More Than A Promise

More Than A Promise_Cover

Title      : More Than A Promise

Cast       :

  • Kim Minseok (Xiumin)
  • Shin Juyeon
  • Juyeon’s aunty

Genre   :  Comfort, Romance

Length  : Oneshoot

Author  : Rho [Dulu Miss. Ryeong9]

A/N        : Annyeong!!! Gak usah basa-basi dekh, pokoknya Happy Reading, Hope You Like It, Mian kalo jelek dan banya typonya!!! Yang pasti di tunggu komennya…. ^_~

 

==^^==^^==

“Melihatnya seperti itu aku ingin lebih dari sekedar menpati janjiku, bukan hanya kembali dan tidak membuatnya menangis, tapi ingin selalu menjaganya, membuatnya selalu tersenyum, dan tak akan pernah lagi meninggalkannya”

“Nae sarangi neol jigil teni”

[My Love will protect you]

==^^==^^==

~~~

~~

~

Gadis itu menutup mulutnya, menahan teriakan yang mungkin keluar, air matanya mengalir begitu saja, wajahnya berubah pucat, pucat sekali. Tubuhnya gemetar, ia tak sanggup mengatakan apapun, hal yang baru saja di lihatnya adalah pembunuhan. Ia mendengar jeritan orang tuanya, ia melihat semuanya, di saat kilat dan petir menyambar-nyambar, ia melihatnya, bagaimana orang itu memukul ayahnya, menusukkan pisaunya ketubuh ayah dan ibunya, ia melihatnya.

Gelegar petir yang sedari tadi menyertai hujan deras yang mengalir seperti darah yang mengalir dari tubuh pasangan suami istri itu. Gadis tadi, ia mendekati mayat kedua orang tuanya, ia terjatuh, kakinyanya serasa sudah tidak kuat lagi menopangnya. Ia terdiam, matanya tak berkedip sekalipun tapi air matanya terus mengalir dan mengalir.

“APPA!!! EOMMA!!!” teriaknya beberapa detik kemudian.

Ia menagis sejadi-jadinya, tapi sedetik kemudian dia menjerit, meraung, berteriak-teriak ketika kilat dan petir mulai mnyambar-nyambar, ketakutan mulai merasuki dirinya, ketakutan akan kemungkinan orang itu akan kembali untuk membunuhnya.

~~~

Incheon Airport. Seorang pria keluar dari terminal kedatangan luar negeri, ia menarik kopernya sambil berjalan santai. Kim Minseok, senyumnya yang sangat manis terukir jelas di wajahnya yang imut dan sangat menggemaskan itu. Kenapa tidak??? Sudah hampir 5 tahun dia meninggalkan tanah airnya, mengikuti orang tuanya yang di tugaskan di China. Tak hanya itu, ada seorang yang juga sudah rindukannya.

“Juyeon-aa, uljima!!! Ttuk…” ucap pria itu sambil menmbelai lembut rambut gadis di sampingnya.

“…”

Tak ada jawaban, hanya isakan yang terdengar dari gadis itu.

“Ya!!! Kalau kau seperti ini, bagaimana aku bisa pergi dengan tenang, huh??? Juyeon-aa, jebal uljima!!!” pinta si pria lagi.

“Geurae, aku berhenti menangis!!! Tapi berjanjilah padaku, kau akan kembali, yakseok???” gadis itu menegakkan kepalanya, menghapus air matanya, kemudian menagangkat kelingkingnya.

“Yakseok.” ucap si pria sambil menautkan kelingkingnya.

Kemudian dia berdiri di letakan tangannya di dadanya seolah akan mengucapkan sebuah sumpah, tapi dia memang benar-benar bersumpah.

“Aku Kim Minseok berjanji akan segera kembali dan tak akan pernah membiarkan shin Juyeon menangis lagi.” ucapnya.

Di tatapnya gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu, juga gadis yang sudah memliki temapt teristimewa di hatinya. Ia tersenyum, senyuman yang seolah meminta gadis itu percaya akan janji dan sumpahnya.

“Juyeon-aa, aku menpati janjiku!!!” ucapnya lirih.

Ia tersenyum lagi, lebih manis daripada sebelumnya, kemudian melanjutkan jalannya.

~~~

Minseok mengamati sebuah bangunan di depannya, di lihatnya alamat yang di berikan tetangga Juyeon, katanya setelah kematian orang tua Juyeon setahun lalu , Juyeon di bawa bibinya. Setelah yakin bahwa alamat itu benar, barulah ia memencet bel rumah itu. Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh paya, dia pasti bibi Juyeon.

Annyeong Hassimika!!!” ucap Minseok sopan kemudian membungkukkan badannya.

Wanita itu membalas salam Minseok, kemudian di persilakan Minseok masuk ke dalam rumahnya yang bisa di bilang besar itu.

“Bolehkah aku tahu siapa kau dan apa yang membuatmu ke sini???” tanya wanita itu ramah.

Nde, johneun Kim Minseok imnida. Ahjuma-nim, sebenarnya saya kemari mencari Shin Juyeon, tetangganya bilang Juyeon sekarang tinggal bersama anda.” balas Minseok dengan sopan.

“Juyeon???”

Nde, apa boleh saya bertemu dengannya???” tanya Minseok.

“Aku takut kau terkejut dengan keadaan Juyeon, tapi …”

AAAA!!!”, belum sempat wanita itu menjelaskan lebih lanjut tentang keadaan Juyeon, sebuah teriakan terdengar dari lantai atas. Wanita itu segera bangkit dan berlari menaiki anak tangga, Minseok terdiam sesaat, suara itu tak terdengar asing.

“Juyeon…” gummamnya, kemudian dia bangkit dan menyusul wanita tadi. Kurang sopan memang tapi sebaiknya dia  memastikannya.

Minseok hanya berdiri di ambang pintu, dilihatnya wanita tadi memeluk seorang gadis yang mencoba meronta-ronta dan menangis tak jelas. Ruangan itu terlihat berantakan, juga dengan keadaan gadis itu, tubuhnya kurus, rambutnya berantakan, matanya sembab, mungkin jika Minseok tak memperhatikan dengan seksama ia tak akan tahu bahwa gadis itu adalah Shin Juyeon, gadis yang di carinya.

Minseok melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam ruangan itu, itu benar-benar Juyeon, hatinya serasa di sayat-sayat melihat gadis yang begitu di rindukannya menjadi seperti itu. Di tatapnya manik mata Juyeon, ia hanya membisu, yang dilihat dari mata Juyeon hanyalah ketakutan dan kesedihan.  Ia tak tahu lagi apa yang harus di lakukannya, di rebutnya Juyeon dari pelukan bibinya, kemudian di rengkuhnya gadis itu erat-erat.

“Juyeon-aa, kau kenapa???” ucapnya dengan suara sedikit begetar.

Minseok menahan air matanya, ia mengeratkan pelukannya, seakan merasakan kehadiran seorang Minseok, Juyeon mulai tenang ia sudah tidak meronta tapi masih menangis. Setelah Juyeon lebih tenang, Minseok dan bibi Juyeon keluar dari kamar Juyeon, mereka duduk begitu saja di tangga.

“Juyeon, dia, dia …” bibi Juyeon menghela nafas kemudian melanjutkan penjelasannya, “Dia depresi dan juga trauma, dia melihat bagaimana ayah dan ibunya di bunuh, semua itu membuat Juyeon seperti itu.”

“…”

Minseok hanya diam, matanya beralih memandang ke arah kamar Juyeon. Masih terdengar isakan, Juyeon menangis, ia masih menangis.

“Sepertinya kau dekat dengan Juyeon, biasanya aku membutuhkah waktu berjam-jam untuk menenagkan dia, tapi kau sebentar saja sudah membuatnya tenang.” ucap bibi Juyeon.

“…”

Minseok masih terdiam, ia berusaha keras memutar otaknya, tak lama kemudian di tatapnya bibi Juyeon yang masih duduk di sampingnya, “Ahjuma-nim, bolehkah aku merawat Juyeon, aku ingin membuatnya seperti dulu!!!” pinta Minseok.

Minseok benar-benar ingin merawat Juyeon, melihat Juyeon seperti itu membuat Minseok ingin lebih dari sekedar menpati janjinya, bukan hanya kembali dan tidak membuat Juyeon menangis, tapi ingin selalu menjaganya, membuatnya selalu tersenyum, dan tak akan pernah lagi meninggalkannya. Ia ingin menebus kesalahannya selama ia tak di samping Juyeon.

Geurae, kau boleh melakukannya, aku tak bisa melakukan apa lagi untuk menyembuhkannya. Aku harap kau benar-benar membuat Juyeon sembuh.” ujar bibi Juyeon.

~~~

Hari berikutnya setelah Minseok bertemu Juyeon untuk pertama kalinya setelah ia pulang dari China. Ia membawa datang ke rumah bibi Juyeon sambil mebawa salah satu hal yang disukai Juyeon, dulu dia selalu memintanya ketika ia sedang merajuk pada Minseok, yogurt.

“Juyeon-aa…” ucam Minseok ketika masuk ke dalam kamar Juyeon.

Dilihatnya Juyeon menagis sesenggukan di sudut ruangan itu, Minseok mendekatinya, dihapusnya air mata Juyeon. Minseok membantunya berdiri kemudian mengajakanya duduk di tepian ranjang. Ia memeberikan yogurt yang di bawanya.

Uljima…!!! Kau mau minum yogurt???” ucapnya.

“…”

“Aku membelinya tadi, aku selalu ingat saat kau mulai merajuk dan meminta yogurt supaya kau memaafkanku. Kau selalu bilang yogurt seribu kali lebih baik dari susu biasa, iya kan???” ucap Minseok lagi.

Tak ada jawaban, tak ada respon. Minseok hanya tersenyum kemudian membantu Juyeon agar bisa meminum yogurt yang dibawanya. Agak lama hingga akhirnya Juyeon mau meminumnya, itu membuat Minseok tersenyum sambil membelai lembut rambut juyeon yang sangat berantakan itu. Setelah Juyeon selesai meminum yogurtnya, minseok segera mencari sisir di kamar Juyeon. Agak susah mengingat kamarnya sangat berantakan, tapi Minseok menemukannya.

ANDWEEEE!!!

Juyeon menjerit saat Minseok menunjukan sisir itu, mungkin Minseok tak tahu, tapi itu membuat Juyeon mengingat bagaimana ‘orang’ itu mengacungkan pisau di depan ayah dan ibunya. Minseok sedikit bingung, tapi ia mencoba tetap tenang, di genggamnya tangan Juyeon erat-erat.

“Aku hanya ingin menyisir rambutmu, jangan takut, hm…!!!” ucap Minseok.

Butuh waktu lebih lama daripada saat ia membuat Juyeon meminum yogurt yang dibawanya, tapi Minseok berhasil menyisir rambut Juyeon. Susah, tapi dengan sabar Minseok menyisirnya, selembut mungkin agar Juyeon tidak merasa sakit.

“Rambutmu itu indah, bukankah dulu kau selalu merawatnya??? Aku tak tahu apalagi yang harus kau lakukan, setidaknya kau tidak boleh membiarkan rambutmu seperti ini…” ucap Minseok saat menyisir rambut Juyeon.

“Yeppeuda!!!” ucap Minseok begitu acara menyisir rambut selesai.

Sayang sekali, Juyeon hanya diam tanpa ekspresi, dulu setiap Minseok mengatakan bahwa Juyeon cantik wajah Juyeon langsung memerah seperti kepiting rebus.

Hari sudah menjelang malam, bibi Juyeon mengantarkan semangkuk sup untuk Juyeon. Banyak kemungkinan sup itu bernasib sama dengan makanan sebelumnya yang Juyeon lempar setiap Minseok mencoba membujuknya untuk makan. Tapi kali ini Minseok bertekad akan membuat Juyeon makan, ia tak tega melihat tubuh kurus Juyeon, bibi Juyeon juga sering bilang bahwa Juyeon hampir tak pernah tidur. Ia sudah menambahkan obat tidur di sup itu, jadi ia berharap Juyeon menghabiskannya.

“Juyeon-aa…!!! Buka mulutmu, ne???” pinta Minseok.

Hampir dua jam, Juyeon sama sekali tak membuka mulutnya. Minseok hampir menyerah, ia menangis, ia benar-benar tak tahu bagaimana lagi membuat Juyeon bisa makan dan beristirahat dengan layak. Ia tak tega melihat tubuh kurus Juyeon dan lingkaran hitam di mata Juyeon yang sembab.

Jebal…” ucapnya lirih.

Walau tak memandang Minseok sedikitpun, akhirnya Juyeon membuka sedikit mulutnya. Ia mau memakan sup yang dibawa Minseok, walaupun hanya seperempatnya, setidaknya itu membuat Minseok senang. Karena selain perut Juyeon tidak kosong, Juyeon akan bisa segera tidur dengan nyenyak.

Sudah lebih dari 3 minggu, Juyeon sudah menunjukkan kemajuan, setidaknya sejak Minseok merawatnya Juyeon terlihat sedikit lebih baik, setiap hari ada yang menyisir rambutnya, memberinya sebotol yogurt, mulai terbiasa dengan makan malam dan tidur. Juyeon juga terlihat lebih baik, pipinya terlihat sedikit lebih chubby, lingkaran hitam di matanya sudah tidak terlihat.

Hari ini Minseok berniat mengajaknya keluar, tidak jauh, hanya di sekitar rumah. Setelah menyisir rambut Juyeon ia mengajak Juyeon keluar, tak lupa di genggamnya tangan Juyeon. Diajaknya Juyeon berkeliling rumah, ia berharap Juyeon bisa lebih baik setelah menghirup udara segar. Dan Minseok berniat membiasakan hal ini, mengajaknya berkeliling  rumah.

“Juyeon-aa, kau harus cepat sembuh, aku akan mengajakmu berkeliling Seoul bahkan berkeliling dunia, cepat sembuh dan tersenyum, arra???” ucap Minseok ketika mereka berdua duduk di ayunan di belakang rumah.

Minseok berceloteh tak henti-hentinya walaupun Juyeon tak menanggapinya. Ia menceritakan bagaimana kehidupannya di China, pengalamannya yang unik, atau cerita-cerita lain yang kadang tak masuk akal. Tanpa sadar kepala Juyeon sudah terhelatak di bahu Minseok, ia tertidur. Minseok mebiarkannya sedikit agak lama kemudian menggendongnya masuk ke dalam kamar.

Memasuki bulang ke-2 Minseok merawat Juyeon sepertinya membuahkan hasil yang sudah bisa dibilang sangat baik. Juyeon sudah mau makan dengan teratur dan bisa tidur tanpa harus mencampurkan obat tidur di makan malamnya, Juyeon juga sudah tak pernah berteriak dan menagis tidak jelas. Yah, walaupun ia masih selalu menunjukan wajahnya yang tanpa ekspresi itu.

Hari ini Minseok berencana mengajak Juyeon jalan-jalan di taman kota, seperti biasa pagi-pagi ia sudah datang. Setelah menyuapi sarapan, Minseok menyisir rambut Juyeon, kali ini dia membuat kepang di rambut Juyeon, agar terlihat lebih rapi dan membuat suasana baru untuk Juyeon.

Ia membantu Juyeon masuk kedalam mobilnya, kemudian memasangkan sabuk pengaman untuk Juyeon, tanpa di duga Juyeon menatap Minseok, ia menatapnya agak lama kemudian mengulas sebuah senyum tipis.

“Kau tersenyum???” pekik Minseok gembira.

Walau Juyeon sudah tidak mengulas senyumnya dan tidak menaggapi perkataan Minseok, tapi ini benar-benar suatu keajaiban untuk Minseok. Akhirnya Juyeon bisa tersenyum dan itu membuat Minseok menjadi lebih bersemangat, ia semakin yakin untuk selalu di samping Juyeon.

Minseok segera masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya ke taman kota. Dulu ia sering pergi ke sana persama Juyeon sepulang sekolah, sekedar menggoda anak-anak kecil yang sedang bermain atau memang untuk berjalan-jalan. Sesampainya, Minseok segera membantu Juyyeon keluar dari mobil dan membawanya duduk di salah satu bangku di taman itu.

“Kau masih ingat tidak saat kita menggoda anak-anak yang sedang bermain??? Rasanya aku ingin melakukannya lagi.” ucap Minseok.

“…” tak ada jawaban.

“Aku juga berpamitan denganmu di sini sebelum aku pergi ke China, kau ingat tidak??? Seandainya dulu aku bisa memilih, aku akan memilih berada di sini bersamamu!!!” ucap Minseok lagi.

“….” dan masih tak ada jawaban.

“Aku juga menyatan cintaku di sini, kau harus mengingat yang satu ini!!! Aku tak tahu setelah 5 tahun, apakah kau masih memiliki perasaan sepertiku, yang jelas perasaanku masih sama seperti dulu.” ucapnya lagi, walaupun ia tahu Juyeon tak akan membalas ataupun meresponnya.

Minseok menghela nafasnya, kemudian melanjutkan kata-katnya lagi, “Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah berharap kau kembali seperti dulu, aku akan menjagamu, kau tidak perlu takut akan ada yang menyakitimu selama aku di sampingmu. Percayalah, hal yang terjadi pada orang tuamu tak akan terjadi lagi. Kembalilah seperti dulu, jebal!!!”

Appa dan Eomma-mu pasti juga sedih melihatmu seperti ini!!!” lanjut Minseok.

Entah apa ini bisa dikatakan sebagai respon atau tidak, Juyeon menyandarkan kepalanya di bahu Minseok. Ia tidak ketiduran, dia benar-benar menyandarkan kepalanya. Dan ini membuat Minseok bahagia, sangat bahagia. Sepertinya cahaya yang menerangi jalannya membuat Juyeon kembali seperti dulu semakin terang dan semakin terang.

“Hiks, Aa-appa, Eo-omma,…!!!” tangis Juyeon.

Pada akhirnya Juyeon mengatakan sesuatu, walaupun sambil menangis. Minseok tersenyum, di ciumnya puncak kepala Juyeon yang masih menangis. Tangannya menggengam tangan Juyeon, ia mencoba menguatkan Juyeon. Kemudian diambilnya ponsel dan headset-nya, ia memasang headset-nya untuk satu Juyeon dan satu untuknya, diputarkan lagu yang dulu sering Juyeon dengarkan ketika bersedih.

Baby Don’t Cry. Juyeon selalu mendegarkannya ketika ia sedang bersedih, lagu itu adalah lagu yang paling ia sukai, Minseok tersenyum sambil ikut menyanyikannya. “…Baby don’t cry cry nae sarangi neol jigil teni…” ia tersenyum saat menyanyikan lirik itu, lalu berkata, “Yah, nae sarangi neol jigil teni, cintaku akan melindungimu, aku berjanji.”

Sudah lebih dari 3 bulan dan sejak kejadian di taman, Juyeon sering merespon apa yang Minseok atau bibinya lakukan/katakan. Walau hanya respon sederhana, seperti mengangguk, menggeleng, menggengam tangan Minseok, atau sesekali mengucapkan kata “ne”. Dan itu lebih dari sekedar apa yang di harapkan, bahkan bibi Juyeon masih tak percaya dengan kemajuan keponakan tercintanya itu, tapi Juyeon benar-benar menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera sembuh.

Hari ini ulang tahun Juyeon, bibi Juyeon dan Minseok sudah menyiapkan sebuah acara sederhana untuk mereka bertiga. Bibi juyeon memasak banyak makanan hari ini, seperti sup rumput laut, jajangmyeon, bulgogi, kimbab, dll. Ia ingin membuat hal yang sangat istimewa untuk Juyeon, pesta ulang tahun pertamanya setelah kematian orang tuanya.

Minseok mengajak Juyeon keluar dari kamarnya menuju ruang tengah, di kepala Juyeon sudah terpasang sebuah topi ulang tahun, Minseok yang membantunya mengenakannya. Kemudian ia mengajak Juyeon duduk di depan meja, di depan hidangan yang sudah di persiapkan bibinya. Kemudian Minseok dan bibinya mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Juyeon.

“Saeng Il Chukka Hamnida, Saeng Il Chukka Hamnida, Saranghaneun Juyeon-nie,

Saeng Il Chukka Hamnida…”

Canda tawa mulai terlempar dari bibir Minseok, Juyeon yang awalnya tak memeberi respon apapun kini justru menagis. Ia menangis saat Minseok dan bibinya mencoba mengajaknya bercanda. Minseok hanya tersenyum, di ambilnya sesendok sup rumput laut, ia berniat menyuapi Juyeon.

“Juyeon-aa, saeng il chukka, kau harus makan ini, palli, buka mulutmu…!!!” pinta Minseok.

Juyeon tidak merespon, ia masih menangis.Sementara  Minseok, ia tetap  membujuk Juyeon untuk menu makanan wajib di hari ulag tahun itu. Agak lama, hingga akhirnya Juyeon malah memeluk Minseok dan bibinya. Apakah ini…???

Oppa, Imo, gomawo!!!” ucapnya.

Minseok dan bibi Juyeon hanya terdiam matanya saling berpandangan, entah kenapa, tapi terlihat jelas ditatapan mereka bahwa mereka sangat gembira dan juga terkejut. Juyeon melepaskan pelukannya sambil tersenyum dan menghapus air matanya.

“Juyeon-aa, kau sudah sembuh??? Kau sudah kembali???” ucap bibi Juyeon kembali memeluk Juyeon.

Mianhae sudah merepotkanmu, Imo!!!”

Aniyo, kau tidak merepotkanku, aku justru bahagia bisa merawatmu!!!” balas bibi Juyeon. Kemudian ia pergi pergi meninggalakn Juyeon dan Minseok.

Sekarang mata Juyeon beralih ke arah Minseok, ia tersenyum kemudian mengambil sesendok sup rumput laut dan memakannya, kemudian mengambilnya dan menyuapkannya pada Minseok.

“Uhm, mashita!!!” ucapnya.

Ia tersesnyum kemudian menatap Minseok lekat-lekat, “Oppa!!! Boggosippoyo…

Minseok tak bisa berkata-kata lagi, ia memeluk Juyeon. Mungkin ia sudah menangis, ia memeluk Juyeon erat sekali, dan, “uhuk..uhuk…uhuk, Oppa aku tak bisa bernafas!!!” protes Juyeon sambil melepaskan pelukan Minseok.

Mianhae…” ucap Minseok sambil terkekeh.

Oppa …”

Ne???”

“Saat di taman kau bertanya-tanya tentang perasaanku-kan???” tanya Juyeon.

“Kau bisa mengingatnya???”

“Ya!!!Aku bukan orang pikun. Tapi sepertinya perasaan itu …, uhm …”

Waeyo??? Kau sudah tidak mencintaiku???”

“Uhm …”

Juyeon berlagak bimbang, tiba-tiba CHU~ dia mencium sekilas bibir Minseok. Kemudian tersenyum ke arahnya dan berkata, “Kurasa itu sudah menjawabnya!!!”.

 

~~~

(\( THE ^_^END )/)

Di Tunggu komennya ya!!! Bye2…

Baca juga :  https://exofanfiction.wordpress.com/2013/01/18/angel-2/#more-9884

Iklan

5 pemikiran pada “More Than A Promise

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s