Hello Precious! (Chapter 11)

chapter 11 cover

Title : Hello Precious!

Subtitle : We Never Go Alone

Author : @bbymomoo

Genre : Romance, Drama, Fluff, Sad

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Main Cast :

Ahreum (T-ara—ex)

Kai, Suho, Sehun, D.O (Exo-k)

Krystal (f(x))

Naeun (A-pink)

Support Cast :

Luna dan Suzy as Krystal’s friends

Shindong, Kangin, Yunho

Jessica, Yonghwa (CNblue) as Krystal’s parents

Kang Sora as Jung Sora –has die-

 

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

 

Tangan Kai turun dari menyelipkan rambut Ahreum, mengelus pipi gadis itu lalu menangkup rahangnya. Wajah Ahreum tiba-tiba berjarak mili-meter dengan wajah Kai—pemuda itu mendekatkan wajahnya.

                Ahreum lebih terlihat cantik jika sedang terpejam. Kai bergumam dalam hati sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan menyentuh bibir Ahreum dengar bibirnya. Ah, Kai mencuri ciuman dari Ahreum.

                Tanpa ia sadari seseorang tengah mengeratkan genggamannya pada ganggang pintu kamar itu.

11th

==========

HELLO PRECIOUS!

========

I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

                Suho mengendarai mobilnya cepat. Ia benar-benar akan mati kalau kali ini Kai tidak menuruti perintah ayah mereka—Kangin. Suho mendegus kesal. Ini kan masalah Kai, Kai yang tidak mau menurut kepada keluarga mereka tapi kenapa dirinya juga ikut disangkut pautkan. Apalagi tentang kepergian mereka ke apartement tanpa pamit.

                “Appa akan mencabut seluruh aksesmu jika kali ini Kai tidak menurut. Terserah bagaimana usahamu, adikmu harus menurut. Gunakan instingmu sebagai hyung!”

                Kata-kata Kangin terngiang di telinga Suho hingga ia memarkirkan mobilnya di basement apartement. Pemuda itu berjalan pelan menuju lift. Suho melirik jam tangannya, hampir jam 7 malam. Jangan-jangan Kai sudah tertidur, pikirnya. Mengingat Kai adalah namja yang seenaknya apalagi jika ia sendirian.

                Ia bergegas menuju pintu apartementnya begitu lift terbuka. Suho  terheran melihat sepatu perempuan ada di sana. Apakah ada tamu? Pikirnya. Ia pun berjalan ke ruang tengah dan melihat sebuah kantong belanja. Tidak mungkin Kai berbelanja sore tadi. Suho melihat isi kantong itu.

                “Jas ku? Ahreum?”gumamnya pelan.

                Pintu kamarnya yang terbuka menimbulkan kecurigaan. Pemuda itu hendak memasuki kamarnya namun apa yang ia lihat seakan membuat dirinya mematung saat itu juga. Tangannya menggenggam gagang pintu erat. Antara akan membuka pintu atau menutupnya. Kai mencium Ahreum di kamarnya! Suho hampir membuka mulutnya tak percaya. Ia lantas melepaskan genggamannya dan berjalan pelan ke ruang tengah. Namun, pada akhirnya pemuda itu malah tersenyum.

                Kai menyesap rasa manis dari bibir gadis itu. Gadis yang membuatnya penasaran, gadis yang meruntuhkan pertahanannya terhadap perasaan suka pada pandangan pertama, gadis yang.. berbeda. Selama ini ia hanya mengabaikan perasaan gadis-gadis yang mencintainya, fans-fans diluar sana yang menyukainya dan jika boleh, ah, Kai sudah egois memang, ia tidak ingis Ahreum mengabaikannya. Apalagi itu untuk Suho.

                “Lebih manis daripada apel,”gumamnya saat ia sudah menarik diri. Ahreum melenguh pelan. Cepat-cepat Kai melanjutkan gamenya. Berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

                Pemuda itu menaruh kembali stiknya.

                “Ya! Lee Ahreum bangun! Sampai kapan kau tidur di bahuku, kau harus membayarnya.”lagi-lagi Kai mengomel. “Akkh, bahuku sakit sekali, kau pikir tidak capek hah?”lanjut pemuda itu.

                Ahreum mengusap-usap matanya. Buru-buru ia menegakkan badannya lagi.

                “Maaf, aku tidak sengaja.”ia menundukkan kepalanya dan mengangkat tangannya membentyuk V sign. Dalam hati Kai, pemuda itu tengah bersorak. Ahreum tidak akan sadar apa yang sudah ia lakukan. Apalagi gadis itu meminta maaf, hei! Harusnya Kai yang meminta maaf bukan?

                “Habisnya, aku bosan dari tadi kalah terus. Ehmm, jam berapa sekarang?”lanjut Ahreum.

                “Hampir jam 7, kau mau pulang?”tanya Kai.

                “Tentu saja!”balas Ahreum cepat. Gadis itu lantas menurunkan kembali celana panjangnya yang dilipat Kai tadi. Ia bangkit hendak keluar dari kamar Suho tersebut, diikuti Kai mengekor di belakang Ahreum—meninggalkan gamenya.

                “Eoh! Suho oppa!”ujarnya terkejut saat melihat Suho akan berjalan ke dapur.

                “Annyeong, Ahreum.”balas Suho dengan senyum malaikatnya.

                “Hyung? Kapan kau kembali?”tanya Kai lalu menghampiri Suho. Kai juga kaget melihat Suho yang tiba-tiba sudah kembali ke apartement.

                “Baru saja. Aku lihat ada sepatu perempuan di depan tadi, aku kira ada tamu ternyata kau, Ahreum..”jelas Suho lalu mengambil air minum. “Apa kau sudah mau pulang?”tanya Suho pada Ahreum setelah meneguk air minumnya.

                “Ah, iya.”jawab Ahreum. Ia lalu menundukkan kepalanya pamit dan berjalan ke arah pintu depan.

                Suho tersenyum pada gadis itu, lalu mengalihkan pandangannya kepada Kai.

                “Apa?”tanya Kai heran. Apalagi Suho memandangnya dengan senyum yang kalau boleh ia katakan, sangat aneh.

                “Astaga, uri Kai sudah dewasa sekarang,”jawab Suho lalu segera enyah dari dapur. Berjalan memasuki kamarnya.

                Sementara Kai mengendikkan bahunya. Bingung dengan apa yang dikatakan Suho. Ia pun berjalan menyusul Ahreum ke depan.

                “Aku antar!”tahan Kai saat Ahreum sudah berdiri lengkap dengan memakai sepatunya lagi. Kai segera memakai sepatu milikanya dan menarik tangan Ahreum keluar dari apartementnya. Lagi-lagi, Ahreum hanya bisa diam tanpa memprotes Kai. Ahreum menunduk, memandangi tangannya digenggaman seorang Kim Jongin. Tapi kali ini gadis itu tersenyum, ia menggigit bibir bawahnya agar dirinya bisa menyembunyikan senyum itu.

.

Hello Precious

.

 

 

                “Joonmyeon-ah!”

“Kim Joonmyeon!”

Baru saja lima belas menit bermain, Suho menghentikan permainan gamenya. Sebenarnya game bekas permainan Kai tadi—berhubung Kai belum kembali dari mengantar Ahreum. Suho hendak menyelesaikan game itu, berhubung Xbox dan TVnya belum dimatikan oleh Kai. Pemuda itu langsung berjalan keluar dari kamarnya saat mendengar suara familiar yang memanggilnya.

Annyeong, kakak ipar! Suho oppa..”

Krystal muncul dibelakang ibu Suho—Sayumi—dengan sapaan kakak ipar padanya?Oh Kai! Suho membelalakkan matanya. Setengah dirinya berdecih sebal. Bagaimana bisa ia lupa dengan pesan ibunya tadi. ‘Beritahu Kai, eomma akan datang bersama Krystal untuk makan malam,’begitulah kira-kira. Dan ia malah membiarkan Kai mengantarkan Ahreum pulang.

Eomma, Krystal.”Suho menghampiri keduanya yang sudah duduk di ruang tengah apartement itu.

Oppa, mana Kai?”tanya Krystal.

“Iya, dimana anak itu? Aigoo, apa dia tak tahu kalau ibunya ini merindukannya.”celoteh Sayumi. “Pergi ke apartement ini tanpa pamit, berbuat seenaknya, dasar anak nakal,”lanjutnya. Terlihat sekali kalau Sayumi sangat menyayangi Kai.

Suho diam mendengar keluahn ibunya tentang Kai.

“Ya! Jangan melamun, mana Kai?”tanya Sayumi sekian kalinya.

“Dia sedang keluar, kalian siapkan saja kalau akan makan malam.”Suho beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Untuk kali ini, ia masih membantu adiknya itu.

“Ya! Yaak! Suho!”teriak Sayumi.

“Ehm, yang dikatakan Oppa benar juga. Sambil menunggu Kai, kita menyiapkan makan malamnya saja eomma.”ajak Krystal yang sudah bersemangat memasak untuk Kai. Apalagi ia dan Sayumi beru saja berbelanja.

Sayumi tersenyum pada Krystal. “Kajja..”

Wanita paruh baya itu berjalan dahulu ke dapun. Krystal masih sibuk membongkar tasnya, mencari tablet yang sudah ia siapkan resep untuk memasak makanan kesukaan Kai di sana. Lalu menyusul Sayumi yang sudah memakai apron. Krystal menaruh tabletnya di counter tapi matanya melihat bekas makan Kai dan Ahreum.

“Ehm, eomma, apa Kai bisa memasak? Sepertinya dia habis makan..”ujar Krystal menunjuk meja counter.

“Tentu saja tidak, dia bukan tipe lelaki semacam itu.”jelas Sayumi. Wanita itu juga mengerutkan keningnya heran melihat meja counter di dapur apartement itu.

.

Hello Precious

.

                “Selamat datang nona Son, tuan muda Kyungsoo menunggu anda. Mari.”

                Naeun sedikit kaget dengan sambutan seperti ini. Baru kali ini ia memasuki pameran seni fotografi di salah satu restoran mewah di kawasan Gangnam. Naeun mengangguk dan mengikuti langkah kaki seorang pria tua yang sepertinya orang suruhan D.O.

                “Eun-ya,”D.O berdiri dari duduknya. Ternyata pemuda itu sudah menunggu Naeun di salah satu meja. Namun, D.O tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki yang juga ikut berdiri saat dirinya datang. Lelaki yang hampir mirip dengan D.O namun lebih tua. Familiar di mata Naeun.

                “Maaf, aku terlambat.”Naeun membungkuk hormat saat pria yang mengantarkannya tadi pamit.

                “Tidak apa-apa,”D.O tersenyum melihat Naeun yang malam itu terlihat sangat manis. Gadis itu mengenakan cardigan rajut warna tan untuk melapisi dress putih selututnya yang tanpa lengan. Dengan kamera dan tas kecil berwarna orange, rambut panjangnya yang bergelombang ia biarkan tergerai. Such a sweet girl!

                “Oh, jadi ini gadis yang kau ceritakan pada ku?”goda lelaki yang bersama D.O sejak tadi. D.O langsung melemparkan deathglarenya.

                “Eun-ya, kenalkan ini hyung-ku. Seungsoo, atau yang lebih familiar kita panggil Double S*.”jelas D.O.

                Naeun membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya yang pasti sudah membentuk huruf O besar. D.O tersenyum melihat Naeun. “Astaga! Double S sunbaenim!” Naeun membungkukkan badannya lagi. Pantas saja ia seperti pernah melihat lelaki itu.

                Double S, atau Do Seungsoo adalah salah satu fotografer favorit Naeun dan D.O. Tapi D.O tidak menceritakan kepada Naeun kalau Seungsoo adalah kakaknya.

                “Annyeong Naeun, adikku sering berbicara tentang dirimu.”ungkap Seungsoo.

                “Senang bertemu dengan sunbae, aku sangat terinspirasi dengan hasil foto karya sunbaenim.”ujar Naeun jujur.

                “Ayo, duduklah. Dia sudah menunggumu sejak tadi.”lagi-lagi Seungsoo menggoda D.O yang membuat pemuda bermata rich white itu salah tingkah. Apalagi Naeun yang pipinya sudah bersemu merah.

                “Berhentilah hyung! Pergilah, penggemarmu pasti ingin bertemu.”usir D.O. Seungsoo tertawa, lalu benar-benar pergi meninggalkan D.O dan Naeun berdua.

                “Kau mau makan? Atau langsung melihat-lihat karya lelaki tadi?”tanya D.O.

                “Sepertinya cappuccino enak.”Naeun melirik secangkir yang ada di hadapan D.O. Pemuda itu langsung terkekeh. Ia memanggil pelayan dan memesan cappuccino untuk Naeun.

                “Kau bilang bukan pecinta kopi?”tanya D.O. Naeun mengangguk lalu melirik pemuda di sampingnya sengit.

                “Ya! Kenapa kau gak bilang kalau Double S itu kakakmu? Kau curang! Pantas saja aku heran melihatmu yang bisa dapat tiket pameran fotonya dengan mudah. Dasar!”oceh Naeun.

                “Kau tidak bertanya, sih.”balas D.O enteng.

                Naeun mempoutkan bibirnya. Ia kemudian menyeruput cappuccino pesanannya yang sudah datang. Ia memang bukan pecinta kopi, tapi belakangan ia mengetahui banyak minuman itu dari D.O.

                Klik

                “Ya!” Naeun membentak D.O yang diam-diam mengabadikan dirinya dalam gambar bernama foto.

                “Nona Son yang manis tengah mencoba cappuccino, ah.. Yeppeuda.”goda D.O yang membuat Naeun bermuka kepiting rebus sekarang. Tapi siapa yang tahu kalau D.O jujur mengatakan itu.

                “Berhentilah.”pinta Naeun.

                “Suatu saat nanti, aku akan membuka pameran foto yang pasti membuatmu kaget.”ujar D.O sambil mendekatkan dirinya pada Naeun.

                Tangannya terulur sedikit ke atas setelah ia membalik kamera itu sehingga lensanya menghadap mereka berdua. “Cheese!”ucapnya.

                Klik

                Sekali lagi D.O berhasil membuat Naeun tercengang. Pemuda itu melihat hasil selcanya, sempurna. Voila! Sebuah selca dimana D.O tersenyum pada kamera sementara Naeun memasang wajah terkejut tanpa melihat ke kamera—karena tiba-tiba pemuda itu mendekat.

                “Curang!”ujar Naeun pura-pura merajuk.

                D.O hanya terkekeh melihat gadis itu. Lalu tangannya bergerak mengacak rambut Naeun yang membuat gadis itu benar-benar merajuk.

                “Sudah, ayo kita lihat pamerannya.” D.O pun segera berdiri dan mengajak Naeun menyusuri lorong-lorong bagian dalam restoran tersebut.

                Malam itu cukup ramai, karena pamerannya hanya digelar selama dua malam saja. Berbagai jenis foto karya Seungsoo terpampang disana, untung saja Naeun sudah membawa kamera untuk mengabadikan moment ini sebagai laporan berita sekolah nanti.

                “Whoaah.” Naeun terkagum-kagum saat melihat pameran di bagian akhir lorong tersebut. Lorong terakhir yang di desain dengan hiasan lampu lantern remang dimana disanalah karya Seungsoo dengan bidikan kamrea Polaroid.

                “Ini bagian terbaik dari pameran hyungku,”jelas D.O sambil mengamati foto-foto yang tercetak kecil-kecil yang ditempelkan di temboknya secara tak beraturan. Klasik, vintage style. Naeun hampir tak berkedip menikmatinya.

                “Kakakmu benar-benar hebat..”puji Naeun.

                “Son Naeun,”panggil D.O.

                “Ya?” Naeun berbalik menghadap pemuda itu.

                Grep

                D.O memeluk Naeun lembut. Menyalurkan perasaannya yang ia yakini sudah benar-benar tumbuh untuk gadis itu. Sejak awal, sejak melihat gadis yang sedikit bicara itu, perasaan yang semula ia tepis karena Naeun sudah menjadi milik orang lain.. Kali ini D.O meluapkannya dalam sebuah pelukan. Orang-orang yang akan melihat pameran di lorong itu mengurungkan niat melihat kemesraan D.O dan Naeun.

                “Bisakah kali ini ijinkan aku masuk ke dalam hatimu?”tanya D.O yang membuat gadis itu hampir menumpahkan airmatanya.

                Sekali lagi, Naeun juga tak bisa memungkiri kalau hatinya sudah jatuh, terjatuh dan D.O dengan cepat menangkapnya—seperti saat ini. Dengan tepat.

                Naeun mengangguk dalam pelukan itu hingga tangannya mulai membalas pelukan seorang Do Kyungsoo. Berbeda dengan sebelumnya, saat di taman, sekarang Naeun tidak akan menolaknya lagi.

.

Hello Precious

.

                Sehun dan Ahreum menyelesaikan latihan piano mereka di ruang masik. Sehun sudah merapikan bukunya—karena jam pelajaran terakhir di ruang musik. Sementara Ahreum masih harus membereskan peralatan dan buku-bukunya. Perempuan, alasannya.

                “Ah, Sehun aku ke perpustakaan sebentar ya. Ada buku yang belum ku kembalikan.”pamit Ahreum lalu berlari menuju perpustakaan. Meninggalkan Sehun yang masih asik melantunkan melodi Beethoven dari grand piano tersebut.

                “Aku menunggumu disini,”gumam Sehun yang sudah jelas tidak akan bisa didengar oleh Ahreum.

                Ahreum sedikit berlari menuju perpustakaan. Untung saja belum tutup karena sekolah masih ramai walaupun sudah jam pulang sekolah.

                “Nona Lee, untung saja aku belum keluar. Taruh sendiri di tempatnya ya, aku masih ada urusan sebentar,”omel penjaga perpustakaan.

                Ahreum mengangguk. “Ah, ye.”

                Gadis itu segera masuk dan mencari tempat dimana ia pertama kali menemukan buku yang dipinjamnya itu. Karya seni musik klasik.

                “Ddokki!”

                Ahreum langsung menoleh ke sumber suara. Kai? Heran Ahreum. Untuk apa dia disini, batinnya. Apalagi memanggil nama kelinci peliharaan keluarga Jung. Tapi Ahreum hanya menunjukkan mimik wajah penasaran, tidak langsung melontarkan pertanyaan.

                “Aku melihatmu setengah berlari, jadi aku ikuti saja.”jelas Kai seakan tahu apa yang dipikirkan Ahreum.

                Kai tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Ahreum tidak memperhatikan itu, ia terus saja mencari letak buku yang habis dipinjamnya di perpustakaan sekolah yang luas ini. Kai mengekor mengikuti Ahreum. Sesekali pemuda itu menoleh ke kanan kiri. Ia memang tidak pernah ke perpustakaan, selain jam pelajaran yang diharuskan ke tempat ini.

                “Eh?”

                Ahreum menoleh dan mendapati Kai berada tepat dibelakangnya. Sangat dekat karena pemuda itu menahan tubuh Ahreum yang berjinjit meletakkan buku itu di rak bagian atas. Kai kemudian mebenarkan letak buku tadi. Ia mengalihkan pandangannya pada Ahreum yang masih menatapnya.

                “Kenapa kau meminjam buku yang bahkan mengambilnya saja kau kesulitan?”tanya Kai.

                “Eum, itu aku meminjamnya bersama Sehun.”jawab Ahreum lalu berjalan mencari buku untuk materi ujiannya yang kurang beberapa hari.

                “Oh, aku hampir lupa kalian teman dekat rupanya,”ujar Kai sedikit cemburu.

                “Ya begitulah.” Ahreum berhenti di ujung rak deretan paling belakang perpustakaan, tempat dimana ia dan Sehun sebelumnya menemukan buku alumni SMA Hanlim.

                “Kenapa tadi kau tidak ke belakang sekolah?”tanya Kai.

                “Aku berlatih bersama Sehun.”jawab Ahreum tanpa menoleh pada pemuda jangkung yang sedari tadi mengekorinya.

                “Lee Ahreum!”panggil Kai yang merasa diacuhkan.

                “Apa?”Ahreum berbalik dan Kai langsung memojokkannya. Membuat punggung Ahreum menyandar di rak buku-buku lama di sana. Gadis itu sedikit kaget dengan yang dilakukan oleh Kai.

                Kai menaruh tangannya di kedua sisi tubuh Ahreum. Memenjarakan gadis itu dalam kungkungannya. Kai sedikit menunduk, menatap kedua mata foxy Ahreum dalam. Sedangkan Ahreum hanya mengedipkan matanya beberapa kali.

                “Berhenti melakukan itu,”ujar Kai.

                “Eoh?”

                “Aku yakin semalam kau tidak melupakan pesanku bukan?”tanya Kai. Ahreum menatap Kai takut-takut. Ia mengalihkan pandangannya. Pesan Kai semalam, saat mengantarkannya pulang. Ahreum bukan melupakan hal itu, gadis itu menghindarinya.

                “Emm a-aku, sebenarnya—”

                “Ya! Apa yang sedang kau lakukan Kim Jongin!!” Sehun berteriak dan langsung menjauhkan tubuh Kai dari Ahreum. Ia menarik kerah seragam belakang Kai membuat Ahreum bisa bernapas lega.

                “Yak! Lepaskan aku!”protes Kai. Ia lantas menatap Sehun sengit.

                “Ahreum kau tidak apa-apa?”tanya Sehun. “Ini aku bawakan tasmu, kau lama jadi aku menyusulmu ke sini.”

                “Aku?”tanya Ahreum balik. Gadis itu dengan cepat menggeleng dan mengambil tas yang disodorkan Sehun.

                “Baiklah, ayo kita pergi. Kau tidak lupa janji kita kan?”Sehun segera menarik Ahreum keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Kai yang kesal dengan perbuatan Sehun.

                “Hei! Tunggu! Sehun, mau kau bawa kemana gadis itu?!”teriak Kai sambil menyusul Sehun dan Ahreum yang sudah berjalan duluan di depannya.

                “Mau kemana mereka berdua?”gumam Kai sebelum akhirnya ia mengambil tas nya yang masih berada di kelas.

Seperti rencana Sehun sebelumnya, pemuda itu mengajak Ahreum menuju Ilsan sepulang sekolah. Tentu saja tanpa sepengetahuan Krystal. Mereka pergi menggunakan kereta daripada harus bersama Krystal meskipun itu menggunakan mobil keluarga Jung yang mewah. Ahreum memandangi tiket kereta jalur cepat ditangannya.  Kemudian memandang Sehun, bahkan seragam sekolah mereka masih lengkap.

                “Sehun-a, apa—”

                “Sudahlah, ini tidak apa-apa. Lagi pula..” Sehun menatap sekeliling. Lalu memandang Ahreum kembali. “Kau mau aku terjebak bersama nyonya nona muda Jung itu? Kau tahu, tadi kemarin paman Yonghwa dan manajer Oh datang..”

                Ahreum membulatkan matanya. Kaget.

                “Sepertinya mereka akan mengirimkan aku ke Jepang lagi. Aku tidak tahu apa alasan logis mereka yang jelas..  Jessica lah yang memaksa. Ya, aku yakin itu.”lanjut Sehun. Raut mukanya berubah kecewa.

                Ahreum hendak menyahuti penjelasan Sehun, namun kereta yang akan membawa keduanya ke Ilsan sudah datang. Sehun pun menarik tangan Ahreum menuju gerbong yang tertera di tiket mereka. Ahreum hanya menurut. Ia duduk di sebelah Sehun sambil mengamati pemandangan dari balik jendela—setelah kereta itu berjalan.

.

Hello Precious

.

                “Krystal, masuklah ke dalam. Ada ayahmu juga di sana.”perintah Jessica pada anak perempuannya itu. Krystal mengangguk dan menuruti titah ibunya. “Shindong-ssi.”panggil Jessica.

                “Ya nyonya?”

                “Sehun tidak ikut?”tanya Jessica.

                “Tuan muda sepertinya belum keluar dari kelasnya, nona muda yang menyuruh saya untuk langsung mengantar kemari.”jawab Shindong.

                “Ah, sudah cukup basa-basi ini.”ujar Jessica yang membuat Shindong bingung.

                Jessica merogoh tasnya. Mereka berdua masih ada di depan pintu kamar Yunho. Di koridor rumah sakit Ilsan. “Jelaskan apakah ini benar?”lanjut Jessica sampil menyerahkan amplop cokelat yang ia dapatkan beberapa hari lalu.

                Shindong memandang amplop itu horror. Tangannya membuka amplop itu pelan. Seperti surat pemecatan kerja, batin lelaki tambun itu.

                “Lahir dari pasangan Leeteuk dan Jung Sora, bayi kembar: Sehun dan Ahreum—Rumah Sakit Umum Mokpo.” Shindong membaca bagian itu dengan seksama. Bahkan mengulanginya sekali lagi. Catatan ini kenapa bisa ada di tangan Jessica? Batinnya.

“Dari mana kau dapat semua ini?”tanya Shindong.

                Jessica menyeringai, seakan ia akan memenangkan permainan ini kembali.

                “Kau terkejut, Shin Donghee?”tanya Jessica.

                “Apa maumu Jung Sooyeon? Tidak cukupkah dirimu menghancurkan hidup Sora, kakak kandungmu sendiri?”balas Shindong.

                “Sudah kuduga. Bukan hanya aku yang menghancurkan hidup kakakku, tapi ibuku juga menginginkannya.”jawab Jessica. “Oh, jadi yang merawat anak itu selama ini kau?”

                “Nyonya besar Jung tidak akan melakukannya tanpa bujukannmu, licik.”ujar Shindong. “Bagaimana kalau Jung Yunho mengetahui ini semua.”lanjut Shindong.

                “Apa?” Jessica melebarkan matanya.

                “Jadi tuan Jung belum mengetahui ini semua?” Shindong seakan merebut kartu As dari Jessica. Wanita itu tersenyum kecut. “Apa sebenarnya maumu?”tanya Shindong lagi.

                Deg

                Jessica seakanmengalami déjà vu yang membawanya kembali ke masa lalu, memori yang tidak bisa ia lupakan. Saat ia berada di rumah sakit Mokpo, saat itu bersama ibunya, Gain.

                Flashback..

                Sebelumnya Sora dan Leeteuk meminta ijin untuk menikah kepada  Gain dan Yunho, namun Gain yang sudah berencana menjodohkan Sora dengan Yonghwa menetang hal itu dengan keras, dengan alasan Leeteuk bukan keluarga bangsawan kaya—Leeteuk hanya pemuda miskin yang bekerja pada keluarga Jung.

Sebenarnya Jessica juga menyukai Leeteuk, tapi ia sudah gelap mata saat mengetahui Leeteuk menyukai kakaknya. Jessica akhirnya memaksa ibunya untuk menggantikan posisi Sora. Akhirnya, Sora dan Leeteuk memutuskan untuk pergi dari Seoul. “Lebih baik namaku tidak tercantum dalam keluarga Jung,”ujar Sora sebelum akhirnya pergi bersama Leeteuk.

                Leeteuk membawa Sora ke Mokpo—kampung halaman Leeteuk, menikah disana dan membentuk keluarga kecil disana. Hingga akhirnya Sora hamil dan melahirkan di rumah sakit umum Mokpo. Hanya Shindong, kerabat Leeteuk yang selalu membantu dua sejoli itu.

                “Anak kalian kembar, laki-laki dan perempuan ini cukup langka. Selamat,”ujar sang suster sambil memberikan dua bayi suci yang baru lahir ke dunia kepada Leeteuk dan Sora. Bayi yang dua-duanya memiliki kulit seperti susu.

                “Lihatlah, wajah mereka seperti malaikat karena setiap hari kau memainkan piano,”kata Leeteuk yang menggendong bayi perempuan. Sora tersenyum.

“Ayahnya memang seorang malaikat,”ujar Sora.

                “Kita beri nama siapa dua malaikat kecil ini?”tanya Leeteuk.

                “Aku ingin menamainya, Sehun, bagaimana?” Sora meminta pendapat. Leeteuk terkekeh memamerkan dimplenya.

                “Itu bagus. Kalau begitu, karena eomma yang melahirkanmu sangat cantik dan kau seperti malaikat, aku akan memberikan nama Ahreum. Ah, atau Cheonsa?” Lalu Sora dan Leeteuk tertawa.

                Selang beberapa hari, Sora belum juga pulih dengan keadaanya setelah melahirkan. Tiba-tiba ibunya—Gain datang bersama Jessica dan beberapa bodyguard pesuruhnya. Gain dengan angkuh memasuki kamar rawat Sora yang membuat Sora sedikit ketakutan.

                “Aku dengar kau sudah melahirkan, Sora-ya. Dan anakmu lelaki bukan?”tanya Gain. Tak berapa lama Jessica yang tengah hamil masuk ruang rawat Sora dengan membawa bayi lelaki kakaknya itu—Sehun kecil. Sora membelalakkan matanya kaget.

                “A-apa yang akan kau lakukan pada Sehunku?”tanya Sora panik. Begitu juga Leeteuk.

                “Adikmu akan melahirkan seorang bayi perempuan, keluarga Jung butuh putra untuk pewaris keluarga. Aku akan membawa Sehun. Tidak akan kubiarkan Sehun hidup bersama orang miskin..” Gain melirik Leeteuk dengan tatapan penghinaan.

                “Ayo eomma, aku sudah membawanya.”Jessica langsung keluar dari ruangan itu dengan membawa Sehun.

                “Sooyeon-ah! Ibu!”

                “Andwae!! Sehun! Kembalikan anakku!” Sora berteriak lalu mencabut paksa selang infusnya dan langsung berlari mengejar Jessica dan Gain.

                “Sora!” Leeteuk juga langsung mengejar Sora.

                “Ya! Jungsoo!”Shindong yang berpapasan dengan Leeteuk mengehentikan lelaki itu.

                “Shin Donghee, jaga anak perempuanku sebentar lagi aku kembali!”

                Leeteuk langsung berlari mengejar Sora. Jessica dan Gain lantas memasuki mobil mewah keluarga Jung dan langsung meninggalkan daerah itu. Sora tetap mengejar mobil itu dengan semua kekuatan yang ia miliki. Demi anaknya..

                “KEMBALIKAN! DIA ANAKKU! SEHUN!!!”teriaknya.

                “EOMMA! SOOYEON!!”

                Sora tetap memanggil-manggil nama itu. Membuat orang-orang dijalanan merasa iba.

                Bruk

                “SORAAAA!!”

                Leeteuk langsung membopong tubuh Sora yang terjatuh di jalanan. Kaki wanita cantik itu berlumuran darah. Leeteuk segera membawa Sora kembali ke rumah sakit.

                “Maafkan kami, nyonya Sora mengalami pendarahan hebat. Kami sudah berusaha, tapi..”dokter itu belum selesai menjelaskan namun Leeteuk dengan cepat masuk ke dalam ruangan UGD.

                “Soraaa! Tidak, kau tidak boleh meninggalkan ku seperti ini!”tangisnya pecah melihat tubuh wanita yang paling dicintainya tergolek di ranjang rumah sakit.

                Shindong menyusul masuk bersama bayi perempuan Leeteuk digendongannya. Ia merasa kasihan pada Leeteuk.

                “Aku yakin Sora akan bahagia.”ujar Shindong.

                “…”Leeteuk masih menangisi jasad Sora. Memeluknya erat seakan wanita itu masih hidup. “Terimakasih, Shin Donghee.”ujar Leeteuk pelan.

                “Hmm, Jungsoo, lalu siapa nama bayi ini?”tanya Shindong. “Tadi, suster disana menanyaiku.”

                Leeteuk terdiam beberapa saat, ia mengamati wajah Sora. Matanya sudah terpejam. Cantik, walaupun nyawanya sudah tiada.

                “Ahreum. Namanya Lee Ahreum.”balas Leeteuk.

                Sejak saat itu, Leeteuk menyerahkan Ahreum untuk dirawat Shindong. Sementara dirinya pergi meninggalkan Mokpo. Shindong juga tak tahu kemana Leeteuk pergi, yang ia tahu ia akan terus menyayangi Ahreum seperti anaknya sendiri.

                End of Flashback..

                “Tidak bisakah kau menebus dosamu hah? Tidak bisakah kau biarkan Ahreum dan Sehun hidup tenang begitu saja? Kau sudah memiliki segalanya, Jung Sooyeon!”geram Shindong.

                “Terlambat. Bagiku, jika masih ada sisa bagian dari hidup Sora, itu tidak akan membuatku bahagia.”ujar Jessica lalu merebut kembali amplop cokelat dari tangan Shindong.

                “Jangan menghalangiku.”ancam Jessica sakartik.

                Lelaki itu terdiam.

                Jessica melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia mengambil ponselnya dari tas.

                “Halo?”

                “…”

                “Pastikan kali ini rencanaku berhasil, ingat dua kali lipat!”

.

Hello Precious

.

                Sehun dan Ahreum sudah hampir sampai di Ilsan, tinggal berjalan beberapa meter sudah sampai di rumah sakit tempat Yunho dirawat.

                “Aku haus, ayo kita beli bubble tea disana!”ajak Sehun sambil menunjuk kedai bubble tea di dekat rumah sakit.

                “Kau benar, aku juga sedikit capek.”balas Ahreum. “Ah! Ada toko bunga, tunggu aku ya aku mau ke sana sebentar.”ujar Ahreum sambil menepuk bahu Sehun.

                “Baiklah, jangan lama-lama.”pesan Sehun setelah Ahreum melangkahkan kakinya ke tempat penyebrangan.

                Sehun melihat ke seberang,benar, ada toko bunga di sana. Kemudian ia pun berjalan ke kedai bubble tea. Minuman favorit Sehun.

                Ahreum berdiri di dekat lampu merah, menunggu lampunya berubah menjadi gambar orang menyebrang agar ia bisa melewati zebra cross di sana. Gadis itu tersenyum sambil memandangi toko bunga tersebut. Pasti Yunho haraboji akan senang bila ia membawakannya bunga, walaupun bukan sebuket bunga yang biasanya dibawa rekan kerjanya. Batin Ahreum.

                “Lihatlah, sepertinya kita dimudahkan untuk melakukan perintah nyonya.”ujar seorang lelaki dengan pakaian hitam-hitam dari dalam mobil.

                “Kau benar! Ayo kita selesaikan saja tugas ini dan segera mengambil uang kita, hahaha..”ujar temannya yang duduk di kursi kemudi mobil itu. Pria itu langsung menyalakan mesinnya, mengemudikan mobil itu cepat.

                Ahreum melangkahkan kakinya melewati zebra cross. Ia menoleh ke arah Sehun sebantar dan berjalan sedikit cepat agar tidak membuat Sehun menunggu. Mobil hitam itu melaju lurus mengikuti langkah kaki Ahreum yang berada di tengah jalan itu.

                “AHREUUUM!!!!”

                Dua pria di dalam mobil itu membelalakkan matanya melihat seorang pemuda berlari ke arah Ahreum. Sementara gadis itu menoleh lalu membelalakkan matanya. Dengan cepat, Kai mendorong tubuh Ahreum ke seberang dan membiarkan mobil hitam itu menghantam tubuhnya.

                Braaakk!

                Ahreum terjatuh tepat di depan toko bunga. Sementara Kai sudah tergeletak di tengah jalan, darah mengucur dari tubuh namja itu. Pria dalam mobil tadi langsung melajukan mobilnya cepat. Kabur dari sana. Ahreum langsung berlari ke tengah jalan. Begitu juga dengan Sehun. Dua bubble tea di tangannya bahkan sampai terjatuh melihat kejadian tadi.

                “Kai! Kai!”panggil Ahreum. Kai tersenyum sebentar kepada gadis itu walaupun tubuhnya sudah bersimbah darah, sebelum iya mengeluarkan darah dari mulutnya dan terpejam.

                “Kai bangunlah! Kai!!”

                Ahreum menangis melihat Kai seperti ini. Ini semua salahku, pikirnya. Ahreum mengusap darah yang keluar dari kepala Kai, membuatnya semakin terisak. Sehun segera berlari ke arah rumah sakit. Meminta bantuan petugas di sana. Beberapa orang yang mengerumuni Ahreum melaporkan kejadian itu ke polisi.

                “Hiks. Kai bangunlah..”isak Ahreum saat tubuh Kai berada di kasur dorong untuk segera di tangani di UGD.

                Sehun dan Ahreum mengikuti para perawat dan dokter itu membawa Kai hingga akhirnya mereka di hentikan tepat di depan pintu. Ahreum masih saja menangis. Padahal kakinya juga mendapat luka karena terdorong ke aspal tadi.

                “Ahreum?”panggil Sehun. Gadis itu langsung memeluk Sehun erat.

                “Sehun! Ahreum! Apa yang terjadi pada Kai?” Suho berlari ke arah Ahreum dan Sehun—di depan ruang UGD. Di belakang Suho, terlihat Kangin dan istrinya, Sayumi, yang juga panic. Terlihat dari wajah mereka berdua.

                “Kai ditabrak oleh mobil, seperti kejadian tabrak lari, hyung.”jelas Sehun.

                Ahreum menunduk, menahan tangisnya. Bagaimanapun Kai yang mencoba menyelamatkan dirinya, gadis itu benar-benar merasa bersalah.

                “Bagaimana ini? Kai, anakku..”isak Sayumi yang langsung ditenangkan oleh Kangin.

                “Tenanglah dulu..”ujar Kangin.

                “Bagaimana aku bisa tenang sementara anakku berada di ruangan itu,”bantah Sayumi. Wanita itu langsung duduk di kursi tunggu, namun tangisnya belum juga reda.

                “Suho oppa?”Krystal memanggil Suho. Pemuda yang merasa namanya dipanggil itu menoleh ke sumber suara. “Apa yang terjadi pada Kai?”tanya Krystal menghampiri Suho, Sehun dan Ahreum.

                “…”

                Tak ada yang berniat menjawab pertanyaan Krystal. Gadis itu melihat Ahreum. Tubuh gadis itu juga berdarah, sisa terkena darah Kai tadi.

                “Pasti karena kau! Pasti Kai seperti itu gara-gara kau kan Ahreum!”amuk krystal. Tangannya terjulur untuk menyerang Ahreum.

                “Krys! Hentikan!”bentak Sehun.

                Suho langsung menahan tubuh Krystal sementara Sehun melindungi Ahreum. “Ayo, pergi. Kita obati luka mu dulu,”Sehun langsung menyeret Ahreum dari sana. Walaupun Ahreum awalnya tidak ingin meninggalkan tempat itu sampai doketer yang menangani Kai keluar.

                Krystal langsung menelpon ibunya. Bagaimanapun, ibunya adalah calon besan dengan keluarga Kai, ia pikir Jessica perlu mengetahui hal ini.

                “Halo?”

                “Eomma? Kau dimana? Cepatlah ke UGD, Kai tertabrak mobil dan sedang ada di sini.”ujar Krystal.

                “Eomma tahu, semua keluarga Kim juga ada di sini, cepatlah.”bisik Krystal, tanpa gadis itu tahu dari seberang telepon Jessica seakan mendapat hantaman batu mendengar kabar itu.

-ToBeContinued:)-

A/N lagi: Hai hai! Gimana chapter ini? Pada suka moment D.OEun ga? Hehe XD Udah tau kan Sehun-Ahreum itu anak siapa? Maaf kalau updatenya lama dan maaf kalau feelnya gak dapet pas adegan tragis Kai *bigbow* Oh iya, cuma mau ngasih tau kalau chapter selanjutnya adalah chapter terakhir! Yeay! Seeyou~ \(´▽`)/

21 pemikiran pada “Hello Precious! (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s