Fallen (Chapter 10B)

Tittle    : FALLEN – CHAPTER 10 PART B: DI MANA ADA ASAP
Author : @FYEAHZELO_
Main Cast :  -Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)

-Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)

-Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

-Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))

-Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)

-Roland Sparks : Roland Sparks (OC)

-Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)

 

Support Cast :        -Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)

-Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)

-Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)

-Callie : Jung Ji Hyun (OC)

-Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)

-Trevor : Trevor (OC)

 

 

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

 

 

Credit: FALLEN by Lauren Kate

 

Warning : Typo merajalela (?), OOC

 

CHAPTER 10 PART B:

DI MANA ADA ASAP

Saat itu, mereka telah mencapai pojok perpustakaan terjauh, tempat 999 buku disusun dalam rak berwarna timah. Sunny berjongkok dan menyusuri punggung-punggung buku dengan jari. Gi Eun bergidik, seakan ada yang menyapukan jari di sepanjang tengkuknya. Ia menoleh ke belakang dan melihat gumpalan kabut kelabu. Bukan hitam, seperti bayangan yang biasa muncul, tapi lebih ringan, lebih tipis. Sama-sama tak dikehendakinya.

 

Gi Eun memperhatikan, dengan mata terbelalak, ketika bayangan itu memanjang menjadi garis melingkar-lingkar panjang tepat di atas kepala Sunny. Bayangan itu turun perlahan, seperti jarum dengan benang, dan Gi Eun tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi jika bayangan itu menyentuh temannya. Beberapa hari lalu di ruang olahraga adalah kali pertama bayangan-bayangan menyentuh Gi Eun—dan ia masih merasa terganggu, nyaris merasa kotor karenanya. Ia tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan bayangan-bayangan itu.

 

Dengan gugup, tidak yakin, Gi Eun mengangkat tangan seperti tongkat bisbol. Ia menarik napas dalam dan mengayunkannya ke depan. Ia merinding karena rasa sedingin es ketika menghantam bayangan itu—dan tidak sengaja memukul kepala Sunny.

 

Sunny memegang kepala dengan dua tangan dan menoleh kea rah Gi Eun dengan terkejut. “Kenapa sih kau?”

 

Gi Eun duduk di sampingnya dan merapikan bagian atas rambut Sunny. “Aku minta maaf. Tadi ada… kupikir aku melihat lebah… terbang ke kepalamu. Aku tidak mau lebih itu menyengatmu.”

 

Gi Eun bisa merasakan betapa bodohnya alasan itu dan menunggu temannya mengatakan dia sudah gila—bagaimana bisa ada lebih di dalam perpustakaan? Ia menunggu Sunny meninggalkannya.

 

Tapi wajah bundar Sunny melembut. Ia merengkuh tangan Gi Eun dengan kedua tangannya dan mengguncangnya. “Lebah membuatku ngeri juga,” kata Sunny. “Aku alergi berat. Kau menyelamatkan nyawaku.”

 

Mereka seakan terhubung sangat kuat—hanya saja itu tidak benar, karena Gi Eun merasa dihabisi bayangan-bayangan itu. Jika saja ada cara untuk membuang bayangan itu dari benaknya, untuk emnyingkirkan bayangan tersebut, tanpa menyingkirkan Sunny.

 

Gi Eun merasa waswas terhadap bayangan kelabu muda ini. Selama ini banyangan-bayangan yang tampak sama itu tidak pernah membuatnya merasa tenang, tapi beberapa variasi belakangan ini membuatnya khawatir. Apakah ini berarti lebih banyak jenis bayangan menemukan cara untuk mendatanginya? Atau apakah ia sekarang lebih pandai membedakan bayangan-bayangan itu? Dan bagaimana dengan saat aneh pada jam pelajaran Miss Kim, ketika ia ebnar-benar bisa mencubit bayngan sebelum memasuki sakunya? Ia melakukannya tanpa sadar, dan tak punya alasan untuk mengharapkan kedua jarinya merupakah hewan yang seimbang bagi bayangan, tapi kedua jarinya menang—ia melirik ke arah rak-rak buku—setidaknya untuk sementara.

 

Ia bertanya-tanya apakah ia memulai preseden karena berinteraksi dengan bayangan-bayngan itu. Tetapi, menyebut apa yang ia lakukan terhadap bayangan yang mengambang di atas kepala Sunny sebagai “interaksi”—bahkan Gi Eun sendiri tahu itu hanyalah eufemisme, ungkapan yang diperhalus. Perasaan mual dan dingin timbul diperutnya ketika ia menyadari bahwa apa yang mulai ia lakukan terhadap bayangan itu seperti… melawannya.

 

“Aneh sekali.” Sunny berkata dari lantai. “Seharusnya buku itu ada di sini, di antara The Dictionary of Angels dan buku mengerikan karangan Billy Graham, tentang api dan belerang.” Ia mendongak kea rah Gi Eun. “Tapi buku itu tidak ada.”

 

“Kupikir tadi kau bilang—“

 

“Memang. Ketika aku melihatnya tadi sore, di computer terdata bahwa buku itu berada di rak ini, tapi kita tidak bisa membuka computer selarut ini untuk mengeceknya kagi.”

 

“Tanya pada Chanyeol di sana,” usul Gi Eun. “Mungkin ia menggunakannya untuk menutupi majalah Playboy.”

 

“Menjijikan.” Sunny memukul paha Gi Eun.

 

Gi Eun tahu ia mengucapkan lelucon itu hanya untuk mengurangi kekecewaan. Rasanya menjengkelkan sekali. Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya dalam buku karangan nenek moyang Luhan, tapi setidaknya buku itu akan menceritakan sesuatu yang lebih banyak tentang Luhan. Yang jelas lebih baik daripada tidak sama sekali.

 

“Tunggu di sini,” Sunny berkata, sambil berdiri. “Aku akan bertanya pada Miss Kim apakah ada yang meminjamnya hari ini.”

 

Gi Eun memandangi Sunny berjalan kembali di lorong yang panjang menuju meja depan. Ia tertawa ketika Sunny mempercepat langkah waktu melewati tempat Chanyeol duduk.

 

Sendirian di pojok belakang, Gi Eun menyusuri beberapa buku di rak dengan jari. Ia mengingat dengan cepat murid-murid di Sword & Cross, tapi tidak punya dugaan tentang siapapun yang mungkin meminjam buku agama kuno. Barangkali Miss Kim menggunakannya sebagai acuan untuk sesi pelajaran tambahannya tadi. Gi Eun membayangkan seperti apa perasaan Luhan saat duduk di kelas, mendengarkan petugas perpustakaan membicarakan hal-hal yang mungkin menjadi topic ppembicaraan ringan saat makan malam ketika ia tumbuh dewasa. Gi Eun ingi tahu seperti apa masa kanak-kanak Luhan. Apa yang terjadi pada keluarganya? Apakah di rumah yatim-piatu ia dibesarkan secara religious? Atau apakah masa kecilnya sama seperti Gi Eun, satu-satunya yang dikejarnya cuma nilai bagus dan penghargaan akademis? Gi Eun ingin tahu apakah Luhan pernah membaca buku karangan nenek moyangnya serta apa pendapatnya tentang isinya, dan apakah Luhan sendiri senang menulis. Gi Eun penasaran apa yang Luhan lakukan saat ini di pesta Hyori, kapankah ulang tahunnya, berapakah nomor septunya, dan apakah ia pernah menyia-nyiakan satu detik pun hidupnya untuk memikirkan Gi Eun.

 

Gi Eun menggeleng. Lamunan seperti ini tak ada gunanya, dan Gi Eun ingi segera mengakhirinya. Ia mengambil buku pertama dari rak—buku bersampul kain yang sangat tidak menarik berjudul The Dictionary of Angels—dan memutuskan mengalihkan pikiran dengan membaca sampai Sunny kembali.

 

Ia sudah sampai di bagian malaikat terkutuk bernama Abbadon, yang menyesali tindakannya berpihak pada setan dan terus berkeluh kesah tentang keputusannya yang salah itu—oahem—ketika terdengar suara berdering di atas kepalanya. Gi Eun mendngak dan melihat lampu merah alarm kebakaran menyala.

 

“Bahaya, bahaya,” suara mesin yang datar mengumumkan dari pengeras suara. “Alarm kebakaran telah dinyalakan. Kosongkan gedung.”

 

Gi Eun menyelipkan buku kembali ke rak dan berdiri. Mereka selalu melakukan simulasi itu di Dover. Setelah beberapa kali, latihan tersebut sampai ke titik bahkan para guru tidak mengindhkan latihan kebakaran bulanan itu, jadi para pemadam kebakaran benar-benar datang untuk mematikan alarm kebakaran guna menarik perhatian orang-orang. Gi Eun menyadari para pengelola Sword & Cross juga melakukan simulasi yang sama. Tapi ketika mulai berjalan menuju pintu keluar, ia terkejut ketika mendapati dirinya terbatuk-batuk. Benar-benar ada asap di dalam perpustakaan.

 

“Sunny?” panggilnya, mendengar suaranya sendiri bergema di telinga. Ia tahu suaranya terdengari di balik suara alarm yang melengking.

 

Bau sangit asap segera membawa ingatannya kembali ke malam lautan api bersama Trevor. Gambaran-gambaran kejadian dan suara-suara memenuhi benaknya, hal-hal yang dikuburnya begitu jauh dalam ingatan sehingga bisa dibilang terlupakan. Hingga saat ini.

 

Bagian putih bola mata Trevor yang terbelalak ngeri dengan latar belakang bahaya orange api. Lidah-lidah api ketika jemari cowok itu terbakar satu per satu. Jeritan melengking yang tiada henti berdenging di kepala Gi Eun seperti sirene lama setelah Trevor berhenti berteriak. Dan selama itu, Gi Eun hanya berdiri menyaksikan, tidak bisa berhenti melihat, diam membeku di tengah panas yang membara. Gi Eun bahkan tidak bisa bergerak. Gi Eun tidak mampu berbuat apa pun untuk menolong Trevor. Hingga cowok itu mati.

 

Gi Eun merasa ada yang menyambar pergelangan tangannya dan berbalik, berharap melihat Sunny. Ternyata Chanyeol. Bagian putih bola mata Chanyeol tampak sangat besar, dan pemuda itu juga terbatuk-batuk.

 

“Kita harus keluar dari sini,” Chanyeol berkata, terengah-engah. “Kurasa ada pintu keluar di bagian belakang.”

 

“Bagaimana dengan Sunny, dan Miss Kim?” tanya Gi Eun. Ia merasa lemah dan pusing. Ia menggosok kedua mata. “Mereka ada di sana.” Ketika menunjuk lorong yang menuju jalan masuk, ia melihat asap yang jauh lebih tebal.

 

Sesaat Chanyeol kelihatan ragu-ragu, tapi lalu mengangguk. “Oke,” ia berkata, tetap memegang pergelangan tangan Gi Eun saat mereka membungkuk dan berlari menuju pintu utama perpustakaan. Mereka berbelok ke kanan ketika lorong kelihatan dipenuhi asap tebal, lalu mereka berhadapan dengan dinding yang dipenuhi buku dan sama sekali tidak tahu harus berlari kea man. Mereka berhenti untuk menarik napas. Asap yang sebelumnya menggantung di atas kepala mereka kini turun ke bahu.

 

Bahkan meski menunduk di bawahnya, mereka masih merasa tercekik. Dan mereka hanya bisa melihat beebrapa meter didepan mereka. Sambil memastikan ia masih memegang Chanyeol, Gi Eun berpuar, tiba-tiba tidak yakin dari arah mana mereka datang. Gi Eun mengulurkan tangan ke depan dan merasakan begi panas salah satu rak buku. Ia bahkan tidak bisa membaca hurup di pinggir rak. Apakah mereka berada di bagian D atau O?

 

Tidak ada petunjuk yang bisa menuntun mereka menuju Sunny dan Miss Kim, juga tak ada petunjuk untuk menuntun mereka ke pintu keluar. Gi Eun dilanda rasa panic, membuatnya makin sulit bernapas.

 

“Mereka pasti sudah keluar dari pintu utama!” Chanyeol berseru, terdengar hanya setengah yakin. “Kita harus berbalik!”

 

Gi Eun menggigit bibir. Jika ada yang terjadi pada Sunny…

 

Gi Eun nyaris tidak bisa melihat Chanyeol, yang berdiri di hadapannya. Chanyeol benar, tapi arah mana yang menuju belakang? Gi Eun mengangguk tanpa suara, dan merasakan Chanyeol menarik tangannya.

 

Lama Gi Eun bergerak tanpa tahu kemana mereka menuju, tapi saat mereka berlari, asap mulai terangkat, sedikit demi sedikit, hingga, akhirnya, ia melihat cahaya merah tanda pintu keluar darurat. Gi Eun menghela napas lega ketika Chanyeol meraba gagang pintu dan akhirnya membukanya.

 

Mereka berada di lorong yng belum pernah dilihat Gi Eun. Chanyeol membanting pintu hingga tertutup di belakang mereka. Mereka terengah-engah dan memenuhi paru-paru dengan udara bersih. Udara terasa begitu enak, Gi Eun ingin melahapnya, menghirupnya banyak-banyak, ingin berenang di dalamnya. Ia dan Chanyeol terbatuk-batuk mengeluarkan asap dari paru-paru sampai mereka mulai tertawa, tawa kecut setengah lega. Mereka tertawa hingga Gi Eun menangis, kedua matanya masih meneteskan air mata.

 

Bagaimana ia bisa menghirup udara saat ini bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada Sunny? Jika Sunny tidak berhasil keluar—jika gadis itu pingsan entah dimana di dalam perpustakaan—Gi Eun lagi-lagi gagal menyelamatkan orang yang ia sayangi. Hanya saja kali ini rasanya akan jauh lebih buruk.

 

Ia menyeka air mata dan melihat asap bergulung keluar dari celah di bawah mata. Mereka masih belum aman. Ada pintu lagi di ujung lorong. Melalui panel kaca di pintu itu, Gi Eun bisa melihat dahan pohon yang bergoyang dalam kegelapan malam. Ia menghembuskan napas. Beberapa saat lagi, mereka akan berada di luar, jauh dari asap yang menyesakkan ini.

 

Jika cukup cepat, mereka bisa mengitari bangunan ini ke jalan masuk utama dan melihat apakah Sunny dan Miss Kim berhasil keluar dengan selamat.

 

“Ayo,” Gi Eun berkata pada Chanyeol yang membungkuk, terengah-engah. “Kita harus terus.”

 

Chanyeol menegakkan tubuh, tapi Gi Eun bisa melihat cowok itu kepayahan. Wajahnya merah, kedua matanya liar dan basah. Gi Eun harus menyeretnya menuju pintu.

 

Gi Eun begitu terfokus untuk keluar dari sini sehingga tidak segera menyadari desisan berat yang menyelubungi mereka, menenggelamkan suara alarm.

 

Gi Eun mendongak dan melihat pusaran besar bayangan-bayangan. Warnanya dari kelabu sampai hitam pekat. Seharusnya Gi Eun hanya bisa melihat sampai langit-langit ruangan, tapi bayangan-bayangan itu entah bagaimana seakan berada lebih tinggi. Sampai ke langit aneh yang tersembunyi. Bayangan-bayangan tersebut terjalin pada satu sama lain, tapi juga tetap terlihat jelas bedanya.

 

Di tengan bayangan-bayangan itu ada bayngan kelabu muda yang tadi dilihat Gi Eun. Bayangan itu tidak berbentuk seperti jarum lagi, tapi kini kelihatan nyaris seperti nyala korek api. Bayangan tersebut bergerak naik-turun di atas mereka. Apakah Gi Eun tadi benar-benar menangkis bayangan gelap yang tak berbentuk itu ketika bayangan tersebut akan menyentuh kepala Sunny? Ingatan itu membuat telapak tangannya gatal dan jemari kukunya mengerut.

 

Chanyeol mulai memukul-mukul dinding, seakan lorong menjepit mereka. Gi Eun tahu mereka masih jauh dari pintu. Ia menyambar tangan Chanyeol, tapi pergelangan tangan mereka yang berkeringat membuat genggamannya terlepas. Ia mencengkeram jemarinya erat-erat di pergelangan tangan Chanyeol. Cowok itu sepucat hantu, berjongkok di lantai, nyaris meringkuk. Erangan ketakutan keluar dari bibirnya.

 

Karena asap seakan memenuhi lorong?

 

Atau karena ia bisa merasakan bayangan-bayangan itu juga?

 

Tidak mungkin.

 

Tetapi, wajah Chanyeol meringis dan tampak ngeri. Terlebih lagi setelah sekarang bayangan-bayangan itu berada di atas kepala.

 

“Gi Eun?” Suara Chanyeol bergetar.

 

Sekelompok bayangan lain muncul tepat di depan jalan mereka. Selimut hitam gelap pekat terbentang sepanjang dinding dan membuat Gi Eun tidak bisa melihat pintu. Ia menoleh kea rah Chanyeol—apakah pemuda itu bisa melihatnya?

 

“Lari!” Gi Eun berteriak.

 

Apakah Gi Eun bisa berlari? Wajahnya pucat pasi dan kelopak matanya tertutup rapat. Ia di ambang kehilangan kesadaran. Tapi tiba-tiba Chanyeol seakan mengangkat Gi Eun

 

Atau sesuatu mengangkat mereka berdua.

 

“Apa-apaan ini?” Chanyeol menjerit.

 

Kedua kaki mereka sesaat menyentuh lantai. Rasanya seperti menaiki ombak di lautan, puncaknya yang tipis mengangkat Gi Eun makin tinggi, memenuhi tubuhnya dengan udara. Gi Eun tidak tahu kea rah mana ia menuju—ia bahkan tidak bisa melihat di mana pintu berada, hanya ada bayangan-bayangan pekat yang salin terkait di sekelilingnya. Melayang tapi tidak menyentuhnya. Seharusnya ia ketakutan, tapi ternyata tidak. Entah bagaimana ia merasa terlindungi dari bayangan-bayangan itu, seperti ada yang menyelubunginya—sesuatu yang cair tapi tak bisa ditembus. Sesuatu yang ajaibnya terasa tidak asing. Sesuatu yang kuat, tapi juga lembut.

 

Nyaris terlalu cepat, ia dan Chanyeol tiba di depan pintu. Kedua kaki Gi Eun menyentuh lantai lagi, dan ia mendorong tubuh ke gagang pintu darurat.

 

Lalu ia tercekat. Tercekik. Megap-megap. Tersedak.

 

Suara alarm lain berdering. Tapi kedengarannya jauh sekali.

 

Angin menyapu lehernya. Mereka sudah di luar! Berdiri di birai kecil. Anak-anak tangga meniti ke bawah menuju lapangan, dan walaupun segala hal di dalam kepalanya terasa berkabut dan dipenuhi asap, Gi Eun merasa bisa mendengar suara-suara entah di mana di dekat sini.

 

Gi Eun berbalik untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi. Bagaimana ia dan Chanyeol bisa melewati bayangan yang tebal, hitam, dan tidak bisa ditembus itu? Dan apakah yang menyelamatkan mereka. Gi Eun merasakan sesuatu itu sudah lenyap.

 

Ia nyaris ingin kembali dan mencarinya.

 

Tapi lorong tadi gelap, matanya masih berair, dan ia tidak bisa melihat sosok-sosok  bayangan yang berputar-putar itu lagi. Mungkin bayangan-bayangan tersebut telah pergi.

 

Lalu ada sambaran cahaya bergerigi, kelihatan seperti baying pohon dengan cabang-cabangnya—bukan, seperti tubuh dengan tungkai-tungkai yang panjang dan lebar. Berkas cahaya berdenyut-denyut berwarna hampir ungu melayang di atas mereka. Konyolnya, Gi Eun jadi teringat pada Luhan. Ia melihat hal yang tidak-tidak. Ia menarik napas dalam dan mencoba mengerjapkan air mata dari matanya. Tapi cahaya itu masih berada di sana. Ia lebih merasakan daripada mendengar cahaya itu memanggilnya, menenangkannya, lagu pengantar tidur di tengah medan perang.

 

Sehingga ia tidak melihat bayangan itu datang.

 

Bayangan tersebut menghantamkan tubuhnya dan Chanyeol, melepaskan pegangan tangan mereka, dan melemparkan Gi Eun ke udara. Ia jatuh terpuruk di ujung anak tangga. Dengus kesakitan keluar dari bibirnya.

 

Cukup lama kepalanya berdenyut. Ia belum pernah merasakan sakit yang begitu parah dan membakar seperti ini. Ia menjerit ke langit malam, kea rah percikan cahaya dari bayangan di atas kepalanya.

 

Tapi lalu segalanya terasa terlalu berat dan Gi Eun menyerah memejamkan mata.

To Be Continue

 

 

Buat yang udah baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

3 pemikiran pada “Fallen (Chapter 10B)

  1. Ohh ya ampun chapter ini tegang bgt.. Menarik…
    Kak beneran novel ini udah dijual lagi di toko buku??

    Uhhhh penasaran bngt… Dan aku harus nunggu chapter selanjutnya lagi… Jangan lama2 ya kak hoho
    Hwaiting!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s