Painful Love (Chapter 4)

Painful Love (Crying Without Word)

SONY DSC

Author                         : Stella Fa

Genre                          : Romance, Angst, school & family life.

Cast                             : Sora, Sehun, Kris, Luhan, EXO members.

Rating                         : PG 15?

Length                         : Multichapter / Chapter 4

Disclaimer                   : Semua cast milik Tuhan YME, kecuali OC. Cerita ini benar – benar murni dari otak saya yang selalu di penuhi oleh makhluk planet EXO. NO PLAGIAT!!!! Thanks.

 

Backsound:

OST Hong Gil Dong, Fate.

OST Faith, Bad Person.

 

Gomawo n Happy reading

Comments oksigen bagi Author.

Summary:

Pernahkah kamu merasakan yang namanya penyesalan? Inilah yang kurasakan. Aku menyia-nyiakan namja berhati tulus yang mencintaiku dengan sepenuh hati hingga ia bunuh diri karena aku menolak untuk bersamanya dan lebih memilih namja yang ternyata hanya mempermainkanku saja. Saat aku menyadari aku mencintainya, ia sudah pergi dan meninggalkanku yang hidup dengan semangat yang sudah mati.

Chapter 4

Tidak banyak pelayat yang datang saat pemakaman omma Sehun. Hanya keluargaku saja. Memang appa ku tidak ikut karena sibuk, namun omma ku menyempatkan diri untuk datang. Selain itu ada juga teman – teman Sehun dari klub basket di sekolah dan beberapa temannya sesama dancer yang tidak aku kenal. Komplotan enam yeoja genit itu juga datang disini, entah darimana mereka tahu. Tapi kedatangan mereka semua pasti bisa untuk mengobati perasaan kesepian Sehun. Setidaknya dia tahu kalau masih banyak yang peduli padanya.

Wajah Sehun terlihat sangat kusut. Sedari tadi dia diam saja dan menunduk dalam. Tidak ada air mata yang keluar. Aku ingin memeluknya dan berkata padanya kalau semuanya baik – baik saja. Meski kedua orangtuanya telah meninggal tapi dia tidak sendirian. Masih ada aku dan keluargaku yang menyayanginya sepenuh hati. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa jadi kekasihnya. Aku akan melakukan apapun untuknya selain yang satu itu.

Dengan langkah pelan, Sehun berjalan mendekati makam ommanya, lalu dia berlutut dan meletakkan setangkai mawar putih. Aku tahu kalau ommanya sangat menyukai warna putih. Begitu meletakkan bunga, Sehun menutup matanya rapat-rapat. Aku yang sekarang berdiri disampingnya bisa melihat sengan jelas ada air matanya yang lolos keluar. Dia langsung menghapusnya, tidak membiarkan airmatanya mengalir lagi. Kami semua terdiam, tidak ada seorangpun yang bicara. Yang terdengar hanya suara dedaunan yang berdesir halus karena ditiup angin.

Chanyeol si Happy Virus terlihat menunduk dalam dan sama sekali tidak menyebarkan virusnya untuk semua yang ada disini. Hari ini aku melihat Baekhyun tidak memakai eyeliner tebalnya. Mungkin dia takut kalau wajah manisnya jadi aneh jika eyelinernya luntur karena kebanyakan menangis dari tadi. Kalau disini ada yang tidak mengenali Sehun, aku yakin mereka akan mengira kalau Baekhyunlah yang kehilangan omma dilihat dari tangisannya. Enam yeoja tengik itu juga tidak membuat rusuh sama sekali. Wajah mereka menampilkan ekspresi kehilangan yang sangat besar. Sepertinya mereka memang benar – benar menyayangi Sehun meski terkadang tingkah laku mereka berlebihan.

Perlahan, satu – persatu pelayat mulai meletakkan bunga di makam omma Sehun menandakan kalau mereka telah merelakan kepergiannya. Aku meletakkan bunga yang sama dengan Sehun. Kurasakan sebuah tangan yang hangat menggenggam tanganku. Saat aku menoleh, ternyata itu Luhan oppa. Dia tersenyum manis seolah memberiku kekuatan agar tidak menangis. Tapi pertahananku runtuh. Air mata menyebalkan ini keluar juga. Luhan oppa membimbingku berdiri dan memberiku sapu tangan untuk  menghapus air mataku.

Setelah itu, aku berdiri disamping Sehun dan berusaha untuk meraih tangannya. Tapi.. dia menepisnya. Dia kenapa? Sedikit perasaan kesal muncul, namun aku mencoba memakluminya karena sepertinya dia memang lagi bersedih. Dan perasaan aneh yang kurasakan sejak pengakuan cintanya sekitar seminggu yang lalu semakin kuat. Benar – benar membuatku pusing jika memikirkannya.

*

Sejak pemakaman ommanya, lagi – lagi Sehun tidak masuk sekolah dan lagi – lagi aku yang selalu dikerumuni orang- orang yang ingin bertanya tentang dia. Karena itulah sekarang aku lebih memilih bersembunyi diruangan kosong yang dulunya dipakai sebagai gudang daripada harus meladeni mereka satu persatu. Aku hanya sendirian disini karena Hana tidak masuk sekolah karena sakit. Temanku yang lain sudah pergi ke kantin dengan pasangannya masing – masing dan aku masih cukup waras untuk tidak mengikuti mereka dan hanya akan  jadi penonton. Aku memakan bekalku sambil berpikir. Ternyata begini rasanya saat Sehun tidak disampingku. Tapi yang kupikirkan bukan itu.

Aku memikirkan gosip miring tentang Sehun yang beredar akhir – akhir ini. Gosip yang tidak beralasan, menurutku. Mereka bilang kalau Sehun sekarang sudah merokok. Aku akui untuk yang satu itu karena aku memang pernah melihatnya. Tapi gossip tentang Sehun yang jadi pecandu obat – obatan? ?!! Ini sudah tidak benar lagi. Sepertinya mereka yang menyebarkannya sedang menguji kesabaranku dan ingin melihatku mengamuk. Dan aku harus menebalkan telingaku jika mereka membicarakannya disampingku.

Brakk!! Tiba – tiba pintu ruangan ini dibuka dengan kasar. Dan aku berdecak pelan saat melihat siapa pelakunya.

“Ada apa? Kalian mencariku bukan karena Sehun lagi kan?” tanyaku to the point. Meminimalisir waktuku bersama para yeoja ini.

“Ne!! Ini tentang Sehun.” Wajah Hyoyeon sedikit pucat, dan aku menatapnya tajam.

“Tidak bisakah kalian berhenti mengusiknya? Dia masih sedih karena baru saja kehilangan ommanya, satu – satunya keluarga yang dia miliki. Dan kalian dengan seenak jidat kalian malah menyebarkan berita miring tentangnya. Bagaimana jika dia sampai mendengarnya? Tolong kalian pikirkan itu!!!” ucapku dengan sedikit membentak.

Jessica mendekatiku dengan ekspresi yang sama dengan Hyoyeon. Bukan dengan ekspresi angkuhnya selama ini, membuatku jadi sedikit bingung.

“Ada apa sih?” tanyaku, tapi dia cuma menggeleng dan ini semakin membuatku heran.

“Ini,” Seohyun, sang maknae yang baru bergabung dengan grup ini menyodorkan beberapa lembar foto. Aku meletakkan sumpit yang kupegang dari tadi dan menerima foto yang dia berikan. Mataku terbelalak saat melihatnya.

“I..ni.. b-bohong kan?” suaraku terdengar bergetar.

Taeyeon menggeleng. “Itu benar. Foto itu diambil oleh Eunhyuk, siswa berandal yang baru – baru ini dikeluarkan dari sekolah.”

“JANGAN BERCANDAA!!” Aku berteriak sambil menangis. “Jangan mengerjaiku, arra?”

“Kami tidak mengerjaimu, kami…”

Aku tidak tahu lagi kelanjutan kalimat Yuri karena aku telah berlari keluar. Tidak kupedulikan tatapan aneh para siswa yang kulewati. Pokoknya aku harus bertemu Sehun sekarang dan melihat keadaannya. Perasaan aneh juga semakin kuat.

“..ra. Sora!!” Aku mendengar namaku dipanggil, tapi aku abaikan saja dan tetap berlari. Langkahku baru tehenti saat Chanyeol memegang lenganku dengan kuat. Nafasnya ngos – ngosan karena dia mengejarku. Aku berusaha untuk melepaskan genggamannya, namun gagal karena tangannya sangat kuat.

“Le..lepas!!”

“Tidak!” jawab Chanyeol.

“LEPASKAAN!!!”

“Ini tentang Sehun,” aku berhenti meronta saat dia mengucapkan nama itu. “Apa lagi? Apa kamu juga ingin menjelekkannya?”

“Bukan Sora,” kali ini Baekhyun yang menjawab. Entah sejak kapan dia muncul.

“Lalu kenapa?” aku kembali menangis. Chanyeol menghapus air mataku dengan lembut. Aku membiarkannya karena aku tahu kalau dia memang suka padaku. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini.

“Semua memang belum pasti. Apa kamu sudah menemui Kai? Sepertinya dia tahu sesuatu,” ujar Chanyeol.

Ah, iya Kai! Kenapa aku bisa melupakannya?

“Bisakah kau lepaskan tanganku agar aku bisa menemui Kai?”

Chanyeol tersenyum, “Tentu saja.”

Aku kembali berlari menuju kelas Kai dengan cepat mumpung masih istirahat.

“Kai!!” aku berteriak dan langsung menuju Kai yang duduk dengan santai.

“Ada apa mencariku agasshi?”aku tidak menjawabnya dan berusaha untuk mengatur nafasku yang tidak teratur.

“Sehun. Apa kamu tahu apa yang terjadi padanya?” bisa kulihat beberapa siswa di kelas ini menoleh kearahku saat aku mengucapkan nama itu.

Kai tersenyum. “Untuk apa kamu mencarinya ‘lagi’?”

“Ayolah Kai, jangan balik bertanya. Jawab saja pertanyaanku, ne?” ujarku dengan nada yang sedikit memelas. Percuma berdebat dengannya sekarang ini.

“Untuk apa kamu bertanya padaku? Bukankah kamu yang paling tahu apa yang terjadi padanya?”

Aku mengerutkan keningku, “Tentang kematian ommanya?”

“Salah satunya.”

“Tolong serius, Kai. Apa yang terjadi pada Sehun?”

Kai menghela nafas. “Kamu yang paling tahu, kejadiannya sesudah dia pulang dari rumahku beberapa minggu yang lalu.”

Aku diam dan berpikir sejenak. Lalu aku tertegun, itu kan…

“Benar,” ujar Kai. Seolah dia bisa membaca pikiranku. “Gara – gara itu dia jadi begini.”

“Tidak mungkin!!!”

Kai mengangkat bahunya, “Tidak masalah kalau kau tidak percaya.”

Aku berdecak sebal. Memang percuma saja bicara baik – baik dengannya. Namun dia menahan tanganku saat aku hendak melangkah pergi. “Apa lagi?!!”

Kai mendekatkan wajahnya padaku dan berbicara dengan sangat pelan hingga aku yakin hanya kami berdua yang mendengarnya. “Tidak bisakah kau… menerimanya?”

Dia.. jadi dia tahu kalau Sehun suka padaku? Aku tidak suka tatapannya saat ini. Terlihat seperti memelas dan sangat berharap. Aku menghentakkan tanganku yang dia pegang hingga terlepas.

“Jangan bicara bodoh! Dia itu sahabatku. Urus saja si Ji Eun mu itu.”

Sudah kuduga, dia pasti kaget karena aku tahu rahasianya. Siapa suruh dia memintaku untuk menerima Sehun sebagai namjachingu? Dan dia juga seolah menyalahkanku kenapa Sehun jadi seperti itu. Menyebalkan sekali. Cepat – cepat aku keluar untuk mencari Sehun dan meninggalkannya.

Aku sudah berkeliling mencarinya di tempat yang biasa dia kunjungi saat suasana hatinya sedang tidak baik. Keringat yang bercucuran dari tubuhku sudah tidak kupedulikan lagi. Yang terpenting bagiku saat ini adalah menemukan Sehun. Aku tidak suka dia digosipkan seperti ini. Mereka bicara yang tidak – tidak tentang sahabatku. Pokoknya aku harus menemukannya untuk bertanya langsung. Aku sudah mulai lelah mencarinya, namun hasilnya tetap nihil.

Astaga… Aku ini lagi pikun atau apa? Aku bahkan belum memeriksa apartemennya. Mungkin karena terlalu panik aku jadi lupa. Dengan cepat aku langsung pergi ke apartemennya.

Hari sudah mulai gelap saat aku sampai disana. Nafasku sudah ngos – ngosan karena capek dan tegang. Dengan langkah yang hampir terseok, aku menaiki tangga ke lantai dua. Aku tidak langsung mengetuk pintunya, tapi mencoba untuk mengatur hatiku jika ternyata Sehun ada didalam sini.

Setelah lebih dari lima belas menit berdiam diri, akhirnya aku memberanian diri untuk memencet bel nya. Meski sudah berkali – kali kulakukan, tetap tidak ada jawaban.

“Sehun-ah, kamu di dalam?”

“…”

“Sehun-ah, cepat buka pintunya… Ini aku Sora, aku mau bicara. Sehun-aaaaah!!!!!” meski aku sudah berteriak namun tetap tidak ada yang menyahut. Entah kenapa perasaanku berkata kalau Sehun memang ada di dalam. Aku pun mencoba untuk membuka pintunya dengan paksa. Aku kaget sekaligus senang karena pintunya ternyata tidak dikunci.  Percuma saja aku berteriak dari tadi sampai di tegur seorang ajusshi yang sedang melintas.

Aku masuk ke dalam dengan langkah pelan seperti seorang pencuri. Karena keadaannya gelap, aku pun mencari saklar lampu dan menghidupkannya. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang ini. Ruangan ini benar – benar berantakan. Barang – barang Sehun yang memang tidak banyak berserakan di lantai. Meja ruangan ini keadaannya sudah terbalik. Buku – buku berserakan dan aku juga melihat pecahan kaca yang sepertinya dibanting dengan sengaja.

“A,,ada apa ini?” Aku bisa merasakan suaraku  bergetar. Tidak mungkin ini ulah pencuri. Karena apartemen ini jelas – jelas bukan apartemen mewah yang akan menguntungkan bagi mereka.

“Sehun-ah, kamu dimana?” aku perlahan mencarinya dengan perasaan takut. Aku harus hati – hati melangkah kalau tidak ingin terpeleset atau tersandung. Selang beberapa saat hidungku mencium sesuatu yang terasa aneh, membuat kepalaku terasa pusing. Setelah dicari, ternyata bau itu berasal dari kamar Sehun.

Lagi – lagi mataku terbelalak sempurna saat melihat keadaan kamar Sehun. Ruangan yang biasanya sangat rapi ini sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Rasanya sangat mustahil seorang Sehun yang suka kebersihan membiarkan keadaan kamarnya seperti habis dihantam badai. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan ruang tamu tadi. Aku bernafas lega karena akhirnya aku berhasil menemukan Sehun. Dia sedang duduk dipinggiran tempat tidurnya. Aku sudah hampir memeluknya saat aku melihatnya menyuntikkan sesuatu di lengan kirinya.

“Se,, Sehun-ah, aa,, apa yang kamu lakukan?” dia menoleh padaku sebentar, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang menakutkan itu. Begitu isi suntiknya habis, dia mengambil sesuatu dan membalutnya lalu menghirup aroma yang keluar dari dalamnya. Aku mengerutkan keningku, jadi bau aneh itu yang dicium Sehun? Ja,,jadi foto itu memang benar?

Sepertinya dia sangat menikmati apa yang dia lakukan saat ini. Aku bisa melihatnya dari matanya yang tertutup sambil mendongakkan kepalanya. Mulutnya sedikit terbuka dan desahan nikmat keluar dari bibirnya. Hatiku sangat sesak menyaksikan Sehun yang seperti ini. Jadi semua cerita tentang Sehun yang sekarang jadi pecandu obat – obatan itu benar? Air mataku pun keluar dengan deras tanpa bisa aku tahan. Sehun itu namja yang kuat. Bukankah dari kecil dia sudah bertahan? Kenapa akhirnya malah jadi seperti ini?

“Sehun-ah, gwenchana?” tanyaku sambil duduk disampingnya. Dia hanya diam dan keheningan kembali menyelimuti.

“Menurutmu?” Setelah agak lama akhirnya Sehun buka suara. Dia bicara tanpa melihatku.

“Menurutku kau sedang tidak baik. Kenapa kau lakukan ini?”

“Apa pedulimu?”

“Tentu saja aku peduli Sehun-ah, kamu sahabatku…”

Kali ini dia melihatku dengan tatapan yang … terluka? Seringaian menyeramkan terpampang dibibirnya.

“Aku. tidak. Butuh. Sahabat.” Ujar Sehun dengan penekanan disetiap kata yang dia ucapkan.

“Ayolah Sehun,, jangan.. seperti ini,,,uhkk.” Aku mulai terbatuk karena ikut menghirup aroma terlarang ini.

“Pergi! Kau tidak akan tahan. Seorang Agasshi sepertimu tidak pantas berada di tempat seperti ini. Atau nanti kamu malah akan ketagihan.”

Aku menggeleng. “Tidak Sehun-ah,, sebelum hiks,, kamu menghentikan semua ini.” Air mataku mulai mengalir deras. Aku tidak mau Sehun jadi hancur seperti ini.

“Hentikan Sehun-ah,,, jebal…”

“Apa maksudmu menyuruhku menghentikan ini Sora?”

“Aku ingin kamu kembali seperti sebelumnya. Jangan menghancurkan hidupmu Sehun-ah. Masih banyak yang harus dilakukan.”

Sehun kembali menatapku intens dan membuat dadaku bergemuruh hebat. Bukan karena deg – degan. Tapi karena takut. Sebenarnya aku sangat takut dengan sosok Sehun yang sekarang ini.

“Maksudmu, kembali jadi namja bodoh yang mengharapkan cinta darimu?”

Aku terdiam seketika. Jadi dia seperti ini karena aku menolak pernyataan cintanya beberapa waktu lalu? Bukankah dia JELAS tahu kalau dihatiku ada namja lain?

“Jangan melihatku seperti itu. Aku memang sudah mencintaimu dari dulu. Lebih dulu daripada kamu yang mencintai namja itu. Aku bertahan hidup karena aku tetap ingin melihat senyumanmu. Hanya itulah satu – satunya alasanku.”

Aku tetap diam. Menunggu kelanjutan perkataannya yang sepertinya belum selesai. Aku tidak habis pikir kenapa dia seperti ini. Bukankah diluar sana ada banyak yeoja yang mengantri untuk jadi yeojanya? Kenapa mesti aku yang notabene adalah sahabatnya? Hanya karena ditolak seorang yeoja dia jadi berubah drastis. Aku heran, kenapa dia tidak memakai otaknya yang pintar itu untuk berpikir realis dan tidak langsung menjadi begini. Ternyata Sehun tipe namja lemah seperti ini, dan aku sedikit kecewa setelah melihat keadaannya.

Sehun yang kukenal adalah Sehun yang baik dan selalu tersenyum, meski hanya terhadap orang – orang tertentu saja. Dia selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Belajar mati – matian disela kesibukannya bekerja sambilan agar tetap mempertahankan prestasinya dan selalu dapat beasiswa.  Tidak pernah sekalipun mengeluh meski dunia ini sangat tidak adil terhdapnya. Tapi kini? Dia justru langsung ambruk hanya saat cintanya ditolak seorang yeoja. Dan itu aku. Mau bagaimana lagi? Aku memang tidak mencintainya. Aku tidak mungkin pura – pura menerimanya karena kasihan. Aku bukan tipe pemberi harapan palsu seperti itu. Aku cukup realis, menurutku.

Perlahan Sehun mengecup suntik yang tadi dia pakai untuk menyuntik lengannya dengan lembut.

“Apa kau tahu? Dia memberiku dunia yang aku impikan selama ini. Didunia itu aku melihat kalau keluargaku masih utuh dan harmonis. Appaku masih hidup dan Omma ku juga masih sehat. Kami hidup bahagia seperti keluarga lainnya tanpa ada masalah berarti yang mengganggu kehidupan kami. Dan yang paling penting…” Sehun menghentikan kalimatnya dan melihatku. “Aku memilikimu seutuhnya.”

Aku terkejut mendengar ucapannya barusan. Dia mengkonsumsi obat – obatan terlarang hanya untuk ini?

“Ta,, tapi itu hanya ilusi Sehun-ah…”

Sehun tersenyum. “Tidak masalah. Aku tidak peduli yang aku lihat itu hanya ilusi atau khayalan semata. Yang penting aku memilikimu. Aku bisa mendapatkan hatimu seutuhnya. Disana tidak ada yang bisa memisahkan kita. Kita berdua saling memiliki dan saling mencintai. Menghabiskan waktu bersama. Banyak namja yang iri padaku karena hanya aku yang kau pilih dari sekian banyak namja yang menginginkanmu. Di dunia itu, tidak ada satupun pengganggu. Bahkan namja yang kamu cintai sekarang pun tidak ada disana. Hanya ada kau, aku, dan kebahagiaan kita.”

Aku sedikit kesal. Kenapa dia berkata seolah dia jadi seperti ini karena aku?

“Sadar Sehun-aa!!!…. Cepatlah sadar!!!!!” aku mulai berteriak dan menggoncang tubuhnya. Tiba – tiba saja dia menarik tubuhku dan kini dia sudah menghimpitku di bawah tubuhnya.

Aku langsung ketakutan melihatnya. Apa yang ingin dia lakukan padaku?

“A,,apa yang kau lakukan? Ja,,jangan…”

Perkataanku terpotong otomatis karena Sehun sudah menyumpal bibirku dengan bibirnya dia melumatnya dengan kasar. Aku berusaha berontak dengan menggoyangkan kepalaku dan mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga. Namun hasilnya tidak ada karena tenaganya jauh lebih besar dariku.

Aku memang bisa sedikit bela diri, namun entah kenapa rasanya seluruh saraf ditubuhku terasa lumpuh. Dan satu lagi yang membuatku tidak sanggup menghajarnya adalah karena tiba – tiba saja pipiku kembali basah! Dan jelas itu bukan air mataku, tapi air mata Sehun! Demi apapun, ini benar – benar diluar pikiranku. Sehun yang berlaku kasar padaku, dan malah dia yang menangis? Aneh! Apa anak ini sudah mulai terpengaruh obat – obatan yang dia konsumsi?

Karena capek memberontak, aku pun membiarkannya berlaku sesuka hatinya. Setelah agak lama, akhirnya Sehun melepas tautan bibir kami. Lalu diapun ikutan tidur telentang disampingku dengan kaki yang masih menyentuh lantai. Kedua tangannya dijadikan bantalan. Aku bisa melihat tatapan kosong di dalam matanya yang menatap lurus ke langit – langit kamar.

“Katakan, katakan padaku Sehun-ah, kenapa kamu jadi begini? Hiks,, Sehun-ah..”

Aku terkejut karena Sehun lagi – lagi menghapuskan jarak diantara kami dengan kembali menciumku dan bukannya menjawab pertanyaanku. Tapi dia tidak melakukannya dengan kasar seperti tadi. Kali ini dia melakukannya dengan melumat bibirku dengan lembut. Nafasnya yang menderu terasa menyapu wajahku. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat lekuk wajahnya yang bisa dibilang sempurna. Dan membuat banyak yeoja diluar sana yang menginginkannya setengah mati.

Aku tidak membalas ciumannya, namun juga tidak menolak. Rasanya sangat berbeda dengan saat orang itu melakukannya denganku dulu. Dadaku terasa sesak karena dipenuhi perasaan yang sepertinya meletup hebat. Wajahku juga terasa panas saat disentuhnya. Tapi semua itu tidak aku rasakan saat Sehun melakukannya denganku. Mungkin karena aku memang tidak menyayanginya lebih dari seorang sahabat. Setelah beberapa saat, Sehun pun melepas tautan bibir kami. Dia mengelap air mata yang sudah hampir kering diwajahku.

“Uljima, kamu tidak cocok menangis Sora..”

Aku pun mendorong tubuhnya dan kembali duduk. Sehun melakukan hal yang sama.

“Kalau begitu, berhentilah membuatku menangis. Aku begini karena khawatir padamu Sehun-ah. Jangan begini lagi, ne?” aku memegang tangannya yang menghapus air mataku. Namun dia hanya tersenyum simpul dan menggeleng pelan.

“Tidak Sora, aku benar – benar tidak bisa lagi kembali.”

“WAEEE??!!!!!!”

Dia menatapku tajam. “Kalau begitu kamu mau menerimaku?”

Oh my… kenapa dia selalu menyinggung masalah ini? “A,,,itu..”

Sehun mencibir. “Penolakan yang bagus dan sangat halus, sedikit lebih baik dari penolakanmu sebelumnya. Kalau begitu lebih baik kamu pergi dari sini!”

“Sehun-ah,, jangan keras kepala. Tinggalkan semua ini ne?” aku masih berusaha untuk membujuknya. Karena bagaimanapun dia sahabatku. Sa-ha-bat-ku.

“Pergi! Atau nanti kau akan menyesal seumur hidupmu!”

“Ma,,maksudmu apa?”

“Melanjutkan yang tadi.”

Aku terkejut, Ya Tuhan.. jadi Sehun berniat melakukan hal yang tidak sopan padaku?

“Tapi kamu tidak akan memaksaku melakukan ‘itu’ kan Sehun-ah?”

“Mungkin saja. Mengingat aku sudah tidak bisa lagi menguasai pikiran dan tindakanku.”

“Pokoknya aku tidak akan pergi sebelum kamu meninggalkan ini semua!!” aku membentaknya. Entah kenapa aku jadi keras kepala seperti ini. Padahal sudah jelas dia mengusirku.

Tiba – tiba saja Sehun terdiam. Dia terlihat berpikir. Setelah agak lama, dia tersenyum padaku, bukan seringaian menyeramkan seperti yang dia tunjukkan padaku beberapa saat yang lalu. Tapi sebuah senyuman manis yang sangat tulus.

 

Because I am so weak, because I am so bad
I am just watching you like this.
My worn-out mind and my deep scar
I must have forgotten them like an old memory.
I cannot handle myself,
I end up clinging on to you.

Don’t leave like this
(Don’t you see) My heart is calling out to you.
In this cruel fate, that drives me crazy,
There is nothing more I can do.

My sad appearance and the sad look in your eyes –
I wonder if they are just a passing wind.
Although I try to block my ears from the rough sound of the wind
I cannot block my eyes from seeing you.
You and I under the same sky
We must be looking towards different places.

In an endless feeling, this greed I can’t abandon
Although, like this, I want and want
It is I that has no right to have you.
It is I that has no right to have you.

Fate, Park Wan Kyu

 

Jantungku berdetak lebih cepat dan serasa mau meledak saat melihat senyumannya. Rasanya ada yang aneh. Tapi aku tidak tahu apa. Sehun mengelus rambutku dengan lembut. Aku menutup mataku dan menikmati sentuhannya dikepalaku. Kenapa aku seperti ini?

“Mianhe, tadi aku sudah berlaku kasar padamu. Kamu memaafkanku kan?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan, masih heran dengan perubahan sikapnya yang terlalu tiba – tiba.

“Bagus. Sora memang yeoja yang baik dan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Kalau begitu kamu mau pergi sekarang?”

Aku berdecak pelan, jadi tujuannya berlaku lembut agar aku mau pergi dari sini?

“Jangan begitu. Aku menyuruhmu pergi karena aku memang ingin meninggalkan ini semua sesuai dengan permintaanmu. Jadi kamu bisa pergi kan?”

“Jeongmal?” aku jadi semangat. Jadi dia mau mendengarku?

“Ne.” Sehun mengangguk pasti sambil mengangkat jempolnya.

Lalu aku mengangkat jari kelingkingku. “Janji??”

“Janji.” Sehun menautkan kelingkingnya dengan kelingkingku. Lalu kami saling tersenyum.

“Kalau begitu aku pergi, ne? Sampai jumpa disekolah. Mulai sekarang kamu harus kembali sekolah lagi.”

Sehun menggangguk.“Pergilah, Sora. Dan kuharap kamu baik – baik saja. Dan jangan selalu memikirkanku, arra?”

Meski sedikit heran dengan perkataannya, aku meng’iya’kan saja. Toh dia sudah janji untuk meninggalkannya dan Sehun bukan tipe namja yang suka mengingkari janji, dan aku tahu itu dengan jelas. Aku pun keluar dari apartemennya dengan perasaan lega. Rasanya sangat bahagia saat seorang sahabat mau berjanji untuk berubah.

Ya, dia memang berjanji untuk meninggalkan semuanya. Semuanya! Termasuk aku yang sekarang hidup sekarat karena dia. Sehari setelah dia berjanji, Kai yang kebetulan mampir menemukan Sehun yang sudah tidak bernyawa di dalam apartemennya dengan urat nadi yang terpotong. Sehun bunuh diri dan benar – benar menuruti permintaanku untuk meninggalkan semuanya.

End of Flashback

 

 

 

Te Be ce

Hiyaaa~  ga nyangka bisa juga aku mengetik FF sampe empat chapter ditengah pembuatan Skripsi yang “menyenangkan”. Hahaha… (curcol)

Untuk semua fans-nya si Sehun(termasuk aku), maaf aku buat dia bunuh diri. Bener – bener maaf… L. Semoga readers-deul sekalian tidak kecewa yaa dengan cerita yang ga seberapa ini.

Btw, ratingnya agak naik tuh… haha. Tapi ga sampe adegan yang cetarr(?) kok. Aku ga sanggup buat menulis yang begituan. *sokpolos.

Jangan lupa RCL yaa  beiiibh. (itu – itu aja^^). Kalo banyak komen jadi semakin semangat menulis. Merasa kalau karya kita tu lebih dihargai.

Jangan lupa baca FF ku yang lain ya, Saat Bacon Kenal Cinta!. Hehe..

Yang siders jadikan aja makanan HIU. Greenland SHARK, hiu ganas itu.  :p

Kejam? Tentu saja. Aku pembunuh berdarah dingin yang tidak kasihan membunuh semut yang menggigitku.

Itu saja.

See you~

 

 

 

 

 

Preview next chapter…

…. Justru si KE-PA-RAT Kris itu akan bahagia melihat kita hancur dan berantakan!!!….

Mereka juga takut melihat Luhan oppa yang mengamuk yang mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya dan itu karena aku.

Dia langsung pingsan saat mendengar kamu sudah tunangan. Hihi…

 

15 pemikiran pada “Painful Love (Chapter 4)

  1. akhirnya next chap keluar juga
    sumveh thor ni ff nyesek banget ngeliat penderitaan sehun yang
    g habis-habisnya
    wajar aja sora kek mayat hidup gitu
    sehun bunuh diri karena dia
    aduh g tau mo komen apa lagi
    pokoknya penasaran tingkat dewa ma next chapnya
    hWAITING!!!

  2. nangis bacanya 😥 Aturan sora jaga perasaan sehun dri awal 😥 sama aku aja yuk hun 😀 wakaka keren eonnie 😀

  3. thor, Daebak! oppa ku jdi namja yg mellow banget! aku sampe nangis thor, aku gak bisa bayangin kalo gak ada sehun 😦
    keep writing, next nya ditunggu lo!

Tinggalkan Balasan ke ohhyeri Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s