Heir & Heiress (Chapter 8 – END)

1377344880971

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 8: Everything Ended By A Choice

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | SCRIPTWRITER : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-M), SOOJUNG (F(X)). & the others, find by your own.

SUMMARY:

The story about Cold-hearted Heir & Heiress. Terjebak dalam sangkar emas. Arranged marriage yang sudah biasa terjadi dalam kalangan kelas atas seperti mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menurut. Hari tetap berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah disaat salah satu menemukan jalan menuju kebebasan di depan matanya, perasaan yang mulai berubah, dan hidup mereka yang menjadi semakin rumit.

Everything ended by a choice.

 

FOREWORDS:

@nandaniptr: WOOHOOO, finally we came to our chapter 8. A lil spoiler for you, this chapter is the last one! Hahaha. Cepet juga yaaa~

Jadi ini akhir cerita Haera dan Sehun yang uda kalian tunggu-tunggu~ (iya kalo ditungguin), hehe. Semoga kalian suka yaJ. Maaf lama… semoga kalian tidak lelah menunggu karena kami akan memberikan endingnya buat kalian! 😉

COMMENTS & LIKES R HIGHLY APPRECIATED!

Mind to visit & follow our blog? At http://www.beautywolfff.wordpress.com

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

 

OH SEHUN’S POV

Perempuan cantik di hadapanku ini sepertinya menahan diri mati-matian untuk tidak menangis. Aku pun sama sepertinya, berusaha menahan diriku mati-matian untuk tidak menarik perempuan itu ke pelukanku untuk sekedar menenangkannya.

“Hei, jangan menangis.” Aku memberanikan diri untuk mengelus rambutnya perlahan. Ia menengadahkan kepala. Soojung, Luhan-hyung dan Mirae-noona melihat kami dengan pandangan bingung. Haera memandang mataku dalam-dalam.

“Kau…benar-benar…seorang Oh Sehun. Yang lancang.” Ia berkata dengan sedikit tersendat, lalu diakhiri dengan tawa kecil. Aku mendesah lega.

“Sudahlah, berhenti mengucapkan itu. Ayo ikuti aku. Semuanya sudah menunggu.” Aku menarik pergelangan tangannya dan mengajaknya ke kebun belakang. Disana, semua keluargaku, termasuk Hani-ahjumma dan Jiho, beserta seluruh keluarga Haera sudah berkumpul. Kami semua menyiapkan pesta kejutan disaat Haera terlelap. Dan inilah hasilnya.

Kebun belakang tertata apik dengan hiasan pita disana-sini. Di sisi kiri sebuah meja panjang yang berada di tengah-tengah kebun, terdapat makanan  dan desserts berjejer rapi. Sementara di sisi lainnya, gelas-gelas tinggi berisi wine dan minuman soda rapi diatur dengan sedemikian rupa. Ada tulisan besar-besar “Happy Birthday 18th Haera” yang terpasang di antara satu pohon dan pohon lainnya. Melihat kami datang, Jiho berlari kecil menghampiri Haera dan tersenyum lebar memperlihatkan giginya sambil menyerahkan kado yang ia bawa.

Haera terlihat speechless—ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Haera hanya menutupi mulutnya dengan tangan. Tanda tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ada di hadapannya sekarang. Kemudian ia balas memeluk erat Jiho, tanda berterima kasih.

“Dan ini semua…”

“Selamat ulang tahun, Haera.” Serempak kami semua mengucapkan itu padanya. Air mata Haera yang ditahannya sedari tadi tumpah sejadi-jadinya.

“Kalian semua…benar-benar…” Bahkan ia tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Sibuk menangis. Tak lama setelahnya, ia berlari ke arah kedua orang tuanya berdiri dan memeluk mereka berdua dengan erat. Aku memandangnya dari kejauhan dengan bahagia. Syukurlah, Haera benar-benar sudah berubah.

Pikiranku tiba-tiba kembali ke masa lampau. Masih kuingat dengan jelas awal saat bertemu dengannya. Kata-kata yang pantas untuk menggambarkan Haera saat itu adalah ‘Dingin’. Ia adalah tipe-tipe Ice Princess yang bersifat arogan, keras kepala dan tidak pernah memperdulikan sekelilingnya. Haera hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri serta kehidupannya yang monoton itu. Hubungan sosialnya terlampau buruk—amat buruk malah. Ia tidak menyukai semua orang, termasuk kedua orang tuanya. Mungkin ia merasa bahwa hidupnya sudah terlalu menyedihkan.

Hingga kami bertemu.

Lama kelamaan seiring waktu berjalan, ia mulai berubah dengan sendirinya menjadi Haera yang menyenangkan. Sifat aslinya bertolak belakang dengan yang ditunjukkan pada kami selama ini. Haera mulai menjadi pribadi yang terbuka, hangat dan menyenangkan. Aku mengetahuinya dengan pasti, dinding es akan mencair karena diberi kehangatan terus menerus suatu saat nanti. Dan itulah yang terjadi padanya. Kali ini, aku melihat bukti jelasnya sendiri.

Ia benar-benar telah bermetamorfosis menjadi Yoon Haera.

The real Haera.

**********

Semua orang sudah larut dalam pesta yang menyenangkan di sore hari ini. Kue tart telah dipotong-potong dan dibagikan satu persatu hingga semua orang mendapatkan bagian. Sekarang, orang tuaku dan orang tua Haera terlihat sedang berdiskusi dengan serius di salah satu sudut taman. Di ayunan di sisi kiri, Soojung sedang sibuk bermain bersama Jiho dan Hani-ahjumma. Sementara di salah satu sudut lainnya, di bawah pohon yang rindang, Luhan dan Mirae sedang duduk dan berbincang sambil sesekali tertawa entah membicarakan apa.

Karena bingung dengan apa yang harus kulakukan, aku memilih untuk menepi dan bersender di meja tengah tempat makanan dan desserts diletakkan. Dari kejauhan, tertangkap sosok Haera yang datang mendekati meja dan gelagatnya seperti hendak mengambil minuman.

Lalu mata kami saling bertemu.

Diam sesaat. Sebelum akhirnya Haera-lah yang berhasil memecah hening yang tercipta di antara kami berdua.

“Hei, Sehuna.”

Aku tertawa kecil. Kami terlalu canggung. Ia tersipu sedikit, sementara aku hanya mengangguk sedikit lalu balas menyapanya.

“Halo, Haera.”

Lalu ia melanjutkan kalimatnya.

“Uh….Sehun…A-apa kau yang menyiapkan semua ini?” Tanyanya pelan.

“Hm?” Kuputar gelas tinggi di tanganku dengan gerakan lamban. “Tidak…Bukan hanya aku, semuanya ikut membantu. Meskipun…sebagian besarnya adalah ideku.” Aku menghentikan gerakanku, dan meletakkan gelas itu di meja, lalu mulai mengacak-acak rambutku sendiri, berusaha keras mengalihkan perhatian agar tidak gugup berada di dekatnya. Haera melangkahkan kakinya semakin lama semakin dekat dan akhirnya ikut bersender tepat di sisiku.

“Entahlah. Kata terima kasih saja sepertinya sudah tidak cukup. Aku benar-benar…tidak tahu harus berkata apa.” Haera menerawang menatap langit-langit. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya, dan menoleh.

“Kau benar-benar yang terbaik. Sehuna.” Lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya ia menyunggingkan senyum mematikan itu dari bibirnya. Aku tercekat. Tenggorokanku terasa mengganjal. Seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan dari perutku. Ia menepuk-nepuk bahuku lembut. Sentuhannya membuatku merasakan seperti disengat listrik bertegangan kecil.

Gawat.

Kuputuskan untuk membicarakan hal lain.

“Jadi, kau memutuskan untuk pergi kesana?”

Bahasan yang salah sepertinya. Tiba-tiba ia terdiam. Lama.

Wajahnya berubah mendung. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya, tampak frustasi.

“Entahlah. Aku tahu ini memang kesempatan emas tetapi…”

“Mengapa masih bingung? Bukannya ini impianmu sejak dulu?” Aku bertanya lagi dengan nada keheranan. Ia menurunkan tangannya dari wajah, lalu menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu. Rasanya menyenangkan sekali begitu tahu impianku memang sudah ada di depan mata. Tapi, sepertinya ada yang salah dengan semua ini…Dan..” Ia terlihat kebingungan untuk melanjutkan perkataannya. “Lagipula Ini semua karenamu. Aku benar-benar tidak menyangka dan bagaimana bisa kau..?”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku dengan cepat memasukkan tanganku ke saku celana dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Ah, akhirnya kutemukan.

“Kukembalikan.” Kuserahkan notes merah itu ke hadapan Haera. Ia terlihat sedikit terkejut. “Maafkan aku sudah lancang mengambilnya tanpa seizinmu. Aku mengirimkan karya tulis itu dari sana.” Kataku pelan. Takut-takut jika Haera marah besar padaku. Ia mengambil notes itu dari tanganku.

“Kau menemukannya?” Haera terlihat sedikit surprised. Aku mengangguk-angguk pasrah. Menunggunya memarahiku ataupun memaki-makiku dengan dingin. Aku siap.

Tapi itu semua tidak pernah terjadi, Haera hanya tersenyum simpul.

“Kau…memang tetap jadi Sehun yang lancang.” Ia merespon, dan diikuti dengan tawa kecil. “Dengan ini, berarti kau mengetahui semuanya?”

“Uh, yah…Begitulah. Mianhae—Maafkan aku.” Sekali lagi aku mengucapkan kata maaf itu padanya.

“Ah sudahlah.” Haera mengibaskan tangannya di dekat wajahku. Senyum di bibirnya masih bertahan. “Sudah terlanjur.” Ucapnya santai. Membuka-buka notes itu dan membacanya lagi sekilas.

Kami berdua kembali diam dengan canggung. Sebelum akhirnya orang tua kami memanggil-manggil kami dari kejauhan, memerintahkan kami untuk mendekat.

**********

“Jadi, Haera memenangkan perlombaan itu?” Ibuku bertanya antusias. Haera mengangguk kecil sambil tersenyum masam.

“Dan kau memutuskan untuk pergi?” Ibu Haera bertanya dengan sedikit was-was. Haera menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan itu.

“Mungkin… Akan kupikirkan lagi nanti, eomma.” Ia menjawab singkat.

Suasana hening sesaat.

“Dengar, Haera.” Tuan Yoon—Ayah Haera, mulai membuka mulutnya. Suaranya yang berat dan berwibawa membuat kami semua terdiam. Memasang telinga baik-baik akan apa yang ia ucapkan selanjutnya.

“Jika kau ingin pergi kesana. Pergilah.” Ayah Haera berujar mantap. Mata Haera membulat. “Jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan melarangmu. Tiga sampai empat tahun pun cukup. Saat kau kembali, semua masih akan tetap sama.” Ayahnya mengakhiri dengan tegas. Raut wajah Haera sekarang tidak dapat diterka. Apa ia merasa senang, atau sedih, atau bingung. Entahlah. Aku tidak tahu.

Sebuah hal buruk terlintas dalam pikiranku.

A-apa? Tiga sampai empat tahun?

Hei, itu bukan waktu yang sebentar. Banyak yang bisa terjadi dalam kurun waktu bertahun-tahun seperti itu. Aku mulai merasa resah.

Jika Haera memutuskan pergi, bagaimana denganku?

Pabo. Kau yang mengirimkan karya tulis itu, dan membuatnya merasa bimbang sekarang, Oh Sehun. Dan mengapa kau ikut merasa bingung? Jika dia sekarang dilema seperti ini, itu semua sepenuhnya salahmu bukan?

Aku mengomel sendiri di dalam hati. Ini semua untuk Haera, dan kulakukan untuknya karena aku menyayanginya dan menginginkannya bahagia.

“Semuanya sekarang terserah padamu.” Aku mengambil alih pembicaraan.

“Aku mengerti. Berikan aku waktu untuk berpikir.” Haera menanggapi perkataanku. “Aku kembali.” Ia  segera membungkukkan badan pada kami semua, lalu berbalik, pergi meninggalkan kami. Aku membiarkannya saja hingga ia lama-kelamaan menghilang dari pandanganku.

Mungkin memang butuh waktu untuk memutuskan itu semua.

YOON HAERA’S POV

Aku merebahkan diriku sendiri di kasur. Memandang langit-langit kamar. Memandang sekelilingku, lalu mulai memejamkan mata sejenak. Berusaha menenangkan pikiranku yang berkecamuk. Sekitar lima menit berbaring, aku mulai berpikir.

Ini memang kesempatan emas. Tapi..

Sekarang, otak dan perasaanku sedang bergejolak. Salah satunya menyuruhku untuk pergi dan mengambil kesempatan itu, mengejar impian yang selama ini terpendam. Dan satunya lagi menyarankan untuk tetap tinggal, menjadi seorang Heiress bersama Sehun.

Sesungguhnya, ini pilihan yang sulit.

Aku mencoba berbagai cara kuno. Menghitung kancing, menghitung memakai jari, semuanya tidak ada yang membantu. Pikiranku mulai buntu.

Apa salahnya mencoba?

Ayahku sudah berkata, semuanya akan tetap sama. Tetapi tetap saja, waktu tiga sampai empat tahun bukan waktu yang sebentar bukan?

Sekitar tiga jam aku berkutat dengan pikiran-pikiranku sendiri. Semuanya terjalin menjadi benang kusut tanpa ada penyelesaian. Aku menggeram kesal terhadap diri sendiri. Mana Haera yang selalu menggunakan logikanya saat berpikir seperti dulu? Yang memutuskan sesuatu tanpa memperlibatkan perasaan dan semacamnya. Semuanya menjadi semakin rumit sekarang.

Mungkin aku terlalu lelah berpikir—hingga akhirnya jatuh tertidur dalam diam.

**********

Tok..tok.

Suara ketukan pintu membuatku terbangun. Kukucek mataku berkali-kali. Terlihat dari jendela kamarku, langit masih berwarna abu-abu terang.

Dengan malas, aku bangkit dari tempat tidur.

“Tunggu sebentar!”

Kulangkahkan kakiku menuju ke toilet. Kubasuh wajahku berkali-kali dengan air yang mengalir dari keran wastafel. Kupandangi lagi wajahku pagi ini. Great.

Rambut yang acak-acakan dan mata yang sembab. Khas orang baru saja bangun tidur. Buruk.

Dengan langkah terseret, aku melangkah mendekati pintu. Kubuka pelan-pelan, penasaran siapa yang membangunkanku sepagi ini. Dan yang kulihat pertama kali adalah.

Siapa lagi kalau bukan Sehun?

Di bibirnya terulas senyum cerah. Bahkan sepagi ini ia sudah siap, lengkap dengan memakai pakaian olahraga. Aku menatapnya bingung.

“Sehun?”

“Uh Tuan Puteri. Aku sudah siap begini dan kau baru saja bangun. Jam berapa ini.” Sehun menggeleng-geleng. Aku mengernyitkan dahi dan berpaling untuk melihat jam yang terpasang di dinding.

Saat menemukannya, aku berusaha membaca baik-baik jam itu dengan melebarkan mataku.

Jarum pendeknya menunjukkan angka empat.

Kuulangi sekali lagi, ini jam EMPAT pagi.

“Sehun, kau bercanda..”

“Kutunggu lima menit lagi, oke? Segeralah bersiap.” Sehun mendorongku masuk kembali. Aku yang tidak mengira ia akan mendorongku hanya melotot kaget. Sebelum ia menutup pintu kamarku, kutangkap ekspresi wajahnya yang menyeringai lebar.

Sial…

Aku segera berlari kembali menuju toilet untuk bersiap-siap. Sehun memberiku waktu lima menit? Hah. Dia sudah gila.

*********

“Kau lama sekali, Haera-ya.” Sehun memandangku dengan bosan. Aku yang baru saja selesai bersiap, membalas perkataannya dengan tatapan tajam.

“Lima menit itu tidak mungkin kan, Sehuna.”

Lalu Sehun hanya tertawa puas.

“Aku bercanda. Ayo.” Sehun menggapai tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Aku terkesiap. Ia sepertinya tidak menyadari dan tetap saja menarikku untuk mengikuti langkahnya. Mau tak mau kuikuti saja kemanapun ia pergi.

“Udara Seoul di pagi hari memang menyenangkan.” Sehun berkata lagi sambil melangkahkan kakinya dengan gembira. Tak henti-hentinya ia bersiul. Aku menggeleng-geleng heran. Sesungguhnya aku tidak tertarik sama sekali dengan udara Seoul atau apapun karena aku masih mengantuk.

“Sehuna…kau mau kemana?” Aku bertanya malas. Aku berjalan dengan langkah terseok-seok sementara Sehun berjalan dengan amat cepat. Tangannya masih menggandeng tanganku erat seperti tidak mau melepaskannya lagi.

“Ikuti aku saja.” Sehun berkata tegas. Namun tiba-tiba sepersekian detik kemudian, ia berhenti. Aku yang melangkah dengan malas tanpa memperhatikan sekitarku berhasil menabrak pundaknya dengan sukses.

“Ya! Mengapa kau berhen—“

Sehun mendekatkan jarak wajahnya dengan wajahku. Kini wajah kami berhadap-hadapan satu sama lain dengan jarak yang amat dekat. Sontak aku terkejut dan menjauhkan wajahku sedikit darinya.

“Hei..hei..”

Ia melepaskan kedua tangannya lalu menangkup kedua pipiku dengan cepat. Aku semakin panik. Suasana pagi ini amat lengang, hanya satu dua orang saja yang lewat. Aku berusaha melepaskan kedua tangannya. Namun Sehun menahannya dengan kuat. Lalu aku menyerah dan terdiam, balas memandang kedua matanya dengan berani.

Sehun tertawa kecil. Lalu kedua tangannya mendekat ke kedua mataku lalu berusaha membukanya lebar-lebar. Aku terkejut. Namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Yang kulakukan hanyalah melongo, terkejut.

“Bukalah mataaa~mu, Haera-ya.” Sehun berkata dengan gemas. Pipiku memanas. Pikiran-pikiran buruk sudah merasukiku sedari tadi, dan ternyata yang hendak dilakukan Sehun hanya…itu.

“Ayo jalan-jalan dan jangan mengeluh, oke? Kau akan merindukan Seoul saat ada di Jerman nanti.” Sehun melepaskan tangannya lalu mengacak-acak rambutku dengan lembut. Aku terdiam. Suasana canggung sesaat, hingga akhirnya Sehun melanjutkan kalimatnya.

“Dan satu lagi, ekspresi wajahmu tadi lucu sekali.” Ia terkekeh.

Mendengar kalimatnya itu, aku yakin kali ini wajahku sudah semerah kepiting rebus. Kudorong punggungnya keras-keras.

“Ya! Oh Sehun! Jauh-jauh dariku!” Aku berkata kesal. Sehun masih tetap tertawa puas. Ia berjalan santai di depanku. Mau tak mau aku mengikuti lagi langkahnya dengan perasaan kesal yang masih tetap tidak hilang.

“Ayo kita melihat sunrise.” Sehun kembali menarikku mengikutinya masuk ke dalam taman. Lalu ia sampai ke tempat dengan dua ayunan yang kosong tanpa ada yang menaikinya. Ia melepaskan tanganku lalu duduk di salah satu ayunannya. Kemudian ia menunjuk kursi kosong ayunan di sebelahnya.

“Duduk disitu, Haera.”

Entah mengapa aku menurut saja. Kuambil tempat duduk ayunan tepat di sebelah Sehun itu, lalu kuayun-ayunkan pelan dengan kakiku sendiri.

“Indah sekali.” Aku menggumam menatap semburat cahaya oranye di langit.

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Matahari sudah mulai terlihat dari ufuk timur. Keadaan taman yang tenang dengan pemandangan yang indah dan udara yang segar di pagi hari menjadi pembuka hariku hari ini.

Suasana hening yang cukup nyaman terjalin di antara kami. Hanya terdengar suara derit ayunan yang berayun kesana kemari. Kami sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Sehun memutuskan untuk mengajakku berbicara.

“Ehm. Haera-ya…” Sehun memanggilku pelan.

Kuhentikan gerakan kakiku dan menolehkan kepalaku ke arahnya.

“Ya?”

Ia terdiam sejenak sambil menggigit bagian bawah bibirnya, mungkin ia merasa sedikit nervous. Aku berpikir apa yang hendak ia katakana padaku hingga ia merasa segugup ini.

Lalu ia meneruskan kalimatnya.

“Jika kau belum memastikan mau pergi atau tidak. Aku hanya ingin mengingatkan…”

Detak jantungku semakin lama semakin terasa cepat.

“….Jangan berpikir terlalu keras. Jika kau ingin benar-benar mengejar impianmu, pergilah. Kesempatan tidak datang dua kali, ingat?” suara Sehun yang agak berat dan serak mengalir lembut. Ekspresi wajahnya yang tenang saat mengucapkan kalimat itu terekam sempurna dalam otakku.

“…Aku hanya ingin yang terbaik untukmu di masa depan, jadi aku memutuskan untuk mengirimkan karya tulis itu. Aku tidak mau membuatmu berpikir ini adalah sebuah beban yang berat.” Sehun menggoyang-goyangkan kakinya. Tapi lama-kelamaan ia mulai terlihat tenang. Aku masih tetap diam, memberinya kesempatan berbicara dan mendengarkannya baik-baik.

“Aku ingin melihatmu senang karena berhasil menggapai impian yang kau inginkan dari dulu. Aku tahu kau benar-benar berbakat, sayangnya bakat istimewa itu terpendam begitu saja.” Sehun masih terus saja berbicara. Namun entah mengapa aku hanya ingin terus mendengarkan suara Sehun, sepanjang mungkin pun boleh, aku cukup betah mendengarkannya.

Dan sepertinya aku memang membutuhkan itu.

“Jadi kuharap. Kau dapat menentukan yang terbaik untukmu.” Ia bangkit dari kursi ayunannya dan mendekati tempatku. Ia berlutut untuk menyamakan tinggiku dengannya dan menatap mataku dalam-dalam.

“Aku pasti akan selalu mendukung semua keputusanmu. Aku percaya padamu.” Kata Sehun, mengakhiri kalimatnya. Aku masih tetap terpaku. Semua ucapannya benar. Aku mengambil napas panjang sebelum menghembuskannya keluar.

Jeongmal Gamsahamnida.” Ujarku lirih. Sehun tersenyum. Lalu kemudian ia berdiri dan mengulurkan tangannya.

“Aku sudah lega akhirnya aku bisa mengatakannya padamu.” Sehun menyeringai ceria. Aku masih tetap diam, namun aku menerima uluran tangannya dan ikut berdiri bersamanya.

“Ayo kita berjalan-jalan lagi. Waktu kita masih panjang, kan?”

Semoga aku tidak memilih jalan yang salah.

**********

 

June, 1.

Aku segera mengepak barang-barang yang kuperlukan ke dalam koper. Jadwal penerbangan yang tertulis di tiket pesawat dalam genggamanku menunjukkan pukul 12 lebih 10 menit. Masih ada waktu sekitar tiga jam untuk bersiap.  Sehun membantuku membawakan segala tas dan keperluanku ke lantai bawah. Segera kubereskan kamar, dan memandang sekeliling untuk terakhir kalinya sebelum pergi.

Selamat tinggal.

 Empat tahun lagi aku akan kembali.

Aku segera menuruni tangga, dan ikut duduk di meja makan. Tuan dan Nyonya Oh menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.

“Ini.” Sehun menyerahkan roti dengan selai strawberry itu padaku. Aku memandang matanya lama. Merasa sedikit tidak rela meninggalkannya disini. Aku pasti akan merindukan dia.

“Tenang saja. Aku tidak apa-apa.” Sehun tidak duduk di salah satu kursi, namun ia tetap berdiri di sebelahku dan mengambil selai blueberry untuk dioleskan ke rotinya sendiri, kemudian tertawa kecil melihat raut wajahku yang terlihat khawatir. Aku mendengus. Sehun memang tidak pernah serius untuk urusan seperti ini. Melihatku tidak merespon perkataannya, ia memutuskan untuk kembali berbicara.

“Jangan lupa segera mengirimiku foto dari sana ya.” Sehun menyenggol bahuku dan menyeringai jahil. Aku memandangnya tajam. Huh, padahal aku sedang dalam suasana yang melankolis karena sebentar lagi akan segera pergi meninggalkan Seoul.

“Aku tidak akan lupa.” Jawabku datar.

Sehun mengangguk-angguk, raut wajahnya sekarang tidak bisa dijelaskan. Entahlah.

Tiba-tiba, handphone dalam sakuku berdering. Dari ibuku.

“Yoboseyo, hai eomma.”

Bagaimana? Semua sudah siap?”

Sudah, sebentar lagi aku akan berangkat.”

**********

Tepat jam 10.30, aku sudah memasuki mobil dan bersiap meluncur ke arah bandara. Sehun berada di sebelahku. Ayah dan Ibu Sehun tidak ikut mengantar. Terlihat bayangan mereka berdua dari kaca spion mobil, berdiri di depan gerbang dan melambaikan tangannya untuk melepasku pergi. Aku berusaha menenangkan diri dan menahan agar tidak menangis lagi. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak mengeluarkan air mata.

Sepanjang perjalanan menuju bandara Incheon, kami hanya diam. Entah mengapa semua bahan pembicaraan sepertinya menguap begitu saja. Mataku tak lepas memandang jendela, memandang satu persatu pemandangan yang tidak akan aku temui lagi selama 4 tahun ke depan. Sementara Sehun di sebelahku hanya diam menundukkan kepalanya. Menatap layar hp dengan pandangan kosong.

Sesampainya di jalur penerbangan Internasional, aku segera menurunkan barang-barang dan menarik koperku dengan diikuti oleh Sehun dari belakang. Di dalam bandara, ayah dan ibuku sudah menanti. Raut wajah mereka terlihat sedih. Aku memeluk mereka berdua, sementara mereka memberiku berbagai pesan yang intinya menyuruhku menjaga diri baik-baik di negeri orang.

Setelah itu, aku berbalik dan melangkahkan kakiku menuju tempat dimana Sehun sedang menunggu. Sekarang posisi kami saling berhadap-hadapan. Aku tersenyum.

“Aku tidak akan lupa mengirimimu foto.”

Sehun hanya mengangguk kecil. Mana tawa jahilnya yang sedari tadi aku dengar di rumah? Sesampainya disini ia terlihat tidak bersemangat.

“Jangan bersedih.” Aku menepuk bahunya pelan. “Empat tahun tidak lama kan?”

Hening menggantung di udara. Sehun menarik napasnya dalam-dalam. Menyiapkan mental.

“Ugh…Apa yang harus kulakukan.” Sehun menghela napas panjang. Aku menaikkan satu alisku, heran.

“Maksudmu?”

“Sebetulnya itu lama. Haera-ya.” Akhirnya Sehun mengatakan yang sedari tadi sepertinya ingin ia katakan, namun ia tetap juga tidak mau mengangkat kepalanya.

“Entahlah, sesampainya disini rasanya aku tidak bisa merelakanmu pergi. Katakanlah aku plin-plan. Tapi..itu yang kurasakan, Haera.”

Hatiku mencelos. Terhenyak mendengar ucapannya, dan sepertinya dadaku mulai merasa sedikit sesak.

Sehun tetap melanjutkan kalimatnya.

“Kau perlu tahu sebelum kau pergi, Haera-ya. Aku tidak pernah merasa perjodohan ini adalah pemaksaan. Awalnya memang aku mencoba-coba saja. Kau perempuan yang menarik. Tapi, sepertinya aku terkena batunya.” Ia tertawa namun kedengarannya aneh di telinga, karena ia tertawa dengan campuran suara seperti orang yang hampir menangis. Ucapannya mulai tersendat-sendat.

“Aku mulai menyukai pribadimu…dan segala tentangmu. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa…” Ia memberikan jeda sedikit untuk bernapas. Kemudian menghembuskannya dalam-dalam.

Aku…mencintaimu.” Ia memberi tekanan pada kalimat terakhirnya sambil mencengkeram bahuku erat.

Yang bisa kulakukan saat ini hanya terdiam. Shock. Rasanya jantungku sekarang ingin meloncat keluar. Kuusahakan mengatur napas sebaik mungkin yang aku bisa.

“Itu saja. Jangan lupa kabari aku kalau kau sudah sampai.” Ia akhirnya mendongak, dan menatapku lurus sambil berusaha tersenyum tegar. Matanya terlihat memerah. Aku kehilangan kata-kataku. Saat itu juga mulai terdengar panggilan untuk jadwal penerbanganku yang akan lepas landas sekitar dua puluh menit lagi.

Aku tetap diam. Sehun menatap mataku dengan pandangan sedih. Lalu kuputuskan untuk segera berlalu. Kuseret koper dalam genggamanku untuk segera masuk ke ruang tunggu.

Baru dua langkah aku berjalan, Sehun melangkah lagi mendekatiku. Lalu ia mengambil dan menggenggam tanganku erat seperti mencegahku untuk pergi.

“Sehun..”

Tubuhku bergetar pelan. Mau tidak mau, aku harus melepaskan genggamannya ini.

Ini terlalu menyakitkan. Lebih baik aku segera pergi.

OH SEHUN’S POV

Akhirnya aku mengucapkan kata-kata itu.

Raut wajah Haera kini sukar untuk ditebak. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan sekarang. Terlebih dengan pernyataanku barusan. Yang tersirat di matanya adalah…

…Penolakan?

Ia melepaskan genggaman tanganku darinya dan segera menarik gagang kopernya, melangkah masuk ke ruang tunggu. Tanpa menoleh dan berkata apapun lagi. Meninggalkanku sendiri tanpa jawaban. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangnya dari kejauhan.

Ia akan pergi, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk mencegahnya.

Aku menatapnya nanar. Ruang tunggu itu tertutup otomatis. Mengaburkan pandanganku akan keberadaan Haera. Ia sudah berada di dalam bersama calon penumpang lainnya. Aku menghela napas panjang. Lalu segera berbalik lemah, melangkah pergi meninggalkan bandara.

Tidak ada harapan.

 

YOON HAERA’S POV

Beranikah aku mengambil kesempatan ini dan meninggalkan Sehun begitu saja?

Langkahku menuju ruang tunggu mulai terasa berat. Aku menolehkan kepalaku ke arah luar. Disana Sehun masih tetap menunggu, namun ia kini tidak bisa melihatku karena kaca hitam satu arah yang membatasi pandangannya dengan pandanganku.

Aku terdiam di tempat. Otakku tanpa sadar mulai memutarkan rentetan kenangan bersama Sehun selama ini, dari awal sampai akhir secara acak bergantian seperti rol film yang rusak. Aku menepuk dahiku berusaha menghentikan itu semua. Mengapa sesampainya disini aku menjadi goyah begini?

Pikiranku melayang lagi.

Siapa bilang 4 tahun itu sebentar? Kata appa, tidak akan ada yang berubah saat aku kembali nanti, huh? Tidak. Semua bisa berubah dalam 4 tahun itu. Semuanya pasti tidak akan sama lagi.

Memang, aku dan dia akan tetap bersama, namun dunia kami pasti akan jauh berbeda.

Tidak.

Akhirnya hatiku sampai pada satu penyelesaian, memilih untuk menetapkan satu pilihan yang kuyakini tidak akan pernah kusesali seumur hidup. Karena ini adalah pilihanku.

Aku berlari keluar sambil menyeret koperku terburu-buru.

Sehun sudah berbalik pergi.

Semoga aku tidak terlambat.

 

OH SEHUN’S POV

Aku tidak pernah membayangkan adegan selanjutnya akan ada dalam hidupku.

Pernahkah kau membayangkan adegan cheesy dalam sebuah drama, saat salah satu dari kedua pasangan akan pergi, dan tiba-tiba ia kembali. Meninggalkan dan membatalkan semua keputusan yang ia buat dengan logika demi…

Cinta?

Dulu aku menganggap itu lucu. Tidak mungkin! Aku tertawa saat melihatnya.

Orang itu bodoh sekali.

Namun kejadian itu benar-benar terjadi padaku.

 

Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba dari belakangku terdengar suara derap langkah kaki dan seretan koper, tergesa-gesa dan mulai mendekat ke arahku. Aku spontan menolehkan kepala.

Boleh percaya atau tidak, Haera sekarang berada tepat di depanku. Di hadapanku. Sekitar dua jengkal dari tempatku berdiri. Mungkin lelah sehabis berlari, ia berhenti lalu membungkuk sesaat dengan terengah-engah. Terdengar sayup-sayup pengumuman pesawat yang ia naiki akan lepas landas sekitar lima menit lagi. Tidak ada waktu lagi.

“Haera? Lima menit lagi…”

Aku menghentikan kalimatku setelah melihat Haera yang sudah mengembalikan aturan nafasnya seperti semula. Ia menegakkan tubuh lalu diam menatapku. Posisi kami sama seperti sebelum berpisah, saling menatap mata lawan bicara masing-masing.

Ia tersenyum.

Aku berusaha mencubit tanganku sendiri. Sakit.

Ini bukan mimpi. Apa Haera kembali untukku?

Aku balas tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang aku segera memeluknya. Erat.

Tidak, tidak akan pernah kulepaskan lagi.

Who needed words anyway, when the hearts were already connected?

Selamat datang kembali, Haera.

 

End.

Quotes cr: Asianfanfics story, Touch Of Fear by Dreamyflower.

 

Annyeong~

A good news, we have a nice offer for all of you, our patient Heir & Heiress’ readers who always be there beside us. Jadi, sebagai hadiah buat kalian, kita nawarin buat bikinin kamu ff khusus buat ‘the most dedicated reader’ yang akan kami post khusus di blog kami. STICKY POST FOR 3 MONTHS!

Jadi yang mau berandai-andai bersanding sama biasnya, bisa deh ikutan.

Tertarik gak? Ada yang minat gak..?

Semoga aja ada ya.

Caranya? Gampang banget kok.

Cuma satu syarat, leave a comment below here, (entah kalian bacanya di ifk, exoff, bw, semuanya kita bakal baca kok). Kasih komentar kalian yang sejelas-jelasnya tentang kekurangan dan kelebihan Heir & Heiress’ story, kesan kalian tentang cerita kita serta saran-kritik kalian buat kita kedepannya, pokoknya review habis deh di kolom komentar tentang cerita kami (Heir & Heiress) dari awal sampe akhir! Kami pasti akan membacanya satu persatu dan menentukan satu orang pemenang yang komentar/reviewnya paling kreatif dan membangun. (Yang panjang lebih boleh lagi. Kita suka baca komen panjang lo!:p)

Because we respect all of your comments & they mean a lot to us!:D

Jangan lupa cantumkan email&twitter kalian ya dibawah review kalian itu. Nanti kami akan menghubungi kalian lewat twitter/email. Kalian yang menentukan nama tokoh (utamakan nama Korea), jalan ceritanya, semuanya! dan akan kami akan buatkan semampu kami hehe (semampu kami ya. Lengthnya juga kita yang nentuin jadi kalian tinggal terima beres aja gitu). Kalau mau tanya atau ada yang kurang jelas boleh mention @beautywolfff ya;)

Coming soon:

1.Side Story 2 & Side Story 3. (In Progress. Sorry, this two will take a long time:()

2.Our next duet fanfiction: “Silhouette.” Ditunggu ya yang ini! Dijamin kece~

 

Bye bye and see ya in our next duet fanfiction!:D

N & S.

P.S: Sequel…or not? 😉

38 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 8 – END)

  1. Annyeong,salam kenal 😀 engga tau harus panggilnya apa 🙂 sebelumnya izin baca ya,maaf baru komen dichapter ini nemu ini ff langsung dibaca semua maaf jadi siders soalnya mau komen udah ketinggalan jauh banget mianhae ya sekali lagi. Hemm buat ceritanya enak banget buat dibaca,terus adegan skinship juga engga berlebihan jadi bagus banget buat siapa aja yg baca,alur ceritanya juga keren,kosakata dalam penulisannya udah bagus banget mudah dipahami.buat kritikannya sih cuman endingnya kurang panjang.haha 😀 soalnya aku suka banget sama moment couple ini 😀 okehh hwaiting terus ya buat karya karya lainnya 😉

  2. Aku rangkum komen dari part 1 sampe end disini ya thor. aku suka banget ceritanya dan bahasa yg dipake juga enak banget dibaca. Konfliknya emang nggak terlalu berat yaaa tp aku tetep nikmatin banget selama baca ini. thankyou for nice ff authornim 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s