Bittersweet (Chapter 2)

 “ Bittersweet “ [Part 2]

bitterweet cover

Cast : Kim Jongin . Kim Junmyeon . Kim Minseok . Kim Jongdae . Park Chanyeol . Byun Baekhyun.

Genre : Family , Sad.

Author : blueplanets

[ Author’s Note : All casts is belongs to their parents, S.M. Enterteinment, and of course GOD. All story is belongs to ME. PLEASE DONT COPY AND PASTE MY FICTIONS WITHOUT PERMISSON! PLEASE DONT DO PLAGIARISM WITH MY FICTIONS. Be creative and dont be a silent reader please ^_^ ]

___

“…Yang berwarna merah itu aku, sedangkan kamu yang berwarna hijau. Aku hanya ingin berteman denganmu. Maukah kamu menjadi temanku? ”

___

“Hyung , kau mau kemana?” tanya Jongin ketika melihat Minseok dan Junmyeon yang tengah bersiap – siap untuk pergi.

“Jongin – ah , bisa kau tolong jaga Chanyeol  hari ini? Aku ada presentasi penting hari ini sementara Junmyeon ada urusan mendadak di sekolahnya. Baekhyun dan Jongdae pergi ke rumah kakek dan nenek di Yosu tadi pagi dan berkata akan menginap di sana selama dua malam” kata Minseok sambil memakai sepatunya.

“Aku ada janji dengan Sehun” jawab Jongin singkat.

“Kalau begitu, suruh Sehun kesini. Jika kau malu memperkenalkan Chanyeol pada Sehun, maka batalkan janjimu” kata Junmyeon datar.

“Hyung . . .”

“Jika kau tidak mau membatalkan janjimu, suruh Sehun datang kesini” kata Junmyeon menatap Jongin tajam. Jongin menundukan kepalanya, tidak tahu harus berkata apalagi. Ia akan menutup mulutnya jika sikap Junmyeon sudah seperti ini padanya.

“Baiklah” jawab Jongin pelan.

Minseok dan Junmyeon telah pergi dan hanya ada Jongin dan Chanyeol yang sibuk  menyusun robot mainannya. Jongin menatap Chanyeol sambil menghelakan nafasnya panjang. “Aku benci ini” gumamnya.

Sebenarnya ia tidak ada janji dengan Sehun hari ini. Itu hanya alasan belaka agar ia tidak kebagian tugas untuk menjaga dan mengurus Chanyeol sendirian di rumah. Ia bisa saja pergi meninggalkan Chanyeol sendri dan pergi ke luar untuk bermain, tetapi ia tidak mungkin meninggalkan Chanyeol sendirian di rumah. Bisa – bisa Junmyeon membunuhnya malam ini jika ia melakukan hal itu.

Jongin duduk di sofa sambil menonton televisi. Tiba – tiba ia merasa ada seseorang yang menyentuh tangannya. Jongin menoleh dan melihat Chanyeol berdiri disana. Chanyeol menyodorkan sepucuk kertas pada Jongin.

Jongin mengambilnya dan membuka lipatan kertas itu. Ia melihat gambar yang acak – acakan tetapi arti dari gambar itu masih dapat ia lihat dengan jelas. Ada dua orang anak laki – laki yang sedang duduk diayunan. Kedua anak laki – laki itu digambar menggunakan warna yang berbeda. Yang satu merah dan yang satu hijau. Anak laki – laki ‘merah’ memegang sesuatu yang tidak jelas bentuknya, sedangkan anak laki – laki ‘hijau’ memegang tangan anak laki – laki ‘merah’ dengan ekspresi tersenyum.

“Yang berwarna merah itu aku, sedangkan kamu berwarna hijau” jelas Chanyeol.

“Untuk apa Hyung memberiku ini? Mengganggu saja” gerutu Jongin kesal.

“Aku hanya ingin berteman denganmu. Maukah kamu menjadi temanku?” tanya Chanyeol perlahan.

Ingin sekali Jongin membentak pemuda yang ada di hadapannya sekarang karena telah mengganggu waktu luangnya. Tetapi seketika ia teringat dengan perkataan Minseok semalam.

“…Tapi apa rasa sakit hatimu sebesar rasa sakit yang di alami Chanyeol? Kau hanya dipermalukan. Tetapi dia? Dijauhkan , dikucilkan , bahkan ia menyendiri karena tidak ada yang mau berteman dengannya”

Jongin melihat wajah penuh harap Chanyeol. Menurut Jongin, pemuda di hadapannya ini seperti dirasuki oleh semacam arwah seorang anak umur 4 tahun karena bertingkah seperti seorang anak kecil meski secara fisik ia terlihat seperti pemuda berusia 20 tahun.

Dengan enggan Jongin mengangguk. “Baiklah” jawabnya.

Chanyeol menatap wajah Jongin tak percaya kemudian meloncat – loncat karena saking senangnya. Senyum lebar tergambar jelas di wajahnya. “Terima kasih karena sudah mau menjadi temanku” katanya senang.

Jongin sedikit tersenyum karena melihat Chanyeol yang girang karena ia mau menjadi teman Chanyeol, meskipun terpaksa. Dengan cepat Jongin mengontrol ekspresinya ketika Chanyeol kembali menatapnya. “Tetapi, jangan tunjukan wajah itu di depanku lagi” kata Jongin  datar.

Chanyeol mengangguk kemudian dengan semangat berjalan kembali ke ruang keluarga dan kembali sibuk dengan mainannya. Jongin kembali menatap gambar yang di berikan Chanyeol padanya. Ia tersenyum tipis kemudian melipat kembali kertas itu dan memasukannya ke saku celana.

***

Setelah hampir seharian mengendarai mobil dari Seoul menuju Yosu, Baekhyun dan Jongdae tiba di rumah kakek dan nenek mereka ketika hari sudah gelap. Mereka melihat seorang wanita tua sedang berjalan diantara tong – tong besar tempat menyimpan kimchi, pasta kacang, dan lainnya. Baekhyun langsung berlari turun dan menghampiri wanita tua itu.

“Nenek!” panggilnya lalu memeluk erat wanita tua itu dari belakang.

Wanita tua itu menoleh dan menyambut pelukan Baekhyun. “Baekhyun-ah, sedang apa kau disini?” tanyanya terkejut menyadari kehadiran cucunya itu, ditambah Jongdae yang menyusul Baekhyun dari belakang.

“Kami rindu pada nenek tentu saja” jawab Baekhyun.

“Oh Jongdae, kau datang juga. Sudah lama nenek tidak melihatmu. Terakhir aku melihatmu sekitar 5 tahun lalu ketika kau mengikuti pertukaran pelajar di Amerika. Bagaimana sekolahmu?”

“Baik – baik saja” jawab Jongdae tersenyum kemudian memeluk wanita tua di depannya dengan lembut.

“Masuklah, akan kubuatkan teh hangat untuk kalian” ajak neneknya.

Didalam rumah tua itu, Baekhyun dan Jongdae bisa melihat kakeknya sedang duduk di luar menikmati udara malam Yosu yang sejuk. Ia segera beranjak dari duduknya ketika melihat dua orang pemuda melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya.

“Astaga, mengapa kalian tidak memberi tahu kami dari awal jika kalian ingin berkunjung kesini? Kakek belum menyiapkan apa – apa untuk kalian” kata laki – laki tua  itu tersenyum sambil memeluk kedua cucunya.

“Kami sengaja tidak memberi tahu dari awal agar kakek dan nenek tidak sibuk menyiapkan ‘apa – apa’ itu untuk menyambut kami” kata Jongdae terkekeh.

Suasana di rumah tua tersebut malam itu sedikit ramai, meskipun hanya ada empat orang dirumah itu. Mereka  menghabiskan waktu bersama hingga larut malam. Menceritakan satu – sama lain beberapa pengalaman yang mereka alami selama beberapa tahun ini. Terkadang suara tawa terdengar dari rumah tua tersebut. Hingga akhirnya pada pukul 1:00 dini hari, satu persatu dari mereka mulai masuk ke kamar dan beristirahat.

“Seandainya Chanyeol, Jongin, Junmyeon, dan Minseok Hyung bisa ikut bersama kita  disini” kata Jongdae sambil mengambil bantal dan selimut dari lemari.

Baekhyun hanya tersenyum tipis kemudian kembali menatap handphonenya lagi. “Ia sama sekali tidak menghubungiku. Apa ia lupa padaku?” gumamnya.

Jongdae yang mendengarnya menoleh kearahnya. “Siapa?”.

“Tidak. Kau tidak perlu tahu” jawab Baekhyun lalu meletakan handphonenya.

Jongdae berjalan ke arah Baekhyun dan melemparkan sebuah bantal padanya lalu duduk disebelahnya setelah merapihkan selimut untuk mereka tidur. “Ceritakan padaku. Kau sering menyembutkan ‘orang itu’ belakangan ini”.

Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau kita ke pantai besok?”.

“Hei, jangan mengalihkan pembicaraan” gerutu Jongdae.

“Sudahlah, jangan kau bahas masalah itu lagi. Aku sudah bosan” pinta Baekhyun. Jongdae mengembuskan nafasnya pasrah kemudian mengangguk mengerti.

Tiba – tiba terdengar ketukan pintu dari luar.

“Baekhyun – ah, bisakah kau keluar dan ikut nenek sebentar?” tanya neneknya dari balik pintu.

“Baiklah, aku akan segera keluar” jawab Baekhyun.

Ia segera beranjak keluar dari kamarnya dan mengikuti neneknya masuk ke dalam sebuah kamar yang tepat bersebrangan dengan kamar yang ia tempati sekarang. Disana ia bisa melihat kakeknya duduk dengan memasang wajah serius. Baekhyun duduk di hadapan kakek dan neneknya dengan wajah ingin tahu.

“Apa ayahmu sudah menghubungimu? Ini sudah hampir 15 tahun sejak ia bersama adik tirimu meninggalkanmu” tanya kakeknya membuka pembicaraan.

“Tidak” jawab Baekhyun pelan.

“Astaga, apa ia tidak ingat bahwa ia masih memiliki dua orang anak disini” gumam neneknya kecewa.

“Tetapi aku sudah mengabari ayah tentang keadaanku sekarang melalui alamat e-mail yang ayah tinggalkan padaku 15 tahun lalu, aku yakin ia akan menghubungiku tidak lama lagi. Tolong jangan khawatir” kata Baekhyun.

“E-mail? Apa ia membalas e-mail darimu?” tanya kakeknya.

Baekhyun terdiam lalu menggelengkan kepalanya. “Mungkin ayah sedang sibuk”.

“Bagaimana dengan Minseok? Apa kalian berdua masih sering mendiskusikan hal ini?” tanya neneknya.

Baekhyun mengangguk. “Ya, tetapi sepertinya Minseok Hyung sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan ayah. Seperti yang kakek dan nenek tahu, Minseok Hyung adalah orang yang paling sering melihat ibu dipukuli oleh ayah daripada aku. Minseok Hyung selalu mengunciku di dalam kamar ketika ibu dan ayah bertengkar. Dan sampai sekarang Minseok Hyung sangat membenci ayah karena itu” kata Baekhyun panjang lebar.

“Memang, saat itu kalian memang terlalu kecil untuk melihat kejadian itu” kata neneknya.

“Bagaimana dengan keadaanya sekarang?” tanya kakeknya.

“Minseok Hyung sudah bekerja di salah satu perusahaan ternama di Seoul dan menghidupi biaya kami” kata Baekhyun.

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Aku dan Junmyeon juga bekerja paruh waktu di sebuah restoran, sementara Jongdae juga bekerja paruh waktu di toko buku. Kami tidak tega menyuruh Jongin melakukan hal yang sama seperti kami karena ia harus fokus untuk ujian masuk universitas ketika ia menyelesaikan masa SMA nya. Sementara Chanyeol masih melakukan terapi dua kali dalam sebulan.” jawab Baekhyun.

“Kalian benar – benar luar biasa” puji neneknya.

“Apa Jongin sudah mau menerima Chanyeol?” tanya kakeknya lagi.

“Aku tidak tahu. Ia habis diomeli Minseok Hyung karena masih bersikap tak acuh pada Chanyeol kemarin malam” jelas Baekhyun.

“Baiklah, sebaiknya  kau istirahat. Jika ada masalah, ceritakan pada kami. Mengerti?” kata neneknya. Baekhyun tersenyum dan mengangguk kemudian beranjak dari duduknya dan mengucapkan selamat tidur kepada kakek dan neneknya lalu berjalan kembali ke kamarnya.

Ia melihat Jongdae yang sudah tertidur nyenyak. Baekhyun merebahkan diri di sebelah Jongdae dan memejamkan matanya.

***

Baekhyun dan Jongdae beserta kakek dan neneknya bersiap untuk pergi ke pantai yang letaknya tak jauh dari rumah kakeknya. Karena Yosu merupakan bagian utara Korea dan banyak terdapat pantai indah di sekitarnya. Nenek mereka sudah menyiapkan beberapa makanan untuk dimakan bersama disana. Sementara Jongdae sudah menyiapkan kamera yang dibawanya untuk mengambil beberapa foto.

Butuh sekitar 30 menit untuk tiba di pantai dengan menggunakan mobil. Sesampainya di pantai, Jongdae langsung turun dari mobil dan berlari menuju bibir pantai. Begitupun Baekhyun yang menjadi ‘supir’ dalam sehari. Kakek dan neneknya hanya tersenyum dari kejauhan.

Mereka pun menggelar tikar dan mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam mobil. Jongdae sibuk mengambil foto, sedangkan Baekhyun dan kakeknya sibuk mengeluarkan kotak makanan dari dalam mobil.

“Ah, air minum! Nenek lupa menyiapkannya” ujar neneknya.

“Biar aku yang membelinya” kata Baekhyun yang selesai mengeluarkan kotak makanan dari dalam mobil. Ia pun berjalan ke sebuah toko kecil tak jauh dari situ.

Sesampainya di toko kecil itu, Baekhyun disambut seorang ahjumma berambut keriting yang sedang melayani seorang pemuda yang berdiri di sebelah Baekhyun.

“Tolong berikan aku dua botol besar air mineral” kata Baekhyun. Ahjumma itu langsung mengambil dua botol air minerasl besar ketika pemuda di sebelahnya selesai membayar belanjaanya.

“Kyungsoo – ya , cepatlah sedikit” kata seseorang di belakangnya.

Baekhyun langsung terdiam mendengar sebuah nama yang sangat familiar baginya itu disebut. Baekhyun langsung menoleh kebelakang dan melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Pemuda yang berdiri disebelahnya langsung berlari menghampiri pria itu.

Pria itu mengenakan kacamata hitam, topi bundar layaknya wisatawan yang datang berkunjung. Pria itu mengambil bunngkusan dari pemuda yang berada disebelahnya sekarang kemudian menatap Baekhyun yang terdiam. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya dan menatap Baekhyun sejenak. Pandangan mereka pun bertemu.

“Ayah. . . .” panggil Baekhyun.

 

12 pemikiran pada “Bittersweet (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s