Knock Knock

[EXOFF] Knock Knock

||Title : Knock Knock||

||Author: Olivia Egar||

||Main Cast : Park Chanyeol, Jeon Heemi [OC]||

||Genre : Romance, Friendship||

||Rating : PG-13||

||Lenght : Ficlet (2002 Words)||

Happy Reading^^

[2002]

“Dobi-ah, aku ingin memiliki banyak teman…” kataku pada Chanyeol yang sedang asyik melihat deburan ombak pasir di depannya,  menggaruk telinganya  lalu mengembalikan tangannya kembali pada kursi kayu yang sedang dia duduki.

“Dobi-ah…” aku memanggilnya lagi karena tak terdengar suarapun darinya, apa dia belum membersihkan telinganya? Ya ampun.

“Chanyeol!” aku menyentak tangannya, tentu saja aku kesal.

“eh… um… apa?” dia berkedip beberapa kali seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya, bodoh.

“aku ingin punya banyak teman… kau punya banyak, bagaimana caranya?” aku menarik-narik lengan bajunya, tapi Chanyeol tidak memprotesnya, dia malah menggaruk telinganya kembali.

“Dobi-ah, ada apa? Kelihatannya kau ada masalah.” Tentu saja, dia tidak terlihat seperti Chanyeol biasa yang ku kenal.

“ah, tidak.. tidak kok…” dia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, seolah sedang tertangkap basah kalau dia mencuri camilan di Mini Market.

“begitu ya… hei, Dobi-ah, kau adalah teman terbaikku…” entah sudah keberapa kalinya aku berkata itu pada Chanyeol, dan reaksi Chanyeol selalu sama.

“tentu saja, kita kan tetangga…” katanya, benar, reaksi yang sama seperti hari kemarin dan kemarin, ia kembali menampakkan gigi-giginya yang rapi itu, membuatku iri saja.

“Park Dobi, aku ini pemalu, jadi pantas saja kalau aku tidak memiliki teman selain satu atau dua orang…” kataku sambil bersandar pada bahu Chanyeol, rasanya nyaman, sama nyamannya seperti sedang bersama eomma.

“kau masih memiliki aku.” Kata Chanyeol sambil menunjuk wajahnya, “aku kan sudah janji akan selalu berada di sisimu, kita sahabatkan?”

Aku tersenyum. Benar, aku masih memilikinya, teman bermain dan sahabatku sejak aku pindah di kota Busan ini di usiaku yang masih 8 tahun.  sekarang usia kami sudah menginjak 10 tahun.

Sayangnya… aku dengannya berbeda sekolah.

“hei, Park Dobi! Kudengar katanya kau punya komik baru? Aku boleh pinjam?” pintaku dengan mata berbinar, membaca komik termasuk hobi kami yang sama.

“boleh, nanti sore datang ke rumahku saja.” Dia mengangkat satu jempolnya ke arahku dengan senyum khasnya.

“tapi Dobi-ah, kalau aku mengetuk pintu rumahmu, berjanjilah padaku bahwa kau yang akan membukanya untukku.”

Chanyeol menoleh ke arahku, tatapan matanya bingung. “mengapa?”

Aku menunduk sambil mengayun-ayunkan kakiku. “aku malu…”

************

[2005]

“Chanyeol! Mengapa kau memberitahu appa kalau aku yang memecahkan kaca mobilnya!? Akukan sudah bilang padamu untuk tidak mengatakan apapun.”

“ma-maaf, habisnya… aku didesak…”

“penghianat! Lihat apa akibatnya bagiku! Sana pulang saja! Aku tidak ingin lihat wajahmu lagi!”

“Heemi… maaf—”

BRAK!

Aku langsung menutup pintu dengan keras tepat di depan wajahnya, aku tidak peduli, yang pasti aku kesal, dia benar-benar tidak menepati janjinya.

.

[Tomorrow]

“Heemi, ada Chanyeol.”

“suruh dia pulang, aku malas bertemu dengannya.”

.

[Next Day]

“Heemi-ya, Chanyeol ingin bermain denganmu.”

“aku tidak mau…”

.

[Next Week]

“Heemi, kau masih tidak ingin bertemu Chanyeol? Kau tidak kesepian sayang?”

“tidak, biarkan saja…”

.

[Next Month]

Sudah satu bulan aku tidak berkomunikasi dengan Chanyeol, rasanya hari-hariku terasa hampa, seolah usiaku yang masih muda ini dengan cepat ditangkap oleh udara.

Aku sudah tidak marah lagi padanya, tapi aku sungkan bertemu dengannya, bahkan Chanyeol sendiripun tidak menampakkan ujung rambutnya sama sekali selama satu minggu ini.

Tapi kalau seperti ini terus hubungan persahabatan kami bisa rusak.

Sebaiknya aku segera ke rumahnya.

Saat aku menggeledah isi lemariku untuk mencari jaket, aku menemukan komik Doraemon milik Chanyeol, ah, ya, sekalian aku mengembalikan komik ini padanya, ya tuhan, aku rindu sekali padanya, aku ingin bermain lagi bersamanya.

.

TOK TOK TOK

“Dobi-ah! Dobi-ah!” aku mengetuk pintu rumahnya dengan semangat, sangat antusias untuk bertemu dengan Chanyeol.

CKLEK

Setelah beberapa detik akhirnya pintu terbuka, tapi yang muncul di sana bukanlah sahabatku, melainkan Park Yura, kakaknya. “eh, Heemi, sudah lama ya tidak berkunjung kesini.” Dia tersenyum ramah, sedangkan aku tersenyum malu-malu, sangat canggung.

“Chanyeol… sudah satu minggu ini dia terkena penyakit Typus, kondisinya sudah membaik, tapi dia masih harus beristirahat, padahal dia sudah kularang untuk tidak makan sembarangan, haah… dasar…” Oh, pantas saja, itu sebabnya dia tidak pernah terlihat barang sedikitpun, bahkan di pantai Haeundae sekalipun.

“ah, begitu ya, kalau begitu aku pulang saja eonnie, semoga Chanyeol cepat sembuh.”

Terpaksa akupun pulang, dan tidak dapat mengisi hatiku yang kosong sama sekali.

.

[Next Day]

Setelah usai sekolah aku langsung melempar tasku ke sofa, eomma bahkan sempat marah padaku karena aku belum mengganti seragamku. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertemu dengan Chanyeol.

Dan aku mengetuk pintu putih itu lagi, pintu yang tampak familiar bagiku…

…tapi tak ada yang membukanya sama sekali, dengan perasaan yang hampa lagi, aku pulang.

.

.

.

Bahkan hari berikutnya, Chanyeol masih tidak menampakkan dirinya, hei, Park Dobi, apa kau marah padaku? Kalau begitu maafkan aku, aku sangat menyesal, aku rindu senyummu, kau harus tahu itu.

.

.

.

Kali ini aku menulis surat untuknya dan menyelipkannya di bawah pintu putih itu, setelah itu aku langsung mengetuk pintunya dan berlari pulang ke Rumah.

Berharap bahwa esoknya Chanyeol akan membalas suratku, melakukan hal yang sama denganku.

Namun, bahkan sampai 1 Minggu pun balasan yang kuharapkan tak kunjung datang, surat pertamaku, bahkan surat-suratku yang menyusul di hari berikutnya yang lain tidak ia balas.

.

.

.

Namun aku tak ingin pasrah begitu saja, aku tak peduli, aku ingin curhat padanya, makin lama sekolahku makin menyebalkan bagiku. Kali ini aku tidak membawa surat untuknya, aku ingin bertemu langsung dengannya.

TOK TOK TOK

Setelah aku mengetuk pintu itu, aku menunggunya terbuka selama 5 detik.

Dan dalam detik ke 6, pintu itu terbuka…

…tapi yang muncul bukanlah sosok yang familiar bagiku, melainkan sosok kakek-kakek tua, tapi tubuhnya begitu tegap, dia menatapku dengan sedikit kesal. “kau ingin menitip surat lagi?” tanyanya, tangannya memegang sisi pintu tersebut.

“a-aku… apa Chanyeol ada?” tanyaku ragu.

“oooh… mereka, mereka sudah pindah ke Seoul sekitar…” kakek itu mengernyitkan dahinya, kemudian mengangkat bahunya. “…yah, sekitar 2 minggu yang lalu mungkin.”

DEG

Jantungku rasanya berhenti berdetak, mataku membulat dengan tatapan kosong.

Park Dobi kau jahat, meninggalkan rumah ini secara diam-diam padaku.

*************

[2013]

Mobil dan kendaraan yang lainnya terdengar begitu bising dibelakangku, sementara aku sedang memainkan pasir-pasir ini dengan jari-jariku, sedangkan mataku sendiri fokus ke arah di mana matahari akan menyembunyikan dirinya.

Sekarang aku  memiliki banyak teman seperti yang kuharapkan, tapi di dunia maya, tidak, itu bukan seperti yang kuharapkan.

Semua Teman-temanku di dunia maya dengan nama yang mereka samarkan itu tidak bisa kubandingkan dengan Park Chanyeol, teman lamaku itu yang terbaik, bahkan jika aku jatuh cinta pada pria lain sekalipun.

Tapi kenyataannya tidak, dan ya, aku bisa katakan benar jika itu jatuh cinta pada Chanyeol.

Sejak aku marah padanya, sebelumnya aku tidak bisa tidur karenanya, bahkan sesudah aku membentaknya hari itu.

Hei, Park Dobi, lihatlah aku, tidakkah kau merasa simpati padaku yang sedang duduk dalam kesunyian di sisi pantai ini?

Dobi-ah,  matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat sana, sangat indah.

Kau bilang jika ingin bertemu denganmu, pergi saja ke pantai Haeundae ini?

Dobi-ah, tidakkah kau ingin mengambil komikmu kembali?

Tidakkah kau merindukanku?

Dan… tidakkah kau jatuh cinta padaku?

Ah, kau pasti sudah lupa padaku bukan?

Tiba-tiba lenganku yang sedang kugunakan untuk menenggelamkan wajahku terasa basah, sial, aku menangis lagi.

Kau jahat Chanyeol, eommaku sudah meninggal, harusnya kau hadir di acara pemakamannya.

Aku tidak bisa tinggal di rumah hanya dengan appa, kau tahu sendirikan bagaimana hubunganku dengannya?

Chanyeol, besok ada perayaan Daeboreum. Pertama kali kita bertemu di sini juga saat perayaan Daeboreum kan? saat itu aku menangis karena takut  bertemu denganmu, kau tahukan aku sangat pemalu, tapi karena kau yang selalu tersenyum, itu membuat hatiku tersenyum juga, dan aku jadi nyaman bermain denganmu, kau masih ingat kan?

Air mataku semakin mengalir dengan deras, aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang laun lalang lewat itu.

Sekali lagi, untuk yang keribuan kalinya, aku ingin mengetuk pintu Chanyeol, setidaknya itu membuat hatiku lebih baik. Dan setidaknya, berbincang dengan kakek itu dapat mengurangi kejenuhanku. Heemi kau memang menggelikan.

.

Aku sudah sampai di sini, di rumah Chanyeol, lebih tepatnya bekas rumahnya.

Dan saat aku mengetuk pintu rumah itu maka… kakek itulah yang akan membukakannya untukku.

TOK TOK TOK

Langkah kaki  terdengar mendekat, tidak butuh sampai 3 detik untukku menunggu.

CKLEK

Pintu terbuka, dan yang membukanya bukanlah sosok kakek tua itu, tapi entah bagaimana sosok itu tampak familiar bagiku.

Seorang pria tinggi nan tampan membukanya untukku, menatapku dengan mata besarnya dan dia…

GREP

Dia langsung memelukku, dan air mataku kembali mengalir, aku tahu siapa dia, aku tidak mungkin tidak mengenalnya. “Park… Chanyeol…” kataku, membalas pelukan hangatnya itu.

“bogoshipoyo bogoshipoyo bogoshipoyo…” katanya, suara bass itu tidak terlalu berbeda saat umurnya 13 tahun, aku membenamkan wajahku pada pundaknya, bahkan jika aku harus berjinjitpun tidak masalah, karena perasaanku sedang tidak bisa menangkap apa yang terjadi saat aku membuka pintu 1 menit yang lalu itu. Semuanya terjadi begitu cepat, dia menarikku kedalam pelukannya juga begitu cepat.

“kau jahat Chanyeol…” tangisku.

Ia melepaskan pelukannya, dan kedua tangan besarnya memegang pipiku, dia kembali menatapku, matanya basah, ternyata ia juga menangis. “setidaknya, untuk saat ini, aku bisa membukakan pintu untukmu…”

Aku kembali terisak. “sudahlah… yang penting sekarang aku bisa bertemu denganmu, My True Friend.”

Dia kembali memelukku, erat sekali. “kau bahkan lebih jahat, surat-suratmu itu selalu membuatku gelisah, aku bahkan tidak bisa tidur karena berpikir bahwa aku jahat karena tidak bisa membalas suratmu, kau bilang eommamu meninggal, itu semakin membuatku gelisah.”

Aku terdiam sebentar. “…surat-suratku.. sampai kepadamu?”

“ya, harabeoji yang mengirimnya padaku, katanya kau selalu mengetuk pintu rumahku dan selama 9 hari kau mengirimkan surat padaku.”

Aku kembali terdiam, astaga, ternyata itu kakeknya, ternyata dia benar-benar mengirimkan suratku padanya, ya ampun memalukan sekali aku.

“hei, kalian anak muda sudah selesai dengan acara kalian?” tiba-tiba suara kakek itu terdengar, menghentikan acara reuni kami, Chanyeol terbatuk cukup keras, sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku malu.

Kakek itu tersenyum padaku kemudian beralih pada Chanyeol, dia menggerling padanya, seolah mengisyaratkannya untuk melakukan sesuatu.

Chanyeol menganggukkan kepalanya, kemudian melirik ke arahku dan ke arah kakeknya itu. “em… harabeoji, bolehkah aku melakukannya di tempat yang sepi? Dia ini pemalu…”

Apa yang dia bicarakan?

Belum sempat aku menduga-duga, dia sudah menarik tanganku ke pantai Haeundae, God, sebenarnya apa yang ingin ia lakukan?

.

Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang lewat, cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi juga menyinari pantai ini, biasanya jalanan ini selalu sepi, mungkin karena mendekati hari perayaan.

Dan sekarang, aku. Di sini. Bersamanya. Saling berhadapan dan bertatapan mata, aku masih menunggunya untuk berbicara seuatu, sedangkan jantungku sedang berperang seolah ingin lari darinya.

Dia menghela nafas sebelum berbicara sesuatu, dan menggenggam tanganku. “My Dear Jeon Heemi, sahabatku, teman abadiku yang paling setia, terimakasih karena sudah menungguku selama 8 tahun…” jeda, tangannya sedikit bergetar. “aku, Park Chanyeol, besok akan kembali ke Seoul untuk—”

“hei! Aku bahkan baru bertemu denganmu!” aku menepis tangannya, rasanya ingin menangis lagi, tapi entah bagaimana rasanya tidak bisa.

“hei, aku belum selesai bicara!” Chanyeol kembali meraih kedua tanganku dan menggenggamnya lagi. “aku, Park Chanyeol, besok akan kembali ke Seoul untuk membawa orangtuaku ke sini dan melamarmu… jadi untuk saat ini, maukah kau menjadi Yeojachinguku?”

DEG

Rasanya jantungku berhenti berdetak, tanganku bergetar hebat, dan rasanya kepalaku seperti digelitiki oleh kupu-kupu yang cantik. aku kembali menangis, Heemi bodong, dasar cengeng.

Chanyeol menatapku antusias, alisnya bertautan. “jadi?”

“always say… Yes.” Kataku, aku menutup mulutku, menahan isakanku, perasaanku yang hampa selama 8 tahun ini, rasanya terisi kembali bagai ditaburi serbuk bunga.

Semuanya karena Chanyeol, aku selalu menunggu senyuman itu, senyuman bahagia, meski terlihat berlebihan, tapi hatiku tersenyum.

Meskipun dia tidak mengatakan ‘Saranghae’ padaku tapi itu bukan berarti dia tidak mencintaiku, karena aku tahu, Chanyeol tidak suka jika kisahnya dibuat seperti Drama…

Tapi bagiku… kisahnya dan kisahku adalah bagaikan kisah Drama.

Perlahan tangan Chanyeol yang sedang menggenggam tanganku naik ke arah pipiku, dia mengapit keduanya dan menatapku lekat. aku tersenyum dan memejamkan mataku, ya, aku sudah siap.

Wajahnya perlahan mendekat ke arah wajahku, dia sedikit memiringkan kepalanya, hembusan nafas hangatnya sudah dapat kurasakan, dan tepat saat bibirnya menempel pada bibirku dengan lembut, itu seolah otakku kembali menggelap, tetapi hatiku rasanya menjadi cerah.

“lusa besok, persiapkan dirimu, ketuk pintu rumahku, maka aku yang akan membukanya untukmu.”

“karena kau yang akan membukanya untukku, maka aku akan mengetuk pintu rumahmu itu.”

Ya, karena dia yang akan membukakannya untukku.

When Life Had Locked Me Out

I Turned To You

So Open The Door

Cause You’re All I Need Right Now It’s true

Nothin Works Like You

END-

=============

A/N : yeaaay! Ending! XD haha, maaf ya kalau alurnya kecepetan, namanya juga ficlet. FF ini terinspirasi dari lagu Lenka-Knock Knock, hohoho~

RCL Juseyo~^^

 

 

Iklan

27 pemikiran pada “Knock Knock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s