XOXO (Kiss and Hug) The Series (Lucky-Baekhyun ver)

PhotoGrid_1381153088620

XOXO (Kiss and Hug) The Series (Lucky-Baekhyun ver)

Author: Laelynu66

Main Cast: Byun Baekhyun, Minhye (oc)

Support Cast: ALl member EXO

Genre: Sad (?), friendship

Rating: PG-15

Author Note: eheeem, hello there! Author ini kembali dengan series yang lain. Oh, iya saran author sihh sebaiknya baca series yang lain juga, pasalnya (ciyye bahasanya) setiap series saling berkesinambungan. Oke, enjoy it… XOXO.

 

 

 

Polarlight noona. Dua kata yang dibahas di salah satu blog fans kami. Salah satu fansite terbesar yang didedikasikan untukku. Siapa dia kurasa tidak ada yang tau. Tapi kurasa dia memang selalu ada kapanpun dan di manapun kami tampil dengan membawa kameranya dan hanya mengambil gambar yang terfokus pada diriku saja. Aku juga melihat beberapa gambar yang dihasilkan olehnya, dan ada beberapa close up diriku yang tepat menatap padanya. Sebenarnya bukan beberapa tapi cukup banyak, entahlah aku juga tidak sadar saat itu terjadi. Dalam hati aku memutuskan untuk mencari sosoknya nanti.

“yoo, Baekhyun yoo!” panggil Chanyeol dengan gaya rapnya. Dengan segera kututup layar  laptop di hadapanku lalu berbalik ke arahnya.

“waeyo?” tanyaku padanya lalu bangkit berdiri dari dudukku.

“apa yang kau lakukan di kamar sendiri?” Tanyanya lalu melangkah masuk kamarku. Aku menggeleng. Lalu dengan cepat menggiringnya keluar dari kamarku menuju ruang makan tempat paling favorit kami di dorm.

Aku tidak tau hari ini Kyungsoo memasak apa, tapi sepertinya aromanya begitu memanjakkan hidungku. Semua member berada di sini dengan kesibukan mereka masing-masing.  Kutarik kursi lalu duduk tepat di samping Jongdae yang sibuk melahap makanan ringan di hadapannya.

“istirahatlah yang cukup, kita akan tampil malam ini!” seru Suho hyung lalu bangkit dari kursi kebesaranya diikuti beberapa member. Aku memilih duduk diam, kulirik Jongin, Sehun dan Tao yang sibuk berbisik-bisik di hadapanku. Entah apa yang terjadi dengan mereka akhir-akhir ini mereka tampak akrab walaupun itu wajar, tapi mereka benar-benar terlihat sangat akrab. Mengertikan maksudku? Ah, sudahlah! Lupakan! Aku menatap ketiganya dengan seksama, Tao melirik sekilas diikut Sehun Jongin.

“Apa hyung?” Seru Sehun.

Aku menggeleng “aniya” dan memilih mengalihkan pandanganku pada dispenser di belakang mereka. Polarlight Noona. Akkhhhh!!! Aku meremas rambutku dengan kesal.

“apa yang terjadi padamu? Kau lain dari biasanya!” derp voice Chanyeol terdengar tepat di telingku. Aku terlonjak kaget dan melotot ke arahnya. Chanyeol tampak cuek dan menyangga kepalanya di meja menatapku dengan tatapan ingin taunya.

“aniya!” jawabku cepat lalu mengalihkan pandanganku darinya.

“jangan membohongiku Baekhyun-ah!” bisiknya. Dengan cepat aku bangkit lalu meninggalkannya begitu saja. Rasa lapar di perutku menghilanh entah ke mana. Aku juga tidak yakin dengan apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Setelah membaca postingan polarlight noona itu benar-benar membuatku penasaran.

***

Kutatap diriku di cermin, wajahku tidak jauh berbeda sebelum dan sesudah di make up yang sedikit berbeda hanya pada mataku dengan sapuan eyeliner untuk mempertegas mataku. Dari cermin aku bisa melihat kebiasaan-kebiasaan aneh yang dilakukan member lain sebelum tampil. Baiklah jika malam ini kami kembali menang ini yang kesebelas kalinya kurasa.

Sesaat sebelum tampil Suho hyung biasanya mengumpulkan kami dan membuat lingkaran lalu berdoa bersama berharap kami bisa memberikan yang terbaik bagi para fans kami. Kuhembuskan nafasku dengan sekali hentakan saat tiba giliran kami tampil.

Awalnya seperti biasa, aku bernyanyi dan menari sesuai apa yang menjadi bagianku, tapi semuanya tampak buyar saat tatapan mataku menangkap seorang yeoja dengan kamera SLR di tangannya mengambil beberapa gambar kami, tidak fokusnya hanya tertuju padaku. Aku terus menatapnya. Suho hyung dengan terang-terangan memelotot ke arahku saat aku salah dalam gerakan. Dan saat aku kembali mencari sosoknya, dia menghilang. Aku tidak bisa menemukannya lagi.

***

Waktu menunjukkan pukul sebelas saat kami baru saja selesai tampil. Tidak kuhiraukan Suho hyung yang nyaris membentakku. Dengan tergesa-gesa aku keluar meninggalkan backstage, tidak juga kuhiraukan tatapan heran dari para member  jika aku beruntung mungkin aku masih bisa menemukannya.

Nyaris frustasi karena aku sama sekali tidak melihatnya. Saat akan berbalik tanpa sengaja aku menyenggol bahu seseorang hingga terjatuh di hadapanku. Kuulurkan tanganku ingin membantunya dan saat kepala itu mendongak aku terkejut. Dia, dia polarlight noonaku. Matanya membulat sempurna begitu melihatku, lalu dengan cepat dia bangkit lalu berlari meninggalkanku. Apa dia tidak mengenaliku? Saat akan melangkahkan kakiku ingin mengejarnya tanpa sengaja mataku menangkap sebuah benda kecil yang nyaris terinjak olehku di lantai, aku membungkuk dan memungutnya. Instingku mengatakan ini miliknya, tapi saat aku mendongak aku sudah tidak melihatnya lagi.

***

Ini flashdisk kan? Aku menatap benda kecil di tanganku itu. Aku menatapnya dengan seksama, berada pada situasi di mana aku sangat penasaran ingin tau apa isinya dan perasaan tidak enak pada si pemilik ini. Ahh, sudahlah. Dengan mengindahkan perasaan tidak enakku, aku menyambungkan benda itu dengan laptopku. Saat membukanya hanya ada sebuah folder dengan nama, namaku sendiri. Lalu aku mengklik folder itu munculah begitu banyak folder dengan namaku dan nama tempat yang pernah kami kunjungi. Dengan tidak menghiraukan rasa tidak enakku pada si pemilik, aku mencoba membuka satu folder, dan betapa terkejutnya aku. Folder itu berisi fotoku saat berada di bandara Incheon setahun lalu saat kami baru saja kembali dari promosi di Cina.

“apa yang kau lihat?” aku terlonjak kaget saat derp voice Chanyeol terdengar di telingaku. Dengan cepat aku menutup layar laptopku tapi terlambat karena gerakanku dengan cepat dipatahkan Chanyeol dengan mudahnya dapat kulihat kerutan di wajah Chanyeol begitu melihat isi dari benda kecil itu.

“apa ini?” tanyanya tanpa menoleh padaku. Aku menggeleng.

“dari mana kau menemukan ini?’ tanyanya lagi tanpa melepas fokusnya pada layar laptopku. Aku menggeleng lagi.

“ini gila, Baekhyun ahh! Orang yang melakukan ini penggemar beratmu kurasa, dia memiliki fotomu di semua tempat yang kau kunjungi!” seru Chanyeol bersemangat. “dari mana kau menemukan ini?” tambahnya lalu kembali pada fokus menatap layar laptopku.

“aku menemukanya terjatuh!” jawabku singkat, Chanyeol menghentikan kegitannya  lalu kembali fokus padaku.

“aiishhhh, sebenarnya..” cerita tentang polarlight noona yang kuketahui mengalir begitu saja. Chanyeol menyimak dengan seksama. Tapi sesekali diliriknya kembali layar laptopku.

“bukankah ini seperti psikopat yang terus mengkutiku?” tanyaku di akhir cerita.

“kau takut?” Chanyeol balik bertanya.

“entahlah”

“tapi kurasa kau harus menemuinya, Baekhyun-ahh!” ujar Chanyeol.

“untuk apa?”

“meminta penjelasan darinya, bodoh!! Serunya gemas lalu memukul kepalaku.

“Penjelasan apa? Ini hanya bukti bahwa dia benar-benar penggemarku!!” Sahutku ketus.

“Kau tidak tau betapa mengerikannya sasaeng fans akhir-akhir ini” Chanyeol berkata dengan mimil serius.

“Yah, bagaimana jika dia sasaeng fans? Kau akan menyesal seumur hidupmu menyeruhku menemuinya!”

“Babooo!!!” Seru Chanyeol dan kembali memukul kepalaku.

“aisshh, aku lebih tua daripadamu! Sopan lah!” aku berteriak tepat di wajahnya.

“kajja!” tanpa menghiraukan protesku Chanyeol menarikku keluar kamar dengan paksa.

***

Suara tepuk tangan meriah, teriakan penonton dan pidato terima kasih dari Suho hyung, ya, kami menang kembali untuk kedua belas kalinya. Tapi semua itu hanya terdengar samar-samar di telingaku. Kusapukan seluruh pandanganku pada kursi penonton, dia tidak ada. Dia tidak di sini untuk memotretku. Saat kami tampil tadipun mataku sama sekali tidak menemukan sosoknya. Aku menoleh saat sebuah tangan besar melingkar di pundakku, Chanyeol.

“baekhyun-ahh, kita menang lagi! Kenapa wajahmu murung begitu?” bisiknya di telingaku. Kutatap wajahnya, dan aku sedikit terkejut saat tau bukan hanya Chanyeol yang memandangku heran tapi juga Jongdae dan Kyungsoo.

“dia tidak ada!”  Kataku pelan.

“dia siapa?” Chanyeol kembali berbisik. Aku tidak menjawabnya, aku hanya kembali mengedarkan pandanganku ke arah kursi penonton di hadapanku yang di penuhi potongan-potongan pita warna-warni. Kuhembuskan nafasku berat dan tersenyum saat Tao menyerahkan piala kemenangan padaku.

***

Lelah, itu yang kurasakan dan para member saat kami berjalan memasuki lobby dorm kami. Ku llihat seorang penjaga mendekati Suho hyung dan berbisik mengatakan sesuatu padanya. Aku tidak peduli apa yang terjadi dan saat aku akan melangkahkan kakiku memasuki lift Suho hyung menahanku, menarikku menjauh dari member lain yang menatap kami heran.

“waeyo hyung?” tanyaku malas.

“seseorang ingin bertemu denganmu! Katanya ini sangat penting!” jawab Suho hyung dan terus saja menarikku menuju ruang tunggu di loby.

“kau yakin bukan sasaeng fans?” tanyaku lagi.

“tentu saja!” jawab Suho hyung mantap.

Sesampainya di ruang tunggu, Suho hyung menatap ke segala penjuru dan menyeretku kesebuah meja dengan 2 orang, laki-laki dan perempuan paruh baya, sepertinya mereka sepasang suami istri. Dan saat melihat kami mereka berdiri refleks aku dan Suho hyung membungkuk hormat.

“aku dengar anda ingin bertemu Byun Baekhyun?” Tanya Suho hyung ramah. Kedua orang itu tersenyum pada Suho hyung lalu menatapku.

“yeobo! Benar dia orangnya!” ucap wanita paruh baya itu dan mencengkram tangan suaminya. Aku mengerutkan keningku. “ada apa?” tanyaku pada akhirnya.

“silahkan duduk!” tawar sang suami pada kami. Suho hyung duduk dan aku mengikutinya.

“jika aku mengatakannya sekarang aku yakin kau tidak akan percaya, tapi bisakah kau ikut dengan kami?” ujar sang suami dengan wajah serius. Suho hyung manatapnya dengan serius pula. Aku terdiam tidak mengerti apapun yang dikatakannya. Aku mencoba mencernanya dengan otakku, tapi tetap saja, rasa lelah sudah mendominasiku.

“anak kami.. anak kami Minhye..” sang istri tidak sanggup melanjutkan perkataanya. Isakan kecilnya mulai terdengar. Sang suami menarik nafasnya dalam, lalu membungkuk mengambil sebuah ransel di bawah meja dan meletakkanya di meja, perlahan di keluarkannya sesuatu dari ransel yang sontak membuat mataku membelalak melihatnya.

“ini milik Minhye!” ucap sang suami dengan nada sedih begitu dalam.

“di mana dia sekarang?” tanyaku lalu bangkit berdiri menatap sekelilingku.

“minhye, dia.. dia..” ucap sang istri terbata di antara isak tangisnya.

“jadi namanya Minhye?” tanyaku dan kembali duduk. Kuulurkan tanganku mengusap kamera SLR yang tergeletak di hadapanku.

“kau mengenalnya Baekhyun-ahh?” Tanya Suho hyung pelan. Aku menoleh padanya.

“aku tidak mengenalnya hyung, tapi aku tau!” jawabku lirih.

“dan ini..” sang suami memberiku sebuah album foto bewarna coklat muda dengan hiasan yang dibuat dari tangan di sampulnya. Aku menerimanya meletakkannya di hadapanku dan perlahan membuka sampul yang cantik itu di hadapanku. Pada halaman pertama terdapat deretan kalimat Hangeul yang di tulis tangan dengan rapih. ‘cinta pertamaku, bahagiaku, senyumku, hidupku. Byun Baekhyun..’. airmataku mengalir di pipiku saat aku membacanya entah kenapa aku juga tidak tau. Lembar kedua dipenuhi oleh objek diriku yang tersenyum. Aku terenyak begitupun Suho hyung, sepertinya dia kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata. Aku tidak sanggup dengan pelan aku menutup kembali album itu dan mendorongnya ke hadapan suami istri di hadapanku ini.

“apa yang terjadi padanya?” tanyaku.

“sulit untuk menjelaskannya nak, tapi maukah kau ikut bersama kami?” ucap sang suami dan sang istri menatapku dengan penuh harap dan uraian airmata. Menggenggam tanganku erat seolah ia begitu memohon padaku.

“aku sama sekali tidak mengenal anakmu!” kataku dingin dan menarik tanganku dari genggamannya.

“kami mohon nak, kami yakin dia membutuhkanmu!” seru sang istri terbata. Dan dengan nada yang sangat membuatku goyah. Suho hyung juga menatapku dengan tatapan memohon. Sebenarnya dia berpihak pada siapa?

“hampir seluruh sisa

hidupnya hanya untukmu. Dia tau segala tentangmu, tidak cukupkah itu untuk membuatmu membantu kami?” pinta sang suami dengan nada suara lirih.

“Aku seorang idol, ada ribuan bahkan jutaan orang di luar sana yang aku yakin hampir sama dengan anakmu, tapi maaf aku..”

“Kalau begitu, anggap saja ini sebagai permohonan seorang Ayah untuk anaknya!” Ayah Minhye memotong perkataanku dan menatap dalam mataku. Mata itu tampak lelah dengan sorot kesedihan yang medominasi.

Kuhembuskan nafasku pasrah, kutatap Suho hyung yang seolah menyetujui. Dengan perlahan aku mengangguk menyetujuinya. Kedua orang di hadapanku ini tersenyum dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.

***

Bau laut begitu terasa saat aku menginjakkan kakiku di rumah ini. Beberapa hari yang lalu, setelah ayah dan ibu Minhye menemuiku dan aku setuju untuk ikut dengan mereka untuk menemui Minhye, di sinilah aku. Rumah berlantai dua yang hampir keseluruhannya terbuat dari kayu ini terletak di pinggir laut dengan hamparan pasir putih di kiri dan kanannya.

“minhye suka laut” ujar ibu Minhye saat kami akan berjalan menaiki tangga berbentuk spiral.

Aku berjalan perlahan mengikuti ibu Minhye yang berjalan di hadapanku, beberapa kali memperhatikan figura poto yang terpampang di dinding setiap ruangan yang di penuhi oleh poto-poto Minhye saat kecil, kurasa.

“ini kamar Minhye!”

Aku terdiam menatap pintu kamar yang tertutup di hadapanku ini. perlahan ibu Minhye membuka pintu kamar dan mempersilahkanku masuk. Kamar yang cukup luas dengan nuansa krem. Aku terenyak saat mataku menatap pernak pernik di kamar ini. semua hal tentangku. Lalu perhatianku kembali teralih pada seorang yang terbaring di atas kasur dengan mata tertutup, selimut menutupi kaki hingga pinggangnya di tangan kirinya menancap sebuah jarum infus. Minhye tertidur dengan sangat tenang, aku berjalan mendekat saat ibu Minhye memintaku mendekat.

“minhye, Baekhyun-ssi mengunjungimu!” kata ibu Minhye di telinganya. Lalu ibu Minhye menarik sebuah kursi mempersilahkanku duduk di sana.

“hai, Minhye-ssi!” sapaku. Awalnya aku mengira Minhye hanya tertidur dan saat aku menyapanya kukira dia akan bangun paling tidak membuka matanya. Tapi ternyata tidak. Aku menoleh ke arah ibu Minhye yang mulai terisak.

“ada apa dengannya?” tanyaku pada akhirnya saat benar-benar merasakan keanehan. Isakan ibu Minhye semakin terdengar.

“sudah hampir satu bulan Minhye tertidur seperti itu!” jawab suara berat di belakangku. Aku berbalik menatapnya tidak percaya.

“minhye menderita syndrome tertidur yang langkah Baekhyun-ssi. Dia akan tertidur lama, berbulan-bulan dan hanya sebuah keajaiban yang membuatnya terbangun jika tidak hanya satu pilihan Minhye pergi meninggalkan kami!” jelas ayah Minhye dengan suara lirih. Aku terkejut mendengar penjelasaanya.

“dua tahun yang lalu Minhye juga pernah mengalami ini, disaat kami sudah benar-benar pasrah tanpa sengaja Minhye mendengar suaramu dan perlahan Minhye merespon kami dan tersadar dari tidurnya” tambah ayah Minhye lalu memeluk ibu Minhye yang semakin terisak

“dia koma?” tanyaku masih tidak mengerti.

“tidak Baekhyun-ahh. Dia hanya tertidur tapi entah kapan dia akan terbangun!” kali ini ibu Minhye yang menjawabku dengan suaranya yang serak.

“lalu untuk apa kalian memanggil ku kemari?” tanyaku seakan tidak mengerti.

“bukankah sudah kukatakan, dua tahun yang lalu Minhye pernah tertidur seperti ini. Tapi saat mendengar suaramu dia mulai merespon dan perlahan terbangun! Bukankah itu suatu keajaiban?” aku mengangguk lalu kembali menatap wajah Minhye yang tertidur dengan sangat tenang.

“kami akan meninggalkamu berdua di sini!” kata ayah Minhye. Aku mengangguk tanpa menoleh sama sekali. Dan perlahan aku mendengar suara pintu yang tertutup.

Sepi. Itu yang kurasakan. Perlahan aku bangkit berjalan ke arah sebuah jendela menyingkap tirainya membiarkan cahaya matahari memenuhi ruangan. Dengan hati-hati aku membuka jendela dan perlahan aroma laut desiran ombak dan suaran gempuran ombak menabrak karang memenuhi kamar Minhye-ssi. Lalu aku kembali menatap Minhye-ssi yang masih tenang, aku berjalan ke arahnya dan kembali duduk di tempat kusemula.

“hai Minhye-ssi? Kau mendengarku kan? Ini aku Baekhyun!” aku mulai bermonolog.

“aku menyukai kamarmu!” kataku lagi lalu menyapu seluruh ruangan dengan tatapanku. Lalu mataku tertuju pada meja belajar Minhye dan menatap kosong.

“kau percaya keajaiban Minhye-ssi? Aku percaya, keajaiban yang membawaku padamu, keajaiban yang membangunkanmu dulu lewat suaraku, sekarang kuharap kau kembali terbangun!” aku terdiam setelah bermonolog cukup panjang.

Kutarik nafasku panjang, lalu perlahan alunan lagu ‘Lucky’ salah satu lagu dari album kami meluncur begitu saja dari mulutku. Perlahan kugapai tangan Minhye dan menggenggamnya.

“mungkin, aku tidak bisa setiap saat mengunjungimu, tapi Minhye-ssi, kuharap kau akan cepat terbangun, semua orang merindukanmu! Ayahmu, ibumu bahkan aku!” aku kembali bermonolog.

“Kau tau, selalu setiap aku berdiri di atas panggung aku selalu mencari sosokmu di antara penonton” tambahku.

Aku kembali terdiam tidak mampu melanjutkan perkataanku. Sunyi, sepi. Bahkan detak jam dari jam yang kukenakan menggema diruangan ini melebur bersama suara gempuran ombak di luar sana. Kulirik jam di tanganku, waktuku habis. Kueratkan genggaman tanganku, lalu dengan perlahan kudekatkan wajahku dan mengecup bibir pucatnya sekilas. Kulepas genggaman tanganku, dan perlahan bangkit berjalan meninggalkan Minhye tanpa menoleh sedikitpun. Aku baru saja mengenalnya tapi seolah aku sudah begitu tau banyak hal tentangnya, dan perlahan airmataku menetes mengaliri pipiku dan membentuk sebuah aliran anak sungai kecil pada pipiku. Cepatlah bangun Minhye-ssi, doa yang kupanjatkan benar-benar tulus dari dalam hatiku.

***

“Bagaimana?” Suho hyung bertanya padaku dalam perjalanan pulang dari rumah Minhye ke dorm.

Kuhembuskan nafasku pasrah “Begitulah hyung!”

Suho hyung melirik sekilas dan memilih diam.

“Hyung, gomawo sudah mau mengantarku!” Ucapku tulus

“tidak masalah!” Sahutnya. Kami kembali terdiam sepanjang jalan. Kualihkan pandangan pada jendela di sampingku, menatap hamparan pasir dan air laut yang berkilau di timpa cahaya matahari. Suho hyung tetap fokus pada jalanan di hadapannya.

“Dia suka laut hyung!” Gumamku pelan. Suho hyung kembali melirikku  dan tersenyum.

***

Perlahan jari telunjuk wanita yang sedang terbaring itu bergerak, tidak berapa lama matanya yang terpejam perlahan terbuka dan beberapa kali mengerjap memfokuskan pandangannya. Samar, sebuah senyum tersungging dari bibirnya saat masih bisa dirasakannya aura kehadiran dari seorang yang sangat ditunggunya.

***

Iklan

16 pemikiran pada “XOXO (Kiss and Hug) The Series (Lucky-Baekhyun ver)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s