Luhan, The Cold Hearted Boy (Chapter 1)

Title: Luhan, The Cold Hearted Boy

Author: fhrsynn (pasti nemu di twit)

Main Cast:

  • Xi Luhan (EXO)
  • Kim Haneul (OC)
  • Jung Jieun (OC)

Support Cast:

  • EXO (Luhan’s bestfriend)
  • Jung Daehyun (Luhan’s cousin)
  • Kwon Yuri (your bestfriend)

Rating: R

Genre: Romance, Fluff (maybe), schoollife

Length: Chaptered

Disclaimer: FF pertama yang terpost wakakakak. Enjoy reading, I don’t do plagiarism and I don’t like it. So if someone tells me you plagiarize my work, I’ll kill your idol IN. MY. DREAM. Because it’s illegal to do that in the real world. 😦 (even it’s Luhan my bias whatsoever.)

 

Note:

No One’s POV

Seorang yeoja menapakkan kakinya di Seoul High School of The Elites—tempat dimana ia akan bersekolah sekarang. Dengan warna rambutnya yang berwarna pirang—ya, haneul adalah blasteran korea-amerika—ia berjalan melewati gerbang Seoul High. Semua orang tampak menatapnya aneh karena hanya dia yang mempunyai rambut pirang dan melanggar peraturan sekolah—tidak memakai seragamnya dengan benar. Haneul tidak tahu bahwa semua itu salah, ia kira banyak yeoja yeoja berpakaian seperti ia—namun tidak.

Haneul enggan untuk mengganti warna rambutnya yang sudah ia dapat dari lahir—menurutnya ini adalah hadiah dari Tuhan, mengapa harus diubah?

Ia menghirup napas segar sebelum masuk kedalam sekolahnya. Namun sebelum ia berlangkah lebih lanjut, ada seseorang yang menepuk bahunya. Haneul mengerutkan alisnya dan membalikkan badannya—hanya untuk melihat sosok namja yang membawa sebuah papan berwarna hitam. Ia tersenyum padanya dan berkata, “Permisi. Bisa tolong tulis namamu disini, euh.. Haneul-ssi?” Lalu ia tersenyum malu.

“Wae?” Jawab Haneul menaikkan alisnya sebelah. Lalu namja itu menunjuk kerah baju Haneul, “Kau tidak mengancingkan satu kancing dibawah kerahmu, lalu-“ namja itu menunjuk rambut Haneul. “Kau mengecat rambutmu  menjadi pirang, dan-“ ia menunjuk wajah Haneul. “Kau memakai make up secara berlebihan.”

“Mwo?” Haneul melotot. Disekolah lamanya, hal-hal seperti ini diperbolehkan. “Rambutku sudah pirang sejak lahir.” Belanya. “Ani! Aku tidak mau!” Ujar Haneul.

Tiba-tiba seseorang lagi muncul dari belakang Haneul, “Kau adalah si murid pindahan itu kan?”

Menyadari itu, Haneul membalikkan badannya lagi dan mengangguk. Dengan wajah datar, namja itu berkata, “Sekolah ini hanya untuk yang terbaik dari yang terbaik, jadi jika kau berpakaian seperti itu..” namja itu mengecek pakaian Haneul dengan tatapan yang Haneul sendiri tidak bisa menjelaskan. “Jangan sekolah disini.”

*A-Apa..?*

“Yoo Seungjae, kajja.” Namja itu membalikkan badannya dan kembali masuk kedalam sekolah bersama namja yang tadi menyuruh Haneul menuliskan namanya. Haneul baru saja menyadari bahwa semua orang sedang membicarakannya tentang kejadian yang terjadi tadi. Haneul melirik kearah kanan dan kirinya dengan perasaan malu dan langsung berlari kearah sekolah—lebih tepatnya ke kamar mandi untuk menghapus make up nya.

“Namja sialan! Beraninya ia berkata seperti itu! Aku tahu dia itu tampan! Bahkan aku meragukan dia itu namja apa bukan!” Bisik Haneul sembari membungkuk dan menghapus make up dari wajahnya menggunakan air. Baru saja ia selesai membersihkan wajahnya, ia berdiri tegak kembali—hanya untuk dikagetkan dengan dua mata yang melototinya. Haneul terkejut dan hampir berteriak, namun yeoja itu segera menutup mulutnya menggunakan tangannya. “Ssst! Ini aku, Yuri!”

*Y-Yuri?*

Yuri melepaskan Haneul dari dekapannya—meninggalkan Haneul yang masih berpikir keras untuk mengingat Yuri.

*Yuri.. Yuri.. Yuri? Maksudnya..*

“M-Maksudmu Kwon Yuri? Yul?” Tanya Haneul ragu-ragu. Yuri tersenyum dan mengangguk. “K-Kau sekolah disini?!” Haneul melotot.

“Yah! Kau lupa ya? Bukankan eomma mu menyuruhmu untuk tinggal di rumahku?!” Yuri mengerutkan alisnya. “Ohiya, hehe—aku lupa.” Haneul menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Yuri hanya menggeleng dan berkata, “Aku tidak terkejut.”

Setelah terdiam beberapa menit, Yuri berkata, “Kajja kita kekelas. Kau berada di kelas yang sama denganku.” Ujar Yuri menarik tangan Haneul keluar dari kamar mandi.

Saat diperjalanan menuju kelas mereka, Haneul bertanya, “Yul, Kau tahu tidak, namja berwajah manis namun dingin itu?”

“Maksudmu Xi Luhan? Anak dari kepala sekolah itu? Tidak mungkin.. apakah kau sudah mulai mengingat kembali..?” Jawab Yuri dengan sedikit terkejut. “Jadi namanya Xi Luhan? Apa maksudmu dengan mengingat kembali?” Tanya Haneul lagi, kali ini menaikkan alisnya sebelah. “Iya. Wae? Kau terpesona olehnya? Sudahlah—lupakan pertanyaanku itu.” Ujar Yuri. “Arraseo—mwo? Terpesona? Definitely not!” Bela Haneul. Yuri hanya tertawa.

*Ya ya ya ya—tertawalah Kwon Yuri. Namun aku masih bingung—apa maksud dari mengingat kembali? Apakah aku pernah lupa ingatan dulu?*

Haneul menggerutu dan melanjutkan perjalanan mereka. Karena sekolah ini sangat besar, butuh sekitar 10 menit untuk sampai dikelas mereka. “Aigoo, sekolah ini besar sekali Yul!” Komplen Haneul sambil memukul-mukul punggungnya karena pegal. “Kau akan terbiasa.” Ujar Yuri dengan sabar sembari membenarkan bajunya. “Oh iya, aku mengantarmu kesini hanya untuk memberi tahu bahwa ini adalah kelasmu. Kau harus pergi lagi keruang guru untuk bertemu dengan Cho Saem, wali kelas kami. Namun aku tidak bisa mengantarmu lagi—mianhae!” Yuri menutup matanya dan mengusap-usap tangannya untuk meminta maaf. Haneul hanya mengkerutkan alisnya dan berkata, “Arraseo. Dimana ruang gurunya?”

Yuri membuka matanya sebelah dan tersenyum lebar—memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapih. Mereka kembali keluar kelas dan Yuri menunjuk kearah kanannya, “Pergilah ke kananku, lalu, belok kiri, naik tangga..” Ucapan Yuri tidak bisa didengar lagi oleh Haneul—Haneul memang buta arah.

“Mengerti?” Yuri menyelesaikan kalimatnya yang panjang lebar dengan senyuman. Karena Haneul tidak ingin menyusahkan Yuri, Haneul hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Yuri. Haneul pergi ke kanan, setelah itu ia belok ke kanan lagi—sampai ia tersesat.

“Astaga! Aku dimana?!” Kata Haneul panik karena ia tahu bahwa ia buta arah. Dikanan dan dikirinya sudah tidak ada siapa-siapa karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Ia mulai berjalan lagi—mengingat-ingat dimana ia terakhir berjalan. Namun itu malah membuatnya semakin tersesat sampai ia bertemu dengan namja itu lagi—Luhan.

Haneul ragu, ia harus pergi, atau tidak pergi. Ia takut akan dicemooh lagi olehnya, namun jika tidak, pasti ia akan kembali tersesat. Satu langkah. Haneul maju satu langkah kearah Luhan. Lalu ia menggeleng. Ia mundur kembali.

*Kim Haneul. Ini untuk kebaikanmu. Ayolah!* Ucap Haneul dalam hati untuk menyemangati dirinya. Haneul menggigit bibirnya dan mulai bergerak perlahan kearah Luhan. “P-Permisi..” Ujar Haneul ragu-ragu sembari menepuk bahunya.

Luhan berbalik badan dan menatap Haneul yang hanya setinggi pundaknya. “Apa?”

“M-Maukah kau mengantarkanku pergi ke r-ruang guru..?” Tanya Haneul dengan suara parau. “Jika itu adalah taktik mu untuk mendekatiku, maka tidak. Aku permisi dulu, aku sibuk.” Jawab Luhan dengan dingin lalu meninggalkan Haneul sendiri.

Haneul terkejut oleh jawaban Luhan. “Y-Yah..”

“YAH!” Teriak Haneul. Teriakan Haneul membuat Luhan berhenti berjalan.

“Jika aku tidak buta arah, pasti aku akan pergi sendiri! Aku tidak butuh bantuan dari namja sepertimu! Pasti jika ada orang lain selainmu disini, aku akan meminta orang itu, bukan kau! Aku sama sekali tidak tertarik dengan kau, Jerk!”

Setelah menyadari apa yang telah ia katakan, Haneul langsung menutup mulutnya.

*Ah tidak—aku baru saja mengumbar rahasiaku dan marah-marah pada orang yang tidak kukenal! Bahkan Yuri berpikir bahwa aku sudah tidak buta arah lagi..*

Haneul lalu berlari melewati Luhan, namun Luhan memegang tangannya. “Mwo?!” Ujar Haneul marah. “Baiklah. Aku akan membantumu.”

Haneul melotot karena ucapannya. Lalu ia menatap Luhan dalam-dalam yang sedang menatapnya juga. “Kau mau dibantu atau tidak? Jika tidak aku akan pergi. Hal-hal seperti ini hanya membuang waktuku.” Luhan melepaskan genggamannya lalu pergi meninggalkan Haneul.

Haneul tersenyum dan berlari menuju Luhan—yang sudah jauh darinya. Ia menarik lengan baju milik Luhan dan berkata, “Arraseo! Gomawoyo..?” Ucap Haneul pura-pura tidak mengetahui nama Luhan. “Luhan.”

“Namaku Luhan.”

“Gomawoyo Luhan-ssi.” Haneul berterima kasih dengan tersenyum kearahnya. Luhan hanya mendiamkannya dan masih berjalan.

“Kita sudah sampai.” Kata Luhan sembari berhenti didepan sebuah pintu besar yang berada tepat didepannya. Haneul membungkuk dan mengucapkan terima kasih padanya lagi, lalu ia masuk kedalam ruang guru. Lalu Luhan meninggalkan Haneul dan pergi ke kelasnya.

“Annyeong.. Cho Saem?” Haneul menepuk bahu Cho Saem. “Ah—ne?” Tanggap Cho Saem didampingi dengan senyuman. “A-Aku adalah murid pindahan dari Amerika, K-Kim Haneul. Dan kata Yuri aku h-harus bertemu denganmu dulu.” Kata Haneul sambil mengusap-usap tangan kirinya.

“Ah! Mrs. Kim, kan? Aku sudah menunggumu dari tadi—ayo kita ke kelas!” Cho Saem beranjak dari duduknya dan mengantar Haneul kembali ke kelas. Sesampainya dikelas, Cho Saem berkata, “Sssh! Diam!” Cho Saem menggebrak mejanya. Setelah keadaan kelas sunyi, Cho Saem kembali berkata, “Ayo perkenalkan dirimu. Jangan malu-malu.”

Haneul kembali melihat Luhan dan Yuri. Luhan hanya melihat keluar jendela dan Yuri memberikan Haneul sebuah ‘fighting’. Haneul hanya tersenyum kepadanya.

*Jadi Luhan sekelas denganku..* Ucap Haneul dalam hati.

“A-Annyeonghaseyo, naneun Kim Haneul imnida. Saat aku b-berumur 5 tahun, aku dipaksa untuk tinggal di Amerika dan sekarang aku baru pindah lagi ke Korea. A-Apakah ada yang ingin bertanya?” Haneul membungkuk dan tersenyum dengan terpaksa.

Seorang namja mengangkat tangannya dan berkata, “Jika kau tinggal di Amerika, kenapa kau bisa fasih berbahasa Korea?”

“A-Ah.. Itu karena a-aku diharuskan untuk b-berbicara bahasa Korea d-dirumah.”

Cho Saem lalu berkata, “Ada yang ingin ditanyakan lagi?” Lalu ia melirik satu persatu muridnya—jika saja ada yang ingin bertanya. “Tidak? Baiklah. Haneul, silahkan duduk disamping.. Ah! Kwon Yuri! Tolong angkat tanganmu!” Cetus Cho Saem menunjuk Yuri karena ia tahu bahwa Yuri adalah sahabat karib Haneul.

Dengan gembira, Yuri mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya kearah Haneul. Haneul hanya tersenyum dan membungkuk kepada Cho Saem lalu pergi ke tempat duduknya yang baru.

Luhan terkejut mendengar nama Kim Haneul yang pindah ke Amerika pada saat ia berumur 5 tahun. Ia tahu bahwa Yuri dan Haneul berteman sejak kecil, namun Yuri tidak memberi tahu Luhan bahwa Haneul akan kembali.

*Haneul..? Haneul..? Sky? Apakah itu Haneul? Haneul.. cinta pertamaku?* Ujar Luhan didalam hatinya—sebenarnya sedari tadi ia mendengarkan apa yang terjadi di kelas ini. Hanya saja ia tidak tertarik. Luhan spontan melirik Haneul yang ada disamping kanannya dengan tatapan yang tidak percaya.

“Baiklah—class!” Cho Saem menepuk tangannya beberapa kali untuk mengalihkan perhatian hampir semua muridnya yang tertuju pada Haneul kembali pada Cho Saem. “Hari ini kita akan belajar tentang Sejarah-sejarah Korea di jaman Joseon.” Kata Cho Saem menulis ‘SEJARAH SEJARAH KOREA DI JAMAN JOSEON’ di papan tulis. “Untuk itu, harap buka buku pelajaran sejarah kalian halaman 134.”

@Lunch

Kriing! Bell makan siang pun berbunyi—menandakan bahwa sudah saatnya para murid untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Yuri beranjak dari kursinya dan berkata, “Haneul-ah, ayo kita ke kantin! Masih banyak yang mau kuperlihatkan kepadamu!” Yuri menarik tangan Haneul keluar dari kelas, meninggalkan Luhan yang sedari tadi menatap Haneul.

Setelah Haneul keluar dari kelas, Luhan beranjak dari kursinya dan berjalan—lebih tepatnya menarik dirinya—menuju kantin. Diperjalanan, dia bertemu dengan Jung Jieun, yeoja yang sangat terobsesi dengan Luhan. “Oppa~!” Jieun memeluk Luhan dengan erat. Luhan hanya mendorong Jieun. “Oppa, ayo kita ke kantin bersama!” Jieun menggenggam tangan Luhan dengan erat. “Ani. Aku mau ke kantin bersama teman-temanku.” Dengan paksa, Luhan melepaskan genggaman tangan Jieun dan meninggalkannya. Jieun tidak habis akal, ia malah berkata, “Baiklah, kalau begitu aku akan berjalan bersamamu dan teman-temanmu juga!” Kata Jieun berlari kearah Luhan.

*kapan yeoja ini akan berhenti mengejarku?!*

“Kalau aku bilang tidak, ya tidak!” Luhan berteriak ke wajah Jieun. Jieun tampak takut—karena jarang sekali Luhan marah seperti itu.

“Mi-Mianhae, oppa..” Jieun menundukkan wajahnya karena malu ditertawakan semua orang. “Ya, kau harus meminta maaf.” Jawab Luhan cetus lalu meninggalkannya. “Ah! Luhan oppa baru saja membentakku! Aku akan membuatmu milikku, oppa! Karena prince dan princess sekolah ini memang ditakdirkan bersama, bukan? Sama seperti di dongeng-dongeng yang sering kubaca.” Ujar Jieun kepada dirinya sendiri lalu lari meninggalkan kerumunan yang menertawainya.

Haneul dan Yuri sedang berada di antrian dimana mereka akan mengambil makanan mereka. Menu masakan hari ini adalah lasagna, susu hangat, dan apel. Sepertinya menggiurkan. “Haneul-ah! Kau tunggu saja di salah satu tempat duduk yang kosong!” Teriak Yuri karena suasana kantin sangat berisik saat itu. “Apakah itu tidak merepotkanmu?” Tanya Haneul sambil mengerutkan alisnya. Yuri hanya menggeleng dan mendorong Haneul keluar dari barisan. Haneul lalu melirik Yuri yang sedang sibuk mengantri lalu pergi mencari tempat duduk yang kosong.

Haneul duduk disana, setelah beberapa lama menunggu, Yuri pun membawa dua nampan berisi makanan. “Huwaa! Sepertinya enak!” Tanggap Haneul dengan gembira. Yuri tertawa dengan gembira dan memakan makanan yang diambilnya.

Luhan menaruh nampan berisi makanannya di tempat EXO dan Daehyun—sepupunya—duduk. “Oy Luhan!” Sapa Xiumin, namja dengan kulit putih. “Yo, Baozi.” Sahut Luhan dengan tersenyum. “Ada apa denganmu, hyung? Kau tidak seperti biasanya.” Tanya Daehyun dengan mengkerutkan alisnya. Luhan hanya menggeleng dan menyantap makanan yang ia dapat dari kantin.

EXO hanya menatap Luhan dengan tatapannya yang bingung lalu kembali tertawa bersama-sama, dan Luhan akan sesekali melirik Haneul yang sedang bercanda ria dengan Yuri.

*Yuri.. Mengapa kau tidak memberi tahuku…? Dan Haneul—Aish!* Kata Luhan didalam hatinya sembari mengacak-acak rambutnya.

TBC

Boring sangat._. membosankaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnn. Makasih udah mau baca XD

19 pemikiran pada “Luhan, The Cold Hearted Boy (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan ke Vevii HunHan Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s