Confused (Chapter 2)

| Title : Confused | Author : Seo Yuri |

| Main Cast : ♪ Im Yoon Ah SNSD | ♪ Kai Exo-K | ♪ Lee Tae Min Shinee |

| Support Cast : ♪ Kwon Yuri SNSD |

| Genre : Romance, Angst, bla bla bla. |

| Length : Chaptered | Rating : PG 16 |

Confused (2) (1)

—oooOoooOooo—

—there’s a story you’ll never understand—

—oooOoooOooo—

Seorang gadis tampak berjalan gontai di lorong sebuah rumah sakit ternama di Seoul. Berkali-kali dia menghela nafas panjang, namun wajahnya justru terlihat semakin ditekuk. Dia menerawang jauh kedepan sambil tersenyum kecut.

“Namanya Kim Jong In, teman baik sekaligus pasien spesialku.”

“Kim Jong In? Kai?” gumamnya pelan.

“Jong In terkena penyakit Alzheimer.”

Yoona sampai ditaman rumah sakit, ia mendudukan dirinya di bangku rumah sakit sambil menatap langit sedih.

“Penyakit Alzheimer adalah suatu kondisi dimana sel-sel saraf otak mati, sehingga sinyal-sinyal otak sulit ditransmisikan dengan baik. Atau lebih singkatnya, Jong In kehilangan kemampuan mental dan fisik.”

“Ini tidak masuk akal. Ini tidak mungkin.” Ujarnya dengan suara yang bergetar.

“Sangat sulit untuk mendekati Jong In, karena Alzheimer membuatnya menjadi pribadi yang sensitif. Kurasa mendekatinya sekarang adalah ide yang buruk.”

Yoona kembali menghela nafas panjang dan meremas-remas tangannya pelan, entah kenapa rasanya sakit sekali. Dadanya, hatinya, semuanya terasa sangat sakit dan sesak.

“Dia memiliki masalah dengan ingatan, penilaian dan juga cara berpikir. Terkadang dia terlihat seperti anak kecil, tapi terkadang dia terlihat seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. Jong In sangat susah ditebak.”

Yoona beranjak dari bangku taman dan berjalan pelan, namun matanya menangkap sosok yang begitu dikenalnya. Orang itu tampak sedang bermain-main dengan kupu-kupu, namun tiba-tiba orang itu berhenti dan memutar kepalanya untuk melihat orang-orang. Dia terlihat seperti orang kebingungan, dia seperti anak hilang. Dia memang hilang, karena dia kehilangan dirinya, dia melupakan jati dirinya sendiri. Dia bahkan melupakan Yoona.

“Dia tidak bisa mengingat siapa dirinya, terkadang terlihat seperti orang yang kebingungan. Dia bisa tersesat kapan saja. Makanya kami selalu mengawasinya. Dia pasien yang spesial.”

Angin musim dingin berhembus pelan, menembus jaket tipis yang Yoona pakai, tapi dia tidak peduli dengan sensasi dingin yang akan dirasakannya. Dia hanya ingin menatap orang itu lama, seakan sedang melepaskan segala kerinduan yang mengurungnya selama ini. Dia hanya cukup melihat dari kejauhan. Melihatnya seperti ini sudah cukup untuk Yoona, sungguh. “Kai? Alzheimer?” Ucapnya lirih.

—oooOoooOooo—

—you will never understand that illusion—

—oooOoooOooo—

“Belum ada kabar tentangnya?” Tanya Taemin ditelepon, namun sepertinya dia mendapatkan jawaban yang tidak diinginkannya dari orang disebarang sana. Seketika ekspresi wajahnya berubah murung. “Arraseo, kalau ada informasi tentangnya. Tolong hubungi aku, Yuri-ssi.”

Taemin pun melepaskan ponsel dari tangannya sambil memijit-mijit keningnya pelan. “Yoona-ya, sebenarnya kau dimana?”

Sudah sepekan sejak kejadian pertemuan Kai dan Yoona, dan selama itu juga lah Yoona menghilang tanpa kabar. Dia tidak pulang ke rumah Yuri. Rumah Yoona pun tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Taemin sudah berkali-kali mencoba menghubungi Yoona. Tapi hasilnya nihil.

Tapi dia tidak boleh menyerah, bukan? Dia harus menemukan Yoona, harus. Teamin pun meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar dari rumah sakit. Dia berkeliling di sekitar Seoul untuk mencari Yoona, dia mencari ketaman, pusat pembelanjaan bahkan kembali kerumah Yoona, tapi tetap saja. Yoona tidak ditemukan. Sebenarnya Yoona ada dimana?

—oooOoooOooo—

—that feeling will make you confused—

—oooOoooOooo—

—Taemin—

—oooOoooOooo—

Kembali ke rumah sakit dengan tangan kosong? Hal yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Yoona, tapi sepertinya usahaku sia-sia saja. Kenapa aku begitu bodoh? Bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa Kai yang dimaksud Yoona itu Jong In. Dasar bodoh! Benar-benar bodoh.

Aku melemparkan baju penghangat ke sembarang tempat dan menghempaskan tubuhku kasar ke sofa. Im Yoon Ah, sebenarnya kau ada dimana? Aku benar-benar merasa frustasi sekarang. Bayang-bayang gadis itu selalu muncul dibenakku. Dan hal itu sangat menggangguku. Ada apa denganku sebenarnya? Apa aku merindukannya?

Aku memijit-mijit keningku pelan sambil menghela nafas panjang. Mengitari Seoul seharian sangat melelahkan, aku bahkan melupakan Jong In yang sedari tadi kutinggalkan. Jong In! Ya benar, aku belum memeriksanya hari ini.

Dengan cepat, aku bangkit dan berjalan mendekati ruangan Jong In. Sepertinya hari ini dia tidak keluar. Tirai penghalang masih terpasang rapi, suara berisiknya juga masih terdengar. Tumben sekali.

Semakin dekat, aku semakin bisa mendengar jelas suara-suara yang ditimbulkan Jong In. Sepertinya Jong In sedang berbicara. Dia berbicara dengan siapa?

“Kai, jangan dirobek.” Suara itu! Begitu familiar. Terdengar seperti—

Perlahan kusibak tirainya dan ternyata benar dugaanku. Orang yang sedari tadi mengganggu pikiranku, orang yang sedari tadi menghantuiku. Orang yang sangat kurindukan. Benarkah aku merindukannya?

“Taemin-ah, neo wasseo?

Yoona-ya, akhirnya kau kembali. Aku menatapnya lama tanpa berkedip sama sekali. Sepertinya aku memang merindukannya. Bukan hanya merindukannya, tapi sangat-sangat merindukannya.

Dia terlihat cantik seperti biasanya, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Dia memakai baju lengan panjang berwarna putih dan juga celana jeans. Masih simple seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Suaranya, tatapannya, semuanya sama. Tapi dia terlihat berbeda hari ini, dia terlihat lebih banyak tersenyum.

Dia mengibas-ngibaskan tangannya kehadapanku. “Taemin-ah, gwenchana?”

Gwenchana…” Aku melihat kearah Jong In yang masih berkutat dengan plastik-plastik yang entah dari mana.

“Yoona-ya, kenapa kau ada disini?” Yoona tersenyum ke arahku dan melirik ke arah Jong In. Dia kemudian merebut plastik dari tangan Jong In dan memasukkannya kedalam kantong.

“Aku datang menemui Kai.”

Kai berulah lagi. Dia mengambil apa saja yang ada dihadapannya dan memainkannya. Dia mengambil tas Yoona dan membukanya. Dihambur-hamburkannya semua isi tas Yoona, tapi Yoona sama sekali bergeming. Dia hanya menatap Jong In sambil tersenyum kecut.

Jong In sudah keterlaluan, aku pun berinisiatif untuk menghentikannya. Tapi tiba-tiba Yoona menghentikanku. Dia menatapku hangat sambil tersenyum. “Biarkan saja.”

Biarkan saja? Itu yang dikatakannya. Bukankah Jong In sudah keterlaluan, tapi kenapa dia malah membiarkan Jong in melakukan sesukanya?

“Jong In, aku lebih sering memanggilnya Kai.” Yoona menerawang jauh kedepan sambil mendekati Jong In perlahan. “Mulai hari ini aku akan kesini setiap hari. Untuk menemaninya.” Lanjutnya yang seketika membuatku mematung. Setiap hari? Kesini? Menemani Jong In? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar diotakku. Kenapa? Kenapa harus Jong In?

“Mungkin memang susah mendekatinya. Tapi aku akan berusaha.” Yoona menghela nafas panjang dan menoleh padaku. “Aku akan berusaha membuatnya mengingatku lagi.”

Jong In mengeluarkan sesuatu dari tas Yoona, seperti sebuah foto. “Oohh, ada suster.” Ucapnya girang sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri.

Yoona tersenyum melihat reaksi Jong In. “Kai itu sangat pintar Taemin-ah. Dia mengenaliku dengan cepat.”

Tidak! Dia tidak mengenalimu Yoona. Jong In memang memanggil semua orang suster. Haruskah aku mengatakannya? Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti ini. Dia tersenyum untuk menghibur dirinya sendiri. Dia berbicara seperti tadi untuk melupakan ketakutan dalam hatinya. Dan sekarang dia mendekati Jong In, karena dia merasa kesepian.

Im Yoon Ah yang awalnya terlihat menyedihkan sekarang jauh terlihat menyedihkan. Dia berjalan mendekati Jong In dan mengelus kepalanya pelan. Dia mengambil foto itu dan tersenyum pada Jong In.

“Ini fotoku dan fotomu Kai. Ini foto kita berdua.” Kai terdiam, dia menatap Yoona dalam diam. Menatapnya sangat lama. “’Kau ingat?” Tanya Yoona ragu.

Detik berikutnya Kai membuang muka dan kembali berteriak heboh, dia sama sekali tidak mengingat Yoona. Tidak, bukan hanya Yoona. Tapi semua orang.

—oooOoooOooo—

—don’t give up just because you don’t understand the story—

—oooOoooOooo—

Yoona kembali berjalan gontai mengitari rumah sakit, sepertinya mengitari rumah sakit dan berjalan gontai akan jadi kebiasaannya. Mengingat akhir-akhir ini dia sering melakukannya.

Ia menghentikan langkahnya sejenak dan menundukkan wajahnya dalam. Dia memegang pegangan tangga erat, seakan dia bisa jatuh kapan saja jika tidak memegangnya erat.

Berada dirumah sakit untuk menemani Kai, sepertinya adalah ide yang buruk. Yang terjadi, hatinya semakin terasa sesak. Rasanya begitu sakit. Melihat Kai selalu bersikap layaknya anak kecil. Sungguh dia tidak sanggup. Kenapa? Kenapa harus Kai? Kata-kata itu selalu menghantui pikiran Yoona. Dan tanpa sadar, diam-diam dia menangis. Menangis dalam hati, bukankah menyedihkan?

Ia kembali melangkah. Langkah demi langkah dilewatinya dengan setengah hati. Menghela nafas sebanyak-bayaknya, hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia menatap jauh kedepan, tapi tidak benar-benar melihat kedepan. Dia hanya melihat kedepan, tanpa benar-benar memperhatikannya. Dan yang terjadi, dia bisa terjatuh kapan saja jika menaiki tangga dengan keadaan seperti itu.

Namun tanpa diduga ada seseorang yang menopangnya, melindunginya, menjaganya, membantunya untuk bangkit kembali, seseorang yang mirip Kai. Lee Taemin.

“Yoona-ya, gwenchana?” Yoona tetap terdiam, tapi Taemin tidak menyerah, dia menguncang tubuh Yoona pelan dan menatapnya lirih. “Yoona-ya.”

Yoona ingin sendirian, setidaknya untuk sekarang. Ia menepis tangan Taemin dan lanjut melangkah. Taemin terdiam dan hanya bisa menatap punggung Yoona yang semakin menjauhinya. Yoona memiliki punggung yang kecil, tapi terlihat begitu rapuh, seakan bisa runtuh kapan saja. Dan Ia membencinya. Ia sungguh berharap bisa membuat punggung itu kembali bersinar. Ia sungguh ingin melihat Yoona tersenyum lagi, mendengarnya tertawa. Tapi Taemin tau, berdiam diri seperti sekarang tidak ada gunanya.

Ia pun menyusul Yoona sebelum Yoona menghilang di ujung tangga. “Yoona-ya.” Panggilnya, tapi Yoona tetap melangkah. Taemin semakin mempercepat langkahnya, namun didepan ada beberapa suster yang mendatanginya dan menghambat langkahnya, sehingga Yoona semakin jauh.

“Im Yoon Ah!!!” teriak Taemin dari kejauhan, tapi seperti tadi Yoona tetap tidak memperdulikannya. “Apa kau yakin akan melakukannya?” Lanjutnya, tapi kini berbeda. Yoona menghentikan langkahnya. Melihat ada kesempatan, Taemin pun mengabaikan segala bentuk pertanyaan suster-suster tadi dan berlari mendekati Yoona.

“Yoona-ya.” Panggilnya sambil berjalan ke depan Yoona.

“Taemin-ah.” Panggil Yoona sambil menghela nafas panjang. “Kau pernah melihat sirkus?” Yoona menunduk dalam, membuat Taemin semakin tidak mengerti. Sirkus?

“Yoona-ya, kau—“

Yoona mengangkat wajahnya dan tersenyum singkat, “Aku pernah melihatnya.” Ia mengangguk-angguk sejenak kemudian menatap Taemin sejenak. “Dan itu sangat menengangkan.” Dia kembali berjalan melewati Taemin yang masih terpaku.

Taemin tersadar dari kebingungannya, dia kembali menyusul Yoona. “Yoona-ya.”

Yoona kembali menghela nafas panjang dan menutup matanya pelan. “Aku terperangkap didalamnya Taemin-ah.”

Taemin terdiam karena bingung. Terperangkap? Apa maksudnya? Yoona membuka mata perlahan dan membalikkan badan. “Didalam sirkus. Aku terjebak didalamnya.”

Taemin membulatkan matanya tidak percaya? Apa gadis ini sakit? Kenapa bicaranya jadi aneh? Menyadari kebingungan Taemin, Yoona pun tertawa kecil. Dia kemudian berjalan meraih pagar pembatas di atap rumah sakit yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.

“Terjebak dan tidak punya pilihan lain. Bagaikan berdiri diatas tali tambang. Aku berdiri ditengahnya, Taemin-ah. Dan tidak bisa mundur lagi.” Jelas Yoona sambil mencoba menikmati semilir angin dingin yang menerpa wajahnya.

“Saat ini aku hanya bisa terdiam ditengah-tengah tali itu. Aku tidak bisa mundur, aku terlalu lemah untuk berjalan mundur. Tapi disisi lain aku tidak bisa maju, aku terlalu takut. Aku terlalu takut dengan resiko yang mungkin terjadi. Aku belum siap.”

Gadis ini sedang mengalami perdebatan dihatinya, dan Taemin mengetahui itu. Jadi dia memutuskan untuk jadi pendengar yang baik untuk hari ini.

“Menurutmu aku harus bagaimana? Aku harus mundur atau maju? Aku harus menghadapi kelemahanku atau ketakutanku? Taemin-ah, aku harus bagaimana?” Yoona kembali menatap Taemin dalam. Tapi tidak ada lagi sinar dimata itu. Yang tersisa hanya lah kesedihan, kesedihan yang membuat segalanya menjadi buram.

Taemin mendekatkan dirinya pada Yoona, Ia melepaskan baju penghangatnya dan memakaikannya pada Yoona. “Disini dingin. Ayo kita masuk.”

Tapi Yoona tetap bergeming, Ia menunggu jawaban. Taemin pun menghela nafas dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kurasa kau hanya perlu berdiam diri. Sebelum maju, kau harus terlebih dahulu memantapkan hatimu. Dan untuk mundur, kurasa itu pilihan terburuk.” Yoona tersenyum singkat mendengar jawaban Taemin, sepertinya dia sependapat.

“Tapi aku punya saran untukmu.” Lanjutnya, Yoona menatap Taemin tidak sabar. “Jangan melihat kebawah, karena itu akan membuatmu lebih merasa ketakutan.”

Sepertinya akan turun salju lagi. Angin berhembus kencang, menghapus segala kebingungan hati Yoona. Setidaknya hari ini Taemin berhasil meyakinkan hatinya. Dia hanya perlu bertahan dititik ini, menunggu hingga hari itu tiba. Hari dimana dia harus memilih. Maju atau mundur. Bagaimana menurutmu?

Gomawojinjja gomawo.” Ujarnya dalam diam.

—oooOoooOooo—

—you still have a choice—

—oooOoooOooo—

Malam ini Yoona kembali menangis. Ini sudah untuk yang kesekian kalinya hari ini. Ia menangis seorang diri dilorong rumah sakit setelah menidurkan Kai. Entah apa yang sedang ditangisinya. Tapi Taemin bisa melihat dengan jelas gurat kesedihan yang terlukis di wajah cantik itu. Ingin rasanya Taemin menghampiri dan meminjamkan bahunya untuk Yoona, agar gadis itu berhenti menangis.

Tapi ia sadar, ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang pria yang tak sengaja ditemui gadis itu beberapa minggu yang lalu. Sejauh apapun ia berusaha, Taemin tau usahanya akan sia-sia. Karena hanya Kai yang bisa membuat air mata itu berhenti mengalir.

Yang dibutuhkan gadis itu hanya Kai, bukan dirinya.

Hanya Kai… Tanpa sadar Taemin menyunggingkan senyum kecut.

—oooOoooOooo—

—hold on, just for a moment—

—oooOoooOooo—

Yoona terlihat sibuk mengemasi baju-bajunya kedalam tas besar. Didekat pintu, terlihat Yuri yang sedang mengamati Yoona dengan ponsel yang menempel ditelinganya.

“Yoona sedang berkemas sekarang. Apa kau ingin berbicara dengannya?” Tanya Yuri dengan orang diseberang sana. Begitu ia mendapat jawaban, gadis itu pun mengangguk singkat dan berkata, “Arraseo.

Ia melepaskan ponselnya dari telinga dan kembali mengamati Yoona yang hampir selesai berkemas.

“Yuri-ah, apa kau melihat album fotoku? Aku ingin menunjukkannya dengan Kai nanti. Ah! Bagaimana bisa aku lupa dimana menyimpan barang sepenting itu. Micheonabwa.” Yoona memukul-mukul kepalanya perlahan, sementara Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Jika kau kenapa-kenapa ada orang yang akan membunuhku.” Ujarnya sambil mendekati Yoona. Tapi sedetik kemudian ia terhenti dan menjentikkan jarinya. “Ah! Matta. Bukan hanya 1, sepertinya akan ada 2 orang yang membunuhku.” Lanjutnya.

Yoona menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap Yuri bingung. Ia mengernyit heran dan berkata, “Ya! Musun suriya?”

“Maksudku, kau harus cepat berkemas agar bisa menemuinya di Rumah Sakit.” Jelas Yuri. Yoona tersenyum pelan dan kembali berkutat dengan barang-baranganya. “Benar juga.” Ujarnya pelan.

Yuri berjalan kesisi ranjang dan mengambil album foto Yoona yang tergeletak dengan mengenaskan dilantai kemudian memberikannya pada Yoona. “Keundae, kau yakin akan baik-baik saja?”

Yoona menerima album foto dan mengangguk pelan. “Ne.” Ujarnya singkat. “Asalkan ada Kai, semuanya pasti akan baik-baik saja.”

Keundae, kau kan tidak perlu pindah dari rumahku. Aku sungguh tidak keberatan jika kau ingin tinggal disini.”

Anniya, bukan kau yang keberatan. Tapi aku. Aku tidak mungkin harus mengusikmu setiap hari. Lagi pula, cepat atau lambat aku harus pindah. Aku tidak mungkin meninggalkan rumahku dalam keadaan kosong.” Jawab Yoona sambil menenteng tasnya ditangan.

“Hhh~ Eottokhae? Aku lebih tenang jika kau tinggal disini.” Yuri mengambil ponsel Yoona di lemari samping ranjang dan memberikannya pada Yoona.

Yoona tersenyum kecut dan menerima ponselnya. “Kau tidak perlu khawatir. Aku sungguh baik-baik saja.” Setidaknya untuk sekarang.

“Baiklah, aku akan melepaskanmu sekarang. Keundae, jika aku melihatmu menangis lagi, jangan salahkan aku jika aku akan menyeret kau kembali kerumah ini. Jika itu terjadi, akan kupastikan Kim Jong In akan menyesalinya.” Ujar Yuri dengan semangat membara-bara dan tinju yang dikepalkan diudara.

Segera, Yoona menggenggam tangan Yuri dan menurunkannya. Ia tersenyum kecil dan berkata, “Arraseo Eomma.”

Yuri menyipitkan matanya sambil mengerucutkan bibir. Tapi sedetik kemudian, suara tawa keduanya menggema kesegala penjuru ruangan itu.

Yoona sangat beruntung memiliki sahabat seperti Yuri. Benar-benar beruntung. Yuri selalu ada disampingnya ketika ia merasa senang atau pun sedih. Yuri selalu menemaninya melewati hari-hari kelamnya. Dan Yuri tidak akan pernah membiarkannya kesepian. Ah! Matta. Dia memang tidak pernah sendirian. Setidaknya ia mempunyai sahabat-sahabat yang akan menemaninya. Setidaknya hal itu masih bisa diyakininya. Walau pun Kai benar-benar mencampakkannya, setidaknya ia masih bertahan. Bertahan? Apa dia bisa? Sesungguhnya ia tidak yakin. Kai. Apa ia bisa bertahan lebih lama jika Kai tidak kembali?

Setelah puas tertawa, Yuri pun duduk disisi ranjang dan menatap berkeliling. “Rumah ini pasti menjadi sepi jika kau tidak ada.” Ujarnya.

Yoona mengambil tempat disamping Yuri dan berkata, “Mianhae.” Sementara gadis itu hanya tersenyum kecil. “Kau yakin tidak ada yang tertinggal?” Tanya Yuri.

Yoona melihat berkeliling sambil mencoba mengingat-ngingat barang bawaannya. “Sepertinya tidak ad—“ Ucapannya terhenti ketika matanya bertemu pandang dengan bingkai foto disamping ranjang yang biasanya selalu menemani tidurnya. Gadis itu berjalan mendekati bingkai foto itu dan melihatnya lama.

Yuri memutar badannya menghadap Yoona, matanya tertuju pada bingkai foto yang ditatap Yoona. “Sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau Kai sakit.”

Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum kecut. “Nado.” Kata-kata itu kembali menghantui pikirannya. Kenapa harus Kai? Kenapa tidak ia saja? Kenapa?

Ya!” Yuri berjalan mendekati Yoona dan memutar badan Yoona menghadapnya. “Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesedihan terlalu lama. Aku tau ini sangat sulit untukmu. Tapi kumohon, bertahanlah. Eoh?”

Gadis itu mengangguk pelan sambil melirik bingkai foto itu. “Yuri-ah.” Panggil Yoona. Ia menatap Yuri sambil tersenyum kecut. “Apa kau tau tempat cuci foto terdekat?”

—oooOoooOooo—

—make that memory again—

—oooOoooOooo—

Taemin berjalan mondar-mandir didalam ruangannya. Sesekali ia berhenti untuk melihat Kai. Tapi sedetik kemudian, ia kembali berjalan tak karuan.

Im Yoon Ah. Kenapa gadis itu lama sekali? Taemin sedang menunggu gadis itu. 1 jam sudah berlalu sejak Yoona mengatakan bahwa ia sedang berada didalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Tapi kenapa sekarang ia belum tiba? Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu?

Seketika perasaan Taemin menjadi tidak enak. Bagaimana jika gadis itu melakukan hal bodoh seperti yang ia lakukan minggu lalu? Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?

Andwae. Andwae-yo.” Taemin menggeleng-gelengkan kepala dan segera menyambar jaket penghangat yang terletak digantungan dekat jendela. Namun baru saja ia ingin beranjak, manik matanya menangkap sosok gadis yang sedari tadi mengusik pikirannya diparkiran Rumah Sakit. Tanpa sadar, senyuman terukir dengan sempurna diwajahnya.

Segera, ia berjalan menjauhi jendela menuju pintu. Diputarnya pegangan pintu itu dan ketika pintu berhasil terbuka, ia langsung berlari keluar. Namun langkahnya terhenti begitu ia melihat pantulan dirinya dikaca.

Jaket penghangat yang masih belum terpakai rapi, rambut acak-acak, wajahnya yang masih kusut. Ia akan menemui Yoona dengan keadaan yang kacau seperti ini? Yang benar saja.

Taemin berjalan mendekati kaca dan mengamati dirinya dengan seksama. Aish~ bertemu Yoona dengan keadaan seperti ini hanya akan membuat harga dirinya jatuh dihadapan gadis itu. Ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan.

Ia pun memutar balik langkah menuju ruangannya dan cepat-cepat masuk kedalam kamar kecil. Ia memandangi pantulan wajahnya dicermin sambil bergidik ngeri.

“Aish~ bagaimana bisa kau menjadi sangat berantakan seperti ini? Lee Taemin ada apa denganmu?” Ia membasuh wajahnya dengan air kemudian ia mengangkat wajahnya menghadap cermin.

Ia menyapukan sedikit air dirambut dan menyisirnya dengan jari. “Bagaimana bisa kau menemui gadis itu dengan penampilan seperti ini? Dasar bodoh. Ini benar-benar memalukan.” Runtuknya sambil mengambil handuk kecil didekat pintu dan dililitkannya dileher.

Begitu dirasa cukup rapi, Taemin keluar dengan handuk yang masih setia melilit dilehernya. Namun tubuhnya terlonjak kaget ketika menemukan Yoona sedang memunggunginya. Ia langsung berbalik, bermaksud untuk kembali ke kamar kecil. Namun sial, pintunya sudah tertutup sehingga Taemin membuat wajahnya menabrak pintu.

Yoona yang mendengar suara berisik pun segera menoleh. Ia mendapati Taemin sedang meringis kesakitan sambil memegangi wajahnya. “Omo! Taemin-ah, gwenchana?” Ia segera menghampiri Taemin dan berlutut dihadapannya.

Neo gwenchana?” Ulangnya. Taemin mengangkat wajahnya menghadap Yoona. Gadis itu sedang menatapnya. Dahinya dibiarkan berkerut pertanda bahwa ia sedang khawatir. Gadis itu sedang mengkhawatirkannya. Seketika itulah, rasa sakit yang tadi dirasakannya mendadak menghilang. Apa ini?

Ia memandangi Yoona lama dengan tangan yang masih menempel didahi, sehingga Yoona mengira kalau Taemin masih kesakitan.

“Tungu sebentar. Aku akan memanggil suster.” Yoona bangkit—bermaksud untuk mencari pertolongan, tapi Taemin reflex menarik tangan Yoona sehingga membuat gadis itu berbalik dengan tiba-tiba dan terjatuh dipelukannya.

—oooOoooOooo—

—just make it, until he smiled—

—oooOoooOooo—

Disisi lain, Kai yang menyadari keberadaan Yoona pun memutuskan untuk turun dari ranjang. Ia menyibak tirai penghalang itu perlahan, tapi begitu matanya menangkap sosok Yoona—dengan posisinya yang terjatuh dipelukan Taemin, tanpa sadar membuatnya tersenyum kecut. Ia membalikkan badannya perlahan dan berjongkok. Ia membiarkan dirinya masuk ke dalam kolong ranjang yang gelap.

Perlahan ia kembali membalikkan badan, ditatapnya lekat-lekat kedua orang dihadapannya. Ia hanya memeluk kedua kakinya didalam kolong ranjang yang gelap dengan mata yang terus mengawasi Yoona dan Taemin—seakan sedang menikmati pemandangan dihadapannya. Tapi ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia menatap Yoona dan Taemin dengan ekspresi kosong dengan menghela nafas berkali-kali. “Sarang?” Gumamnya pelan sambil tersenyum kecut. “Mwoya?

—oooOoooOooo—

—because behind the smile, there’s a story you’ll never understand—

—oooOoooOooo—

…to be continue…

Kau tahu apa yang membuatku melakukan semua ini? Karena aku takut. Aku takut akan melukaimu lagi. Aku takut akan melukaimu lebih dalam lagi. Lebih dalam dari yang sudah pernah kulakukan. Oleh karena itu, kumohon jangan kembali. Karena aku sungguh tidak bisa menggontrol perasaan ini.

2 pemikiran pada “Confused (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s