Finally, It’s You (Chapter 7)

Finnaly, It’s You (I do Love You sequel) chapter 6

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

 

Lee Jihyun’s POV

“Tempat ini adalah tempat yang selalu kudatangi dengan Luhan dulu. Dan melihat tempat ini lagi, rasanya semua kenangan yang sudah kulupakan datang kembali.” ucapku setelah puas menangis di pelukannya. Kini kami duduk di kursi yang disediakan oleh mall. “Mianhae. Aku sudah merusak hari ulang tahunmu.”

Gwenchana.” jawabnya singkat sambil tersenyum tulus. Entah apa yang salah dengan kepalaku, tapi aku suka saat dia memelukku. Aku merasa bahwa dia akan selalu ada untuk melindu-ngiku. Aku menyukai perasaan nyaman itu. Atau mungkin aku menyukainya?

“Saat aku sedih dan menangis, entah bagaimana caranya kau selalu berada di dekatku. Dan kau selalu berhasil menghiburku. Apa kau tidak merasa aneh?” tanyaku padanya, mengingat saat-saat dulu, setiap kali aku menangis, entah bagaimana caranya dia selalu melihatku secara kebetulan.

Anio. Aku memang harus berada di sebelahmu saat kau menangis.” Aku mengernyitkan dahiku saat mendengar jawabannya yang terdengar pasti.

“Kenapa?” tanyaku dengan penasaran. Apa dia berpikir aku seorang yeoja yang lemah sehingga aku selalu membutuhkan pundaknya untuk menangis? Tapi kalau itu alasannya, kurasa dia benar..

“Karena Tuhan tahu setiap tetes air matamu, kesedihanmu. Dia mengatakan padaku, dia berkata kalau aku harus selalu berada di sisimu. Karena itu, jangan sedih dan menangis sendirian lagi, aku ada di sampingmu mulai saat ini.” Aku tertegun mendengarnya. Apa ini sebuah pernyataan? Dan kenapa jantungku berdebar kencang?

“Saat melihatmu menangis, aku jadi tahu apa yang aneh dengan diriku. Saat aku memeluk-mu, aku semakin yakin dengan perasaanku. Saat bersamamu, aku tak ingin mengingat umurku. Aku selalu ingin jadi orang yang melindungimu. Aku ingin menjadi seorang ‘oppa’ untukmu.” Aku tertegun mendengarnya. Dia terlihat benar-benar serius mengatakannya.

“Namja itu, kau mau melupakannya?” tanyanya lagi, membuatku menatapnya tak mengerti. “Aku akan membantumu. Ayo kita hapuskan ingatanmu tentang namja itu!” ucap Sehun dengan tersenyum, membuatku lagi-lagi terdiam. Aku benar-benar tak dapat berkata apa-apa saat bersama-nya. Dia selalu membuatku kehilangan kata-kata.

Tapi, saat bersamanya, aku selalu tersenyum..

+++

Oh Sehun’s  POV

Aku menatap yeoja yang berdiri dengan rapuh di sebelahku. Tangannya yang kugenggam erat berkeringat, kurasa dia benar-benar gugup. Aku tahu,melupakan seseorang itu tidak mudah. Apalagi kalau orang itu pergi di saat-saat yang paling penting seperti namja yang dicintainya itu. Aku berjalan menuju restoran sushi kesukaanku yang ternyata merupakan tempat kenangan Jihyun bersama namja itu. Dan aku duduk di tempat yang Jihyun pilih. Dia bilang, itu tempat yang selalu didudukinya bersama Luhan.

“Kau terlihat gugup..” ucapku, menatapnya yang sedang sibuk memandangi kursi di sebelah-ku dengan tatapan kosong. “Luhan selalu duduk di tempat itu.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kursi di sebelahku. Aku tahu ini konyol, tapi.. aku merasa sedikit kesal. “Beberapa hari lalu, aku berada di tempat ini secara tak sengaja. Aku duduk di sini juga, dan aku berakhir pulang dengan sangat menyedihkan. Tapi saat ini aku tak menangis. Dan aku merasa lebih tenang.”

“Mulai hari ini, kau harus selalu seperti itu. Jangan pernah merasa sedih untuk sesuatu yang sudah pergi.Kalau dia mencintaimu, dia takkan pergi.” ucapku padanya, membuat dia akhirnya menoleh.

“Dia mencintaiku.” Aku terdiam mendengar wajahnya yang tampak tak suka dengan perka-taanku. Aku menyerah. Dia memang mencintai Jihyun. Aku hanya tak suka dengan kenyataan itu.

“Dia mencintaimu, tapi dia bukan untukmu. Kalau dia memang tercipta untukmu, dia pasti takkan pergi. Kau tahu sendiri, kan..” Jihyun mengangguk pelan. “Lalu apa yang harus disedihkan? Kamu hanya harus melupakannya.”

“Tak semudah itu.” ucap Jihyun lagi, membuatku mengangguk. “Aku tahu. Tapi kadang, kita suka melebih-lebihkan keadaan. Kau bilang ‘tak semudah itu’, sebentar lagi kau akan bilang ‘rasanya tak mungkin untuk melupakannya’ sehingga pada akhirnya kau akan terus seperti itu. Toh pada akhirnya kita tetap harus melupakannya untuk melanjutkan hidup.”

“Kadang-kadang kau tak tampak seperti 18 tahun, Sehunnie.” ucap Jihyun sambil menatapku dengan kagum, aku hanya bisa tersenyum.

“Untuk kesedihan dan penderitaan, aku seribu tahun lebih tua daripadamu.” seruku. Dia hanya tersenyum mendengarnya.

“Aku benar-benar kagum kepadamu!” Aku menatapnya bingung. “Entah bagaimana caranya, aku selalu merasa lebih kuat saat kau ada di sebelahku. Padahal beberapa hari lalu aku  masih menangis saat berada di sini, kini saat kau yang pergi bersamaku, rasanya bebanku jauh lebih ringan. Aku tak takut lagi berada di tempat ini, meski aku masih merasa sedikit aneh.”

“Tak perlu terburu-buru, melupakan seseorang bukan seperti membuat mie instan.” ucapku dengan asal, membuat Jihyun tertawa kecil. “Eh, tadi waktu kau menangis, memangnya apa yang kau lihat?” tanyaku lagi, karena entah bagaimana dia menangis di tengah-tengah mall tanpa alasan jelas. Saat aku memeluknya tadi, aku tahu kami sudah menjadi pusat perhatian, karena tempat itu merupakan pintu masuk dimana semua orang datang.

“Aku pernah membeli gantungan ponsel untuk pasangan di toko itu, dan ternyata gantungan itu masih dijual di sana. Saat melihatnya, aku jadi mengingat dia.” Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Tiba-tiba ada suatu gagasan yang datang di kepalaku, lalu aku segera bangkit dari tempat dudukku setelah kami selesai makan.

“Ayo kita beli gantungan ponsel!”

+++

Byun Baekhyun’s POV

Aku menatap restoran cepat saji yang ada di depanku, lalu aku masuk ke dalamnya. Aku melihat yeoja itu sedang duduk sendirian di sofa. Aku menghampirinya. “Oh, kau sudah datang.” ucapnya dengan kaget saat aku secara tiba-tiba duduk di sofayang berada di depannya. Aku tersenyum padanya, meski aku masih merasa sedikit canggung.

Yeoja ini benar-benar berubah. Dulu dia terlihat sangat kekanakan, tapi kini penampilannya benar-benar seperti wanita dewasa, dan dia terlihat cantik. Kurasa banyak namja yang menyukainya. “Bagaimana kabarmu?” tanyaku padanya sambil tersenyum canggung, dia menatapku sambil tersenyum tak kalah canggung denganku.

“Aku baik-baik saja. Harusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan wajah penasaran. “Aku juga baik-baik saja. Memang kau pikir apa yang terjadi padaku selama ini?” tanyaku padanya dengan penasaran.

“Anio. Karena selama ini aku selalu menceritakan tentang keadaanku padamu, kurasa kau tak perlu bertanya lagi. Tapi kau jarang bercerita padaku! Aku penasaran dengan hubunganmu dengan-nya, tahu!” Aku tersenyum mendengarnya. Hubunganku dengan Jihyun bukanlah sebuah hubungan yang penuh dengan kisah cinta romantis seperti di film-film.

“Aku akan bertunangan dengannya. Tapi aku tak berpikir dia sudah mencintaiku lagi. Jujur saja, kadang aku membohongi diriku sendiri dengan berpikir dia mencintaiku. Kurasa dia merasa bersalah padaku kalau dia harus berkata bahwa dia tak ingin bertunangan denganku.” ucapku terus terang pada Sera.

“Hanya dengan sekali lihat aku sudah dapat mengetahuinya. Jihyun belum melupakan Luhan, kurasa dia masih menyesal akan apa yang terjadi dengan Luhan. Mungkin bukan karena dia sangat menccintai Luhan, mungkin dia hanya berpikir bahwa apa yang terjadi dengan Luhan itu semua salahnya. Dia memang orang seperti itu, kau tahu tentang itu, kan?” Aku mengangguk. Aku tahu hati Jihyun, aku mengenal dia. Dia memang orang seperti itu, dan aku tak dapat menyalahkannya. Luhan pergi saat berlari menemuinya.

“Tapi, Baekkie.. Aku memohon satu hal padamu.” Aku menatap Sera lagi. “Jika suatu saat nanti, Jihyun menyukai seseorang dan bukan dirimu, biarkan dia pergi.” Aku menatapnya tak me-ngerti, apa maksudnya? Apa Jihyun menyukai seseorang yang dia tak tahu?

“Bukan berarti Jihyun sedang menyukai seseorang saat ini. Tapi, aku mengerti perasaannya. Dia tak mungkin mengatakannya padamu saat dia menyukai seseorang, dan mungkin dia akan meninggalkan orang itu. Karena dia juga merasa bersalah padamu yang selalu setia bersamanya. Maka itu, kamu harus merelakan dia. Kamu orang yang paling mengerti dia, kan?” Aku terdiam mendengarnya. Aku mengerti. Aku sangat mengerti.

Tapi sebisa mungkin aku berusaha membuat diriku pura-pura tak mengetahuinya..

+++

Lee Jihyun’s POV

Aku menatap gantungan yang mencuat keluar dari ponsel Sehun sambil menahan tawa. Di sebelahku, Sehun menatapku dengan kesal. Sejak tadi aku tertawa terbahak-bahak seakan dia adalah sebuah lelucon paling lucu di dunia, dan dia pasti kesal. Tapi, melihat seseorang sepertinya berjalan kemana-mana dengan sebuah gantungan teddy bear besar di ponselnya, itu benar-benar sesuatu yang patut ditertawakan.

“Kurasa kau sudah tertawa terlalu banyak.” ucap Sehun dengan wajah kesal. Aku berusaha menahan tawaku sambil menatapnya. “Mianhae.” ucapku, lalu sebisa mungkin menghentikan tawaku.

“Apa saat Luhan menggunakannya kau menertawakannya seperti ini?” tanya Sehun dengan wajah penasaran, aku menggeleng. “Kau tahu, gantungan yang kami beli itu adalah hadiah untuk pasangan lain.” jawabku dengan santai, membuat Sehun terlihat kaget.

“Jadi kau menangis untuk sesuatu yang kalian beli sebagai hadiah dan bukan untuk kalian berdua?” seru Sehun dengan suara tinggi, aku mengangguk dengan bingung, kenapa dia harus se-histeris itu. Lihatlah, kini kita berdua menjadi pusat perhatian lagi di halte bus, padahal tadi mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin karena ini sudah malam, wajah Sehun tak begitu jelas.

“Dan aku masih tak mengerti kenapa kita berdua harus memakai gantungan couple saat ini.” gumamku pelan, ini memang aneh. Kita bahkan bukan sebuah pasangan tapi kita sudah memakai gantungan couple. Disebelahku, Sehun mengangguk-angguk.

“Karena kupikir kau dan namja itu memakai ini, tapi ternyata tidak. Jinjja. Padahal ini salah satu program untuk melupakannya.” Sehun tampak kecewa, aku jadi merasa bersalah. Dia pasti sangat bersemangat membantuku melupakan Luhan, tapi dia benar-benar lucu saat ini.

“Tapi, gomawo.” Dia menoleh kepadaku, lalu tersenyum. “Kalau Luhan yang menggunakan gantungan itu, kurasa akan sangat cocok dengan dirinya. Kau tahu, dia sama sekali berbeda denganmu. Dia sangat kekanakan, dan tampak feminim. Tapi aku, aku mengetahui hatinya adalah hati seorang namja. Saat dia mencintai seorang yeoja, tak ada yang tak mungkin baginya.”

“Luhan, pasti benar-benar beruntung. Dicintai seperti itu, dia pasti sangat bahagia, kan?” Aku menoleh, dan aku melihat Sehun sedang melihat ke langit malam dengan senyuman kecil. Aku ikut menatap langit malam itu, ada sebuah cahaya terang di sana.

“Tidak juga. Selama dia masih hidup, dialah yang mencintaiku setengah mati. Aku memang terlalu bodoh untuk menyadarinya.”

“Omong-omong, tadi kau berbicara mengenai Tuhan yang berbicara padamu. Bagaimana caranya?” tanyaku dengan penasaran. Sehun malah menatapku dengan pandangan tak percaya.

“Kau benar-benar bingung akan hal seperti itu?” Dia malah balik bertanya padaku. Aku hanya mengangguk. “Itu kan kata-kata untuk menghiburmu, babo! Apa kau benar-benar seorang guru?” Aku hanya terdiam mendengar gerutuannya. Mana kutahu soal begitu?! Itu kan ucapannya, bukan ucapanku. Mana bisa aku mengerti maksud dari ucapan yang bukan milikku?

“Soal namja itu, apa yang membuatmu menyukainya?” Aku menatap Sehun, bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.

“Kenapa, yah? Aku juga tak tahu, secara tiba-tiba aku menyukainya. Tapi, mungkin rasa suka itu sudah ada sejak dulu, mungkin aku baru menyadarinya saat aku melepaskan tangannya.” jawabku. Sehun menatapku tak puas.

“Aku tanya, apa yang membuatmu menyukainya?” ulang Sehun sekali lagi. “Yah, rasa sukanya padaku, ketulusannya, aku merasa tersentuh dengan semuanya. Semua yang dia lakukan. Itu saja.”

“Dia orang yang seperti apa?” tanya Sehun lagi, membuatku mengernyitkan dahi. Kenapa sekarang Sehun tampak sangat peduli dengannya?

“Yah, pokoknya dia sangat berbeda denganmu, intinya.” jawabku dengan asal-asalan. Dan tak mendapat balasan. Sehun hanya terdiam sampai bus datang.

Aku langsung berdiri melihat pintu bus terbuka, berusaha secepatnya masuk ke dalam bus terakhir ini. Tapi, Sehun menarik tanganku secara tiba-tiba, membuatku kaget. Saat aku menoleh ke arahnya, dia hanya menatapku datar. Aku berusaha menarik tanganku, tapi dia masih terdiam dengan pergelangan tanganku digenggamannya. Dan bus pun pergi. Bus terakhir itu sudah berjalan.

“Ya! Apa kau bodoh?! Sekarang apa yang akan kita lakukan? Bus terakhir sudah pergi, jinjja!” gerutuku kesal sambil menarik tanganku dari genggaman Sehun, tapi Sehun tak berniat melepaskannya. Dia masih menatapku lurus, lama-lama membuatku sedikit gugup karenanya.

“Ada apa denganmu, sih?” tanyaku dengan suara tak sekencang sebelumnya.

“Seperti yang kubilang tadi, aku akan membantumu. Maksudku, aku ingin kamu melakukannya. Melupakan namja itu. Lalu..” ucap Sehun pelan sambil terus menatapku lurus, aku hanya terdiam menunggu dia selesai berbicara. Sesungguhnya aku sendiri bingung, tak mengerti kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Tapi dia hanya terdiam dan aku tak ada niat untuk berbicara. Aku membiarkan waktu berjalan dengan pergelangan tanganku digenggamnya semakin kencang. Lalu dia menunduk secara tiba-tiba sambil menunjuk bagian dadaku.

“Lalu.. Aku ingin aku ada di sana sebagai penggantinya.” Aku rasa aku hampir mati tersedak mendengar ucapannya. Aku hanya terdiam, tertegun. Aku tahu saat ini mataku benar-benar terbuka lebar mendengarnya. Dia mengatakannya dengan sangat pelan, tapi aku dapat mendengarnya. Tak ada siapapun di sini selain kita berdua. Dan suasana ini membuatku tak nyaman. Hatiku berdegup cepat, dan sekali  lagi kukatakan, itu sangat tidak nyaman.

Dia mengangkat kepalanya setelah beberapa saat. Merah. Wajahnya memerah, tapi aku tahu wajahku kini juga tak beda jauh darinya. Aku tak menyangka itulah yang akan dia ucapkan. Dan kata-kata itu begitu indah. Begitu menyejukkan, begitu meneduhkan. Dan begitu menyenangkan.

“Apakah kau bersedia? Dengan orang sepertiku yang berada di sana?” ucapnya lagi, masih dengan suara pelan dan agak bergetar. Otakku sedang tak bekerja saat ini, aku tak mengerti arti ucapannya. Sungguh, aku tak pura-pura. Ini terkesan seperti ingin menikah saja.

“Berada di mana?” tanyaku dengan suara tak kalah pelannya, bahkan terdengar seperti bisikan. Kerongkonganku rasanya seperti tercekat.

“Di sana.” ucap Sehun lagi sambil menatap dadaku lurus. “Di hatimu, yang paling dalam.” lanjutnya mempertegas jawabannya. Di saat seperti ini, aku harus merespon seperti apa? Aku sendiri tak mengerti perasaanku, tak juga mengerti perasaannya. Saat ini Sehun mengatakan seperti itu, itu namanya menyatakan cinta, kan? Apa aku dapat percaya dengan kata-kata seorang anak berumur 18 tahun? Muridku?

“Aku.. tak mengerti.” jawabku setelah diam sangat lama. Hanya ini yang dapat kukatakan. Karena semuanya memang belum jelas untukku. Aku masih menunduk, tak berani menatap Sehun.

“Bagian mananya?” tanya Sehun lagi, tampaknya dia tak puas dengan jawabanku. Dan aku hanya terdiam. Bagian mananya? Aku sendiri tak tahu bagian mana lagi yang tak kumengerti. Aku mengerti semua perkataannya tadi. “Yang kubingungkan bukan tentangmu. Aku.”

Dan aku merasa genggaman di tanganku lepas. Dia melepaskannya. Dan dia jalan dengan diam, begitu saja. Aku pun mengikutinya dalam diam, menjaga jarak beberapa meter di belakangnya. Tak ingin terlalu dekat, tak ingin terlalu jauh. Begitu saja, terus berjalan tanpa berbicara apapun. Tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya. Aku yang sedari tadi memerhatikan langkahnya, langsung ikut berhenti. Dia hanya terdiam, aku pun menunggunya. Aku tahu dia ingin mengucapkan sesuatu.

“Aku takkan memaksamu, tapi juga takkan menyerah semudah itu. Ini juga masih belum jelas bagiku, bukan hanya tak jelas untukmu. Aku juga tak mengerti. Bagiku, kamu berbeda dari yang lainnya, itu saja. Apa aku sungguh-sungguh menyukaimu atau hanya sementara saja, aku juga sedang mencari jawabannya.”

 “Ya, Oh Sehun..” seruku dengan pelan, tapi aku yakin dia mendengarnya. “Kau tahu, kalau bersama denganku, pasti sulit untukmu. Aku ini gurumu, kau ingat kan?”

“Ya, Lee Jihyun..” balasnya. “Kau tahu, kalau bersama denganku, pasti sulit juga untukmu. Tapi bagiku, cinta tak sejalan dengan umur. Bahkan jika aku jatuh cinta dengan yeoja yang lebih tua 30 tahun dariku, aku masih ingin bersama dengannya. Apalagi denganmu.”

“Hubungan seperti ini serius bagiku.” jawabku lagi. Aku benar-benar ingin meyakinkan perasaanku saat ini juga, meski Sehun sendiri mengatakan tak apa-apa untuk menjawabnya nanti. Ini untuk diriku sendiri, bukan untuk dirinya.

“Kau pikir aku tak serius denganmu?” jawab Sehun lagi. Aku terdiam sejenak, memikirkan apalagi yang harus kuyakinkan. Di usiaku yang tak muda lagi, aku memiliki banyak hal untuk dipikirkan. Cinta bukan satu-satunya dasar dari sebuah hubungan, kan? Masih ada banyak hal lainnya yang perlu dipertimbangkan juga.

“Saat aku mengatakan hal seperti itu padamu tadi, aku sungguh-sungguh diluar kendali. Begitu menyadarinya, kau sudah mendengar segalanya. Aku tak mengerti perasaan ini, tapi apa yang kuucapkan tadi, itulah yang ada dalam hatiku. Apa itu bisa dikatakan ‘suka’?” Aku mendengar perkataannya dengan serius. Setiap kata yang diucapkannya, masuk tepat ke dalam hatiku.

Apa itu bisa dikatakan ‘suka’?

Itu pertanyaanku.

“Aku.. menyukaimu.”

+++

BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s