ASRAIS

20140108201820

Main Cast :

Kyungsoo || Baekhyun

Support Cast :

Jongin || Kris

Author:

@yosalee93

Duration: Oneshoot

Genre :Fantasy ,Brothership, Friendship

Summary:

“Saat aku tidak bisa hidup dengannya, aku akan mati bersamanya”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kyungsoo  menenggelamkan seluruh tubuhnya kedasar kolam,  dia tidak tahan dengan sinar matahari, bahkan membayangkan akibatnya saja dia tak berani. Itulah yang membuatnya mendengus kesal dan menahan agar kaki-kaki yang tak lebih dari 5 cm dan bertekstur seperti pudding plum tetap menapak di dasar kolam, karena terbang saat itu hanya akan membuat dirinya berakhir sebagai koleksi museum. 

Dia mendengus lagi.

“Ah, lama sekali. Kapan dunia ini kembali gelap dan aku bisa bermain keluar?!” dia berteriak— masih frustasi.

 Kyungsoo—seorang  asrais.  Asrais adalah peri yang tak tahan dengan sinar matahari langsung, mereka jenis peri laki-laki yang akan keluar disaat gelap. Dan, alasan konyol dari Kris— semacampemimpin mereka yang menyebut kalau saja dia berani mengepakkan sayapnya di siang bolong, sama saja seperti bunuh diri.

Dia bergidik ngeri.

Seberkas cahanya menyusup perlahan, jatuh tepat di antara tangannya yang berselaput. Dia bergerak sedikit menjauh, takut kalau mungkin saja pantulan cahanya matahari itu biasa merusak tangannya. Mungkin saja, siapa tahu.

“Kyungsoo! Apa yang kau lakukan di dalam sana?” itu suara Baekhyun,teman akrabnya.

“Jangan bertanya seakan-akan kau baru sehari menjadi seorang peri, bocah!” Kyungsoo berteriak, jelas dia menekankan kata ‘bocah’.

“Berhenti memanggilku bocah, bocah” sedetik berikutnya Baekhyun sudah berada di samping Kyungsoo, menggenggam semacam bunga yang agak  layu, tubuhnya yang sepenuhnya hijau menyatu dengan air kolam dengan warna senada. Baekhyun melipat tangannya yang pendek-pendek.

“Kau yang mulai” Kyungsoo sedikit menggeram saat sebuah cahaya mencuri masuk ke dasar kolam lagi.

“Bagaimana keadaan anak itu?” Kyungsoo membuka suara, mengabaikan Baekhyun yang akan mengamuk lagi.

Baekhyunh tak langsung menjawab, dia melirik beberapa lumut yang tumbuh di permukaan batu di depan mereka.  Sempat berfikir apakah dia harus membersihkan lumut-lumut itu. Dia peri penolong, tentu itu juga masuk dalam daftar kerjanya— bersih-bersih.

“ah, kurasa dia mencari mu pagi tadi. Dia terus saja menatap jendela, sepertinya dia belum beranjak hingga sekarang” Baekhyun menjawab dengan suara khasnya, dia berbicara seperti sedang bernyanyi.  Jemarinya yang hijau pucat meraih beberapa lumut dan membersihkan mereka hingga jatuh ke dasar kolam. Baekhyun baru saja merasa memang harus melakukan itu. Dan Kyungsooberfikir dia menyukai Baekhyunyang seperti ini.

Tubuh Kyungsoo merosot kedasar lantai kolam yang agak kasarkemudian mendekap kedua kakinya “aku ingin segera bertemu dia, anak itu pasti sedih” sayap-sayap Kyungsoo jatuh lemas  di antara tubuh kecilnya.

“Ya, kurasa kalian memang harus segera bertemu” Baekhyun meletakkan bunga layunya perlahan, diantar sisi kosong dirinya dan Kyungsoo.

“Kau meninggalkan fairyland dan kau membuat kris marah. Kau harus mengakhiri ini Kyungsoo” Baekhyun menambahkan, suaranya tak lagi merdu karena Baekhyun sedang menatapnya intens. Mata hijau Baekhyun membuat Kyungsoo merasa kalau air kolam itu terasa lebih panas dari sebelumnya.

Apa yang harus di akhiri? Aku bahkan belum memulai.

 

***

Banyak orang yang tak percaya peri. Mungkin sebagaian dari mereka memang tak pernah melihat peri atau memang mereka tak suka ada makhluk lain di muka bumi ini yang bias terbang, sedangkan mereka— manusia, harus bersusah payah mengendarai mobil atau setidaknya berjalan kaki saat beraktifitas. Ataumungkin saja mereka tak suka saat mereka harus ke klinik bahkan untuk sebuah sakit flue biasa, sedangkan peri-peri hanya perlu sebuah mantera.

Mungkin manusia cemburu.

Tapi peri juga bukan makhluk sempurna, maksudnya, tak semua peri bisa mengobati. Hanya peri penolong—  Brownise— tepatnya. Dan seperti manusia yang cemburu pada peri-peri, Kyungsoo juga cemburu pada Brownise.

Saat itu Kyungsoo sedang terbang mengitari desa Avonleasedikit selatan dari St.Hauda’s Land. Avonlea memiliki sebuah padang rumput luas yang di tumbuhi tanaman semanggi yang menurun kesebuah lembah tak bernama. Kyungsoo tak mengerti mengapa lembah itu tak bernaman. Mungkin tidak ada nama yang cukup indah untuk menggambarkanya.

Kyungsoo terbang pelann diantara gemerisik pohon poplar yang berjejer rapi seperti prajurit perang, menyenandungkan nada-nada tanpa lirik, melalui senja yang sendu dan bayangan yang menggantung pada sebuah petang bulan agustus.

Kyungsoo tak punya rencana saat itu. Semua anak sedang bahagia, ini musim semi yang sempurna. Dia masih bermain dengan seekor cermelai saat telinga asraisnya mendengar erangan tertahan dari sebuah jendela dari rumah berkayu mahoni di sudut jalan.

Kyungsoo terbang dengan kecepatan tinggi. Sedikit pusing saat kaki-kaki pudding plum-nya mendarat kurang sempurna di tepi jendela besar di rumah itu. Kyungsoo menilik keadaan dari luar jendela yang terbuka setengah, kamar itu kosong, sedikit pengap dan gelap. Namun, dengan jelas dia bisa menagkap sebuah erangan yang menyayat hati.

Kyungsoo menyusupkan tubuh 5 incinya dari tepian jendela, berharap kaki-kakinya tak tersangkut atau yang paling parah sayap-sayapnya tak sengaja menyentuh benda-benda disana dan berakhir dengan kegaduhan. Kyungsoo menjerithisteris saat melihat seorang anak, tak lebih dari 5 tahun sedang membeku di sudut kasurnya yang besar. Kyungsoo mendekat, merasakan sakit yang dengan sempurna mengoyak hatinya saat merasakan tubuh anak itu dingin seperti balok es.

“Baekhyun!” senja itu menjadi senja yang tak akan terlupakan olehnya ketika dia terbang tak karuan menuju fairyland dan menarik lengan-lengan hijau Baekhyun, dia juga tak akan melupakan umpatan Baekhyun yang mengatakan kalau Kyungsoo bukan peri penolong dan tak seharusnya dia khawatir berlebihan terhadap manusia.

Mereka sampai di rumah berkayu mahoni itu tak lebih dari 5 menit. Kyungsoo menyusupkan badannya terlebih dahulu dan kemudian menarik tubuh Baekhyun melalui jendela yang sama.

Baekhyun menjerit, tubuhnya terjepit kayu kecil yang mengelupas dari bingkai kayu jendela. Mereka menghabiskan waktu sedikit lebih lama saat sayap-sayap Baekhyun tak kunjung terlepas dari antara kayu-kayu itu.

“Kami tak melakukan hal-hal seperti ini, Kyungsoo” suaranya terputus-putus, setelah menemukan satu mantera akhirnya Baekhyun terlepas dari kayu-kayu itu.

“Maksudmu?” Kyungsoo mendelik. Bola matanya masih sibuk memperhatikan anak itu.

“Kami tak menolong manusia” Kyungsoo menatapnya cepat, mencari kebohongan yang mungkin tersamar di mata hijau Baekhyun yang terlihat lebih gelap.

“Kami hanya membantu tanaman dan hewan yang sakit” Baekhyun menambahkan.

Anak itu kembali bergerak-gerak resah, tubuhnya mengejang, matanya berpencar-pencar liar.

“Ayolah Baekhyun, apa salahnya menolong manusia. Lihat anak itu” Kyungsoo memelas.

Baekhyun menghembuskan nafas perlahan “Kau selalu seperti ini”

Baekhyun mengambil tempat tepat di sisi kepala anak itu, dia memperhatikan dengan seksama bagaimana seorang anak kecil bisa terlihat sesakit ini. “huh” dia mendesah, merasakan sakit yang sama saat anak itu menatapnya penuh harap. Baekhyun akhirnya menyerah, dia mengangkat tangannya dan menggumamkan sebuah mantera. Selanjutnya air melesak perlahan dari bibir sang anak dan menyebar di sekitar wajahnya.

Anak itu terbatuk.

1 detik…

5 detik…

Dan beberapa detik yang menyesakkan saat anak itu tiba-tiba terdiam sesaat setelah terbatuk.

Kyungsoo merasa tenggorokannya tercekat, dia menelan ludah. Berusaha mengaliri kerongkongannya. Andai saja mereka bukan sedang di situasi— seorang anak dengan muka memucat, Kyungsoo yakin dia akan mengapit lengan baekhyun kuat karena dia benci kesunyian. Namun kyungsoo berhenti dengan pikiran mengapit lengan baekhyun karena dilihatnya Baekhyun sedang berusaha kuat untuk mengingat manteranya.

Anak itu terbatuk.

Lagi.

Dan Kyungsoo merasa kalau ada yang salah disini. Dia berusaha berfikir apa yang salah ketika matanya mendapati sepasang mata anak itu meliriknya lemah dengan nafas satu-satu.

Seketika kyungsoo berteriak “ Oh tidak, Baek! Kita seharunya tidak mengeluarkan air nya. Dia membutuhkan air. Berikan airnya! Cepat!”

Baekhyun terkesiap dan memukul dahinya sendiri “Kau benar!”

Baekhyun mengucapkan manteranya lagi dan seketika air melesak kedalam mulut anak itu.

Selanjutnya detik-detik berlalu dengan hening lagi, namun sesaat Kyungsoo dapat merasakan nafas si anak mulai normal.

Mereka mendesah.

“Hampir saja” kyungsoo menghampiri anak itu dan meletakkan jemarinya di pipi besar si anak, karena ukuran peri tak lebih dari 5 inci.

“Kau hebat, aku tak menyangka seorang asrais akan menuntunku dalam mengobati”

“Entahlah” kyungsoo menatap anak itu lagi.

 “Aku merasa kalau matanya yang memberi tahuku”

 

***

Hari-hari selanjutnya Kyungsoo mendapati dirinya berdiri di sisi jendela seorang anak setiap kali senja menggantung di langit. Mengabaikan fakta bahwa Jongin—yang belakangan baru dia ketahui sebagai nama anak itu adalah seorang autis.Namun entah dorongan dari mana Kyungsoo akan tetap berada disana dengan cerita-cerita yang selama ini dianggap dongeng oleh manusia kebanyakan hingga anak itu terlelap dan jatuh kealam mimpinya.

Kyungsoo tahu itu salah, seorang peri yang menampakkan diri pada seorang manusia sudah merupakan sebuah kesalahan, apalagi seorang peri yang ingin menjadi teman seorang manusia. Itu benar-benar salah. Dan Baekhyun benar dengan fakta kalau dia bukan Brownise dan peri tidak punya kewajiban untuk menolong manusia. Namun entah mengapa dia melakukannya, alasan terbesar adalah karena anak itu. Anak kecil yang mampu menguras seluruh perhatiannya dan membuatnya berakhir dengan di tendang seperti pecundang oleh Kris dari Fairy land.

Dia di usir.

Dan parahnya lagi dia akan di hukum jika keberadaan peri di ketahui manusia karenanya.

Mungkin itu mengerikan, namun Kyungsoo dan senyum terbaiknya akan tetap berdiri di pinggir jendela di sudut Avonlea itu dengan ceritanya yang menggebu.

 

***

“Kyungsoo, kau gila!” Baekhyun berteriak frustasi, mawar-mawar di genggamnnya merobek selaput telapak tangannya saat dia menyadari telah mengengganm mawar-mawar itu terlalu kuat.

“Baek, kumohon. Sekali ini saja” Kyungsoo memelas.

“Jangan bawa aku kedalam masalah ini lagi. Kau seharusnya menunggu orang tuanya dan membiarkan mereka membawa dia ke rumah sakit.Itu yang seharusnya kau lakukan, kau hanya perlu memastikan mereka membawanya dengan benar” Baekhyun mengucapkan sebuah mantera untuk menyembuhkan telapak tangannya.

“Baek, aku bahkan tidak benar-benar tahu yang mana orang tuanya. Mereka tidak perduli. Tidak sama sekali” Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun, membuat Baekhyun melihat sepasang kelabu redup di hadapannya.

Baekhyun menggeleng sesaat. Tidak. Dia tidak akan membuat masalah lagi.

Terakhir kali saat membantu Kyungsoo dengan anak itu dia mendapat hukuma berat dari Kris. Melakukan penyerbukan sendiri tanpa bantuan kumbang, itu sangat menyebalkan. Melelahkan.

“Tidak kyung, aku mungkin akan mendapat hukuman berat setelahnya. Atau…di usir. Tidak.” Baekhyun mengabaikan Kyungsoo dan mulai melompat ke atas dahan maple di sebelah mereka.

“Baek!”

“Baek, dia bisa mati!

Baekhyun mengejang sesaat, memikirkan anak manis dan lucu yang sempat mereka tolong dahulu mematung dengan tubuh pucat di dalam peti. Tidak. Dua pilihan yang pada akhirnya hanya akan merugikan dia.

“Baek, tolonglah”

Baekhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo telah menangis.

Baekhyun mengusap kasar wajahnya.

“Aku rasa aku akan di usir setelah ini”

 

***

Kyungsoo dan Baekhyun sampai tepat di saat jongin sedang mengejang, muntahan berwarna gelap menggenang di sudut bibir dan baju tidurnya.

“Oh Tuhan!” Baekhyun menutup mulutnya.

Kyungsoo terbang mendekat di sisi kepala Jongin. Dia memegang pipi jongin lembut.

“Kau akan baik-baik saja. Ayolah baek”

Baekhyun terpaku, seorang anak yang sedang kejang dan muntah hanya membuat Baekhyun semakin pusing dan hampir melupakan semua manteranya.

“Baek cepatlah!” kyungsoo meneriakinya.

“o..ohh”

Baekhyun mengucapkan sebuah mantera, dia tidak tahu pasti karena otaknya tidak dapat berkonsentrasi. Seketika air melesak dari mulut si anak. Baekhyun memucat, begitu juga dengan Kyungsoo.

“Baek…” kyungsoo seperti berbisik.

“Kyung…” dia tergagap.

“Baek apa yang kau lakukan! Jangan keluarkan airnya!” Kyungsoo berbalik dan menatap Baekhyun dengan matanya yang berkilat.

Baekhyun bergetar, dia merutuki dirinya yang bodoh dan sering lupa dengan manteranya.

Baekhyun bersiap lagi untuk mengucapkan manteranya, namun seketika mereka menegang saat Jongin akan memuntahkan air lagi. Baekhyun hampir merasa kalau dia akan tumbang disana ketika yang di keluarkan Jongin bukannya air namun sesuatu yang lebih kental dan bewarna merah.

Kyungsoo menatap Baekhyun cepat. Air menggenang di sudut matanya.

“K…kyung. Itu… aku” baekhyun berusaha bersuara. Namun dia tak bisa. Tenggorokannya tercekat.

Kyungsoo terbang kearah Baekhyun dan menekan lengan Baekhyun di kedua tangannya. “Apa yang kau lakukan!kau ingin membunuhnya! Dia meningitis.Apa kau bodoh?!” Kyungsoo menguncang tubuh Baekhyun.

“Meningitis itu..apa? Tidak, aku akan memberinya air. Tunggu” Baekhyun berteriak frustasi.

Air melesak dan akan memasuki mulut jongin namun mereka kembali terpaku saat sesuatu mendesak akan keluar dari mulut jongin. Ya sesuatu yang sama seperti beberpaa detik lalu, kental, merah. Darah.

Banyak. Sampai Baekhyun mengira kalau darah itu  mungkin akan menggenangi kamar.

“Jongin!”

Baekhyun terbang dengan pelan setelah Kyungsoo mendekat kearah jongin yang telah memucat.

“Jongin, jangan pergi. Baek cepat hubungi Kris. Panggil dia! Seseorang atau siapapun harus menolongnya. Cepatlah Baek!” Kyungsoo menyentuh pipi jongin dan berakhir dengan hampir seluruh tubuhnya tertutupi warna merah.

“Kyung, jongin. Dia..” baekhyun berusaha bersuara.

“Mati?! Dan kau membunuhnya. Kau membunuhnya Baek!” Kyungsoo beralih pada baekhyun dan meletakkan tanganya di leher Baekhyun. Mencekiknya.

“Kyung…” lirih baekhyun. Dia tidak melawan. Harusnya baekhyun  sadar kalau kyungsoo adalah seorang asrais dan dia kuat. Baekhyun merasa kalau nafasnya mulai tercekat, jika baekhyun mau dia bisa saja mengucapkan satu mantera dan menjauhkan kyungsoo dari lehernya namun saat Baekhyun melihat manik kelabu kyungsoo dia akhirnya menyerah. Baekhyun mendapati kepiluan yang samar di sana. Sesuatu yang berkilat dari mata kyungsoo bukanlah kebenciannya terhadap baekhyun namun lebih dari itu, itu seperti sebuah kesakitan yang tidak bisa dia tahan yang akhirnya keluar dan baekhyun satu-satunya yang mengerti itu.

“Kau membunuhnya, baek!” kyungsoo mengeratkan tangannya pada leher baekhyun.

Baekhyun fikir dia akan mati.

“Kyungsoo hentikan!”

Mereka sama-sama terdiam saat suara peri lain menginterupsi aksi Kyungsoo.

“Kris” Baekyhun berbisik pelan.

“Sejak kapan kau mengetahuinya, kyungsoo?”

“Sejak aku mengetahui namanya, mungkin juga sebelumnya” Bakhyun bergidik mendengar suara kyungsoo yang dingin.

“Ini akhir untuk mu”

 

***

 

Berikan aku satu kesempatan”

“Aku tidak tahu apakah aku harus memberikannya”

“Komohon, kris. Kau temanku dan aku percaya padamu”

“Baiklah. Tapi, kau harus menjauhi manusia. Dan kau akan melupakan semuanya dan menjadi sesuatu yang baru”

 

Aku ingi bertemu dengan mu lagi, Jongin.

 

***

“Aku manusia sebelum ini, baek”

“Aku tak mengerti”

“Aku dan kris. Kami berteman, aku mengenalnya sebagai peri. Peri memang tidak boleh menjadi teman manusia. Namun, kami berteman. Dan saat itu aku mengalami kecelakaan. Hanya Kris yang ada disana dan aku tahu dia punya kuasa untuk menjadikanku sama seperti kalian dan membiarkanku hidup untuk dapat melihat Jongin lagi. Aku tidak bisa hidup bahkan aku tak akan mati tanpa jongin. Dia satu-satunya hartaku. Dia adikku, kami yatim-piatu dan hanya dia yang kupunya”

Kyungsoo mendesah.

“Tapi kris bilang aku tidak akan mengingat apapun setelahnya. Aku tak perduli, karena aku yakin aku pasti akan mengenal jongin cepat atau lamabat. Dan aku benar, aku mengenalnya dengan cepat. Tapi aku sadar, keluarga ini, keluarga yang mengangkat jongin sebagai anak tak pernah perduli dengan dia. Dan apa aku salah jika aku ingin menolong adikku?”

Baekhyun terisak pelan, dia merasa menjadi orang paling jahat di dunia karena membiarkan Kyungsoo menelan rasa sakitnya sendiri dan parahnya dia terlambat menolong Jongin dan membiarkan anak manis itu pergi dengan duka.

“Maaf” Baekhyun berujar pelan dan memeluk Kyungsoo erat.

“Maaf karena aku membiarkan adikmu pergi. Aku tahu, aku bodoh dan jahat” tambahnya.

Kyungsoo bergetar. Suaranya bergetar “ Tidak baek, aku yang harusnya minta maaf. Kau sudah melakukan semuanya. Aku tak seharusnya menekanmu”

Baekhyun melepasakna pelukannya dan memegang bahu kyungsoo “Kita harus mencari bantuan dan memakamkannya. Aku akan membantumu”

“Tidak, Baekhyun. Ini adalah akhir untuknya” Kris membuka suara.

Baekhyun menatapnya dengan heran. Akhir? Akhir apa?

Kyungsoo emnyentuh pipi Baekhyun dan membawanya kedalam manik kelabu itu “ Ini akhirku Baek, aku akan menghilang sesaat setelah aku melanggar sumpahku. Aku tidak boleh berhubungan dengan manusia. Bukankah begitu kris?” kyungsoo tersenyum tipis kearah kris yang memandangnnya dengan getir.

“Pembicaraan bodoh apa lagi ini?!” baekhyun berteriak. Dia merasa menjadi satu-satunya pihak yang di abaikan.

“Aku akan pergi baek, pergi bersama Jongin. Saat aku tidak bisa hidup dengannya, aku akan mati bersamanya”

Baekhyun hampir gila saat melihat senyum itu, Kyungsoo tersenyum saat dia mengucapkan kata ‘mati’ di depan Baekhyun yang sudah terisak kuat.

Baekhyun menatap Kris mencoba mencari jawaban, namun kris hanya mematung dengan pandangan tertuju pada Kyungsoo. Baekhyun mengikuti tatapan Kris dan terkejut dengan hebat melihat Kyungsoo yang berubah menjadi kabut tipis. Baekhyun berteriak, memaki apapun yang sempat terfikirkan.

“Kyungsoo!” dia mencoba menggapai kyungsoo dengan tangan-tangan hijaunya, namun yang dia dapati hanya gapaian kosong.

“Kyung, jangan pergi. Kumohon” Baekhyun menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.

Sesaat kemudian kyungsoo menghilang tak berbekas. Baekhyun berteriak frustasi.

“Kris, apa ini?!”

Kris tidak menjawab dia menarik Baekhyun ke balik jendela kamar jongin dan Baekhyun kembali terisak saat melihat orang-orang mulai berdatangan dan mengangkat tubuh kaku Jongin.

“Kris…”

“Semuanya sudah berakhir, Baek”

 

***

 

 

“Kakak tidak akan meninggalkanmu”

Dia memeluknya erat.

“Kakak akan selalu ada disini, seperti peri-peri yang menjadi teman anak-anak baik”

Di tersenyum lagi.

“Aku… mau..jadi.. peri”

“Benarkah? Baiklah, kita berdua akan menjadi peri dan hidup selamanya”

 

***

Note : ini Fic pertama ku dengan tema yang sedikit fantasi.

Aku tidak begitu yakin dengan feel dan typo. Masih belajar nulis.

Aku ambil nama desa Avonlea dan sedikit kata-kata dari Novel “anne of green Gables”

Here too : http://flowerislove.wordpress.com/2014/01/08/asrais/

16 pemikiran pada “ASRAIS

  1. brothership terkeren yang pernah aku baca….
    sukses bikin nangis, teringat dgn kakakku yg udh meninggal….
    fantasi yang keren, bakal selalu aku ingat cerita ini

  2. ini sangat keren !!
    sampe saya gabisa mengungkapkan dengan kata-kata hihihi #lebay
    awal yg bagus untuk kamu 🙂
    keep writing yaa !

  3. Uwaa.. Aku suka banget sama ceritanya :” Feeling nya kuat dan dapet banget :” sampe bikin air mata mengalir ;A; touching bgt..
    Fantasy dapet, brothership dapet. Goodjob author!
    Keep writing yaa~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s