May I Love You ( Chapter 5)

May I Love You?

Chapter 5/?

Author: @kim_mus2

Main Casts:

• Kai a.k.a Kim Jongin

• Yoon Ahra

Support Casts:

• Taemin

• Oh Sehun

• Kim Hana (Just Mentioned)

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Angst, Drama

Rating: PG-15

May I Love You (2) (2)

~***~

Atas ajakan Jongin, kini Ahra sudah berada di sebuah toko mewah yang tak jauh dari tempatnya tadi sewaktu diganggu oleh trio lelaki hidung belang. Dia terduduk sendiri di sebuah sofa dekat pintu masuk. Menunggu adalah satu-satunya yang dapat Ahra lakukan. Jongin melarang Ahra beranjak barang sedikitpun dari tempat itu, sebelum dirinya kembali.

Karena lelah menunggu, perlahan Ahra menyatukan punggungnya dengan punggung sofa dan dalam waktu beberapa menit, ia sudah berkelana ke alam mimpi. Sayangnya, pengelanaan Ahra tak berlangsung lama. Seseorang mengguncangkan tubuhnya.

“Hey! Bangun!”

Ahra mengucek kedua matanya pelan, kemudian berusaha memfokuskan penglihatannya yang masih kabur, pada lelaki jangkung berkemeja hitam yang berdiri di depannya.

“Emh… anda sudah kembali, tuan.”

“Ambil.”

Lelaki yang tak lain adalah Jongin itu menyodorkan dua buah goody bag, yang satu berukuran sedang dan yang satunya lagi lebih kecil.

“Ini apa tuan?” Tanya Ahra bingung sambil berjalan terhuyung mengikuti Jongin yang berjalan dengan langkah lebar menuju pintu keluar. Namun, Jongin terlihat enggan menjawab pertanyaan Ahra. Tak sepatah katapun yang ia ucapkan. Barulah saat sampai di depan mobilnya, Jongin buka suara.

“Masuk! Kuantar kau pulang.”

“Baik, tuan.”

Di dalam mobil, Ahra hanya bisa terdiam. Ia bingung harus mengangkat topik apa untuk berbicara dengan Jongin. Rasa segan dan gugup bisa berada di sisi Jongin membuat Ahra mati kutu.

“Maaf, malam itu aku menahanmu pulang.” Tanpa diduga, Jongin memulai pembicaraan. Hal ini sudah sangat ingin Jongin katakan, namun baru kali ini ia mendapat kesempatan. Namun, setelah mendengar ucapan Jongin, Ahra hanya bisa terdiam. Mengungkit kejadian itu, sama halnya dengan membuka kembali luka dalam hatinya. Rasa bersalah pada kedua orang tua selalu membayangi.Tapi, Jongin tak tahu apa-apa dan dia sama sekali tak bersalah di mata Ahra. Maka, gadis itu pun bertutur lirih.

“Kenapa anda harus minta maaf tuan? Anda tak punya salah apapun pada saya.”

Jongin terperanjat dan menjawab dengan sedikit gugup.

“Membuat seorang gadis tidak pulang di malam hari, tentu adalah sebuah kesalahan.”

“Lalu, kenapa anda melakukannya?” Sambung Ahra dengan pertanyaan yang semakin memojokkan Jongin. Sebenarnya Ahra tak memiliki maksud apapun dengan menanyakan hal itu. Dia hanya terbawa suasana, terhanyut pada dirinya di malam itu yang merasa bingung dan sedih dengan perlakuan Jongin.

“A – aku hanya tak ingin kejadian konyol seperti tadi terulang lagi. Kau terlalu bodoh untuk ukuran perempuan dewasa. Makanya aku menyuruhmu untuk tetap tinggal. Itu saja.” Jawab Jongin cepat, karena rasa gugup yang kembali hinggap pada dirinya.

“Kalau begitu, anda sama sekali tidak bersalah tuan. Saya ucapkan terima kasih untuk itu.” Ahra menunduk dalam, sementara Jongin fokus dengan jalanan. Sikap keduanya benar-benar kaku. Kalau saja Jongin tahu arah menuju rumah Ahra, tentu dia akan terus bungkam. Tapi sayangnya, itu tak bisa ia lakukan.

“Kita harus mengambil jalan mana?”

“Ah ya, di depan belok kiri, tuan.”

Setelah melewati jalanan menanjak, rumah Ahra pun mulai terihat.

“Saya berhenti disini tuan. Itu rumah saya.” Jongin yang ternyata sedikit melamun langsung mengerem mobilnya. Ahra kaget dibuatnya.

“Mian.”

“Ah ne, gwenchana. Joengmal Gamsahamnida, Sajangnim. Saya pamit dulu.” Ahra membungkuk kemudian keluar dari mobil. Saat Ahra akan menutup pintu mobil, Jongin mengatakan sesuatu.

“Obati kakimu.”

“Ne?” Tanya Ahra, merasa sedikit ganjil dengan ucapan yang di dengarnya.

“Tolong tutup pintunya.” Ahra menuruti perintah Jongin dengan ekspresi wajah yang masih kebingungan. Segera setelah itu, mobil Jongin melesat begitu saja, menyisakan Ahra dengan tanda tanya besar.

Setelah memasuki rumah, Ahra segera menuju kamar dan menghempaskan diri ke atas kasur. Ia pejamkan kedua mata. Direntangkannya kedua tangan dan dihirupnyalah oksigen dengan teratur, bernafas setenang mungkin untuk memberikan sensasi relax pada seluruh tubuhnya.

“Kidariyo!”

Tiba-tiba gadis itu bangkit dari posisi nyamannya.

“Goody bag. Kira-kira isinya apa?”

Dia langsung menyambar goody bag yang diberikan Jongin dan mengeluarkan isinya satu persatu. Betapa terkejutnya Ahra saat melihat barang-barang itu. Dari goody bag yang berukuran sedang, ia mendapatkan sepasang sepatu flat cantik berwarna cream dengan pita manis di atasnya. Kemudian dari yang berukuran kecil, ditemukannya sebuah kotak berisi peralatan P3K.

Dengan didapatnya kedua barang itu, tanpa sadar Ahra tersenyum dengan wajah sendu.

“Kim Jongin, apa maksud dari semua ini? Apakah aku masih boleh berharap?”

~***~

Malam ini Jongin pulang ke rumahnya. Rumah yang selalu membuatnya larut dalam banyak kenangan. Manis dan pahit, keduanya mampu menorehkan luka mendalam di hatinya, tanpa terkecuali. Meskipun demikian, bagaikan magnet, hati kecilnya tak luput mengantarnya kembali ke tempat ini. Tak peduli betapa pun pedihnya luka itu.

“Akhirnya anda pulang, tuan muda.” Seorang lelaki berumur datang menghampiri Jongin yang baru saja keluar dari mobilnya. Meskipun tak ada respon berarti, lelaki itu tetap mengikuti Jongin dari belakang.

“Tuan muda, sajangnim sedang sakit.”

“Hmm…” Jongin hanya bergumam, tak ada niat sedikit pun dalam dirinya untuk menoleh ke belakang, apalagi menghentikan langkahnya.

“Tengoklah beliau di kamarnya, tuan.”

“Lain kali saja.” Jawaban ketus terlontar dari mulut Jongin. Lelaki itu semakin terlihat sedih, namun dia tak mau menyerah.

“Tuan, saya mohon. Tuan jangan seperti ini terus. Beliau adalah ayah kandung anda. Setidaknya, lihat keadaannya.”

“Shikeurro!”

Lelaki tua itu membungkuk dalam, kemudian meminta maaf.

“Mianhamnida.”

“Keurrae! Aku akan melihatnya sebentar.” Jongin kemudian berjalan menuju pintu kamar ayahnya yang telah dibukakan oleh pelayannya. Langkahnya langsung terhenti tepat di depan pintu. Ditatapnya sosok lelaki yang terbaring di ranjang dengan sorot mata penuh kebencian. Kejadian di masa lalu pun kembali berputar dalam pikirannya.

Flashback

Dua orang pemuda berdiri dengan wajah pucat dan menyedihkan di samping ranjang seorang wanita paruh baya yang terlihat semakin sulit mengambil nafas.

“Eomma, bertahanlah. Kumohon…” Pemuda yang lebih tua kemudian menggenggam tangan wanita itu dan tangisan pun tak bisa lagi dia bendung. Sementara itu, pemuda yang lebih muda hanya tertunduk diam sambil meremas kuat ujung kemeja seragam yang ia biarkan keluar.

“Jongin-ah, cepat hubungi appa. Eomma sudah sangat kritis. Cepat!” Pinta Taemin, sang kakak, pada adiknya yang terus mematung.

Dengan tangan yang terus bergetar, Jongin merogoh handphone di saku celananya dan menyentuh angka 1 untuk panggilan cepat pada layarnya. Berulang kali ia menyentuh nomor itu, berulang kali pula nada monoton terdengar di telinganya. Tak ada jawaban pasti, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantor, menemui secara langsung orang yang dituju.

Dengan terburu-buru, Jongin membuka pintu ruangan ayahnya. Ia sudah tak peduli apakah nanti ayahnya akan terganggu atau apapun itu. Satu hal yang penting bagi Jongin saat itu, hanyalah segera membawa sang ayah menemui ibunya yang hampir meregang nyawa.

“Appa… eomma sudah tak sadarkan diri, ayo kita….” Jongin terhenyak, tak bisa lagi bersuara. Pemandangan di depan matanya terlalu menyesakkan dada.

Seorang lelaki bertelanjang dada tengah tertidur di atas sofa. Sementara itu, seorang wanita di sampingnya sibuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan pakaian yang tentu sudah ia lepas sejak tadi.

Seluruh darah dalam tubuh Jongin mendidih menyaksikan semua itu. Nafasnya semakin memburu seiring dengan gertakan giginya. Tangannya mengepal keras, menahan rasa sakit dan murka yang berkecamuk dalam dirinya.

BUG

Jongin membanting pintu kemudian berlari sekencang mungkin. Ingin rasanya ia segera memeluk sang ibu, dan menangis sejadi-jadinya. Ayah yang selalu menjadi panutannya sungguh telah membuat dirinya hancur.

Dengan kecepatan penuh, Jongin melajukan motor sportnya menuju rumah sakit. Namun, setibanya disana, Jongin melihat Taemin dengan perlahan menutup wajah sosok wanita dengan selimut putihnya.

Menyadari kedatangan Jongin, Taemin pun menoleh. Ia peluk adiknya itu dengan erat seraya menumpahkan ribuan bulir air dari kedua matanya.

“Jongin-ah, eomma… eomma sudah pergi.”

Kedua kakak beradik itu pun menangis dalam diam.

Flashback off

“Kau pantas merasakan semua ini, tua bangka.”

Jongin tersenyum miring, lalu pergi menjauh dari kamar ayahnya.

~***~

Keesokan harinya, dengan tanpa mempedulikan kondisi sang ayah, Jongin berangkat ke kantor. Pagi berganti siang, tapi Jongin tetap berdiam diri di dalam ruangannya. Sunyi sendiri membuatnya merasa damai dan tenang. Ketenangan itu tak terusik sampai seseorang menerobos masuk dengan tanpa rasa bersalah.

“Hey Kai! Tadi malam kau kemana huh?” Seorang lelaki jangkung berkulit putih bersih langsung menjatuhkan diri di atas sofa empuk di ruangan Jongin, lalu melipat kakinya santai.

“Apa kau bisa diam, Oh Sehun?” Jongin menyadarkan kepala pada kursi kerja yang didudukinya, lantas menutup kedua mata.

“Aigoo… uri sajangnim, waeyo? Neo gwenchana?”

“Apakah aku terlihat baik-baik saja?”

“Wajahmu selalu begitu, mana kutahu kalau kau sedang senang atau sedih.”

“Keluar.”

“Omo! Kau mengusirku?”

“Kalau kau hanya ingin menggangguku, lebih baik kau pergi.”

“Issh! Aku kesini untuk masalah pekerjaan. Coba kau lihat hasil rancangan awal hotelnya. Bagaimana menurutmu?” Sehun meletakkan sebuah folder berisi kumpulan kertas bergambarkan sketsa konstruksi bangunan dan design interior hasil kerja Sehun dan timnya kemarin.

“Hmm… lumayan. Lanjutkan saja,” tutur Jongin setelah melihat isi folder itu sekilas. Sebenarnya ucapan Jongin barusan adalah kode agar Sehun segera meninggalkan ruangan, tapi sahabatnya itu sangat tidak peka. Dia malah duduk di depan Jongin dan mengoceh tak penting.

“Kau tahu, gadis yang bernama Ahra itu ternyata seleranya sangat unik. Aku suka.”

Jongin menaikan sebelah alisnya. Ada yang mencurigakan dari kata-kata si playboy cap kelinci itu, pikir Jongin. Hal itu terbukti dengan ucapan yang ia lontarkan setelahnya.

“Apa aku boleh mengambilnya, sajangnim?”

Jongin tersenyum, lalu menatap Sehun tepat di matanya dan bertanya, “jadi kau sudah siap melupakan Hana, huh?”

Sehun langsung berdiri. Raut wajahnya berubah muram.

“Jangan bicarakan itu. Aku pergi.”

“Dasar.” Jongin mengernyih, puas dengan taktik jitunya untuk mengusir Sehun.

To be continued…

Iklan

13 pemikiran pada “May I Love You ( Chapter 5)

  1. Aaahhhhh kapamn kai akan muali jatuh cinta pada Ah Ra ya,,,,
    pantas saja Kai sangat membenci ayahnya, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s