Hello Precious! (Chapter 10)

chapter 10 cover

FF EXO|[HELLO PRECIOUS!]|#10 Be Your Everything

 

Title : Hello Precious!

Subtitle : Be Your Everything

Author : @bbymomoo

Genre : Romance, Drama, Fluff, Sad

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Main Cast :

Ahreum (T-ara—ex)

Kai, Suho, Sehun, D.O (Exo-k)

Krystal (f(x))

Naeun (A-pink)

Support Cast :

Luna dan Suzy as Krystal’s friends

Shindong, Kangin, Yunho

Jessica, Yonghwa (CNblue) as Krystal’s parents

Kang Sora as Jung Sora –has die-

 

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

 

Dengan cepat Jessica membuka map tersebut. Jantungnya berdebar, aliran darahnya semakin cepat. Tangannya bergetar begitu ia membaca salah satu berkas paling penting di sana. Mulutnya membuka menandakan wanita itu benar-benar shock.  “Tidak mungkin..”gumamnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

“Aku hanya membantu Kai belanja untuk makan malamnya Appa, lagi pula dia yang memintaku.”jelas Ahreum. Shindong menghela napas kecewa. “Sekarang kau tahu kan? Jangan ulangi lagi atau nona muda Soojung akan melakukan ancamannya pada kita.”ujar Shindong.

“Bukankah sebentar lagi masih ada ujian kenaikan kelas?”Sehun mengelak. “Ya, setelah ujian kenaikan kelas kembalilah ke Jepang.”tegas Jessica.

10th

==========

HELLO PRECIOUS!

========

                                                                        I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

 

                Sehun benar-benar sudah tidak tahan berada di tengah-tengah keluarga Jung. Keluarga bangsawan yang cukup disegani di kalangan pebisnis di Korea Selatan, Jepang dan China. Apalagi dengan kelauan seenak hati Jessica, andai saja wanita itu bisa menjaga sikapnya dengan sedikit lebih baik, pasti Sehun akan menganggapnya sebagai Eomma. Namun, apa mau dikata? Hal itu sangat mustahil. Dalam mimpi pun mustahil, pikir Sehun.

“Sehun?”kaget Ahreum begitu mendapati pemuda itu berjalan di sekitar blok kompleks perumahannya.

“Eh,” Sehun menggaruk rambut belakangnya. “Mau berangkat bersama?”lanjut pemuda dengan kulit seputih susu tersebut. Tak lupa dengan senyum canggung khas Sehun.

Ahreum mengernyit bingung. Tadi pagi sekali ada Krystal, sekarang Sehun. Sebenarnya ada apa dengan cucu-cucu kebanggaan keluarga Jung Yunho? Tanya Ahreum dalam hati. Ahreum mengangguk ragu. Lalu keduanya pun berjalan bersama menuju halte.

“Tidak biasanya kau berangkat sendirian?”tanya Ahreum begitu mereka sampai di halte. Sehun mendudukkaan dirinya di bangku panjang di sana, begitu pula Ahreum.

“Hanya ingin,”dusta Sehun.

Pemuda itu bahkan tidak melanjutkan makan paginya bersama Yonghwa dan manajer Oh yang baru saja tiba di Seoul. Ia melarikan diri. Bukan hal yang bagus memang, tapi ia pikir hanya cara ini yang bisa ia lakukan untuk menghadapi wanita bernama Jessica di rumahnya.

Ahreum juga tak berniat menanyai Sehun lebih jauh lagi. Ia tahu, mungkin Sehun tidak ingin ia mengeksplor lebih jauh karena hal ini tergolong privasi. Mungkin.

Tak berapa lama, sebuah bus datang. Sehun dan Ahreum cepat-cepat masuk ke dalam bus tersebut. Takut jika terlambat ke sekolah, apalagi harus menunggu bus selanjutnya. Untung saja tidak begitu penuh dan sesak. Keduanya mendapat tempat duduk di bangku paling belakang. Dan Sehun kembali diam. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Ahreum bisa menebak dari raut muka Sehun yang terlihat—bingung.

“Sehun-ah, apa benar Jung haraboji sakit?”tanya Ahreum. Shindong yang memberi tahunya. Ia pikir, ia bisa menjenguk lelaki tua itu bersama Sehun. Kalau Sehun mau tentunya.

“Ah, iya. Aku baru saja akan mengajakmu menjenguk haraboji sepulang sekolah atau..” Sehun tidak melanjutkan kalimatnya.

“Atau?”Ahreum membeo kata terakhir dari mulut Sehun.

“Kita membolos saja dan pergi ke Ilsan. Hehe..”lanjut  Sehun dengan tawanya. Ahreum lantas menepuk kepala pemuda itu dengan tangan kirinya. Sehun duduk di sebelah kanan Ahreum.

“Hari ini adalah hari pengumuman jadwal untuk ujian kenaikan kelas, kau lupa ya tuan muda?”cibir Ahreum sekaligus mengingatkan Sehun.

“Hmm. Kita juga belum maju untuk tugas yang diberikan wali kelas Shim untuk bermain piano itu.”papar Sehun. Ahreum mengangguk. Dan keduanya kembali terlarut dengan obrolan-obrolan mengenai tugas sekolah hingga bus kuning tersebut berhenti di halte dekat SMA Hanlim.

“Naeun-aah!”

Ahreum berteriak kencang sambil melambaikan tangannya. Mata kelincinya menangkap sosok Naeun yang baru saja akan memasuki pintu gerbang. Sedangkan gadis berwajah innocent itu hanya tersenyum, membalas lambaian tangan Ahreum pelan. Ahreum dan Sehun mempercepat langkahnya begitu sadar kalau Naeun berhenti berjalan untuk menunggu mereka berdua.

“Selamat pagi!”sapa Ahreum riang—seolah melupakan kejadian bersama Krystal tadi pagi.

“Pagi Eun,”sapa Sehun.

“Pagi Ahreum, Sehun,”balas Naeun. Ketiganya langsung berjalan bersama menuju kelas mereka.

Masih pagi memang, namun sebuah pengumuman di papan pengumuman SMA Hanlim sudah dikerubungi oleh banyak murid-murid di sana. Jadwal pelaksanaan ujian kenaikan kelas. Judul itulah yang terpampang jelas. Ahreum, Sehun dan Naeun melewati papan pengumuman begitu saja. Ketiganya sepakat untuk menunggu hingga tak banyak murid disana.

“Apa dari dulu selalu begitu? Di sekolah lamaku, kami diberi jadwal di tiap kelas.”ungkap Sehun saat ketiganya duduk di bangku masing-masing.

“Entahlah, hanya kelas D saja yang jadwalnya selalu di taruh di papan pengumuman.”jawab Naeun. Ahreum mengangguk.

“Oh ya, aku dengar praktek musik kita akan diundur.”lanjut Naeun. Ahreum dan Sehun berpandangan. Melempar tatapan syukurkarena mereka bahkan belum berlatih sama sekali.

“Guru Shim memang baik kan?”gurau Ahreum. Tak lama bel masuk pun berbunyi.

.

Hello Precious

.

                D.O membuka lokernya. Beberapa foto hasil jepretan Polaroid menghiasi lokernya sekarang. Pemuda dengan tinggi semampai itu tersenyum. Bukan hanya hasil foto miliknya disana, tapi milik seorang gadis yang memberikannya amplop cokelat kepadanya kemarin. Siapa lagi kalau bukan Son Naeun. Hasil foto yang unik menurut D.O—ia memandanginya cukup lama. Sebuah foto buah cherry yang berada di dalam gelas berisi susu yang tinggal sedikit—tidak memenuhi ukuran gelas itu. Dan.. wajah sedih Naeun yang mengerucutkan bibirnya sedang memegang gelas itu.

Pemuda itu tertawa kecil. Ada tulisan di frame foto itu. “Lihat!Ini teknik baru mengambil foto dengan Polaroid!” Ia menebak apa yang ada di pikiran gadis itu sebenarnya. Aneh. Bodoh, bukankah jika mengambil gambar sendiri itu bernama Self-camera? Mana bisa disebut teknik baru. Batin pemuda itu.

D.O segera mengambil buku yang sengaja ia letakkan di lokernya. Matematika, mata ujian pertama yang harus ia lewati minggu depan. Ia pun menutup lokernya dan beranjak menuju kantin.

“Satu kotak banana milk dan roti sepertinya enak,”gumamnya.  Pemuda itu mempercepat langkahnya.

“Kyungsoo-ssi,”

D.O menghentikan langkahnya mendadak. Ia sedikit kaget melihat Ahreum—yang sepertiny menyegatnya—berdiri di tikungan koridor.

“Kau membuatku kaget saja,”ujar D.O. Ahreum tersenyum tipis.

“Ah maaf, tapi, eh.. Dimana Kai?”tanya Ahreum. Pemuda di depannya sedikit berpikir dan mengingat ingat.

“Aku rasa dia masih ada di kelas.”jawab D.O, ia pun langsung berjalan kembali menuju kantin. Meninggalkan Ahreum yang masih mengumpulkan nyalinya untuk ke kelas Kai. Kelas A.

Ahreum melanjutkan langkahnya menuju kelas Kai. Cukup sepi sepertinya. Mungkin murid-murid memilih melihat latihan baseball di halaman belakang, pikir Ahreum. Memang tahun ini SMA Hanlim akan mengikuti turnamen baseball.

“K-kai?” Ahreum mengintip kelas yang pintunya sedikit terbuka itu. Gadis itu heran, bukannya saat istirahat harusnya kelas dibuka?

Sreet

“Eoh?” kaget Ahreum ketika ia menengok ke dalam kelas, Krystal tengah memeluk Kai. Posisi Kai yang memunggungi pintu masuk membuat pemuda itu tak dapat melihat Ahreum. Namun suara gadis itu terdengar jelas ditelinganya. “Maaf..” Segera Ahreum berjalan cepat meninggalkan kelas tersebut.

Kai langsung melepaskan pelukan (paksa) Krystal terhadapnya. Krystal mengerucutkan bibirnya sambil menghentakkan kaki di lantai—kesal. Lagi-lagi anak itu yang menggangguku. Batinnya.

“Aku rasa pembicaraan kita tentang perjodohan itu sudah selesai.”ujar Kai dan langsung keluar kelas—berniat menyusul Ahreum.

“Kai tapi..”sanggah Krystal. “Yaaah!!!!”teriaknya marah begitu Kai meninggalkan dirinya begitu saja. Krystal segera mengambil ponselnya.

“Suzy-aah, Luna-ya..”serunya saat sambungan telepon itu terhubung. Krystal tersenyum licik. Matanya memancarkan kilat-kilat kebencian.

“Kalian, lakukan rencana selanjutnya.”ujar Krystal lalu menutup telepon itu sepihak. “Lihat saja gadis itu, pengacau..”gerutunya.

Ahreum berjalan sambil menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal. Gadis itu bahkan sedikit berlari tanpa memperhatikan jalan di depannya. Hingga ia menabrak beberapa gerombolan gadis-gadis yang membuatnya jatuh tersungkur.

Bruk

“Yaa!”protes gadis yang ditabrak Ahreum.

Ahreum segera berdiri dan meminta maaf. Ia pikir gadis-gadis ini adalah dari golongan kelas A. Tapi bukankah seharusnya koridor ini sepi.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Ahreum membungkuk beberapa kali.

“Oh, si anak pembantu tanpa ibu rupanya.”komentar gadis yang ditabrak Ahreum. Ahreum menunduk.

“Anak pembantu? Pantas saja tingkahnya juga seperti itu,”tambah temannya.

“Dia kan tidak memiliki ibu gals. Pantas saja seperti tadi,”tambah yang lain. Telinga AHreum panas mendengarnya.

“Apa masalah kalian? Bukankah aku sudah meminta maaf lalu—”

“Ah, Luna-ya, tidak perlu mencari gadis ini ternyata dia di sini.”ujar Suzy yang baru menyusul gerombolan gadis-gadis itu bersama Luna.

“Kau benar. Ayo, ikut kami.”Luna dan Suzy langsung menyeret Ahreum. Menarik tangan Ahreum paksa untuk mengikuti langkah mereka.

“Ya! Apa mau kalian? Lepsakan aku, hei!!”ronta Ahreum. Tapi gerombolan gadis-gadis tdi ikut memegangi tangannya. Terlihat seperti pembullying-an.

Suzy dan Luna menyeret Ahreum ke gudang yang berada di samping kamar mandi kawasan kelas A. Jarang sekali ada yang melewati kamar mandi bahkan gudang itu jika tidak ada hal mendesak. Suzy mengeluarkan kunci dari saku blazernya.

“Masukkan dia.”perintah Suzy.

Luna dan gadis-gadis itu langsung menghempaskan tubuh Ahreum. Gadis itu kembali tersungkur di lantai gudang yang kotor, berdebu dan penuh barang tak terpakai.

“Aaakh..”rintih Ahreum memegangi lututnya yang tergores besi kaki meja rusak di gudang itu.

“Bermimpi saja kau bisa bersama Kai,”ujar Luna.

Suzy langsung menutup pintu gudang itu sebelum Ahreum berdiri.

“Oh ya, mau kau berteriak tidak akan ada yang datang kemari!”teriak Suzy dari luar sebelum akhirnya meninggalkan Ahreum di sana.

Gadis itu melihat darah di lututnya sambil meringis. Hanya luka kecil pikirnya. Ahreum mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Aku gak boleh menangis gara-gara hal seperti ini.”gumamnya. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Menggedor-gedor pintu tersebut sambil berteriak. Berharap ada penjaga sekolah, cleaning service, Gahee songsaenim atau.. Kai yang lewat di sekitar sana.

“Kai? Kenapa namanya yang terpkirkan?”tanya Ahreum pada dirinya sendiri.

.

Hello Precious

.

                Kai berjalan menuju kantin. Ia pikir tidak mungkin D.O atau Sehun menonton pertandingan baseball. Ahreum dan Naeun juga pasti tidak akan suka menonton pertandingan latihan seperti itu kecuali ada Suho yang ikut—untuk Ahreum. Kai mendengus sendiri pada pikirannya. Begitu melihat D.O dan Sehun serta seorang gadis ia langsung mempercepat langkahnya menuju salah satu meja di kantin.

“Hanya bertiga? Mana Ahreum?”tanya Kai lalu duduk di samping Sehun.

“Bukannya tadi dia ke kelas?”D.O balik bertanya dengan raut wajahnya yang heran.

“Iya, tapi tadi..” Kai tidak melanjutkan kata-katanya. Ahreum menunggalkan kelasnya karena di kelas hanya ada dirinya dan Krystal. Apakah gadis itu cemburu, pikir Kai.

“Tadi?”tanya Naeun penasaran.

“Tidak—maksudku dia kembali sebelum bertemu denganku. Aku pikir dia bersama kalian.”lanjut Kai.

“Sejak kapan kelian sering bersama seperti ini?”tanya Sehun. Pemuda itu menatap Kai tajam.

“Kalau begitu aku akan mencarinya.”

Kai tak mengindahkan pertanyaan Sehun. Ia langsung berjalan meninggalkan kantin. Sehun menatap Kai heran. Dalam hatinya ia juga memikirkan dimana Ahreum jika Kai saja tidak bersamanya. Kai memilih berlari ke arah belakang sekolah. Pasti dia sedang di sana. Batin Kai.

Nihil. Tak ada seorangpun yang ada di tempat itu kecuali dirinya sendiri.

“Jangan-jangan dia bersama Suho hyung?”pikirnya tak nyaman.

Kai langsung meninggalkan tempat itu. Berlari kembali menuju koridor Osis.  Pintu ruangan Osis terbuka. Kai langsung masuk dan mencari Suho. Ia juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Tidak ada gadis denga kotak bekalnya.

“Hyung!”panggil Kai. Beberapa anggota Osis di ruangan itu menatapnya heran. Beberapa lainnya—gadis-gadis—berdecak kagum karena Kai datang ke ruang Osis.

“Ada apa?”balas Suho yang sedang sibuk.

“Kau tidak bersama Ahreum?”tanya Kai to the point. Suho menaikkan alisnya menatap Kai heran.

“Bukankah dia biasanya bersamamu, kau bilang dia asisten mu kan?” Suho malah semakin membuat Kai bingung.

“Apa dia tidak kemari untuk mengantarkan bekal atau..”

“Tidak.”balas Suho cepat. Ia tidak akan membalas seperti itu jika tidak benar-benar sibuk. Namun, diam-diam pemuda itu tersenyum melihat Kai yang meninggalkan ruang Osis itu.

“Belum sadar juga rupanya..”ujarnya pelan. Tak berapa lama ponselnya bergetar. Ia melihat nama Sehun yang tertera di layar. Sebuah pesan singkat dari Sehun yang juga menanyakan Ahreum. “Kenapa Sehun juga mencari Ahreum?”batinnya setelah membalas pesan tersebut.

                Kringg Kriiing kringg

                Bel masuk setelah istirahat berbuyi. D.O kembali ke kelasnya. Sehun dan Naeun pun berjalan berdua menuju kelas. Sebenarnya Sehun agak kesal pda dua orang itu karena Naeun dan D.O tidak menghiraukannya di kantin dan lebih memilih asyik sendiri.

Naeun menatap Sehun begitu mereka sudah duduk di bangku kelas. Berharap pesan yang dibalas Suho berisi pemuda itu yang sedang bersama Ahreum.

“Bagaimana?”

“Tidak.”balas Sehun singkat.

“Biasanya Ahreum tidak akan telat masuk kelas apalagi ini pelajaran matematika.”oceh Naeun. “Kau tau kan Sehun Jung, kalau meninggalkan pelajaran matematika maka akan berhadapan dengan petugas tata tertib dan mengikuti remedial bertahap kalau nilaimu tidak memenuhi standar maka—”

“Aku akan mencarinya nona Son.”

Sehun memotong ocehan Naeun yang mungkin sama dengan luasnya persegi dikalikan luas jajargenjang dan trapezium serta dikalikan tinggi, voila! Jadilan volume ocehan Naeun.

“Yah!!” teriak Naeun yang tidak terima Sehun menghiraukan penjelasannya.

Sehun berjalan pelan ke arah kelas A. Dia masih ingat Ahreum berpamitan ke kelas elit ini tadi. Benar-benar kelas yang dibenci oleh Sehun. Ia melihat Kai yang berdiri di depan kelas dari jauh. Sehun hendak menghapiri pemuda itu namun ia malah merasakan penggilan alam.

“Dia tak akan bisa keluar dari gudang itu, hahaha.”beberapa gadis kelas A tengah bergosip di dekat loker mereka.

“Ah, jinjja?”

“Bae Sooji yang memegang kuncinya, aku tau itu.”

Setelah menutup loker beberapa gadis itu berjalan ke kelas. Sehun yang menyembunyikan diri di belakang pilar dapat mendengarnya dengan jelas.Ia langsung menuju kelas A.

“Sehun?”kaget Kai.

“Bisa kau penggilkan Bae Sooji?”ujar Sehun.

“Tentu saja.”heran Kai, namun ia langsung memanggil Suzy. Gadis itu berjalan mengikuti arahan Kai karena pemuda itu tertahan oleh tangan Krystal.

“Jung Sehun, mencariku?”

“Ah, iya. Bisa kita bicara?”nada bicara Sehun berubah manis. Suzy berkedip beberapa kali mencerna kalimat yang keluar dari bibir Sehun. Sehun memintanya berbicara sebentar? Oh God! Sejak kapan Sehun mendekati gadis secara langsung seperti ini. Batin Suzy.

“Ayo,” Sehun langsung menarik tangan  Suzy untuk mengikuti langkahnya. Tepat di dekat kamar mandi ia berhenti.

“Wae? Kau ingin ke kamar mandi??”tanya Suzy. Sehun langsung berbalik dan mendorong tubuh Suzy ke tembok. Mencengkeram tangan gadis itu kuat sampai-sampai Suzy meringis.

“Baiklah Bae Sooji, aku tidak ingin basa-basi.”ujar Sehun tepat di telinga Suzy. Nada bicaranya berubah. Membuat Suzy sedikit takut.

“A-apa?”

“Kau! Serahkan kunci gudang kepadaku. Aku tahu kau dan gengmu itu mengurung Ahreum di sana bukan?”nada bicara Sehun penuh penekanan.

Mata Suzy membulat. Jantungnya berdegup kencang.

“B-bagai mana bisa—”

“Serahkan atau..”Sehun melepaskan cengkeramannya namun ia mengunci tangan kanan Suzy ke belakang. “Aku patahkan tangan kananmu, nona?”ancam Sehun.

“Baiklah!”kesal Suzy menahan sakit. “Ini!” Suzy mengeluarkan kunci gudang yang ia bawa di saku blazernya. Sehun meraih kunci itu kasar.

Pemuda itu langsung membawa Suzy ikut ke gudang. Suzy heran, harusnya Sehun sudah melepaskannya kan? Namun Sehun kembali menyerahkan kunci itu pada Suzy.

“Apa lagi?”geram Suzy.

“Buka pintunya,”perintah Sehun. Ia memegangi tangan kanan dan Manahan tubuh Suzy agar tidak kabur. Sementara tangan kiri Suzy ia biarkan untuk membuka pintu. Mau tak mau gadis itu menurutinya.

Klek

                Pintu terbuka menampakkan Ahreum yang terududuk sendirian di gudang itu. Begitu menyadari pintu terbuka Ahreum langsung mengangkat wajahnya.

“Sehun!”

“Ahreum?”

Ahreum langsung berdiri melangkahkan kakinya keluar. Suzy berdecak kesal melihat adegan layaknya drama seperti ini. Sehun langsung mendorong Suzy ke gudang itu. Menarik Ahreum minggir lalu menutup pintu gudang dan menguncinya dengan cepat.

“Hei, jangan!”ujar Ahreum.

“Kenapa? Dia yang membuatmu—Astaga! Lututmu berdarah!”kaget Sehun. Pemuda itu pun mengambil kunci yang masih menancap di pintu dan membuangnya tepat di depan pintu itu.

“Ayo, sebaiknya kita ke UKS!” Sehun kemudian menarik tangan Ahreum. Gadis itu hanya menurut. Sementara Suzy yang berada di dalam gudang segera menelpon Krystal and the gang(?) untuk meminta bantuan. Gadis itu mengumpat beberapa kali di sana.

Sehun membuka pintu ruang kesehatan sekolah mereka kasar. Ia segera masuk dan menemui petugas di sana. Hanya ada seorang dokter bernama Donghae di sana. Pria itu langsung menyuruh Ahreum untuk duduk, karena lukanya tepat di lutut kanan gadis itu.

“Kenapa bisa sampai begini? Seharusnya begitu luka langsung bawa dia ke UKS.”oceh Donghae. “Untung saja aku belum meninggalkan sekolah.”tambahnya.

“Maaf.”ujar Sehun.

Setelah Donghae membersihkan luka Ahreum, dokter muda itu langsung memberikan cairan anti septic yang membuat Ahreum meringis menahan sakit. Lalu ia pun menutup luka Ahreum dengan band aid.

“Nah, sudah selesai. Kalian aku tinggal ya, aku harus ke rumah sakit sekarang.”pamit Donghae.

“Terimakasih uisanim.” Sehun membungkuk hormat. Lalu ia mengalihkan pandangan kepada Ahreum. “Sudah baikan?”tanya Sehun.

“Eum.” Ahreum mengangguk sambil memandangi lututnya. “Gomawo..”ucapnya tulus pada Sehun. Pemuda itu tersenyum.

“Kalau begitu ceritakan padaku kenapa kau bisa sampai di gudang, nona Lee..”tagih Sehun. Sontak Ahreum membulatkan matanya.

“…”

Gadis itu diam. Tapi Sehunmasih menunggu kata yang akan terlontar dari mulut Ahreum. Gadis itu terlihat mengambil napas sebelum mengeluarkan kalimatnya.

“Sudahlah, Sehun, aku sering mendapat perlakuan seperti ini. Aku tidak apa-apa mereka—”

Grep

                Entah sejak kapan memotong pembicaraan orang menjadi kebiasaan Sehun. Ia memeluk Ahreum yang duduk di ranjang pasien sementara dirinya berdiri di depan gadis itu. Ahreum mendadakkaget. Tapi ia seolah ingat, pelukan seperti ini berbeda.

“Aku akan menjadi segalanya bagimu..”bisik Sehun yang membuat Ahreum semakin bingung. Pelukan Sehun, seperti pelukan seorang kakak…

.

Hello Precious

.

                Sore itu, Ahreum terdiam di kamarnya. Rencananya dengan Sehun terpaksa ditunda karena lututnya yang seperti ini. mata Ahreum menyapu ke seluruh ruangan kamarnya yang kecil. Jas milik Suho! Bukankah masih ada apada dirinya? Ia langsung mencari jas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah tas kertas. Bahkan jas itu sudah ia cuci.

“Ini adalah alasan logis untuk ke apartement si hitam itu.”tawa Ahreum seolah baru menemukan jarum di tumpukan jerami.

Gadis itu lantas mengganti bajunya. Memakai kaus blaster hitam putih dengan lapisan jaket pale pink. Rambutnya yang panjang semampai ia ikat menjadi buns sehingga terlihat rapi.

“Ah, appa belum pulang jadi aku tak perlu ijin pada siapa-sisapa bukan? Hmm..”

Ahreum langsung meninggalkan rumahnya dan berjalan ke halte terdekat. Tak perlu menunggu lama, bus yang ditunggunya pun berhenti did pan halte itu. Ia segera naik. Begitu sampai di halte dekat apartement Kai, ia turun dan langsung berlari ke apartement pemuda itu.

Ting

Suara lift terbuka. Ahreum langsung mencari nomor apartement pemuda itu dan langsung memencet belnya saat sudah berada di depan.

“Kau?”heran Kai.

“Iya aku.”balas Ahreum.

“Ah, aigoo, asistenku tanpa aku panggil ternyata datang juga.” Kai mulai ge-er dan memamerkan senyum lebarnya. Ahreum berdecih.

“Jangan berharap!”sergah Ahreum. “Aku datang kemari hanya untuk mengantarkan jas milik Suho oppa, mana dia?”lanjuta Ahreum yang langsung dan seketika membuat senyum di bibir Kai luntur. Seperti noda yang terkena cairan pemutih pakaian.

“Dia tidak ada disini, dia pulang ke rumah.”balas Kai malas.

“Benarkah?”tanya Ahreum lesu.

“Aaakkhh, aduh! Perutku sakit,” Kai mendadak memegangi perutnya.

“Ya! Kau kenapa?”tanya Ahreum panik.

“Kurasa, penyakit maag-ku kambuh. Aku belum makan apapun seharian ini.”dusta Kai. Ditambah ekspresi menyedihkan-menahan sakit-diwajah pemuda itu. Ahreum melebarkan matanya, kaget.

“Aduh, kau ini! Dasar! Ayo masuk, biar aku masakkan sesuatu.”

Ahreum langsung mendorong Kai masuk. Menyuruh pemuda itu duduk di sofa ruang tengah. Sementara dirinya berkutat di dapur. Kai menyunggingkan senyum kemenangannya. Ternyata mudah sekali membodohi keclinci kecil seperti Ahreum! Teriaknya dalam hati. Sambil menunggu Ahreum, ia memilih untuk menonton acara TV favoritnya dan memainkan game dari PSP.

“Kaaaaiii!”teriak Ahreum.

“Ya?”balas Kai (pura-pura) lemah.

“Sudah matang, ayo makan!”balas Ahreum.

Kai berjalan ke arah counter dapurnya dan mendapati beberapa masakan sudah terhidang di sana. Segera saja ia duduk dan mengambil mangkuk berisi nasi dan menyumpit beberapa makanan yang terlihat enak di sana. Ahreum menatap Kai heran. Semangat sekali dia ini. Ada telur dadar, kimchi, sup, dan danging. Mata Kai berbinar melihat daging di sana.

Pemuda itu langsung menyumpitkan danging bersamaan dengan nasi ke dalam mulutnya. Lalu ia mencoba sup yang dibuat Ahreum—masih panas.

“Amhyo kpffua tiffdak iphngin mappfftkadfn?”tanya Kai yang mulutnya penuh makanan. Ahreum berdecak.

“Telan dulu makananmu sebelum berbicara.”ujar Ahreum.

“Haha, maaf.”ujar Kai begitu makanannya tertelan. “Yang kau masak makanan rumah, jadi aku seperti ini. Ayo, kau tidak makan?”lanjutnya.

Ahreum mengangguk dan mulai menyumpit untuk dirinya sendiri. Dalam hatinya, ada sedikit  rasa kecewa karena Suho ternyata tidak ada di sana. Tapi sebagian besar kenapa malah senang melihat Kai yang seperti ini?

“Hei, Lee Ahreum, Krystal bilang padaku kalau Yunho haraboji sedang sakit, apakah benar?”tanya Kai.

“Iya, benar.”jawab Ahreum singkat.

“Ah, begitu. Pantas saja ayahku menyuruh kami berdua pulang, tsk!”umpat Kai.

“Kalian juga akan menjenguk haraboji?”tanya Ahreum. Sejenak kemudian ia sadar kalau yang ia lontarkan adalah pertanyaan bodoh. Tentu saja seluruh keluarga Kim akan menjenguk, cucu mereka kan bertunangan.

“Hmm.. bukankah kau juga?”Kai balik bertanya.

“Aaa, iya sebenarnya aku dan Sehun berniat kesana tadi, tapi tidak jadi karena aku—” Ahreum membungkam mulutnya sebelum ia keceplosan ah, dia sudah keceplosan.

“Kau kenapa?”tanya Kai penasaran. “Oh, seharian selama istirahat tadi kau menghilang!”lanjut Kai.

“Eh aku e..”

“Aku menunggu…” Kai menghentikan makannya. Memandang Ahreum yang sedang bingung menyusun jawaban pembohongannya. Mana mungkin dia menjawab dengan gamblang ‘Kai,  komplotan tunanganmu mengurungku di gudang koridor kelas A..’ yang benar saja -_-

“Tadi itu.. aku dan Sehun berlatih untuk ujian piano minggu depan,”kalimat itu meluncur dengan cepat dari bibir Ahreum. Kai memicingkan matanya. “Ya! Berlatih piano! Kau tahu kan, ujian kenaikan kelas di kelas D.”ujar Ahreum meyakinkan.

“Oh ya? Tadi aku mencarimu, dan.. Sehun sedang di kantin bersama D.O dan juga Naeun.”ujar Kai. “Kau bohong.”lanjutnya sambil menjitak kepala Ahreum dengan sumpit.

“Ya!” teriak Ahreum sambil menutup matanya. Lalu ia mengusap kepalanya yang terkena jitakan sumpit Kai.

“Dasar! Makanya, bilang jujur padaku.”omel Kai, persis seperti ahjumma-ahjumma saja. Ahreum mengerucutkan bibirnya kesal. Lagi-lagi pemuda ini berbuat seenaknya saja.

Aigoo.. Sepertinya aku sudah selesai. Kenyang sekali.” Ahreum menaruh sumpitnya. Karena ia makan sedikit, ia pun makan lebih cepat daripada Kai. Sebenarnya, ia mengalihkan topik pembicaraan mereka. Ingin rasanya Ahreum berteriak pada Kai lalu berlari keluar—pulang, secepat mungkin. “Sebaiknya aku pulang sebelum larut.”lanjutnya dengan diiringi senyum. Senyum palsu.

“Silakan saja,” Kai masih terus menghabiskan makananannya. Tanpa Ahreum tahu pemuda itu tengah tersenyum evil.

Ahreum berdiri dan hendak berjalan cepat ke ruang tamu. Namun kaki Kai terjulur lebih cepat dibanding langkah kaki Ahreum.

Bruk

“Aaahh—appo..”teriak Ahreum tertahan. (Sakit)

Kai tertawa terbahak melihat Ahreum jatuh tersungkur di lantai dapurnya. Sampai-sampai pemuda itu harus meneguk segelas air untuk menelan makanannya di dalam mulut.

“Kau pikir bisa melarikan diri seperti itu nona Lee? T-i-d-a-k!”ujar Kai.

Ahreum langsung berdiri hendak menjitak kepala Kai tapi tangan pemuda itu malah menangkap tangannya.

“Kau ini! Menyebalkan sekali sih!!”kesal Ahreum.

Kai tidak menggubris ocehan Ahreum terhadapnya. Ia memperhatikan darah yang terlihat dari lutut Ahreum—meskipun gadis itu memakai celana panjang.

“Lututmu?”tanya Kai menatap Ahreum khawatir. Gadis itu menarik tangannya dan langsung melihat darah di celananya. Pasti luka tadi pagi belum sepenuhnya tertutup, batin Ahreum.

“Lihat! Aku harus pulang untuk mengobati ini,” Ahreum kembali melangkahkan kaki walaupun sedikit terpincang karena sakit di lututnya. Pemuda berkulit tan itu tidak tinggal diam, ia menarik tangan Ahreum. Menuntun gadis itu untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar Suho.

Kai ingat, kotak kesehatan atau P3K yang lengkap ada di kamar kakak lelakinya itu. Ahreum menurut, percuma saja melawan pemuda di depannya ini.

“Kau tidak protes?”tanya Kai sebelum mendudukkan Ahreum di ujung tempat tidur Suho. Ahreum menggeleng.

“Aku rasa protes juga akan sia-sia,”jawab Ahreum sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar ini. Kai tersenyum lalu mengambil kotak kesehatan di dekat meja belajar Suho.

“Ya Tuhan! Omo! Ini kamar Suho oppa?”tanya Ahreum histeris saat dirinya melihat sebuah jas sekolah musim dingin dengan nametag Kim Joon Myeon—nama Suho yang menurut Ahreum terlalu sulit mengucapkannya—tergantung di depan lemari pakaian di ruangan itu.

“Ya begitulah.”jawab Kai seadanya. Pemuda itu masih sibuk mencari band aid dan cairan pembersih luka.

Ahreum terkekeh kecil untuk membendung rasa senangnya. Bukankah ini suatu keberuntungan bisa masuk kamar Suho! Suho! Ia tak berhenti tersenyum-senyum sampai Kai berlutut di depannya untuk megobati lututnya.

“Bukankah aku baik?”tanya Kai sambil menggulung celana Ahreum sampai di atas lutut. Gadis itu menatap Kai heran. Ia mengangguk kecil.

Kai tidak mendongak untuk melihat raut wajah Ahreum yang terlampau senang itu. Ia melihat luka Ahreum. Luka yang begitu kontras dengan warna kulit Ahreum yang seperti susu. Luka itu bukan seperti luka baru, apalagi luka karena tersandung dan jatuh ke lantai, pikir Kai. Seharusnya hanya memar kecil apalagi Ahreum juga menahan tubuhnya dengan tangan. Gadis itu menggigit bibirnya menahan rasa perih di lututnya yang kembali datang.

Ahreum lalu mengamati wajah serius Kai saat menyapukan cairan pembersih luka dengan kapas di lututnya. Diam-diam Ahreum tersenyum. Diam-diam perasaan yang tak bisa ia gambarkan memenuhi hatinya. Ia merasa senang.

“Jangan memandangiku, kau pikir aku cocok untuk menjadi dokter?”goda Kai. Buru-buru Ahreum mengalihkan pandangannya. Pipinya memerah. “Sudah selesai nona,” Kai tertawa pelan. Ahreum sudah menduganya.

Gomawo, tapi kau tetap menyebalkan tuan.”ujar Ahreum.

“Terserah kau saja. Ah! Temani aku bermain game bagaimana? Kau tidak benar-benar mau pulang kan, saat sudah berada di kamar hyungku?” Kai menyalakan TV yang ada di kamar Suho dan menghubungkannya dengan Xbox miliknya. Suho sengaja meletakkan Xbox milik Kai beserta koleksi kaset game adiknya itu dikamarnya.

“Apa? Game?”heran Ahreum.

“Iya game. Kau biasanya bermain game apa?”tanya Kai sambil mengeluarkan semua kaset game koleksinya. Ahreum membulatkan matanya.

“Harvest Moon ada?”tanya Ahreum polos. Ia teringat saat ia melihat Krystal memainkan game itu dulu. Ia selalu ingin mencobanya.

“Kau ini kelas berapa sih? Itu kan game anak kecil, simulation game.”kaget Kai saat mendengar pilihan Ahreum. “Ah, bagaimana kalau Tekken? Ah ya itu saja..” Kail langsung mengambil kaset Tekken dan memasangnya di Xbox. Ia juga memberikan stik Xboxnya kepada Ahreum.

“Nah, kau pilih saja karakternya.”ujar Kai. Pemuda itu juga menjelaskan cara ermain game itu kepada Ahreum yang sepertinya benar-benar buta tentang game. “Baiklah kita di level yang mudah, nanti kau harus menyerang lawanmu sampai dia kalah.”lanjut Kai.

“Tekken 6 Bloodline Rebellion..”gumam Ahreum membaca judul game yang terpampang di layar TV. Kai mendengarnya.

“Ini seri terbaru game ini, makin banyak karakter tambahan. Itu, kau pilih Nina William saja, dia sangat seksi.”tanggap Kai.

M-mwo?”Ahreum menolehkan kepalanya ke Kai cepat. “Ish! Dasar mesum..”gumamnya sambil melihat Kai yang tersenyum-senyum aneh.

“Yaa! Aku dengar itu,”seru Kai.

Ahreum dan Kai mulai bermain. Ahreum bermain dengan tergesa karena baru pertama ia memainkan game semacam ini. Baberapa kali juga Kai mengomel agar Ahreum memperlakukan stik Xboxnya dengan baik. Pemuda itu bermain dengan tenang. Ia memang sudah sering bermain game ini, kalau tidak bersama D.O, Suho bahkan Sehun.

“Haah, game apa ini kenapa aku selalu kalah,”gerutu Ahreum sambil menaruh stik Xbox tersebut. Itu saja masih melawan dari kasetnya, belum kalau ia melawan Kai. Kai hanya menoleh sebentar ke Ahreum lalu terkekeh melihat gadis itu memanyunkan bibirnya.

“Kau tidak bisa menang kalau baru bermain sekali.”omel Kai.

Gadis itu tidak menggubrisnya dan malah beranjak ke kasur Suho. Merebahkan dirinya disana.

“Ahahaha, aku ada di kasur Suho oppa! Hahaha,”ujar Ahreum sambil berguling-guling di kasur Suho. Kai hanya mengendikkan bahu dan memutar matanya malas melihat hal yang dilakukan Ahreum.

Ahreum mengambil bantal di kasur itu dan kembali duduk di sebelah Kai begitu tersadar apa yang ia lakukan. “Aah, Kai, jangan katakan pada Suho oppa ya soal ini.”ujar Ahreum sambil terkekeh. Ia langsung memeluk bantal itu. Aroma maskulin langsung memenuhi rongga hidungnya. “Baunya maskulin sekali, seperti Suho oppa ada disini aaah~”lanjut Ahreum mengendus bantal itu.

Kai berdecih, “Lihatlah! Siapa yang mesum sekarang.” Pemuda itu masih melanjutkan game-nya. Kalau belum mengalahkan Jinpachi—karakter yang sulit di kalahkan—Kai gak akan berhenti ngegame. Pemuda itu dengan lincah memencet stik Xbox tersebut, rupanya ia sedang berkonsentrasi mengalahkan lawannya.

Ahreum bahkan menguap beberapa kali karena hanya mengamati Kai dan game yang dimainkannya. Membosankan.

Puk

Kai berjingkat kaget merasakan kepala Ahreum terjatuh di bahunya. Seketika ia melepaskan stik Xbox yang ia pegang. Menoleh ke sebelah kirinya, dimana Ahreum ternyata tertidur sambil memeluk bantal. Kai menghela napasnya lalu tersenyum. Suara backsound game over lalu terdengar. Baru kali ini Kai kalah bermain game itu—apalagi belum final.

“Hhh, dasar. Kau ini.. sebenarnya apa?” Kai bergumam, bertanya pada dirinya sendiri.

Ia mengamati wajah Ahreum di bahunya. Tangannya terulur untuk menyibakkan rambut depan Ahreum ke belakang telinga gadis itu. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Ahreum. Di belakang sekolah, saat ia menggoda Ahreum gadis itu juga menutup matanya seperti ini. Tangan Kai turun dari menyelipkan rambut Ahreum, mengelus pipi gadis itu lalu menangkup rahangnya. Wajah Ahreum tiba-tiba berjarak mili-meter dengan wajah Kai—pemuda itu mendekatkan wajahnya.

Ahreum lebih terlihat cantik jika sedang terpejam. Kai bergumam dalam hati sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan menyentuh bibir Ahreum dengar bibirnya. Ah, Kai mencuri ciuman dari Ahreum.

Tanpa ia sadari seseorang tengah mengeratkan genggamannya pada ganggang pintu kamar itu.

-ToBeContinued:)-

14 pemikiran pada “Hello Precious! (Chapter 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s