Finally, It’s You (Chapter 8)

Finnaly, It’s You (I do Love You sequel) chapter 8

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

 

He said he loves me; he’ll protect me that even if he could get whatever he wanted, he’s happier with just having me. He said he’ll only look at me even if he had the whole world, that a world without me has no meaning.

 (He Loves Me – Standing Egg)

+++

Lee Jihyun’s POV

Gantungan teddy bear itu benar-benar mencuri perhatianku. Padahal bentuknya sama seperti teddy bear lainnya, tapi yang ini, terlihat sangat mencolok. Membuatku kesal. Karena saat melihat teddy bear itu kepalaku langsung penuh dengan wajah bodohnya.

Aku benar-benar yeoja murahan, menyukai seseorang semudah itu. Aku jadi merasa bodoh mengingat diriku yang sempat berjanji untuk terus menyukai Luhan sampai akhir. Hal seperti ‘aku janji akan menyukaimu sampai mati’ saat orang itu tak benar-benar ada untuk kita, pada akhirnya memang mustahil.. Kini dengan mudahnya dia tergantikan oleh orang lain.

“Yo!” Aku merasakan sentilan pelan di kepalaku, membuatku menoleh. Betapa kagetnya aku melihat Sehun sudah ada di sana, tersenyum lebar. Kita berada di sekolah saat ini, sungguh bukan tempat yang baik untuk melakukan hal seperti itu.

“Kau berani melakukan hal seperti itu pada gurumu?!” seruku tertahan sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Saat ini aku sedang berada di balkon perpustakaan, tempat yang tidak begitu terkenal di kalangan para murid. Entah bagaimana caranya Sehun dapat menemukanku.

“Tak ada yang melihat, kok.” balasnya membela diri. Lalu pandangannya jatuh pada gantungan teddy bear yang sedang kupegang. Dia mengambil gantungan beserta ponsel dari tanganku, memerhatikan teddy bear milikku. Dan mengambil miliknya yang –tak dapat dipercaya– masih bertengger manis di ponselnya.

“Aku tak percaya aku menggunakan hal seperti ini dengan seorang yeoja sepertimu.” ucapnya sambil tersenyum manis. Aku juga.

Kriinggg!!

Tiba-tiba bel masuk istirahat pertama sudah berbunyi. Ekspresi wajah Sehun tampak tak bersemangat. Aku tahu, dia tak pernah benar-benar suka pergi ke sekolah. Aku menepuk pundaknya pelan, bermaksud menyemangatinya. Kadang kurasa, kami tak perlu berbicara apapun untuk saling mengerti satu sama lain.

“Hyun, ayo pergi kencan sepulang sekolah! Janji!” serunya sambil berjalan pergi. Aku bahkan belum sempat menjawab ajakannya, tapi seorang seperti Sehun, pasti tak menerima alasan apapun saat kemauannya ditolak. Aku tersenyum menatap punggungnya yang menjauh.

Ini bukan cinta pertamaku, tapi berhubungan sampai sejauh ini, kurasa ini baru pertama kalinya. Ini pertama kalinya aku memiliki kencan yang ‘nyata’. Saat bersama Baekhyun dulu, tak terhitung ada berapa kencan ‘tak nyata’ yang kami lakukan. Bedanya? Tak dapat dijelaskan. Segala sesuatu yang menyangkut perasaan, tak pernah mudah untuk dijelaskan dengan kata-kata.

+++

“Kau tahu, Sehunnie? Aku akan bertunangan.” ucapku saat kami berada di sebuah cafe –yang letaknya tentu jauh dari sekolah– sepulang sekolah.  Sehun menatapku dengan kaget.

“Aku pernah menceritakannya padamu, namja yang sangat kucintai dulu. Saat Luhan pergi, dia selalu ada di sampingku. Bahkan dia tak marah setelah aku menelantarkannya dan pergi mengejar Luhan begitu saja. Dia kembali untukku.” Aku menghela nafas sebentar.

“Maka itu, aku tak dapat menolak saat orangtuaku menyuruh kami bertunangan.”

Aku merasakan sesuatu yang besar dan hangat di atas kepalaku. Tangan Sehun membelai rambutku dengan lembut sambil tersenyum, membuatku sedikit kaget.

“Kau benar-benar berhati baik, itu saja.” Aku tertegun, tak menyangka itulah yang akan diucapkan Sehun. Kadang ia terlihat jauh lebih dewasa daripada usianya.

“Kau tak lebih menyukainya daripadaku, kan? Bagiku, itu sudah cukup.” ucapnya lagi, bercanda. Aku tersenyum mendengarnya.

Aku meminum jus alpukat yang tinggal setengah di depanku. Aku melihat jam tanganku, dan aku terkejut, waktu berlalu sangat cepat. Ini sudah malam, kami harus segera pulang.

“Hun, ayo pulang! Sudah malam, kau harus belajar.” Mendengar ucapanku, Sehun ikut melihat jam tangannya.

“Kalaupun aku pulang ke rumah, tak ada siapapun di sana. Lagipula, aku sudah pintar, kau tahu? Aku bahkan menjadi juara umum tanpa perlu belajar sediktipun.” ucap Sehun dengan santai (dan sombong). Meski ucapannya terdengar seperti candaan, aku merasa sedih mendengarnya.

“Hah, alasanku tak masuk akal, yah? Sebenarnya, aku hanya ingin bersamamu lebih lama, jadi, aku mohon..” Bagaimana aku dapat menolak kalau dia mengatakan hal seperti itu?

Dan akhirnya, kami berjalan –sangat– pelan menuju stasiun setelah duduk di sana selama hampir setengah jam. Aku berjalan di sebelah kanan yang dekat dengan ujung trotoar. Tiba-tiba, Sehun berpindah tempat menuju sebelah kananku. Aku menatapnya bingung.

“Kau sedang apa?” tanyaku bingung.

“Lebih aman kalau kamu berjalan di dalam. Bagaimana kalau kau jatuh dan tertabrak mobil yang kebetulan melintas?” Aku mengernyitkan dahi. Sehun benar-benar konyol, dia pikir aku anak kecil? Harusnya aku yang memperlakukannya seperti itu!

“Ya! Aku ini lebih tua darimu, kau tahu? Dan aku tidak se-ceroboh itu!” seruku padanya. Ia hanya tertawa, entah apa yang ditertawakan. Tiba-tiba, ia berhenti melangkah dan mengulurkan tangannya sambil menatapku. Aku terdiam, bingung.

“Apa yang biasanya dilakukan pasangan saat pergi kencan?” tanyanya dengan wajah tak sabar. Aku masih terdiam, tak mengerti apa yang dimaksud. Dan secara tak sengaja, aku melihat sepasang remaja yang berpegangan tangan dengan mesra. Seketika wajahku memerah. Aku tak mengerti itulah yang ia mau, berpegangan tangan.

Dia suka berbasa-basi..

Perlahan, aku mengulurkan tanganku padanya hingga akhirnya tangan kami berkaitan. Hangat. Tangannya hangat. Orang bilang, tangan yang hangat melambangkan hati yang hangat. Aku merasa hatiku berdegup cepat. Aku sering berpegangan tangan dengan Baekhyun, tapi ini pertama kalinya aku merasakan sensasi yang begitu berbeda.

Dan aku suka sensasi ini..

“Ini pertama kalinya aku melakukan ini dengan seseorang.” ucap Sehun dengan suara bergetar. Aku menatapnya, wajahnya terlihat canggung. Ternyata dia juga gugup. Hihi.

“Dan kau melakukannya pertama kali bersama dengan seorang ibu-ibu.” jawabku, membuat Sehun menoleh dengan wajah merengut.

“Bisa tidak, kita tak selalu membicarakan masalah umur? Aku sudah katakan sebelumnya, aku tak peduli masalah tak penting seperti itu.” Aku hanya mengangguk patuh, tak membantah.

Drrt..drtt.. Handphone-ku berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Dari Baekhyun.

Aku terdiam sejenak, tak tahu harus melakukan apa.

“Dari siapa?” tanya Sehun dengan wajah curiga, mungkin ia melihat ekspresiku yang aneh.

“Emm, mungkin kau tak ingin tahu siapa orang itu.” ucapku, membuat ekspresi Sehun berubah. Ia tahu dengan pasti siapa orang yang aku maksud. Aku terdiam, menunggu ucapan Sehun selanjutnya. Kalau ia tak membolehkanku mengangkat telepon dari Baekkie, aku takkan mengangkatnya. Aku tak ingin menyakiti Sehun.

“Angkat saja.” ucap Sehun, membuatku sedikit terkejut. Tapi aku langsung mengangkatnya tanpa berpikir lebih lanjut.

“Waeyo?” ucapku padanya tanpa basa-basi.

“Omo! Galak sekali kau hari ini, sedang dapat tamu bulanan, yah?” jawab Baekkie dengan ceria, seperti biasa.

“Apa untungnya aku berkonsultasi masalah tamu bulanan denganmu?”

Baekkie tertawa.

“Sebenarnya, kenapa kau menelponku?” tanyaku langsung.

“Ah, aku ada di rumahmu saat ini. Kenapa belum pulang??”

“Di rumahku? Kurasa aku akan pulang malam hari ini.” ucapku sambil melirik Sehun yang sedang menatap ke arah jalanan dengan wajah bete.

“Aigoo, aku sudah menunggumu dari tadi, kau tahu?! Jinjja!” gerutu Baekkie.

“Jangan marah-marah padaku! Salahmu tak menelpon dulu sebelum datang! Lebih baik kamu pulang saja.” ucapku padanya.

“Pulang? Bagaima–“

Klik.

Telepon terputus.

Aku menatap Sehun dengan mata melebar. Kenapa ia mematikan panggilanku dengan Baekkie secara tiba-tiba? Bukan hanya itu, kini Sehun sedang mengeluarkan baterai handphoneku dari bagian belakang.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” seruku pada Sehun sambil berusaha mengambil kembali ponselku. Tapi percuma, Sehun terlalu tinggi untuk dapat kucapai.

“Kenapa kau harus bersikap sangat ceria kepada namja itu? Bagaimana bisa dia tak menyukaimu kalau kau masih memperlakukannya dengan hangat seperti itu!” seru Sehun ketus.

“Siapa juga yang bersikap seperti itu?” balasku, tak terima.

“Pokoknya, kau sedang bersamaku, kau tahu? Dan kau semudah itu melupakanku dan berbicara dengan sangat bahagia dengan namja aneh itu.”

“Aku tak melupakanmu! Kau sendiri yang menyuruhku untuk mengangkat teleponnya. Jinjja, kau terlalu kekanakkan, kau tahu?! Dan dia bukan ‘namja aneh’!” ucapku. Sehun terdiam, membuatku jadi merasa tak enak. Apa ada kata-kataku yang salah?

Suasana jadi aneh selama beberapa menit sampai akhirnya Sehun mengangkat suara.

“Aku tahu, aku tak se-dewasa namja itu. Aku tak bisa bertindak sebagai pacar yang baik untukmu. Bagimu, aku hanya seorang murid, seorang anak kecil.” Aku terkejut. Sungguh, tak pernah sekalipun dalam hatiku aku berpikir seperti itu.

“Aku..”

“Tapi aku sudah berusaha keras, kan? Aku berusaha sebisaku, dan itu masih tak cukup baik untukmu? Aku tak bisa menjadi namja yang sempurna, kau tahu itu.” Aku tertegun.

“Kapan aku pernah memintamu menjadi pacar yang sempurna? Aku tak perlu itu semua, aku hanya butuh kamu yang apa adanya, seperti biasa.” ucapku. Sehun terdiam.

“Bagimu, aku ini bagaimana?” tanya Sehun secara tiba-tiba. Aku terdiam sejenak, tak pernah memikirkan mengenai ini sebelumnya.

“Sehunnie, kamu.. spesial untukku.” jawabku dengan jujur sejujur-jujurnya. Sehun tampak kaget dengan jawabanku, tapi kemudian, ia tersenyum. Aku ikut tersenyum.

“Maka itu, kau tak perlu menjadi orang lain di depanku. Jadilah dirimu apa adanya.” ucapku lagi padanya. Ia menatapku lurus.

“Kalau begitu, aku dapat mengatakan apa yang ingin kukatakan, sesukaku?” Aku mengangguk. Aku ingin tahu segala hal yang ia pikirkan saat bersamaku, baik atau buruk, apapun itu. Aku ingin mengetahui semua yang tak kuketahui.

“Aku tak ingin kau bertunangan. Tak peduli apapun, aku tak ingin kau memilihnya. Pilihlah aku, tinggalkan namja itu. Kau tahu, aku yang lebih membutuhkanmu dari siapapun di dunia ini. Kaulah satu-satu-nya yang kupunya, Hyunnie.” Aku menatap Sehun lurus di matanya, merasakan ketulusannya, kepolosannya. Dan hatiku bergetar mendengarnya.

“Hyun, kalau suatu saat kamu sudah sepenuhnya mencintaiku, berjanjilah padaku untuk membatalkan pertunangan itu.”

“Tapi..”

“Jangan tinggalkan aku, kumohon.” ucap Sehun dengan wajah sungguh-sungguh, membuat hatiku tersentuh lagi dan lagi. Setiap kali ia memunculkan ekspresi penuh kesedihannya itu, aku tak pernah tega untuk menolaknya. Tapi, ini bukan masalah mudah.

Tiba-tiba, Sehun mengelus kepalaku.

“Tak usah dipikirkan. Mian, aku berbicara yang tidak-tidak. Aku takkan memaksamu, ikutilah kata hatimu, Hyun.” ucap Sehun sambil tersenyum lembut, malah membuatku semakin merasa tak tega. Aku tahu, ia hanya tak ingin aku memikirkan hal itu terus menerus.

Tiba-tiba, sebuah bus berhenti di depan halte. Aku pun langsung bersiap-siap masuk ke dalam bus. Sehun terus memerhatikanku dari luar bus. Ia melambaikan tangannya sesaat sebelum bus itu pergi, aku balas melambaikan tangan sambil tersenyum hingga bus berjalan dan ia tak terlihat lagi. Aku menatap lurus ke depan.

Aku tak menyangka, seorang anak yang jauh lebih muda daripadaku, muridku, akan membuatku seperti ini. Aku tak menyangka, kenapa dari sekian banyak namja di dunia ini, aku harus menyukai muridku sendiri? Seakan aku memilih berjalan menuju penderitaan dengan sepenuh hatiku, seperti orang bodoh.

Tapi hati tak dapat memilih, kan?

Dan tak peduli sebodoh dan setidak masuk akal apapun, cinta tetaplah cinta.

Dan tak ada seorangpun yang boleh meremehkannya.

+++

Treat me well. Always make me laugh.

I said, don’t make me jealous. Oh, don’t make me obsessed..

Iklan

3 pemikiran pada “Finally, It’s You (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan ke leejihyun88 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s