Waiting for You (Chapter 3)

Waiting For You Chapter 3

 

Author : @frissilia12

Cast     : – You/OC

– Xi Luhan

Supporting cast : Oh Sehun & Park Hanna (OC)

Genre  : Romance, Little Sad

Ratting : G

Length : Chapter

Summary : “Kau ingat janji kita dimasa kecil?”

Happy and enjoy reading<3

                Perview

PRANG!    Kamu menjatuhkan gelas es krimmu dan itu cukup membuat kamu menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kedai tersebut, tak terkecuali Luhan dan gadis tersebut. Kamu sangat malu dan tanpa seizinmu air mata itu kembali lagi. Dengan tergesa-gesa kamu keluar dari kedai tersebut dan diikuti Hanna dibelakangmu.

 

‘Apa kau melihatnya [Your name]-ah? Mianhae….’

***

Cinta

Pernahkah kalian merasakan ketika cinta itu datang di kehidupan kalian?

Bahagia? Tentu.

Sedih? Kecewa? Tentu.

Ketika lonceng cinta didentangkan untukku, seluruh jiwa raga ini bagaikan puing-puing reruntuhan

Ku berlari berharap kau mengejar, ku berhenti berharap kau memelukku

Itu hanya mimpi. Kau tak mungkin melakukannya

Karenaku sadar ketika cinta ini hadir, kekecewaanlah yang tengah menanti

Lalu apakah masih pantas kata cinta itu untukmu?

 

“[Your Name]-ah sarapan untukmu sudah siap. Cepat turun!” kamu merenggangkan otot-otot jari tanganmu yang sejak tadi berkutik dengan rangkaian huruf diatas laptop kesayanganmu. “Ne eomma.” Sahutmu sembari melangkah keluar dari kamar.

 

Di meja makan eomma telah menyiapkan roti isi selai dan segelas susu putih kesukaanmu. “Eomma akan pergi ke Jerman untuk beberapa hari ini. Nanti akan eomma transfer uang jajanmu selama eomma pergi.” Ujar eomma. “Ne.” Jawabmu. Sudah biasa kamu ditinggalkannya. Eomma selalu pergi meninggalkanmu sendirian karena beliau harus mengurusi beberapa bisnisnya diluar negeri.

 

Setelah kamu selesai sarapan, kamu lekas bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan sehabis itu kamu berangkat ke kampus. Tak lupa kamu mengambil satu benda yang berkenan di masa lalumu bersamanya.

 

Ketika kamu berjalan hendak ke halte bus, kamu berhenti di salah satu rumah yang tak jauh dari rumahmu. Rumah itu sepi dan kosong, jelas saja sudah belasan tahun ini tak ada penghuninya. Kamu pandangi rumah itu dengan sendu, berharap secercah harapan datang dari rumah itu. Kamu hembuskan nafasmu dengan gusar, bagaikan manusia yang frustasi. Kamu arahkan pandanganmu menjauh dari rumah itu dan melanjutkan langkakhmu kembali.

 

Selama perjalan hatimu terus bertanya-tanya ‘akankah pria itu kembali kepelukanmu lagi seperti dulu?’ Tapi otakmu selalu menjawab ‘tidak. Lupakan dia.’ Hatimu terus bergulat dengan otakmu dan kamu cukup stress dengan hal itu. “ck! Pabo kau [Your Name]!” kamu berdecak kesal sebelum akhirnya kamu menaiki bus yang akan mengantarmu ke tempat yang kamu tuju.

***

“[Your Name] mengapa kau baru datang, eoh?” Tanya Hanna ketika kamu baru masuk kelas.

 

“Mian hehe.” Jawabmu. “Memangnya ada apa?” Lanjutmu.

 

“Emm… Tadi aku lihat Xi Luhan pria incaranmu itu jalan ke sini bersama gadis yang waktu itu di kedai.”

 

“Mwo?!” Matamu cukup membulat ketika mendengar uraian cerita dari Hanna, sahabatmu.

 

“memangnya ad-“ Secara sepihak kau potong ucapan Hanna.

 

“Apakah aku harus menyerah?” Ujarmu. Hening kemudian, Hanna tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia ingin kamu menyerah karena dia kasihan padamu tetapi disatu sisi dia ingin kamu tidak menyerah karena dia ingin kamu bahagia. Tapi kebahagian apa yang akan kamu dapat kalau kamu tetap bertahan?

 

“Jangan. Teruskanlah.” Ujar Hanna mantap dengan seulas senyum manis di pipinya.

 

***

Kamu kini sedang berjalan dikoridor kampus untuk ke ruang kerja guru karena ada salah satu dosen yang memanggilmu. Tiba-tiba bola matamu menangkap sosok pria yang tengah asyik bersanda gurau dengan seorang gadis cantik yang tak asing bagimu. Hatimu sakit seketika saat melihatnya. Ingin rasanya kamu menghampiri mereka dan berkata kepada gadis itu bahwa kamu wanitanya, tapi apa daya itu hanyalah angan yang tak mungkin.

 

Kamu lanjutkan kembali langkahmu ke ruang kerja guru sesuai dengan tujuanmu. “Permisi pak. Bapak memanggil saya?” Ujarmu dengan sopan kepada dosen tersebut. “Ne. Nona [Your name] apakah anda dapat membantu saya? Saya cukup bingung harus menyerahkan tugas ini kesiapa lagi.” Ujar dosen tersebut.

 

“Memangnya apa tugasnya?” Tanyamu sedikit penasaran.

***

Kamu berjalan dengan guntai disepanjang koridor. Kamu tidak yakin apakah kamu bisa dengan apa yang ditugaskan oleh dosen Lee. Kini entah mengapa rasanya perasaanmu takut sekali. Kamu bingung harus melakukan apa.  Tiba-tiba pria yang membuat perhatianmu tertuju padanya untuk beberapa hari ini berada dihadapanmu. Seorang diri pula.

 

Sontak kamu hentikan langkah dan memandanginya. Tak disangkah pria itu sadar keberadaanmu yang tengah memerhatikannya. Pria itu menghampirimu dan lagi-lagi kamu terdiam bagaikan orang yang membeku. “Hai.” Sapa Xi Luhan. Kamu tak bergeming dengan sapaannya. Luhan mencoba melambai-lambaikkan tangannya dihadapanmu mencoba untuk membuatmu sadar. “Eoh, ah maaf.” Usahanya membuahkan hasil, kamu tersadar dengan lamunan singkatmu.

 

Kamu mencoba untuk bersikap setenang mungkin. “Mau kemana?” Tanyamu kepada Luhan. Kini jantungmu berdebar hebat, tak kamu sangka seorang Xi Luhan menyapamu. “Tadinya aku mau ke perpustakaan tetapi tidak jadi. Lalu aku berdiam disana dan kemudian aku melihatmu yang tengah memerhatikanku. Hahaha mian.” Ujar Luhan. Pipimu sukses memerah dengan ucapan Luhan. Kamu malu karena tertangkap basah tengah memerhatikannya. Kamu menundukkan wajahmu agar tidak terlihat semburat merah diwajahmu oleh Luhan.”

 

“Sudahlah tak apa. Kau mau kemana?” Tanya Luhan dengan senyuman manisnya. “emm… menemuimu.” Ujarmu pelan. “Untuk apa?” tak kamu sangka Luhan kali ini perlakuannya baik sekali dan kamu benar-benar speechless dengannya. Kamu hembuskan nafasmu perlahan dan kamu mencoba untuk mengambil sesuatu didalam tasmu.

 

“Pertama, apakah kau ingat ini?” Ujarmu sembari menyerahkan gelang persahabatan dihadapan Luhan. “Memang usia kita masih sangat muda, tapi itu semua sudah cukup bagiku untuk bisa memiliki kenangan dan benda indah darimu.” Lanjutmu. Luhan sedikit tampak berfikir dengan benda yang ada ditanganmu.

 

“Maaf tapi aku rasa aku tidak memiliki benda itu.” Ujar Luhan. JLEB! Seketika lubang dihatimu kembali terbuka lagi. Hal inilah yang sudah kamu pikirkan bahwa akan terjadi. “Lalu apa yang kedua?” Tanya Luhan. Kamu terdiam mencoba untuk menenangkan dirimu.

 

“Tadi aku dipanggil dosen Lee, katanya…” Kamu tak berani mengatakannya, takut-takut Luhan akan menolaknya. Kamu pejamkan matamu sebentar dan mencoba berkata tanpa melihat mata Luhan. “Kamu diminta untuk. Tidak. Aku diminta untuk mengajarimu pelajarannya lebih lanjut karena kata beliau kau tidak terlalu memahami pelajarannya.” Kamu sangat lega sekali. Kamu tidak berharap baanyak kalau Luhan akan mengiyakan permintaan dari dosen Lee.

 

“Emm… kalau itu demi nilaiku. Aku mau.”

 

Hatimu kini melayang-layang bebas diudara, entahlah harus dideskripsikan bagaimana perasaanmu kali ini. Kamu tidak menyangka kalau Luhan akan menerima ajakanmu. Tapi sayang, kebahagianmu harus terhenti dengan datangnya gadis yang kini menghampiri Luhan.

 

“Chagiya ayo kita pulang.” Ujar gadis tersebut. ‘Chagiya? Apa aku tidak salah dengar? Apa dia saja yang salah mengucap? Tidak mungkin’ Protes batinmu. “[Your Name] aku pulang dulu. Anyeong.”

 

Kebahagiaan yang tadi kamu rasakan musnah sudah, hanya karena satu kata yang sangat aneh bagimu. Chagiya. Perlahan air matamu menetes tanpa seizinmu. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang lembut mencoba untuk menghapus air mata yang mengalir dipipimu. Kamu dongakkan wajahmu untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.

 

“Oh Sehun.” Ujarmu setengah sesegukkan.

 

“Sssttt… bisakah kau tidak menangis untuk pria itu lagi?” kamu terdiam tak menjawaab sepatah katapun dari Oh Sehun. Sekarang dia menarik tanganmu menuju parkiran dan mengantarkanmu kesuatu tempat. Sebuah taman bermain yang indah dan sejuk. Yap kamu dibawa oleh Oh Sehun ke tempat itu.

 

Kamu duduk dibawah pohon yang besar dengan beralaskan rumput hijau yang subur, dengan tulusnya Oh Sehun meminjamkan bahunya untukmu dan disanalah kamu merasakan kehangatan serta kamu dapat mencurahkan seluruh kepedihan yang kamu rasakan. “Menangislah sepuasmu. Aku akan selalu ada untukmu.” Perlahan dan dengan lembut Sehun mengelus pundakmu yang gemetar. Lama cukup lama hingga akhirnya tangan yang satunya meraih pipimu dengan pelan dan menghadapkan wajahmu ke wajahmu.

 

“Tetaplah denganku.” Perlahan – lahan Oh Sehun mendekatkan wajahnya hingga jarak diantara kalian hanya 5 cm. CUP~ sangat lembut Oh Sehun menciummu, awalnya kamu sangat kaget dengan perlakuan Sehun padamu tetapi lama-kelamaan kamu mulai merasakan kenikmatan dan kenyamanan terendiri.

 

5 menit sudah kalian saling bertautan. Secara perlahan kamu membuka matamu yang tadi sempat terpejam. Kamu terus memandangi Oh Sehun dan saat itu kamu baru tersadar betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang kini berada dihadapanmu. Tetapi kesadaranmu akan kesempurnaannya sirna karena bagimu ini salah. Kamu lekas berdiri dan membersihkan celanamu yang kotor  dan segera bergegas pergi tanpa berkata sepatah katapun kepada Oh Sehun.

 

Sehun sendiri menyadari dengan perbuatannya yang salah dan berkesan terburu-buru. Dia menyadari bukan dengan cara seperti itu harus memikat hati perempuan. Beberapa detik kemudian Sehun bangun dari duduknya dan mengejarmu, namun sayang ketika sudah sampai di halte bus kamu sudah lebih dulu naik. Sehun mengacak rambutnya sembarangan dan memaki dirinya atas kebodohannya sendiri.

***

 

2 hari kemudian

Sampai hari ini kamu tidak ingin melihat ataupun bertegur sapa dengan Oh Sehun dan kamu pun tidak lagi mencoba mengingat tentang masa lalumu dengan Xi Luhan, intinya kamu menjauh dengan 2 pria tersebut. Kini kamu berjalan di koridor kampus yang tampak ramai, tiba-tiba Oh Sehun ada dihadapanmu. Kamu mencoba untuk tidak melihatnya dan menganggapnya tidak ada. Saat kamu berpapasan dengannya, tidak kamu sangka sebuah tangan kekar menahanmu. Kamu mendongak untuk melihatnya.

 

“Lepaskan.” Ujarmu ketus.

 

“Tidak sebelum kau memaafkanku.” Oh Sehun semakin menggenggam lenganmu erat seakan ia tak mau kehilangan mainan barunya.

 

Kamu mencoba untuk terlepas dari genggaman Oh Sehun, tetapi energimu tak sebesar Oh Sehun. Tiba-tiba saja adaa tangan kekar lain yang melepaskan genggaman Oh Sehun darimu. Kamu cuku terhenyak tatkala tangan tersebut adalah milik Xi Luhan pria yang 2 hari ini kamu hindari. “Dia bilang L-E-P-A-S-K-A-N.” Ujar Luhan dengan penekanan pada kata terakhir. Sehun berdecak dan meninggalkan kalian.

 

Kamu mencoba bersikap tenang padahal hatimu tak setenang wajahmu. “Bisa kita bicara?” Luhan membuka percakapan diantara kalian. “Maaf aku tidak bisa.” Jawabmu acuh dan segera meninggalkannya. Luhan menahanmu dan membalikkan tubuhmu menghadapnya. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Ujar Luhan.

 

“Sudah kubilang ak-“

 

“Mengapa kau menghindariku?” Potong Luhan dan sukses membuatmu mati rasa. Kamu tidak menyangka bahwa seorang Luhan merasakan kalau kau menghindar dengannya. “Apa karena Lee Sora kau seperti ini?” Lanjutnya.

 

Kamu sukses membulatkan matamu. Lee Sora bagimu kamu tidak asing lagi dengan nama itu. Untuk beberapa menit kamu terdiam dengan memikirkan siapa Lee Sora. Luhan menjentikkan tangannya mencoba menyadarkanmu. “Waeyo?” Tanya Luhan. “A-Aniyo hanya rasanya aku tidak asing lagi dengan nama emm… Lee Sora.” Ujarmu.

 

‘hahaha [Your Name] bodoh kau. Jelas kau tidak asing dengannya kau kan pernah bertemu dengannya dimasa lalu.’ Batin Luhan.

 

“Sungguh? Hm… L ee Sora adalah sepupuku dan dia memang sangan dekat denganku. Jangan bilang kalau kau salah paham ketika dia memanggilku ‘chagiya’?” Dengan cepat kamu menyergah ucapan Luhan. “Ani!” Secepat kilat kamu meninggalkan Luhan seperti maling yang sudah tertangkap basah.

 

***

“[Your Name]-ah apa kau sekarang menyerah?” Tanya Hanna setelah dosen keluar dari kelasmu. “Entahlah.” Jawabmu. Kamu perlahan menghembuskan nafas berharap setelah kamu keluar dari kelas tak ada lagi kejadian seperti tadi.

 

Kamu berjalan keluar kelas bersama Hanna, tepat kamu berada di gerbang 2 pria yang saat ini kamu hindari datang didepanmu. “[Your Name] ada yang ini aku bicarakan.” Ujar Sehun kepadamu dengan tatapan memohonnya yang sangat lembut. “Aku juga!” Sergah Luhan.

 

“Mian tapi aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun kecuali Hanna. Chaa ayo kita pulang Han.” Ujarmu.

 

“Bagaimana dengan ajakanmu yang waktu itu, apa kita bisa belajar bersama?” Ujar Luhan. “[Your Name] aku menyukaimu!” Ujar Sehun to the point dan sontak itu membuat kamu, Hanna serta Luhan yang ada disitu kaget.

 

Saat ini kamu benar-benar bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Entah mengapa perasaanmu meminta pertanyaan tersebut terbalik. Dimana Luhan menyatakan sukanya padamu dan Sehun meminta untuk belajar bersama. Kamu sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, tiba-tiba pandanganu buram dan kamu tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Kamu pingsan.

 

***

 

Kamu mencoba untuk menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk kedalam kamarmu lewat celah-celah jendela. Kamu merasa tangan kananmu berat, kamu membalikkan posisi kepalamu kearah tangan kananmu. Luhan sedag tertidur diatas tanganmu. Kamu benar-benar kaget dan tak tahu harus bagaimana. Kamu senang namun kamu juga sedih.

 

Kamu senang karena Luhan ada disisimu tetapi kamu sedih karena Luhan kembali bukan untuk Luhan yang dulu, Luhan yang selalu memberikan kehangatan untukmu, Luhan yang selalu tersenyum untukmu tetapi sekarang dia ada sebagai Luhan yang tidak mengenalmu. Perlahan kamu merai lenganmu dan itu membuat Luhan terbangun dari mimpinya.

 

“Gwencana?” Tanya Luhan panik. Baru kali ini setelah berbelas tahun kamu meliahat wajah Luhan yang tampak panik. “I-iya. Mengapa kau ada disini?” Tanyamu. “Aku hanya… hanya kasihan padamu karena kau sendiri disini. Lagipula Hanna tidak dapat menemanimu karena orangtuanya baru pulang dari China dan Sehun harus menemani ayahnya yang sedang dirumah sakit. Jadi aku menemanimu.” Jelas Luhan.

 

“Luhan-ah 2 hari yang lalu aku mengundurkan diri untuk mengajarimu dalam pelajaran dosen Lee. Aku merasa diriku kurang handal pula untuk pelajarannya.” Ujarmu.

 

“Wae?” Luhan tampak kecewa dengan keputusanmu, itu tampak jelas diwajahnya.

 

“Aku takut itu membuat diriku sulit.” Luhan nampak tak mengerti dengan penjelasanmu. Kamu menghembuskan nafas pelan sebelum kamu melanjutkan ucapanmu. “Apa kau tidak ingat tentang kita dimasa lalu?” Lanjutmu. Luhan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Hening seketika. Kamu membalikkan tatapanmu kearah jendela dikamarmu.

 

“Terkadang hidup memang tidak adil. Apa yang menjadi harapan kita tak seindah dengan kenyataannya. Hidup adalah pilihan dan manusianya-lah yang menentukan pilihan itu. Hidup tak selamanya indah, banyak masalah yang harus kau hadapi, tak terkecuali cinta.” Ujar Luhan memecahkan keheningan.

 

Kamu balikkan tubuhmu menghadapnya, sebulir air mata jatuh dipipimu. Luhan menyadari hal itu. Luhan bangkit dari duduknya “Suatu saat kau akan mengerti.” Luhan balik membelakangimu dan pergi meninggalkanmu. Sendiri.

 

TBC

Huft… selesai juga. Awalnya aku ga menyangka kalau chapter 3 ini akan selesai, eh ternyata selesai juga. Terima kasih untuk komentar kalian yang terdahulu, bagi aku itulah penyemangatku dalam menulis cerita ini. Maaf juga atas kesalahan penulisan lenght-nya yang dichapter sebelumnya. Disitu aku tulis ‘Oneshoot’ seharusnya ‘Chapter’. Mianhae… jangan lupa RCL-nya^^ Gomawo.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “Waiting for You (Chapter 3)

  1. Author aku sampai sekarang gak ngerti luhan lupa gara2 apa.penasaran banget aku baca ampe ulng tp tetep ga tau luhan lupa atau sengaja lupa

  2. annyeong.. aku reader baru di sini dan mian kalo aku baru comment di chapter ini.. ff nya keren thor.. dan feel-nya berasa bgt.. next yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s