***

 

 

8 pemikiran pada “XOXO (Kiss and Hug) The Series (Don’t Go-D.O Version)

  1. eh? udah slesai?
    ini end ato tbc thor?
    kmaren yg kai vers. jg bgini,
    ato critanya mau d buat chapter yah?
    kalo iya d tnggu lanjutan ny nd crita dr member lainnya, ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s