Just You (Chapter 1)

PicsArt_1387357521704

 

Title : Just Love

Genre : Family, Friendship, Romance

Length : Chaptered

Rating : PG 15+

Cast : Choi in young (OC)

Kim Jong In

Suzy as LeeAh Ri

Oh Sehun

T.O.P

Annyeong reader!! ini ffku yang kedua, setelah unpredictable love. Maaf ya kalo ada typonya, thanks to read this fanfic. FF ini terinspirasi dari miracles in december-exo, first snow-exo, sama the heirs. Aku harap ff ini bisa menghibur kalian semua yang khusunya pecinta KAI!! J Dan, NO PLAGIARISM, THANKS A LOT *DEEP BOW

PROLOG

Aku adalah young, choi in young, tidak aku adalah “youngie”. kata itu yang sering digunakannya untuk memanggilku. Dia, seorang pria yang kesepian, dingin, dan kasar. Itu adalah kesan pertama yang aku dapatkan saat bertemu dengannya. Awalnya aku takut dan, menjadikannya salah satu target orang yang harus aku hindari, banyak alasan yang membuatku harus menghindarinya. Tetapi semua itu tidak membuatku berpaling sedikitpun, semakin alasan itu muncul, semakin aku terus bertahan, walaupun semua kejadian pahit itu telah terjadi dan semakin hari semakin, berbekas. Kejadian pahit yang membuat jarak diantara kami, tetapi aku tetap bertahan. Aku tetap menunggunya di malam ini, malam natal dimana kami bertemu untuk pertama kali, dan juga malam dimana kami berpisah dalam kesedihan.

Seoul, 25 Desember 2013

Aku terdiam di tengah jalanan yang ramai akan kebahagian. Malam yang dinanti-nanti oleh banyak orang, malam penuh harapan dan juga malam penuh keajaiban, dan aku berdiri menanti keramahan malam natal itu. Aku memegang lenganku erat, karena dingin yang membekapku. Halte ini satu-satunya tempat ku berteduh dari dinginnya malam. Tidak hanya tubuhku yang merasakan itu, hatiku. Hatiku juga ikut merasakannya, perasaan yang tidak pernah kuharapkan sebelumnya.

Semua itu, yang ada dalam hatiku, aku berharap melepas perasaan ini. Perasaanku kepada seseorang, seseorang yang telah lama hilang. Walaupun ia menghilang tetapi, dia ada disekitarku. Hanya aku tidak mau melihatnya. aku tidak sanggup untuk menopang diriku saat mata kami bertemu. Sejak saat itu, sejak malam itu, malam dimana kami berpisah, malam yang dingin, malam yang penuh harapan tetapi semuanya hilang dalam satu malam.

 

Seoul, 1 Desember 2011

Salju pertama di Tahun ini, jatuh tepat ditanganku. aku berdiri dihalaman rumah, mataku berbinar, aku menatap langit yang penuh butiran putih kecil itu. Bulan desember telah datang, aku tidak tahu kenapa aku sangat menantikannya. Bulan Desember, adalah satu-satunya bulan yang membuatku tersenyum sepanjang waktu, aku ingin melakukan banyak hal dibulan ini, aku ingin mengajak unnie, omma, dan oppa. oppa? ahh aku lupa dia tidak akan bisa. Oppa ku adalah orang yang paling jarang berada di rumah, walaupun bulan desember sekalipun.

Aku selalu ingin meluangkan waktuku bersamanya, ia selalu berjanji meluangkan waktunnya saat malam natal. Tetapi bagiku janji itu hanyalah sebuah janji yang aku tahu kemungkinannya kecil. seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti banyak hal yang membuatnya tidak bisa menetapi janjinya. Ya itulah oppaku, choi seung hyun. Semua orang pasti mengenalnya, bahkan teman-teman wanitaku mengaguminya, bahkan sangat, sangat mengaguminya. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka seperti itu, aku tahu oppa memang terlihat tampan, tetapi dia terlalu dan sangat mengagumi dirinya, membuatku sesak melihatnya. Sebagai seorang pria, dia selalu memperhatikan dirinya di depan cermin, bahkan caranya bercermin melebihi aku yang seorang wanita. Tetapi banyak juga orang yang menjelek-jelekan oppa, mereka tidak tahu siapa aku dan mereka sering mengatakan hal-hal jahat mengenai oppa, membuatku serasa ingin mempermalukan mereka.

Tidak ada yang tahu aku adalah adik seorang T.O.P. Aku tidak mau mereka semua tahu, aku terus menyembunyikannya dan aku selalu melarang oppaku untuk datang ke sekolah. Karena unnieku pernah mengalami menjadi kakak seorang artis dan betapa menderitanya ia, banyak orang yang memanfaatkannya, dan banyak juga yang mencampakkannya. Jadi, aku hanya ingin menjadi seorang adik dari choi seung hyun, bukanlah T.O.P.

Aku sudah terbiasa dengan kehidupan oppa yang seorang artis, bagiku artis adalah boneka, dan aku sedih melihat oppaku terkadang terlihat seperti boneka. Aku selalu mengatakan kepada oppa, “jika aku mengerti apa itu dunia kearrtisan saat kau debut, aku akan melarangmu debut”, dan dia selalu membalasnya dengan tertawa, “ adikku sangat mengkhawatirkanku”,dengan tangan nakalnya yang mengacak-acak rambutku.

“Hmmm”, aku mencoba menghela nafasku, saat mengenang itu semua. Aku pun, menutup mataku, mencoba menyampaikan suatu harapan dibulan ini,

“Bulan yang penuh arti selamat datang, aku hanya ingin kebahagiaan meliputi kami semua, aku tidak tahu apa yang akan aku temui di depan mataku, jika itu mendatangkan kebahagiaan biarlah aku tetap mendapatkannya, tetapi jika itu mendatangkan kesedihan, berilah aku kekuatan untuk melepaskannya.”

***

 

Malam itu semakin dekat, malam yang sangat dinantikan semua orang. Malam dimana banyak orang berkumpul dengan keluarga mereka, berkumpul dengan orang yang sangat berarti dan juga berkumpul dengan orang yang sangat kau harapkan.

Seoul, 25 desember 2011

Akhirnya hari ini datang, dan ada sesuatu yang membuatku sangat-sangat bahagia. Satu hal yang menjadi Kado Natal spesial bagiku. Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam natal sebelumnya. Oppa akan datang dan bergabung untuk malam natal Tahun ini, ah ini sesuatu yang sangat berbeda. Aku sangat menghargai oppa, dan ia adalah orang yang penting dalam hidupku. Walaupun aku sendiri tidak terlalu mengungkapkannya dengan jelas, aku tidak mau dia tahu saat aku mengkhawatirkannya, aku tetap mementingkan harga diriku. Karena entah kenapa, aku tidak ingin sesuatu persaudaraan yang terlalu manis seperti di dalam drama-drama, itu membuatku merasa aneh.

Oppa adalah sosok ayah, kakak, dan pemimpim keluarga bagiku. Ayahku meninggal saat aku berusia 2 tahun, dan hal itu membuatku menghargai oppa lebih, saat aku kecil, ia menjagaku, melindungiku seperti seorang ayah. Mengenang hal itu selalu membuat mataku berkaca-kaca terharu. Aku pun, memutuskan untuk pergi ke sebuah toko souvenir di dekat sekolahku. Aku ingin membelikan sesuatu yang berharga, untuk ibu, unnie, dan oppaku.

Angin malam natal, berhembus membuat aku mengigit bibirku sendiri. Dinginnya malam ini tidak membuatku menghentikan langkahku, aku mengeratkan jasku agar menutupi badanku. Toko souvenir itu tengah ramai dengan orang-orang yang kuyakin, mereka mempunyai tujuan yang sama denganku. Aku pun, memasuki toko yang bergaya klasik itu. Mata ku langsung berbinar melihat pernak-pernik itu, rasanya aku ingin membeli semua benda-benda lucu ini. Mulutku menyimpulkan senyum saat melihat souvenir-souvenir kecil itu. Mataku menangkap sepasang sarung tangan rajut, sarung tangan berwarna merah dan sepertinya sangat lembut bila disentuh. Tetapi masalahnya adalah, sarung tangan itu tergantung didinding toko, tanganku tidak bisa meraih sarung tangan itu. Aku mencoba berulang kali untuk meraihnya, tetapi yang kudapatkan adalah helaan napas, tanda bahwa aku tidak bisa menggapainya. Kadang aku jengkel dengan keadaanku, aku terlahir pendek, tidak hanya kali ini aku mengalaminya, berulang kali aku kesusahan dengan sesuatu yang lebih tinggi.

Aku berhenti menatap benda itu, dan aku pun mencoba lagi untuk meraihnya. Kakiku melompat kecil, dan aku tersenyum saat benda rajutan itu menyentuh tanganku. Aku tersenyum puas, tetapi ada sepasang mata yang menatapku. Orang itu berdiri di dekatku, bahkan sangat dekat, ia menatapku dengan tangan yang mengancung ke atas. Aku tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Tapi, aku barulah sadar, aku bisa meraih sarung tangan itu karena orang ini. Dan ternyata usahaku sia-sia, aku menatapnya kaget, aku rasa dia juga kaget melihat mataku membulat tajam menatapnya. Aku pun, memundurkan langkahku untuk membuat jarak diantara kami. “Terimakasih”, ucapku singkat kepadanya, lalu aku pun menghilang pergi dari hadapannya, meninggalkannya yang sedang terdiam.

Aku merasa malu dengan keadaanku, apakah jangan-jangan dia melihatku menatap sarung tangan itu, tadi?. Ah itu sangat memalukan, mengetahui seseorang melihatku sedang berjuang melawan ketidakmampuanku, aku harap ia tidak melihatnya. Aku pun segera ke meja kasir, untuk membayar barang-barang yang akan kubeli. Aku melangkahkan kakiku keluar toko itu, aku pun mencoba melupakan kejadian di toko tadi.

 Salju semakin turun lebat, aku pun mempercepat langkahku menuju rumah. Saat aku tiba di depan rumah aku melihat seseorang laki-laki berdiri dengan payung di tangannya, tubuhnya terbalut dengan mantel dan syal tebal. Ia melangkahkan kakinya ke arahku, “ya! kemana saja kau? kaubahkan tidak membawa payung! lihat hidungmu, seperti tomat diatas penggorengan!”, ucapnya melihatku, ia langsung menggenggam tanganku dan membawaku masuk kedalam rumah. “Oppa, kau menungguku? oppa aku sangat senang kau bisa ikut makan malam nanti”, ucapku dengan girang. “ya! anak ini, lihat pipimu, pipimu dingin, dan kau masih bisa tersenyum seperti itu”, ucap oppa sambil memegang pipiku. Aku hanya membalas omelannya, dengan senyum di bibirku.

Kami pun melewati malam itu dengan tawa, cerita, dan canda. Tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding semua ini. Malam Natal yang sangat indah bagiku, harapanku yang indah, semua terjadi di malam yang indah ini.

 

Seoul, 27 Desember 2011

“Young-ah, cepat turun teman mu datang, namanya… hmm ahh,, ah aku lupa namanya, cepatlah turun, ia menunggumu”, ucap unnie dari bawah. Aku segera meresponnya dengan segera turun ke bawah. Aku menghentakkan kakiku, segera menuruni tangga yang berjejer di depan kamarku. “Lee Ah ri? kenapa kau selalu lupa unnie”, sahutku. Unnie memang sangat pintar ia selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya dulu, dan sekarang ia menjadi seorang dokter, tapi dia selalu lupa akan hal-hal kecil.

Aku tiba di ruang tamu, seorang gadis dengan kulit yang bersinar, rambut yang terkuncir, tersenyum dengan lembut menyambut kedatanganku. Unnie tengah sibuk menjamu Ah Ri dengan segelas teh dan kue kering. “Temanmu terlalu cantik, jadi aku hanya melihat wajahnya tanpa mengingat namanya”, ucap unnie kepada ah ri, yang dibalas senyuman manis oleh ah ri.

Aku pun tersenyum melihat tingkah ramah unnie. Unnie lalu meninggalkan kami berdua, membiarkan kami untuk mengobrol satu sama lain. “Ah ri-ah Merry Christmas”, ucapku dengan senyum, seraya merentangkan tanganku hendak memeluk ah ri. “Merry Christmas too young-ah”, ucap ah ri. Lee ah ri merupakan salah satu sahabatku, aku mengenalnya sekitar 4 tahun yang lalu. Aku adalah orang yang tidak mudah bergaul dengan orang lain. Tetapi sejak bertemu dengan ah ri aku berubah menjadi orang yang periang, dan talkactive.

Dia mengetahui bahwa aku adalah adik seorang T.O.P. Dia mengerti bagaimana perasaanku, mengapa aku menyembunyikannya selama ini. Awalnya aku selalu menutupinya, dan tidak pernah membiarkannya datang kerumahku. Tapi pengakuan itu terjadi 6 bulan yang lalu, aku menceritakan kepadanya bahwa aku memiliki seorang kakak laki-laki, tentunya ia terkejut dengan pengakuanku, terlebih identitas kakakku, awalnya ia kaget dan dia sempat menghindariku selama tiga hari.

Tetapi ia akhirnya mengerti, ia hanya tidak bisa menerima bahwa aku tidak jujur, dan tidak memepercayainya. Dan sekarang, setelah kejadian itu, kami tetap bersama sebagai seorang sahabat, dia tidak pernah menghindariku lagi, dia menjaga semua rahasiaku sebagaimana aku menjaganya, ia mengerti aku, ia tahu apa yang aku rasakan sebelum aku mengatakannya.

“Young-ah, apa handphonemu terjebak di suatu tempat lagi?, aku menelponmu saat malam natal lalu, aku kira kau memegang handphone dengan baik saat malam natal”, ucap ah ri heran. “Benarkah? hmm bahkan aku tidak tau dimana handphoneku sekarang berada dimana?”, ucapku sambil mengambil sepotong kue kering yang disiapkan unnie tadi. “YA! Kau ini, hantu ceroboh darimana? yang selalu merasukimu??”, ucapnya gemas dengan sifatku yang tidak pernah berubah.

“Ahaha mian, aku akan mengeceknya, tapi dimana ya? aku juga sedang memikirkannya”, ucapku. “Terakhir kali kau meninggalkannya di bawah tempat tidurmu, dan kau pernah meninggalkannya di dalam kulkas!”, ucap ah ri seakan sudah terbiasa dengan sifatku. “Kau tahu aku lebih ah ri-ah,”, ucapku dengan tawa.

Kami pun mengisi waktu kami dengan mengobrol, lalu ah ri mengajakku untuk bermain ice skatting bersama. Ah ri adalah anak dari pengusaha kaya, wajah ayahnya sering terpampang di televisi, ia memiliki segalanya. Terkadang aku merasa risih jika ia mengajakku ke suatu tempat. Karena ah ri akan membayar semuanya, setiap kali aku ingin membayar, ia selalui mendahuluiku, dan itu terjadi setiap waktu. Aku menyetujui ajakannya, walaupun aku sedikit tidak enak hati. Tapi aku mencoba memaklumi hal itu dan menikmati waktu bersama sahabatku.

Kami pun bermain ice skating bersama, tertawa dan bercanda. Sangat menyenangkan bisa meluangkan waktu dengan sahabatku di bulan yang indah ini.

Aku berpisah dengan ah ri di halte bis dekat rumahku, aku menyuruhnya untuk mengantarku sampai di halte. Ia awalnya menolak tetapi ia menuruti perkataanku. Ia pun berlalu dengan tangan melambai kearahku, aku membalas lambaiannya dengan senyum diwajahku. Aku menatap mobilnya yang semakin menjauh dari hadapanku. Ia memang sangatlah sempurna, dia kaya, cantik, dan memiliki hati yang baik. Fasilitas seperti rumah, handphone, pelayan pribadi, mobil beserta supir, semuanya tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis sombong. Aku kagum dengan sahabatku.

 Aku pun pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Jarak dari halte ke rumahku tidaklah jauh. Aku pun mengepalkan kedua tanganku bersama lalu meniupkan udara panas dari mulutku ke kepalan tanganku yang hampir membeku. Aku suka bulan desember, terlebih lagi aku suka winter, merasakan dingin hingga membuat hidungku memerah seperti ini sangatlah menyenangkan.

Aku menikmati langkah demi langkah yang aku jalani di tengah salju. Sampai seorang pria berjalan dari arah yang berlawanan hendak melintasiku. Ia mengenakan topi, mantel tebal, dan syal yang menutupi leher hingga mulutnya. Ia berjalan dengan handsfree yang terpasang di telinganya. Pria itu memiliki postur badan yang tinggi, matanya menatap lurus. Matanya.. ya matanya indah, dan sangat tajam, mata yang dihiasi alis yang sangat tegas. Aku menatap wajahnya sekilas lalu aku mengalihkan pandanganku lurus. Aku merasa pernah melihatnya, hanya aku tidak tahu dia siapa dan dimana. Tapi aku merasa aku pernah melihat mata itu.

****

 

“Youngie, kau darimana?”, pertanyaan oppa menyambut kedatanganku saat aku membuka pintu kamarku. “YA! KAU PIKIR AKU ANAK KECIL, AKU TIDAK SUKA DIPANGGIL DENGAN SEBUTAN ITU”, ucapku kesal. “YAAA URI YONGIE, MY YOUNGIE, LITTLE YOUNGIE, mengapa kau membentak oppamu”, oppa mencoba mempermainkan emosiku, dia memang seperti ini selalu bertingkah seolah aku tidak pernah bertumbuh dewasa. “Saat kecil kau selalu tersenyum ketika aku memanggilmu dengan kata itu.”, ucapnya mencoba membela dirinya. “YA! OPPA AKU BERUSIA 15, TAHUN INI.”, ucapku mencoba untuk membuka matanya. “Kau, berapapun usiamu, kau selalu menjadi youngie kecilku.”, ucapnya sambil mengacak rambutku. “ahhhhhh- whatever”, ucapku dengan menghela nafaku.

“Apa yang kau lakukan dikamarku?”, ucapku kepada  lelaki yang terlahir sebagai oppaku. “Memangnya kenapa? apakah ada larangan?”, ucapnya. “Sepertinya aku harus membuat larangan itu ada bila kau terus memanggilku seperti itu.”, ucapku dengan melipat tanganku didadaku. “ishhh anak ini, aku hanya ingin memberimu ini,”, oppa menyodorkan kotak berwarna merah yang dihiasi dengan pita, kepadaku. “hmm mwo?”, aku pun segera membuka kotak itu di depan oppa.

“WAHH  JOHA, OPPA GOMA— , YA!!!! DAN MENGAPA KAU MEMBERIKU INI JUGA?”, aku senang dengan sweater rajut berwarna hijau ada di kotak itu, sweater itu sangat halus, tetapi di bawah sweater itu, ada suatu benda yang selalu diberi oppa untukku. Ya, itu adalah album Big Bang, dia selalu memberiku album Big Bang. Aku mempunyai semua album mereka semennjak mereka debut hingga sekarang, dan oppa selalu memaksaku mendengarkan seluruh lagu Big Bang, lalu ia akan selalu berkata, “Opaa memang paling keren di lagu itu,”.

Aku merasa sudah terbiasa dengan semua tingkah oppa, ia selalu membanggakan dirinya, dia memiliki syndrom aneh, syndrom dimana ia selalu menganggap dirinya tampan. Aku pun  menatap oppa, tatapanku seakan menunjukan bahwa aku muak dengan sifatnya. Ia pun meninggalkanku, dan tidak lupa ia menyuruhku untuk mendengarkan lagunya. Aku pun membalasnya dengan tatapan tajam  sampai ia  melangkahkan kakinya keluar kamarku dan menutup pintu kamarku.

Aku menatap lelah pada album ini, aku pun hanya membolak-balik album itu. Sampai ada satu kata dari album itu yang menggangguku. Ucapan thanks to, ya satu dari kata-kata itu.

T.O.P  THANKS TO:

Ibu aku sangat berterimakasih kepadamu, nuna maaf aku selalu menyusahkanmu, dan youngie kecilku, aku harap kau bertumbuh dengan baik.”

YA! CHOI SEUNG HYUN!. Aku sudah menegaskan beberapa kali bahwa aku adalah seorang gadis berusia 15 tahun. Aku menatap kata-kata itu kesal, lalu, aku menempatkan album itu di dalam sebuah kotak yang berisi album-album Big Bang lainnya. Aku menyusun album itu dengan menghela nafas. Oppa selalu bertingkah seperti itu, tetapi aku senang karena dia tidak pernah berubah. Aku pikir saat dia debut menjadi seorang artis dia akan berubah, tetapi dia tidak pernah dan tidak akan. Dan juga, ucapan thanks to itu selalu ditujukannya kepada ibu dan unnie. Aku  pernah berkata kepadanya, bahwa lebih baik ia memberiku samgyupsal dibandingkan ucapan thanks to di albumnya. Tapi aku menghargainya kali ini, walaupun kata-kata itu sangat menyebalkan. Aku menyimpulkan senyuman tipis di mulutku, sambil menata album-album pemberian oppa.

Aku pun teringat akan handphoneku, ya! dimana benda itu berada. Mungkin jika bisa berbicara, handphone itu akan memarahiku. Aku selalu menelantarkannya di tempat-tempat yang tidak sesuai. Aku pun mencoba mengingat apa yang aku lakukan terakhir kali dengan handphone itu.

Aku pun mengingat sesuatu, dan segera membuka lemari pakaianku. Handphone tergeletak manis di atas tumpukan bajuku. Aku pun menghela napas lega, aku teringat bahwa aku meninggalkannya  di lemari pakaian saat aku sedang memilih baju untuk pergi ke toko souvenir beberapa hari lalu. Aku mengambil handphone itu dan mengunlocknya.

Senyum legaku terhenti saat melihat jumlah missed calls yang aku dapat. YA!!!!!!! AKU MENDAPAT 70 MISSED CAL DAN 22 SMS.  Sebelumnya aku tidak pernah mendapat missed calls sebanyak ini, dan mengetahui jumlah missed calls yang aku dapat membuatku membelalakan mataku.

Terdapat 5 missed calls dari ah ri, dan 65 missed calls dari nomor asing yang aku tidak tahu siapa, dan untuk apa seseorang ini menelponku. Aku pun membuka 10 pesan dari nomor asing itu.

“ Tolong hubungi aku..kau meninggalkan dompetmu, dan aku terpaksa harus mengambilnya.”

“Hubungi aku secepatnya..”

“YA!!!!! apakah kau sangat sibuk, sehingga tidak membalas teleponku.”

“Aku memberimu waktu tiga hari, jika kau tidak menghubungiku aku akan membuang dompert ini.”

Pesan-pesan darinya membuatku terkejut dan panik. Aku tidak menyadari bahwa aku meninggalkan dompetku. YAH!!! BABO IN YOUNG!!!. Tanpa berpikir panjang aku segera menelpon orang itu. Dengan wajah panik aku menanti jawabannya, aku menggigit jariku sambil menanti jawaban dari seseorang di seberang sana. Memang  uang di dalam dompet itu tidak banyak, tapi dompet itu berarti bagiku. Foto keluargaku terpampang di dompet itu!!!!!!, dan seseorang itu akan tahu aku adik dari T.O.P!!!!. Aku tahu kadang aku terlalu berlebihan tetapi, aku hanya tidak ingin ada seseorang yang tahu, bagaimana kalau dia antifans Big Bang dan menyebarkan kalau T.O.P mempunyai seorang adik? dan teman-temanku akan membenciku, atau memanfaatkanku!!!. Aku tidak mau itu terjadi!!!. Pikiranku melayang, sampai sebuah suara menyapaku.

“Yoboseyo”, ucapnya singkat

“Kau… jangan kau lakukan itu pada dompetku”

“Baru saja aku mencari tempat sampah untuk membuang ini.”, jawabnya dengan dingin.

“YA!!!! SIAPAPUN KAU JANGAN LAKUKAN ITU, dimana kau? aku akan menghampirimu.”

“Aku ada di cafe dekat sungai han sekarang, aku memberimu waktu 30 menit”

“YA!!! KAU PIKIR CAFE DI SANA HANYA ADA SATU????”

tut tut tut….

Laki-laki aneh, dia bertindak sesuka hatinya, apakah dia tidak punya perasaan. Aku pun mengambil sweater pemberian oppa aku memakainya, aku pun melapisi mantel tebal dengan syal melilit leherku. Aku segera keluar rumah, unnie dan oppaku heran melihatku tergesa-gesa melangkahkan kakiku.

“Young-ah kau mau kemana?”, tanya oppa. “Young-ah diluar sangat dingin, kau mau kemana?”, ucap unnie melihatku melintas dihadapannya. Aku hanya terdiam, menatap mereka dan keluar rumah tanpa membalas pertanyaan mereka.

Pikiran-pikiran jelekku terus muncul, aku sangat khawatir dengan apa yang akan diperbuat orang gila itu. Aku terus berlari, kakiku terasa membeku, tapi aku terus memaksakan kakiku untuk terus berlari. Setidaknya aku bersyukur karena jarak rumahku dengan sungai han tidaklah terlalu jauh, hanya butuh waktu 10 menit. AH! ORANG ITU! membuatku mengutuki diriku sendiri. Jika aku tidak ceroboh, aku tidak akan mengalami semua ini.

Nafasku terengah-engah, aku tiba di sungai han tapi cafe? di sini terdapat puluhan cafe, dia bahkan tidak memberi tahu nama cafenya, aku rasa aku akan gila. Aku segera menelponnya,

“Kau sudah sampai?”, jawabnya tenang

“YAAAA!!!! KAU GILA, KAU DIMANA? AKU TIDAK TAHU SIAPA KAU, DAN TERDAPAT PULUHAN CAFE DISINI.”

“Aku ada di starbucks, aku memakai baju berwarna hitam, dengan topi.”, jawabnya lagi dengan tenang.

Aku segera mematikan panggilanku, dan menggerakkan kakiku dengan cepat. Aku sekarang panik, dan sangat panik tapi dia hanya membalasku dengan nada tenang.

Aku pun, memasuki cafe itu. Aku melemparkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe. Pria memakai baju berwarna hitam dan memakai topi. Aku menemukan satu, tetapi pria itu duduk membelakangiku, aku hanya melihat punggungnya. Aku ragu untuk menemuinya, tetapi aku mencoba memeberanikan diri dan memastikan dugaanku.

“Kau pria itu? maksudku dompetku?”, ucapku ragu.

“hmmm, duduklah.”, ia menyuruhku duduk dengan wajah datarnya.

Tapi wajah ini, dia.., dia laki-laki yang membantuku waktu itu, di toko souvenir itu. Aku menatapnya kaget, dia juga laki-laki yang berpapasan denganku tadi sore.

“ Ini, kau berusia 15 tahun tapi kau bertingkah seperti ajhuma yang sudah kehilangan ingatan.”

“Kau— apa yang kau katakan?”

“ Dan pakailah bahasa formal, aku jauh lebih tua darimu.”

“Aku? apakah aku harus memakai bahasa formal kepada orang gila sepertimu?”

“Kau hanya perlu mengucapkan terimakasih, kau terlalu banyak bicara.”

“YAAA!!!”, seketika semua orang di cafe itu menatap ke arah kami…., tidak, tepatnya menatap aku, kaget.

“Ya, kau… ahhh sudahlah aku tidak ada waktu untuk berkelahi denganmu.”, ia bangkit dari tempat duduknya, ia meraih mantel yang ada di samping bangkunya, lalu melangkahkan kakinya meninggalkanku.

“Tunggu! sebelum itu, kau seharusnya tidak megancamku, dan kau jangan pernah mengingat apa yang telah kau lihat di dompetku,” ucapku menghentikan langkahnya.

Ia menolehkan kepalanya, “Aku bukan antifans”, ucapnya seakan ia tahu apa yang ada dipikiranku.

Aku menatapnya kesal, ia membuatku berlari seperti seorang atlet, ia membuatku panik, ia berlaku tidak sopan, mengancamku, dan sekarang ia meninggalkanku seakan ia tidak terjadi apa-apa.

Orang itu membuatku kaget, aku belum pernah bertemu dengan orang seperti itu. Aku harap ini pertemuan terakhir  kami, dan jika aku bernasib sial harus bertemu dengannya lagi, aku akan menghindarinya, SUNGGUH.

Iklan

13 pemikiran pada “Just You (Chapter 1)

  1. ff nya menarik banget thor, baru sempet baca nih maklum lg sibuk UKK haha 🙂 oh ya thor boleh minta link chapter 2 nya gk ? soalnya aku cari-cari gk ada yah ? thor boleh tau twitter nya gk? makasih><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s