One Person (Epilog)

Picture10

ALOLIES Part 1 : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/07/19/a-lot-of-love-in-every-silence-part-1/#more-14499

ALOLIES Part 2 : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/08/19/a-lot-of-love-in-every-silence-chapter-2/

One Peson Part 1 : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/12/11/one-person-chapter-1/

One Person Part 2 : https://exofanfiction.wordpress.com/2014/01/07/one-person-chapter-2/

Epilog

Title : Epilog One Person

Author : phyokyo

Main Cast : Do Kyungsoo (EXO-K), Hwang Naeri (OC)

Genre : Romance, sad

Length : Oneshoot

Note : hanya lanjutan atas ketidak jelasan ff sebelumnya.

It’s all about…

Destiny.


&&&

Buku setebal 7 cm tak mampu membuat mata laki-laki beralis tebal itu mengalihkan pandangannya dari seorang gadis. Sesekali sudut matanya melirik, mencuri pandang kearah gadis yang sedari tadi asyik mencoret-coret buku sketsanya. Gadis itu nampak asyik dengan dunianya.Dengan kedua kaki yang naik keatas sofa, dan lutut yang digunakannya sebagai meja.Ia menunduk, membuat poni lurus berwarna coklatnya menutupi sebagian dari mata sayunya. Dan itu berhasil membuat Kyungsoo merasa tak tahan untuk segera mendekap wajah mungil itu dengan kedua tangannya.

“Kyungsoo ya..”Panggil gadis itu, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari buku sketsa.

Kyungsoo tersentak saat gadis itu tiba-tiba memanggilnya.Ia cepat-cepat menatap buku tebalnya dan kembali berpura-pura membaca. 

“Astaga, membuatku jantungan saja..” Kyungsoo menghela nafasnya pelan.Ia takut gadis itu tahu kalau ia memperhatikannya sedari tadi. Menjaga imej?Tidak.Hanya saja Kyungsoo sedang tidak ingin menanggapi celotehan narsis gadis itu.Kyungsoo pun baru tahu kalau gadis berwajah lugu itu bisa berkelakuan narsis seperti gadis-gadis remaja pada umumnya.Yang menganggap dirinya sangat cantik hingga setiap pasang mata laki-laki tak ingin beringsut darinya.Yah walaupun sebenarnya pernyataan itu memang tidak salah jika Naeri yang mengucapkannya.

Setelah memperhatikan gambarnya beberapa saat, Naeri memutar posisi duduknya menghadap Kyungsoo.Ia tercengang. Tak mengerti apa yang membuat laki-laki dihadapannya begitu mencintai buku tebal itu ketimbang dirinya.

“Tsk. Kenapa sih…” Naeri memutar bola matanya dan mendengus sebal saat tahu kalau laki-laki itu ternyata tidak menanggapi panggilannya tadi sama sekali. Ia menggeleng heran, tak percaya bahwa masih saja ada manusia yang berkutat dengan buku tebal di hari minggu. Bahkan sampai tak menyadari keadaan disekelilingnya.Merasa tak dianggap, Naeri pun langsung menyodorkan buku sketsanya diatas buku bacaan Kyungsoo.

“Kyungsoo ya! Lihat gambarku! Bagus kan?”

Kyungsoo melirik sinis buku sketsa yang menutupi buku tebalnya. Tampak seolah ia benar-benar tidak tahu atas panggilan Naeri padanya tadi. Ia memperhatikan buku itu sesaat lantas mengarahkan pandangannya pada gadis yang kini menatapnya penuh harap. Masih dengan akting dinginnya tadi, Kyungsoo pun menerima buku sketsa itu dari tangan Naeri.

“Apa ini?Kenapa hanya ada gambar anak perempuan?Ini kau?Lalu aku?Siapa yang memberi kau bunga kalau bukan aku?”Kyungsoo memicingkan matanya sambil mengernyit sebal, sementara gadis itu hanya menampilkan senyum tanpa dosanya.

“Hee… Ini kan gambarku, jadi yang ada disini hanya aku.”Naeri memberi penjelasan dengan menunjuk-nunjuk kertas gambarnya lalu menepuk-nepuk dadanya dengan bangga. “Lagipula, kau juga tidak pernah memberikanku bunga kan..”

Pernyataan polos yang cukup membuat Kyungsoo merasa tertohok. “Terlalu lugu, atau apa? Menghinaku?”

“Tapi bagus kan?” Tanyanya lagi,tak sadar kalau ucapannya tadi berhasil membuat Kyungsoo melongo parah.

Kyungsoo menghela nafasnya dan kembali bersikap dingin.

“Tidak.Tanpa aku, gambar ini buruk. Buruk sekali.”Jawab Kyungsoo dengan memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.

Naeri terhenyak begitu mendengar ucapan Kyungsoo. Mungkin ia terbiasa dengan ucapan Kyungsoo yang terkenal singkat dan ‘padat’. Namun kali ini, entah kenapa begitu membuatnya merasa sakit hati.Ia sangat tidak suka bila gambarnya dikritik dengan alasan yang tidak jelas. Kalaupun harus dikritik, tidak perlu dengan wajah seperti itu kan?  Terlalu mengintimidasi. Naeri merasa seolah ia sedang berhadapan dengan guru fisikanya di SMA dulu. Hanya saja yang ini sedikit lebih tampan.Sedikit—Oke, tidak sedikit.

“Begitu ya…” Ucapnya pelan, nyaris terdengar seperti helaan nafas.Naeri menunduk pasrah lantas mengambil buku sketsanya dari tangan Kyungsoo. Sesaat mata sayunya memelas menatap mata Kyungsoo sebelum akhirnya ia berbalik memunggungi laki-laki itu. Naeri mulai merajuk.

Kyungsoo tersenyum jahil.Rencananya kali ini berhasil.Entah rencana yang keberapa kalinya karena Kyungsoo selalu merasa senang menjahili gadis itu.Melihat raut wajahnya yang ditekuk dengan bibir mengerucut gadis itu sudah menjadi candu bagi Kyungsoo. Sehari saja ia tidak melihat wajah merajuk itu, maka hidupnya serasa hambar.

5 menit.

10 menit.

30 menit.

Berkali-kali Kyungsoo mengawasi punggung gadis itu dari sudut matanya.Namun gadis itu masih tetap pada posisinya. Entah apa yang dikerjakannya, Kyungsoo tidak tahu. Yang pasti, ia hanya melihat pergerakan ditangan gadis itu. Mungkin menggambar lagi..pikirnya sederhana.

Kyungsoo kembali menatap buku tebal dihadapannya. Yah, walaupun tidak sepenuhnya pikirannya tertuju pada apa yang dibacanya. Setidaknya ada satu hal yang bisa dilakukannya selama gadis itu masih asyik dengan dunianya sendiri—menggambar.

“….”

“Uhuk..uhuk..”

 

Kyungsoo masih membaca—lebih tepatnya hanya melihat-lihat—buku ditangannya saat mendengar suara batuk Naeri.Ia segera membulatkan matanya panik. Ia ingat, jika gadis itu mulai batuk-batuk, maka penyakitnya sedang kambuh.

Kyungsoo menutup bukunya cepat dan melemparnya keatas meja.Ia lantas menarik pundak Naeri, membuat tubuh gadis itu jatuh terlentang diatas pangkuannya.

“Naeri ya!Kau tidak apa-apa?!”Kyungsoo menggoyang-goyangkan pundak Naeri, membuat batuk gadis itu semakin kencang.Ia segera membelalak panik begitu sadar kalau usahanya malah semakin memperburuk keadaan gadis itu.

“Uhuk!Uhuk!”Naeri tak menjawab pertanyaan Kyungsoo.Tangannya terlalu sibuk menepuk-nepuk dadanya.

“Kyuung.. Mi..num.. Uhuk.. Uhuk..” Naeri mengisyaratkan segelas air dengan kepalan tangannya. Kyungsoo mengangguk dan bergegas kedapur untuk mengambilkan gadis itu segelas air.

Batuk Naeri semakin menjadi-jadi. Bahkan ia sampai bangun dari tempatnya dan membungkuk menepuk-nepuk dadanya. Kyungsoo menuangkan sebotol air dengan terburu-buru, ia semakin panik tatkala Naeri mengeluarkan suara-suara orang yang mual.

“Igeon!” Kyungsoo segera menyodorkan segelas air ke tangan Naeri. Gadis itu menaruh sketchbooknya diatas pangkuannya lalu menerima air dari tangan Kyungsoo dan segera menenggaknya.Setengah gelas telah habis, namun Naeri masih tetap batuk.

“Astaga, hanya tersendak saja kenapa batuknya berlebihan seperti ini?!” Naeri mengernyit kesal, namun dimata Kyungsoo, wajah Naeri yang mengernyit malah terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit.

Kyungsoo mendesah tak sabar, melihat Naeri yang tersiksa membuatnya semakin panik tak karuan.ia segera mengambil sketchbook dari pangkuan Naeri dan melemparnya sembarangan. Tak sedikitpun menyadari ekspresi menyeramkan di wajah Naeri saat ia dengan santainya melempar buku itu.

Bruk!

Naeri merasakan tubuhnya serasa melayang saat itu juga. Bukan saja terlempar, namun sketchbooknya juga berhasil mengenai gelas yang masih berisi air minumnya tadi, ‘Mengenai’ mungkin bukan kata yang cukup tepat, karena yang ia lihat beberapa detik kemudian, sketchbooknya telah tergenang air. Batuk Naeri semakin menjadi-jadi, membuatnya kembali menepuk-nepuk dadanya sendiri.

“Mati sajalah..” Seolah mati adalah hal yang ringan dan dapat dilakukan berkali-kali, Naeri dengan mudahnya meminta dirinya untuk mati saat ini juga.Jika benar Tuhan mengabulkan, maka semakin lengkap sudahlah penderitaannya.

“Ayo kita kerumah sakit sekarang!”

Ingin rasanya Naeri melempar Kyungsoo jauh-jauh saat ini juga. Berharap setelah itu, Kyungsoo sadar dengan apa yang diperbuatnya dan tidak berlaku semena-mena lagi terhadap buku sketsanya. Ia memelototkan matanya tepat didepan wajah Kyungsoo. Namun sialnya, laki-laki itu tidak mengindahkan tatapannya sama sekali, ia malah menarik lengan Naeri kepundaknya dan mencoba mengangkatnya.

Naeri menggeleng.Hanya itu yang bisa dilakukannya agar Kyungsoo segera menurunkannya saat ini juga.Ia mencoba memberikan kode pada Kyungsoo dengan menunjuk-nunjuk pada buku sketsanya. Sadarlah Kyungsoo!

“Iya iya! Gambarmu bagus! Nanti aku belikan kau bunga juga!”Naeri merasakan tubuhnya lemas saat ini juga. Entah bodoh atau memang benar-benar panik,  Kyungsoo sama sekali tidak peka lagi terhadap tatapannya saat ini. Naeri mengerang menahan batuknya dan kembali menunjuk-nunjuk buku sketsanya, membuat tubuhnya yang hampir terangkat kembali diturunkan lagi oleh Kyungsoo.

“Iya iya! Nanti aku lihat gambarmu! Tidak sekarang!”Naeri menggeleng semakin kuat, kali ini disertai dengan jeritan yang tertahan dan mata yang melotot.

“nng!! Nngg!!! (baca : Kau bodoh! Kau bodoh Kyuung!)”

Naeri mendorong Kyungsoo dengan sedikit tenanganya, membuat laki-laki itu terhuyung kebelakang dan jatuh bersandar pada pegangan sofa.Ia cepat-cepat berlari kedapur dan mencari sebotol air.

“Uhuk!Uhuk!”

Sebotol air dimeja makan, ia segera meraih botol itu dan menenggaknya. Tak peduli seberapa besar botol yang dipegangnya kini.Ia hanya mencoba bertahan hidup—setelah menyadari kalau umurnya baru 23 tahun dan belum menikah—dan setelah itu, ia juga akan segera menyelamatkan sketchbooknya.

“Ingin mati rasanya…” ucapnya sambil mengusap-usap pelan dadanya. Hanya beberapa detik dan ia segera memutar kepalanya mencari selembar kain, tisu atau semacamnya yang mampu mengeringkan sketchbooknya secepat mungkin. Walaupun kemungkinan untuk tetap ‘baik-baik saja’ sangatlah kecil, setidaknya itu lebih baik ketimbang ia harus melihat sketchbooknya lebur menjadi bubur kertas.

“Nah!”

Naeri segera menarik selembar kain yang menggantung di pojok dapur dan melesat kembali ke ruang tamu.Ia mendesah pelan begitu melihat wajah panik—mata bulat dengan alis lurus—Kyungsoo lagi.

“K-kau..tidak apa-apa?” tanya Kyungsoo begitu Naeri duduk disampingnya. Gadis itu tidak menjawab.Dilihatnya selembar kain ditangan Naeri. Kyungsoo mengernyit tak paham, namun ketika ia melihat Naeri mengambil sketchbooknya dimeja dengan genangan air disekitar sana, Kyungsoo mendadak tercekat.

“N-naeri..”

Naeri tidak menjawab.Ia masih sibuk mengelap sketchbooknya yang basah. Setetes air mata terlihat mengalir dipipinya, membuat Kyungsoo semakin merasa sangat bersalah.

“Naeri.. Maafkan aku..”

“Kenapa tidak kering juga…” Naeri mendesah lemah tanpa menghiraukan permintaan maaf Kyungsoo.Ia kembali mengelap sketchbooknya dengan hati-hati.

Hampir 10 menit Naeri meniup dan mengibas-ngibaskan tangannya, berusaha agar sketchbooknya cepat kering dan kembali seperti semula.Namun usahanya sia-sia.Sketchbooknya masih basah dan pinggir kertasnya juga telah mengeriting.

Kyungsoo memperhatikan apa yang Naeri lakukan sedari tadi tanpa berniat sedikitpun untuk mengusiknya. Melihatnya dengan buliran-buliran air mata dipipinya saja sudah cukup membuatnya merasa seperti seorang penjahat.

Naeri melempar kain ditangannya kesal dan menaruh sketchbooknya kembali keatas meja.Ia menaikkan kedua kakinya kesofa dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Isakan tangisnya mulai terdengar.

Kyungsoo masih terdiam ditempatnya. Permintaan maaf tak akan cukup untuk membuat tangis gadis itu mereda. Setelah terdiam beberapa saat, Kyungsoo mendekatkan dirinya pada Naeri. Dengan sangat hati-hati, ia meraih tangan Naeri yang melingkar dikedua lututnya dan membawanya untuk memeluk tubuhnya.

Tidak ada penolakan selama Kyungsoo mencoba membawa tubuh Naeri kedalam pelukannya. Merasa diperbolehkan, ia mengangkat sebelah tangannya dan mengelus lembut puncak kepala gadis itu, berharap tangisnya akan segera mereda.

Naeri merasakan kehangatan menjalar diseluruh tubuhnya.Terlebih saat tangan besar Kyungsoo dengan sangat hati-hati mengelus lembut rambutnya, seolah tiap helaian rambutnya adalah benda yang rapuh.Perlahan isakan tangisnya mereda.Ia memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan lembut tangan Kyungsoo dikepalanya. Sesaat ia melupakan masalah sketchbooknya.

“Mianhae..”

Naeri menghela nafas, mencoba memaafkan Kyungsoo.Ia sadar, laki-laki itu pasti tidak bermaksud untuk menghancurkan sketchbooknya. Kyungsoo hanya panik, dan paniknya lah yang menyebabkan ia melempar sketchbook Naeri tanpa sadar.

“Hm..” Jawab Naeri sambil mengangguk kecil, ia sudah merasa terlalu nyaman hingga malas untuk berbicara.

Kyungsoo melepas pelukannya, dan menatap Naeri.Tak ada lagi raut pilu disana, hanya seukir senyum tipis yang kini menghiasi wajah gadis itu—walaupun dengan mata yang masih sembab.Kyungsoo mendekap wajah Naeri dengan kedua tangannya, membiarkan kedua mata mereka bertemu untuk beberapa saat.Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Kyungsoo mengelus lembut permukaan pipi Naeri dengan ibu jarinya.

Ia merasakan sensasi aneh saat permukaan kulitnya dan permukaan kulit Naeri menyatu. Ada getaran kecil dihatinya dan degupan-degupan menyenangkan yang membuat bibirnya selalu ingin tersenyum.Kyungsoo menyukainya.

Mata yang sembab dan hidung yang memerah, selalu tampak lucu dimata Kyungsoo.Ia menjepit hidung Naeri dengan kedua jarinya, membuat gadis itu segera menjerit sakit. Ia terkekeh pelan begitu melihat wajah merengut Naeri dan bibir mengerucutnya. “Manisnya.”

Sementara gadis itu masih mengusap-usap hidungnya yang memerah, mata Kyungsoo tak sengaja tertuju pada sketchbook Naeri yang tergeletak dimeja.Kyungsoo merasa penasaran.Ia lantas mengambil sketchbook Naeri dan membukanya.

Selama beberapa saat, Naeri tidak menyadari apa yang Kyungsoo lakukan, ia masih sibuk mengurusi mata sembab dan hidung merahnya. Namun begitu ia melihat meja dihadapannya kosong, Naeri  segera menoleh cepat kearah Kyungsoo.

“Ya! Jangan dilihat! Itu belum selesai!” Naeri  segera merampas sketchbooknya dari tangan Kyungsoo.

“Kau yang berambut sebahu itu kan? Lalu kenapa aku memberikan bunga pada gadis berambut panjang itu?”

Terlambat. Kyungsoo sudah tahu apa yang digambarnya tadi.

“Itu.. Itu belum selesai..”

“Siapa gadis berambut panjang itu?”

Aish.. Kenapa bisa-bisanya aku menggambar wanita itu sih..

“itu hanya.. Bukan siapa-siapa..” jawab Naeri tergagap.

“Naeri… Jawab aku…”

Tak ada nada yang mengintimidasi, hanya suara pelan dengan nada yang terdengar lembut, namun itu berhasil membuat Naeri akhirnya menjawab pertanyaan Kyungsoo.

“Itu… Ji Eun..”

“Ji Eun?” Tanya Kyungsoo, memastikan kalau apa yang didengarnya tidak salah.

Naeri mengangguk kecil.

Kyungsoo menghela nafas lalu menatap lurus lantai apartemennya.Ia fikir, Naeri akan lupa dengan nama itu. Sebelumnya ia memang ingin mengatakan kalau masalah ia dan Jieun akan menikah adalah kebohongannya belaka. Hanya saja Naeri tidak pernah menanyakan hal itu padanya. Dan lagipula, ia sendiri masih belum siap untuk mengungkapkannya. Ia hanya tak ingin Naeri kembali mengingat hal yang pernah membuatnya hampir mati.

Kyungsoo ingat, saat ia mengatakan pada Naeri tentang semua ucapan ‘sok tegar’nya ditelfon, ia sama sekali belum berfikir panjang dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlebih saat itu ia belum tahu tentang perasaan Naeri padanya. Ia hanya berfikir bagaimana caranya agar ia bisa melupakan Naeri untuk selamanya.Dan satu-satunya cara yang ia ‘temukan’ saat itu adalah dengan mengatakan kalau ia tak akan kembali ke Seoul dan ia akan menikah dengan Jieun. Jika saja ia tahu tentang perasaan Naeri padanya, maka kalimat-kalimat bodohnya saat itu, tak akan pernah terucap.

Untuk saat ini, Kyungsoo ingin Naeri lupa ingatan.

“Tiba-tiba saja aku mengingat nama itu..Bukankah kau ingin menikahinya?”

Sayangnya, ingatan seseorang tidak akan hilang hanya dengan sebuah harapan bodoh, kecuali jika ia berharap Naeri tertimpa benda keras dan membuat gadis itu benar-benar hilang ingatan. Tidak. Kyungsoo tidak akan pernah berharap seperti itu. Cukup kata ‘bodoh’ dan ia tak ingin kata ‘amat sangat bodoh’ menjadi panggilan yang tepat untuknya.

“Itu… Tidak, aku tidak ingin menikahinya.Siapa yang mengatakannya?”

‘Ugh, sekali lagi kau berbuat bodoh Kyungsoo. Untuk apa kau bertanya lagi? Ingin mengelak?Tentu saja itu kau bodoh!’ Kyungsoo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.Apa yang diucapkannya berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Kyungsoo merasa jaringan antara mulut dan otaknya tidak tersambung dengan tepat. Mungkin ia butuh tukang service setelah ini.

“Kau yang mengatakannya kan?  Kau lupa?”

Ah tidak, bagaimana kalau ia yang tertimpa benda keras itu sekarang? Dengan begitu, ia akan dengan mudahnya mengiyakan pertanyaan terakhir Naeri.

“Oh ya? Aku lupa..” Kyungsoo menaikkan sebelah alis dan kedua bola matanya. Entah berfikir, atau karena ia ingin menghindari tatapan intimidasi Naeri.

“Lupa ya… Aneh sekali, kenapa aku mengingatnya…”

Kyungsoo menaikkan kedua bahunya,“Entahlah… Mungkin itu hanya mimpimu saja.”Ia sedikit lega karena pada akhirnya Naeri tidak memperpanjang masalah itu.

“Tapi kenapa Suho oppa juga tahu…”

Kyungsoo mendadak tertohok. Ya, ia ingat siapa Suho. Ia tidak mungkin lupa pada laki-laki dengan senyum malaikat dan kemampuan membaca pikirannya. Ngomong-ngomong, Naeri belum menjelaskan padanya siapa itu Suho oppa.  Kyungsoo tersenyum senang, ‘setidaknya aku bisa mengulur jawaban.’

“Suho oppa? Hey, kau belum menceritakan padaku siapa itu Suho oppa! Aish, kenapa harus dengan embel-embel ‘oppa’?Kau bahkan tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu!”

Naeri tersentak kaget, namun ia segera tersenyum senang begitu tahu Kyungsoo juga ingin dipanggil oppa olehnya.

“Kau pasti tidak percaya. Dia itu…

Malaikat..”

Naeri setengah berbisik pada kalimat terakhirnya, membuat Kyungsoo membelalakkan matanya tak percaya.

“Kau pasti pernah bertanya-tanya, kenapa ia bisa tahu apa yang sedang kau fikirkan saat itu, iya kan?”

Entah kenapa tiba-tiba saja Kyungsoo merasakan bulu kuduknya berdiri. Walaupun ini siang hari dan gadis yang baru saja bertanya tadi sama sekali tidak memiliki wajah yang menakutkan, Kyungsoo merasakan tubuhnya merinding. Apalagi saat ia terakhir kali melihat Suho yang tiba-tiba saja menghilang seperti asap. Mungkin ia pernah mengaku kalau ia tidak takut pada apapun tentang hantu, tapi sayangnya apa yang diceritakan Naeri bukan hantu, tapi malaikat. Dan siapapun juga tahu, malaikat bukan makhluk yang menyeramkan—kecuali jika kalian melihatnya dalam dimensi lain dan bukan dengan rupa yang bersayap bersama cahaya terangnya. Buktinya saja, malaikat yang baru saja diceritakan Naeri memiliki wajah tampan dan senyum yang menawan.

Kyungsoo mengangguk pelan.“Lalu, kenapa kau bisa mengenalnya?”

“Entahlah..Mungkin Tuhan memang sengaja mengirimkannya untukku.”Naeri menaikkan kedua bahunya.

“Kau tidak takut?Maksudku, kalau saja ia mencabut nyawamu tiba-tiba, kau siap?” Kyungsoo mengubah pertanyaannya, ia takut kalau Naeri menyadari sikapnya yang berubah menegang.

“Hahaha.. Kau fikir ia malaikat pencabut nyawa? Dia tampan Kyungsoo..Dan kurasa, jika ia diberikan jabatan sebagai malaikat pencabut nyawa, itu tidak akan cocok.”

Kyungsoo memicingkan matanya, “Jadi dia tampan?Lalu aku?”

Naeri segera menghela nafasnya bosan, “Kyungsoo ya..Haruskah aku mengatakannya setiap hari?Kau tidak mual?Oh, atau mungkin hanya aku yang mual?”

Satu jitakan tepat dikepala Naeri.Membuat gadis itu segera meringis kesakitan.“YA! Appoyo..”

Kyungsoo mengalihkan pandangannya, tak peduli pada wajah Naeri yang kini merengut kesal.

“Ah, dwaesseo.. (sudahlah)” Kyungsoo mengibaskan tangannya. Ia tidak ingin memperpanjang pertanyaannya tentang siapa Suho. Ia takut jika Suho datang padanya kalau saja ia tiba-tiba mengingat nama laki-laki itu dimalam hari. Suho selalu tahu apa yang difikirkan manusia kan? Jadi Kyungsoo berusaha untuk tidak berfikir apapun tentang Suho lagi.

Mata Kyungsoo tak sengaja tertuju pada sketchbook ditangan Naeri lagi.Ia segera mengalihkan pandangannya dengan berpura-pura membaca buku lagi. Ia takut Naeri mengingat lagi apa yang ditanyakan padanya tadi, tentang Jieun. Namun sayangnya, Naeri menyadari gerak-gerik mencurigakan Kyungsoo.

“Aku tahu, kau bohong kan?” Ide jahil tiba-tiba saja terlintas dibenaknya.Ia melirik pada Kyungsoo dan tersenyum penuh kemenangan.

“Soal Jieun. Kau bohong kan?” Ulang Naeri lagi, memperjelas maksud tuduhannya.Tubuh Kyungsoo sontak membeku.Naeri melirik lagi dan mendapati wajah pucat dan tubuh kaku Kyungsoo. Jika saja ia sedang dalam take film, mungkin ia akan tertawa dan membuat NG atas aktingnya. Sayangnya ia tidak sedang dalam take, dan jika di ibaratkan dengan sebuah perfilman, maka saat ini ia sedang dalam acara live show. Dan aktingnya harus benar-benar sempurna.

“…Tidak.” Jawab Kyungsoo terbata.

Naeri mengangguk-angguk angkuh, “Hmm.. Begitu ya..Kalau aku bilang, Suho oppa yang mengatakannya, eotte?”

Jantung Kyungsoo serasa mencelos.Ia tidak bisa mengelak lagi jika sudah mendengar kata ‘Suho oppa yang mengatakannya’, karena gadis itu baru saja membeberkan siapa Suho sebenarnya. ‘Hhh..seharusnya tadi aku tidak bertanya tentang Suho..’

Kyungsoo terdiam beberapa saat.sampai akhirnya ia berbicara dengan sangat hati-hati.

“Yah baiklah… Aku memang pernah mengatakannya.Kufikir kau pun tahu alasannya kenapa aku berbohong soal menikahi Jieun.Suho oppa mu itu pasti juga sudah menceritakannya.”

Naeri terkekeh pelan saat Kyungsoo tidak melihatnya.Sejujurnya, Suho tidak pernah mengatakan hal itu padanya.Ia memang mengingat ucapan Kyungsoo waktu itu padanya. Mana mungkin ia lupa pada sebuah ucapan yang membuat ia harus merasakan mati saat itu juga.

“Tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu..Sekarang juga. Atau aku akan memanggil Su—”

“Oke.. Oke..Aku akan mengatakannya.” Aish, kenapa harus Suho lagi? Oh astaga, aku seperti laki-laki pengecut yang takut pada seorang malaikat tampan. Ugh, tampan?

“Ayo cepat katakan.”

Kyungsoo menghela nafasnya dalam-dalam. Yah, kalaupun Naeri harus membencinya atau mungkin malah tertawa karena tingkah bodohnya, setidaknya Naeri pernah mengatakan kalau ia mencintainya. Dengan itu, mau tidak mau Naeri pasti tetap akan menganggapnya sebagai kekasih. Kekasih yang memiliki pemikiran yang ‘sedikit’ kekanakan.

“Aku hanya… berusaha melupakanmu.Dan kufikir, dengan mengatakan kalau aku akan menikah dengan Jieun, mungkin akan membuatku sedikit melupakanmu.”

Naeri baru akan membuka mulutnya, namun Kyungsoo kembali berkata lagi.

“Tapi nyatanya, aku tidak bisa melupakanmu…”

Pandangan Kyungsoo menerawang lurus.

“Aku terlalu mencintaimu…” Entah kenapa, Naeri seperti bisa merasakan apa yang tengah Kyungsoo rasakan saat ini. Rasa rindu yang malah terasa menyakitkan. Inikah yang Kyungsoo rasakan saat itu?

“Kau ingat dengan pertemuan kita ditaman waktu itu?”

Kyungsoo menoleh, membuat Naeri sedikit tersentak. Kemudian ia mengangguk pelan.

“Entah kenapa hari itu aku ingin sekali berjalan-jalan ditaman.Entah merindukanmu, atau karena aku ingin mengingat masa kecil kita.Yang pasti, aku merasa harus datang ke taman hari itu juga.”

Tanpa sadar Naeri mengangkat kakinya ke sofa dan duduk bersila.Ia siap mendengar semua cerita Kyungsoo tentang masa lalunya.

“Saat aku melangkahkan kaki keluar rumah, aku meminta sesuatu pada Tuhan.”

Naeri memajukan tubuhnya, ingin tahu.“Mungkin saat itu kau hanya berfikir kalau kita dipertemukan atas dasar ‘kebetulan’ semata.Iya kan?”Naeri mengangguk lagi.

“Dulu mungkin kita berfikir, di dunia ini ‘kebetulan’ adalah hal yang biasa dan tidak dapat dipercayai sepenuhnya.Aku pun juga pernah berfikir seperti itu.”

“Namun ketika kita dipertemukan kembali dalam satu sekolah setelah 10 tahun lamanya, aku tidak lagi berfikir kalau itu hanyalah ‘kebetulan’.Terlebih saat kita ternyata semakin didekatkan dalam satu kelas.”

“Dan entah kenapa saat itu aku merasa perlu meyakinkan diri, kalau itu bukanlah ‘kebetulan’ semata.Maka saat aku melangkahkan kakiku keluar rumah, aku meminta sesuatu pada Tuhan.”

Kyungsoo terdiam.Ia menghela nafasnya, dan kembali berbicara.

“Tuhan.. Jika memang Hwang Naeri adalah takdirku..Maka, pertemukanlah aku padanya hari ini.”

Naeri meluruskan tubuhnya yang sedari tadi membungkuk.

“Kau pasti tahu jawabannya..”Kyungsoo tersenyum penuh teka-teki.

“Awalnya aku tidak percaya dengan kenyataan itu. Karena yang aku tahu, kau sama sekali tidak mencintaiku..”

Kyungsoo menatap lurus keluar jendela. Mengungkapkan satu masalah, sama saja ia mengungkapkan seluruh kebodohannya.

“Lalu.. Aku meminta lagi pada Tuhan..”

Kyungsoo menghela nafasnya panjang. Sementara Naeri, masih terdiam ditempatnya, mendengarkan semua yang Kyungsoo katakan.

“Tuhan… Jika Hwang Naeri adalah takdirku… Maka aku ingin ia mengalami kecelakaan.”

Naeri mendadak tercekat. “Kyungsoo.. Kau..”

“Entah apa yang membuatku dengan bodohnya meminta hal itu pada Tuhan.Namun aku perlu memastikannya sekali lagi. Dan tidak tanggung-tanggung, aku meminta pada Tuhan agar kau mengalami kecelakaan..”

Kyungsoo terdiam beberapa saat, mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menjalar.

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku meminta hal itu pada Tuhan.”

Kyungsoo menunduk dan tersenyum kecut.“Jika semua itu hanyalah ‘kebetulan’, maka aku akan menemukanmu dalam keadaan baik-baik saja.Setidaknya, aku tidak mengalami rasa sakit 2 kali karena pada kenyataannya kau bukan takdirku.Namun jika ternyata kau memang adalah takdirku… aku telah siap untuk menyelamatkanmu.Walaupun pada akhirnya, aku harus merasakan sakit, tapi setidaknya aku tahu… kalau kau adalah takdirku.Dan aku yakin, jika itu takdir maka bukankah seharusnya kita pasti dipersatukan?”

Naeri menunduk, ia menerima alasan Kyungsoo.

“Lalu seperti janjiku untuk menyelamatkanmu tadi, aku mengikutimu…”

“Antara rasa ingin dan tidak terus berkecamuk dalam pikiranku.Membuatku akhirnya pasrah dan tidak berharap lagi kalau kau adalah takdirku lagi. Namun tepat beberapa detik setelah aku memutuskan untuk tidak berharap lagi, semua itu… justru terjadi..”

Naeri merasakan tubuhnya melemas.Semua kejadian itu seolah diputar kembali, seolah video kuno yang telah lama terkubur.

“Walaupun aku merasakan rasa sakit disekujur tubuhku, namun semua itu hanya sesaat.Tergantikan oleh rasa yang amat bahagia, karena setelah itu aku yakin… kau memang benar takdirku.”

Naeri ingat saat Kyungsoo tersenyum disela lenguhan sakitnya. Senyum yang ia tak ingin lihat saat itu juga.

Setetes air mata mengalir dipipi Naeri. Ia terisak.

Kyungsoo menoleh menatap wajah Naeri yang memerah dan air mata yang deras dipipinya.Ia tersentak begitu Naeri tiba-tiba saja memeluknya.

“Kyungsooo…” Rengek Naeri.

Kyungsoo tersenyum tipis.Lagi-lagi Naeri merasakan jari jemari Kyungsoo yang menyisir lembut rambutnya.

“Hey..Kenapa kau menangis?Aktingku terlalu bagus ya?”

Naeri segera menghentikan tangisnya dan membulatkan mata. “Akting?”

“YAK JINJJA!!”

TAK!

 

Grep (Author kehabisan kata-kata)

Sebelum jitakan selanjutnya mendarat dikepalanya, Kyungsoo segera menarik tubuh Naeri kedalam pelukannya dan mengunci tangan Naeri dengan memeluknya erat.

“Kau fikir aku pembuat scenario yang hebat?”

Kyungsoo terkekeh pelan. Lalu ia menghela nafas.

“Kau takdirku… Jangan mengelak! atau aku akan meminta pada Tuhan untuk…”

“Jangan meminta yang macam-macam!”

Kyungsoo tersenyum kecil.Ia melepaskan pelukannya lantas mencium kening Naeri lembut.

“Menikahkanku denganmu…”

END

Aaah, leganyaaaa…

Setelah 1 minggu begadang, 5 kali diare hebat, 7 hari ngga makan, dan berhari-hari nge-gembel.

Oke yang tadi itu bo’ong.

Mohon maklum kalau banyak kalimat yang berantakan, ngga nyambung, gaje, gembel, gatot, abal dan temen2nya dalam ff ini.

Berikan aku komentar dan saran kalian! Thank You! ^^

Iklan

18 pemikiran pada “One Person (Epilog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s