Secret Love

Title : Secret Love

Created by : KtekYixing/ @Alyahap

Cast :

–          You

–          Kim Minseok – EXO

Genre : Romance

Length : Oneshot  (Words : 2.000+)

a/n : Huaaaaaahhhh…. ff ini selesai dalam beberapa jam doang. Gak tau kenapa, lagi pengen buat ff tentang abang xiu. Dan, voilaaaaaa…. jadilah ff ga jelas dengan dialog pas-pasan yang gak jelas banget. Saya mau ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya buat admin yang mau ngepost ff abal ini. Ini bukan ff plagiat yaahhh, murni dari imajinasi saya hoho^^

So, apa ada yang punya usaha sekeras cewek di ff ini demi mengejar cintanya? Kkkk~ leave ur comment^^

*

Ku tatap punggungmu dari jarak favoriteku. Punggungmu adalah hal yang paling sering ku tatap jika berada di dekatmu. Kau yang selalu berada didepanku dan aku yang selalu berada dibelakangmu. Aku yang mengagumi dan kau yang dikagumi. Begitu banyak perbedaan yang terjadi. Namun, aku begitu menyukai perbedaan itu.

Aku mengenalmu sejak dulu. Sejak kau masih berusia 7 tahun. Kau adalah cucu dari pemilik perusahaan paling terkenal di Korea Selatan. Ya, aku mengenalmu hanya melalui berita harian, radio dan terkadang melalui majalah. Keluargaku terlalu miskin untuk mempunyai sebuah televisi. Sangat berbeda bukan?

Entah karena alasan apa, sehingga membuatku begitu mengagumimu. Kita mempunyai usia yang sama, namun kita mempunyai nasib yang begitu berbeda. Di usiaku yang masih begitu bodoh untuk mengerti apa arti dari sebuah cinta, aku sudah berpikir untuk mencari cara agar aku bisa berada disekitarmu ketika usia kita sudah bertambah.

Begitu banyak usaha dan kegagalan yang ku temui demi bisa berada didekatmu. Tak jarang aku harus jatuh dan bangkit kembali hanya untukmu. Tapi tak membuatku menyerah begitu saja. Mengapa? Karena, tak sedikit keuntungan yang ku dapatkan dibalik usahaku.

Aku mendapatkan beasiswa di sekolah menengah pertama yang sama denganmu. Usaha pertamaku pun berhasil. Aku bisa berada disekolah yang sama denganmu.  Dengan penuh perjuangan yang begitu keras, akhirnya aku bisa bersekolah di sekolah menengah pertama yang sama denganmu.

Setidaknya, aku bisa melihatmu selama 10 jam setiap hari hingga kita lulus dari sekolah menengah pertama. Aku terlalu senang untuk memikirkan hal yang lain, aku terlalu bersemangat untuk menyiapkan upacara pertamaku bersamamu.

Kita tidak sekelas. Ya, aku tahu. Ini tak akan terjadi seperti drama-drama yang selalu membuatku terus mengkhayal. Aku akan belajar dengan tekun agar bisa menyamaimu. Aku tak ingin terlihat bodoh. Itu saja.

Di Upacara kelulusan kita, bisa saja aku mendekatimu dan mengajakmu berfoto bersama. Namun, langkah kakiku menjadi berat ketika jarak kita hanya bersisa 5 langkah. Kau berdiri membelakangiku dengan banyak gadis-gadis yang berebutan untuk berfoto denganmu. Kuurungkan niatku dan kembali ke rumah dengan perasaan yang sedikit kecewa. Sedikit.

Aku kurang beruntung. Aku tak mendapat beasiswa di sekolah menengah atas yang sama denganmu. Ya, Dewi Fortuna sedang beristirahat memberikan keberuntungan kepadaku. Dan, apa kau tahu? 3 tahun berada disekolah menengah atas tanpamu membuatku sedikit bersedih karena tak bisa setiap hari menatapmu –dari jauh.

Di tahun terakhir, aku mendengar berita bahwa kau akan mendaftar di salah satu perguruan tinggi yang paling terkenal di Korea Selatan. Aku berhasil lulus di sekolah menengah atas dengan nilai tertinggi dan mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi yang sama denganmu. Kita akan bertemu lagi, dear.

Di perguruan tinggi aku tak mengambil arah yang sama denganmu. Walaupun aku berusaha untuk mengejarmu tapi aku tidak mau mengubah impianku dan harus tersiksa karena tak menyukai arah yang ku ambil. Jika impianku untuk berada disekitarmu tidak bisa ku wujudkan. Setidaknya, aku masih bisa mendapatkan pekerjaan yang ku sukai. Aku hanya mengantisipasi saja.

Ada tradisi yang begitu kental di tanggal 14 februari di perguruan tinggi kita. Siapa pun boleh menulis surat untuk orang yang disukainya. Syaratnya begitu mudah, hanya tak boleh mencantumkan nama dengan jelas dan sampul surat yang digunakakan harus berwarna merah muda. Pada tanggal 14, surat-surat yang terkumpul didalam kotak yang telah disediakan akan diberikan kepada orang yang dituju.

Tentu saja aku menulis surat untukmu.

Ku mencoba merangkai kata yang bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Aku tahu, aku bukanlah pujangga yang bisa merangkai kata indah. Dan aku juga bukan sastrawan yang bisa membuat kata indah dengan makna yang mendalam. Aku hanya gadis biasa yang tak punya keberanian untuk mengungkapkan secara langsung. Aku merasa belum pantas.

Kau masih terlalu jauh dari genggamanku. Masih terlalu banyak hal yang belum ku hadapai untuk menggapaimu dengan tanganku. Mungkin untuk saat ini, hanya dengan surat ini aku bisa mengungkapkan isi hatiku tanpa perlu malu dihadapanmu. Sampul suratku berwarna putih, aku tak mempunyai uang yang cukup untuk membeli sampul surat berwarna merah muda. Semoga saja kau sempat membaca isi suratku.

Pada tanggal 14 Februari, tentu saja kau menerima surat terbanyak. Kau mendapatkan 947 surat dari 1.467 surat yang terkumpul. Keraguan menggerogoti hatiku. Apakah kau akan membaca surat dariku? Ya, aku hanya bisa berharap.

Hei, ternyata aku juga mendapatkan surat. Bukan, bukan. Bukan pernyataan cinta. Isi surat ini hanya berisi kekaguman kepadaku. Siapa orang itu? Apa yang membuatnya bisa mengagumiku? Atau mungkin, ada orang yang mempunyai nama yang sama denganku dan panitia pelaksana kegiatan ini salah memberi suratnya. Aku yakin.

Kita pun lulus.

Aku lulus dengan menggandeng nilai tertinggi tahun ini. Aku senang. Tentu saja. Dengan hasil ini, aku bisa melamar kerja diperusahaan yang sebentar lagi akan kau pimpin. Aku tak sabar untuk berada ditempat yang sama dengan tempatmu bekerja. Semoga saja, Dewi Fortuna tak lelah memberi keberuntungan kepadaku.

Sepertinya aku harus mengijinkan Dewi Fortuna untuk beristirahat kali ini. Aku tak bisa bekerja diperusahaanmu karena aku terlambat mengumpulkan formulirku. Aku pun melamar kerja di anak perusahaanmu. Dan, aku diterima sebagai sekertaris Direktur. aku nyaman dengan tempat kerjaku. Bagaimana denganmu yang telah resmi menjadi pemimpin perusahaan?

Semoga kau menyukainya.

Sesekali aku mendampingi atasanku untuk datang ke perusahaan pusat. Hanya sekali saja aku bisa melihatmu. Kebahagianku memuncak karena bisa melihatmu lagi. Kau semakin tampan dan gagah. Dan kali ini, aku bisa tersenyum kepadamu. Untuk pertama kalinya.

Aku sedikit mengkhawatirkan senyumanku. Aku terlalu gugup sehingga membuatku sulit mengontrol senyumanku. Semoga saja senyumanku terlihat baik seperti yang telah ku pelajari melalui internet. Semoga saja.

Aku mendapat pujian dari atasanku atas kerja kerasku selama 1 tahun bekerja dengannya. Sebagai imbalannya, aku di ajak oleh atasanku untuk makan malam bersama keluargamu. Sekali lagi, ke-lu-ar-ga-mu. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku pakai? Apa yang harus aku katakan? Ini tidak pernah terpikir olehku!

Disinilah aku, duduk berhadapan dengan adikmu yang masih berumur 13 tahun. Dia sangat cantik. Begitu sulit ku sembunyikan kegugupanku. Adikmu beberapa kali terkekeh karena melihatku. Begitu banyak hal yang membuatku gugup malam ini.

Pertama, kau yang begitu tampan. Kedua, aku bisa melihatmu lebih dekat. Ketiga, ayahmu terus saja menanyaiku.

Siapa yang tidak gugup jika berada diposisiku? Oh yeah, sepertinya aku sedikit berlebihan. Tapi, kenyataan yang terjadi adalah aku sangat gugup. Aku takut membuat kesalahan.

“Aku dengar dari Ayah, kau adalah lulusan terbaik diperguruan tinggimu. Apakah itu benar, Sekertaris Lee?” pertanyaan adikmu memecah keheningan. Aku mengangguk. “Dewi Fortuna terlalu baik padaku,” jawabku. Adikmu terkekeh. “Apa yang membuatmu bisa menjadi lulusan terbaik? Sekeras apa kau belajar?” kembali adikmu bertanya.

“Aku hanya belajar selayaknya mahasiswi lainnya demi mewujudkan impianku. Tak lebih,” jawabanku membuat adikmu terdiam beberapa saat. “Apa impianmu, Sekertaris Lee?” aku tahu pertanyaan itu akan terlontar dari adikmu. Tak bisa ku tahan senyumanku yang memaksa ingin mengembang.

“Impianku adalah berada didekat orang yang ku cintai,”

*

“Apa ada yang anda butuhkan, Direktur?” tanyaku ketika memasuki ruangan atasanku. “Tidak, bukan aku,” jawab Direktur sambil tersenyum. “Lantas?” kebingungan menyusup diantara saraf otakku. “Presiden Direktur pusat ingin bertemu denganmu,” ucapan Direktur seakan bisa membuat rahangku terjatuh. “….. Sekarang,”

Oh tidak, sepertinya aku akan pingsan sekarang.

Ku ketuk pintu besar dihadapanku dengan pelan. Berharap aku akan dibentak dan diperintah untuk pergi. Namun, apa yang kau inginkan tidak akan selalu terwujud. Aku mendengar suara yang memintaku untuk masuk ke dalam ruangan yang terhalangi pintu ini. Kakiku bergetar, sial.

Aku membungkuk sebelum melemparkan senyuman kikukku pada Presiden Direktur. “Silahkan duduk,” suara berat Presiden Direktur memenuhi saraf pendengaranku. Ku atur deru nafasku sebelum menjawab. Ku samakan langkah kakiku menuju kursi dengan tarikan nafasku. Jangan gugup. Jangan gugup.

“Aku bukan orang yang suka berbasa-basi jadi aku akan langsung ke pokoknya saja,” Presiden Direktur memulai. “Tentu saja kau mengenal putraku. aku dengar, bukan hanya diperguruan tinggi saja tapi disekolah menengah pertamamu sama dengan putraku. Apa benar?” Presiden Direktur menatapku. “Ya, itu benar, Presiden,” jawabku sambil tersenyum.

“Lalu, apa kau mau berkencan dengan putraku?”

*

Gesekkan angin membelai lembut wajahku. Kakiku masih tertanam didalam pasir sejak tadi. Aku menyukai suasana pantai. Aku terlalu mengagumi pantai. “Apa kau menyukainya?” suara berat memecah keheningan. Ku tolehkan kepalaku kepada pemuda pemilik suara berat itu. “Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai pantai seindah ini?”

“Jangan terlalu memikirkan ucapan Ayahku,”

Aku sangat memikirkannya. “Baiklah,”

“Jangan memaksakan dirimu jika kau tak mau,”

Aku mau. Tentu saja, aku menginginkannya. “Baiklah,”

“Apa yang membuat Ayahmu terpikir untuk menyuruh kita berkencan?” akhirnya pertanyaan yang terus menghantuiku bisa ku ungkapkan. Dia terdiam beberapa saat. Dia terlihat seperti sedang berpikir.

“Aku mengatakan padanya bahwa aku menyukaimu…. Ah tidak, aku mencintaimu lebih tepatnya,” ucapnya dengan senyum menawannya. Detak jantungku bagai berhenti selama beberapa detik. “Apa ini pengakuan?” candaku sambil terkekeh pelan. Dia menggeleng sambil tersenyum. “Pernyataan, lebih tepatnya,”

“Apa bedanya?”

“Tentu saja berbeda. Pengakuan hanya menjelaskan bahwa aku mencintaimu, sedangkan pernyataan menjelaskan betapa aku sangat mencintaimu,”

Tak bisa ku tahan rona merah dipipiku. Entah karena aku terlalu mencintainya atau dia yang pandai merayu. Kata-katanya terdengar begitu manis. Sepertinya aku akan terkena diabetes.

“Apa kau ingin mendengar pernyataan dariku?”

“Tentu saja,”

Ku tarik nafasku sedikit lebih dalam dan ku hembuskan dengan cepat. Ku siapkan hatiku dan meluncurlah bait-bait kata yang mengungkapkan semua usahaku hingga saat ini bisa membuat bahu kami saling bersentuhan karena jarak kami yang begitu dekat. Ku akhiri pernyataanku dengan kelegaan yang tergambar begitu jelas diwajahku.

“Kau telah berusaha semaksimal mungkin…. Berbeda denganku yang tak melakukan apapun untuk mendekatimu. Yang ku lakukan hanya menulis surat ketika tradisi 14 Februari di perguruan tinggi kita dilaksanakan,” ucapnya sambil terkekeh.

“Itu suratmu? Untukku?”

“Ya, apa kau membacanya? Aku tak tahu merangkai kata yang manis, maafkan aku,”

Entah apa yang membuatku berani untuk memeluknya. Kau sedikit terkejut dengan apa yang ku lakukan tapi kau tetap membalas pelukanku. “Jangan khawatir, aku menyukai suratmu… aku masih menyimpan suratmu…. Apa kau membaca suratku? Sampul suratku berwarna putih tanpa ku bubuhkan parfum dan cap bibirku,”

“Itu surat darimu? Benarkah? Aku masih menyimpan surat itu…. Aku sangat menyukai kata-katamu,” serunya dengan wajah senang. Kami berdua melepas pelukan dan tertawa. Menertawai kebodohan kami yang saling menyembunyikan perasaan. Saling menatap dari jauh. Saling memperhatikan. Tanpa mau memulai duluan. Tak berani saling menatap karena takut akan saling mengetahui rahasia cinta yang disembunyikan dengan susah payah.

“Apa kau tahu? Selama ini kita terkurung di dalam kurungan cinta bernama ‘Secret Love’ tanpa mengetahui bahwa kita mempunyai perasaan yang sama,”

*

Dear, orang yang ku cintai.

Apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja.

Aku bukan orang yang pandai merangkai kata-kata. Oleh sebab itu, aku tak bisa memikatmu dengan kata-kata indah penuh makna. Aku sempat terpikir untuk mencari kata-kata indah di internet, tapi aku mengurungkan niatku. Aku hanya ingin menjadi diri sendiri.

Aku mencintaimu.

Kau tidak perlu terkejut, karena bukan hanya aku saja gadis yang mengucapkan kata itu padamu. Aku telah mencintaimu sejak kita berumur 7 tahun. Aku mencintaimu sejak aku tak mengetahui arti cinta hingga akhirnya aku paham apa itu cinta.

Aku mencintaimu sejak pipimu masih terlihat seperti bakpao hingga bakpao itu menghilang dari pipimu. Aku mencintaimu sejak melihatmu memeluk robot kesayanganmu hingga kau memeluk tumpukan buku untuk mata kuliahmu.

Aku menyadari begitu pengecutnya diriku karena hanya berani mengungkapkan perasaanku melalui surat yang belum tentu akan kau baca. Aku hanya seorang gadis biasa yang tak mempunyai keberanian seperti gadis-gadis lainnya.

Aku merasa belum pantas untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi, suatu saat jika aku merasa sudah pantas, aku akan menyatakan perasaanku padamu dengan lantang tanpa ada yang mengganjal dihatiku.

Apa kau bersedia menerima pernyataan cintaku ketika aku sudah merasa pantas? Apa kau mengijinkanku mencintaimu dalam diam? Semoga saja.

Sekian dariku 🙂

*

“Apa kau mencintaiku?”

“Hey, pertanyaan apa itu? Kecoa kecil saja mengetahui jawabannya,”

“Baiklah…. Aku tak akan bertanya lagi…. Aku mencintaimu,”

.

.

.

.

.

.

.

.

“Aku juga mencintaimu, Kim Minseok,”

-The End-

Iklan

10 pemikiran pada “Secret Love

Tinggalkan Balasan ke priskaagnez28 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s