Hope Is a Dream That Doesn’t Sleep

Title                       : Hope Is a Dream That Doesn’t Sleep

Author                  : Lee Ha Ah

Genre                   : School Life, Sad (maybe)

Rating                   : PG-15

Length                  : Oneshoot

Main Cast            : Kim Young Mi (OC)

Oh Sehun

Supporting Cast                : Dara (OC), Hyuna (OC), EXO members (Cuma beberapa), Young Mi’s Omma, etc…

Disclaimer          :

Annyeonghaseo! *(bow)* Author Lee Ha Ah imnida! Ini FF pertama author, dan pertama kali langsung kirim ke WP exofanfiction karena selama ini author sering baca FF di WP ini. Setiap baca FF di WP ini, author pengen pake banget buat FF, tapi inspirasinya nggak dateng-dateng. #author curhat, abaikan!# langsung ke disclaimer aja ya.

FF ini asli hasil imajinasi+inspirasi dari luar author! Ceritanya terinspirasi dari chingunya author, tapi dengan ending yang diubah. Kalimat di FF ini juga terinspirasi dari novel dan lagu. Jadi kalau menemukan kesamaan, harap maklum karena itulah sumber inspirasi author yang lain. FF ini juga bukan songfic dari lagunya Kyuhyun SJ, author cuma pake judulnya. Maaf kalau ada typo di FF ini. OC milik author dan EXO member milik Tuhan YME juga EXOTIC^^/\  dan satu lagi, komentar (kritik+saran) sangat dibutuhkan karena author ini baru dalam dunia FF. please be an active reader^^

Happy Reading~^^

 

Hope Is a Dream That Doesn’t Sleep

Author POV

Young Mi berdiri di depan jendela dan mendongak menatap langit cerah yang menyambutnya pagi ini. Namun sayang itu sangat bertolak belakang dengan keadaannya saat ini. Ia yang selalu ceria dan penuh senyuman mendadak menjadi sosok yang tidak memiliki semangat hidup.

Ini semua akibat pertunjukkan teaternya yang diadakan selama 3 hari berturut-turut. Kesibukannya di atas panggung mengerahkan segala pikiran dan tenaganya. Karena ia tahu, di atas panggung ia harus bersikap professional.

Namun ia mencintai semua ini. Dia sangat mencintai dunia teater. Disanalah tempat ia mengekspresikan diri. Dan di usianya yang ke 17, ia merasa bangga dengan apa yang telah dilakukannya saat pentas.

Seketika lamunannya buyar saat terdengar suara Ommanya.

“Young Mi mau diantar sama Appa atau pergi sendiri?” Tanya Omma Young Mi yang sedang menuangkan susu ke dalam gelas.

“Pergi sendiri saja omma, Appa juga belum selesai mandi. Aku sudah telat nih, aku pergi dulu Omma.” Pamit Young Mi yang mengambil tasnya dari kursi meja makan.

“Tapi sayang, kamu kan belum sarapan.” Terdengar jelas nada khawatir pada Omma Young Mi.

“Tenang aja Omma. Aku bisa sarapan di kantin.” Pamit Young Mi sekali lagi yang membawanya keluar dari rumah.

____________

Young Mi POV

Oh, sialan!

Kenapa tidak ada taksi yang lewat pagi ini? Kalau sampai 15 menit lagi aku tidak mendapatkan taksi, matilah aku! Siap-siap saja aku dengan hukuman dari Wu Fan Sonsaengnim.

Kutolehkan kepalaku kekanan dan kiri. Dan hasilnya nihil. Mataku hanya menangkap mobil pribadi yang berlalu lalang didepanku.

Sesaat mataku menangkap sosok yang bagiku itu tidak asing. Seseorang yang membawa motor besar. Dia memiliki tubuh jangkung dan berkulit putih pucat. Dia itu….. Astaga!

Itu  Oh Sehun! Dia teman sekelasku di International Art High School. Dan aku yakin bahwa dia sedang mengarah ke tempat aku berdiri sekarang.

“Young Mi! Sedang apa kau disini?” tanyanya yang menurutku jelas sekali apa jawabannya.

“Aku sedang menunggu taksi. Tapi taksinya sepi.” Jawabku yang terdengar cemas.

“Pergi sama aku saja. Nanti bisa telat. Naiklah.” Tawar Sehun dengan menyodorkan sebuah helm. Dan ditambah seulas senyum yang terukir di wajah putihnya.

“Gomawo, Sehun.” ucapku saat aku sudah duduk di belakang tas Sehun.

Motornya melaju dengan sedikit dipercepat karena tahu bahwa sebentar lagi akan masuk. Dan aku yakin, Sehun tidak akan mau menerima hukuman dari Wu Fan Sonsaengnim untuk kesekian kalinya.

Tidak ada percakapan selama perjalanan. Entah kenapa moodku yang tadinya sangat buruk, kini malah berubah 180o. Saat ini moodku sama seperti langit cerah yang tadi menyambutku di pagi hari.

Hey! Ada apa denganmu Young Mi?!

Apakah sebegitu besarnya pengaruh bermotor dengan Sehun sampai bisa membuat ‘bad mood’mu hilang?

Entahlah. Yang jelas saat ini aku merasakan hal yang lebih baik dibandingkan sebelum aku bertemu Sehun.

__________

“Young Mi!” Suara Dara mengejutkanku yang sedang merapikan buku pelajaran Biologi saat istirahat.

“Dara! Kau ini mengejutkanku saja.” Ketusku pada Dara.

“Ya ampun, ne mianhae Young Mi. Tapi, hmm-hmm yang tadi pagi pergi ke sekolah bareng.” Usil Dara padaku.

“Kau ini bicara apa Dara?” Balasku cepat yang benar-benar terdengar seperti orang yang tertangkap basah mencuri.

“Sudahlah, Young Mi. Jangan pura-pura lupa. Aku kan melihatnya tadi pagi. Kalian pergi bersama pakai motor kan? Kau dan Sehun pergi sekolah bersama, bukan?” Tanya Dara yang nadanya penuh interogasi.

Saat aku hendak membuka mulut, Dara langsung melanjutkan kalimatnya.

“Aku tahu bagaimana rasanya pergi sekolah dengan seseorang yang kita sukai. Itu menyenangkan, bukan?”

Jleeb!

Bagaimana dia bisa tahu? Aku belum pernah menceritakannya. Sungguh.

Walaupun Dara –gadis yang bertubuh lebih kecil dariku dan memiliki kulit putih kemerahan- adalah sahabatku, tapi urusan perasaan, aku masih ingin menyimpannya sendiri.

“Akui saja Young Mi. Kau itu menyukai Sehun kan? Aku tahu kau menyembunyikannya selama ini. Aku suka memperhatikanmu yang melihatnya dengan tatapan yang berbeda. Malah sejak kelas satu. Kita kan sudah bersahabat lama, apa salahnya terbuka satu sama lain. Itu gunanya persahabatan, bukan?” lanjut Dara dengan suara yang diperkecil.

“Ya sudah sekarang aku mau ke kelasku dulu ya. Bye!” pamit Dara yang kucegah.

“Dara. Aku mohon jangan beri tahu siapa-siapa soal ini. Cukup aku dan kau yang tahu soal perasaan ini.” Pintaku yang sedikit gelisah.

“Arraseo. Untuk sahabatku, aku pasti tutup mulut.” Jawab Dara sambil ‘mengunci’ mulutnya dan membuang kunci itu.

___________

Oh, sialan.

Materi olahraga hari ini adalah basket. Benar-benar materi favoritku.

Tapi tubuhku menolak untuk ikut olahraga. Aku lupa bahwa hari ini aku belum sarapan dan saat istirahat aku malah mengerjakan tugas biologi yang harus dikumpul. Alhasil, perutku kosong dan badanku lemah. Lemah sampai aku tidak kuat untuk menopang diriku sendiri.

Minseok Sonsaengnim sedang mengabsen siswa. Sebentar lagi namaku dipanggil.

Namun seketika pandanganku mulai….

Kabur….

Kabur….

Dan aku bersiap untuk terhempas ke tanah.

Tapi aku merasa ada yang menopangku dari belakang. Ia meneriakkan namaku.

“Young Mi! Young Mi!”

Suara itu! Aku mengenalnya.

Namun aku tidak sempat lagi untuk berpikir. Karena saat ini aku benar-benar tidak sadarkan diri.

___________

Saat aku mulai terjaga. Mataku mengerjap sesekali. Ini kan…. kamarku?

Dengan sekali gerakan aku bangkit dari kasur dan kulihat Ommaku yang langsung sigap membantuku terbangun.

“Hati-hati, sayang. Kamu kan baru sadar. Ini tehnya diminum dulu. Masih hangat.” Ucap Ommaku yang jelas sekali nada khawatir di setiap kalimatnya.

Aku menyeruput tehku dengan hati-hati…

“Kok aku bisa di kamarku Omma?” tanyaku yang tentunya untuk Omma.

“Tadi kan pingsan di sekolah waktu pelajaran olahraga. Karena pelajaran olahraga jam terakhir, jadi Minseok Sonsaengnim telepon kerumah. Omma langsung ke sekolah. Omma khawatir Young Mi. Ini pasti karena ninggalin sarapan kan?” ucap Ommaku yang panjang lebar.

“Mianhae, Omma.” Sesalku.

“Untungnya kata Minseok Sonsaengnim ada yang menolong waktu kejadian. Dia itu yang membawamu waktu pingsan ke uks.” Lanjut Omma.

“Nugu Omma?” desakku.

“Sebentar. Seingat Omma dia itu seorang namja. Namanya Se… Se… Seh…”

“Sehun!” tebakku.

“Nah iya itu namanya! Tadi Omma juga berterima kasih sama dia. Ya sudah sekarang Omma mau buat bubur supaya perut kamu terisi.” Lanjut Ommaku yang kujawab dengan anggukan. Lalu Ommaku keluar dari kamar.

Aku termenung sejenak. Sejenak aku memikirkan kembali perkataan Omma tadi.

Jadi, yang menolongku tadi adalah Sehun?

Tunggu, bagaimana bisa? Seingatku yang baris dibelakangku adalah Hyuna, bukan Sehun.

Ting. Tong. Ting.

Handphoneku berbunyi. Ada pesan masuk. Dengan cepat aku meraih ponselku dari atas meja.

Nomor pengirim tidak dikenal.

Dengan sedikit keraguan aku membuka pesan itu.

‘Young Mi, bagaimana kondisimu sekarang? Sudah membaik? –Sehun-’

                Sehun?! Apa aku sedang bermimpi?

Kucoba untuk ‘sedikit’ memukul pipiku. Prak! Sakit. Ternyata ini bukan mimpi.

Dengan masih ragunya, aku mengetik untuk balasan ke Sehun.

‘Aku sudah membaik. Oh ya, gomawo sudah menolongku tadi.” Balasku.

30 detik kemudian….

‘Hei, bukannya itu gunanya teman? Kekeke’

‘Kekeke, ne.’ Balasku lagi dengan cepat.

40 detik kemudian….

‘Oh ya, aku lupa. Tadi aku mau ngomong di sekolah. Aku kemarin nonton pertunjukkan teatermu, kau kelihatan keren di atas panggung.’

Sejenak aku terdiam setelah membaca balasan dari Sehun. Dia memujiku? Sungguh?

‘Jinjja? Gomawo untuk pujiannya.

35 detik kemudian….

‘Ya sudah, sekarang istirahatlah supaya besok bisa masuk sekolah. Supaya kelas tidak sepi^^’

‘Ne, ne. Sekali lagi gomawo SehunJ balasku dengan senyuman yang sudah terukir jelas diwajahku.

15 detik kemudian….

‘Ne, cheomaneyo~J tutup Sehun.

Apakah ini hanya mimpi?

Sungguh demi apapun aku berharap ini bukan mimpi. Karena Sehun, ia memperhatikanku dan juga… memujiku? Sungguh diluar dugaan.

Selama ini aku melihatnya, mengaguminya dari jauh, memiliki perasaan padanya, baru kali ini dia memperhatikanku.

Dan aku yakin sekarang ini pasti wajahku sudah memerah seperti udang rebus. Dan pipiku pasti juga memerah seperti diberi ‘blush on’ dengan ketebalan maksimal.

Dan ini. Untuk pertama kalinya. Aku bersyukur tidak sarapan hari ini. Karena semua ini berawal dariku yang tidak sarapan.

__________

Author POV

Sejak hari itu, kedekatan antara Young Mi dan Sehun mulai terasa.

Mereka intens berkomunikasi di malam hari lewat ‘sms’.

Tidak hanya itu. Di sekolah juga mereka sering bercanda gurau. Sesekali juga Sehun suka mengajak pulang bersama Young Mi.

Bagi Young Mi, ini kemajuan yang signifikan. Ia senang menerima kenyataan ini. Ia juga sudah menceritakan segalanya pada Dara, sahabatnya. Dara juga senang mendengar serentetan cerita antara Young Mi dan Sehun.

Namun ada sedikit yang membuatnya –Young Mi- ganjal.

Saat mereka kerja kelompok tugas Wu Fan Sonsaengnim. Kelompok itu terdiri dari Young Mi, Jongin, Soo Hee dan Sehun. Young Mi merasa hari itu adalah keberuntungan baginya. Karena apa? Karena bisa satu kelompok dengan Sehun, tentunya.

Yang membuat Young Mi ganjal adalah, saat kerja kelompok ia sering menangkap Sehun yang ‘bercandaan’ dengan Soo Hee. Bukan hanya itu. Young Mi juga sering melihat Sehun yang memandang Soo Hee dengan cara yang berbeda.

Tapi Young Mi tidak menghiraukan fantasinya lebih jauh. Buktinya, Sehun juga sering bercanda gurau dengannya. Begitu juga dengan Jongin.

_________

Hari pun berganti.

Saat Young Mi berniat ke perpustakaan, ia menangkap sosok Sehun yang bercucuran keringat habis bermain basket dengan teman-temanya. Ia sedang menuju ke lokernya.

Sehun membuka lokernya dan mendapati sebotol air isotonik dan secarik kertas. Secarik kertas yang membuatnya mengukir bentuk bulan sabit di wajahnya.

Melihat itu Young Mi sedikit tertegun.

Apa yang membuat Sehun tersenyum seperti itu?

Setelah melihat ekspresi itu, muncul suatu ide di pikiran Young Mi.

__________

Sehun POV

Kelas danceku baru saja selesai.

Sungguh. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan.

Hari sudah sore. Aku harus segera pulang sebelum Omma mengomeliku karena aku sering pulang sore.

Astaga! Aku lupa! Aku meninggalkan iPodku di loker.

Dengan langkah lebar aku kembali lagi ke loker untuk mengambilnya.

Saat kubuka lokerku, seseorang meninggalkan sebotol air isotonik rasa lemon. Hey lemon! Itu rasa kesukaanku. Juga handuk kecil dan…. secarik kertas?

Apakah ini dari….

‘Pakailah handuk itu untuk membersihkan keringatmu, kau habis dari kelas dance kan? Dan minum juga air itu, untuk mengembalikan kesegaranmu. Young MiJ

Secara tidak sadar, ternyata sudut bibirku sekarang sudah membentuk senyuman.

____________

Young Mi POV

Ting. Tong. Ting.

Itu pasti Sehun. Aku yakin itu.

Aku pun meraih ponselku dengan sekali gerakan cepat.

Dan… napasku tercekat. Mataku terbelalak.

Apa ini? Apa maksud dari pesan Sehun?

‘Young Mi, kau mau menjadi yeojachinguku?’

                MWO? Sebesar ini kah efek dari aku yang memberikannya handuk dan air isotonik tadi? Aigoo!

‘Apa kau serius?’

20 detik kemudian…..

‘Baca dulu sampai bawah.’

Mwo? Pesan itu belum selesai? Rasa penasaranku mendorong kuat untuk membaca pesan sebelumnya yang belum selesai. Dan isinya adalah….

‘Just kidding. LOL:p’

‘Oh.’ Jawabku yang ketus

30 detik kemudian….

‘Jangan marah. Aku kan cuma bercanda. Peace~ ppuing ppuing^^’

Sedikit pun tidak ada lagi niatan dalam diriku untuk membalas pesannya. Sungguh. Aku langsung meletakkan handphoneku di atas meja di dekat kasur dengan kasar. Mungkin baginya ini hanya candaan atau apalah. Tapi ini sungguh membuatku kecewa. Kecewa karena candaannya.

Sekali lagi ponselku berdering. Pesan masuk. Itu pasti dari Sehun. Untuk saat ini, sulit bagiku untuk berbicara dengannya.

Aku memilih untuk berbaring di atas kasur dan menyembunyikan diri dibalik selimut dari dinginnya malam. Seketika, sebulir air mata bergulir di pipiku. Sontak aku menghapusnya dengan satu tangan.

Ada apa denganmu, Young Mi? Hanya karena candaan itu saja kau menangis?

Mungkin. Mungkin itulah alasannya sebulir air mata yang dingin mengalir dengan lembutnya di pipiku. Kini aku mulai memejamkan mata. Dan berharap, kala aku terjaga, kejadian malam ini tidak akan kuingat.

__________

Author POV

Pagi ini terasa berbeda. Antara Young Mi dan Sehun tidak lagi terdengar sendau gurau yang biasanya menghiasi kelas seperti biasa. Mereka tidak saling menyapa.

Young Mi, sejak masuk sampai sekarang ia lebih terlihat murung. Sama halnya dengan Sehun. Namun sesekali ia terlihat bercanda dengan Jongin. Dan sesekali memperhatikan Young Mi yang murung.

Sebentar lagi istirahat. Young Mi berniat untuk pergi ke kelas Dara.

Kelas yang awalnya sepi dikejutkan dengan suara Hyuna dengan volume penuh.

“Chingudeul! Kalian sudah tahu gossip baru?”

“Mwo?” serentak teman sekelas kecuali Young Mi dan Sehun.

“Di kelas kita, sudah ada yang berpacaran satu bulan.” Lanjut Hyuna

“Eeh nugu? Nugu?”

“Beri tahu kami, Hyuna!”

“Palli. Aku penasaran.”

Pacaran? Siapa itu? Benak Young Mi.

“Mereka adalah…. jeng jeng… Sehun dan Soo Hee! Chukkae for uri couple!”

Young Mi POV

“Mereka adalah…. jeng jeng… Sehun dan Soo Hee! Chukkae for uri couple!”

Dengan sekali tolehan cepat, kepalaku langsung terarah pada Sehun dan Soo Hee. Mereka yang sedang dianjung-anjungkan hanya mengumbar senyuman yang sungguh membuat dadaku sendiri nyeri.

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Hyuna, seperti anak panah yang menghujamku dalam sekali tancapan. Sakit. Juga perih.

Sekali lagi aku menoleh ke arah Sehun. Mataku dan matanya kini bertemu. Hanya untuk dua detik. Karena aku tidak kuat menatapnya saat ini.

Aku tidak kuat. Ini membuat kepalaku berat. Aku memilih untuk berangkat dari kursiku dan pergi ke atap sekolah untuk menenangkan pikiran.

Saat aku sudah berada di ambang pintu, tertangkaplah aku oleh Dara yang menyadari bahwa mataku sudah memerah dan berkaca-kaca.

“Wae keurae Young Mi? Kau menangis?” Tanya Dara yang khawatir.

Aku langsung mengangkat telunjuk ke bibirku sendiri meminta Dara untuk tidak bertanya lagi. Aku mengajaknya ke atap sekolah.

Di atap sekolah, aku menceritakan kejadian di kelas tadi kepada Dara tanpa menghilangkan sedikitpun detailnya. Aku menceritakannya sambil menangis. Menangis sejadi-jadinya. Dara yang mendengarkanku bercerita hanya termenung dan berusaha untuk mengutkanku. Dara menarikku kedalam pelukannya untuk meredakan tangisanku.

Sejenak, dalam pelukan Dara aku melupakan kejadian tadi. Namun seketika juga ekspresi di wajah Sehun dan Soo Hee tadi mulai menghantuiku lagi.

Hampa, kesal, dan sedih seluruhnya ada di benakku. Dan saat ini, ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada, bahwa hatiku…. kecewa.

_________

Malam terasa sunyi dan dingin. Dingin hingga menusuk kedalam ulu hatiku. Perih. Rasa ini masih kurasakan. Belum hilang.

Aku duduk di atas kasur dengan kedua kaki yang kulipat dan kupeluk juga daguku yang berada diatas lutut. Sekejap, air mataku mengalir lagi dengan pelannya.

Apa yang dimilikinya tidak kumiliki?

                Apa yang membuatmu memandangnya berbeda?

Pertanyaan itu yang selalu berkelebat dalam pikiranku saat aku mengingat nama Soo Hee dalam otakku. Juga kejadian saat kerja kelompok. Mungkin terbesit rasa sesal dalam diriku.

Lalu, jika kukatakan bahwa aku lah yang melihatmu sejak dulu,

                Apakah kau akan menatapku seperti biasanya?

                Tersenyum padaku seperti biasanya?

Pertanyaan ini mewakili dari rasa sesal dalam diriku. Aku yang larut dalam penyesalan. Ya, penyesalan yang teramat dalam. Penyesalan yang berujung kesedihan. Menyesal karena dengan bodohnya aku tidak memberitahunya kalau selama ini aku melihatnya, mengaguminya dari jauh.

Itu semua karena aku takut. Aku takut jika aku melakukannya, dia akan menjauh.

Aku memilih untuk merebahkan tubuhku dibalik selimut. Dan membiarkan sekarang untukku berpikir. Apakah aku harus bertahan atau biarkan rasa ini hilang dimakan waktu?

Aku baru menyadarinya. Perasaan ini ternyata adalah harapan. Dan aku tahu bahwa harapan itu adalah sebuah mimpi. Mimpi yang menurutku tidak akan terwujud.

Dan ketika aku terjaga, aku berharap kesedihan ini akan sirna.

_________

Author POV

10 Tahun kemudian….

Terlihat dengan jelas sosok wanita yang sedang  melajukan mobilnya di Apgujeong. Wanita dengan gaya yang simple plus kacamata. Wanita ini? Ya, dia adalah Young Mi.

Dia telah tumbuh dewasa. Saat ini dirinya disibukkan dengan pertunjukkan teater yang dua bulan lagi akan digelar. Dia tidak lupa dengan kecintaannya. Dia terkenal sebagai pemain teater terbaik di Seoul.

Jika ada yang bertanya, bagaimana dengan perasaannya kepada…. Sehun?

Jawabannya karena selama ini dia membiarkan waktu yang menghilangkan ‘rasa’nya.  Walaupun terkadang sesekali terbesit bayang-bayang Sehun di benak Young Mi. Ia merasa itu hanyalah masa lalu. Masa lalu yang harus dilupakan.

Saat ini ia sedang menuju ke tempat penulis skenario terbaru yang akan dimainkan Young Mi di pertunjukkannya nanti.

Beberapa menit kemudian, sampailah ia di sebuah gedung bergaya modern di daerah Gangnam. Tentunya sebelum Young Mi menemui si penulis skenario, ia bertanya dulu kepada resepsionis untuk bertemu dengan si penulis skenario. Dan keberuntungan memihak kepada Young Mi, ternyata si penulis skenario itu baru datang. Saat Young Mi membalikkan tubuhnya untuk menyapa….

DEG!

“Se… hun?”

Young Mi POV

“Se… hun?” nama itu langsung saja meluncur dari mulutku tanpa harus dicerna lagi.

“Maaf, siapa yang anda maksud?” ucap si penulis skenario.

“Apa anda ini pemeran utama di teater yang akan diselenggarakan dua bulan lagi?” lanjutnya dan aku yang ditanya hanya mengangguk.

“Biar saya perkenalkan diri. Annyeonghaseyo, choneun Oh Luhan imnida.” Perkenalnya yang sambil mengulurkan tangannya.

Aku hanya termenung melihat uluran tangannya. Ternyata namanya Luhan. Namun bagaimana bisa? Dari ujung kepala sampai ujung kaki dia ini benar-benar mirip dengan Sehun.

Sejenak aku ragu untuk menerima uluran tangan itu tapi……. Deg! Sekarang tanganku menjabat tangannya.

“Young Mi imnida.” sapaku pada Luhan.

Setelah berjabat tangan, aku merasakan aura Sehun masuk dan menyelinap lagi dalam hidupku. Jabatan tangan tadi menjalari kehangatan yang lebih hangat dari teh panas.

Dan sekarang aku sadar, memang harapan adalah sebuah mimpi. Namun tidak selamanya mimpi itu tidak terwujud. Hanya saja tertunda. Karena harapan yang dulu sudah hilang dimakan waktu, terjawab kini. Dan aku yakin, bahwa mimpi itu tidak pernah tidur.

-END-

NB:

Di cerita ada karakter Luhan, itu author ganti marganya. Itu memang disengaja supaya ada keterkaitan dengan cerita para tokoh.

Eotte FFnya?

Gajekah? Gantungkah? Membosankan? Atau membingungkan?

Komentar sangat terbuka^^

10 pemikiran pada “Hope Is a Dream That Doesn’t Sleep

  1. bagus thor, pasti sakit juga kalo digituin T^T
    perlu diperhatikan lagi untuk penulisannya, masih ada bahasa yg kurang baku, but over all ff ini tetep kece. keep writing:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s