A Walking Deadman

Untitled-1mk

A Walking Deadman

Author: Kim Yooki

Cast: Sehun and Suho of EXO. Mentioned Taeyeon of SNSD

Genre: Horror(?), Tragedy(?), Dark, Slice of Life, AU

Rating: T? dunno

Lenght: 1.406 words

Warn: OOC, cerita ga nyambung sama judul, alur mudah ditebak dan kecepetan, a shit ending maybe, aneh, dan berbagai notice per-FF-an lainnya.

Disclaimer: EXO © SM Entertainment.

a/n: first published FF(?) douzo yoroshiku reader-san!

.

.

.

Aku sudah membunuh seorang temanku.

Tapi dia hidup lagi. 

.

.

Aku benci pada Sehun, Joonmyun terus menggumamkan kalimat itu dalam benaknya. Bukannya tidak ada alasan pria tampan itu membenci pria yang lebih muda darinya itu. Semuanya Sehun. Selalu saja Sehun. Sehun, Sehun, Sehun. Tak pernah ada Joonmyun.

Ayah Sehun selalu memanjakkan anaknya. Berbeda dengannya yang selalu dipukuli ayahnya. Bahkan tidak sengaja menyenggol garpu hingga terjatuh saat makan saja, ia akan diceramahi semalaman dengan hujatan kata tak berguna.

Sehun usianya beberapa tahun lebih muda darinya. Tetapi anak itu berhasil menjadi teman seangkatannya karena kejeniusannya. Berbeda dengannya yang berotak biasa saja.

Sehun selalu jadi perhatian para senior. Karena wajahnya tampan dan sikapnya yang menggemaskan. Mungkin karena sebenarnya Sehun masih bocah. Ia dianggap manis oleh para senior. Berbeda dengannya yang tak pernah akrab dengan senior karena hanya bisa menciptakan suasana canggung.

Semua itu masih bisa Joonmyun maafkan. Semuanya masih dalam batas permakluman. Bahkan sifat labil Sehun masih Joonmyun mengerti.

Tapi tidak untuk hal ini.

Sama sekali tidak.

Untuk Taeyeon-noona. Noona teman sepermainannya sejak kecil. Noona cantik yang membuatnya jatuh hati. Sehun bahkan tahu perasaan Joonmyun pada Taeyeon.

Alih-alih menawarkan bantuan pada Joonmyun untuk mendekati si pujaan hati, bocah itu justru membunuh Taeyeon. Ya, bocah bernama Oh Sehun itu sukses membuat Kim Taeyeon tak bernyawa. Taeyeon yang baik hati menolong Sehun yang nyaris tertabrak truk pengangkut besi.

Harusnya Sehun yang mati. Bukan Taeyeon.

Taeyeon hanya berniat menolong Sehun. Kenapa malah Taeyeon yang mati? Bahkan mati mengenaskan tertimpa batangan besi dan tergencet badan truk. Tulangnya nyaris remuk semua. Wajah cantiknya sudah tak berbentuk. Ini tidak adil, kan? Sangat tidak adil.

“Maafkan aku, Joonmyun-hyung.” Maaf? Kau pikir maaf bisa membuat Taeyeon hidup kembali, eh, bocah?

“Kau harus membayarnya, Sehun.”

“Eh?”

.

A Walking Deadman

“Tolong gantikan kematianku.”

.

.

Ada sebilah pisau di tangan kanannya. Pisau yang sudah dikotori cairan merah berbau amis. Pisau yang sudah ia gunakan untuk mencabik-cabik seonggok daging di depannya. Onggokkan daging manusia. Masih berbentuk manusia setidaknya. Inginnya sih, dimutilasi. Tapi sepertinya merepotkan.

Tadi, saat pertama kali pisau itu menancap di perut si mayat—saat masih hidup, korban dari pisau itu tak berkata apa-apa. Matanya hanya membulat kaget. Lalu tersenyum tipis. Aneh. Di ambang kematian malah tersenyum.

Lalu, saat mata pisau hampir menembus jantungnya, dia hanya berkata, “maafkan aku, hyung. Aku bahkan tidak bisa membayar kematian Taeyeon-noona dengan kematianku.”

Kata-kata terakhir yang aneh.

Joonmyun menatap pisau di tangan kanannya. Lalu ke arah pakaiannya yang sudah kotor karena bercak darah korbannya, Sehun. Joonmyun bahkan samasekali tak menyesal sudah membuat temannya tak bernyawa. Ia kehilangan akal mungkin. Tapi ia yakin ia bukan psychopath.

“Sehun, kau bilang tak bisa membayar kematian Taeyeon-noona. Apa maksudmu?” tanya Joonmyun. Entah ia benar-benar kehilangan akal atau memang bodoh. Mayat tidak bisa berbicara, eh? “Apakah maksudmu nyawamu tak bisa menggantikan nyawa Taeyeon-noona?”

CRASH CRASH CRASH

Joonmyun beberapa kali menghujamkan benda tajam itu ke paha putih Sehun. Mencabik otot dagingnya hingga menampakan warna putih dari si tulang pipa. “Kau pikir aku bodoh? Orang yang sudah mati tak akan hidup lagi. Taeyeon-noona tak akan hidup lagi.”

JLEB SRAK

Kali ini ia menancapkannya di perut lelaki malang itu. merobek paksa perutnya hingga memperlihatkan organ dalamnya. “Bayaran yang kuminta itu, kau harus menemani Taeyeon-noona di sana. Dia pasti kesepian. Kau harus menemaninya.  Entah di neraka atau sebaliknya.” Joonmyun terdiam sejenak. “Maafkan aku Sehun. Aku tak bisa memaafkanmu karena sudah membuat Taeyeon-noona mati. Kau harus bertanggung jawab menemaninya.”

Joonmyun pun menjauh dari mayat Sehun. Tangannya masih membawa pisau itu. ia berjalan ke arah dapur untuk membersihkan pisau itu. Selepas mencuci pisau, ia mengepel lantai untuk membersihkan jejak kakinya dan menghapus sidik jarinya yang mungkin tercetak di beberapa benda. Hei, dia masih tidak ingin hidup dalam jeruji besi.

Joonmyun beralih ke arah kamar milik Sehun. Ia mengambil sepotong baju milik Sehun dan membungkus miliknya yang penuh bercak merah ke dalam kantung plastik hitam. Rencananya ia akan membuangnya ke pembuangan yang agak jauh dari sini.

Setelah memastikan kondisinya cukup rapi, ia memilih untuk segera pulang ke rumahnya. Sebelumnya ia kembali ke ruang tv apartement pribadi milik Sehun. Tempat di mana ia membunuh manusia untuk pertama kalinya. Membunuh temannya sendiri.

Ia menatap badan tak bernyawa itu. Ia pikir seharusnya ia merasa bersalah walau  sedikit. Nyatanya tidak. Apa-apaan ini? Joonmyun pun berbalik mengarah ke pintu keluar. Ia memasang sepatunya dan bergegas pergi.

Sebelum suara itu mencegahnya.

Hyung, kenapa tidak kau saja yang menemani Taeyeon-noona di alam sana?”

Tidak. Joonmyun yakin ia salah dengar. Tidak mungkin itu suara Sehun. Sehun sudah mati. Sehun sudah ia bunuh. Mayat tidak dapat berbicara, bukan? Mungkin ia berhalusinasi. Ah, ternyata ia merasa bersalah juga karena sudah membunuh Sehun. Harusnya bergitu, kan? Ya, benar begitu.

Hyung, kau tidak sedang berhalusinasi. Orang yang barusan kau tusuk-tusuk dengan kejamnya itu berbicara denganmu sekarang.”

Crap. Halusinasinya makin aneh saja.

“Hei, hyung. Menghadaplah kemari.”

Entah kenapa badannya seakan menuruti perintah halusinasinya. Kepalanya mendongak. What the hell. Halusinasinya benar-benar aneh. Sangat aneh. Terlalu aneh.

Ia melihat sosok pemuda putih tinggi di sana. Mata sayu khas milik Oh Sehun. Wajah tampan Sehun yang masih utuh mengingat tak pernah tergores sedikit pun dengan mata pisau. Pemuda itu menyilangkan tangannya di depan dada yang sudah berlumuran darah karena beberapa tusukan pisau. Mata joonmyun mengarah pada perutnya. Usus Sehun menggontai keluar dari robekan yang ia buat. Mata Joonmyun turun lagi pada pahanya. Tulang putih itu terekspos karena daging yang menutupinya sudah tercerai.

“Hun-ah?”

Ne, hyung. Waeyo?”

“Kau tidak mati?” Oke, ini sangat menakjubkan. Joonmyun yakin ini bukan halusinasi. Terlalu nyata. Ia bisa lihat jejak kaki kemerahan milik Sehun tercetak di lantai. Ia bisa mencium bau anyir darah dari tubuh yang terlihat mengerikan itu—tubuhnya, bukan wajahnya.

Sehun tersenyum. Bukan senyum polos yang seperti biasa ia berikan. Lebih seperti seringaian. “Aku sudah mati dari lama.” Baik, Joonmyun tak mengerti. “Aku sudah dibunuh ayahku lebih dulu daripada kau, hyung.” Alis Joonmyun bertaut. “Kira-kira hampir lima bulan lalu.”

“Ceritamu terdengar konyol. Maksudmu, kau hantu?”

“Tidak. Tapi aku deadman.”

Oh, orang mati. Crap.

“Kau mau mendengar cerita konyolku, hyung?”

Joonmyun tidak menjawab.

“Aku ini kelinci percobaan ayahku. Ia selalu memanjakanku agar aku mau tubuhku dibedah sesuka hatinya.” Sehun mendekati Joonmyun. “Lalu lima bulan lalu ayahku membunuhku. Kupikir itu akhir dari semuanya. Tapi ternyata tidak. Aku hidup kembali entah bagaimana caranya. Entah ia meminta bantuan setan atau bagaimana. Tapi nyatanya aku hidup kembali.”

Kali ini keringat Joonmyun mulai mengalir.

“Ayahku bersorak dan berkata ini penemuan terhebat dalam sejarah.”

Joonmyun mengerti. Membangkitkan manusia yang mati benar-benar hal yang terlalu ajaib untuk dipercayai.

“Tapi aku tidak suka.”

Ah.

“Takdir manusia adalah hidup satu kali. Manusia yang mati ya mati saja. Kalo sudah ajal, apa boleh buat. Kalau manusia bisa hidup berkali-kali, manusia akan lebih tidak menghargai hidup, bukan? Hanya hidup sekali saja mereka tidak sadar. Mereka serakah.”

Joonmyun pikir Sehun hanya jenius idiot yang tak peduli dengan hal-hal semacam itu. ternyata tidak juga.

“Lagipula memangnya enak hidup terus? Terkadang kan mati lebih baik daripada menderita kan? Jadinya kubunuh ayahku sebelum ia menyebarluaskan penemuannya. Mayatnya kusembunyikan di laboratorium pribadinya. Tak lama lagi pasti akan ditemukan.”

Anak yang mengerikan karena membunuh ayah sendiri.

Sehun mendekati Joonmyun. Joonmyun berusaha menjauhi Sehun. Tapi Sehun terus mendekatinya. Hei, siapa yang tidak berigidik jika ada tubuh dengan usus tergontai mendekatimu?

BRAK.

Pintu sialan. Joonmyun kini tidak bisa menjauhi Sehun lagi. Jaraknya dan Sehun semakin dekat. “Hyung,” panggil pria yang lebih muda darinya itu.

“Ya, Hun-ah?”

“Maaf aku tidak bisa bertanggung jawab atas kematian Taeyeon-noona.”

“Eh?” Kedua tangan Sehun merayap di tubuh Suho. Dari lengan menuju pundak lalu, lehernya. Gawat. Joonmyun merasakan bahaya.

“Karena itu—”

“AKH!” Sehun mencekik leher Joonmyun. Sangat erat sampai Joonmyun tak bisa memberontak. Tak lama lagi ia pasti akan mati. Gawat.

“—kau saja yang mewakiliku untuk menemani Taeyeon-noona di alam sana.”

Wajah Joonmyun mulai memerah menandakan ia benar-benar membutuhkan udara saat ini. Kesadarannya makin lama kian menipis. Pandangannya mengabur bahkan untuk melihat mata sayu dari orang yang seharusnya sudah mati karenanya.

“Kan, lumayan kau bisa PDKT dengannya di alam sana.”

Joonmyun bahkan tidak bisa menangkap apa yang dikatakan Sehun. Otaknya sudah tidak sanggup bekerja lebih.

“Maaf karena aku tak bisa mati. Jadi tolong gantikan kematianku.”

Joonmyun sudah tak bisa bernapas lagi. Degupan jantungnya kian melemah. Ia diambang kematian. Ah, sepertinya sudah saatnya dia mati. Apa boleh buat. Sudah takdirnya mungkin.

“Sampaikan salamku untuk Taeyeon-noona. Aku akan merindukan kalian.”

Dan kali ini napas Joonmyun benar-benar berhenti. Jantungnya tak berdetak lagi.

Melihat hyung-nya sudah tak bernyawa, Sehun meneteskan airmatanya. “Selamat tinggal. Suatu saat nanti aku pasti akan menyusul kematian kalian.” Senyuman tipis pun menemani airmatanya yang terjatuh.

END

a/n:

prestasi terbesar sepanjang sejarah nulis FF nih! sekian lama ga bikin FF EXO pas bikin lagi gak nyangka setengah hari aja udah selesai! WAHAHAHAH *bangga* biasanya sih bikin FF oneshoot aja sampe tiga bulan lebih -_-

sebenarnya FF ini mau bikin castnya SMRookies. Tapi kali dipikir-pikir masa baru aja nongol udah dibikinin FF nista sok dark gini -_- jadi kalo SuHun-nya oh-so-ooc mohon maklum aja ya XD

idenya sih muncul pas lagi baca HSOTD. Kayaknya seru ya bikin FF zombie. Taunya malah jadi gini. Wkwk -_-

well, sekian. Thanks for reading :*

23 pemikiran pada “A Walking Deadman

  1. Uiih!! Keren sekali!
    Kayaknya Joonmyun dan Sehun dua-duanya menjadi psikopat ya? Haha, terkutuklah kau Taeyeon yang menjadi penyebabnya!! HUAHAHA *crazy laugh

    eh kok jadi gini ya…. *barusan aku bercanda. peace ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s