Dear You… (Chapter 1: The First Conflict)

Author : Bedwina R.

Tittle : Dear You… [The First Conflict] (Chapter 1)

Main Cast : Oh Sehun (EXO) & Park Chorong (APink)

Support Cast: Park Chanyeol (EXO) [Soon], Jung Eunji (APink) [Soon], & Lee Hyunwoo

Genre : Romance, Marriage life

FOREWORDS:

Annyeong! Ini fanfict pertamaku tentang EXO. Tapi bukan fanfict pertama yang pernah aku bikin. So, enjoy it. And don’t be plagiator, please

And don’t be silent reader. Mian kalau kependekan 🙂

Fanfict ini juga aku post di blogku : http://dellasimiquel.wordpress.com

TINGGALKAN JEJAK

***

“Appa! Shireo!”

Teriakan itu terdengar samar dari dalam sebuah kamar. Suara nyaring dengan nada tinggi itu pastilah milik seorang gadis. Ya, dia adalah Park Chorong. Appa? Ya, Dia memang ayah dari Park Chorong, Park Jangbum. Kalian pasti bertanya apa yang terjadi pada Chorong bukan? Cerita singkatnya, Chorong tidak mau melakukan apa yang ayahnya suruh. Jangan berpikir yang macam – macam dulu.

“Eomma, jebal. Aku tidak mau!”

Eomma? Ya, tidak hanya appanya, tetapi eommanya juga ada di kamar Chorong. Dan sekarang, bertambah lagi desakan dari eommanya untuk melakukan hal itu. Apa?

“Jebal, appa tak ingin kau berkeliaran dengan berandal itu lagi, Chorong! Appa mohon, turuti kata appa sekali ini saja, hm?” Dengan volume yang semakin lama semakin mengecil, ayah Chorong memaksanya untuk melakukan hal yang sudah lama ia persiapkan dengan sang istri.

Chorong menggeleng tegas, ah tidak, lebih tepatnya kasar. Chorong membalikkan badannya, menghadap ke jendela. Wajah itu kesal, marah, sedih, tak ada kesenangan terselip sedikitpun di wajah cantik Chorong. Mulutnya terkunci, tak ingin mengatakan apapun pada ayahnya.

‘Bagaimana bisa appa memaksaku? Aku ini anak satu – satunya, dulu ia tak pernah memaksaku, ya kecuali masalah Hyunwoo. Tapi seharusnya tidak usah seperti ini!’ Chorong berbicara didalam hati. Ia tak mau berurusan dengan hal ini, lebih baik pergi dengan Hyunwoo daripada harus menghadiri acara seperti ini, membosankan!

“Nak, kau harus tau bagaimana Hyunwoo itu! Dia tidak baik untukmu, percaya pada Appa!” Ayah Chorong berjalan mendekatinya, dan mengelus bahu Chorong lembut. Tapi Chorong menepisnya cepat, ia masih tidak terima dengan hal ini. Ia tak ingin menuruti apa yang ayahnya perintah kali ini. (baca:titik)

“Shireo! Sekali tidak mau, ya tidak mau!” Chorong berlari keluar dari kamarnya, meninggalkan ayah dan ibunya yang tercenung melihat sikap anaknya sekarang. Ada satu harapan terselip dalam hati mereka. Chorong kembali seperti dulu, Chorong yang lembut, perasa, tak pernah marah. Bukan Chorong yang sekarang

Ibu Chorong menghampiri suaminya, dan mengelus punggung suaminya lembut, dan penuh perasaan. “Biarlah, mungkin dia belum siap menerimanya, yeobo. Berikan dia sedikit waktu, hm?” Ayah Chorong hanya mengangguk, tetapi dari mimik wajah itu terlihat sangat kecewa. Rambut yang sudah mulai beruban, karena usia yang tidak lagi muda, tubuhnya yang mulai melemah. Semua itu memaksa dirinya melakukan ini, dan juga satu hal lagi, Hyunwoo.

“Kajja!” Mereka berdua keluar dari kamar yang dulunya sangat rapi, bersih, dengan wallpaper yang manis, dan juga tatanan kamar yang memberi kesan sang pemilik kamar yang baik, dan ramah. Berbeda dengan sekarang.

***

Chorong berjalan lunglai ditrotoar jalan, dengan coat bulu berwarna hitam, celana jeans ketat kebiruan, juga sepatu boots hitam dengan heals yang tidak terlalu tinggi. Rambutnya yang berantakan, membuatnya terkesan nakal. Dilengannya tergantung sebuah tas yang tidak terlalu besar berwarna hitam, dan dengan gambar tengkorak disampingnya.

Langkah Chorong terhenti di depan sebuah bar yang cukup terkenal di daerah pusat Itaewon. Senyum evil terkembang sesaat, setelah membaca tulisan di atas bangunan besar itu. Chorong lalu melangkahkan kakinya dengan ringan.

Musik disko memenuhi seluruh ruangan yang barusaja Chorong masuki. Bau alkohol? tentu saja semeruak menyebar tanpa celah. Dan asap rokok tak terhalangi lagi. Orang – orang sedang menari ria ditengah ruangan itu, dan banyak juga yang sedang duduk – duduk di ruangan tak berpintu, tetapi bersekat di kanan – kirinya.

Mata Chorong mencari dari ruang ke ruang, mencari seseorang yang membuat hidupnya seperti ini. Tapi tentu saja Chorong menikmatinya, karena kebebasan yang ada dari keadaan ini. Mata Chorong menangkap seorang namja yang sedang duduk ditemani dengan dua yeoja yang berpakaian sangat minim dan terbuka. Dan segera menghampirinya.

“Oppa!” Dengan manjanya Chorong duduk di atas paha namja itu, karena tidak ada tempat disamping namja itu yang bisa ia duduki. “Hey, kenapa kau kesini? Bukankah seharusnya kau sedang makan malam dengan eomma dan appamu yang terhormat itu?” Chorong tak menjawabnya langusng, tangannya menyelinap ke leher namja itu, dan memeluknya cepat.

“Ani, aku kesal dengan mereka. Jadi aku kesini, aku merindukanmu!” Dua yeoja yang berada di samping namja itu segera beranjak ketika Chorong memeluk namja itu. Namja itu seketika memindah tubuh Chorong ke sampingnya, menyuruhnya untuk turun dari pangkuannya.

“Hey, mereka itu tetap orang tuamu. seharusnya kau bersyukur mempunyai orang tua yang sayang padamu, tidak-”  Dengan secepat kilat, Chorong membungkam bibir namja itu dengan bibirnya. Kalian pasti sudah bisa menebak siapa namja ini, bukan? Ya, namja ini adalah Hyunwoo.

Chorong tidak melakukan ciuman itu dengan panas, hanya menempelkan bibirnya saja. Tetapi Hyunwoo membalasnya dengan agresif. Bukankah semua namja itu seperti itu? Lidah Hyunwoo sudah memaksa bibir Chorong untuk membuka, tetapi Chorong tak mau membukanya. Tiba – tiba, Chorong mendorong tubuh Hyunwoo kasar, membuat Hyunwoo terpaksan melepas ciumannya.

“Waeyo, chagi?” Chorong hanya tersenyum, kemudian Chorong menempelkan jari telunjuknya di bibir Hyunwoo. “Belum saatnya, chagi!” Hyunwoo mengerucutkan bibirnya, berpura – pura kesal pada Chorong, tapi sebenarnya hanya taktik belaka untuk meluluhkan hati Chorong.

“Aigoo! Jangan seperti itu, aku janji akan memberikannya nanti kalau kita menikah, oke? Bersabarlah dulu!” Chorong menyandarkan punggungnya yang terasa pegal, dan juga kepalanya yang terasa sangat berat hari ini. Matanya tertutup sekejap, ia ingin merasakan ketenangan walau hanya sebentar.

“Ige!” Hyunwoo menyodorkan segelas kecil soju pada Chorong, tanpa penolakan sama sekali dari Chorong. “Gomawo, chagi!” Chorong meneguk habis soju itu dalam sekali telan. Kepalanya terasa lebih ringan, dan badannya juga terasa lebih segar. Chorong menyodorkan gelasnya lagi, meminta Hyunwoo untuk menuangkan soju lagi. “Sudah, kau bisa mabuk! Jangan bantah kataku!” Chorong mendesah kecil. Hyunwoo tidak bisa dibantah lagi kalau sudah seperti ini, bisa – bisa ia mengamuk dan melenyapkan bar itu.

“Pulanglah, sudah malam. Aku tak mau orang tuamu memarahiku lagi.” Chorong mengangguk, kemudian berdiri hendak beranjak. Tetapi Chorong membungkuk sesaat, bibirnya menyentuh permukaan kulit pipi Hyunwoo. “Annyeong!” Chorong melambaikan tangannya ke arah Hyunwoo, dan disambut senyum oleh Hyunwoo.

***

“Aku pulang!” Tapi tak ada sahutan dari dalam rumah. Chorong berkeliling rumah mencari ayah dan ibunya. Chorong menuju ke kamar bibi – bibinya. Tapi tak menemukan ayah dan ibunya, hanya menemukan bibi – bibinya yang sedang duduk dengan posisi seperti sedang berdoa.

“Ajhumma, appa dan eomma pergi?” Salah satu bibi itu mendongak menatap nanar ke arah Chorong. “Nona tidak tahu?” Dahi Chorong berkerut. ‘Tahu apa?’ Chorong menggeleng cepat, menanti jawaban dari ajhummanya.

“Appa dan eomma nona berada di rumah sakit. Appa nona tadi tiba – tiba pingsan saat berjalan keluar dari kamar nona.” Seperti petir yang menyambar, seketika Chorong tercenung. Matanya memerah, disudut matanya setitik air menggenang, dan tak lama, air itu terjatuh melewati kulit wajah Chorong yang halus.

“Ajhumma, tolong katakan pada Gong Ajhussi antarkan aku ke sana, sekarang Ajhumma!” Tubuh Chorong bergetar hebat setelah mendengar kabar itu dari Ajhumma. Tanpa berganti baju terlebih dahulu, Chorong langsung berlari menuju halaman rumahnya yang luas, menuju mobil ayahnya yang disiapkan untuknya.

Dalam perjalanan, Chorong hanya bisa menangis. Dalam hatinya, Chorong merutuki dirinya yang membuat ayahnya seperti ini. Ia sayang pada ayahnya, sebenarnya ia tak ingin membantah kata ayahnya, tetapi ini urusan yang pelik, sungguh pelik. Bagaimana bisa ia meninggalkan Hyunwoo, sementara ia sangat menyukainya.

Mobil itu berhenti tepat dilobby rumah sakit elite di kawasan Seoul. Chorong tak menunggu Ajhussi membukakan pintu untuknya, Chorong membuka sendiri dengan kasar, dan langsung berlari menuju resepsionis rumah sakit itu.

“Pasien Park Jangbum!” Chorong mengetuk – etukan jarinya di meja resepsionis itu sementara menunggu resepsionis itu mengecek nama ayahnya. “Masih diruang ICU.” tanpa mengucap terima kasih, Chorong langsung berlari ke arah lift, setelah lift itu terbuka. CHorong memencet tombol ’3′

Hatinya gusar, ingin segera sampai di ruang ICU. Tapi lift itu seperti berjalan sangat lambat. Sampai di lantai 2, lift itu terbuka. Beberapa orang terlihat memasuki lift itu dengan kecepatan yang sangat – sangat lambat. Chorong hanya bisa mendesah sendiri, tak mungkin ia meneriaki orang – orang itu sekarang.

‘Ting!’ Lift itu terbuka, dan dengan susah payah Chorong keluar dari lift itu. Chorong bergegas menuju ke ruang ICU yang berada di ujung lorong sebelah kanannya.

“Eomma!” Napas Chorong terengah – engah setelah berlarian sepanjang lobby hingga sampai di ICU. Wajah ibunya pias, tergurat kesedihan mendalam dari wajah wanita paruh baya itu. Ibu Chorong menatap Chorong nanar, masih sama seperti saat di kamar Chorong, wajah itu kecewa.

“Eomma, mianhae. Jeongmal mianhae, aku tidak bermaksud begitu pada Appa dan Eomma. Mianhae, Eomma!” Chorong berhambur memeluk Ibunya erat, tapi tak ada balasan peluk dari sang Ibu. Karena sudah sangat kecewa pada Chorong. “Eomma, aku memang salah. Mohon maafkan aku, aku janji akan melakukan apa yang kalian mau. Termasuk meninggalkan Hyunwoo”

Ibu Chorong melepas pelukan anaknya, menatapnya dalam. Setelah ity menghela napas berat. Kepalanya pening karena memikirkan banyak hal yang kemungkinan akan terjadi setelah suaminya terkena serangan jantung yang mendadak.

“Kita lihat apa yang dikatakan appamu nanti. Kau harus pegang janjimu, Chorong. Janji adalah sebuah hutang.”

– To Be Continued-

Stay read, and leave a comment

15 pemikiran pada “Dear You… (Chapter 1: The First Conflict)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s