No Title

Author: @diantrf

 

Tittle: No Tittle

 

Cast:

Oh Sehun (Exo)

Park Cheonsa (OC)

Others

 

Genre: Romance (But it’s not a sweet romance)

 

Rating: T

 

Length: Oneshot

 

0o0

 

Panorama indah pagi ini datang dari sebuah Senior High ternama di kota Seoul. Terlihat dua orang siswa berjalan di koridor dengan santai sambil berpegangan tangan.

 

Tunggu! Berpegangan tangan? Setidaknya itulah yang terlihat saat ini. 

 

 

“Sehun oppa..” panggil sang gadis pada orang disebelahnya, yang tidak berniat sama sekali menoleh barang sedetikpun padanya.

 

I’m listening..” selalu seperti itu. Gadis itu hanya bisa menghela napas lelah, seperti biasanya.

 

“Bisakah kau melepaskan tanganmu dari tanganku. Semua orang melihat kearah kita saat ini..” ucap gadis itu pelan. Wajahnya terlihat sangat lucu seperti anak kecil yang takut ketahuan melakukan sesuatu.

 

I’m not hear you.. Sepertinya tadi aku mendengar sebuah bisikan gaib” pandangan Sehun tetap fokus kedepan. Gadis itu akhirnya menyerah. Pasrah dengan apapun yang menjadi kehendak Sehun.

 

Sehun terus membawa gadis itu dalam genggamannya sampai depan kelasnya. Sehun berhenti dan diam menghadap gadis didepannya. Mata Sehun menerawang sejenak, lalu seulas senyuman, antara ikhlas dan tidak, khas Oh Sehun terlukis di wajahnya. Dan tanpa diduga..

 

“Belajar dengan rajin ne? Aku akan kemari nanti jam istirahat. Jangan coba-coba pergi tanpaku” tanpa ekspresi, Sehun pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.

 

Dan gadis itu terdiam cukup lama. Masih memikirkan hal tidak rasional yang baru saja terjadi. Mata hijaunya membulat lucu dan wajahnya sangat menggemaskan.

 

“Sehun oppa.. Mencium keningku?”

 

0o0

 

Gadis itu memasuki kelasnya setelah ia terdiam beberapa saat tadi. Dan skak! Seluruh murid di kelasnya, yang tentunya yeoja, menatapnya sinis. Bahkan ada yang seperti ingin mencincangnya dan memakannya hidup-hidup. Sungguh kelas yang mengerikan.

 

“Apakah mataku sudah katarak, atau aku benar melihat Sehun oppa, charming princeku, mencium gadis sampah sepertimu?!” bentak gadis yang ada didepannya tanpa jeda.

 

“A-aku..”

 

“Park Cheonsa!” teriak gadis itu lagi. Wajahnya sangat sarat akan kemurkaan. Cheonsa hanya bisa menundukkan kepalanya.

 

 

Selalu saja seperti ini setiap hari. Sejak satu tahun yang lalu. Sejak Sehun masuk kedalam hidupnya yang tak berarti. Sejak Sehun mengulurkan tangan hangatnya pada Cheonsa. Yang menurutnya sangat aneh. Ya, dan sejak saat itu pula hidup Cheonsa selalu dipenuhi teror, dari para fans Sehun tentunya.

 

Cheonsa tidak mempunyai teman. Hanya Sehun temannya. Berawal dari hari pertama ia menginjakkan kakinya di sekolah ini. Seorang namja dengan tingkat ketampanan melebihi tingkat ketampanan pada umumnya, menyapanya yang sedang duduk sendiri dibawah pohon karena tidak ada yang mau berteman dengannya.

 

Mengapa? Alasannya sangat klasik. Karena ia tidak cantik dan tidak kaya. Senyumnya memang manis, tapi itu hanya berlaku di mata Sehun seorang. Dan karena alasan kejelekan itulah, para fans Sehun murka. Bagaimana bisa seorang itik buruk rupa dekat dengan charming prince pujaan mereka? Sungguh hal diluar nalar.

 

Dan  selama setahun ini pula, Cheonsa dilanda kebingungan. Ia selalu bertanya apa alasan Sehun mau dekat dengannya. Dan Asal kalian tahu. Sehun seperti memiliki.. Bagaimana cara mengatakannya ya? Kepribadian ganda, mungkin? Bisa jadi.

 

Terkadang ia bisa bersikap sangat manis pada Cheonsa, seperti ia memperlakukan anak kecil kesayangannya. Namun terkadang ia hanya diam dan tak mengajak Cheonsa bicara sama sekali, walaupun tangannya tetap menggenggam tangan Cheonsa erat, seolah takut kehilangan.

 

 

“Apa kau tuli?! Aku bicara padamu!” bentak gadis itu lagi. Cheonsa tersentak dari lamunannya. Ia terlalu lelah dengan perlakuan semua gadis padanya.

 

“Sudahlah, jangan intimidasi Cheonsa seperti itu” seorang namja menarik tangan Cheonsa dan membawanya duduk di kursinya.

 

Kamsahamnida Jongin-ssi” Cheonsa menunduk, hampir menangis. Namja yang dipanggilnya Jongin hanya membalasnya dengan senyuman.

 

“Jika butuh bantuan kau tak usah sungkan memanggilku” ucap Jongin dan ia langsung duduk di tempatnya, disamping Cheonsa.

 

Ne” Cheonsa mencoba tersenyum dan kini siap memulai pelajaran pagi itu. Semoga tak ada hal buruk lagi yang akan terjadi padanya.

 

0o0

 

Jam istirahat. Seperti yang dijanjikan pula Sehun sudah berdiri didepan kelas Cheonsa, menanti gadis itu keluar. Namun nihil. Lima menit berlalu dan Cheonsa belum juga keluar dari kelasnya. Karena Sehun kesal maka ia nekat masuk kedalam kelas Cheonsa.

 

“Kukira kau tahu bahwa aku..”

 

“Orang yang tak suka menunggu? Aku tahu oppa. Aku baru saja selesai menyalin pr di papan tulis” ucap Cheonsa datar sambil merapikan bukunya, tanpa menatap Sehun sedikitpun. Entahlah, ia mulai jengah dengan kedekatan mereka.

 

“Tepat sasaran. Ayo keluar, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu” ucap Sehun antusias lalu dengan seenaknya menarik tangan Cheonsa yang masih belum selesai merapikan bukunya.

 

0o0

 

“Bisakah oppa melepaskan tanganku? Aku mau makan” ucap Cheonsa pelan dengan wajah memelasnya yang seperti biasa. Sehun hanya menoleh kearahnya sebentar lalu kembali terdiam. Sudah Cheonsa duga, Sehun tak akan mendengarkan perkataannya.

 

Sehun membawa Cheonsa ke taman belakang sekolah untuk makan siang bersama, atau bisa juga disebut piknik. Karena Sehun menyiapkan alas duduk dibawah pohon, persisi sekali seperti orang sedang piknik.

 

“Buka mulutmu..” ucap Sehun sambil menyodorkan sendok kearah Cheonsa dan hendak menyuapinya. Cheonsa tersentak kaget dengan apa yang Sehun perbuat. Ia hanya diam sambil memandang wajah datar Sehun.

 

“Kau tidak mau? Baiklah biar aku yang..”

 

“Tunggu! Aku mau” ucap Cheonsa yang langsung dihadiahi senyuman oleh Sehun. Entah ikhlas atau tidak, yang jelas senyum itu terpampang jelas di wajah Sehun.

 

Cheonsa merasakan debaran aneh di dadanya. Selama ia bersama Sehun, baru kali ini ia merasakan adanya getaran aneh dalam dirinya. Apakah itu bisa disebut cinta? Atau.. hanya perasaan anehnya saja?

 

Tak ada yang tahu..

 

0o0

 

Pulang sekolah, seperti biasa, Sehun berjalan bersama Cheonsa untuk mengantar gadis itu pulang. Dan seperti biasa pula, Cheonsa hanya bisa pasrah dengan semua perlakuan Sehun padanya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hanya tangan mereka yang terkait satu sama lain. Tak ada satupun yang mencoba memulai pembicaraan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

 

Oppa.. Apa kau amnesia? Ini bukan jalan menuju rumahku” ucap Cheonsa dengan nada heran yang sangat kentara. Dan lagi-lagi, Sehun mengabaikannya. Untuk kesekian kalinya pula Cheonsa menghela napas lelah.

 

“Kita sampai” setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di tempat yang Sehun maksud.

 

Ternyata Sehun membawa Cheonsa ke taman dekat rumahnya. Taman dengan pepohonan rindang dan pemandangan asri sejauh mata memandang. Cheonsa hanya diam, masih mencoba menebak pikiran Sehun. Mengapa namja itu membawanya kemari?

 

“Duduklah disini, aku akan membelikanmu sesuatu” Cheonsa mengangguk lalu duduk di kursi taman terdekat. Matanya tak lepas memandang kepergian Sehun. Cheonsa menghela napas lagi.

 

“Sebenarnya kami ini apa? Teman, sahabat, atau hanya sekedar saling mengenal?” gumam Cheonsa ditengah keheningan. Keheningan hatinya, karena sebenarnya taman ini ramai.

 

 

Beberapa menit. Satu.. Lima.. Sepuluh menit.. Dan tepat lima belas menit Sehun menampakkan batang hidungnya lagi dihadapan Cheonsa. Sehun hanya berjalan santai dengan wajah datarnya yang, oh my damn God! He’s like an angel from hell!

 

Tanpa sepatah kata, bahkan setengah patah pun tidak, Sehun hanya menyodorkan eskrim vanilla yang telah ia beli kepada Cheonsa lalu dengan santainya duduk disamping Cheonsa. Dan kini Sehun asik dengan dunianya sendiri. Ia hanya diam dengan pandangan lurus kedepan sambil tetap menikmati eskrimnya. Cheonsa yang tak ingin ambil pusing dengan kelakuan normal Sehun pun ikut menyantap eskrimnya dalam diam.

 

Dengan pikiran tentang dia dan Sehun melayang-layang dalam benaknya. A damn fact that she hates it.

 

 

“Nanti malam aku akan menjemputmu pukul tujuh” ucap Sehun singkat, padat, dan tidak jelas, karena Cheonsa serta merta hanya mampu mengerutkan alisnya, tanda ia bingung.

 

“Sudah pukul empat, ayo kita pulang” ajak Sehun pada Cheonsa. Cheonsa yang asik dengan dunianya sendiri tidak menggubris ajakan Sehun, membuat pria tampan itu menampakkan wajah datar nan dinginnya.

 

Sehun dengan cepat mencondongkan badannya kearah Cheonsa dan tanpa ragu menempelkan bibirnya pada milik Cheonsa. Cheonsa dengan spontan membelalakkan matanya mendapatkan ‘serangan’ dadakan ala Oh Sehun.

 

Sudah ke.. Entah sudah keberapa kalinya mereka seperti ini. Berpegangan tangan, jalan-jalan bersama, bahkan berciuman, atau tepatnya Sehun yang mencium Cheonsa. Entah itu di puncak kepalanya, keningnya, bibirnya, bahkan sampai lehernya pun tak luput dari serangan Sehun.

 

Dan pernah suatu hari Cheonsa harus memakai syal di musim panas karena tanda kemerahan di lehernya akibat ulah Sehun, yang membuat seluruh yeoja di kelasnya mencacinya habis-habisan. Sungguh pria yang mengerikan.

 

 

Sehun membuang sisa eskrim yang tak ia habiskan lalu langsung menarik tangan Cheonsa seenaknya. Seperti biasa, ofcource.

 

0o0

 

 Jam dinding hijau milik Cheonsa sekarang menunjukkan pukul enam tepat. Cheonsa tengah bersiap menanti jemputan Sehun. Gadis itu hanya mengenakan kaus abu lengan panjang kebesaran favoritnya dan rok selutut berwarna putih. Ia memang tak terlalu memperhatikan penampilannya.

 

“Aish nona, selera fashionmu sungguh payah” seru seorang ahjumma yang dengan seenaknya memasuki kamarnya. Cheonsa agak sedikit terkejut.

 

Ahjumma, annyeong, kita bertemu lagi” sapa Cheonsa sopan.

 

Ne. Dan fashionmu masih sama mengerikannya dengan terakhir kali aku mendandanimu” ujar ahjumma itu tanpa spasi dan langsung memulai pekerjaannya mendandani Cheonsa.

 

 

Ahjumma itu adalah suruhan Sehun. Terakhir kali Sehun menyuruh ahjumma itu mendandani Cheonsa adalah saat graduation party kakak kelas mereka, dengan Sehun sebagai ketua panitia pelaksana. Dan Sehun benar-benar membawa Cheonsa yang telah di make over untuk mendampinginya dalam acara tersebut, yang membuat Cheonsa hampir mati bosan.

 

Cheonsa pun heran mengapa kali ini Sehun menyuruh ahjumma itu lagi untuk mendandaninya. Sehun akan membawanya kemana?

 

“Selesai. Setidaknya kau nampak lumayan cantik malam ini” Cheonsa menghadapkan dirinya ke cermin. Tidak terpukau. Ia merasa biasa saja. Karena ia tak memiliki jiwa seni akan keindahan fashion.

 

“Sehun menunggumu diluar” ahjumma itu keluar dari kamar Cheonsa. Ia hanya tinggal sendiri di flat sederhananya. Orangtuanya hanya pengusaha kecil-kecilan di tempat asalnya dan setiap bulan mereka mengirimkan uang yang tak terlalu banyak untuk Cheonsa.

 

Cheonsa melangkahkan kakinya keluar kamar dan terpukau melihat penampilan Sehun. Jas semi formal hitam dengan celana senada dan kemeja merah darah yang membuatnya terlihat mempesona dan liar disaat bersamaan. Oh, jangan lupakan rambut blonde acak-acakannya yang sangat wah itu. Sangat berbanding terbalik dengan mini dress putihnya yang nampak kalem.

 

“Kau terlambat lima detik” hanya itu yang Sehun ucapkan, lalu ia, lagi-lagi, menarik tangan Cheonsa seenaknya dan berjalan menuju mobilnya yang entah akan membawa mereka kemana.

 

0o0

 

Cheonsa semakin terpana dengan apa yang ia lihat saat ini. Candle light dinner di taman yang sudah disetting khusus untuk mereka berdua dengan pemandangan langit bertabur bintang. Sungguh, siapa gadis yang tak luluh jika diperlakukan seperti itu?

 

“Kau suka? Aku mempersiapkan semua ini spesial untukmu. Gadis yang sangat berarti untukku” pertama kalinya selama Cheonsa mengenal Sehun, baru kali ini Sehun mengucapkan kalimat yang lumayan panjang padanya, tanpa ada unsur tatapan-dingin-nan-datar andalannya.

 

Ne. Gomawo oppa” Cheonsa tersenyum manis pada Sehun yang membuat mata Sehun membulat sepersekian detik.

 

 

Hening. Sehun masih asik menyantap salad buahnya sedangkan Cheonsa hanya terdiam memandangi indahnya langit malam itu.

 

Oppa..” Cheonsa akhirnya sadar dari keterpukauannya dan memanggil Sehun selembut mungkin.

 

I’m listening..” Selalu seperti itu. Selalu.

 

“Dalam rangka apa kau mengajakku makan malam seperti ini?” dengan segenap keberanian yang entah dari mana datangnya, Cheonsa mengucapkan kalimat itu dengan lancar.

 

Bukannya menjawab. Sehun malah menghentikan acara makannya, dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju Cheonsa dan berhenti dibelakangnya. Sehun melingkarkan tangannya di leher Cheonsa, dan meletakkan kepalanya disana. Menghirup harum tubuh Cheonsa.

 

“Aku hanya ingin berterimakasih padamu karena selama ini kau sudah mau bersamaku” Sehun menarik tangan Cheonsa untuk berdiri dan menghadapnya. Mata mereka bertemu.

 

“Aku mencintaimu” dua kata saja, mampu membuat Cheonsa diam membisu bagai patung batu.

 

Sehun mendekatkan wajahnya dan mencium Cheonsa lembut. Sangat lembut, seakan Cheonsa adalah kristal rapuh kesayangannya. Cukup lama, sampai Sehun melepaskan tautan mereka. Untuk pertama kalinya, Cheonsa kecewa saat Sehun melepaskan ciuman mereka.

 

 

“Kau adalah sahabat terbaikku”

 

Deg! Mata Cheonsa membulat. Masih mencoba percaya dengan apa yang ia dengar sedetik yang lalu. Sahabat? Jadi selama ini.. Hanya sahabat? Segala macam perlakuan pria itu.. Segala macam kata-kata manisnya.. Ciuman mereka.. Sahabat? Hanya..sahabat?

 

“Aku akan pindah ke London besok. Orangtuaku telah menjodohkanku dengan gadis pilihan mereka disana. Kami akan bertunangan. Aku juga akan pindah SMA dan melanjutkan perguruan tinggi disana” ucap Sehun terlampau lancar, tidak sebanding dengan kejadian yang baru saja terjadi.

 

“Kuharap kau tak akan melupakanku. Kau benar-benar sahabat terbaikku” Sehun memeluk Cheonsa erat. Tak ada air mata yang turun. Gadis itu terlalu sibuk berfikir sampai tidak dapat mendefinisikan apa makna ‘menangis’ untuk saat ini.

 

“Ah, sudah malam. Aku harus bersiap untuk besok. Supirku akan mengantarmu sampai rumah. Maaf aku tak dapat mengantarmu. Annyeonghaseyo, Park Cheonsa” itulah kalimat terakhir yang keluar dari bibir seorang Oh Sehun sebelum ia menghilang dari pandangan Cheonsa. Untuk selamanya.

 

 

“Sahabat.. Jadi sahabat ya?” gumam Cheonsa pelan. Tak lama ia pun tersenyum.

 

“Kau adalah pria brengsek termanis yang pernah aku kenal. Annyeong, Oh Sehun” dan Cheonsa pun pergi meninggalkan taman itu.

 

Dengan sebuah kenangan terlampau pahit yang akan terus bersarang dalam ingatannya.

 

FIN

 

Annyeong.. inget sama aku? Pasti engga hehe. FF kesekian yang aku publish disini. Semoga suka. Kenapa castnya Sehun? Karena mukanya emang cocok banget, datar nan dingin._. tadinya castnya mau Xiumin, tapi karena wajahnya terlampau imut sampe nabrak tiang listrik(?) jadinya takut feel muka-datar-nya ga dapet. *kenapajadicurhat?* thanks for reading, comment, and annyeong^^

70 pemikiran pada “No Title

  1. baru baca ni ff krn td liat ada sequelnya…
    nyesek bgt…berasa di PHP in bnra sama si thehun sialan *tendang thehun* -_-
    bnr2 sebel sama karakter sehun disini,udh maen kisseu2an trnyata cuma nganggap sahabat,omegot…tp disini karakter cheonsa terlalu pasrah mw dibully aja ma yeoja2 disekolahnya…but,i like this story… ^^

    “Kau adalah pria brengsek termanis yang
    pernah aku kenal. Annyeong , Oh Sehun” » suka bgt sama monolog ini

    • thanks for reading^^ oh tidak, sehun emang sialan hehe. kalo sebel timpuk aja sehunnya angel ikhlas kok wkwk. cheonsanya emang gitu jadi sabar aja ya sama dia. angel juga paling suka kalimat ituu huahua. makasih udah suka 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s