Destiny (Sequel) [Chapter 1]

Judul : Destiny (Sequel)

Nama author : Goseumdochi

Genre : Romance Drama

Length : > 2000

Rating : T

Main Cast : Baekhyun and You (as Park Hana)

Twitter : @pamelaribka

Hai aku kembali dengan sequel Destiny~ karena banyak yang merequest untuk dibuat sequelnya dengan cepat, jadi aku membuat ini. Mohon maaf jika penulisannya kurang baik dan feelnya kurang dapat, karena aku buatnya buru – buru disela tugas kuliah. Hehehe, anyway read and review ya~ No review, no next part #lah?

Disclaimer : Baekhyun. Actually he’s mine *digeret EXO fans*

This story is mine. Aku membuat cerita ini setelah membaca article yang bilang sasaeng fans mengganggu acara pernikahan kakaknya Baekhyun.

Untuk yang belum baca Destiny, silahkan klik : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/11/12/destiny-4/

Atau bisa juga di wp aku goseumdochi.wordpress.com

Let’s begin the story! 

 

Destiny (Sequel)

Part One

p.s : this is a long chapter

2 months later

Sudah dua bulan aku berteman dengan Lee Shin dan sudah dua bulan juga aku bekerja di perusahaan besar ini. Yeah, impianku tercapai untuk menjadi seorang asisten sutradara. Dan aku sangat beruntung karena mimpiku itu diberikan lebih oleh Tuhan. Aku bekerja sebagai asisten sutradara di kantor SBS. Kau tahu perasaanku sewaktu diterima di perusahaan ini sebulan yang lalu? Senang tidak akan cukup untuk menggambarkannya.

Aku senang bekerja disini, aku bisa bertemu artis – artis besar saat sedang syuting di SBS. Walaupun aku tidak mengenal siapa mereka tapi aku tahu lagu – lagu mereka, dan kuakui artis – artis Korea sangat cantik dan tampan. Atasanku juga baik, mungkin karena faktor umur kami yang lebih mirip kakak dan adik jadi kami tidak canggung dalam bekerja. Kami sering bercanda. Sanking seringnya sampai sering berakhir menjadi pertengkaran. Dia bahkan sering memukulku dengan gulungan script! Walaupun begitu, aku senang dia bosku.

Aku tidak memberitahu Lee Shin tentang pekerjaanku. Alasannya mudah, karena dia juga tidak mau memberitahukanku apa pekerjaannya. Menurutnya itu hal yang tidak penting yang harus diketahui olehku. Aku jadi curiga kalau dia anggota mafia, karena dia pernah bilang padaku dia bisa bela diri. Tapi semoga saja tidak.

Dia dan aku memiliki hubungan yang cukup dekat. Ahjussi bahkan sering marah jika kami mengatakan kalau kami hanya teman. Dia sama sekali tidak percaya dengan hubungan teman antara aku dan Lee Shin. Kami sering berjalan bersama, mungkin dalam seminggu bisa tiga kali dan selalu pada malam hari. Lee Shin pernah sibuk dengan pekerjaannya dalam sebulan penuh sehingga kami hanya bisa berkomunikasi lewat telepon. Ya, itulah Lee Shin, penuh rahasia.

Kurasakan handphoneku bergetar dibawah bantal – bantalku.

“Lee Shin?” gumamku bingung setelah melihat namanya dilayar handphoneku.

“Yeoboseyo?”

“Ya Hana, apa kau sibuk?” tanyanya seperti biasa tanpa mengucapkan yeoboseyo terlebih dahulu.

“Ani. Wae?”

“Bagus. Keluarlah, aku sudah didepan rumahmu.” jawabnya dengan santai. Sedetik kemudian aku mendengar suara bel rumahku yang sudah pasti dia yang menekannya.

“Mwo?!”

‘ting tong ting tong ting tong’ bunyi belku yang tidak berhenti dia tekan setelah menutup sambungan teleponnya barusan.

“Ya!” teriakku sambil membukakan pintu untuknya. Dia hanya tersenyum sambil memamerkan sederet giginya kepadaku. Terlihat seperti anak kecil yang senang karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Aku merindukanmu~” ujarnya sambil memelukku erat dengan tiba – tiba.

“Y-ya! Yaish!” aku melepaskan pelukannya lalu memukul lengannya dengan keras.

“Ak! Ah wae?! Apa aku tidak boleh merindukanmu?!” ucapnya dengan keras didepan wajahku sambil mengusap lengannya yang baru saja kupukul itu.

“Ya! Bisakah kau tidak berisik?” ujarku sambil menutup mulutnya dengan telapak tanganku. Tidakkah si bodoh ini sadar kalau sekarang sudah hampir jam sepuluh malam dan dia berteriak seperti itu?!

Kulihat dia tersenyum menggoda karena tanganku yang masih berada didepan mulutnya. Ah… sial, dia pasti mulai berpikiran aneh saat ini. Dengan cepat aku menarik tanganku dari depan mulutnya lalu menariknya masuk kedalam rumah,”Apa yang kau lakukan disini hah?”

“Ayo kita jalan.” ujarnya dengan mata berbinar.

“Mwo?! Ya! Bukankah kita sudah berjalan – jalan dua hari yang lalu?” protesku. Dia memajukan bibirnya berlaku manja seperti biasanya jika aku menolak pergi dengannya.

“Ya.. itu tidak akan berpengaruh.”

“Ayolaaaaah~” rajuknya sambil menarik – narik kaos lengan panjangku.

Dan disinilah kita sekarang, perjalanan menuju tempat karaoke terdekat. Entah kerasukan apa aku sampai mau diajak olehnya ke tempat itu. Bernyanyi pun aku tidak bisa! Dimana otakmu Park Hanaaa?!

Dia berjalan disebelahku dengan tangan yang berada didalam saku jaket sama seperti aku. Sesekali aku melirik wajahnya. Aku tidak pernah menyadari ternyata jika diperhatikan dia memiliki wajah yang cukup tampan sekelas artis – artis yang biasa kulihat di kantor. Apa dia sering melakukan perawatan seperti para artis?

“Aku tahu aku tampan. Tapi kalau kau perhatikan terus seperti itu, nanti kau bisa gila karenaku Hana.” ujarnya santai dengan tatapan lurus kedepan tanpa melihat sedikitpun kearahku. Karena malu ketahuan memperhatikannya sejak tadi, aku langsung berjalan cepat mendahuluinya ke tempat karaoke. Dapat kudengar dia tertawa lalu memanggil – manggil namaku dan ikut berjalan cepat dibelakangku.

“Ya! Park Hana! Kau baik – baik saja?” godanya dengan nada khawatir yang dibuat – buat.

“Hentikaaan!” jawabku sambil benar – benar berlari menjauhinya. Kudengar ia menertawakanku dibelakang dan ikut berjalan cepat dibelakangku. Ah siaaal!

At Karaoke’s room

“Aku suka bernyanyi. Terkadang bernyanyi bisa dijadikan cara untuk melepaskan penat kau tahu itu?” tanyanya sambil melihat – lihat list lagu disebuah buku besar. Dia terlihat serius memperhatikan semua daftar lagu yang ada ditangannya.

“Kau ingin bernyanyi lagu apa?” tanyaku sambil ikut melihat buku yang sedang ia buka tutup sejak tadi. Dia tampak berpikir keras tentang lagu yang akan dia nyanyikan. Sejak tadi ia hanya membalik – balikan halaman buku tersebut lalu kembali lagi ke halaman pertama.

“Ah… banyak sekali lagu – lagu bagus. Ah aku tahu, ayo.”

“M-mwoya?” dia tiba – tiba menarikku dan memberikanku sebuah microphone untuk ikut bernyanyi bersama.

“Bounce with me bounce with me bounce with me bounce~ bounce with me bounce with me bounce with me bounce~” nyanyinya dengan riang sambil menaik turunkan badannya seperti tarian khas lagu ini.

“Ah, wae?!” protesnya saat melihatku tertawa karena gerakannya.

“Ani.”

“Ayo kita bernyanyi bersama.” ajaknya sambil menarik tanganku lalu dia menari dengan riang. Pft, apa dia penyanyi sungguhan? Dia menyanyikan lagu ini dengan baik sekali sampai – sampai aku terbawa suasana dan ikut menari dengannya.

Setelah lagu itu selesai, dia memilih lagi lagu – lagu yang menurutnya menyenangkan. Dari Apink – Nonono dan banyak lagu lainnya sampai akhirnya muncul lagu berjudul Gee dari SNSD. Dia tidak hanya menyanyi tapi juga menirukan tarian dari girl band – girl band tersebut. Dasar fanboy.

Kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan  membiarkan musik yang bernuansa melow mengalun lembut diruangan.

“Hana,” panggil Lee Shin secara tiba – tiba saat aku sedang menyeruput minumanku.

“Hm?”

“Aku… sedang menyukai seorang wanita.” ujarnya sambil tersenyum malu. Aku hampir saja tersedak karena pernyataannya barusan. Lidahku langsung kelu saat dia mengatakan bahwa dia menyukai seseorang. Aku bingung harus senang atau sedih mengetahui hal ini. Di satu sisi aku merasa ini tidak benar, disisi lain aku merasa aku seharusnya ikut senang saat dia merasa senang. Bukankah kita teman? Ya… Teman…. Aku merasa miris mengingat kata itu.

“Kau tidak bertanya siapa?” tanyanya dengan wajah polos.

Aku memaksakan senyumku dan memberanikan diri untuk melihatnya,”Siapa?”

“Rahasia~” jawabnya sambil tersenyum jahil. Aku memukul lengannya pelan karena mengerjaiku barusan. Untuk apa dia menyuruhku bertanya jika dia tidak memberitahukan jawabannya.

“Aku ingin menyatakan perasaanku padanya.” ujarnya sambil tersenyum dengan tatapan lurus kedepan seolah menerawang sesuatu. Entah kenapa didalam sana aku merasa sesak mendengarnya. Ingin rasanya menghentikan pembicaraan ini dan segera lari mengurung diri di kamar. Aku tidak tahu kenapa, aku hanya tidak suka.

Senyumnya tiba – tiba menghilang dan berganti dengan tatapan kosong. Dia terlihat serius menatap kedepan,”Tapi… Aku takut dia tidak merasakan hal yang sama denganku.”

“Dia selalu terlihat nyaman saat bersama denganku. Sanking nyamannya semua terlihat biasa saja menurutnya. Dia bahkan tidak sadar aku ada selama ini untuknya. Setiap aku mencoba serius dengannya, ujungnya selalu bercanda.” lanjutnya dengan nada seperti orang marah – marah sendirian.

Aku bingung harus berkomentar apa tentang masalahnya ini. Aku tidak ahli dalam urusan percintaan. Menurutku gadis itu sangat bodoh untuk menganggap hal yang Lee Shin lakukan hanya main – main.

Lee Shin mendengus sebal sambil melihat kearahku,”Dia sangat bodoh. Sangat sangat bodoh.”

“Aku rasa lagu yang pas untukku saat ini adalah That Man dari Hyun Bin sunbaenim. Kau tahu lagu itu?” tanyanya sambil mulai membalik – balikan buku list lagu karaoke lagi.

“Itu salah satu lagu kesukaanku.” jawabku dengan nada yang kubuat senormal mungkin. Sesungguhnya aku ingin menangis karena mengetahui Lee Shin menyukai seseorang dengan sangat dalam. Apa aku menyukai Lee Shin? Atau aku hanya tidak rela temanku dimiliki seseorang? Yang dapat kupastikan saat ini hanyalah aku merasa sesak didalam sini.

“Benarkah? Kau ingin aku menyanyikannya?” tanya Shin dengan senyum merekah diwajahnya. Tanpa menunggu jawabanku dia langsung memainkan musik lagu itu dan bersiap untuk menyanyikannya. Ia memejamkan matanya saat intro lagu tersebut dimulai.

“Han namjaga geudaereul saranghamnida… geu namjaneun yeolsimhi saranghamnida.. maeil geurimjacheoreom geudaereul ttaradanimyeo. geu namjaneun useumyeo ulgoisseoyo..”

Dia tersenyum sekilas kepadaku sebelum memasuki bagian reff… tapi matanya mengisyaratkan kesedihan yang sangat mendalam. Apa dia sangat mencintai gadis itu? Kenapa aku ingin menangis mendengar ia menyanyikan lagu ini.

“Eolmana eolmana deo.. neoreul.. ireoke baraman bomyeo honja.. i baramgateun sarang, i geojigateun sarang, gyesokhaeya niga nareul sarang hagenni…ooh….”

Dari awal lagu sampai sekarang aku tidak dapat melepaskan pandanganku dari matanya. Dia menyanyikan lagu ini dengan penuh perasaan. Hal itu terlihat jelas dari sorot matanya yang terlihat sedih. Ya…. Aku merasa wanita itu adalah wanita yang sangat beruntung karena memiliki orang yang sangat mencintainya seperti ini.

“Jogeumman gakkai wa jogeumman.. Hanbal dagagamyeon du bal domangganeun.. Neol saranghaneun nan jigeumdo yeope isseo, Geu namjan umnida.”

Air mataku langsung jatuh saat dia menyelesaikan bagian terakhir reff lagu tersebut. Tapi aku langsung menunduk dan menghapusnya. Aku berpura – pura mengambil gelas jusku dan meminumnya. Sepanjang lagu aku merasa risih karena dia masih melihatku saat ini. Lagu ini dia nyanyikan bukan untukku, tapi kenapa aku merasa saat ini dia sedang berbicara denganku. Hal ini membuatku tidak berani melihat matanya sedikitpun.

Setelah dia selesai menyanyikan lagu itu, tiba – tiba Lee Shin mengulurkan tangannya mengajakku berdiri,”Kajja, kita cari makan. Bernyanyi membuatku lapar.”

Aku mengangguk lalu meraih tangannya untuk bangkit dari sofa,”Kita ke ramen ahjussi?”

“Ne!” ujarnya dengan penuh semangat seperti sebelumnya. Aku tak dapat menahan senyumku melihatnya seperti ini. Padahal moodku tidak karuan saat ini. Tidak kusangka berpura – pura tersenyum karena patah hati itu mempunyai rasa sakit yang hampir sama dengan kenyataan pacarmu akan segera menikah dengan seseorang setelah menjalani hubungan selama satu tahun.

Kami berjalan berdampingan seperti saat pergi tadi, dengan tangan yang berada disaku jaket masing – masing. Walaupun keadaan sama seperti tadi, tapi perasaanku jauh berbeda dari sebelumnya. Aku merasa canggung berada didekatnya saat ini.

“Lee Shin,” panggilku membuka pembicaraan.

“Hm?”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Tentu.” jawabnya santai. Aku ingin bertanya siapa gadis itu tapi aku takut dia mengira aku cemburu terhadapnya. Lee Shin mempunyai tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi sehingga kalau aku bertanya hal itu pasti dia akan membully diriku seharian penuh. Aku menggeleng cepat lalu memikirkan pertanyaan lain untuk mengalihkan pikiran ini.

“Kau… Kenapa kau selalu mengajakku berjalan setiap malam hari? Kita belum pernah berjalan di siang hari. Apa kau buronan?” tanyaku asal.

Dia tertawa mendengar pertanyaanku barusan,”Ya, apa wajah bagaikan malaikat ini memiliki tanda – tanda penjahat?”

Aku mendengus sebal mendengar jawabannya barusan lalu berjalan dengan cepat. Sudah kuduga dia akan menjawab hal setipe itu. Tingkat kepercayaan dirinya itu sangat tinggi.

“Waaae? kau tidak suka berjalan dimalam hari bersamaku?” tanyanya sambil merangkul bahuku.

“Ani. Hanya saja ini aneh. Kau pernah hilang kabar selama hampir satu bulan, kau tidak pernah menemuiku dibawah jam sembilan malam. Selalu mengajakku ke tempat yang tidak terlalu banyak pengunjungnya. Terkadang kau bahkan menggunakan masker. Kau juga-“

“Baiklah.” potongnya secara tiba – tiba. Dia menjauhkan tangannya dari bahuku. Senyumnya kini menghilang dari wajahnya berganti menjadi seperti orang yang menahan amarah saat ini.

“Kau.. sepertinya sangat keberatan denganku yang selalu mengajakmu berjalan setiap malam.” ucapnya dengan mata menyorot tajam kearahku.

“Ani-“

“Kalau begitu, kita tidak usah berjalan – jalan lagi. Lupakan ramen ahjussi. Aku tidak jadi lapar. Selamat tinggal, Hana.” lanjutnya dengan datar lalu melangkah pergi meninggalkanku dibelakang. Ya?! Apa dia marah?!

“Ya! Lee Shin!” panggilku kepadanya. Dia menghiraukanku dan terus melangkah jauh. Aku mendengus melihat tingkahnya ini. Ya, apa selain percaya diri dia juga orang yang mudah marah? Apa yang salah dari pertanyaanku tadi?

Aku berjalan cepat dan meraih telapak tangannya,”Ya! Apa kau marah? Kau tahu bukan itu maksudku.”

Bukannya merespon, dia hanya diam menatap tangannya yang telah kugenggam.

“Ya Lee Shin! Kau-“

“Tanganmu dingin,” gumamnya pelan memotong perkataanku barusan. Dengan perlahan ia memegang tanganku lalu mengaitkan jarinya disela jariku. Dia memasukkan tangan kananku yang kini digenggam olehnya ke saku jaketnya.

“Tiba – tiba aku lapar lagi, ayo kita makan.” ujarnya dengan senyum mengembang diwajah seperti sebelumnya.

“Ya!”

“Diam sebelum aku kembali marah seperti tadi.” ujarnya dengan penuh penekanan disetiap katanya. Dia tersenyum lalu mengajakku kembali berjalan ke tempat tujuan awal kami.

Wajahku memanas memikirkan tangannya yang sekarang menggandengku dengan erat. Sepanjang jalan kami hanya diam, tapi entah kenapa aku tidak bisa menahan senyumku saat ini. Berkali – kali aku menahan senyumku tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikannya. Ah.. apa ini rasanya jatuh cinta kembali? rasanya jauh lebih mendebarkan daripada sebelumnya.

“Orang bisa mengiramu gila kalau kau terus tersenyum seperti itu Hana.” ujarnya tanpa melihat kearahku.

Aku langsung membatu mendengar perkataannya barusan. Karena malu ketahuan olehnya aku mencoba melepaskan genggaman tanganku didalam sakunya, tapi tidak bisa karena dia menggenggam tanganku terlalu erat walaupun aku sudah mencoba melepaskannya berkali – kali,”Ya! Lepaskan!”

“Shireo.” bisiknya pelan tepat didepan telingaku. Kurasakan wajahku sepenuhnya panas atas perlakuannya ini. Haaa… untung ini malam hari, jadi dia tidak akan bisa melihat perubahan yang telah terjadi pada wajahku ini. Bisa kuyakini warna wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus karenanya. Karena malu aku jadi berjalan dengan cepat tidak perduli tanganku masih digenggam olehnya.

Lee Shin tertawa lalu ikut berjalan dengan cepat disebelahku,”Kau kenapa Hana~?”

Tsk, apa hari ini dia sakit jiwa. Dia selalu menggodaku dengan kata – katanya seharian ini. Menyebalkan.

Kami akhirnya sampai di tempat langganan kami. Yap, tempat paling pertama kami dulu makan bersama sekarang menjadi tempat makan tetap kami setiap kami berjalan – jalan.

“Ahjussi!” teriak Lee Shin saat memasuki kedai.

“Oooi! Selamat datang.” sahut ahjussi tidak kalah kencangnya. Tak bisa dipungkiri Lee Shin adalah orang ramah yang mudah bergaul dengan siapa saja. Lihat saja sekarang, Lee Shin jauh lebih akrab dengan ahjussi daripada aku. Mereka terlihat sudah kenal sejak lama daripada aku yang sebenarnya mengenal ahjussi lebih dulu.

Ahjussi tiba – tiba tertawa melihatku dan Shin,”Yaaa! Sudah kuduga kalian berpacaran. Masih ingin menyelak juga kalian bukan sepasang kekasih? tangan kalian bahkan saling mengait satu sama lain disana.”

“Ahjussi!” teriak kami bersamaan.

“Ne! Ne! Akan kusiapkan pesanan biasa kalian.” ujar Ahjussi sambil berbalik kebelakang. Dia bahkan masih bisa tertawa saat membuat ramen. Ya.. Apa dia tidak sadar umurnya?!

Sambil menunggu pesanan kami berbincang – bincang tentang keseharian kami selama kami tidak bertemu. Lee Shin tidak membicarakan tentang apa pekerjaannya, tapi dia hanya bilang kalau pekerjaannya adalah pekerjaan yang berat. Aku sempat bertanya apa dia tidak jenuh dengan pekerjaannya yang berat itu? Dia hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa pekerjaannya itu didukung oleh banyak orang, dan tidak mungkin dia bisa mundur sekarang. Perkataannya itu membuatku jadi berpikir dia itu seorang spy. Pft.

Seperti biasa, waktu berjalan sangat cepat jika bersama dengannya. Sekarang sudah hampir jam satu malam jadi dia memutuskan untuk segera pulang. Sebenarnya aku masih ingin di kedai, tapi dia memaksa pulang karena aku harus beristirahat. Saat keluar dari kedai ia tiba – tiba mengaitkan jarinya disela jariku dan memasukkan tanganku ke saku jaketnya lagi. Dia bilang udara terlalu dingin saat ini.

“Hana,” panggilnya tiba – tiba memecahkan keheningan diantara kami.

“Apa yang akan kau lakukan jika seseorang berbohong padamu?” tanyanya dengan ragu. Dia menggigit bagian bawah bibirnya seperti takut akan sesuatu.

Aku tersenyum lalu menghela nafasku panjang,”Entahlah… sangat mudah untuk mengatakan kepada seseorang ‘aku memaafkanmu’ tapi sesuatu yang mudah dimaafkan pasti sulit dilupakan.”

Dia tiba – tiba menghentikan langkahnya dan mengarahkan badannya kepadaku,”Apa kau memaafkan dia?”

“Dia?” tanyaku kembali karena tidak mengerti siapa yang dia maksud. Lee Shin menganggukan kepalanya seperti mengisyaratkan siapa yang dia maksud.

“Aaah! Joonie ah? Tentu saja. Kemarin aku berbicara dengannya.” jawabku polos.

“Mwo?!” teriak Lee Shin didepan wajahku. Ah.. aku seharusnya tidak mengatakan hal ini. Pertemuan kemarin itu sebenarnya ingin kurahasiakan dari Lee Shin karena Shin suka marah jika aku bicara dengan Joonie. Padahal aku tidak suka terlalu lama memutuskan hubungan kepada orang lain.

“Kau bertemu dengannya?! Untuk apa kau menemuinya hah?! Kau ingin kembali padanya?!” omelnya panjang lebar dengan nada tinggi. Ya, apa dia eommaku? Dia bahkan jauh lebih galak daripada anggota keluargaku yang pernah memarahiku saat ini.

“Tsk, kembali apanya.” jawabku ringan lalu membalikkan tubuhku untuk kembali berjalan. Tapi Shin langsung menarik lenganku kembali kedepannya.

“Ya! Aku serius!” serunya padaku. Ini pertama kalinya aku melihat wajah Lee Shin seperti ini. Saat ini aku merasa seperti seorang kekasih yang ketahuan selingkuh dibelakang pasangannya.

“Aku juga serius.” jawabku singkat.

“Aish, lalu apa kau ada rencana kembali padanya?” tanyanya sambil berjalan disebelahku. Dia benar – benar terlihat seperti wartawan saat ini.

“Ya, dia akan menikah minggu depan bagaimana mungkin aku kembali padanya?” tanyaku skeptis. Dia mengangkat bahunya seolah berkata ‘siapa tahu’.

“Ya Lee Shin, apa kau gila? Saat ini kau terlihat seperti suami yang sedang cemburu, kau tahu itu? Ah! Apa kau cemburu?” tanyaku yang sekedar ingin menggodanya karena sejak tadi dia masih bertanya apa aku akan kembali pada Lee Joon.

“Ya!”

“Ya Lee Shin! Bisakah kau berhenti berteriak? Aku tidak kembali padanya. Kemarin kita hanya bertemu lalu bercanda selesai.” jelasku dengan nada penuh penekanan disetiap kata padanya. Mulutnya menganga seolah tak percaya mendengar pernyataanku barusan.

“Mwo?! Kau bercanda dengannya?! Kau tidak marah padanya?” omelnya panjang lebar dengan nada yang jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Aku menghela nafasku panjang lalu tersenyum padanya,”Aku… tidak pernah marah terhadap orang yang membohongiku. Aku hanya kecewa.”

“Neo.. gwaenchana?” tanyaku dengan ragu padanya karena saat ini dia terlihat pucat setelah mendengar jawabanku barusan. Apa ada yang salah dari perkataanku barusan sehingga membuatnya seperti ini?

Dia menggeleng pelan lalu memamerkan cengiran khasnya padaku,”Gwaenchana, ah kita sudah sampai. Setelah masuk, kau… harus segera tidur.”

Tiba – tiba dia mencubit hidungku dengan keras sambil tersenyum,”Jangan membantah kau mengerti?”

“Ya!” teriakku sambil memukul lengannya. Dia tertawa sambil mengusap lengannya. Entah kenapa sepertinya dia suka sekali melihat aku marah padanya. Kupukul, tertawa, kumaki, tertawa. Apa dia gila? Aish, tapi aku suka melihat tawanya. Dia terlihat menawan jika tertawa. Daripada saat marah tadi, dia terlihat menyeramkan.

Dia tersenyum penuh arti kepadaku. Sampai akhirnya perlahan dia meletakan kedua tangannya di sisi kepalaku lalu mendekatkan kepalaku dengannya. Tubuhku langsung membeku saat kurasakan bibirnya menciumku tepat dikening dengan pelan.

“Jalljayo.” ucapnya halus dengan tangan kanannya yang masih memegang pipiku. Ia tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkanku sendirian membatu didepan rumahku akibat perlakuannya.

Aku… sedang menyukai seorang wanita

Aku ingin menyatakan perasaanku padanya

Tapi… Aku takut dia tidak merasakan hal yang sama denganku

Dia selalu terlihat nyaman saat bersama denganku. Sanking nyamannya semua terlihat biasa saja menurutnya. Dia bahkan tidak sadar aku ada selama ini untuknya. Setiap aku mencoba serius dengannya, ujungnya selalu bercanda

Dia sangat bodoh. Sangat sangat bodoh

Apa… wanita itu aku?

 

To Be Continue

 

13 pemikiran pada “Destiny (Sequel) [Chapter 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s