Heir & Heiress (Chapter 7)

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 7: Freedom In Front Of Your Eyes.

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-M), SOOJUNG (F(X)). & the others, find by your own.

SUMMARY:

The story about Cold-hearted Heir & Heiress. Terjebak dalam sangkar emas. Arranged marriage yang sudah biasa terjadi dalam kalangan kelas atas seperti mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menurut. Hari tetap berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah disaat salah satu menemukan jalan menuju kebebasan di depan matanya, perasaan yang mulai berubah, dan hidup mereka yang menjadi semakin rumit.

Everything ended by a choice.

 

FOREWORDS:

@sagitrp: Annyeong Haseyo! Wohoo~ sudah chapter 7 sudah semakin dekat dengan bau-bau ending. Menurutku sih, chapter 7 ini fluff banget, jadi aku saranin buat siap-siap mental envy sama Haera ya *evil laugh* Seperti biasa, maaf kalo ada keterbatasan-keterbatasan pada chapter ini dan terimakasih sebanyak-banyaknya karena udah setia buat ngikutin Heir & Heiress sampai chapter ini *deep bows*

COMMENTS & LIKES R HIGHLY APPRECIATED!

Mind to visit & follow our blog? At http://www.beautywolfff.wordpress.com

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

 1377344880971 (1)

YOON HAERA’S POV.

Days passed…A Year passed.

Everything has changed.

“I don’t know why, but for some reason, it’s like I feel, the wall surrounding my heart is slowly breaking down.

Not immediately but…

Slowly..”

–          Yoon Haera

 

“Selamat pagi.”

Suara Sehun yang agak sedikit serak menjadi pembuka hariku pagi ini. Dengan sorot mata yang masih sayu dan terkantuk-kantuk, ia berjalan menuju meja makan dan mengambil tempat duduk di salah satu kursinya.

“Oh, hai Sehun-ah. Pagi.” Aku menjawabnya singkat. Aku mengarahkan langkah kakiku menuju jendela dan membuka tirainya. Cahaya matahari menerobos masuk dan membuat ruang makan menjadi semakin terang. Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha beradaptasi dengan cahaya. Setelah itu aku duduk tepat di hadapan Sehun. Mengambil satu roti tawar dan mengoleskan selai blueberry di atasnya.

Keadaan di meja makan menjadi sedikit tenang.

“Jadi…” Sehun akhirnya memulai pembicaraan. Memecah keheningan di antara kami.

“Mau kemana kita hari ini?” Tanyanya. Ia mengambil teko di dekatnya dan menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Lalu mulai menyeruputnya pelan, sembari menunggu jawabanku.

Aku berpikir sebentar, lalu akhirnya memutuskan.

“Ah, kita tidak usah pergi hari ini. Terlalu sering kita keluar berjalan-jalan. Bagaimana kalau di rumah saja?” Aku mencoba memberi saran. Sehun mulai mempertimbangkan saranku. Tak lama kemudian, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah. Hari ini kita dirumah.” Ia tersenyum. Aku mengulurkan roti yang baru saja kuoleskan selai blueberry itu padanya. Tanpa ada penolakan, diambilnya roti itu. Aku ikut mengoleskan selai strawberry ke rotiku sendiri.

Kami mengobrol sedikit di pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan saat bersamanya, ditemani roti berselai kesukaan masing-masing dan secangkir teh di pagi hari.

Lalu di akhir pembicaraan kami, ia menambahkan kalimat yang membuat dadaku berdegup kencang.

“Sepertinya menghabiskan weekend di rumah hari ini denganmu akan menyenangkan.” Sehun tersenyum lagi.

Pipiku mulai memanas.

I’m kinda used to see that sweetest smile from his lips.

 

**********

 

Dan kami akhirnya berada di sini. Di ruang tengah. Mataku tak lepas dari buku yang kupegang. Sementara Sehun menatap lurus ke televisi, sambil memegang stik Playstation-nya. Terkadang ia berteriak sendiri, terkadang ia bahkan mengomel sendiri saat game yang ia mainkan berakhir dengan kekalahan. Aku yang berada di sebelahnya hanya meliriknya sambil tersenyum kecil. Sehun benar-benar terlihat seperti anak kecil sekarang. Aku sedikit-sedikit mulai mengambil kue kering di meja dan kumasukkan dalam mulut sembari membaca buku.

“Buku apa yang sedang kau baca, Haera-ya?” Tanyanya tanpa melepas pandangan dari layar. Aku menjawab pelan.

“Peter Pan.”

“Ah, cerita itu.” Ia menanggapi. “Cerita jahat. Peter Pan benar-benar anak yang nakal.”

Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya penasaran.

“ Maksudmu?” Aku menegakkan sandaran dudukku dan mulai memasang telinga untuk mendengar penjelasannya. Sehun menekan tombol pause dan menaruh stiknya di meja. Lalu ia mulai membenarkan duduknya. Setelah itu ia menoleh ke arahku, menatapku balik. Kini kami duduk berhadap-hadapan. Mata kami saling berpandangan.

 

“Bayangkan saja. Bagaimana perasaanmu menjadi Tinkerbell?” Sehun menjawab sekaligus memberiku pertanyaan. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi.

Tinkerbell? Apa yang salah dengannya?

Melihat responku yang seperti orang kebingungan, ia mulai menjelaskan.

“Bagaimana perasaanmu menjadi Tinkerbell? Tinkerbell adalah peri yang menyukai Peter Pan dan selalu setia bersamanya. Selalu menolongnya, dan akan selalu ada untuknya. Peter Pan juga selalu menahannya untuk tetap tinggal. Tidak mau melepaskan Tinkerbell.” Sehun memberi jeda sebentar. Ia mengambil satu kue kering yang kubawa dan mengunyahnya pelan di mulut.

“Dan?”

“Dan ia malah jatuh cinta dengan Wendy, tapi tetap saja ia tidak mau Tinkerbell pergi meninggalkannya. Benar-benar jahat.” Sehun mengakhiri perkataannya.

“Ah…” Aku diam sesaat. Sehun benar. Ia memang selalu bisa melihat cerita dari sudut pandang yang berbeda. Karena Sehun, pandanganku terhadap sesuatu lama-kelamaan mulai bertambah. Aku mulai bisa melihat sisi lain dari sebuah cerita karena dia.

Dia memang laki-laki yang istimewa.

Don’t take it the way too serious, Haera. Perasaan manusia memang tidak bisa ditebak.” Sehun tertawa. Lalu mulai mengacak-acak rambutku.“Semua orang akan berubah. Perasaan juga akan berubah seiring dengan waktu.” Katanya. Tangannya sedari tadi bergerak berulang-ulang memasukkan satu persatu kue kering yang ia ambil dari toples yang kubawa ke mulutnya.

“Harus kuakui, lagi-lagi kau benar.” Jawabku.

“Hmm. Sepertimu juga. Sadarkah kau berubah banyak akhir-akhir ini?” Sehun menatapku lagi. Aku menaikkan alisku. Berubah?

Yup, kau mulai menjadi Haera yang menyenangkan. Bukan The Ice Princess seperti dulu.” Sahutnya dengan sedikit menggoda. Aku menoleh padanya dan menatapnya tajam.

“Seperti ini, huh? Aku masih tetap Haera yang dulu.” Kataku dengan nada dibuat-buat menjadi sedatar dan sedingin mungkin.

“Sudahlah, kau sudah tidak cocok lagi seperti itu.” Sehun tersenyum jahil. Saat tangannya mulai mendekat ke toples kue kering dan hendak mengambilnya lagi, aku memukul tangannya dengan sedikit keras. Ia terlihat kaget.

Ya! Yoon Haera, ada apa tiba-tiba kau memukulku?”

“Kau sudah mengambil kueku untuk yang keberapa kalinya Oh Sehun?” Aku berkacak pinggang. Pura-pura kesal. “Lihat, bahkan setengah dari toples itu sudah hampir habis karena ulahmu.”

Ia tertawa terbahak.

Yaaa, maafkan aku, aku mengambilnya tanpa sadar. Ayo nanti kita beli kue yang banyak.”

 

**********

 

Baru saja sekitar lima menit insiden kue kering karena ulah Sehun itu, dari arah pintu terdengar suara sapaan yang nyaring. Aku bangkit berdiri dan melihat siapa yang datang. Disana sudah berdiri dua orang, salah satunya adalah wanita bergaya modis berambut pendek dengan pakaian semi-formal datang bersama seorang anak kecil yang tersenyum ceria. Itu adalah Oh Hani, Kakak dari Ibu Sehun dan anaknya, keponakan laki-laki Sehun bernama Oh Jiho.

Dua orang itu sering sekali bermain ke rumah Sehun. Oh Hani-ahjumma adalah adik dari Ibu Sehun. Awalnya Jiho sama sekali terlihat tidak welcome akan kehadiranku, namun lama-kelamaan kami menjadi akrab karena Sehun yang berusaha keras mendekatkan aku dengannya.

“Noona!” Jiho menyapa dan berlari kecil ke arahku. Aku menyambutnya dengan pelukan. Ia terlihat senang sekali sambil memamerkan deretan giginya yang putih.

“Ah, halo anak manis.” Aku duduk berlutut dan mengacak-acak rambutnya, ikut tersenyum. Sehun ikut berdiri dan mulai menempatkan posisinya tepat berlutut di sebelahku juga.

“Halo Jiho!” Sehun menyapa dengan semangat. Ia merentangkan jarinya dan berhighfive dengan Jiho.

“Halo Sehun-hyung!”

“Halo Sehun, Halo Haera.” Hani-ahjumma, menyapa kami sambil tersenyum. “Dimana ibumu?” tanyanya.

“Ada di kebun belakang, sepertinya. Datangi saja disana bibi.” Ujar Sehun. Hani-ahjumma hanya mengangguk-angguk sambil berkata, “kutitipkan Jiho pada kalian ya.”

“Oke.” Sehun memberikan tanda ‘ok’ dengan jempolnya. Lalu Hani-ahjumma segera melangkahkan kakinya menuju kebun belakang, mendatangi kakaknya, Nyonya Oh.

“Nah, kali ini, kau mau bermain apa, Jiho-ya?” Tanyaku. Jiho terlihat berpikir sebentar. Tangannya bergoyang-goyang. Lucu sekali. Lalu matanya membulat seperti telah menemukan ide.

“Bagaimana kalau kita belmain mobil-mobilan?” Aksen cadelnya terdengar jelas. Ia mengedip-ngedipkan mata menggemaskan.

“Ah….baiklah. Sehun, mana mobil-mobilan yang kau beli kemarin?” Tanyaku. Sehun segera mengambil mobil-mobilan di laci dekat televisi. Lalu memberikannya padaku.

“Nah, ini dia.” Aku tersenyum dan meletakkan mobil-mobilan itu di hadapan Jiho. Ia terlihat senang. Matanya berbinar ceria. Lalu tak lama kemudian ia sudah berkeliling ruang tengah bersama Sehun, bermain tanpa kenal lelah. Sehun terlihat menanggapi semua pertanyaan Jiho, baik yang paling rumit maupun yang sepele sekalipun. Mereka terlihat seperti adik kakak yang sangat akur.

“Tidak ikut belmain belsamaku noona?” Tanyanya. Aku menggeleng-geleng pelan sambil tersenyum.

“Bermainlah, aku melihat saja disini.” Jawabku. Ia kembali menekuni permainannya yang semakin lama menjadi semakin seru.

Sudah sekitar satu jam Sehun dan Jiho bermain. Lalu sepertinya Jiho mulai bosan. Ia merengek-rengek untuk berganti suasana. Lalu aku segera mengajak mereka berdua ke ruang makan. Kududukkan ia di kursi tinggi khusus anak-anak yang ada di meja makan. Kemudian, kuambil lima bakpau cokelat di kulkas dan segera menggorengnya. Sementara Sehun berada di sebelahku, sedang menyendokkan eskrim dan es batu di blender, membuatkan milkshake vanilla untuk kami bertiga. Vanilla adalah rasa yang netral. Kami semua menyukainya.

“Kau capek kan, Jiho-ya? Ini dia, milkshake buatanku. Semoga kau menyukainya.” Sehun tersenyum. Jiho terlihat semangat. Lalu ia meminum sedikit demi sedikit milkshake itu dengan raut wajah senang. Aku segera meletakkan bakpau yang baru saja kugoreng di piringnya. Kami berdua melihat saja cara makan Jiho dengan seksama. Ia terlihat kelaparan, dan memakan yang kami buatkan dengan lahap.

“Lelah sekali.” Sehun menggeliatkan tubuhnya sebentar. Lalu menegakkan sandaran duduknya dan menatapku lama. Sadar sedang diperhatikan, aku menoleh.

Kini mataku sedang menatap langsung ke matanya. “Mengapa kau melihatku terus seperti itu?” Tanyaku bingung.

“Kau…tidak berniat untuk membuatkanku roti dengan selai blueberry seperti tadi pagi?” Ia memandangku dengan tatapan mata membulat, aku melengos.

“Kau bisa membuatnya sendiri kan.” Jawabku lagi sambil menaikkan satu alis. Ia menggeleng.

“Rasanya beda.”

“Ada-ada saja.” Tapi aku mengambil roti tawar di dekatku dan mengoleskan selai blueberry itu untuknya. Dan tidak ketinggalan selai strawberry untuk diriku sendiri.

“Kau baik sekali Haera-ya, gamsahamnida.” Sehun berucap dengan nada jahil. Ah tidak, dia mulai menggodaku lagi. Segera kualihkan pandanganku ke Jiho yang sedang menikmati tetesan terakhir dari milkshakenya.

“Enak tidak?”  Tanyaku padanya.

“Enak sekali! Tidak kusangka Sehun-hyung bisa membuat milkshake seenak ini.” Dia berkata polos. Sehun tertawa terbahak lalu menjitak kepala Jiho pelan di ubun-ubun. “Kau belum mengerti keahlianku yang lain, Jiho-ya.”

“Ayo segera selesaikan makanmu, kita ke perpustakaan atas saja ya.” Aku segera mengelap mulut Jiho dengan tisu. Lalu menurunkannya dari kursi tinggi, dan menggandengnya ke lantai atas. Sehun mengikutiku dari belakang.

**********

Sekitar lima belas menit kami bermain di perpustakaan. Aku meletakkan Jiho di pangkuanku sembari membacakannya cerita dongeng. Tak kusadari, mata kecilnya mulai terkatup, lalu ia tertidur dengan pulasnya di bahu Sehun yang berada tepat di sebelahku. Aku menggeleng-geleng sambil tersenyum hangat. Anak kecil memang selalu lucu.

Dari arah depan, suara Ibu Sehun dan Hani-ahjumma bercakap-cakap terdengar jelas. Mereka mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Sadar tidak ada jawaban, Ibu Sehun dan Hani-ahjumma tanpa basa-basi segera membuka pintu perpustakaan yang berada di dalam, lalu mendatangi kami.

“Ah lucu sekali…” Bibi Hani menatap kami berdua sambil setengah berbisik. “Mengapa kalian tidak segera menikah saja?”

Wajahku merah padam mendengar ucapannya. Sementara Sehun terlihat salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia tidak menggerakkan bahunya sama sekali karena takut mengganggu Jiho yang sedang terlelap. Ibu Sehun tertawa kecil mendengar ucapan adiknya yang spontan.

“Begini, Sehun-ah. Aku hendak mengajak Haera keluar ke supermarket. Membeli bahan untuk Barbeque Party nanti malam. Kau disini bersama Jiho ya. Bagaimana Haera?” tanya Hani-ahjumma.

“Ah baiklah.” Aku mengangguk lalu segera bangkit. Aku meletakkan tubuh Jiho di pangkuan Sehun. Ia terlihat damai dalam tidurnya tanpa merasa terganggu sama sekali. Lalu aku berkata pelan pada Sehun sebelum meninggalkannya bersama Jiho.

“Letakkan saja Jiho di tempat tidurku.”

Lalu aku berjingkat keluar dari perpustakaan bersama Hani-ahjumma dan Nyonya Oh. Berusaha tidak mengeluarkan suara sama sekali, agar tidak membangunkan Jiho yang sedang bermain di alam mimpi.

 

SEHUN’S POV

Baru saja Haera meninggalkanku sendiri untuk pergi berbelanja bersama Hani-ahjumma dan Ibu. Mereka hendak membeli bahan untuk barbeque party bersama keluargaku nanti malam. Aku mengangguk-angguk saja. Lalu setelah mereka menghilang dari pandangan, aku menggendong Jiho dan segera meletakkannya di kasur kamar Haera. Kutarik selimut sampai menutupi setengah badannya.

Karena kedekatan kami akhir-akhir ini, aku diperbolehkan untuk melihat-lihat kamarnya—jika ia mengizinkan tentunya. Namun karena ia sedang pergi sekarang, aku berani saja—Agak lancang memang. Maafkan aku Haera, aku hanya penasaran dengan isi kamarmu.

Kamar itu tetap rapi. Dengan semerbak bau lemon yang memenuhi ruangan. Kamar yang kudesain bersama ibuku. Aku tersenyum. Lalu segera berkeliling melihat-lihat. Saat tiba di lemari, ada satu barang yang menarik perhatianku. Sebuah boks berwarna merah hati yang terlilit pita. Aku berusaha menggapainya dan berhasil. Segera kubuka kotak itu. Yang kudapati adalah sebuah notes merah bertuliskan “Haera’s”.

Aku mulai membuka halamannya satu persatu dan membaca isinya.

Aku terkejut. Ini adalah buku semi-harian Haera. Kukatakan seperti itu karena isinya lebih mirip buku kumpulan cerpen daripada buku harian. Namun semua isinya sebagian besar menjelaskan tentang pengalamannya. Aku sampai ke cerita tentang acara jalan-jalan kami saat ke Myeongdong. Haera menceritakannya dengan detail.

Dia memakaikan scarf itu padaku. Aku hanya terdiam. Pipiku memanas.

Dia tersenyum. Tak ada yang bisa kulakukan selain membalas senyumnya. Kami sudah mengerti bahasa masing-masing. Tidak sulit untuk mengerti dirinya, begitu pula sebaliknya.Senyum pun sudah menjadi jawaban yang cukup untuk mengucapkan, ‘Terima kasih.’

Aku tersenyum sendiri membacanya. She wrote this story in a lovey-dovey way. Pikiranku melayang lagi ke kejadian itu. Berputar ulang seperti rekaman video.

Aku sampai juga pada cerita tentang patah hatinya yang pertama. Memang diceritakan dengan memakai nama lain, tapi aku yakin yang dimaksud adalah Luhan-hyung. Ia mengatakan disana bahwa ia siap melupakannya.

Dan di tulisan akhir buku semi-harian yang belum selesai itu, sedang menceritakan betapa bahagianya hidupnya sekarang. Hidupnya sedang berjalan semestinya. Dan memang beginilah seharusnya hidupnya berjalan.

Tak kusangka ia benar-benar calon penulis berbakat. Ia pendam saja bakatnya ini karena tekanan  dari sekitarnya untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan besar. Aku mengendap-endap keluar dan mengambil notes itu.

Lebih baik kukirimkan cerita-cerita ini ke lomba karya tulis tingkat Nasional yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Lihat saja, aku yakin Haera pasti akan memenangkannya.

Aku keluar dari kamar Haera dan berlari secepat kilat ke kamarku sendiri.

Jiho-ya, tidurlah yang lelap ya!

**********

Aku segera membuka laptop di kamarku sendiri. Mencari di google cara mengirimkan karya tulis berhadiah beasiswa kuliah di Jerman itu. Ternyata deadline lomba itu sudah ditutup besok. Setelah mencari data diri Haera dengan coba-coba mengorek isi laci kamarnya, akhirnya semuanya lengkap. Aku segera mengetik ulang cerita yang ia tulis dengan tangan itu di laptop dan mengirimkannya dengan format document ke email yang sudah ditentukan beserta semua data lengkap tentangnya. Dan kini, yang dilakukan hanyalah tinggal menunggu pengumuman. Aku terus menerus berdoa saat menekan kursor mouse. Berdoa untuk keberhasilannya.

Sekitar dua jam kemudian, Haera dan Ibuku serta Bibi Hani sudah sampai dirumah. Aku menyambutnya dengan wajah ceria. Haera menatapku heran

“Kau terlihat senang sekali, apa ada hal yang menyenangkan terjadi?” Haera bertanya sambil melepaskan jaket dan menggantungnya di tempat yang sudah disediakan.

“Tidak…” Aku menggeleng, berusaha tidak terlihat gugup. “Hei, Haera-ya. Apakah kau masih ingin bersekolah di luar negeri seperti yang kau katakan padaku dulu?” Tanyaku dengan nada sesantai mungkin.

“Mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” Dahinya mengkerut tanda kebingungan.

“Jawab saja.”

“Jika aku mengatakan tidak, aku munafik.” Ia tertawa kecil. “Ya, aku masih menginginkannya, tetapi sudahlah lupakan saja, itu tidak mungkin.”  Lanjutnya.

“Biarpun kau diberi kesempatan untuk mendapatkannya?”

“Tidak.” Ia berkata tegas. “Not even in my dreams.”

Kau terlalu cepat berputus asa, Haera-ya…

Semoga hasilnya nanti, menjadi hadiah terbaik disaat ulang tahunmu bulan depan.

 

YOON HAERA’S POV

Hari ini, awal bulan Mei yang cerah, tepat pada tanggal 7, dimana aku akhirnya bertambah usia.

Dan sekarang, aku sedang memandang lama amplop yang berada tepat di depan mataku.

Di bagian depannya bertuliskan

Faculty of Journalism.

Leipzig University, Germany.

Dadaku berdegup kencang.

Kurobek sedikit ujungnya, dan kekeluarkan isinya.

Intinya, berkata bahwa aku mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus di jurusan jurnalistik di Universitas Leipzig, Jerman, karena memenangkan lomba karya tulis.

Hah?

 

Tiba-tiba di luar terdengar suara ketukan pintu. Aku bangkit dengan kaki bergetar sambil membawa surat pemberitahuan itu. Saat kubuka, sudah ada Sehun, Soojung dan Luhan-hyung beserta Mirae-eonni berdiri di hadapanku. Mereka membawa kue tart bertuliskan ‘Happy 18th Birthday, Yoon Haera”.

Saengil cukhae hamnida..Saengil chukha hamnida..Saranghae, Haera-ya..Saengil cukhae hamnida!” Mereka bernyanyi bersama dengan riang. Tak terasa air mataku mulai menggenang di pelupuk mata. Terharu. Pandangan mataku beralih ke wajah Sehun. Ia tersenyum hangat. Lalu menepuk bahuku pelan.

“Sudah menerima amplopnya?” Ia berkata tenang.

Aku terdiam sejenak. Lalu mataku membulat.

“Kau? Bagaimana kau bisa tahu?” Aku bertanya heran. Lalu kepalaku otomatis menarik kesimpulan. “Jadi kau yang..”

“Ini kesempatan emas, Haera-ya. Pergilah, dan kejar impianmu.” Sehun menanggapi lagi, lalu tersenyum.

Mataku mulai memanas lagi.

Rasanya aku ingin menangis sekarang juga.

TO BE CONTINUED

 

 

27 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s