Finally, It’s You (Chapter 9)

Finally, It’s You (I do Love You sequel) chapter 9

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

 

Like the warm sunlight on a lazy afternoon, somebody to melt my heart, with a soft scent rather than a flashy one. I need somebody to fill my heart..

+++

Lee Jihyun’s POV

Hal yang paling menyebalkan dari bekerja adalah lembur. Saat seharusnya aku sudah berada di rumah sejak empat jam yang lalu dan saat ini, aku masih ada di ruang perpustakaan, berkutat dengan laptop dan buku-buku psikologi yang bertumpukan di sampingku. Ternyata menjadi guru etika pun banyak sekali pekerjaannya.

Drrtt.. drrtt

From : Sehunnie

I’ll be waiting for you ~

Aku tak dapat menahan senyumku melihat isi pesan darinya yang menggunakan bahasa Inggris tersebut. Enak juga rasanya, mempunyai seseorang yang peduli pada kita seperti Sehun. Apalagi di saat-saat melelahkan seperti ini.

To : Sehunnie

Tak perlu menungguku, aku masih banyak pekerjaan. Jadi anak baik dan pulang ke rumah sebelum terlalu larut, nee?

Setelah itu, aku langsung memasukkan ponselku ke dalam tas tanpa menunggu balasan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku hari ini juga.

+++

Aku menatap seseorang yang sedang duduk di pojok belakang kelas sambil menelungkupkan kepala di atas kedua lengannya, terdiam. Dia benar-benar menungguku, jinjja. Ini sudah pukul 10 malam, dan ini berbahaya untuknya pulang sendirian. Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padanya? Aigoo, anak ini, tak pernah mau mendengar ucapan orang lain.

Aku menghampirinya perlahan, tak ingin membangunkannya.

Jauh di dalam hatiku, aku merasa senang. Dia benar-benar menungguku.

Aku duduk di kursi depannya, memerhatikan wajahnya yang terlihat polos saat tertidur. Bagaimanapun, dia masih seorang anak kecil.. Aku mengulurkan tanganku ke atas kepalanya, mengelus-elus rambutnya. Kalau Sehun sedang terbangun saat ini, aku yakin dia akan marah sambil berkata, ‘Aku bukan anak kecil!!’.

Beberapa menit kemudian, aku baru menyadari bahwa Sehun sedang mendengarkan lagu melalui earphone yang terletak di telinganya. Aku mengambil earphone yang terpasang di telinga kiri Sehun perlahan. Kemudian, aku memasangkan earphone itu di telingaku. Dan terdengar sebuah lagu yang sangat familiar.

Greatest as you,

Smallest as me

You show me what is deep as sea..

Aku tak menyangka Sehun benar-benar mendengarkan lagu yang sangat perempuan seperti ini.. Tapi aku tak peduli, ini lagu kesukaanku.

A little love, little kiss,

little hug, little gift

All of little something

These are memories..

You make me cry, make me smile, make me feel the love is true. You always stand by my side, I don’t want to say goodbye..” Aku ikut mendendangkan lagu yang liriknya sudah kuhafal di luar kepala ini secara spontan. Aku menatap Sehun, dan aku baru menyadari, lagu ini mengingatkanku tentangnya..

You make me cry, make me smile,

make me feel the joy of love oh, kissing you

Thank you for all the love you always give to me,

“Oh, I love you..” Aku tersenyum. Lagu ini benar-benar cocok untuk menjelaskan perasaan setiap yeoja yang cintanya terbalas. Ya, aku, salah satunya.

“Gomawo.” Aku terkejut mendengar suara rendah yang keluar dari mulut Sehun secara tiba-tiba. Dan secara tiba-tiba juga,  Sehun mengangkat kepalanya sambil tersenyum lembut.

“Suaramu bagus.” Aku jadi malu. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang.

“Ya! Sudah kubilang, jangan menungguku. Ini sudah jam 10 malam, kau tahu?! Anak SMA tak seharusnya pulang selar..”

Aku merasa jantungku berhenti berdegup seketika saat sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Wajah Sehun tepat berada di depan mataku. Aku sering melihatnya di drama-drama yang kebetulan kutemui saat membuka televisi, saat sepasang kekasih berciuman dengan romantis. Tapi benar-benar mengalaminya, ternyata jauh berbeda. Yang ini rasanya, jauh lebih romantis, bahkan saat tak ada hal romantis apapun yang terjadi saat ini.

Sehun menjauhkan wajahnya beberapa senti, sambil menatap mataku lurus. Matanya yang tajam itu seakan mengintimidasiku, membuatku tak dapat berpaling dari tatapannya.

“Jarang sekali mendengarmu mengatakan hal seperti itu..”

“Aku lagi bernyanyi barusan!” ucapku malu.

“Ini lagu kesukaanmu, kan? Orang bilang, yeoja menyukai lagu yang menceritakan perasaan tak terucapkannya.” Aku terdiam, tak mampu berkata-kata. Apa yang diucapkannya, memang benar.

“Dan aku mulai memikirkan apa lagu balasan dariku, tapi aku tak dapat menentukan yang mana yang paling tepat, karena keduanya, benar-benar tepat.” ucap Sehun lagi sambil memencet-mencet ponselnya. Lalu, ia memasangkan earphone di telinga kiriku yang tadi sempat kulepas.

Sebuah lagu pun mulai terdengar.

“Dengarkan bagian ini..” ucap Sehun.

When you looked at my eyes, when we said the same things
I really wanted to hug you
How am I? How am I as a guy?
(BTOB – Sunday to Monday)

Aku terdiam sejenak.

“Kau memintaku menjawabnya?” tanyaku, dibalas dengan anggukan Sehun.

“Yah, aku akan menemukan lagu yang cocok untuk menjawabnya, nanti.” jawabku pada akhirnya. Sebenarnya itu hanya alasan, aku hanya tak menemukan jawabannya, belum.

“Bilang saja kau tak tahu harus mengatakan apa.” Sehun merengut sejenak, mengetahui maksud tersembunyiku. Aku hanya meringis malu.

“Satu lagu lagi, aku yakin kau tahu. Kau suka Infinite, kan?” Dan entah darimana ia mengetahui hal itu, bahwa aku gemar mendengar lagu-lagu boyband Infinite.

Ah, aku tahu lagu ini.. Special Girl..

A chance to see you : Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday
The thing I want is the bonus that is the weekend
If I could just see you coming to see me
I would give my everything, whatever the price is
To do so, I need my unique charm that can appeal to you
Because the men are always lining up in front of you, I gotta K.O him!
Baby lean on me comfortably, I won’t move
If you just come into my arms I will give you everything

Aku jadi malu sendiri mendengarnya, di saat aku sudah mendengarkan lagu ini ratusan kali dan tak merasakan apapun. Mungkin karena saat ini, ada Sehun di sisiku, mengatakan bahwa inilah ungkapan hatinya untukku, makanya, aku merasa berbeda.

Semuanya berbeda saat orang yang kau cintai ada di sisimu..

“Aku akan memberikanmu, ‘bonus’ yang kau inginkan..”

+++

Oh Sehun’s POV

Aku membuka mataku perlahan saat sinar matahari pagi mulai masuk ke dalam kamarku yang hampir setengahnya terbuat dari kaca. Aku mulai merasakan beberapa perubahan signifikan dalam hidupku, bagaimana aku menjalani hidup. Aku merasa aku jadi lebih.. bersemangat. Lebih bersemangat menyambut pagi, lebih antusias menunggu hari esok datang kembali.

Sebenarnya, hidup ini dinilai tergantung bagaimana kamu melihatnya.

Drrtt.. drrt…

Ada pesan masuk. Pucuk dicinta ulam tiba..

From : Hyunn

Ya, Oh Sehun! Cepat bangun dan jangan sampai membolos! Awas kau!

Aku tersenyum melihatnya. Babo! Bahkan tanpa perlu ia suruh pun, aku takkan membolos lagi. Karena membolos berarti mengurangi satu hari untuk bertemu dengannya. Dan aku takkan melakukannya. Melihatnya bahkan hanya sedetik setiap hari itu penting untukku.

To : Hyunn

Maaf, orang yang anda tuju masih tertidur.

Balasku setelah berpikir beberapa saat. Beberapa saat kemudian, ia menelponku.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” ucapku setelah mengangkat telepon tersebut dengan nada datar seperti suara jawaban panggilan tak terjawab seperti biasanya.

“Hanya orang gila yang percaya akting-mu yang buruk itu, kau tahu?” ucapnya menggerutu, membuatku tertawa. Ya ampun, tertawa di pagi hari itu sangat mengagumkan bagiku. Pagi hari adalah saat-saat yang paling kubenci, saat aku harus berpisah dengan bantal dan guling kesayanganku. Tapi sekarang, rasanya bantal dan guling itu sudah merupakan orang asing bagiku.

“Kau sudah mandi?” tanyaku padanya. “He-eh, aku bukan orang malas sepertimu, Hun.”

“Kamu itu ibu-ibu yang sedang latihan menjadi seorang istri, yah?” ucapku asal.

“Mwo?! Ibu-ibu? Seorang istri? Kau sedang mendoakanku menikah dengan calon tunanganku itu, yah?” Jihyun memang selalu saja berhasil membalas ejekanku dan membuatku terdiam pada akhirnya. Senjata makan tuan.

“Haruskah aku mengatakan ‘Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu.’??”

“Aku mau kau mengatakan ‘Aku takkan melepaskanmu bagaimanapun situasinya!’ seperti dalam drama. Memangnya kau mau berkata seperti itu?” Aku terbang ke langit ketujuh mendengar jawaban Jihyun. Ia memintaku untuk tak melepaskannya..

“Baik, putri. Saya akan melakukan segala hal yang kau perintahkan!” seruku dengan meniru suara prajurit-prajurit pada zaman Joseon. Jihyun tertawa di seberang sana. Mendengar suara tawa Jihyun yang sangat lucu itu membuat hatiku tergelitik. Aku ingin melihatnya sekarang juga.

Cinta itu menggelikan, yah? Aku juga merasa begitu. Tapi, yeoja itu hadir bagaikan putri dari negeri dongeng, meraih tanganku, si orang menyedihkan yang kemudian dijadikannya pangeran berkuda dengan segala kesempurnaannya. Orang bilang, ‘dibalik sebuah lelaki hebat, ada seorang wanita hebat yang mendukungnya’, ternyata itu 99% benar.

Aku seperti kupu-kupu tanpa sayap dulu. Tapi saat Jihyun hadir dan mengubahku, aku dapat terbang ke tempat manapun yang kumau. Atau mungkin, seperti sebuah pohon yang tak berakar, atau seorang pangeran tak berkuda.

Aku membutuhkan Jihyun.

Aku mencintainya

But meeting you, Girl, I’m feeling you. And I know you feel it too. Cause in your eyes, I’m starting to see myself in them..

+++

Lee Jihyun’s POV

Aku menatap seorang namja yang sedang berdiri sandaran di pinggir gerbang sekolah, tak percaya. Namja itu datang lebih pagi daripadaku. Apa ini mimpi di siang bolong? Si pemalas itu, datang LEBIH PAGI daripada aku, guru rajin yang selalu bersemangat pergi ke sekolah di pagi buta.

Saat Sehun menyadari kehadiranku, ia langsung tersenyum sambil mengangkat tangannya. Aku terdiam sejenak, mengagumi kesempurnaannya. Ya Tuhan, aku tak pernah menyadari namja-ku ternyata se-menawan ini sebelumnya. Dia berjalan menghampiriku. Aku tahu dia menungguku di sana. Haah, memiliki namja seperti ini, aku ini sebenarnya, beruntung yah?

“Tak apa-apa kan, untuk seorang murid berbicara dengan wali kelasnya?” ucapnya degan senyuman hangat, sambil mempersilajkan dirinya berjalan di sampingku.

Kalau saja aku bukan gurunya dan dia adalah muridku..

“Untuk sesaat aku lupa hubungan kita adalah hubungan yang seperti itu, sungguh.”

“Justru bagus, kalau bisa melupakan hal itu selamanya.” ucapnya dengan santai, tapi aku hanya terdiam. Sehun mungkin belum menyadari rintangan apa yang dihadapinya. Hubungan guru dan murid bukan sesuatu yang ‘normal’, kan? Mungkin kita masih bersenang-senang hari ini, tapi besok, atau lusa, atau seterusnya, akankah terus seperti ini?

“Wae? Ada yang kau pikirkan?” Sehun menatapku bingung. Seperti biasa, dia orang yang paling mengerti diriku. Tak perlu kata-kata, dia sudah mengerti segalanya. Dia mengerti hatiku..

“Aku hanya memikirkan mengenai hidup yang takkan terus sama selamanya. Hari ini kita bahagia, tapi besok? Aku baru saja memikirkannya, bagaimana kalau suatu hari, saat-saat sedih itu tiba? Apa yang akan aku lakukan? Apa yang akan kita lakukan?” Sehun menatap mataku lurus, seakan ingin melihat tepat dalam hatiku. Aku balas menatap matanya, ingin melihat apa yang ada di sana. Di hatinya.

“Lalu?” balasnya dengan nada acuh tak acuh, membuatku mengernyitkan kening.

“’Lalu’? Aku tanya, apa yang akan kita lakukan?”

Sehun tampak tak serius mendengarkan ucapanku, membuatku merengut

“Pernah lihat bagaimana kedua pasangan menikah? Ingat apa yang diucapkan oleh pendeta pada pasangan yang akan menikah tersebut?” tanyanya secara tiba-tiba, nggak nyambung.

Tiba-tiba Sehun berjalan menuju pot bunga yang terletak beberapa meter di depan kami, mengambil sebuah bunga berwarna merah jambu yang indah. Dan secara tiba-tiba, ia berjongkok di depanku dan memegang tangan kananku. Aku kaget.

“Lee Jihyun,  apakah anda bersedia untuk menemani Oh Sehun, pria yang sedang memegang tangan anda, baik dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit?” Aku tertegun. Saat ini, ia memandangku dengan tatapan yang sangat lembut dengan senyum yang sanggup membuatku meleleh saat ini juga.

Sehun benar-benar lelaki dewasa yang tahu bagaimana cara memperlakukan yeoja, nee?

Namun, segala kata-kata yang diucapkan Sehun, semuanya, selalu sukses membuatku ingin menangis terharu. Segala hal yang dilakukannya untukku, entah kenapa, selalu sukses membuatku kaget pada awalnya, tapi tersentuh juga akhirnya. Tanpa sadar, aku jadi semakin dan semakin menyayanginya, membuatnya berada di posisi yang sangat penting dalam hatiku.

“Meskipun kalimatnya agak sedikit ngaco, tapi… Ya, saya bersedia.”

Segala yang ada dalam dirinya selalu mengatakan padaku, ‘aku menyukaimu’.

Dan segala hal itu membuatku tak sanggup mengelak lagi.

Bahwa aku menyukainya..

Aku tersenyum pada namja yang menatapku dengan tatapan penuh cinta itu.

Ya, Oh Sehun, terima kasih sudah menyukaiku..

+++

Byun Baekhyun’s POV

Suasana rumah di pagi hari selalu seperti ini.

Appa membaca koran sambil meminum kopi di bangku taman. Eomma sibuk memasak di dapur. Keluarga yang bahagia, bukan? Hubungan appa dan eomma sangat harmonis, tidak seperti pasangan-pasangan di drama-drama Korea yang penuh dengan perselingkuhan. Bagi appa, eomma adalah yeoja tercantik di muka bumi ini, begitu juga sebaliknya.

Hanya ada satu fakta yang membuatku kebahagiaanku tak sempurna.

Bahwa adikku –adik tiriku– membenci keluarga ini. Dia tak membenciku, tapi dia membenci keluarga ini. Membenci appa kandungnya sendiri. Aku memang tak dapat mengerti apa yang sudah terjadi pada dirinya hingga dia begitu benci dengan appa, sampai-sampai berada di satu atap pun dia merasa sangat tak nyaman.

“Apa appa tak merindukan Sehun?” tanyaku secara tiba-tiba, appa pasti bingung kenapa aku membicarakan itu out of the blue.

“Kau sakit?” Aku mencibir. Apa aku terlihat sakit saat ini? Jinjja.

“Aku serius! Aigoo, apa appa benar-benar tak merindukan Sehun? Apa appa tak ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang? Sudah berapa tahun sejak appa terakhir kali bertemu Sehun, appa pasti tak tahu bagaimana ia berubah menjadi pangeran sekarang.” Appa menutup koran yang ia baca dan meletakkannya di meja. Tampaknya appa tertarik.

“Omong-omong mengenai Sehun, appa berpikir untuk mengirimnya ke Amerika setelah lulus.” Aku hampir tersedak bahkan saat aku tak memakan apa-apa saat ini.

“MWOO?!! Appa sudah membicarakannya dengan Sehun? Appa tahu kan, Sehun tak suka diatur hidupnya?!” seruku dengan histeris. Aku masih ingat saat appa menyuruh Sehun bersekolah di sekolah terbaik di Seoul, tapi Sehun malah marah dan keluar dari rumah.

“Tapi kau tahu, ini untuk kebaikannya. Appa takkan memaksanya menjadi penerus perusahaan, tapi dia itu pintar, akan lebih baik dia memiliki pendidikan yang baik juga.” Aku terdiam. Aku tahu, appa bukannya tak peduli pada Sehun. Bagaimanapun juga, Sehun adalah anak kandungnya, darah dagingnya.

“Kita harus pikirkan bagaimana cara memberitahu Sehun dengan baik.” Tiba-tiba eomma muncul dan menyahut. Biarpun eomma hanyalah ibu kedua Sehun, eomma sangat peduli dengannya. Meski Sehun sangat membencinya. Aku juga mengerti, tak mudah bagi Sehun untuk begitu saja menyukai yeoja yang sudah merebut appa-nya.

“Kau saja yang beritahu dia, Baek.” usul eomma. “Sirreoh!” tolakku langsung. Meskipun aku lebih tua dari Sehun, tetap saja, aku merasa takut saat melihatnya marah. Sehun itu seperti hewan buas, menyerang siapapun saat dia sedang marah.

“Jangan pikirkan itu dulu! Appa tahu kan, apa resikonya? Bisa-bisa Sehun benar-benar memutuskan hubungan keluarga dengan kita.” Dan satu lagi hal yang paling menakutkan, Sehun tak pernah menarik kembali kata-katanya; harga diri tinggi sebagai seorang namja.

Banyak orang berkata, Sehun saat eomma-nya masih ada di dunia ini, sangat berbeda dengan Sehun yang kukenal saat ini. Mereka bilang, Sehun hanya kehilangan orang yang sangat berharga dan tempatnya untuk berlindung, sehingga ia merasa tidak nyaman dan membuat perlindungan pada dirinya sendiri. Dan yah, aku sendiri sadar, Sehun yang sebenarnya tak se-menyeramkan yang semua orang pikirkan.

“Ya, appa tahu.”

Dan jika apa yang mereka katakan memang benar, aku hanya berharap, Sehun akan menemukan ‘orang berharga’ itu kelak..

+++

Oh Sehun’s POV

Aku tak tahu sebelumnya, bahwa bersama dengan orang yang kita sukai itu rasanya sangat menyenangkan, seperti berada di surga. Aku selalu bingung melihat namja-namja di kelasku yang sering bercerita dengan wajah ceria mengenai yeoja-nya, tapi kini aku mengerti.

Cinta itu memang seperti ini..

Saat kita bertemu setiap hari tanpa pernah merasa bosan..

“Ya, natal nanti, kau mau apa?” tanyaku saat kita sudah duduk bersebelahan di dalam bus menuju sebuah perpustakaan di pinggir Seoul. Aku sendiri tak mengerti, kenapa kita harus pergi begitu jauh hanya untuk membaca buku?

“Itu masih dua bulan lagi, kau tahu?” ucapnya.

“Aku harus menyiapkan diri dari sekarang, bagaimana kalau nanti uangku tak cukup untuk membelikanmu hadiah?” balasku. Jihyun menatapku sambil mengernyitkan dahi.

“Memang kau butuh uang sebanyak apa, lagipula? Kau ingin membelikanku rumah?” Aku tertawa kecil mendengar ucapan asal Jihyun.

“Boleh, setelah kita menikah nanti. Ingat yah, kita sudah bertunangan tadi.” Mendengarnya, Jihyun langsung terdiam dengan perubahan ekspresi yang terlihat jelas. Aku tertegun.

Tanpa sadar, tanganku sudah berada di kepalanya, membelainya.

Kenapa yeoja itu terlihat selalu begitu menawan? Aku masih tak percaya bahwa dia jauh lebih tua dariku. Sungguh tak dapat dipercaya.

“Tunangan? Berikan cincin dengan mata biru terlebih dahulu sebelum melamarku.” ucapnya, bercanda. Tapi di balik setiap lelucon, selalu ada setidaknya 20% kejujuran, kan?

Jadi Jihyun ingin sebuah cincin..

“Ada apa dengan wajahmu? Aku tak sungguh-sungguh meminta cincin, loh.” ucap Jihyun sedikit panik, aku tahu dia tak ingin menyusahkanku. Tapi aku tulus ingin memberikan sesuatu padanya. Dia yeoja pertamaku, wajar kan, kalau aku mau melakukan hal seperti itu?

“Ya! Aku bukan yeoja yang materialistik seperti yang kau pikirkan, Oh Sehun!” serunya lagi. Aku hanya tertawa. Aku tahu. Jihyun bukan yeoja seperti itu.

“Buatkan aku sebuah syal berwarna biru, aku akan membelikanmu sebuah cincin bermata biru. Impas, kan? Membuat syal tidak mudah, loh.” tawarku, membuat Jihyun jadi berpikir.

“Aku takkan menerima cincin yang harganya lebih dari 200.000 won.” Aku tersenyum puas mendengar keputusan Jihyun.

“Araso.”

“Aku akan segera tahu kalau kau berbohong!” ucap Jihyun lagi, dengan serius.

Tapi lucu.

Aku tersenyum menatap wajahnya. Melihat ekspresinya yang selalu baru setiap harinya, aku menyukainya. Mungkin ini salah satu alasan aku menyukai yeoja yang ada di sisiku saat ini.

Meskipun, sebenarnya, aku menyukai segala hal tentang dirinya..

+++

 

 

6 pemikiran pada “Finally, It’s You (Chapter 9)

  1. Maaf ya thor, aku ngelike doang:( bc aku gak tau mau comment apa… ini bagus banget ceritanyaaa *pingsan*
    Dan aku sukaaa sangaaatttt
    Dan Sehun gak tau ya kalo Hyung nya itu calon tunangan Jihyun? Huhu
    Kalo dia tau gimana ya? Apa dia bakalan ngikutin kemauan Appa nya pergi ke Amerika?
    suka juga sama karakter semua cast disini♥♥♥♥♥ terutama Jihyun-Sehun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s