May I Love You? (Chapter 6)

May I Love You (2)

 

Author: @kim_mus2

Main Casts:

  • Kai a.k.a Kim Jongin
  • Yoon Ahra

Minor Casts:

  • Oh Sehun
  • Kim Hana

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Angst, Drama

Rating: PG-15

~***~

“Semuanya, terima kasih atas kerja keras kalian hari ini.

Sehun mengangkat sebelah tangannya pada semua karyawan, lalu meninggalkan ruang kerjanya itu dengan langkah gontai. Pasca menemui Jongin, Sehun terlihat sangat tak bersemangat. Tak ada yang tahu kenapa dia menjadi seperti itu.

Yah! Oh Sehun, ada apa denganmu? Tumben sekali, lesu begini?” Hana membuntuti Sehun, benar-benar khawatir dengan keadaan lelaki itu. Namun, Sehun hanya diam seribu bahasa dan terus berjalan menjauh. 

Drrt… Drrt…

Handphone Hana bergetar. Ia pun berhenti mengikuti Sehun.

Ah chankanmanyo, yobuseyo… Ah! Chanyeol-ah! Mwo? Di depan kantorku? Sebentar, aku keluar sekarang.”

Mendengar pembicaraan Hana di telpon membuat Sehun menghentikan langkahnya.

“Sehun-ah!” Hana berlari kecil ke arah Sehun setelah mengakhiri pembicaraan di telponnya. Tapi orang yang dipanggil malah berpaling pada orang lain. Hana pun berhenti dan tertegun memandangi Sehun dan gadis yang disapanya.

“Ahra-ssi, mau pulang bersama?” Tawar Sehun pada Ahra yang kebetulan berpapasan dengannya. Sayangnya, gadis itu menolak dengan halus.

“Tidak usah, tuan. Saya harus pergi ke suatu tempat dulu.”

“Oh, keurrae? Kalau begitu hati-hati di jalan, ne!” Sehun menepuk pundak kanan Ahra, tersenyum sekadarnya lalu melanjutkan langkahnya.

Jeongmal gamsahamnida.” Ahra membungkuk kemudian pergi menuju lift.

“Lelaki itu. Ada apa dengannya?” gumam Hana yang masih setia berdiri menatap punggung Sehun yang perlahan mulai menghilang dari jangkauan matanya.

~***~

Ahra sudah berdiri di depan pintu sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas di gedung yang sedang ditempatinya. Gadis itu sebenarnya ragu untuk memasuki ruangan itu, tapi dia harus memberanikan diri. Diketuknya pintu kayu dan tak lama kemudian seseorang membukakan pintu dan menatap heran ke arahnya.

“Kau? Apa yang kau lakukan disini?”

Mianhamnida sajangnim. Ini… saya ingin mengembalikan ini.” Ahra menyodorkan goody bag yang diperolehnya kemarin malam dari orang yang ada di hadapannya itu.

Lelaki itu melirik barang yang dibawa Ahra sekilas, lalu melenggang menuju lift, dengan tanpa menunjukkan ekspresi berarti.

Sajangnim! Chankanman!” Ahra menerobos masuk ke dalam lift. Jongin membulatkan mata, tapi langsung memalingkan muka agar ekspresi terkejutnya tak terlihat.

“Fuuh… hampir saja. Ah ne, sajangnim! Saya ucapkan terima kasih karena anda sudah memberikan sepatu ini, tapi saya tidak bisa menerimanya dengan cuma-cuma. Sepatu ini terlalu mahal untuk saya. Lebih baik saya kembalikan.” Ahra kembali menyodorkan goody bag pada Jongin.

“Tidak perlu.” Jawab Jongin tanpa sedikit pun menatap lawan bicaranya.

“Tapi tuan, saya tidak bisa menerimanya.” Ahra tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan itu sedikit membuat Jongin kesal. Sudah susah payah dirinya mencarikan sepatu malam itu, tapi gadis ini malah menolaknya. Sungguh tidak tahu diuntung, pikir Jongin. Ia lemparkan tatapan dingin pada Ahra yang berhasil memberikan efek ngeri pada gadis itu.

“Tuan…”

“Lepas sepatumu.” Titah Jongin masih dengan suara datarnya.

N-ne….” Ahra menurut saja karena suasana di tempat sempit itu terasa semakin mencekam.

TING TONG

Pintu lift terbuka. Jongin membungkuk untuk mengambil sepatu yang sebelumnya dipakai Ahra. Tanpa diduga, dengan teganya Jongin membawa sepasang sepatu itu keluar dari lift dan membuangnya ke dalam tempat sampah.

“Sekarang, pakai sepatu yang kau bawa di tas itu. Kau tak perlu mengembalikannya.” Jongin berjalan santai menuju pintu keluar gedung.

“Huwaa… andwae!” Ahra berteriak histeris lalu membuka tempat sampah dan mencari-cari sepatunya. Jongin yang semula mau acuh saja menjadi sangat risih, terlebih karena beberapa pegawai memperhatikan dirinya yang terkesan sangat kejam pada gadis itu.

Yah! Kau mau membuatku gila, huh?” Jongin menarik paksa blazer bagian belakang yang dikenakan Ahra. Ia sungguh tak habis pikir dengan tingkah perempuan yang satu itu.

“Tapi, sepatu itu adalah pemberian orang tuaku. Aku tak boleh membuangnya.” Mata Ahra mulai memerah, air matanya sudah hampir jatuh karena teramat sedih.

Aish jinjja! Minggir!Entah apa yang merasuki Jongin saat itu. Ia buka jasnya asal dan membiarkannya tergeletak di atas lantai. Kedua lengan kemeja putihnya ia singsingkan hingga ke sikut. Lalu, dengan spektakuler, kedua tangan berharganya rela ia gunakan untuk mengubek tempat sampah.

Semua orang menganga. Kaget dan terpesona adalah dua kata paling tepat untuk mewakili tatapan orang-orang saat itu. Lebih tepatnya, kaget karena sang GM melakukan kegiatan yang tak sepantasnya ia lakukan, dan terpesona karena semakin serius lelaki itu bergelut dengan sampah, level ketampanannya malah semakin bertambah. Setiap peluh yang meluncur dengan mulus dari dahi hingga leher jenjang Jongin, mampu membuat semua orang yang melihatnya menelan ludah.

Awalnya Ahra juga malah ikut terkesima melihat tindakan Jongin, tapi lama kelamaan ia akhirnya sadar. Dirinya sudah membuat lelaki itu kesusahan. Merasa tak enak, Ahra pun kembali dengan aktivitasnya semula. Dengan kerjasama dua pasang tangan, akhirnya sepatu itu diketemukan.

Igeo!”Jongin memberikan sepasang sepatu yang sudah sedikit lusuh itu pada Ahra.

Gamsahamnida sajangnim.” Ahra membungkuk canggung.

Jongin menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya untuk membersihkan debu dan kotoran yang terasa masih melekat. Setelahnya, dia berjalan menuju toilet. Disana, ia membasuh tangannya sebersih mungkin dengan sabun dan air dari wastafel. Dengan reputasi sebagai lelaki pujaan wanita, sebelum keluar toilet tentunya Jongin tak lupa untuk menata ulang wajah dan rambutnya. Setelah cukup puas dengan penampilannya, Jongin keluar dari tempat itu. Saat pintu dibuka, Jongin melangkah mundur dengan refleks. Lelaki itu kaget bukan main. Seorang gadis sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum kikuk.

Yah! Kenapa kau mengikutiku? Minggir!” Lagi-lagi suara dan tatapan dingin Jongin membuat bulu kuduk Ahra berdiri. Gadis itu pun bergerak ke samping kanan untuk memberi jalan. Jongin pun langsung berjalan cepat, tapi gadis itu malah mengikutinya.

“Jangan mengikutiku!” Jongin sedikit menoleh di sela perjalanannya.
“Tapi tuan, ini jas dan tas anda….”

Jongin tiba-tiba berhenti dan berbalik. Karena rem mendadak, Ahra terpaksa membenturkan kepalanya di dada kokoh Jongin.

“Aduh!”

Tanpa peduli dengan ringisan Ahra, Jongin langsung mengambil jas dan tas miliknya lalu kembali berjalan menjauh. Tapi, gadis itu rupanya tetap berjalan di belakang Jongin. Menyadari hal itu, ia menjadi sangat amat terganggu.

Yah! Kenapa kau masih mengikutiku huh?”

Jongin kembali berbalik. Kali ini bentakanlah yang ia berikan. Rupanya GM muda kita ini sudah terlanjur pusing akibat ulah Ahra.

“Saya mau mengembalikan sepatu ini, tuan.”

“Sudah kubilang kan? Ambil saja!”

“Kalau begitu saya akan membayarnya.”

“Terserah.”

Kali ini Jongin berjalan cepat, tak sedikit pun memberi kesempatan pada Ahra untuk bisa mengejarnya. Saat kakinya mencapai pintu keluar, seseorang berdiri di hadapannya.

Yah! Kai! Kenapa buru-buru sekali sih?”

“Awas! Jangan menghalangi jalanku, Oh Sehun!” Jongin mendorong kawannya dan terus berjalan lurus menuju mobil yang sudah siap di depan gedung atas bantuan pegawainya.

Mwoya?”  Sehun hanya menatap bingung kawannya yang perlahan menjauh. Karena tak punya petunjuk apapun tentang sikap Jongin, Sehun menggedikan bahu dan melanjutkan jalannya.

“Sehun-ssi?”

Seorang gadis membuat Sehun terkejut. Namun, itu hanya untuk sesaat. Setelah tahu identitas sang gadis, Sehun berubah sumringah. Saking senangnya, dia bahkan tak sadar jika sepasang mata tengah mengawasinya.

“Ahra-ssi! Kau masih disini?” Tutur Sehun yang dengan tak sadar memegang kedua pundak Ahra. Kedua matanya berbinar layaknya seseorang yang baru menemukan sebuah harta karun.

Nde… saya baru mau pulang sekarang. Oh ya, kenapa anda masih ada disini Sehun-ssi? Bukannya anda sudah pulang dari tadi ya?Tanya Ahra dengan jujur.

“Ada barang yang ketinggalan. Jadi, aku kembali kesini.” Jawab lelaki itu sambil tetap tersenyum manis.

“Oh arasseo. Kalau begitu, aku duluan ya.” Ahra pun balas tersenyum dan beranjak pergi. Namun, selang waktu beberapa detik, sebuah suara menghentikannya.

Chankanman! Kau pulang sendiri, Ahra-ssi?” Sehun kembali menghampiri Ahra.

Nde… waeyo?”

“Aku hanya sebentar di dalam. Kalau kau mau, kita bisa pulang bersama. Bagaimana?” Ini adalah tawaran kedua yang diberikan Sehun hari ini pada Ahra. Gadis itu tentunya merasa tak enak jika harus menolak untuk kedua kalinya. Maka dari itu, ia akhirnya mengangguk setuju.

“Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya.” Sehun langsung berjalan penuh semangat setelah sebelumnya menyunggingkan senyuman manis pada Ahra.

Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Sehun untuk kembali ke tempat Ahra menunggunya.  Sayangnya, Sehun tak dapat menemukan gadis itu di manapun.

“Ahra-ssi! Kau dimana? Aish! Apa aku terlalu lama ya?” Sehun menggaruk kepalanya bingung.

~***~

“Jongin-ssi!

Mwo?” Jongin terkejut karena Ahra berani menyebut namanya dengan nada suara yang cukup tinggi.

Yah! Kim Jongin-ssi! Tadi kau menyuruhku untuk tidak mengikutimu. Tapi, sekarang malah memaksaku pergi bersamamu. Aku benar-benar tak habis pikir. Aku sudah berjanji untuk menunggu Sehun-ssi. Apa yang harus kulakukan sekarang?” Protes Ahra sambil menatap lurus pada Jongin yang tetap fokus pada jalanan.

“Itu urusanmu.” Jawab Jongin asal.

Mworagoo? Aku jadi melanggar janjiku karenamu, tuan Kim Jongin. Kau tahu? Melanggar janji itu adalah perbuatan yang sangat memalukan.”

“Kalau begitu, penuhi dulu janjimu padaku. Kau bilang kau akan membayar sepatu pemberianku. Bukankah itu yang kau katakan?”

“Apa aku harus membayarnya sekarang?” Ahra menjadi harap-harap cemas.

“Kalau ya, bagaimana? Apa kau akan melanggar janjimu, huh?” Tantang Jongin.

Ahra diam seribu bahasa. Dia berusaha keras untuk mencari solusi dari masalah yang dihadapinya ini. Memang cukup sulit baginya untuk membayar dengan keadaan ekonomi yang kurang dari kata cukup, seperti saat ini. Akan tetapi, prinsip hidup yang sudah ditanamkan oleh kedua orang tua, tak akan mungkin bisa ia abaikan. Ahra pun memantapkan hati dan menjawab dengan lantang.

“Saya tak akan pernah melanggar janji. Jika tuan meminta saya membayarnya sekarang, saya akan membayarnya dengan semua uang yang saya punya. Sisanya, anda boleh mengambil semua gaji saya setiap bulannya.”

“Kau yakin?”

“Tentu.” Ahra mengangguk mantap sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuannya.

“Hmm… baiklah. Tapi, jangan lupa! Kau juga harus membayarku untuk ini.” Jongin memberi isyarat pada Ahra untuk melihat keluar mobil dengan menaikan dagunya. Setelah kembali menguasai dirinya, Ahra baru tersadar kalau mobil yang dinaikinya bersama Jongin ternyata sudah berhenti tepat di depan rumahnya.

“Mana uangmu?” Tagih Jongin sembari mengulurkan tangan kanannya di depan Ahra.

Mendengar ucapan Jongin, Ahra pun menghempaskan nafas. Dengan pasrah, ia keluarkan semua isi dompetnya yang hanya terdiri dari beberapa lembar uang kertas dan uang recehan berjumlah minim.

Setelah itu, Ahra mebungkuk pada Jongin dan keluar dari mobil dengan raga yang seperti telah kehilangan ruhnya. Tepat saat Ahra akan berjalan masuk ke dalam rumah, seorang wanita bertubuh pendek berisi dengan rambut keriting khas ahjumma memegang pundak kanan Ahra dan menariknya ke belakang penuh tenaga. Saat Ahra berbalik, wanita itu pun langsung mengutarakan maksud kedatangannya.

“Ahra-ya! Kapan kau akan membayar sewa rumah ini? Kau dan keluargamu sudah menunggak selama satu tahun! Menyusahkan saja.” Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil memberikan pandangan tak menyenangkan.

“Saya…” Baru saja Ahra akan menjawab, wanita itu kembali melanjutkan ocehannya.

“Oh ya, jangan harap karena orang tuamu baru meninggal, kau bisa mendapat keringanan dariku. Tidak akan pernah. Camkan itu!”

“Saya mengerti nyonya Kang. Tapi tolong, beri saya waktu untuk mengumpulkan uangnya dulu. Saya pasti akan membayarnya setelah beberapa bulan ke depan.”

“Hohoho, itu terlalu lama, sayang.” Wanita itu tertawa nyaring.

Ahra hanya bisa menunduk. Pikirannya berputar. Rumit, hidupnya terasa sangat rumit. Baru kali ini dirinya merasa buntu. Jumlah uang untuk menebus tunggakan sewanya tidaklah sedikit. Sementara itu, gajinya bulan depan akan dia gunakan untuk membayar sepatu. Tak ada penghasilan lain yang bisa ia andalkan.

 “Tunggu sebentar.” Seringaian muncul di bibir si wanita paruh baya. Matanya ia edarkan dari ujung rambut hingga ujung kaki Ahra dengan teliti.

“Kau ini cantik, Ahra-ya. Bagaiamana, kalau kau membayarnya dengan tubuhmu saja, huh? Para pria di tempatku pasti akan sangat menyukaimu.”

“Permisi.” Jongin yang ternyata belum pergi meninggalkan daerah perumahan muncul begitu saja.

“Kau… k-kau ini siapa?” Wanita yang bernama nyonya Kang itu terlihat gugup melihat Jongin yang sungguh tampan dan gagah di matanya.

“Aku? Kau tak tahu? Aku ini pemilik banyak hotel bintang lima di Korea Selatan.” Jawab Jongin dengan entengnya.

“Lalu, ada apa kau datang kesini?” Nyonya Kang kembali mengungkapkan rasa ingin tahunya yang menggebu.

“Aku hanya ingin menemui calon istriku.”

Ahra dan nyonya Kang terperanjat. Jawaban singkat dari Jongin sungguh memberi dampak yang luar biasa.

“Calon istri? Benarkah? Ohohoho… kenapa kau tak mengatakannya dari awal, Ahra-ya. Kalau begitu, segera lunasi tunggakanmu ya. Aku akan setia menunggu, hohoho.”  Nyonya Kang mungkin boleh merasa senang untuk sementara setelah mendengar perkataan Jongin. Tapi tidak dengan Ahra. Semua perasaan bercampur aduk dalam dirinya. Rasa senang yang fana membuat dirinya semakin sakit. Dirinya tahu benar jika perkataan Jongin tadi hanyalah palsu dan tantangan hidupnya belum berakhir.

“Hey! Kau tak akan mempersilakan aku masuk?” Tanya Jongin pada Ahra yang masih mematung di tempat.

“Ah ya, silahkan.” Ahra membukakan pintu, lalu menyalakan semua lampu di rumah yang didominasi bahan kayu itu.

“Jangan salah sangka. Semua pertolonganku hari ini tidak gratis, Ahra –ssi.

Arasseo…” Ahra mengangguk lesu.

“Layani aku.”

To be continued…

16 pemikiran pada “May I Love You? (Chapter 6)

  1. sehun nawarin pulang breng ahra buat bikin cemburu hana iyah? hahaa dasar kekanakan bukan nya dy itu playboy iyah….
    wah jongin bilang ahra itu istri nya dy…
    heehe pazti ahra sneng bgt tuh tp si kai nolong ada mau nya..apa emg kai udh suka ?

Tinggalkan Balasan ke Ariandra Park Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s