Guardian Angel (Chapter 2)

GUARDIAN ANGEL CHAPTER 2

Tittle : GUARDIAN ANGEL

Author : @putrislsaput

Main Cast :

  • Xi Luhan [EXO]
  • Kris [EXO]
  • Park Chanyeol [EXO]
  • Byun Baekhyun [EXO]
  • Park Chan Min a.k.a Park Ji Yeon [T-ARA]
  • Han Min Kyung a.k.a Jung Soo Jung [FX]

Length : Chapter

Genre : Fantasy, Romance, Sad, Thiller, School Life

Rate : PG – 12

 

 

Disclaimer :

 

Sekedar cuap cuap author nih. FF Fantasy Guardian Angel ini adalah FF debut gue yang pertama hehehe… Dan a to the sli dari khayalan gue dan Luhan(?) *Oke abaikan. Maka dari ituuu….. Diharap commentnya ya. Jangan Silent Rider oke? No Bash and No Plagiator.

Chapter 1 : here

 

 

ƸχǾ

 

 

Mungkin ini adalah kehidupan tersembunyi. Kehidupan yang menurut manusia tak pernah ada dan mustahil untuk ada. Kehidupan tersembunyi layaknya seperti yang tertulis pada dongeng anak-anak. Kulit putih pucat, rambut didominankan oleh cokelat bergradasi merah, mata yang merah menyala, dan bahkan sayap. Itulah kenyataannya. Semua itu bukan hanya dongeng melainkan sebuah kehidupan dimana kaum Herrscher berada. Kaum yang memiliki akal yang sama dengan manusia. Kaum yang juga memiliki fisik yang sama dengan manusia. Hanya saja, Kaum Herrscher jauh lebih kuat dibandingkan mereka penghuni bumi. Entah kekuatan itu digunakan untuk kebaikan atau kejahatan namun yang pasti terjadi pada setiap makhluk kaum Herrscher ialah apabila mereka memiliki niat negatif maka keegoisannya akan mengalir otomatis dalam darahnya.

Keegoisan itulah yang membuat semua ini terjadi!

Keegoisan itulah yang memulai penderitaan padaku!

ƸχǾ

“KAU GILA! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU?!” Amarah seorang namja tampan berkulit putih mulai meluap saat berada di hadapan seorang nenek yang tak terlalu tua namun tak muda juga. Nenek yang telah membuat namja tersebut tak bisa kemana pun. Karena sihir ……….

“Kau yang gila, muridku! Kau yang melanggar peraturan! Dan kau mau tidak mau harus menerima hukuman tersebut” Nenek itu. Kita sebut saja Werdnam. Mengetuk-ngetukan tongkat naganya ke lantai sambil melihat pohon pohon disekitar gubuknya dimalam hari.

“Bagaimana aku melanggar perintah? Aku hanya melakukan tugas dari mu”

“Benarkah? Kau merasa seperti itu? Kurasa tidak”

“Aku melakukan semua tugas darimu! Aku selalu menjaga pangeran, aku juga selalu menjaga putri dari apapun!”

“TAPI KAU MENGGIGITNYA BODOH!”

“ITU KARENA KAU MEMBERIKANKU SIHIR TAK MASUK AKAL ITU !!”

“Kau tahu kesalahan apa yang membuatku memberikan sihir itu?”

Werdnam menunjuk dada namja yang bersamanya dengan tongkat naganya dan dalam sekejap detik namja itu pun berubah menjadi seekor serigala cokelat berbulu tebal yang besar. Setelah beberapa detik ia melihat serigala itu menunduk dan tidak mengaum, ia pun menarik kembali tongkatnya sehingga serigala cokelat itu berangsur-angsur kembali kebentuk semulanya.

“Itu karena kau CEROBOH!! KAU MEMBUAT MAKHLUK ITU MENGETAHUI KEMANA KAU MELETAKAN SANG PUTRI!!”

“A.. Ah itu….”

“Benarkan perkataanku? Itu lah kesalahanmu. Dan lagi kini kau yang bertugas menjaganya malah hampir membunuhnya”

“Aku minta maaf karena kesalahanku itu, guru. Tapi…. Apakah sihir ini tak bisa kau tarik kembali? Jika seperti ini bagaimana aku bisa melindungi mereka?”

“Kau harus tahu, aku memberikan sihir ini padamu ada maksud baiknya juga. Satu minggu ini, mereka akan ada dalam zona aman dan itu akan menguntungkan bagimu. Yang harus kau lakukan kini ialah bertapa untuk mengumpulkan kekuatan-kekuatan dari para leluhur kita. Kekuatanmu yang sekarang ini tak akan mungkin membantu perperangan nanti. Lagipula kau tak bisa keluar dengan keadaan seperti ini, bukan?”

ƸχǾ

Sambil menyusuri kegelapan disebuah hutan. Namja yang tadi bersama Werdnam melangkahkan kakinya tanpa bersemangat. Ia terus menerus berjalan menatap langit yang tak ada bintang sekalipun.

“Gelap. Ah! Apa kegelapan ini yang membuatku buta akan akalku? Bau darah bahkan sudah mulai menyatu dengan insting nafsuku. ARGHH!! Kenapa aku harus seperti ini!!!!!! Aku bukan lagi manusia. Aku sekarang benar-benar seekor binatang yang bringas!! Ah… Shit!!!! Putri… Maafkan aku yang telah lancang melukaimu”

Ia terus berjalan hingga akhirnya memilih duduk disebuah batu besar yang dihiasi dengan lumut. Batu yang memang sudah diwariskan untuk bertapa bagi seekor wolfman sepertinya. Jika ini adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan sihir yang membuat nafsunya akan darah dan daging manusia menghilang, maka ia akan lakukan itu. Jika ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi dan selalu berada dekat dengan putri maka ia akan melakukannya

ƸχǾ

Mata itu terbuka perlahan. Ya. Tentu saja mata itu milik seorang yeoja yang belum lama ini diselamatkan oleh Luhan dari keadaan mengerikan. Darahnya yang mengalir begitu saja dari bahunya telah bersih karena Luhan. Ia tak habis fikir bagaimana bisa luka tersebut yang merupakan sebuah gigitan hewan buas ada pada bahunya. Bukankah selama ini hutan itu telah diamankan negara dari hewan-hewan buas?

“Kau baik-baik saja?”

Mendengar suara namja yang ditujukan kepadanya, yeoja itu langsung mendelik kearah Luhan. Tatapan yang mungkin mengekspresikan ‘Siapa dia?’ ‘Dimana aku?’ sudah terlihat jelas bagi Luhan. Bahkan saat ia melihat bagian bahu putihnya yang terbuka, Luhan sudah menebak bahwa yeoja ini pasti berfikiran macam-macam.

“Ah.. Bukan. Aku tak membuka bajumu. Aku hanya merobek bagian bahumu saja. Saat itu kau ingat? bahumu terluka. Aku hanya ingin menolongmu. Sumpah”

Yeoja bergaun putih itu tersenyum manis kearah Luhan. Senyuman yang mungkin dapat meluluhkan hati para laki-laki termasuk Luhan.

“Aku Luhan. Aku menemukanmu di sebuah gang yang menghubungkan perkotaan dengan hutan disana. Kau sekarang dirumahku.”

Lagi-lagi yeoja itu tersenyum.

“Eng… Aku boleh bertanya?” Tangan Luhan kini membantu gadis tersebut untuk duduk di hempasan king bed milik Luhan. Tangannya halus. Darimana dia? Apa dia seorang anak kolongmerat?

“Mengapa kau keluar dari hutan? Dan bagaimana luka itu bisa terjadi padamu? Bukankah setahuku, petugas negara sudah mengamankan hutan itu dari hewan-hewan buas?”

Yeoja itu tetap menunduk memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan dari namja yang duduk didepannya kini. Ia memegang bahunya yang sedikit perih lalu menengok kebelakang tepatnya memastikan sesuatu yang ia miliki menghilang dari punggungnya. Aman……

“Kau yang mengobatiku?”

“Bu..bukan.. Aku tadi memanggil dokter langgananku untuk mengobatimu. Ia bilang bahwa lukamu tidak parah dan tidak terlalu dalam. Tapi apa kau tidak ingat sedikitpun bagaimana kau bisa terluka seperti ini?”

“Aku bahkan tak tahu kenapa aku turun.. Ah maksudku berada di dalam hutan. Saat itu didalam hutan sangat gelap sehingga aku tak menyadari ada binatang buas”

“Binatang seperti apa?”

“Se… serigala sepertinya, aku tidak melihatnya namun aku dapat merasakan bulu-bulunya saat menyentuhku”

“Baiklah, setidaknya aku tahu apa rupa binatang itu. Aku akan melaporkan ke pengaman kota ini. Jangan sampai hewan itu melukai masyarakat disini”

Yeoja yang belum memperkenalkan dirinya kepada Luhan hanya mengangguk kecil. Tak yakin apa hewan itu dapat di tangkap karena ia merasakan ada hawa aneh di hewan itu.

“Kalau boleh aku tahu, siapa namamu? dimana kau tinggal? Aku bisa mengantar kau pulang jika kau tersesat”

“Ah itu….. Namaku Chan Min, Park Chan Min. Terima kasih telah menolongku, aku pasti akan membalas hutang budimu. Aku pergi dahulu”

“Ini sudah malam, apa tidak lebih baik ku antar saja? Kau tinggal dimana?”

“Jangan, saat ini aku sudah merepotkanmu. Lebih baik aku mencari tempat tinggal sendiri saja”

“Mencari tempat tinggal? Maksudmu?”

“Aku…. Aku baru saja diusir oleh kakakku demi keselamatanku. Ia bahkan merelakan nyawanya untuk menyelamatkanku” Chan Min menatap kesebuah lukisan yang terpasang di dinding kamar Luhan sambil memegang kalungnya. Ia teringat pada kakaknya. Terlebih lagi saat ia memandang lukisan tersebut. ‘Kakak… Apa kau baik-baik saja?’

“Lalu orang tuamu?” Seruan Luhan mengagetkan Chan Min yang masih menatap lukisan yang entah mengapa ada dikamar Luhan. Lukisan yang percis dilihatnya saat ia berada di kamar Park Chan Yeol.

“Mereka meninggal saatku kecil”

“Ah.. Maaf”

“Tak apa”

“Kalau begitu bagaimana jika kau menginap dirumahku untuk sementara?”

“Berdua?”

“Jangan berfikiran macam-macam. Aku bukan orang jahat. Dan aku tak akan melakukan hal-hal yang aneh padamu. Tenang saja”

Chan Min menaikkan alis kanannya saat mendengar ucapan Luhan.

“Ya! Kau tidak melihat tampangku yang masih polos???”

“Ah mianhe, tapi apakah aku tidak merepotkanmu? aku bisa mencari tempat lain”

“Tidak anggap saja kau sedang membalas hutangmu tadi. Ah iya, dan satu lagi. Kulihat umur kita tidak terlalu jauh, jadi berhentilah memakai bahasa formal padaku”

“Baiklah, terima kasih Luhan ssi”

“Luhan saja, jangan pakai embel-embel ssi”

“Ba…baiklah”

© End Author PoV ©

ƸχǾ

© Luhan PoV ©

Aku merebahkan tubuhku dikasur yang sedari tadi ditiduri oleh Chan Min. Chan Min yang menurutku dan bahkan menurut orang lain sangat cantik. Ah… tidak mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama kan? Tentu sangat tidak mungkin, Xi Luhan.

“Park Chan Min. Gaun itu kenapa mirip sekali dengan apa yang dikenakan gadis dimimpiku semalam? Apa dia adalah gadis bersayap itu?”

Setelah sekian menit aku berfikir dengan pandangan menatap langit-langit kamarku kini aku merubah posisiku. Berjalan ke arah balkon kamar. Balkon yang dapat membuatku terasa nyaman. Balkon yang berhubungan dengan kamar gadis misterius itu.

Sayap…

Sayap….

Apakah ada makhluk lain yang memiliki sayap selain burung-burung? selain serangga terbang? selain unggas? Itu tidak mungkin Luhan. Sangat aneh jika ia mempunyainya. Ah.. Apa yang kupikirkan? Sudah pasti itu hanya khayalan mimpiku.

Hanya khayalan mimpi.

© End Luhan PoV ©

ƸχǾ

© Author PoV ©

Aliran air hangat mengalir dengan lancar disetiap inchi tubuh putihnya. Melalui kalung yang dipakainya. Melalui punggungnya. Digenggamnya kalung berlambang kunci yang bersayap. Kunci yang berangsur-angsur mengeluarkan cahaya dan sesuatu di punggungnya. Ya… Itu adalah sayapnya yang diberikan kakaknya beberapa jam lalu. Sayap yang kini akan menjadi identitas rahasianya. Park Chan Min mulai memandikan sayapnya yang sangaaat besar. Dengan memandang tubuhnya melewati kaca dihadapannya, ia mulai berfikir berbagai hal. Berbagai hal yang sangat membebaninya.

Bagaimana keadaan Chan Yeol saat ini?

Apa kakaknya menang merebut Herrscher?

Atau Kris yang menang?

Jika benar Kris menang, apa itu artinya kakak….

Park Chan Min langsung menggelengkan kepalanya. Itu tidak benar. Ia tidak boleh memirkan hal-hal seperti itu. Kakaknya adalah orang terkuat. Chan Yeol pasti bisa mengalahkan Kris. Tapi…

Bagaimana dengan dirinya?

Bagaimana cara Chan Min kembali ke Herrscher?

Bagaimana ia menguasai ilmu untuk mengalahkan Kris dan merebut Herrscher?

“AARGHH!!! KENAPA…. Kenapa masalah ini sangat sulit kak!!! Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Kakaaak… Berilah aku petunjuk. Aku sangat lemah. Aku tak bisa mengalahkannya”

Park Chan Min menangis dibawah rintikan air showernya. Air Shower yang bahkan menghapus jejak air mata di pipinya. Jika saat itu ia tidak di tolong oleh Luhan mungkin dirinya saat ini masih berjuang keras melawan lukanya.

“Luhan ah, kenapa kau memiliki lukisan itu? Apa aku bisa menanyakannya padamu? Lukisan itu… sangat mirip dengan milik kakak. Bahkan setiap detail Herrscher terlukis di kanvas itu”

© End Author PoV ©

ƸχǾ

 07:00 KST

 

 

© Luhan PoV ©

Cahaya matahari pagi menyinari ruang makanku dari jendela jendela besar. Cahaya yang selalu menerangkan ruang makan dan tangga rumah tanpa harus menghidupkan lampu. Aku menengok kearah tangga saat sebuah bayangan berjalan menghampiriku secara perlahan. Bayangan yang diiringi oleh pemiliknya. Park Chan Min.

“Kau mau kemana?” Aku menanyakannya saat melihat pakaiannya yang begitu.. bersih walaupun masih tersisa sobekan dibahunya dan rambutnya yang rapih seakan baru saja di sisir.

“Aku ingin mencari rumah disekitar sini. Tak mungkin aku lama-lama menginap dirumahmu”

Aku menghela nafas. Ia benar. Aku tak bisa selamanya tinggal dengannya. “Sebentar, biar aku yang mengantarkanmu. Kau baru dilingkungan ini kan?”

Aku melihat ia menganggukan kepalannya disaat aku mengambil jaket. Aku lega. Setidaknya aku bisa menemaninya di detik detik terakhir dia berada dirumah ini.

“Oiya, Chan Min ah”

“Iya?”

“Kurasa ada satu hal yang harus kau lakukan dahulu sebelum mencari tempat tinggal”

“Eoh?”

“Hahaha, ayo.. Ikutlah denganku”

© End Luhan PoV ©

ƸχǾ

© Chan Min PoV ©

Wah… Besar sekali gedung ini. Sangat besar seperti istanaku di Herrscher. Lampu-lampunya…. Indah. Sangaaaat indah. Rasa penasaranku pun muncul dan segera kutanyakan pada seseorang disampingku, Luhan.

“Kita dimana?”

“Kau tak tahu? Kau tak amnesia kan? Ah.. bahkan orang amnesia pun tak akan lupa kalau ini sebuah mall hahaha. Sudahlah ayo kita beli baju yang cocok untukmu”

Belum aku mengartikan perkataan Luhan tadi, Luhan langsung saja menarik tanganku ke sebuah distro yang cukup elegan dan fashionista. Distro yang sebagian besar pengunjungnya adalah wanita-wanita modis.

“Cobalah baju yang menurutmu cocok di tubuhmu, oke? Aku tunggu disana saja. Biar Mba ini yang membantumu, mengerti?”

Aku mengangguk dan tersenyum sambil melihat kearah perempuan yang berumuran beberapa tahun lebih tua dariku. Aku melangkahkan kaki disekitar rak-rak baju, melihat-lihat dan mencobanya. Berkali-kali aku mencoba berbagai baju namun tak ada yang cocok.

Terlalu sexy.

Terlalu biasa.

Terlalu mencolok.

Terlalu formal.

Ahh… Kenapa baju di dunia ini banyak sekali modelnya? Aku mengedarkan pandangan sebentar dan.. Ketemu! Itu bajunya.

“Luhan ah” Panggilku

Senyuman manis kini kulayangkan ke arah Luhan yang tampak terpesona. Bukannya percaya diri namun semua orang jika melihat ekspresinya pasti berfikiran sama denganku.

“Wow..”

“Kenapa? Aneh ya? Aku sudah merasa ini pasti tak cocok denganku. Disini banyak sekali modelnya. Aku bingung ingin milih yang mana”

“Ah tidak, ini sangaaaat cocok kau pakai, Chan Min. Kau terlihat lebih alami dan.. cantik”

ƸχǾ

“Memangnya kau berencana ingin mencari yang seperti apa?”

Aku menghela nafas sambil menatap jalanan yang sedang kami lewati dari dalam mobil. Jujur aku tak tahu ingin tinggal di tempat yang seperti apa. Itu tak penting bagiku. Aku disini hanya ingin mengetahui cara mempelajari ilmu-ilmu. Apa aku tak apa jika tinggal di rumah Luhan?

“Park Chan Min ssi? Mengapa kau diam?”

“Ah.. Tak apa. Oh ya.. Apa kau tahu dimana tempat yang bisa buat kita belajar ilmu?”

“Belajar ilmu? Maksudmu seperti sekolah?”

“Sekolah? Bukan bukan. Ilmu bela diri maksudku, Kau tahu tidak?”

“Kau ingin belajar bela diri?”

“Iya”

“Aku rasa aku tahu. Temanku memiliki guru beladiri disebuah tempat. Kau mau kesana?”

“Boleh”

“Lalu tempat tinggalmu?”

“Ng.. Itu… Bolehkan aku menginap di rumahmu sekali lagi?”

“Ahahahaha jangankan sekali. Selamanya pun aku bolehkan”

© End Chan Min PoV ©

ƸχǾ

© Author PoV ©

Tak butuh waktu lama untuk sampai ketempat yang Luhan tunjukan. Sebuah rumah kecil, lebih tepatnya gubuk yang berada di tengah tengah halaman besar. Gubuk yang sangat percis dengan gubuk milik wanita paruh baya itu. Werdnam.

“Kau…. Kau yakin ini tempatnya?”

“Maaf. Aku lupa bilang bahwa tempat ini ada di hutan. Tapi tenang saja, tempat ini di tepi hutan kok, dan dekat dengan jalanan pula. Tidak apa-apa kan?”

“Em.. Baiklah. Tak apa. Aku tak terlalu takut hutan dan gelap. Kau tenang saja”

Tangan halus milik Chan Min telah bersiap-siap mengetuk pintu kayu yang berada tepat dihadapannya. Pintu kayu yang usang namun kokoh.

Sekali.

Dua kali.

Dan tiga kali, Chan Min mengetuknya tapi tak terdengar jawaban dari dalam.

“Cobalah sekali lagi”

Dengan adanya Luhan yang menenangkannya kini Chan Min memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang menurutnya memiliki hawa aneh. Disaat tangannya bergerak untuk mengetuk tiba-tiba saja pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita tua.

“Ketuklah tiga kali. Tidak sopan jika mengetuk empat kali” Seorang wanita tua dengan tongkat naga di tangannya tersenyum kearah tamunya. Ia perlahan membungkukan badannya hormat kepada dua remaja ini.

“Selamat datang. Suatu kehormatan bagiku untuk bertemu denganmu…”

Tuan Putri

Dan…….

Werdnam memandang hormat pada Luhan.

“Lama tak bertemu Luhan-ssi”

© End Author PoV ©

 

ƸχǾ TO BE CONTINUED ƸχǾ

 

Iklan

38 pemikiran pada “Guardian Angel (Chapter 2)

  1. Ahh pensaran, jangan2 baekhyun itu yg bercakap sama werdnam trus tugasnya menjaga tuan putri ama pangeran? Jangan2 luhan pangerannya lagi? Kalo chan min… udh pasti tuan putri ya kayanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s