7 Years Versus 7 Months

baekhyunie

 

Title                       : 7 Years versus 7 months

Genre                   : Angst, very little bit of comedy, romance, marriage life

Author                  : Sarahdeha

Main cast             : Baekhyun (EXO-K)

Byun Nanhee (OC)

Jin songsaengnim/doctor Jin (OC)

Length                  : 2900+ words

Rating                   : 15+

********

Entah bagaimana ceritanya, intinya sekarang adalah aku hamil. Mengandung anak suamiku (tentu saja) yang telah kami nanti kehadirannya selama 5 tahun pernikahan kami.

                Kami baru mengetahuinya sebulan lalu disaat usia kandunganku mencapai 7 minggu dan itu berhasil membuat kami menangis haru. Awalnya aku maupun Baekhyun tak mengetahui penyebab sakit mual dan pusing yang kuderita berhari-hari lalu. Baekhyun justru mengira bahwa aku terserang flu ‘sauna’, karena memang 3 hari sebelumnya kami berdua datang ke sauna selama berjam-jam. Tapi aku tahu ia hanya asal bicara.

Namun karena kami berdua sama-sama buta masalah medis, akhirnya kami ke rumah sakit dan sang dokter memberikan ucapan selamat pada ku dan Baekhyun karena akan menjadi ibu dan ayah. Saking senangnya ia ingin mengajak sang dokter minum-minum bersama, tapi aku tahu ia hanya pria konyol yang entah cocok atau tidak dipanggil ‘ayah’ suatu saat nanti. 

Baekhyun tak henti-hentinya mengusap perutku yang masih rata saat keluar dari rumah sakit.

                “Sudah kuduga suatu saat pasti berhasil.” Gumamnya sambil tersenyum kegirangan saat menyalakan mesin. Ia seperti seorang bocah yang baru menang lotere yang ia beli di halaman sekolahnya.

                Tapi aku diam saja sambil terus mencoba mengenakan seatbelt.

                “Stop stop stop,” tangannya mencegahku. “Mengapa kau memakai seatbelt? Bagaimana kalau anakku yang ada dalam perutmu tercekik atau sesak napas?”

                “Lalu kau lebih memilih dahiku terantuk dashboard hingga gegar otak?” dia itu berlebihan sekali sih. Lagipula yang diikat sabuk pengaman kan dadaku bukan perutku, pikirnya aku sedang naik jet coaster atau apa?

                “Baiklah, karena perutmu masih agak rata kuperbolehkan. Tapi jika perutmu sudah sebesar ini,” kedua lengannya bergerak membentuk setengah lingkaran di perutnya. “Kau tidak boleh duduk di samping kemudi, tapi di belakang.”

                Ckckck. Sekarang saja dia sudah kelewat protektif, bagaimana jika usia kandunganku sudah 8 bulan? Mungkin aku tak akan diijinkan memandikan tubuhku sendiri.

******

                Tak terasa perutku mulai membuncit, tentu saja karena usianya sudah 5 bulan. Kutolakkan badanku ke kanan dan ke kiri berulang kali, mengagumi bagaimana bisa perutku menjadi sebesar ini dengan tubuh yang sekecil ini.

                “Yeobo, sedang apa?” Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik pintu. “Kare nya sudah siap.”

                “Baiklah, tunggu sebentar.” Kuraih dress panjang yang ada di lemari dan memakainya.

                “Sepertinya kau tak perlu makan masakanku, karena tampaknya kau baru saja mengemil bola basket.”

                Aku hanya tertawa. Rasa humornya semakin normal akhir-akhir ini. Baekhyun mengelus perutku sebentar kemudian menempelkan telinganya.

                “Baik baik disana ya jagoan. Jangan merepotkan ibumu seperti membuatnya merasa mual lagi atau sakit. Kau hanya harus tumbuh sehat dan segera memanggilku ayah.”

                Senyumku mengembang. Baekhyun memang sangat menyayangi calon bayi ini. Bagaimana tidak, selama aku dinyatakan hamil ia segera menyewa pembantu rumah tangga dan menggantikan seluruh pekerjaan rumahku. Di hari libur begini pun ia yang memasak untuk kami berdua, ketika aku menawarkan diri membantu ia justru membawaku ke ruang keluarga dan menyuruhku menonton televisi saja.

                Pada mulanya bebanku terasa jauh lebih berkurang dan senang-senang saja diperlakukan bak ratu sejagad seperti ini. Tapi lama kelamaan sifatnya yang kelewat protektif seperti melarangku makan minum ini itu bahkan untuk berolahraga sekalipun – hingga ia berhenti saat mendengar dokter menganjurkannya – membuatku risih dan ingin semua aktifitas normalku kembali.

                Jika aku tidak benar-benar ngotot bahwa aku masih ingin bekerja di kantor, mungkin ia juga akan menyuruhku cuti. Aku tahu ia khawatir padaku dan kandunganku, tapi tidak baik juga jika keterlaluan.

                “Kenapa rasa karenya seperti ini?” lidahku mengecap rasa aneh yang terasa.

                “Kuberikan sedikit sekali garam dalam karemu, karena kupikir tak baik jika janin mengonsumsi garam banyak-banyak. Kau tahu kan faktor utama penyebab hipertensi itu rasa asin–“

                “Baek–“ kuhela napas sebentar. “Sayang, yang kau katakan memang benar tapi jika aku kekurangan mengonsumsi garam terutama yang beryodium bayi ini bisa saja…”

                Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya dengan penasaran.

                “Fisik bayi bisa berhenti berkembang atau yang lebih parah cacat mental.”

                “Astaga, separah itu??” ia memekik.

                “Dokter Jin yang mengatakannya. Jadi, “ kuusap lembut punggung tangannya. “Jangan terlalu protektif, okay? Aku tahu kau ingin hal yang berkualitas untukku dan bayimu, tapi jangan berlebihan. Kita harus lebih sering konsultasi ke dokter Jin jika kau ingin, hm?”

                Baekhyun menggenggam telapak tanganku yang menyentuhnya sambil mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu kutambahkan banyak-banyak garam ke kare mu bagaimana?”

                “Idiot! Itu terlalu banyak!” kutahan tangannya yang hendak menuangkan sesendok penuh garam ke mangkukku.

**********

                “Yeobo…”

                “Hm.”

                “Yeobo…!”

                “Hmmm…”

                “Ireona palli….”

                “Ini kan hari minggu ….”

                “Tapi rasanya perutku….”

                Seketika Baekhyun duduk di tempat tidur dengan siaga. Aku selalu berhasil menggunakan cara ini untuk membuatnya bangun.

                “Perutmu kenapa? Sakit? Rasanya bagaimana?” tanyanya panik.

                Aku hanya meringis. “Rasanya aneh sekali ketika anakmu menendang-nendang perutku. Perutku rasanya seperti akan lepas dari rongganya.”

                “Dia menendang dari dalam sana?” raut wajahnya sangat khawatir. Ia menempelkan telinganya di perutku. “Yaaa, jangan menendang perut istriku keras-keras ya. Atau kau ingin dikeluarkan sekarang, hah?”

                “Yakk! Byun Baekhyun!” teriakku. Bukan itu reaksi yang kuharapkan. “Kau pikir kau siapa hah??”

                Baekhyun tersenyum kecut, sadar bahwa leluconnya tidak berhasil. “Maaf.”

                “Aigoo, ketika ia menendang rasanya jadi berat.”

                Ia memapah ku turun dari ranjang. “Kau ingin ke dokter Jin?”

                “Ani. Beliau pernah bilang jika janin nya aktif menendang-nendang tandanya ia tumbuh sehat.”

                Ia tersenyum. Tangannya mengelus-elus perutku dengan lembut. “Kubuatkan sarapan ya? Jagoan kecil, kau ingin makan apa? Kimbap? Jajangmyun? Ayah akan membuatnya dalam 5 menit!”

                “Tunggu Baek–” kutahan lengannya.

                “Hm?” alisnya naik turun dengan lucu.

                “Jagoan kecil mu baru saja berbisik padaku kalau ia ingin melihat ayahnya menyanyi sambil menari hip hop.”

                “He??” alis kanannya sekarang naik lebih tinggi. Raut wajahnya tampak ingin menolak. “Menari?”

                Aku mengangguk dengan polos.

                “Nanhee, kau tahu kan aku sudah lama sekali tidak menyanyi dan menari–“

                “Menyanyikan lagu Barney.”

                “Ha? Menari hip hop dengan…Barney??”

Senyumku mengembang sambil menatapnya penuh permohonan. Sekonyong-konyong kudekatkan bibirku ke telinganya, “Aku sedang ngidam, Baek.”

                “Hah?” ia tampak mulai menyerah. Lagi lagi aku hanya tersenyum dan memasang raut wajah memohon yang amat sangat.

Aku tidak tahu seperti apa ngidam itu, hanya saja aku ingin sekali mendengarnya menyanyi. Suaranya yang sewaktu kuliah dulu sering memenangkan kejuaraan membuatku rindu. Untuk masalah Barney, itu muncul begitu saja di kepalaku.

                Tak sampai semenit kemudian, dengan masih mengenakan piyama biru yang kuhadiahkan saat ulang tahunnya tahun lalu, Baekhyun meliuk-liukkan tubuhnya dengan setengah hati diiringi lagu yang kuputar dari ponsel. Ia mulai berdeham dan melantunkan lirik yang dianggap konyol oleh sebagian orang dewasa.

                I love you, you love me~

                Were a happy family~

                With a great big hug~

And a kiss from me to you~

Won’t you say you love me too~

Aku bertepuk tangan sendirian dengan heboh sedangkan Baekhyun terduduk kelelahan. Meski aku tahu ia tidak menari dan menyanyi secara totalitas, peluh masih membasahi rambut dan lehernya.

“Baekhyun oppa, saranghanda!!” teriakku berlagak seperti fangirl.

“Yaaa, kau meledekku?”

“Tentu saja tidak. Suamiku sudah susah payah memberi pertunjukkan kecil untukku sudah sepantasnya aku memberinya semangat kan.” aku tersenyum lebar dan mengusap peluhnya. “Kau mengingatkanku saat kuliah dulu.”

“Kau dulu bahkan bukan fans ku. Justru kau mengataiku tukang cari muka.”

Aigoo, itu karena kau selalu menyanyi tiba-tiba di tengah lapangan basket seperti orang idiot. Sekarang lihat saja, seorang Byun Baekhyun malu diminta untuk menyanyi.” Kupencet hidungnya dengan gemas.

“Sudah, aku mau membuat makanan saja.” Ia membuang muka.

Aku tahu benar ia sudah lama sekali tidak menari, mungkin karena itu ia malu. Atau karena lagu pengiringnya bukan lagu hip hop melainkan lagu Barney? Hanya Baekhyun yang tahu.

***********

                Tak terasa usia kandunganku sudah mencapai 7 bulan. Semakin hari aku semakin gugup menghadapi hari kelahiran bayi ini karena selalu merasa kurang persiapan. Bukan masalah kamar tidur, baju dan segala perlengkapannya, namun lebih pada persiapan mental. Akankah aku bisa melahirkan dengan lancar atau tidak, akankah bayiku nanti lahir dengan normal atau tidak, semacam itu.

Namun Baekhyun selalu memberiku semangat dan sering berkonsultasi dengan dokter Jin, membuatku sedikit lega. Baekhyun dengan setia selalu disampingku hingga rela mengerjakan tugas lembur kantornya di rumah hanya untuk menemaniku.

Untuk masalah jenis kelamin anak kami, aku sebenarnya sudah ingin mengetahuinya sejak lama namun Baekhyun bilang karena ia suka kejutan, ia juga ingin jenis kelamin anaknya dirahasiakan saja menunggu hingga bayinya lahir. Aku ingin mengetahuinya untuk membeli perlengkapan yang warna dan corak nya sesuai. Biru untuk laki-laki atau merah muda untuk perempuan. Tapi karena keras kepalanya Baekhyun tak kunjung pudar, kami memutuskan untuk membeli dan mengecat dinding kamar si calon bayi dengan warna ungu.

                “Bagaimana kabarmu hari ini, jagoan kecil? Sehat-sehat saja kan?” Baekhyun menempelkan telinga kanannya di perutku.

                “Baek, minggirlah, aku harus bergegas.” Tanganku menepis kepalanya pelan kemudian melanjutkan aktifitasku memasukkan pakaian dalam tas.

                “Mau kemana pagi-pagi di hari senin begini?”

                “Berenang.”

                “Membeli pakaian renang maksudmu?”

                “Bukan. Be-re-nang.”

                “Mengantar Dolphin berenang maksudmu? Ia kan baru saja berenang 2 hari lalu–“ Dolphin adalah nama anjing Golden Retriever kami. Siapa orang yang akan memberi nama seekor anjing dengan nama ‘lumba-lumba’ jika bukan Baekhyun?

                “Bukan, Baek.”

                “Kalau begitu, memenuhi ajakan temanmu untuk mengantar anaknya rekreasi ke kolam renang?”

                “Bukan siapa-siapa yang akan berenang, Baek. Tapi aku, istrimu, Byun Nanhee.”

                Ia menatapku seperti melihat mumi mesir kuno asli. “Bagaimana bisa?”

                “Berenang itu baik untuk janin dan melatih napas ku saat melahirkan nanti. Kau tidak pernah melihatnya di televisi?”

                Ia menggeleng membuat poninya bergoyang-goyang. “Tidak boleh.”

                Aku mengernyitkan alis. “Aku tetap akan pergi selama itu baik untuk anakku.”

                “Dia anakku juga. Dan aku melarangnya pergi menuruti kemauan ibunya yang konyol.”

                “Kau yang konyol Baek, melarangku melakukan sesuatu yang jelas-jelas untuk kebaikan anak kita.”

                “Aku bahkan tidak bisa menalar saat tanganmu memanjang dan memendek dan kakimu bergaya seperti katak yang baru saja memakan seekor landak, Nanhee.”

                “Berenang untuk ibu hamil ada gaya tersendiri!” aku mulai memekik emosi.

                “Oh ya? Seperti apa? Duduk bersila di dasar kolam sambil meditasi dan membiarkan air menggenang sampai di lehermu? Kau mau sesak napas?” nada bicara Baekhyun juga mulai meninggi.

“Dokter Jin yang menyarakannya!”

                “Jangan menggunakan nama dokter Jin lagi untuk hal sekonyol itu. Bagaimana bisa kau berenang dengan perutmu yang gendut? Kau bisa tenggelam, Nanhee. Lihat saja sekarang berapa berat badanmu!”

                Kusodorkon ponsel ku padanya.

                “Untuk apa?”

                “Teleponlah dokter Jin dan tanyakan sendiri apakah ia menyuruhku berenang atau tidak.”

                Ia menatap ku dan ponselnya bergantian. Antara percaya dan tidak percaya ia menggigiti bibir bawahnya yang tipis.

                “Kau sudah selesai bicara? Segeralah berangkat ke kantor dan aku akan pergi naik taksi.”

*******

                Mungkin Tuhan sedang mencoba bicara padaku saat ini, memberitahuku bahwa perkataan suami itu jauh lebih penting dari siapa pun di dunia, dokter paling hebat sekalipun.

                Apa yang suami katakan itu layaknya mantra tukang sihir atau doa-doa para biksu dan biksuni pada sang Buddha, atau siapa pun di dunia yang kukira manjur segala perkataannya. Meski Baekhyun tentu tidak memanjatkan doa apa pun agar aku mengalami kejadian siang ini, aku merasa konyol tak mendengar nasihatnya pagi tadi.

                Suara sirine mobil ambulans beradu dengan rasa sakit yang luar biasa di sekitar perut bawahku ketika beberapa petugas medis mengeluarkanku dari mobil ‘seram’ itu dan bergegas mendorong tempat tidurku menuju kamar gawat darurat–mungkin, atau kamar rawat inap biasa saja, entahlah.

                Dengan sigap seorang dokter laki-laki muda berperawakan tinggi, berkacamata dan berwajah yah, cukup tampan (hei, aku sedang sekarat kenapa aku bisa menilainya hingga sedetail itu?? Entahlah) menghampiriku dan memeriksa beberapa bagian. Ia menginstruksikan seorang perawat untuk menyuntikkan sesuatu padaku dan tak lama kemudian semua gelap.

**********

                “Barney…..”

                “Nanhee? Nanhee? Ini aku, Baekhyun!”

                “Oh, apakah Nyonya Byun sudah sadar? Tuan Byun, sebaiknya anda tidak mengguncangkan tubuhnya seperti itu.” Samar-samar aku mendengar suara Baekhyun beradu dengan perawat wanita yang masuk dan segera menghentikan aksi Baekhyun yang tak sepantasnya. Aku merasa ada seseorang yang memegang pergelangan tangaku.

                “Barney….Baek….”

                “Oh, aku di sini sayang. Buka matamu, aku di sini.”

                Pusing. Itulah yang kurasakan. Tapi semua segera membaik ketika aku menyadari ada sebuah tangan hangat yang menggenggamku. Tampaknya Baekhyun menggenggam tanganku selama berjam-jam.

                “Apa yang terjadi, Baek?”

                Ia membantuku duduk di ranjang. Raut mukanya cemas dan lihat apa yang dikenakannya. Hanya sebuah jersey tim Barcelona favoritnya dan celana jins abu-abu yang lusuh.

                “Kau baru saja memimpikan Barney ya?” senyumnya yang tampak lesu membuatku penasaran.

                “Apakah aku baik-baik saja? Aku hanya ingat kolam renang, sirine ambulans, dokter yang…” kataku lemas tanpa meneruskan kalimat selanjutnya.

                “Kau lapar? Mau kebelikan makanan?”

                Aku menggeleng lemas. “Jangan pergi kemana pun, temani aku disini. Rasanya sudah berhari-hari tidak melihatmu.”

                Baekhyun hanya terdiam mendengar leluconku. Ekspresinya sungguh membuatku makin penasaran.

                “Nanhee–“

                “Baek…” mataku melotot sejadi-jadinya. “Perutku….”

                Baekhyun hanya meremas tanganku sambil menundukkan kepalanya.

                “Kenapa perutku mengecil….Baek! Katakan sesuatu!!” kutarik tanganku dengan paksa dengan mata berarir.

                “Nanhee, dengarkan aku–“

                “DIMANA ANAKKU?!!” jeritku sekuat tenaga. Kepalaku pusing, mataku terus mengeluarkan air mata dan tubuhku lemas. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku.

                Baekhyun segera mendekapku dan menenggelamkan kepalaku di dadanya yang lebar. Kukeluarkan semuanya disana hingga suara dan air mataku habis.

***********

                “Tuan Byun Baekhyun?”

                “Bagaimana keadaan istri saya dokter?” rasa gugup mulai menghantui Baekhyun. Ia berharap Nanhee baik-baik saja sehingga si calon bayi pun begitu. Namun seharusnya ia tahu, ia harus menyiapkan diri untuk mendengar kabar terburuk.

                Seperti menebak alur sebuah opera sabun di televisi, ekspresi sang dokter mulai tidak mengenakkan. Ia tidak tersenyum sama sekali. “Maafkan kami, tapi janin yang ada dalam perut istri anda sedang dalam keadaan kritis.”

                Bulir-bulir keringat mulai menghujani sekujur tubuhnya. Jika ia bisa, ia lebih memilih tidak mendengar perkataan dokter selanjutnya dan segera pergi menemui Nanhee untuk mengajaknya pulang.

                “Lalu, bagaimana selanjutnya?”

                “Karena Nyonya Byun belum sadarkan diri, anda sebagai suami harus memilih antara istri anda atau calon bayi anda.” Dokter itu tampak benar-benar menyesal telah mengabarkan kabar buruk, tampak dari raut mukanya.

                “Bagaimana saya bisa memilih dalam kondisi seperti ini, dokter?!! 2 orang yang saya sayangi sedang sekarat sekarang dan anda bilang saya harus memilih??!! APAKAH INI TAMPAK SEPERTI SEBUAH PERMAINAN?!”

                “Saya tahu perasaan anda tapi–“ sang dokter menahan perkataannya. Ia tahu wali pasien siapa pun pasti akan bereaksi demikian jadi ia memilih untuk diam.

                “Selamatkan istri saya.” Celetuk Baekhyun setelah cukup lama berpikir. Ia berniat akan menanggung risiko yang ada untuk ini. Ini bukan pilihan, tapi apa yang harus dilakukan. Dan yang harus dilakukan sekarang menyelamatkan nyawa Nanhee.

***********

                Pepatah mengatakan, waktu lah yang akan membantu kita melewati dan melupakan semuanya. Namun kukira hal itu tidak terjadi padaku dan Baekhyun. Sudah 2 tahun sejak kejadian keguguran kandunganku waktu itu sampai sekarang pun aku masih menyesali kejadian itu, terkadang aku menangis sepanjang malam sambil tidur di kamar bercat dinding ungu yang kami siapkan untuk calon bayi sambil memeluk baju-bajunya yang mungil.

                Aku tahu Baekhyun juga masih bersedih, karena aku tak pernah lagi melihat Baekhyun yang konyol dan jenaka lagi beberapa tahun terakhir. Tapi ia tak pernah menunjukkannya di depanku dan selalu berusaha membuatku bersemangat lagi.

                “Sayang…” Baekhyun meremas bahuku lembut yang kini terkulai lemah di sisi baby box. “Aku tahu kau masih bersedih dan selalu merasa berkabung selama 2 tahun terakhir. Tapi kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Kau harus kembali menjadi Nanhee yang bersemangat seperti dulu.”

                “Bagaimana bisa aku tidak bersedih?? Apa yang bisa membuatku tidak menangis sepanjang malam, Baek? Aku ingin tapi tidak bisa.” Seluruh  wajahku basah terkena air mata. Setiap hari aku datang ke kantor dengan mata sembab hingga aku ragu apakah teman kerjaku masih mengenaliku ketika mata ini tak sembab lagi.

                “Ssshhh…” Baekhyun mendekapku, memelukku dengan hangat. “Kau tidak perlu melupakannya sayang, karena tidak mungkin kita melupakannya. Bagaimana bisa kau melupakan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari dirimu? Bagaimana aku bisa melupakan sesuatu yang dulu setiap hari selalu kuelus dan kuajak bicara meski tak pernah membalas perkataanku?”

                Meski aku tidak bicara menanggapinya namun dalam hati aku menyetujuinya.

                “Tapi kau harus belajar menerimanya. Menerima semua kesalahan yang kau dan aku lakukan terhadapnya dan belajar memaafkannya. Dengan begitu kau akan merasa tenang dan nyaman, sayang.” Baekhyun mendekapku makin erat dan mengecup keningku lembut.

                Aku mengusap air mataku dan berpikir sejenak. Menggali peristiwa lalu dimana aku selalu marah dan menyalahkan diriku atas kejadian itu. Dimana aku tak pernah ingin mencoba beranjak dari ‘zona berkabung’ ini karena takut dan merasa bersalah.

                Ya, Baekhyun benar. Aku hanya harus memaafkan diriku sendiri. Aku mengangguk pelan dalam dekapannya dan tersenyum, begitu pula Baekhyun.

                “Nanhee, kau tahu mengapa aku lebih memilih – tidak, mengapa aku menyuruh dokter untuk menyelamatkanmu saja?”

                Aku menggeleng. Karena terlalu banyak menangis, tenggoranku terasa kering.

                “Karena aku mencintaimu? Itu benar. Tapi aku mencintai kalian berdua. Karena aku tak ingin kehilanganmu? Itu benar. Tapi aku juga tak ingin kehilangan si calon jagoan kecil. Alasan terbesarku adalah, karena ia adalah ‘calon’ anakku. Dia ‘belum’ menjadi anakku, tidak seperti kau. Kau adalah pacarku selama 2 tahun dan istriku selama 5 tahun terakhir.”

                Aku mengernyitkan alis tanda tak mengerti. “Maksudmu?”

                Ia tersenyum. Senyum yang menenangkan. “Aku menghabiskan hampir separo hidupku bersamamu, Nanhee. Aku tak tahu apakah aku masih menjadi Baekhyun yang sekarang ini jika aku tak bersamamu selama itu. Dan aku masih hampir 8 bulan bersama calon anakku. Apa kau berharap aku akan membiarkanmu menghilang dari hidupku begitu saja?”

                Senyumku mengembang sejadi-jadinya. Bagaimana bisa si konyol Baekhyun ini mengucapkan kalimat super romantis sepanjang itu?

                Senyumku makin lebar setelah Baekhyun mendaratkan ciuman lembutnya di bibirku.

                “Lagipula, apa kau lupa kalau kita bisa ‘membuat’nya lagi kapan pun?” seringai Baekhyun mengundang sentilan kejam dariku di dahinya yang sukses membuatnya kesakitan.

                “Bicara seenaknya.” Dengusku. “Hei, tapi apa kau tidak pernah mendengar kabar jika orang yang pernah keguguran itu sulit untuk hamil lagi?”

                “Kita buktikan saja apakah itu benar atau tidak.” Senyum percaya diri Baekhyun mengembang.

***********

                2 bulan kemudian….

                “Annyeonghaseyo, Jin songsaengnim. Apa kami bisa berkonsultasi pada anda? Beberapa hari belakangan ini, istri saya mual-mual dan merasa tidak enak badan. Lagi.”

***END***

61 pemikiran pada “7 Years Versus 7 Months

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s