HeLL (o), Dear ! (Chapter 1)

Hell dear

Title        :               First Meeting – HeLL (o), Dear !

Author    :               usney or mee-icha

Main Cast:            Kang Hye Yeon, EXO

Length    :              Chapter

Disclaimer            :               http://asniishere.wordpress.com/

Note : Hai, I’m here again with a new story line, hope you’ll like it. Well, there’s still much typo’s everywhere. Enjoy the story and don’t forget for comment.

^^^

Sejauh apapun matanya memandang, hanya ada awan yang bergerak menggantung disisi langit. Gadis berkupluk itu sedang menikmati keindahan dari salah satu tempat tertinggi yang pernah dijangkaunya. Hatinya terhibur melihat panorama yang menurutnya tidak mungkin diciptakan oleh tangan manusia. Meski samar, senyum itu terukir diwajahnya. Pandangan beralih pada amplop yang berisi tiket pesawat yang tengah dinaikinya. Pikirannya seakan menerawang jauh dengan berbagai memori yang kembali berkelebat diotaknya. Senyum itu sudah hilang sepenuhnya. Hanya sebuah tatapan tajam penuh kebencian yang tertera disana.  Tidak ingin menyiksa dirinya lebih lama dengan rasa sesak didadanya, gadis itu menarik turun topi kupluknya hingga menutupinya mata sang empunya. Tidur adalah pilihan terbaiknya.

Gadis itu mulai menggeliat setelah beberapa waktu tertidur. Walau tidak pulas tapi cukup untuk mengalihkan perhatiannya. Mendapat tempat duduk tepat disebelah jendela pesawat memberinya sedikit kesenangan kecil. Kini semburat orange mulai menghiasi cakrawala manakala dirinya hampir tiba di tanah kelahirannya itu. Dia memperbaiki posisi duduknya. Terdengar informasi dari co-pilot bahwa dalam waktu 5 menit pesawat tersebut akan mendarat dibandara incheon, seoul. Ini bukan lagi sekedar mimpi yang ditakutinya, tapi kenyataan yang terpampang jelas dihadapannya. Suka atau tidak, sebentar lagi dia akan memulai kembali menjalani kehidupannya disini.

Setelah pesawat mendarat dengan mulus dan mengurus semua urusannya dengan dibandara, gadis itu segera menuju pintu keluar. Sudah ada seorang ajhussi yang ditugaskan untuk menjemputnya hari itu. “hye yeon agassi, yeogiseo.” Panggil Kim ajhussi sambil melambaikan tangan. Gadis itu tersenyum ramah pada ajhussi yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun pada keluarganya itu. Kim ajhussi segera berlari menuju kearah sang nona besar.

ajhussi, apa kabar?” sapa hye yeon ramah setelah memeluk singkat orang yang telah dianggap seperti keluarganya sendiri itu.

“sangat baik , agasshi. Saya tidak menyangka anda sudah sebesar ini. Anda sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, agasshi” Puji kim ajhussi tulus.

ajhussi juga tambah keren sekarang.” Balas hye yeon sambil kembali memamerkan senyumnya yang langka itu.

“ah, agasshi bisa saja. Mari kita mobil.” Kemudian disambut dengan anggukan singkat dari hye yeon
“Mau langsung pulang atau ada tempat yang hendak ingin dikunjungi dulu?” Tanya sang supir  lagi saat membukakan pintu untuknya.

Hye yeon diam. “aku ingin bertemu eomma.” Lirihnya.

“baik, agasshi.” Balasnya mengerti dengan kegundahan sang nona besar itu.

Panorama kota seoul tidak jauh berbeda dengan keadaan 5 tahun lalu, hanya saja saat ini semakin banyak gedung-gedung pencakar langit disana. Lalu lintas pun terasa semakin padat. Seoul memang punya daya tariknya sendiri sehingga bisa menarik manusia untuk menetap disana. Kenangan demi kenangan mulai menyeruak keluar dari palung hati terdalam hye yeon. Kenangan yang coba dikuburnya dalam-dalam kini mulai berputar dikepalanya bak drama dengan banyak episode. Sungguh, gadis itu rindu dengan kota ini tapi jiwanya masih rapuh oleh kenangan yang tertinggal disini.

Hye yeon masih terperangkap dalam kenangannya saat mobil berhenti ditempat tujuan. Gadis itu menatap miris tempat ini. Matanya mulai berkaca-kaca. Emosi lain telah bermain dan menguasai dirinya. “ajhussi, anda tunggu disini saja. Biar aku sendiri yang menemui eomma” ucapnya pelan dengan suara yang bergetar.

Hye yeon menarik nafas dalam, berusaha menguatkan dirinya. Langkah demi langkah mulai diambilnya hingga dia tiba didepan gundukan tanah dengan batu nisan bertulis nama Kang Hye Min, eommanya. Dia berdiri dalam diam. Menatap lurus batu nisan tersebut. Satu persatu kenangan tentang eomma berputar jelas dikepalanya. Dia tersenyum namun air matanya mengalir begitu saja. Entah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan, dia tidak bisa lagi membedakannya. Emosi telah mempermainkan hatinya. Air mata yang tidak bisa ditahan atau dihentikan itu terus menemaninya hingga dia merasa lelah dan terduduk lemas.

Satu hal itu kembali terbesit dikepalanya. Bisakah aku pergi ke dunia tempat eomma berada? Aku rindu eomma.

^^^

Hye yeon tertidur saat mobil melaju menuju rumah dimana dia dibesarkan selama di seoul. Mobil itu berdecit pelan saat berhenti disebuah rumah. “agasshi, kita sudah sampai. Welcome home” ujar kim ajhussi malu-malu dengan bahasa inggris sekenanya. Berharap sang nona besar bisa sedikit terhibur. Hye yeon menbuka matanya. Perih, akibat tangis tanpa henti tadi. Tapi kemudian tersenyum kecil pada kim ajhussi. Dia menatap bangunan besar itu sebentar sebelum min ajhumma membukakan pintu dan menyapanya.

ajhumma, aku kangen” sapa min begitu melihat sang ajhumma yang juga telah bekerja dengan keluarga mereka lebih lama dibanding kim ajhussi. Dia memeluk wanita 40 tahunan itu dengan penuh sayang.

“saya juga kangen dengan agasshi. Anda bertambah tinggi dan besar. Dulu tubuhmu terasa begitu kecil saat kupeluk tapi sekarang aku yang merasa kecil saat memelukmu.” Ujar sang ajhumma sembari mulai melepaskan pelukannya. “Kenapa dengan wajah agasshi? Matamu begitu merah dan sembab.” Tanya sang ajhumma khawatir.

Hye yeon hanya tersenyum hambar kemudian berkata “tadi aku datang menemui eomma dan menyapanya, aku sangat kangen padanya.” Hye yeon tertunduk.

Min ajhumma mengelus pelan pundak hye yeon. Jiwa periang yang dulu selalu terpancar dari dalam diri gadis itu seakan hilang dan berganti dengan jiwa rapuh yang bisa remuk dan hancur kapan saja. Sang ajhumma benar-benar tidak tega melihat keadaan nona besarnya saat ini. “mari saya antar ke kamar, sepertinya anda sangat lelah setelah perjalanan panjang hari ini.”

Waktu memang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Gadis itu tidak berpikir lagi tentang perutnya yang berteriak minta diisi. Dia langsung merebahkan diri diatas kasur dan menjelajah dunia mimpinya. Tidak ada lagi hal yang paling diinginkannya saat ini selain istirahat. Dirinya terlalu lelah setelah dipermainkan oleh emosinya yang bergejolak dan kenangan menyembur keluar bagaikan lahar panas dari gunung api yang sedang meletus.

^^^

Badannya menggeliat pelan diatas kasur manakala tubuhnya terkena sinar hangat sang mentari. Min ajhumma telah membuka tirai dan kaca jendela kamar itu. Udara segar dari taman belakang rumah mendesak masuk melalui alat pernapasannya dan memberinya semangat baru untuk hari ini. “nona sebaiknya anda bangun dan segera mandi. Saya sudah menyiapkan makan siang anda.” Ujar sang ajhumma sambil tersenyum kecil.

“hmm…? Makan siang?” gumamnya. Heran dengan pernyataan ajhumma tersebut, tangannya segera meraih jam weker digital di meja kecil disamping ranjangnya. Matanya mengerjap-ngerjap pelan memperhatikan angka yang tertera disana, 11:39:49. Tidak ada pilihan lain selain bangun. Dia sudah terlalu lama tertidur. 14 jam. “kenapa tidak bangun aku saat sarapan pagi tadi?” tanya hye yeon sambil meregangkan tubuhnya yang kaku karena tidur terlalu lama.

“Tuan meminta saya tidak membangunkan agasshi karena mungkin agasshi masih sangat lelah karena perjalanan kemarin.”

“oh.”… “Aku akan mandi kemudian langsung turun. Aku sudah rindu dengan masakkan ajhumma.”

“ne agasshi” jawabnya kemudian keluar dari kamar tersebut, namun teringat pesan sang tuan besarnya “oh ya, agasshi tidak akan pergi kemana-mana ‘kan hari ini?”

“sepertinya aku seharian ini akan dirumah saja. Memangnya ada apa ajhumma?”

“Tuan bilang ada yang ingin dia bicarakan pada agasshi setelah pulang kerja nanti.”

“oh, begitu.”

“baiklah, saya permisi turun ke markas” canda sang ajhumma. Hye yeon tertawa kecil mendengar kalimat tersebut. Gadis itu tahu benar tempat apa yang disebut markas itu.

Mata gadis itu mulai menyusuri setiap sisi kamar. Tidak banyak berubah dengan ruangan itu. Interiornya masih sama. Hanya cat dinding dan ranjang ini yang berbeda. Mungkin ranjangnya yang dulu tidak akan muat lagi untuk dirinya yang sudah beranjak dewasa. Setiap inchi, setiap benda, setiap sentuhan mulai menyentuh kembali kenangan sensitifnya. Dia berjalan kearah meja belajarnya. Foto itu masih terbingkai rapi disana. Kepalanya tertunduk sambil memeluk foto tersebut. Air matanya kembali menyeruak keluar. Entah berapa lama dia seperti itu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Berusaha me-refresh-kan pikiran dan tubuhnya.

^^^

Hye yeon menghabiskan waktu dengan bercengkrama dengan keadaan rumah yang telah lama ditinggalkannya itu. Menyapukan pandangan pada setiap sisi ruangan yang memberinya banyak kenangan bersama orang yang sangat dicintainya seumur hidupnya. Orang yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun didunia ini. Salah satu tempat favoritnya adalah taman dibelakang rumah ini. Taman yang tumbuh berbagai macam bunga jika musim semi tiba. Taman yang dirawat dengan sangat baik oleh eommanya semasa beliau hidup.

Gadis itu masih duduk dibangku ayunan dan tenggelam dalam dunianya sendiri saat dia mendengar deru mesin mobil di garasi rumahnya. Sontak gadis itu membuka matanya. Tidak sedikitpun ada keinginan untuk tahu bagaimana kabar orang tersebut. “agasshi, sebaiknya segera mandi. Sebentar lagi makan malam. Tuan ingin makan malam bersama anda.” Ujar ajhumma yang menghampiriku. “ne” balasku singkat. Hari memang sudah beranjak malam. Sang surya juga sudah kembali ke peraduannya sejak tadi.

Setengah jam kemudian hye yeon sudah menuruni tangga rumahnya untuk menuju ruang makan. Sang tuan besar rumah itu telah duduk menunggunya disana. Gadis itu segera menarik bangku dan duduk diam. Tidak ada basa basi sapaan apapun yang diucapkannya. Sang tuan besar atau lebih tepatnya tuan Kang memilih mengalah untuk menyapa duluan. Dia tahu putri tunggalnya itu masih marah dan kecewa pada dirinya.

“bagaimana perjalananmu kemarin hye yeon-a? Pasti melelahkan?.” Ujar sang ayah membuka pembicaraan.

ne” balasnya singkat tanpa sedikitpun menatap muka sang ayah.

“maaf, appa tidak bisa ikut menjemputmu dibandara, appa sedang banyak kerjaan”

“tidak masalah. Ada atau tidak appa bersamaku bukan masalah besar untukku. Appa sudah biasa melakukan itu bahkan ketika eomma sedang sakit parah.” Balasnya lagi sambil menggenggam erat garpu dan sendok di kedua tangannya.

Kalimat hye yeon jelas menghujam tajam ke hati sang ayah. Hal itu membuat beliau berhenti dengan kegiatan makannya. “sepertinya kau belum bisa memaafkan appa. Kau tahu, appa benar-benar menyesal hye yeon-a.”

“tidak ada yang perlu dimaafkan. Itu memang sifat appa. Hanya aku saja yang belum mengerti”

Kalimat demi kalimat yang dikeluarkan hye yeon semakin mengiris hati sang ayah. Tuan kang sudah begitu lelah dengan pekerjaannya dikantor. Beliau tidak kuat lagi kalau harus menerima tumpahan kekesalan yang putri tunggalnya saat ini. Sungguh, dia benar-benar menyesali keputusanya dulu yang membuatnya tidak bisa berada disisi istrinya saat masa sulit karena mengalami sakit gagal ginjal hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

Tuan Kang menghela nafas pelan kemudian berkata “Sungguh, appa minta maaf padamu. Appa sudah sangat lelah saat ini. Jadi appa akan langsung bicara pada pokok permasalahannya sekarang.” Ujar tuan Kang sambil meletakkan sendok dan garpunya seraya menatap lurus putrinya tersebut.

appa sudah mengurus semuanya. Mulai minggu depan kau bisa bersekolah di Hanyang High school untuk melanjutkan sisa masa SMA-mu. Waktu seminggu ini bisa kau gunakan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mata pelajaran yang nanti kau pelajari disekolah. Appa sudah meminta sekretaris appa untuk menyediakan semua kebutuhan sekolahmu. Besok, mulai dari buku pelajaran hingga seragam sekolah akan diantar kerumah.” Jelas tuan Kang.

ne” balas gadis itu singkat sambil mengaduk-aduk makanan dalam piring. Selera makannya sudah hilang.

Sesaat hanya keheningan yang mengisi ruangan itu selain suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring hye yeon. Tuan Kang mulai kesal dengan tingkah putrinya yang seakan tidak peduli dengan semua perkataannya. Hye yeon tidak pernah sekalipun menatapnya sejak tiba di meja makan ini, bahkan sejak tiba dirumah itu.

Merasa jengah dengan tingkah laku hye yeon, tuan Kang kembali buka suara “hye yeon-a, hentikan tindakanmu. Tidak baik mempermainkan makanan seperti itu.”. Tanpa banyak sepatah katapun hye yeon langsung meletakkan sendok dan garpunya begitu saja. Gadis itu menghembuskan nafas dengan kasar.Saat hendak berdiri, sang ayah langsung menghentikan gerakkannya.

“hye yeon-a, duduklah. Ada hal yang lebih penting yang ingin appa sampaikan padamu. Dan untuk kali ini, lihat appa. Jangan membuang pandanganmu lagi.” Perintah sang ayah. Kemudian hye yeon kembali duduk dan mengangkat wajahnya. Disitulah pertama kali, hye yeon melihat wajah ayahnya secara langsung setelah sekian lama tidak bertemu. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya. Ayahnya sudah menua seiring waktu dan dia masih bersikap egois karena kekecewaan pada sang ayah.

“hye yeon-a…” sang ayah menggantungkan kalimatnya. Berusaha mencari kata yang tepat supaya anaknya tidak salah paham dengan kalimat yang akan disampaikannya. “Dulu, saat eomma-mu masih hidup, appa dan eomma setuju akan menjodohkamu dengan seorang anak dari sahabat kami berdua, tap…”

mworagoyo?” tukas hye yeon kaget. Dia mengerti. Jelas sekali mengerti arah pembicaraan ini, bahkan sebelum ayahnya menelesaikan kalimatnya. Dirinya akan dijodohkan. Itulah alasan kenapa dia diminta pulang kembali ke tanah airnya. “Inikah alasan kenapa aku diminta pulang? Aku dijodohkan?” tanya hye yeon tak percaya. “apa saat ini, aku tidak boleh lagi mempunyai dan menyusun masa depanku sendiri?”

“hye yeon-a, bukan itu maksud appa.  Bukan maksud appa untuk mengatur masa depanmu atau menghancur rencana yang telah kau buat. Tapi itu adalah salah satu wasiat eomma-mu sebelum meninggal.  Kau terlalu rapuh saat itu untuk mendengar wasiat yang ditulis oleh eomma-mu tentang masa depan yang dia inginkan agar kau bahagia.”

Eomma? Eomma? Eomma? Kenapa kau mesti menyebut eomma sebagai alasanmu. Kau hanya ingin menikahkanku dengan salah satu anak kolegamu supaya bisnis yang kau jalani semakin lancar ‘kan?” ujar hye yeon dengan nafas menggebu-gebu. Dia benar-benar marah dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal itu.

“sungguh hye yeon-a, appa tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan apa yang kau katakan. Ini semua semata-mata karena wasiat eomma-mu. Tidak lebih dan tidak kurang.” Tuan Kang tetap berusaha menyakinkan gadis yang tengah menatapnya tajam. “dan satu hal lagi, aku yakin dia anak yang baik. Dia adalah anak dari sahabat baik eomma dan appa. Jika kau masih ingat, kau bahkan menyebut eomma anak itu sebagai eomma-mu yang kedua didunia ini saat kau masih kecil.”

Hye yeon sudah termakan emosinya sendiri. Pikiran jernih sudah tidak ada diotaknya. Kemarahan dan kekecewaan sempurna tercetak diwajahnya. “kau bohong! Kau bohong! Semua itu bohong! Dan jangan sebut dan kait-kaitkan eomma dengan semua kebohonganmu!” teriak hye yeon. Amarah dan kekecewaan yang dipendamnya selama ini sudah terpancing ke permukaan. Hye yeon berlari meninggalkan ruang makan itu dan masuk ke dalam kamarnya.

appa tidak bohong. Lihat dimeja belajarmu sudah ada surat wasiat eomma-mu dan foto anak itu” teriak sang ayah saat hye yeon sedang menaiki tangga menuju kamarnya.

^^^

Seperti hari-hari sekolah yang harus mereka jalani setiap hari, ketiga namja ini memasuki sekolah dengan santai. Berjalan pelan dengan kedua tangan berada dalam saku celana. Hal itu seakan menjadi salah satu hal yang paling ditunggu hampir setiap yeoja disekolah itu. Menanti para idola mereka hadir dengan gagah berani(?). Ketiga namja tersebut sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini. Mereka jelas menikmatinya. Hampir setiap hari tidak pernah absen menerima kado atau bingkisan dari para penggemar mereka. Mereka adalah anggota team basket sekolah Hanyang High School. Kemampuan team basket ini sudah dibuktikan hingga kekejuaraan tingkat nasional. Jadi bukan hal aneh kalau para pemainnya itu sangat terkenal dan dipuja disekolah itu.

annyeonghaseyo sunbaenim. Ini untukmu.” Sapa seorang yeoja yang entah tingkat berapa.

ne, gumawo.” Jawab baekhyun santai sambil menerima sebuah cokelat dengan pita pink kecil.

“chanyeol oppa, aku buatkan sarapan untukmu. Kalau kau suka, besok aku akan buatkan lagi. Igeo oppa.” Sapa teman yeoja tersebut.

ne, gumawo. Akan kunikmati makanan ini.” Balas chanyeol dengan senyum khasnya. Yeoja itu tersenyum puas mendengarnya.

Sehun melirik kedua temannya itu. Tidak adakah bingkisanku untukku hari ini? Batinnya sambil menatap kedua temannya dengan kesal.

“wah, cokelatku sudah menumpuk dilaci mejaku. Harus kuapakan cokelat ini?” baekhyun memainkan cokelat itu ditangannya setelah berjalan melalui kedua yeoja tadi.

Chanyeol tersenyum jahil seraya melirik sehun dan berkata “bagaimana kalau kau memberikan pada sehun, kasihan dia belum dapat apa-apa hari ini” ledek chanyeol.

ah, matta. Sehun-a, igeo.” Tambah baekhyun ikut tersenyum jahil kemudian langsung tertawa puas bersama chanyeol saat melihat wajah cemberut dan kesal sehun.

Keumanhe. Mood-ku sedang tidak bagus saat ini.” Tukas sehun kesal.

Sehun berjalan malas menuju kelasnya. Hari ini mulai terasa tidak menyenangkan baginya sejak pagi ini. Mulai dari pesan kedua orangnya saat sarapan pagi ini, adiknya yang ikut-ikutan meledeknya dan sekarang tidak ada satupun bingkisan untuknya yang berujung pada ledekkan chanyeol dan baekhyun yang membuatnya semakin kesal. Pesan kedua orangtuanya itu bukan hanya merusak mood-nya pagi ini, tapi sudah beberapa hari belakangan ini. Hampir tiap hari pesan itu diucapkan eomma-nya, tapi hari ini terasa lebih seperti perintah baginya.

Flashback

Tuan dan Nyonya Oh beserta kedua anaknya sudah duduk rapi melingkari meja makan pagi ini. Kegiatan rutin keluarga setiap pagi, sarapan bersama. Sehun, sang anak sulung sudah jelas ingin sekali melewatkan sarapan pagi ini tapi tidak mungkin karena eomma-nya khusus datang kekamarnya dan menariknya langsung untuk duduk dan sarapan bersama.

“Sehun-a, kau ingatkan hari ini dia akan masuk ke sekolahmu?” Nyonya Oh membuka pembicaraan.

ne, eomma.”

“Usahakan kau bisa menemui dan menyapanya. Jangan lupa sampaikan salam eomma dan appa padanya.” Pesan Tuan Oh.

“Kenapa aku harus menemuinya? Appa, aku punya banyak kegiatan disekolah.” Ujar sehun beralasan.

“Kegiatan apa, oppa? Setahuku kau cuma suka bermain basket saja.” celetuk namjoo yang langsung diberi death glare langsung oleh sehun.

Namjoo cuek melanjutkan sarapannya. “eomma-appa, biar aku saja yang menemuinya. Aku ingin menyapa calon kakak iparku.” Tambah namjoo bersemangat. “Nanti kalau mereka menikah, apakah dia akan tinggal bersama kita? Aku ingin punya seorang eonni dari dulu. Akan menyenangkan kalau setiap kali pulang, aku punya teman untuk bertukar cerita.” Namjoo tersenyum puas melihat wajah kesal sehun.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh, kau masih anak kecil, urusi saja sekolahmu dulu. Dan jangan bicara macam-macam, ini masih pagi. Kau merusak mood-ku.” Ujar sehun ketus sambil menjitak pelan kepala sang adik. “eomma-appa, berhentilah membahas hal ini. Kalian sudah menyampaikan hal ini berkali-kali padaku. Ingatanku masih cukup bagus untuk mengingat apa yang telah kalian ucapkan sebelumnya” tambah sehun lagi sambil mengambil tasnya dan kabur dari ‘sarapan’ paginya. “aku pergi dulu”.

End of Flashback

Sehun baru saja sampai didepan pintu kelasnya. Senyumnya terukir kecil diwajahnya. Bukan hanya satu, tapi ada sekitar 5 bingkisan ada diatas mejanya. Kepopuleranku memang tidak bisa dibantah, pikirnya. Sehun melihat kearah dua sahabat yang  berjalan dibelakangnya. “Chanyeol-a, kalau kau masih lapar silahkan ambil punyaku.” Tukas sehun bangga sambil menggerakkan kepalanya kearah meja.

Chanyeol dan baekhyun tidak mengerti dengan maksud sehun hanya mengikuti arah yang ditunjukkan sehun. Seketika kedua paras berukir senyum itu langsung menampilkan ekspresi murung. “we lose” lirih baekhyun dan langsung disambut anggukan oleh chanyeol.

Sehun menyingkirkan semua bingkisan itu. Membagi-bagikannya pada baekhyun dan chanyeol serta siswa lain. Tepat saat dia akan meletakkan  tasnya diatas meja, bel sekolah berbunyi. Setiap siswa segera duduk ditempatnya masing-masing dan menunggu Jung songsaenim yang akan mengajar dipelajaran pertama pagi ini. Namja itu memandang malas suasana kelas ini. Dia tidak suka berada dalam kelas. Lapangan basket adalah tempat terbaiknya didunia ini.

sehun-a, do gwencana?” tanya chanyeol yang tidak melihat semangatnya sejak pertama kali memasuki kelas pagi ini. Sehun tidak menjawab hanya membentuk tanda OK dengan tangan kanannya.

“hey, apa ada berita Jung songsaenim tidak datang? Kenapa dia lama sekali? Aku berharap dia benar-benar tidak masuk. Aku benar-benar malas membuka buku hari ini.” Ujar sehun kemudian kepalanya langsung tertunduk menempel pada sisi meja. Dibanding belajar dia lebih tertarik untuk mengetahui di kelas mana calon pasangan itu sekarang. Tidak bisa dipungkiri rasa penasaran itu memang ada dikepalanya walau hanya secuil saja.

molla, aku harap juga begitu.”Baekhyun  pasrah dan ikut melakukan hal yang sama seperti sehun.

Sepertinya tuhan tidak mendengar doa anak – anak malas karena Jung songsaenim sudah berada didepan pintu kelas. Suara hentakan dari high heels yang digunakannya seakan menjadi mimpi buruk dipagi hari. Jung songsaenim adalah satu guru killer disekolah itu. Dia cantik tapi kepribadiannya yang terlalu strict, membuatnya terlihat lebih menakutkan.

“sehun, baekhyun angkat kepala kalian jika ingin belajar. Jika tidak, keluarlah dari kelasku. Aku tidak ingin kalian merusak suasana kelas pagi ini.” Ujar sang songsaenim yang disambut gerakan malas dari kedua idola sekolah itu tanpa energi sedikitpun.

“suasana kelas ini jadi rusak karena kau masuk kekelas ini, Sam (sebutan singkat untuk songsaenim)” gumam sehun.

Diluar kelas, seorang gadis sudah berdiri dengan seragam lengkap ditubuhnya. Dia menanti namanya dipanggil sebelum memasuki kelas tersebut, seperti yang diinstruksikan oleh Jung songsaenim sebelumnya. Gadis itu menunduk sejak pertama kali tiba disekolah ini. Terus menerus merutuki                                                                                  dirinya yang terjebak ‘project masa depan’ yang dibuat oleh orang tuanya. “Eomma, benarkah ini maumu?” Gumamnya pelan. Dia tidak suka dengan ide kepindahannya ke sekolah ini hanyalah untuk mendekatkannya dengan sang calon suami. Sejak bangun pagi ini, hampir tidak ada senyum terukir diwajahnya. Bahkan, dia menolak untuk sarapan dan berangkat bersama appa-nya.

“baiklah sebelum materiku dimulai, aku akan memperkenalkan kalian pada seseorang yang akan menjadi teman baru kalian dikelas ini.” Terdengar germuruh gembira dari ruang kelas itu.

Lain halnya dengan sehun, matanya seketika membelalak tidak tak percaya. “solma… dia satu kelas denganku?”gumam sehun tanpa sadar.

“Dia? Kau mengenalnya?” tanya chanyeol cepat.

“hah? ak..”

“hye yeon hakseng, masuklah.” Ucap Jung songsaenim.

Hye yeon sudah berdiri diluar kelas sejak beberapa menit yang lalu, langsung masuk begitu mendengar namanya dipanggil. Dia berjalan perlahan sambil menunduk dan berhenti ditengah kelas.  “Perkenalkan dirimu” ucap Jung songsaenim.

Gadis itu mempunyai postur tubuh yang proporsional untuk remaja seumurannya. Rambut panjang terurai dan wajah ovalnya membuatnya terlihat cantik. Gadis itu mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mulai menyisirkan pandangannya pada seisi kelas. Pandangannya tajam dan dingin. Seakan tidak ada keinginan untuk bersahabat sama sekali. Terdengar berbagai gumaman dan bisikan tentang kehadirannya. Dihadapannya, semua mata sempurna telah tertuju padanya. Sedangkan matanya kini tertuju pada satu paras yang sama seperti yang ada dilembar foto yang diterimanya, sehun.

Sehun, dirinya masih tidak percaya dengan kenyataan dihadapannya. Gadis itu, calon istrinya, berada satu kelas dengannya. Seingatnya, eommanya mengatakan bahwa gadis itu lebih mudah satu tahun dari dirinya. Tapi kenapa sekarang gadis ini malah satu kelas dengannya. Pandangan tak kalah tajam menghunus tatapan hye yeon. Pikiran tentang gadis ini mulai berkembang liar dengan pertanyaan-pertanyaan baru dikepalanya.

Annyenghaseyo, nae ireumeun Kang Hye Yeon imnida. Pangabseubmida.” Ujar hye yeon dan menunduk singkat pada seluruh kelas.

To Be Continued

So, what do you think? Is it good? Please comment or maybe give me some suggestion about the story. Thank you?

5 pemikiran pada “HeLL (o), Dear ! (Chapter 1)

  1. next chapter, ne! karena baru chapter 1 aku belum bisa cerewet komen. hhaha.. kepalaku masih dipenuhi rqsa penasaran.
    NEXT.. pokoknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s