Destiny (Sequel) [Chapter 3]

Judul : Destiny (Sequel)

Nama author : Goseumdochi

Genre : Romance Drama

Length : > 2000

Rating : T

Main Cast : Baekhyun and You (as Park Hana)

Twitter : @pamelaribka

Hai aku kembali dengan sequel Destiny~ Karena banyak yang merequest untuk dibuat sequelnya dengan cepat, jadi aku membuat ini. Mohon maaf jika penulisannya kurang baik dan feelnya kurang dapat. Karena aku buatnya buru – buru disela tugas. Hehehe, anyway read and review ya~ No review, no next part #lah?

Disclaimer : Baekhyun. Actually he’s mine *digeret EXO fans*

This story is mine. Aku membuat cerita ini setelah membaca article yang bilang sasaeng fans mengganggu acara pernikahan kakaknya Baekhyun. Kasihan abang Yuyunku. Anyway, read and review ya.

Untuk yang belum baca Destiny, silahkan klik : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/11/12/destiny-4/

Atau bisa juga di wp aku goseumdochi.wordpress.com

Let’s begin the story!

 

Destiny (Sequel)

Part Three

Normal POV

04.00 Hana’s house.

‘Ting tong ting tong ting tong’

“Ya! Apa kau mandi?!” seru Lee Shin saat melihat Hana membukakan pintu dengan mata setengah tertutup. Hana hanya menggunakan celana jeans seatas lutut dengan kaos putih tipis dilapisi jaket biru dongker dan tas ransel dipunggungnya. Dia terlihat siap namun wajahnya benar – benar terlihat mengantuk saat ini. Berbeda dengan Lee Shin yang juga menggunakan pakaian yang sama dengan Hana namun berbeda warna jaket, karena jaket Shin berwarna hitam yang senada dengan maskernya, Shin terlihat benar – benar siap berjalan – jalan tidak seperti Hana. 

Sebenarnya Lee Shin sengaja mengajak Hana berangkat ke pantai dipagi hari ini. Pertama untuk menghindari keramaian di kereta, mereka harus mengambil jam paling pertama keberangkatan yaitu 4.30. Dan benar saja, kereta sangat sepi saat ini, penumpangnya bisa dihitung dengan satu tangan. Alasan kedua adalah untuk melihat matahari terbit dipagi hari. Perjalanan dari rumah Hana ke pantai tidak memakan waktu yang cukup lama jadi mereka pasti sempat melihat matahari terbit.

Selama perjalanan, Hana tertidur dibangku dengan kepala bersender dijendela. Lee Shin yang duduk disebrangnya memandang aneh gadis dihadapannya tersebut dengan mulut sedikit terbuka. Hana terlihat tertidur dengan lelap, membuat Shin merasa bersalah karena mengajaknya pergi bukannya membiarkannya beristirahat di rumah hari ini.

Lee Shin mendengus kesal melihat gadis didepannya ini tertidur,”Ya, bagaimana bisa kau membuatku begitu menyukaimu dengan wajah polosmu itu eo?”

Hana menggeliatkan badannya kearah berlawanan dengan sisinya bersandar tadi sehingga menyebabkan dirinya akan jatuh dikursinya. Dengan sigap Lee Shin berlari kesebelahnya dan membiarkan kepala Hana terjatuh dipundaknya. Hana tidak terbangun sama sekali, malah terlihat sangat nyaman saat ini. Sementara orang yang menjadi tempat menyendernya merasakan hal yang sebaliknya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat daripada biasanya saat ini. Jika saja ia tidak menggunakan masker saat ini, orang bisa melihat betapa merahnya wajah laki – laki yang sebenarnya bernama Baekhyun ini.

“Ya Hana! Kita sudah sampai.” seru Lee Shin kepada gadis disebelahnya. Hana mengucek matanya lalu melihat sekilas kearah kanan dan kirinya. Beberapa detik kemudian dia langsung bangun dan terdiam membatu. Shin sengaja berdehem sekali untuk menyadarkan Hana saat ini.

“Ya! Bagaimana bisa aku tidur disebelahmu?!” pekik Hana. Lee Shin langsung menutup telinganya dan berpindah tempat duduk ke tempat sebelumnya.

“Kau sendiri yang memintaku pindah kesana. Kau tidak ingat eo?” ujar Lee Shin sambil memakai ranselnya. Ia lalu bangkit berdiri meninggalkan Hana yang masih terduduk ditempatnya dengan mulut terbuka tak percaya dengan perkataan Lee Shin barusan.

“Ya!” panggil Hana dari belakang namun dihiraukan begitu saja oleh Shin. Sebenarnya saat ini Shin sedang tersenyum menahan tawanya karena kepolosan gadis itu. Namun ia tidak ingin menunjukannya didepan gadis itu sehingga ia tetap menahan image coolnya itu dan tetap berjalan lurus meninggalkan gadis itu dibelakang.

Hana POV

“Ya….” ujarku saat melihat matahari terbit dari pantai. Matahari terbit sangatlah indah. Ini adalah pertama kalinya aku ke pantai untuk melihat matahari terbit diudara yang cukup dingin. Pantai terlihat tidak ada pengunjung, mungkin karena sekarang mulai memasuki musim dingin. Walaupun ada sinar matahari yang masih setia menghangatkan lingkungan, tetap saja orang masih berpikir waras untuk datang ke pantai disaat yang tepat. Tidak seperti kami ini.

“Kau suka?” tanya Shin sambil mengangkat tangannya tinggi merasakan hembusan angin menerpa jemarinya.

Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya barusan,”Apa kau sering kesini?”

Ia tersenyum sekilas lalu menganggukan kepalanya. Aih… apa aku gila? dipikiranku baru saja terlintas pikiran bahwa dia terlihat manis sekali saat ini. Mungkin ini akibat kurang tidur semalam, atau mungkin karena udara dingin sehingga kemampuan berpikirku hilang.

Aku menaruh ranselku diatas sebuah batu dan melepaskan sepatu sendalku lalu berlari ke laut untuk merasakan air pantai. Kakiku dengan lincahnya berlari kesana sampai akhirnya aku berlari kembali ke Shin setelah berteriak ‘AH DINGIN!’ karena air yang tiba – tiba menerpa kakiku selutut.

Shin tertawa geli melihat tingkahku barusan. Dia melepaskan sepatu sendalnya lalu berjalan kearahku sambil masih tetap tertawa geli. Sanking gelinya sampai bisa kulihat ia meneteskan air mata akibat menertawakanku. Karena kesal aku tinggalkan saja dia disana dan kembali ke tempat dimana ranselku kutinggal.

Saat Lee Shin masih tertawa tiba – tiba ada ombak yang cukup besar mengarah ke pinggir pantai dan menerpa wajah Shin juga seluruh tubuhnya, aku langsung tertawa dibelakangnya sementara dia sibuk meludah karena air laut masuk kedalam mulutnya tadi.

“Ya! Kau tertawa eo? Kau rasakan ini!” serunya sambil menendang – nendang air kepadaku. Karena tidak mau kalah, aku juga menendang air laut tersebut ke wajahnya. Dan terjadilah perang saat itu juga.

Baru juga sampai, pakaian kami sudah basah semua. Semua ini karena perang barusan yang dimulai olehnya. Untung saja kami sudah melepas jaket kami sebelumnya dan membawa baju cadangan.

Saat ini kami sedang sibuk masing – masing. Aku sibuk mencari kerang dipinggir pantai dan Lee Shin sibuk merogoh tasnya sejak tadi seperti sedang mencari sesuatu juga.

“Ya Hana! Ayo kita mengambil foto!” serunya dari kejauhan sambil melambaikan sebuah kamera digital ditangannya. Ah.. jadi sejak tadi dia mencari kameranya. Aku langsung berlari kecil kearahnya sambil menguncir rambutku.

Kami mengambil banyak foto bersama dengan kamera digital miliknya itu. Aku memilih untuk duduk diam sambil memakan cemilan yang aku bawa saat dia sedang sibuk sendiri mengambil foto dirinya. Tidak hanya mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi, dia juga seorang yang narsis. Lihat saja dia, sibuk mengambil foto dirinya sendirian lalu tertawa melihat hasilnya.

“Ya… aku sudah lama tidak kesini.” ujarnya sambil duduk disebelahku lalu dengan seenaknya mengambil snackku.

“Ayo kita main.” tawarnya tiba – tiba dengan tangan yang masih setia mengambil keripik kentangku lalu mengunyahnya.

“Main apa?”

Dia terlihat berpikir sejenak lalu tersenyum,”Aku tahu, gunting batu kertas. Yang kalah harus menggendong yang menang sampai tempat minuman diujung sana lalu membelikan minuman untuk yang menang.”

“Mwo?!” teriakku didepan wajahnya.

“Ah.. Aku lupa kau takut kalah dariku.” ujarnya santai seolah meledek lalu kembali memakan snack. Wajahnya yang menyebalkan itu membuatku kesal sehingga membuatku tersulut untuk menerima tantangannya tersebut.

“Kawi Bawi Bo.” seru kami bersamaan. Hasil yang terjadi sangatlah mengejutkan, aku menaaang~. Dia tidak terima dengan hasil awal, jadi dia minta kita untuk suit sebanyak tiga kali. Dan hasilnya tetap sama, Tuhan sepertinya sayang padaku dan tidak akan membiarkanku menggendongnya. Yeay~

Kami menaruh tas dan jaket kami ditempat yang aman lalu meninggalkannya untuk ke tempat minuman.Wajahnya terlihat masam saat aku menyuruhnya untuk berjongkok sedikit karena aku tidak bisa main naik saja ke punggungnya.

“Apa aku berat?” tanyaku saat dia sudah mulai berjalan beberapa langkah dari tempat semula.

“Iya, aku seperti menggendong anak babi.” jawabnya datar tanpa ekspresi.

Aku mendengus sebal lalu menarik rambut hitamnya,”Kau bilang apa eo?”

Bukannya minta dilepaskan atau berteriak marah, dia malah tertawa saat rambutnya aku jambak seperti ini. Dasar bodoh. Selalu saja aneh. Dia tidak pernah marah padaku kecuali jika aku mencurigai pekerjaannya atau apapun tentang Joonie. Diluar dari kedua hal itu, dia hanya berpura – pura marah.

Sepanjang perjalanan ketempat minum dia mengerjaiku dengan berpura – pura akan jatuh atau melemparkanku kebelakang. Dia juga meledekku dengan mengatakan dirinya seperti menggendong tabung gas. Sepanjang jalan kami bertengkar saling mengatai satu sama lain tapi entah kenapa aku malah merasa sangat menyukai saat seperti ini. Ini sangat menyenangkan.

Setelah membeli minuman, kami kembali ke tempat dimana kami meletakkan tas kami tadi. Entah kenapa aku merasa seperti sepasang kekasih saat ini. Melihatnya berjalan disebelahku membuatku merasa dia sangat menawan. Padahal dia seperti biasa hanya menggunakan kacamata hitam dengan kaos tanpa lengan saat ini. Tapi dimataku dia terlihat berbeda, Ditambah lagi sinar matahari yang menyinari tubuhnya. Ah.. apa aku terlalu banyak menelan air laut saat perang tadi? Pikiranku selalu saja tidak benar saat melihatnya.

“Bukankah dulu sudah pernah kukatakan padamu Hana? Aku tahu aku tampan. Tapi kalau kau perhatikan terus seperti itu, nanti kau bisa gila karenaku Hana….” ujarnya dengan santai tanpa melihat kearahku. Sial aku ketahuan memerhatikannya lagi. Karena malu aku langsung saja berjalan cepat menghindarinya. Dia mendengus lalu berjalan cepat sambil menggodaku seperti biasanya.

“Hana ya~” godanya sambil mengejarku dari belakang. Aku menggelengkan kepalaku lalu berlari semakin cepat. Dapat kudengar dia tertawa dibelakang sana. Aish jinjja, laki – laki ini!

Tidak terasa sekarang sudah waktunya jam makan siang. Aku merogoh tasku untuk mengambil makanan yang sudah kusiapkan pagi tadi sebelum berangkat. Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti hal masak memasak. Yang aku bisa dan menurutku aku jago membuatnya hanya kimbap dan nasi goreng Indonesia. Jadi aku buat itu saja tadi pagi.

“Kau mau?” tawarku sambil mengaduk nasi gorengku. Untung saja aku punya tempat makan tahan panas ini. Makananku masih hangat dari pagi hingga siang ini.

Shin memperhatikan lalu mengendus makanan yang sedang berada ditanganku tersebut,”Ini apa?”

“Nasi goreng, kau belum pernah ke Indonesia kan? Kau harus coba ini.” ujarku bangga sambil menyendokkan suapan untuknya. Awalnya dia terlihat ragu melihat makanan buatanku ini, tapi dia langsung membuka mulutnya lebar dan memakan nasi suapan dariku.

Dia tersenyum sambil mengunyah makanan dimulutnya,”Mashita.”

Aku langsung tersenyum senang mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Entah kenapa jantungku langsung berdebar jauh lebih kencang saat dia mengatakan masakan buatanku enak. Ditambah lagi saat ini dia bertingkah manja dengan memintaku menyuapinya karena dia malas makan menggunakan tangannya. Aku merasa seperti kencan didalam drama.

Selesai makan kami bersantai menikmati hembusan angin ditempat ini. Walaupun sudah lebih dari enam jam berada ditempat ini, entah kenapa aku tidak bosan melihat pemandangan disini. Sejak tadi aku sibuk memainkan pasir dan mencoba membentuknya menjadi tumpukan seperti gunung, sedangkan Shin sejak tadi hanya melihat tingkahku lalu mengoceh. Terkadang dia diam dan memejamkan matanya, terlihat menikmati suasana sekitar.

“Apa ini ulang tahunku? Aku sangat merasa senang hari ini.” gumamku sambil merapikan gunung pasir buatanku.

Shin menaikkan sedikit kacamatanya lalu menatapku dengan senyuman jahilnya,”Ah… Kau ingin bilang bahwa tidak ada hari yang tidak menyenangkan jika ada aku bukan?”

“Apa kau terlalu banyak minum air laut?” tanyaku sarkastik. Dia tertawa mendengar pertanyaanku barusan lalu dengan isengnya menendang gunung yang sudah susah payah aku buat lalu berlari jauh.

“YA!” teriakku lalu mengejarnya. Dia tertawa lalu meledekku dan dimulailah perang untuk yang kedua kalinya.

Setelah berkali – kali bermain, makan, dan bercerita, tidak kusangka waktu berlalu dengan begitu cepat. Sebentar lagi hampir jam setengah lima sore jadi kami memutuskan untuk segera pulang sebelum gelap. Seperti sebelumnya, kereta terlihat sepi. Penumpangnya hanya sepasang kakek dan nenek yang membawa tas besar mereka.

Jika sebelumnya kami duduk bersebrangan, sekarang kami duduk berdampingan dan tas kami yang berada disebrang kami. Lee Shin langsung tertidur saat kereta baru saja akan berjalan. Karena tidak ada teman berbicara, aku menyibukkan diriku dengan bermain game dihandphoneku. Saat aku sedang seru, tiba – tiba kurasakan kepala Lee Shin berpindah kepundak sebelah kananku, membuatku langsung membatu karena dirinya.

Aku mencoba untuk menghiraukannya dan kembali bermain. Tapi aku merasa tidak nyaman karena tanganku terus bergerak pasti membuat tidurnya akan terganggu. Jadi aku mematikan handphoneku dan perlahan mengantonginya. Aku duduk dalam diam dan berusaha untuk tidak banyak bergerak agar dia merasa nyaman. Tapi aku jadi takut dia mendengar degupan jantungku yang begitu keras ini karenanya. Semoga saja dia tidak mendengarnya.

Perjalanan terasa begitu cepat dari sebelumnya. Sekarang kami sudah tiba di stasiun kereta. Lee Shin masih saja tertidur lelap dengan wajah polosnya, membuatku tidak tega untuk membangunkannya.

“Ya, Shin….” ujarku sambil menepuk – nepuk pelan pipinya. Ia menggeliatkan sedikit tubuhnya lalu kembali tertidur. Aku mendengus sebal lalu kembali menepuk lengannya dengan keras agar dia segera bangun, tapi dia tidak mau bangun juga.

“Ya. Kalau kau tidak bangun juga, aku akan meninggalkanmu disini.” ancamku kepadanya. Karena tidak terlihat tanda – tanda dia mendengar pernyataanku barusan, aku berniat untuk membiarkannya terjatuh ditempat duduk agar dia bangun.

Saat aku baru saja bangkit berdiri, kurasakan tangannya dengan cepat langsung menarikku terduduk kembali

“Sepuluh detik…. Biarkan seperti ini sepuluh detik lagi.” gumamnya pelan dengan mata tertutup. Wajahku langsung terasa panas mendengar perkataannya barusan. Ah sial, kenapa disaat seperti ini detak jantungku makin tidak karuan. Ya… apa dia ingin aku cepat mati karena perlakuannya padaku ini?!

Aku menghitung satu sampai sepuluh dalam hati dan saat hitunganku sampai kesepuluh, dia benar – benar bangkit berdiri lalu mengambil ranselnya dan mengajakku pergi. Entah kenapa aku kecewa dia begitu saja pergi meninggalkanku sendirian dibelakang setelah bangkit pergi.

Tidak seperti sebelumnya, sejak turun dari kereta kami tidak membicarakan apapun. Shin yang biasanya banyak bicara sejak tadi hanya berwajah serius dan terus berjalan dalam diam. Aku sempat beberapa kali membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya aku kembali diam karena melihat ekspresinya tersebut. Apa aku melakukan kesalahan tadi?

“Ah… Kita sudah sampai. Kau ingin masuk?” tanyaku sambil membukakan gembok pagar rumahku. Bukannya merespon, dia hanya terdiam menatapku, membuatku sedikit merasa canggung menatapnya kembali.

“Hana,” ujar Lee Shin dengan wajahnya yang terlihat sangat serius saat ini. Sangat berbeda dengan biasanya. Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting.

“Ne?” dia tidak merespon apapun dan hanya diam menatapku dalam. Aku tidak mengerti arti tatapannya, walaupun raut wajahnya terlihat serius, matanya terlihat seperti seseorang yang sedih akan sesuatu.

Dia menggeleng pelan lalu memperlihatkan senyumnya kepadaku. Suatu senyum yang tidak wajar menurutku. Walaupun sama seperti yang biasa ia tunjukan, tapi terlihat penuh kepura – puraan. Apa yang terjadi dengannya?

“Aku rasa aku belum siap.” ujarnya pelan. Dia meletakan tangan kanannya dipipiku sambil tersenyum penuh arti. Aku tidak mengerti apa yang ia katakan hanya dapat diam membisu melihatnya seperti ini.

“Aku hubungi lagi besok. Sekarang kau harus beristirahat. Kau mengerti?” dia tersenyum lagi lalu memakai maskernya yang tadi pagi dan di kereta ia gunakan. Ia langsung berbalik pergi meninggalkanku sendirian dibelakang tanpa mengucapkan apapun lagi. Apa yang terjadi…. Shin?

 

To Be Continue

No review no next part ya!

 

Preview next part!

 

Hana!

 

Kau… pembohong…

 

Lalu apa yang harus aku lakukan?

 

Kau harusnya menciumku!

 

Siapa yang harusnya menciummu?!

 

Tentu saja kau! Apa kau tidak mengerti perasaan wanita?! Yaish!

 

Ya!

 

Namaku Hana!

 

Aku rasa aku menyukai Hana

 

Kau berani denganku duizang?

 

Jja~!

9 pemikiran pada “Destiny (Sequel) [Chapter 3]

  1. Akhhhh kerennnnn;___; awalnya cuma mau sekeddar ngeliat aja pas lg ngecek permukaan exoff tadi siang /? tapi pas liat awal2 ceritanya seketika jadi penasaran. Yaudah aku baca dari sebeum sequel ini dannnnn sukses gewlak, kerennn abissss!!!! Daeeeeehyuunnn pisan/? eh._. Maksudnya daaaebaakkkk pisannn;-;)v
    Ahhhh lopeklopek deh sama ff nya. Fluffnya bener-bener bikin senyum-senyum gajelas;;-;;.
    Oiya, eonthor, aku coba ngecheck wp pribadi eonthor tp ternyata ‘no longer available’ =_____=hiks. Padahal aku mau liat2;_; kali gitu nemu ff-ff eonthor yang lain yang seru2;___;. Tapi yowes toh.

    Okelah, kalo gitu I`LL BE WAIT FOR THE NEXT!! NEXT TA` TUNGGU! TA` TUNGGU SI NEXT! BILANG KE SI NEXT ‘KUTUNGGU JANDAMU'(?) *plak-_-* *gajemodeon*.
    Okewhh!! Keep writing! Eonthor fighting!! Jjang!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s