MY BELOVED BODYGUARD (1/2)

MY BELOVED BODYGUARD

Author :                      K.K.J.

Main Cast:                 Park Chanyeol

Kim Hana (YOU)

Support Cast:          Lee Hyuk Jae

Genre:                          Romance

Schoollife

Length :                      Drabble (1/2)

Rating:                         PG-13

Summary :                 Sebenernya ini terinspirasi dari komik dan ada beberapa kata-kata dan scene yang yang memang diambil dari komik itu. Bagi yang sudah membaca komiknya dan merasa ff ini mirip-mirip dengan komik itu, nah dari awal author bilangin ini emang terinspirasi dari sana. Otte?

Gomawo~

Taukah kau jika didunia ini bukan hanya ada dirimu?

Taukah kau jika didunia ini ada yang mencintaimu?

Taukah kau jika didunia ini ada juga yang membencimu?

Untuk mereka yang mencintaimu, mereka bisa membuatmu hangat

Namun bagaimana untuk mereka yang membencimu?

Apakah mereka juga bisa membuatmu mencair?

**

“aku membencimu!”

“aku lebih membencimu!”

gumamanku—makianku— tidak sebanding dengan suara namja gendut dihadapanku, ditambah dengan caci maki dan suara-suara dari mereka yang berada di belakang—mengelilingiku. Suatu yang pasti. Mereka membenciku. Membuat suaraku menjadi hanya seperti sebuah bisikan.

Kulihat seorang namja pendek memasuki kelas dengan membawa wadah bening dan besar. Dapat terlihat isi dari wadah tersebut, air berwarna kuning. Namja pendek itu berjalan menghampiriku dengan seringai jelek diwajahnya. Sungguh aku tau apa yang akan ia lakukan. Namun aku tidak bisa menghindar, tangan dan kakiku terikat kuat pada kursiku.

Yang dapat aku lakukan hanyalah menutup mata dan berharap ada seseorang namja tampan yang sering muncul dikomik remaja yang sering aku baca untuk mengeluarkanku dari sini atau tokoh imaginasi yang sering dibicarakan anak-anak 3 tahun dalam celotehannya dimalam sebelum tidur kepada ibunya, Ibu peri. Yang dapat melenyapkan mereka secepat aku mengedipkan kedua mataku. Namun kenyataannya adalah, air itu tetap jatuh ke tubuhku. Suara tawa orang-orang diruangan ini menggema bersamaan dengan bau urea yang dengan cepat menguar di ruangan ini. Membuatku muak.

Belum puas sampai disitu. Seorang yeoja berjalan ketengah —yah. Semua orang mengelilingiku, memperhatikanku dengan tatapan jijik dan benci— yeoja itu mendekat kearah namja gendut yang masih setia berada didepanku. Menarik kepala namja itu lantas dengan santainya mereka berciuman panas di depanku dan tentu saja depan semua orang. Aku menolehkan kepalaku ke berbagai arah. Tidak sudi melihat adegan menjijikan itu didepanku.

“mau bertaruh denganku?” selesai berciuman yeoja itu bersuara sambil mengalungkan kedua tangannya di leher si namja

“apa?” yeoja itu mendekatkan bibirnya ke telinga namja itu, lalu berbisik.

“cium dia. Kita lihat, apakah kau bisa membuatnya membalas ciumanmu atau tidak. Jika ia membalas ciumanmu, aku berjanji kita akan bercinta nanti malam. Namun jika tidak, kau harus membelikanku mobil sport keluaran terbaru. Otte?” yeoja itu melirik tidak suka padaku lalu tersenyum licik.

“choa” jawab namja itu lantang, mengecup bibir yeoja itu sekilas kemudian berjalan menghampiriku. aku hanya menatapnya datar. Aku mau tidak mau harus siap dengan apa yang akan ia lakukan. Namja itu menghentikan langkahnya dan berjogkok mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Wajahnya ia dekatkan pada wajahku, namun sebelum bibirnya menempel di bibirku, lantas ia berdiri dan berlari keluar ruangan sambil menutup mulutnya. Aku hanya bisa tersenyum mengejek. Baru beberapa detik didekatku saja ia sudah mual. Apalagi ia menjadi aku.

Namja lain menghampiriku. Ia mengelus wajahku dan mengusap bibirku. Aku membuang muka. “kau menjijikan!” ucapku tajam. “kau lebih menjijikan” jawabnya. Tamparan keras dengan telak mendarat dipipiku. membuat indra penciumanku menangkap bau anyir darah. Shit! bibirku robek lagi.

Tangannya tidak tinggal diam. Membuka satu persatu kancing kemeja seragamku sambil menyeringai mesum. Aku menggeleng keras. Berusaha menolak perlakuannya. Namun seperti iblis ia tidak mengindahkanku. Semua namja diruangan ini bersorak, meminta namja didepanku ini untuk bergerak cepat. Sampai pada akhirnya dikancing terakhir. Ia merobeknya lalu membuangnya kesembarang arah. Aku tertunduk. Semua bergumam jijik. Seluruh tubuhku dipenuhi dengan luka memar dan bercak merah. Hasil dari pembully-an yang sebenarnya itu hasil dari karya mereka sendiri.

BUGH!

Namja itu terbaring dilantai dengan darah dibibirnya. Aku terkejut. Sebelum aku dapat melihat siapa yang meninju namja brengsek itu. Sebuah jas hitam tersampir di wajah dan tubuh bagian depanku. Aku jadi tidak bisa melihat apa-apa. Aku ingin menyingkirkan ini, tapi tidak bisa! Aku menggeram frustasi. Dan yang dapat aku dengar hanyalah suara pukulan, hantaman benda, dan tendangan.

“keluar! Atau kalian ingin aku bertindak lebih kasar dari ini? Cepat keluar!” teriakan dari seseoang yang aku yakini sebagai ‘penyelamatku’ mampu membuat ruangan yang awalnya hening menjadi riuh karena mereka berebut ingin segera keluar dari ruangan ini.

Setelah beberapa saat, ruangan ini hening kembali.

Sampai akhirnya ada pergerakan dari jas yang menutupi wajahku. Jas itu tidak lagi menutupi wajahku, tapi tetap menutupi tubuh bagian depanku. Ternyata penyelamatku adalah seorang pria. Ia tinggi dan…tampan. Namun sorot matanya begitu dingin. Dengan cepat ia mulai membuka ikatan tangan dan kakiku. Aku hanya bisa diam, aku orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaanku dengan baik. Sudah terlalu banyak aku menangis, dan juga sudah terlalu lama aku lupa caranya tersenyum. Aku lupa bagaimana caranya meminta maaf dan berterima kasih.

“kenapa kau tidak melawan?” tanyanya tiba-tiba.

“katakan padaku bagaimana caranya kau melawan dengan tangan dan kaki dengan keadaan terikat?” bukannya menjawab aku malah bertanya balik.

“kau bisa menggigit tangan orang yang merobek bajumu, bodoh!”  jawabnya kesal karena kesusahan membuka ikatan kakiku. Tanganku sampai terlihat memerah dan ada bekas ikatan dikedua kakiku yang sangat kontras dengan kulitku.

“mereka ada banyak dan aku hanya sendiri, jika ia aku gigit, maka yang lain akan menghakimiku dan akan lebih banyak luka yang akan ku dapat!” aku sedikit berteriak didepan wajahnya. Ia terdiam, mungkin dalam hatinya ia mengiyakan apa yang barusan aku katakan.

“pakai jas itu!” ucapnya

“aku tidak butuh!”

“yasudah! Sini kembalikan!” tangannya meraih jas yang ada di tubuhku. Aku mundur selangkah. Aku sebenarnya membutuhkan jas ini untuk menutupi tubuhku. Bagaimanapun juga aku yeoja dan dia namja.  Namun aku terlalu angkuh untuk mengatakan jika aku membutuhkan benda ini.

“jas ini hanya akan menutupi bagian depanku, lalu bagaimana dengan tubuh bagian belakangku?” bisikku.

Kukira dia tidak mendengar bisikanku, namun kulihat dia menghela nafas, dan mulai membuka hoodie coklat yang tengah ia pakai. Dan kembali ia hanya melemparkannya, membuat benda itu tersampir menutupi wajahku. Aku mengambilnya dan ingin memakainya, tapi aku berhenti saat tersadar ia masih menghadap ke arahku. Dia hanya menatap heran kearahku.

“apa?” tanyanya.

“kau ingin aku mengganti ini didepanmu hah? Berbaliklah” dia seakan tersadar. Mengusap tangkuknya kikuk dan mulai berbalik memunggungiku.

Aku dengan cepat memakai hoodienya. Rasanya hangat. Aku senang memakainya, tanpa kusadari senyum kecil hadir diwajahku.

“sudah.” Ia kembali berbalik dan terkekeh kecil melihatku. “yayaya. Aku tau ini terlalu besar untukku, membuatku seperti tenggelam” Ucapku malas. Ia  tidak menjawab dan melangkah ingin pergi meninggalkanku, namun langkahnya tertahan karena aku menarik ujung kemejanya.

“tubuhku bau urin” ucapku.

“lalu?” tanyanya.

“ap-apa tidak sebaiknya kau tidak meminjamkan hoodie ini padaku?” aku memainkan ujung hoodie milik namja itu sambil menundukkan wajahku.

“setidaknya cuci itu sebagai ucapan terima kasihmu” ucapnya datar lalu detik berikutnya ia menghilang di balik pintu ruangan yang terbuka lebar. Seperti ada yang aneh, otakku terus berfikir keras. Menit berikutnya aku baru tersadar..

Aku menggigil

~!~!~!~!~!

Pagi ini aku berjalan di koridor sekolah seperti biasa. Sepanjang koridor aku menjadi buah bibir oleh mereka. Aku lebih memilih untuk tidak memperdulikan mereka. Aku tetap berjalan tertunduk berharap tidak ada yang terjadi sampai aku tiba dikelas.

“Kim Hana! Berhenti disitu!” sebuah teriakan menginterupsi langkahku. Baru saja aku berharap dan berdoa, semua doaku ternyata  tidak terkabulkan.

“hey bagaimana acara kemarin? Menyenangkan bukan? Tampaknya kemarin adalah hari terindah untukmu, bukankah begitu, eum? Sayang aku tidak bisa hadir. Padahal seharusnya kita bisa bersenang-senang kemarin. Iya kan?”

Dia sunbae ku —namanya Lee Hyuk Jae— mencolek daguku, berusaha menggodaku dengan berkata lembut, padahal aku tau bahwa dia  sebentar lagi akan mulai membullyku.

“sunbae, aku harus kekelas.” Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya. Dua orang —anak buah Lee Hyuk Jae tampak menunduk sambil tersenyum menertawakan bosnya. Membuat Lee Hyuk Jae geram karena merasa harga dirinya diinjak oleh yeoja yang ada dihadapannya.

Langkah Hana terhenti saat Hyuk Jae menghadang jalannya dan malah mencengkram lengannya dan memojokkannya didinding membuat sebuah suara gaduh saat tulang belakang Hana membentur tembok. Sekuat tenaga yeoja itu mencoba berontak untuk melepaskan diri, namun nihil tenaga Hyuk Jae jauh lebih kuat dari dirinya.

Seringai kepuasan Nampak terbentuk di bibir tebal Hyuk Jae. “awasi sekitar!” ucap Hyuk Jae, lebih ke perintah kepada kedua anak buahnya, keduanya segera berpencar mengawasi keadaan sekitar. “aman!” teriak salah satu dari mereka.

“hah! Mati kau Kim Hana!” ucap Hyuk Jae sarkatis.

Kedua bola mata Hana terbelalak saat dirasakannya bibir namja itu menyentuh bibirnya. Awalnya hanya menempel untuk kemudian menjadi kecupan-kecupan kecil. Merasa tidak mendapat respon dari lawannya, Hyuk Jae mulai mengulum bahkan menggigit bibir Hana. Membuat Hana tersadar dari keterkejutannya sehingga mulai mendorong dan memukul dada Hyuk Jae.

Tubuh Hana mulai menggigil, matanya mulai menitikan air mata. Yang perlu ia lakukan adalah membuat semua cepat berakhir dan melupakan semuanya. Ya benar. Itu benar!

Hana mulai membalas perlakuan Hyuk Jae. Mulai dari mengecup, lalu mengulum bibir tebal yang berada diatas bibirnya. Meskipun ia sama sekali tidak menikmatinya, namun ia tetap melakukannya.  Ini dilakukan semata-mata membuat Hyuk Jae puas lalu pergi bersama kedua bocah  ingusan itu meninggalkannya.

Diluar dugaan Hyuk Jae semakin menyukainya. Berbanding terbalik dengan perkiraan Hana. Tangan Hyuk Jae mulai berani untuk mengelus pinggang Hana dari luar seragamnya. Disaat itu tautan bibir mereka berpisah. Hana bingung dan mulai membuka matanya. Dan betapa terkejut dirinya saat maniknya mendapati tubuh yang belum lama ini pernah mengisi indra penglihatannya. Ia tau tubuh siapa itu.

Tubuh Hyuk Jae limbung seketika saat namja itu menghadiahi satu pukulan telak di pipi kirinya. Hyuk Jae mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar dan segera bangun untuk kemudian berniat memberi pukulan balasan untuk namja itu namun segera ditepis oleh namja itu. Perut Hyuk Jae menjadi target selanjutnya untuk dihadiahi pukulan oleh namja itu. Membuat tubuh Hyuk Jae melengkung menahan sakit.

Kedua anak buah Hyuk Jae datang  dan mulai menahan pergerakan dari namja itu dan Hyuk Jae menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendam. Hyuk Jae memukul dan menendang namja itu dengan membabi buta membuat darah dan luka di sekujur tubuh namja itu. Hana hanya bisa menjerit memohon Hyuk Jae untuk menghentikan semuanya, tubuhnya menggigil hebat. Kakinya tidak sanggup untuk sekedar berlari memberi perlindungan kepada namja itu.

Hyuk Jae tertawa puas disaat namja itu sudah tak berdaya. Cih! Hyuk Jae meludah disamping namja itu lalu berkata. “kau.. tidak sepatutnya melawanku. Arraso?” setelah berkata seperti itu Hyuk Jae kembali tertawa mengejek lalu memberi kode kepada kedua anak buahnya untuk pergi dari sana.

Hana merangkak mendekati tubuh namja itu lalu mengusap darah di pelipis namja itu. Hana menepuk-nepuk pipi namja itu karena namja itu tidak melakukan pergerakan sama sekali. Ia pingsan, pikir Hana.

“ya! Ireona!” Hana berteriak, ia mulai panic karena tubuh namja itu sama sekali tidak bergerak. Bagaimana jika ia mati? Tidak! Jangan! “aku mohon buka matamu. Jangan membuatku khawatir! Ya! Hoodie coklat!”

Tubuh itu bergerak perlahan dan mulai membuka matanya. “aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir” ucapnya lemah. Namja itu berucap pelan mungkin menahan sakit karena bibirnya robek.

“kau bilang baik-baik saja? Wajahmu babak belur dan kau tadi sempat tidak bergerak! Katakan! Apanya yang tidak perlu dikhawatirkan?”

“yang penting sekarang aku sudah sadar. Berhentilah menangisiku seperti aku akan mati!”

“kau bisa bangun?”

“aku rasa”

Hana membantu namja itu berdiri, Hana menaruh sebelah lengan namja itu untuk disampirkan dibahunya, namun namja itu kembali menarik lengannya, membuat Hana menggeram tertahan.

“sudahlah! Tidak perlu sungkan. Kau butuh bantuan. Jadi tidak usah berkeras kepala!”

“aku tidak mau membuat bajumu kotor dengan darahku.”

“tidak usah berlebihan!”

Hana kembali mengambil paksa lengan itu untuk disampirkan dibahunya dan akhirnya namja itu mengalah dan memilih untuk mengikuti perkataan yeoja disampingnya.

**

“apa dia tidak apa-apa eonnie?” Tanya Hana ke dokter UKS di sekolahnya, ia sering keluar masuk UKS itu semua karena Hana sering dibully, dan sudah pasti akhir dari pembullyan itu menyebabkan luka ditubuh Hana. Dan mau tidak mau ia harus sering keluar masuk ruang UKS dan ia jadi lebih dekat dengan dokter UKS disana, makanya ia bisa memanggil dokter tersebut dengan panggilan eonnie

“dia tidak apa-apa. Luka-lukanya sudah aku bersihkan dan aku tutup semua. Aku harap kau bisa untuk sering mengganti perbannya Hana.”

“ne~”

“geurom.. kalau begitu aku pergi dulu. Cepat sembuh ne~” Dara eonnie tersenyum kearah namja itu dan juga menepuk pelan bahuku sebelum melangkah pergi.

“kamsahamnida” ucap namja itu setelah Dara eonnie pergi menghilang dibalik pintu.

Hana duduk disamping ranjang. Dia berusaha untuk meredam tubuhnya yang menggigil. Ini aneh, biasanya ia akan menggigil disaat ia ketakutan dan.. gugup terhadap orang yang ia sukai.

Namun disaat seperti ini apa yang harus ia gugupkan? Bersebelahan dengan namja ini? Hah! Tidak mungkin. Memang siapa namja di depannya ini. Dia bukan siapa-siapa. Tidak mungkin kan jika menyukai namja ini.

“kau sudah sering diperlakukan mereka seperti itu?” tanyanya tiba-tiba.

“apa?”

“dibully seperti tadi dan seperti kemarin? Apa sudah sering kau mendapatkannya?” Hana hanya mengangguk pelan

“kenapa kau tidak melawan setiap mereka membully-mu? Kau tidak punya otak atau apa?”

“mwo apa kau bilang? Tentu aku punya otak! Tapi coba kau fikir! Mereka membullyku selalu bersama-sama sedangkan aku hanya sendiri. Aku lebih baik menerima daripada aku melawan, hidupku akan lebih tidak tenang dikemudian hari.”

“tapi dengan sikapmu yang hanya diam seperti ini. Mereka akan lebih semena-mena menginjakmu. Kau tahu?”

“aku tahu”

“lalu kenapa tidak mencoba mencoba untuk melawan mulai dari sekarang?”

“Aku tidak bisa menghadapi namja-namja itu. Rasanya seperti ingin menangis saat kau ingin memberontak, namun kau tidak punya kekuatan untuk melakukan itu.”

“aku selalu seperti ini, aku sering ditindas sejak kecil.. makanya aku memutuskan tidak akan melawan dan tidak akan menangis”

“tapi sekali-kali kau harus bisa bertindak. Kau harus bisa melawan kelemahanmu. Sekarang disini hanya aku yang bisa menolongmu, tapi rasanya aku tidak keberatan” namja itu berucap sombong sambil menaikkan bahunya. Namun entah kenapa dimata Hana ia sama sekali tidak terasa sombong atau angkuh.

“kau ingin hidup tenang, kan?”

“eh?” Hana terkejut dengan pertanyaan namja itu.

“ada caranya bisa hidup dengan tenang.” Ucapnya sambil menatapku

“ap-apa maksudmu?” tubuh Hana kembali menggigil saat tangan namja itu mulai menyentuh lembut punggung tangan Hana.

“kau boleh pilih, ditindas oleh para pengecut itu, atau Cuma ditindas olehku.”

“kau mencoba mempermainkanku? Pada akhirnya aku akan tetap ditindas!”

“kalau kau memilihku, maka aku akan melindungimu —lebih dari ini—  dari pengecut lainnya.”

“tenang saja, aku pandai menindas orang” Namja itu semakin mendekatkan wajahnya kearahku, aku pun mulai memundurkan kepalaku untuk menghindarinya.

“ternyata kau punya daya tarik untuk ditindas. Pantas mereka senang menindasmu. Kau cocok untuk ditindas”

“jika kau memilihku. Maka kau hanya boleh menangis dan mengeluarkan semua kelemahanmu hanya padaku. Hanya aku yang boleh melihat sisi lain dari dirimu.”

Hana mengira namja itu akan mencium bibirnya, ia sudah menutup matanya rapat-rapat. Namun setelah beberapa detik namja itu berucap, ia sama sekali tidak merasakan benda apapun dibibirnya, malah ia merasakan basah didaerah pelipisnya. Astaga! Namja itu mencium keningnya. Hana hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali. Dalam hidupnya tidak pernah ada yang mencium keningnya seperti namja ini, bahkan orangtuanya sendiri. wajar jika terkejut dan terenyuh dalam satu waktu.

Dari semua orang yang pernah menindasku.

Dialah yang paling berbahaya dan menakutkan!

 

**

 

aku sedang serius mengikuti pelajaran. Namun konsentrasiku buyar seketika saat ponselku bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Sebuah pesan tanpa nama masuk ke ponselku.

‘Tunggu aku sepulang sekolah.’

Hanya dengan sekali membaca aku sudah tau siapa orang yang dengan santainya mengirim pesan ditengah pelajaran seperti ini. aku sekarang sudah tau siapa nama namja itu. Dan juga dia sudah tau nomer teleponku. Itu karena dia ngotot meminta nomer teleponku dan ia juga ngotot agar aku memberikannya.

‘Tidak mau’

Kembali aku masukkan ponselku kesaku blazer. Beberapa menit kemudian ponselku kembali bergetar. Aku menggeram tertahan. Apa ia sedang tidak ada guru atau ia memang terlalu malas untuk belajar hingga ia harus menggangguku disaat seperti ini.

‘aku tidak mau tau. Aku sudah menjadi penindasmu! Suka tidak suka, mau tidak mau kau harus menurutiku! Tunggu aku digerbang sekolah nanti!’

Aku hanya mendengus kasar membaca pesannya. Aku tidak berniat membalas lagi pesannya. Terserah jika ia akan marah ataupun. Siapa peduli.

**

Seharusnya aku sudah sampai rumah saat ini, bahkan mungkin aku sedang makan dengan adik laki-lakiku jika saja kakiku tidak seperti ini. kakiku seperti dipaku di depan gerbang ini. padahal aku ingin pulang sekarang juga tapi entah kenapa yang kulakukan sekarang adalah menunggu namja itu keluar dari sekolah.

“kim hana!” aku membeku. Seseorang memanggilku. Apa yang selanjutnya akan terjadi? Apa mereka kembali ingin membullyku? Kemana namja itu? Katanya ia akan menjadi penindas tunggal dalam hidupku. Aku tidak mau sampai ditandas oleh orang lain lagi.

Kudengar suara langkah kaki semakin dekat kearahku. Kudengar juga gumaman dari orang itu. “kau harus membayar segalanya” sampai pada akhirnya tubuhku ditarik dan diputar oleh seseorang. Sehingga sekarang keningku berada di dada seseorang. Dapat kucium wangi maskulin menguar di indra penciumanku. Sebelah lengan mengalung dibahuku. Untuk sesaat aku merasakan perlindungan yang luar biasa.

“aku yang bayar. Kau butuh uang berapa? kau tinggal sebutkan. Dan tunggu dalam 24 jam uangku akan sampai dalam rekeningmu!” ucap namja yang memelukku. Itu suaranya. Itu suara penindasku! Dia benar-benar menepati janjinya. Tubuhku mulai menggigil. Ini aneh!

“tidak! Tidak perlu! Kau juga terluka karenaku. Jadi kita impas” Jawab Hyuk Jae. Cih! Dia berbaik 180 derajat dari yang tadi. Hyuk Jae segera pergi dari tempatnya diikuti dengan kedua anak buahnya.

“sudah kubilangkan. Kau harus melawan. Bagaimana jika aku tidak ada. Apa yang akan dilakukannya lagi padamu.” Ucapnya mendorongku dan memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya. Hey! Baru saja aku merasakan perlindungan. Sekarang apa? Dia malah mendorongku dari pelukannya. Cih!

“mana kutahu dia berniat untuk membalas dendam kepadaku. Lagipula kau kemana saja? Aku hampir gila menunggumu!”

“kalau kau diganggu seperti tadi lagi. Beritau aku! Aku akan segera berlari kearahmu, menolongmu!” Chanyeol—yah akhirnya kalian tau siapa nama namja itu—  tak mengindahkan kemarahan Hana dan malah berucap dingin pada Hana.

Hana berdeham untuk mengurangi rasa debar dihatinya dan juga rasa menginggil ditubuhnya. Kata-katanya memang diucapkan tanpa nada lembut sama sekali. Tapi Hana merasa ada rasa khawatir terselip dari kata-kata yang keluar barusan.

“aku antar kau pulang.” Ucapnya sambil menarik tanganku. Pria ini kasar sekali, sungguh!

“tidak perlu.” Aku menepis tangannya.

“ikut denganku, atau kau tidak akan pernah aku tolong lagi.” Sial! Dia mengancamku. Aku tetap tidak bergeming.

“aku hitung sampai tiga. Hana..” Hana tetap berdiri ditempatnya sambil memainkan kuku jarinya. Ia bimbang antara harus mempertahankan egonya atau melepaskan namja penindas didepannya.

“dul.. masih tidak mau pergi?” namja itu naik ke motornya dan memakai helmnya, lalu kembali menoleh kearah Hana.

“set!” tepat saat itu juga Hana melangkah cepat menghampiri Chanyeol dan mengambil helm yang dipegang oleh Chanyeol. Tanpa disadari Hana, Chanyeol tersenyum kecil melihat tingkahnya.

**

“Sunbae, terima kasih sudah mengantarku.”

“aku bukan mengantarmu karena aku menyukaimu, malah sebaliknya. Aku mengantarkanmu karena aku benci padamu. Aku tidak ingin mainanku disentuh orang lain! Hanya aku yang boleh menindasmu. Arra?”

Hana memutar bola matanya malas. Bagaimana mungkin dia mengantarku kalau dia membenciku, batinnya.

“sunbae.. jas dan hoodiemu belum selesai aku cuci. Mungkin besok pagi-pagi sekali aku akan memberikannya padamu disekolah.”

“kalau begitu, aku tunggu kau diruang ekstrakulikuler.” Chanyeol kembali memakai helmnya dan menyalakan motornya. Setelah berucap ia langsung menancap gas dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

“orang itu. Tidak bisakah pamit padaku. Meskipun aku lebih muda darinya. Seharusnya dia bisa juga sopan padaku.” Cibirnya dan mulai melangkah masuk kedalam rumah.

**

Hana melangkah pelan pagi ini. koridor sekolah masih lengang. Hana sengaja datang lebih pagi hari ini. ia berniat untuk mengembalikan Jas dan Hoodie yang sudah Chanyeol pinjamkan padanya tempo hari di ruang ekstrakulikuler.

Hana membuka ruang ekstrakulikuler dan betapa terkejutnya ia saat dihadapannya sudah ada Chanyeol yang duduk di pinggiran meja tengah terpejam dengan headset biru tersampir ditelinganya. Dia sangat hangat dengan mata terpejam seperti itu.

“sun-sunbae” panggil Hana.

Chanyeol membuka matanya perlahan dan mulai tersenyum tipis saat matanya mulai focus melihat Hana sudah datang.

“kau sudah datang?” Tanya Chanyeol yang hanya dibalas anggukan oleh Hana.

“a-ah jas dan hoodiemu aku taruh disini saja ya?” Hana mulai membungkuk untuk menaruh tas yang berisi jas dan hoodie milik Chanyeol  untuk di taruh di lantai dibelakang pintu

“tidak boleh!” suara berat Chanyeol membuat Hana kembali menegapkan kembali tubuhnya dan membawa tas itu kembali di genggamannya.

“barang yang sudah kau pinjam, harus kau kembaikan pada orangnya, jangan asal kau kembalikan, namun tidak sampai pada tangan si pemilik.” Chanyeol mengetuk meja yang didudukinya dengan telunjuk kanannya. “bawakan sampai kesini.”

Hana sempat ragu awalnya, namun perlahan ia mulai melangkahkan kaknya dan menaruh tas itu tepat ditempat yang ditunjuk telunjuk Chanyeol tadi.

“pakaikan jasku!”

“ap-apa? Pakai sendiri! Kau punya tangan, kan?”

“Aku tidak meminta tolong, tapi aku menyuruhmu, Kim Hana!”

“ka-kalau begitu menghadaplah kebelakang.” Ucap Hana gugup.

“tidak mau!”

“tunggu! Kau tidak bisa untuk memakaikan jasku dengan jarak segitu.” Chanyeol mengapit kedua kaki Hana dengan kedua kaki jenjangnya dan menarik Hana mendekat.

Jarak antara mereka berdua kini sangatlah dekat. Bahkan sudah menempel satu sama lain, hanya dipisahkan dengan Jas milik Chanyeol yang masih dipegang Hana. Hana mulai mengulurkan kedua tangannya melewati leher Chanyeol dan melebarkan jasnya.

“masukan tanganmu” titah Hana kepada Chanyeol yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Chanyeol

“kenapa hari ini kau dikuncir? Aku tidak suka rambutmu yang seperti ini. aku lebih suka rambutmu yang terurai.” Bukannya mengikuti yang diucapkan Hana, Chanyeol malah sengaja mengalihkan pembicaraan , dia ingin menggoda Hana dengan menyentuhkan kedua kening mereka dan menghembuskan nafasnya didepan pipi Hana membuat Hana harus menutup matanya karena terpaan nafas Chanyeol dipipinya.

“kau menerimanya, kan?” Tanya Chanyeol. “kau setuju jika hanya aku yang menjadi penindasmu?” Hana membuka matanya dan memandang mata Chanyeol dalam satu garis lurus.

“ya. Aku lebih memilih hanya satu yang menjadi penindasku. Aku tidak suka ditindas oleh mereka. Sudah cukup aku ditindas oleh mereka semua!” ucapnya lirih.

Chanyeol tersenyum tipis sambil membuka ikatan rambut Hana membuat rambut Hana terurai panjang. Chanyeol mulai merapihkan rambut Hana dengan jari-jarinya. Hana hanya bisa menatap Chanyeol. Ia tidak bisa menolak ataupun menerima perlakuan Chanyeol. Hatinya bergejolak, degup jantungnya mulai tidak karuan. Ia gemetar.

“cepat pakai jasmu, sunbae!”

“Kim Hana! Aku punya satu perintah untukmu.”

“apa?”

“mari kita berciuman”

Jika yang lain bisa membuatmu merasa hangat,

Dia juga bisa membuat mencair hanya dalam satu detik.

Orang yang membencimu. Orang itu pulalah yang membuatmu mencair

Kim Hana.

18 pemikiran pada “MY BELOVED BODYGUARD (1/2)

  1. Sumpah,, ini keren…
    apalagi castnya chanyeol. kekeke~
    cuma 1 yg ngg aku ngerti, knpa hana nya di bully ya? krna aku emg ngg pernah bca komik jadi ngg tau deh,,
    tpi d tnggu loh next story nya, ^^

  2. Aku pernah baca komiknya. My Beloved Bodyguard juga kan judulnya. Ceweknya Komachi , cowoknya Suwabe klo gak salah ^^

  3. aq baca ff ne dah lma bgt tp bru kemaren buat blog jdi bru bsa comen
    please donk part2 nya kapan ksih kepastian jgn PHPin aq wkakakakak
    ditinggu lho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s