Ignorance (Chapter 1)

Picture2

 

Author : kimjongra (@chakkai21)

Genre : romance, family, friendship

Length : chaptered

Rating : PG-13

Cast : Park Chanyeol, Im Yoonji (OC), Im Yoona, Byun Baekhyun

Poster by : NadiaIzza @GreatNadiaIzza

Note : FF ini udah pernah di publish di wp pribadi author à kimjongra.wordpress.com , tapi dengan sedikit perubahan karena banyak typo di mana-mana, haha. Oke, walopun ini ff ancur banget, tapi kalo sudi baca silahkan. And don’t forget to leave your comment :3 Don’t be silent reader and plagiary.

Apakah itu benar-benar akan menjadi yang terakhir?

_____

Seorang yeoja berambut lurus sebahu tampak memanyunkan bibir setelah menerima sebuah pesan singkat. Mianhae Yoon Ji-ya, Baekhyun membutuhkan bantuanku, jadi mungkin kau harus menunggu lebih lama, hehe.

“Sialan kau, Park Chanyeol! Menyuruhku menunggu di tempat sepi seperti ini?! Aish~ jinjja! Apa tidak ada tempat yang lebih layak?” yeoja yang ternyata bernama Yoon Ji itu menghentakkan kakinya. Tapi kemudian ia bergidik ngeri setelah matanya melihat sekeliling. Tempat itu sedikit gelap karena tidak ada cahaya lampu yang meneranginya, hanya ada cahaya bulan dan tidak banyak bintang yang terlihat. Juga sangat sepi. Bahkan ia rasa tidak ada seorangpun selain dirinya.

Kau benar-benar tidak ingat hari apa ini?  Ia memasang tampang sedih.

Grep!

Tanpa ia duga, sepasang tangan kekar tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Yoon Ji terkejut dan reflek memberontak. Ia berusaha melepaskan tangan itu dari dirinya. Tapi ternyata pemilik tangan kekar itu tak sendiri. Seseorang yang lain muncul di hadapannya. Seorang namja asing berbadan besar dan bertampang preman itu menatapnya tajam.

“Kau… Im Yoon Ji?”

Yoon Ji tak menjawab, hanya menatap takut pada namja itu. Namja itu tersenyum sinis seolah mengetahui jawabannya adalah ‘iya’.

“jangan macam-macam kalau kau masih ingin hidup!” gertaknya ketika Yoon Ji semakin memberontak.

Namja itu lalu menutup kedua mata Yoon Ji dengan kain penutup. Ia juga mengikat kedua tangan Yoon Ji yang tidak bisa diam itu. Yoon Ji semakin ketakutan dan tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Karena menurutnya percuma saja melawan dua namja berbadan kekar sedang ia hanya sendiri.

Apa yang akan mereka lakukan padaku?

Akhirnya ia hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati ketika dua namja itu meyeretnya masuk ke dalam mobil.

Chanyeol-ah… neo eodisseo?

Yeoja itu merasakan kain yang menutupi matanya mulai basah. Kepalanya dipenuhi dengan hal-hal mengerikan yang biasa ia lihat dalam tayangan berita kriminal. Tapi kemudian ia menggeleng kuat, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang hanya akan membuatnya semakin panik. Mati-matian ia menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya kuat.

Apa yang akan terjadi padaku? Bagaimana mereka bisa mengetahui namaku? Siapa mereka? Apakah mereka suruhan? Tapi siapa? Aku rasa aku tidak memiliki urusan dengan siapapun. Oh, jebal~ seseorang, tolonglah aku. Chanyeol-ah…

Tiba-tiba suara dering ponsel membuyarkan pikirannya. Tidak lama setelah itu terdengar suara bariton seorang namja, “Yeoboseyo?…Ne, aku berhasil membawanya. Tunggulah sebentar lagi, kami akan segera sampai.”

Benar, mereka adalah suruhan. Tapi siapa? Eomeo~ seharusnya aku menuruti kata eonni untuk tidak kelur malam sendirian! Eonni, mianhae…

Tidak sampai sepuluh menit setelah itu, laju kencang mobil pun terhenti. Yoon Ji merasakan detak jantungnya semakin cepat. Entah, mungkin membayangkan apa yang akanterjadi padanya setelah ini. Apalagi setelah terdengar suara pintu mobil bagian belakang dibuka dan kemudian ia merasakan cengkeraman kuat yang menariknya secara paksa untuk turun dari mobil.

“Palli!” seseorang dari mereka menyeretnya kasar. Mau tidak mau Yoon Ji menurutinya meski ia tidak bisa menepis rasa takutnya. Dalam hati ia masih menyimpan tanda tanya besar atas kejadian ini.

Setelah beberapa lama melangkah, namja yang menyeretnya itu berhenti membuatnya ikut menghentikan langkahnya.

“Bos, kami berhasil membawanya, sesuai perintah Anda”.

Bos? Nuguya? Yoon  Ji semakin ketakutan. Ia meronta  agar cengkeraman yang membuat lengannya sakit itu terlepas. Kemudian terdengar suara sekali tepukan, dan cengkeraman kuat pada lengannya itu dilepaskan. Lantas suara langkah kaki kedua namja tersebut terdengar menjauh.

Suasana mendadak sunyi, membuat kesan mengerikan semakin menguat. Ditambah lagi mata Yoon Ji  yang masih tertutup dan kedua tangannya yang masih terikat membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi ia dapat merasakan orang yang ada di hadapannyayang mungkin dua namja tadi sebut ‘bos’ itu kini tengah mendekat ke arahnya.

“Neo… nuguya?” dengan suara sedikit bergetar ia memberanikan diri untuk bersuara. Orang itu tidak menjawab dan malah berjalan ke belakangnya.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Yoon Ji berusaha menutupi ketakutannya.

Masih tak menapat jawaban apapun hingga tiba-tiba kain yang menutupi matanya itu terlepas dan … Yoon Ji ternganga melihat apa yang ada di hadapannya. Tempat ia berada sekarang ternyata bukanlah tempat yang asing baginya. Tapi malam ini terlihat sedikit berbeda. Sebuah meja bundar dengan hidangan-hidangan yang menggoda serta lilin-lilin hias yang sumbunya menyala di tengah-tengah meja.

Belum selesai otaknya mencerna apa yang terjadi, ia kembali dikejutkan oleh sentuhan di kedua bahunya. Tiba-tiba sebuah kepala dengan rambut cokelatnyayang lagi-lagi tidak asing baginya muncul dari samping kirinya. “Saengil chukka!” katanya dengan senyum innocent-nya itu. Yoon Ji melotot setelah menyadari apa yang terjadi.

“Ya! Sialan kau, Park Chanyeol! Lepaskan ikatan tanganku!” Ia menghentak-hentakkan kakinya. Merasa sebal karena ia berhasil dikerjai oleh kawannya itu.

“Hahaha, tidak akan! Nanti kau bisa membunuhku. Aku tak ingin mati muda”, seseorang yang ternyata adalah Park Chanyeol itu tertawa senang.

Yoon Ji menatap dendam namja menyebalkan itu. Awas kau, Park Chanyeol! Sepertinya kau benar-benar ingin mati muda.

Tapi di sisi lain ia merasa lega karena apa yang ia beyangkan tidak benar-benar terjadi. Dan juga … ternyata Chanyeol masih ingat hari apa sekarang. Tiba-tiba ia merasa terharu melihat apa yang telah dipersiapkan temannya itu. Tapi … tunggu dulu! Sepertinya Yoon Ji merasa masih ada yang kurang.

“Ya! Di mana Baekhyun?”

Chanyeol menatap Yoon Ji, tampak sedang berpikir. Baru kemudian ia menjawab, “Eumm … dia minta maaf karena tidak bisa ikut bergabung”.

“Waeyo?” Yoon Ji mengerutkan kening.

Chanyeol mengangkat bahu kemudian menjawab, “Entahlah, dia tidak mengatakan apapun”. Ia menangkap ekspresi kecewa Yoon Ji setelah mendengar jawabannya. “Ah~ gwaenchanha. Walaupun dia tidak ikut bergabung di perayaan kecil-kecilan ini, tapi ia sudah ikut mempersiapkan semuanya”, katanya lagi sambil merangkul yeoja yang tingginya hanya sedagunya itu.

“Jinjja?” Yoon Ji memastikan. Chanyeol mengangguk mantap sebagai jawaban.

“Ah~ tidakkah kau merasa lapar melihat mereka semua? Bwayo! Itu kue kesukaaanmu” Chanyeol langsung menggiring Yoon Ji menuju meja bundar itu. Ia kemudian mempersilahkan yeoja itu duduk di salah satu kursi dan ia sendiri duduk di kursi lain yang berhadapan.

“Neo ara? Ini semua buatanku sendiri. Aku sudah mati-matian berlatih membuatnya, jadi kau harus menghabiskan semuanya”

Yoon Ji melotot tak percaya dengan pernyataan namja di hadapannya itu barusan. Seorang Park Chanyeol? Membuat ini semua?

“Maldo andwae”, tanpa sadar Yoon Ji menyuarakan pikirannya.

“Hah, aku tahu kau tidak akan percaya” Chanyeol memutar bola matanya. “Sudahlah terserah saja, yang penting kau harus memakannya”

Yoon Ji menatap curiga pada makanan-makanan yang terhampar di hadapannya. “Kau memberi racun pada makanan-makanan itu?”

“Oh?” Chanyeol membulatkan metanya berpura-pura kaget, “bagaimana kau mengetahuinya?”

“Sialan kau!” Yoon Ji menendang kaki Chanyeol. Namja itu malah terkekeh.

“Pokoknya kau harus memakannya. Aku sudah berjuang mati-matian untuk membuatnya”

“Baboya! Bagaimana aku bisa memakannya kalau kedua tanganku terikat seperti ini?”

Chanyeol tersenyum misterius mendengar protes yeoja yang ia ‘culik’ itu. Yoon Ji menyipitkan mata, menatap namja itu dengan tatapan curiga. Eomeo~ Jangan bilang dia akan menyuruhku makan seperti kucing, batinnya.

Ternyata dugaannya salah! Namja itu sama sekali tidak menyuruhnya melakukan hel seperti itu, ia malah menyendok chocolate caramel cake dan menyodorkannya ke mulut Yoon Ji.

“Masih ada tanganku, kan?” Chanyeol menatapnya tepat di manik matanya dengan tatapan yang Yoon Ji sendiri tidak mengerti apa artinya. Tatapan yang mampu membuatnya terpaku beberapa saat. Entah kenapa kesan innocent pada tatapan namja itu tiba-tiba menghilang. Ia merasakan desiran lembut di hatinya. Tapi sebelum ia terhanyut dalam tatapan itu lebih dalam, buru-buru ia menyadarkan dirinya.

Andwae! Andwae! Namja menyebalkan ini pasti mempunyai rencana lagi. Kau sangat mengenalnya kan, Im Yoon Ji?

Ragu-ragu ia memajukan kepalanya untuk melahap cake yang disodorkan Chanyeol, melumatnya hingga paduan karamel dan coklat meleleh lembut di lidahnya. Delicious. Hampir tidak bisa dipercaya kalau benar-benar dia yang membuatnya sendiri.

“Eottae?”, tanya Chanyeol meminta pendapat.

“Eumm… Sebenarnya aku benci mengakuinya. Tapi ini memang enak”, jawab Yoon Ji setelah menelan cake yang masih di mulutnya.

Chanyeol tersenyum bangga mendengar jawaban Yoon Ji. Ia kemudian berganti menyendokkan chocovanilla ice cream kesukaan yeoja di hadapannya itu. “Kau juga harus mencoba yang ini”. Kali ini Yoon Ji menurut tanpa ragu.

__________

“Ah~ jinjjayo, aku kenyang sekali.” Yoon Ji menepuk-nepuk perutnya. Ia duduk beralaskan rumput halaman belakang rumah namja di sampingnya yang tengah sibuk menyetel senar gitarnya.

“Seharusnya kau bersyukur karena aku sudah membuatkan makanan-makanan kesukaanmu”, namja itu tertawa geli tanpa mengalihkan pandangannya dari gitarnya. “Dan jangan lupa, aku sudah melepaskan ikatan tanganmu” baru ia menoleh pada yeoja di sampingnya.

Yeoja itu mendengus. “Geurae. Tapi setidaknya jangan samakan porsiku dengan porsimu, dasar babi!”

Namja itu hanya memamerkan senyumnya yang menyebalkan, tapi kali ini matanya sudah kembali terfokus pada gitar kesayangannya.

Jari-jari panjang milik si namja jangkung itu mulai memetik senar-senar yang mengeluarkan nada berbeda-beda. Memainkan sebuah melodi yang akan menyapa lembut telinga yang mendengarkannya.

Yoon Ji menatap namja itu. Ekspresi sebalnya sirna seketika seiring suara berat nan lembut milik si namja mengalun menyejukkan hatinya.

She’s my baby

Saehayan geuson geuttae yeah

Nuga beorin chocolate

You’re walkin’ into my door

Yoon Ji menatapnya lekat, seolah terbius oleh aura yang dipancarkan oleh namja tersebut. Chanyeol-ah~ aku harap kau tak pernah tahu… kalau aku selalu suka melihatmu seperti ini, kalau aku selalu suka mendengarkanmu bernyanyi. Entah kenapa aku seperti melihat dirimu yang lain ketika kau membawakan lagu-lagu ciptaanmu.

Chinguga~ anya

Namja igeo shipeo, neo egen

Eotteon sarami~ anya

Ojik danhan saram neol jikyeojul

Suara ini, suara yang selalu membuatku kesal ketika ia berbicara dengan wajah innocent-nya itu. Tapi, suara ini juga yang selalu bisa membuat irama detak jantungku tak karuan ketika ia membawakan lagu-lagu ciptaannya. Aku tak pernah peduli lagu itu ia tujukan untuk gadis lain. Ya, aku hanya pendengar, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin terus mendengar suara ini. Itu saja.

Mwol cheok hajima

Gugael deuro nareul bwa

Nunpil hajima

Jolde bogi mothae neol

Tanpa sepengetahuan namja itu, Yoon Ji meneteskan air matanya. Bukan karena terharu, tapi karena bersedih. Bersedih atas kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa mungkin ini adalah lagu terakhir yang akan ia dengar dari mulut namja itu.

She’s my baby

Saehayan geuson geuttae yeah

Chanyeol menutup lagunya dengan chord G. Yoon Ji buru-buru menghapus air matanya agar namja itu tidak mengetahuinya. Ketika Chanyeol menoleh padanya, ia berpura-pura memasang tampang sebal untuk menutupi perasaannya.

“Ya!Kenapa kau malah menyanyikan lagu seperti itu? Kau tidak menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ untukku, hah?” Yoon Ji menggembungkan kedua pipinya.

Namja bermarga Park itu menatapnya dalam. Lagi-lagi tepat mengenai manik matanya. Yoon Ji kembali merasakan desiran itu.

“Yoon Ji-ya…” tanpa diduga, Chanyeol menggenggem tangan Yoon Ji. Yeoja itu terkejut tetapi berusaha untuk tidak menampakkannya meski detak jantungnya semakin tak karuan.

“Aku memang tidak akan menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’. Tapi… lagu itu aku membuatnya untukmu”. Kali ini Yoon Ji tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Tidak cukup sampai situ, namja itu melanjutkan kalimatnya, “Mianhae, geunde… saranghae, Yoon Ji-ya”.

Deg! Bagai tersengat electric shock, jantungnya terpacu lebih cepat. Tapi tubuhnya seakan membeku. Ia hampir tak mempercayai pendengarannya. Yang ia lakukan hanyalah mematung menatap namja yang tengah menggenggam tangan kirinya. Yeoja itu masih terdiam untuk beberapa saat sampai ia menyadari sesuatu. Ya, sesuatu yang sangat penting dan hampir saja ia lupakan.

“Chanyeol-ah…”, ragu-ragu ia bersuara, “na… na…” Yoon Ji menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang hampir keluar. Tapi sepertinya ia hampir tidak bisa menahannya ketika ia beradu pandang dengan namja berambut cepak itu. Yoon Ji akhirnya menunduk agar Chanyeol tidak melihatnya.Ia menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan suara lirih, “nado… saranghae”.

Kali ini giliran Chanyeol yang melotot tak percaya. Ia tampak tak bisa berkata-kata setelah Yoon Ji menyelesaikan ucapannya. Kalimat yang benar-benar di luar dugaannya. Yeoja di hadapannya itu tiba-tiba menutup mulut dengan tangan kanannya, kemudian ia menangkap guncangan kecil pada bahu yeoja itu. Chanyeol semakin bingung dengan reaksi Yoon Ji. Wae irae? A… ada apa dengannya?

Chanyeol menyentuh pelan bahu Yoon Ji. Masih dengan kebingungannya ia mencoba berbicara, “Yoon Ji-ya…”

Yoon Ji masih menundukkan kepala sambil tangan kanannya menutupi mulutnya.Guncangan pada bahunya semakin terlihat jelas. Sepertinya kali ini ia sudah tidak sanggup menahannya lagi.

“Bffh…” Benar saja, selanjutnya tawanya meledak membuat pemuda bernama Chanyeol itu melongo.

“Hahaha… Ah~ jinjjayo” Yoon Ji berusaha meredakan tawanya sambil mengelap sudut matanya yang basah akibat tawanya yang sedikit berlebihan.Ia lantas menoleh pada namja yang masih melongo di sampingnya dan menyunggingkan senyum menang.

“Baboya!Kau pikir aku lupa ini tanggal berapa, hah?” Yoon Ji menjulurkan lidahnya. Chanyeol masih belum merubah ekspresinya.

“Ya! Kita ini sudah berteman lama. Aku sudah hafal tabiat jelekmu itu, tuan Park”, ujarnya meledek. “Dan april mop kali ini aku tidak akan tertipu lagi”, lanjutnya sambil meninju pelan lengan Chanyeol.

Chanyeol berdecak lalu mendengus. Entah mungkin karena merasa kali ini ia yang berhasil dikerjai oleh yeoja yang sudah menjadi teman dekatnya sejak mereka masih duduk di bangku SMA itu. Yeoja yang biasanya menjadi korban kejahilannya itu. Tapi kali ini? Mungkin keadaan sedang berbalik.

Baby… naege banhae beorin naege wae irae…

Bunyi ringtone mengalun dari speaker ponsel milik Yoon Ji. Yeoja itu merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan gadgetnya itu. Buru-buru ia menjawab panggilan itu setelah melihat nama yang tertera di layar.

“Ne, eonni? … Eh? Jinjja? … Mianhae, eonni, tadi aku ketakutan sekali karena dua namja asing tiba-tiba muncul dan menculikku. Jadi aku tak mendengarnya” Yoon Ji melirik namja yang sedang melotot padanya.

“Haha… gwaenchanha, eonni. Mereka adalah suruhan Chan… mpffh…” Namja yang bersangkutan buru-buru membekap mulutnya.

“Ya!Kau ini hobi sekali mengadu!”Chanyeol menjitak kepala Yoon Ji sambil berujar pelan agar tak terdengar oleh orang di seberang telepon.Yoon Ji terkikik sambil melepaskan bekapan namja itu.Ia menjulurkan lidah sebelum kembali berbicara pada orang yang menelponnya.

“Ah, ne, ne gwaenchanha.Itu hanya ulah Chanyeol” Yoon Ji tak menggubris protes Chanyeol yang masih memelototinya. “Waeyo? … Nde?!” kali ini Yoon Ji menoleh pada Chanyeol setelah mendengar perintah dari suara di seberang.“Ah~ arasseo, aku segera pulang”, lanjutnya dengan tampang pasrah kemudian diputusnya panggilan itu.

“Waeyo?”, tanya Chanyeol penasaran melihat tampang Yoon Ji yang seperti itu.

“Neo ara? Eonniku sudah pulang dan dia memasakkan makanan spesial untukku”.

“Oh? Lalu kenapa kau memasang tampang seperti itu? Seharusnya kau senang karena…”

“Ne, seharusnya aku senang kalau saja kau tidak menjejalkan semua kue-kuemu itu padaku” Yoon ji langsung memotong kalimat Chanyeol. Namja berwajah innocent itu terkekeh.

”Arasseo, aku akan bertanggung jawab kalau begitu” Chanyeol tersenyum jahil membuat Yoon Ji mengerutkan kening tak mengerti. “Aku akan menggantikanmu makan malam dengan Yoona noona”, terangnya sambil menyikut-nyikut lengan Yoon Ji. Yeoja itu reflek mendaratkan jitakannya di kepala Chanyeol yang disambut suara mengaduh dari mulut si namja.

“Andwae!” Yoon Ji melotot galak padanya. “Sudah kubilang aku tidak akan sudi mempunyai kakak ipar sepertimu”.

“Ya! Aku juga tidak mau kalau kau menjadi adik iparku”, timpal Chanyeol sembari mengelus kepalanya yang menjadi korban kekerasan Yoon Ji. “Aish~ seandainya adik Yoona noona bukanlah dia…” Ia menggantungkan kalimatnya karena yeoja di hadapannya itu menatapnya dengan tatapan menantang.

“Sudahlah, eonni sudah menungguku di rumah. Aku pulang sekarang”.Yoon Ji bangkit dari duduknya kemudian Chanyeol menyusul. Yeoja bermarga Im itu terdiam sebentar menatap Chanyeol. Ia merasa tak ingin cepat beranjak dan menyudahi momen ini.

“Chanyeol-ah, gomawo… atas semuanya”.

“Eh? Oh, anio”. Namja itu terlihat sedikit kikuk dengan cara Yoon Ji mengucapkan ‘terimakasih’ yang tidak seperti biasanya itu.

“Emm… mau kuantar pulang?”

“Dwasseo, aku akan pulang sendiri”. Yoon Ji membalikkan badan dan melangkah menuju halaman depan rumah bercat hijau muda itu.

Chanyeol baru saja akan menyusulnya, tapi tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu sehingga tutbuhnya limbung dan terjatuh di atas gitar kesayangan yang dibawanya.

“MALDO ANDWAE~!”, teriaknya setelah menyadari keadaan gitarnya yang baru saja menanggung beban tubuhnya.

Sontak Yoon Ji berbalik setelah mendengar teriakan namja itu. Otaknya mencerna apa yang terjadi dengan namja yang kini tengah menatap sedih pada benda yang lebih tepat disebut kekasihnya itu. Detik berikutnya Yoon Ji tertawa geli sambil menghampiri namja tersebut.

“Hahaha, jinjjayo~ Bagaimana bisa seperti itu?”

Namja itu tidak menjawab pertanyaan Yoon Ji. Masih menatap gitar yang sudah patah itu. “Ah~ gwaenchanha. Lagipula mungkin aku tidak akan membutuhkannya sampai tujuh bulan ke depan”, katanya menghibur diri. Tapi tanpa ia sadari, kalimatnya itu membuat yeoja yang berdiri di hadapannya itu berubah ekspresi. Tatapannya sendu.

Apakah itu benar-benar akan menjadi yang terakhir?

“Eh? Waeyo?” Chayeol terheran setelah mendongakkan kepala dan mendapati Yoon Ji menatapnya dengan tatapan sedih. Yeoja berambut sebahu itu hanya menggeleng pelan tanpa merubah ekspresinya. Chanyeol yang menangkap ada sesuatu yang tidak enak buru-buru berdiri.

“Ah, bukankah eonnimu sudah menunggumu di rumah? Jangan membuatnya menunggu lama”, ujarnya mencoba mengalihkan suasana.

“Ya! Kau mengusirku?”

“Eh, bukan begitu. Yoona noona akan mengkhawatirkanmu kalau kau tak segera pulang. Lagipula ini sudah malam, kau ini yeoja…”

“Aratta, aku akan segera pulang. Gomawo”. Yoon Ji segera berbalik setelah berpamitan kembali. Ia melangkah keluar dari halaman rumah Chanyeol.

“Hati-hati di jalan! Kalau ada apa-apa hubungi aku, arachi?”. Yoon Ji hanya tersenyum kecil mendengar seruan Chanyeol tanpa menoleh. Tentu saja, karena ia tak ingin namja tiang listrik itu melihat bulir bening yang sudah mendesak keluar dari sudut matanya.

“Oh, dan… sampaikan salamku pada eonnimu yang cantik itu, ne!”. Kali ini ia tersenyum miris.

Sementara itu, sepeninggal Yoon Ji, Chanyeol yang masih mengawasinya dari kejauhan itu tersenyum geli. “Geurae. Sudah jelas kau menyukai Baekhyun, kenapa tadi aku bisa tertipu? Baboya!”. Namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Hah~” Ia menghela nafasnya sambil memandangi gitar yang sudah berubah dari bentuk asalnya yang ia pegang itu. “Aku tak mengerti, apa yang harus aku lakukan?”, katanya sambil menatap sedih benda yang ada di tangannya.

“Goodbye, love”

__________

Seorang namja bertubuh jangkung melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan pada kedua orang yang juga tengah melambai padanya sambil tersenyum.

“Ya, Chanyeol-ah! Jaga dirimu baik-baik di sana! Dan jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk kami ketika kau kembali, ne!”, seru salah seorang diantaranya.

Namja yang dipanggil ‘Chanyeol’ itu tertawa geli sambil mengacungkan jempol. Matanya kemudian teralih pada seseorang yang lain. Seorang yeoja yang sedari taditidak seperti biasanya hanya diam, tidak banyak berbicara. Bahkan ketika ia berpamitan untuk yang terakhir kalinya pun yeoja itu hanya tersenyum dengan senyuman yang tampak sedikit dipaksakan. Dan tatapannya… tatapan yang sama saat tempo hari, ketika ia tak sengaja merusak gitarnya sendiri.

Apakah dia sakit? Wajahnya terlihat sedikit pucat begitu, pikirnya.

Namun namja bernama Chanyeol itu akhirnya membalikkan badannya setelah seseorang menyerukan namanya, mengingatkannya bahwa pesawat ke Tokyo yang akan mereka naiki akan berangkat dua puluh menit lagi. Ia menyeret kedua kopernya dan berjalan di belakang seorang namja berumur lima puluhan tahun yang memanggilnya itu. Sesekali ia menoleh pada kedua teman dekatnya yang masih mengawasinya itu.

Jinjja, mereka terlihat serasi.

Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya seperti baru teringat sesuatu. Ia berbalik lagi menghadap kedua orang itu. Kemudian dari tempatnya berdiri ia berteriak, “Ya, Yoon Ji-ya! Jaga Yoona noona baik-baik, ne?”. Namja jangkung itu menunjukkan cengiran khasnya ketika yeoja yeoja yang ia sebut ‘Yoon Ji’ itu memutar bola matanya jengah. Lantas ia kembali berbalik dan mengikuti langkah namja tadi yang tidak lain adalah sonsaengnimnya.

Sementara itu, namja yang berdiri di samping Yoon Ji beralih memperhatikan yeoja yang masih terdiam menatap namja jangkung itu menjauh. Dari tatapan si yeoja, ia tahu bahwa yeoja itu memendam sesuatu. Seperti sebuah penyesalan yang dalam.

“Ya! Sampai kapan kau akan terus seperti itu? Kalau kau tidak pernah mau mengatakannya namja itu tidak akan mengerti, bodoh! Bagaimana kalau tidak ada kesempatan lagi untukmu…” Baekhyun namja itu menghentikan kalimatnya karena yeoja yang diajaknya bicara hanya menatapnya dingin. Ia kemudian menghela nafasnya keras.

“Mianhae, mungkin aku terlalu berlebihan. Aku hanya tidak tahan melihat sikapmu yang seperti itu. Geurae, dia hanya pergi selama tujuh bulan, dan akan kembali lagi ke Korea”.

Seketika oksigen di sekeliling Yoon Ji seakan menipis. Hatinya seolah tersayat sembilu. Matanya mulai memanas. Ia memalingkan wajahnya agar namja berparas imut di sampingnya itu tidak dapat melihatnya jika saja sewaktu-waktu cairan bening yang sudah menggantung di pelupuknya menetes. Tapi ia tetap berusaha membendung air matanya. Kumohon, jangan sekarang. Jangan sampai namja itu melihatnya.

Yoon Ji menghirup nafas dalam. Beberapa saat ia mencoba mengatasi gejolak hatinya. Baekhyun yang merasa aneh dengan sikap Yoon Ji yang tidak biasa itu hanya menatapnya bingung.

“Kaja!”, ujar yeoja itu lirih tanpa menoleh sedikitpun pada namja di sampingnya. Kakinya kemudian melangkah meninggalkan bandara.

Akankah… akankah aku mendengarnya lagi?

Cairan bening itu kemudian menetes, dibarengi dengan cairan merah yang akan menjadi saksi bisu atas rintihan hatinya.

____TBC­____

Tadaaa~ Chapter 1 end. Gimana? Ancur banget yak? Haha, ini emang romance story pertamaku kok 😛 (sebelumnya kalo nulis cerita paling genrenya horror, family, ato friendship). Tapi gimanapun hasilnya, comment readers sangaaaaat diharapkan :3 Just leave your comment in the box below. Gomawo *bow*

Iklan

6 pemikiran pada “Ignorance (Chapter 1)

  1. Waaah waaah, keren thorr heheh, next chap yaa, eh eh tp apa itu yg trakhir kok ada cairan merah? Darah kah? Tp drmana??? Heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s