Love in Barbedose (Chapter 1)

PART 1 | Love in Barbedose

dsg

TITLE : Love in Barbedose

 

CAST : Xi Luhan, Alena Azh

 

OTHER CAST : All member EXO K & M , Core Belle

 

GENRE : Fantasi

 

AUTHOR : Badratun Navis

 

TWITTER : @xiluohan

FB : Badratun Navis [ http://www.facebook.com/badratun.navis?ref=tn_tnmn ]

WP : http://lostpeterpan.wordpress.com

 

Love in Barbedose by, Badratun Navis

 

 

 

PETLOVPETRY, Petry School.

 

-Author side-

 

Tepat di ujung sana, koridor lantai sepuluh sekolah ke–bangsawan petry. Terduduk anak hawa sambil menompong tubuh pada kursi ijuk tua. Umpatan yang entah dari mana ia pelajari, kini terdengar akrab pada diri–nya.

 

Alena, memandang kesal kertas kusam di tangan nya. Jelas sekali kertas yang terbuat dari pelepah pisang itu sasaran emosi Alena.

 

 

Alena Azh, di pindahkan ke–sekolah Barbedose atas permintaan Tn. Sung Azh.

Tertanda, Profesor Spac.

 

 

 

Oh demi, tanaman bunga bangkai berbau busuk di depan sekolah. Ia begitu marah pada ayah nya Tn. Sung Azh. Seharusnya jika ingin memindahkan ia dari sekolah bangsawan akankah lebih baik menanyakan persetujuan Alena terlebih dahulu.

 

Alena bersumpah, pasti Aiden sang kakak akan menertawai Alena karena hal memalukan ini. Sekolah Barbedose, adalah sekolah yang di mana para murid sebagian besar berkaum adam, jika di bandingkan kaum hawa mungkin menjadi 80% > 20%. Dan terlebih lagi sekolah itu hanya di sahkan untuk anak berkemampuan khusus, di bagi menjadi dua kelas ( Kelas Khusus & Kelas Biasa) . Lalu, bagaimana dengan Alena? Ia sama sekali tak mempunyai kemampuan yang patut untuk di banggakan. Lantas apa alasan Tn. Sung Azh menyekolahkan Alena di Barbedose? Apa untuk menjadi bahan lelucon murid Barbedose? Bagaimana mungkin Tn. Sung Azh tega pada putri semata wayangnya?.

 

“ Sialan. ” Lagi. Umpatan itu lolos lagi.

 

“ Aku berani bertaruh, Aiden tak akan berhenti tertawa semalam suntuk. Sial. ”

 

 

***

 

-Alena Azh Side-

 

Aku benar-benar kesal pada Ayah. Lihatlah setelah memindahkan aku ke–liang neraka, ah maksud–ku Barbedose Ayah tampak santai saja. Bahkan Ibu hanya tertawa menanggapi ketidak setujuan–ku. Bagus, tiada yang mau membela–ku. Aku benci akan sikap Ayah yang semena-sema, oh ayolah aku baru masuk tahun pertama di sekolah Petry, dan sekarang akan di pindahkan ke–Barbedose. Tuhan … apa salah ku?

 

Bisa ku–lihat tepat bangku pojok sana Aiden tertawa akan berita ini. Sebenarnya, dia kakak–ku atau bukan? Kenapa tidak membantu–ku membujuk Ayah agar tidak menjalankan aksi konyol nya.

 

“ Diam kau Aiden. ” Dia bahkan tak terlihat seperti penolong pada saat-saat seperti ini. Demi malaikat penjaga neraka, aku bersumpah kelak ia akan di masukkan kedalam neraka.

 

“ Sudahlah Aiden, jangan membuat adik mu kesal. ” Bagus Ibu. Aku beruntung pada saat seperti ini kau membela–ku. Dan lihat, setelah Ibu menasehatinya, Aiden sama sekali tak berhenti tertawa, wajah merah nya itu tampak seperti orang menahan buang air besar.

 

Ah … kurasa Ibu belum tau satuhal tentang nya. Aiden tak akan berhenti tertawa sampai ia merasa lelah. Dan itu bisa memakan waktu berhari-hari. Aku bisa gila jika terus-terusan di tertawai Aiden.

 

“ Kalau kau tak bisa diam, maka jangan berbicara pada–ku lagi. ” Mungkin ancaman ini jauh lebih ampuh. Aiden terdiam, menyeringai, lalu beranjak duduk di samping–ku. Ucapan aku tadi membuat mimik wajah malaikat nya kembali. Apalagi? Senyum hangat, mata teduh nya yang mampu membuat rasa kesal–ku lenyap.

 

 

“ Sekarang katakan, apa yang membuat mu begitu membenci Barbedose. Kau tau? Saat aku bersekolah di sana aku merasa berada surga, banyak sekali manusia di dunia ini yang sangat ingin bersekolah di Barbedose, dan kau salah satu yang beruntung Alena. ”

Cukup. Jangan katakan lagi Aiden. Kau akan ku–bunuh jika berbicara mengenai sekolah terkutuk, Barbedose.

 

“ Baik, tak akan lagi. ”

 

Dan kau tau apa yang paling membuat–ku gila Aiden? Kau, Ayah dan Ibu. Semua bisa membaca pikiran–ku. Mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Dan aku? Aku tak memilik apa-apa. Terlebih lagi kemampuan Ibu yang bisa menghilang dalam sekejap, Ayah yang dapat mengontrol waktu, Aiden yang bisa membunuh manusia dalam sekali kedipan mata jika dia ingin. Lalu aku? Jangan kau tanya, hidup dalam lingkungan manusia berkemampuan aneh, aku merasa bagaikan sampah yang tak pantas untuk di daur ulang.

 

“ Tidak. Hanya karena tidak memiliki kekuatan yang berarti, kau tak boleh menganggap dirimu seperti sampah. Aku saja hampir mati memiliki kemampuan ini. Kau harus bersyukur, karena dewa tak memberikan mu kekuatan yang mampu membuat hidupmu menderita, kau harus bersyukur Ale. ”

 

Kau lihatkan?. Aiden memang bisa membaca pikiran ku. Mengenai orang-orang yang memiliki kemampuan khusus, benar adanya mereka menderita akan kekuatan yang telah di beri dewa. Aku mendengar dan menyaksikan itu sendiri dari Ibu. Saat itu bulan purnama tiba, aku hanya berdua di rumah bersama Abu. Ayah dan Aiden pergi menghadap Jenderal Fork. Aku panik melihat Ibu menjerit histeris, Ibu bilang tak apa karena ia sering merasakan hal yang sama saat malam bulan purnama.

 

Di setiap malam bulan purnama energi manusia yang memiliki kemampuan khusus akan di serap oleh dewa, di musnahkan, dan di beri energi yang baru dengan kemampuan yang sama. Sakitnya sama seperti tubuh mu di sengat listrik berkekuatan tinggi. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya rasa itu.

 

 

Melihat urat-urat leher Ibu tertarik, mulut nya mengeluarkan darah, aku pikir Ibu akan mati. Ternyata itu hanya hal biasa, bagi Ibu. Tidak untuk–ku. Terlebih pada orang yang sedang dalam keadaan kurang sehat maka rasa sakitnya akan bertambah dua kali lipat, karena fisik mereka yang lemah. Dan, yah. Aku memang beruntung. Tapi, aku juga tak ingin di kucilkan pelajar Barbedose karena tidak memiliki kemampuan apapun. Mengenaskan.

 

“ Al, Ale, Alena. ”

 

“ Eh–ya?. ”

 

“ Kau melamun Ale, ah sudahlah anggap saja Barbedose layak sekolah pada umum nya. Kelas, ruang musik, ruang pelatihan. Tenanglah Ale kau tak akan menderita di sana. Jika mereka menganggumu maka sebutlah nama–ku, begini Aiden… oh Aiden, dan tring! Aku akan datang. ”

Emosi–ku sedikit tersulut, yeah… setidaknya perkataan konyol Aiden bisa di jadikan bekal.

 

“ Aiden, aku tak tau apa yang harus aku ucapkan atas semua kebaikan mu, ketahuilah aku beruntung mempunyai saudara sepertimu. ”

 

“ Hey. Aku tau itu. Kau juga harus bangga Ale. Karena aku satu-satunya lelaki tertampan seantero Petlovpetri. ”

 

Dan aku akan sangat beruntung lagi jika kau tak selalu bertingkah seolah-olah kau makhluk yang paling tampan di dunia ini, Aiden.

 

 

 

 

 

 

Pagi itu, harusnya aku bisa sedikit lebih bermanja pada ranjang–ku mengingat hari ini adalah hari libur untuk 2 hari ke–depan. Tapi, Ayah membangunkan, dan mengacaukan mimpi indah–ku. Kau tau?! Hal apa yang membuat Ayah repot-repot membangunkan aku?! Hari ini aku harus mengepak semua barang–ku dan di pindahkan ke–asrama Barbedose. Ya ampun, apa ayah ingin aku cepat-cepat pergi ke–sekolah terkutuk itu?.

Oh ayah kau tak bisa melakukan ini.

 

 

 

 

“ Alena. Mana senyum manis mu itu? Kau harus mengembangkan garis itu jika ingin memukau liang neraka Barbedose, ayolah Ale hanya sampai kau lulus ujian perang. ”

 

Oh tuhan. Aku lupa mengatakan bahwa syarat utama kelulusan di barbedose ia lah lulus ujian perang. Jadi, aku harus melawan para iblis seperti yang Aiden lakukan. Bagaimana jika aku kalah dan mati. Iblis berengsek itu kenapa harus menjadi syarat kelulusan di Barbedose?. Lebih baik mengerjakan test bahasa yunani kuno dari pada bertempur dengan makhluk menjijikan. Oh ayah, aku ini seorang perempuan, mana mungkin aku mampu melawan para iblis yang kerjaan nya hanya melakukan tipu daya sesat. Aku bisa mati ayah. MATI. Tuhan, aku belum melakukan suatu kebaikan yang berarti.

 

“ Pikiran gila mu bisa kau hilangkan?!, setidaknya sampai kau lulus. Aku berani menjamin utusan–ku di Barbedose akan sangat tergiur de–. ” Aku memukul kepala Aiden dengan tas ransel yang ia beri. Seharusnya Aiden menyampaikan pesan selamat tinggal untuk–ku. Seperti, jaga dirimu baik-baik adik–ku tersayang. Jangan lupa makan teratur. Siapapun akan gila jika nasib nya malang seperti–ku, Aiden bodoh.

 

“ Sekarang naiklah, Ayah akan mengantarmu. ” Aku menoleh kearah Ayah yang sudah selesai memanas–kan mobil. Lalu memeluk Ibu, jujur saja aku tidak mau berpisah dengan Ibu. Ibu begitu berarti untuk–ku.

 

“ Pergilah, jangan membuat ayah mu menunggu. Jaga dirimu baik-baik Alena. Walaupun Ibu tak berada di sekitarmu. Tapi, percayalah di setiap doa yang Ipanjatkan akan menemanimu di sana. Ibu pasti akan menyempatkan untuk mengunjungimu. ”

 

Aku menekuk wajah–ku dalam. Aku sama sekali tak ingin berpisah dengan Ibu, Aiden, Ayah. Yeah … walaupun Ayah kelihatan dingin, sebenarnya Ayah itu sosok pribadi yang hangat.

 

 

 

 

 

Perjalanan yang begitu membosankan. Aku melirik arloji yang ku–kalungkan. Sudah 4 jam perjalanan tapi batang hidung liang neraka belum juga terlihat. Aku menoleh, memandang ayah sedang focus menyetir. Bisa ku–lihat kerutan di wajah nya yang mulai menua.

 

“ Ayah. ”

 

“ Hm … ya. ”

 

Aku mengalihkan pandangan–ku pada hutan pinus di luar kaca mobil. Selama perjalan hanya hutan pinus yang menghiasi sisi jalan. Tiada satupun yang menarik.

 

“ Kenapa Ayah ingin sekali aku bersekolah di sana?. ”

 

Aku menghembuskan nafas–ku, terasa sesak. Benar, aku harus mengetahui tujuan ayah yang begitu ambigu.

Ayah menoleh kearah–ku lalu menampakkan senyum menawan yang sangat jarang ia tampak kan.

 

“ Karena ayah ingin kau menjadi anak yang mandiri. ” Alasan yang sama seperti Ibu. Menginginkan aku menjadi wanita mandiri. Hidup di jejuri liang neraka, apa itu salah satu tindakkan yang mampu membuat aku hidup mandiri? Atau ingin aku menjadi wanita terkuat seantero Petlovpetri mengikuti latihan fisik setiap hari ahad?!, oh aku sudah mempelajari berbagai jurus ilmu bela diri dari sigila Aiden.

 

“ Ketahuilah Alena, Ayah menyekolahkan mu di sana karena Ayah pikir itulah sekolah yang tepat untukmu Alena. ” Tepat untuk–ku?!. Baik ayah, aku tak akan menanyakan lagi akan hal-hal yang membuat kepala–ku serasa ingin pecah. Terserah, jika Ayah ingin aku bersekolah di sana. Akan aku turuti, tapi jangan menangis jika anak mu ini mati bosan.

 

 

 

Akhirnya penantian panjang–ku berakhir. Di sana, sebuah bangunan yang sedikit tertutupi dengan hutan pinus. Liang neraka, akhirnya kau menampakkan wujud asli mu. Boleh aku jujur, sesungguh nya er … dekorasi aksitektur Barbedose begitu unik ukiran-ukiran klasik yang pasti di buat pemahat ahli membuat Barbedose begitu terkesan elegan dan angkuh. Di hiasi perpaduan warna merah dan hitam memperkuat keindahan tersendiri untuk Barbedose.

 

“ Sampai. Turunlah, di dalam kau akan menemui seorang penjaga sekolah. Urus semua keperluan mu di Barbedose pada nya. Ayah sudah terlebih dulu memberitahu penjaga itu. ” Aku mengangguk.

 

“ Ingat Ale, jadilah murid yang baik, di siplin waktu. Peraturan Barbedose tidak bisa kau permainkan. Sekali saja kau melanggar, hukuman nya bisa saja tidak di beri jatah makanan, membersihkan kebun herbal atau sebagainya. ” Aku memutar bola mata–ku bosan. Tak di beri jatah makan dalam sehari, itu sama saja seperti menahan rasa lapar. Ayah, ketahuilah aku pernah mogok makan sehari karena Aiden terus-terusan menertawai–ku. Membersihkan kebun herbal? Aku sering membersihkan kebun herbal di klinik bersama Ibu. Jadi, tiada hukuman yang berarti.

 

“ Sehari di barbedose sama seperti berada di Petlovpetry satu minggu. Kau akan merasa berada di planet asing yang berotasi paling lama. ” Brengsek. Selain sekolah yang terkesan angker, peraturan nya pun sangat horor.

 

“ Oh, ya kau juga tidak boleh sembarang masuk ke–kamar pelajar pria, atau pria masuk kedalam kamar mu. Hukuman nya baik si pria atau wanita yang melanggar akan tinggal selama 2 bulan dalam satu kamar. Hukuman itu tidak berlaku untuk pria yang memasuki kamar pria atau sebaliknya. Kau harus ingat itu Ale, jangan membuat keluarga malu. ”

Aku jengkel. Ayah selalu saja mengungkit masalah peraturan Barbedose. Ayah pikir aku ini murahan yang akan membiarkan pria masuk kekamar–ku atau aku berkunjung ke–kamar pria. Memikirkan nya saja sudah membuat–ku geli.

 

“ Aku tidak murahan, Ayah. ”

 

“ Ayah percaya padamu, Ale. ”

 

Aku menoleh kearah ayah yang sudah mengeluarkan semua barang–ku.

 

“ Masuklah. ” Ayah menepuk pundak–ku. Menghela nafas, aku mengangguk menyemangatkan diri–ku sendiri untuk menikmati kehidupan suram yang akan aku lewati di sekolah terkutuk Barbedose.

 

Aku menyeret koper, dan menyampirkan tas ransel berisi snack yang di berikan Aiden. Oh Aiden, kau memang terbaik.

 

“ Ayah doakan semoga aku nyaman sekolah di sini. ” Aku melambai pada Ayah yang sudah melaju dengan mobil nya. Sejenak aku menghirup dalam nafas–ku. Lalu memantapkan langkah hingga sampai di depan pagar masuk Barbedose. Ayolah, Alena, kau pasti bisa.

 

 

Pagar yang menjulang tinggi ke–langit, dan ujung nya runcing itu memberikan satu lagi kesan horor dari sekolah ini. Ku–lihat di sana seorang penjaga yang di maksud Ayah tertidur. Dengkuran nya begitu keras. Nyaris membuat gendang telinga–ku pecah.

 

Sialan. Jadi, aku harus membangunkan penjaga itu. Oke baiklah. Aku baru akan menaik kan suara–ku 2 oktaf tapi saat jemari menyentuh permukaan pagar, dan langsung terbuka. Sukses aku terkejut. Ya ampun ini sihir. Ku–lihat penjaga itu sudah bangun, seringai nya yang menjijikan sungguh lebih menyebalkan di banding Aiden.

 

 

Dia mendekat kearah–ku. Hal pertama yang mampu membuat–ku mematung adalah tubuh nya. Tubuh nya mengeluarkan api. Hey, penjaga itu mengeluarkan api, bagaimana bisa? apa dia tak takut api bisa membakar tubuh nya sampai hangus. Ingin rasa nya aku memukul kepala–ku akan hal konyol ini semua.

 

“ Selamat datang di Barbedose, liang neraka. ”

 

“ Itu yang ada di dalam benak mu bukan?. ”

 

Aku tak mampu bergeming, pemikiran mengenai Aiden saat masih di rumah menhantui–ku. Benar, manusia di sini bisa membaca pikiran orang . Ya tuhan … hilangkanlah hal konyol dari kepala–ku ini. Aku tidak mau menjadi objek lelocun penduduk Barbedose. Kepala–ku, bukan bahan tawa.

 

“ Nona, kau tak perlu takut. Di kening mu tertulis jelas, kau membenci Barbedose. Sekarang kemari, kau harus aku tunjuk kan di mana letak kamar mu, seragam sekolah dan kebutuhan lain nya. ”

 

Baguslah ternyata dia tidak mempunyai kemampuan membaca pikiran orang lain. Aku mengikuti langkah penjaga itu. Sebenar nya ada yang janggal. Maksud–ku, aku curiga pada penjaga sekolah ini. Dari awal aku sudah memikirkan nya. Penjaga itu bukankah masih terlalu muda untuk menjadi penjaga sekolah. Aku sempat berpikir sebenar nya dia pelajar Barbedose. Ah, sangat di sayangkan wajah tampan, dan surai ikal yang semakin menampak kan ketampan nya benar-benar sangat di sayangkan. Dan tinggi nya itu, tinggi nya kenapa bisa hampir sama seperti pagar Barbedose?.

 

“ Dasar bodoh. ” Penjaga itu kembali menyeringai. Dia bilang apa tadi, aku bodoh? Bodoh? Bagaimana mungkin dia memiliki mulut berbisa seperti itu?. Hey, hey api nya, jangan kau dekatkan tubuhmu dekat dengan aku. Api itu bisa membakar aku bodoh.

 

“ Api–ku tak akan membakar mu, kecuali aku ke–hendaki. Jadi, santai saja. ”

 

“ Apa kau takut dengan api–ku? Aku kira kau akan tertarik. Baik akan aku sembunyikan. ”

 

Seketika api itu hilang. Bagaimana cara dia mematikan nya? Aku tak melihat air yang membahasi tubuh nya. Aneh.

 

“ Aku mempunyai kemampuan khusus untuk memunculkan api di dalam tubuh–ku atau sebalik nya. Dan aku tak akan bisa terbakar. Karena api tersebut sudah menyatu dalam raga–ku. ”

 

Aku bisa gila, penjaga sekolah tidak memiliki kemampuan khusus membaca pikiran orang lain. Jadi, darimana ia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan?! Sialan.

 

“ Bukankah aku sudah bilang, di kening mu sudah tertulis jelas apa yang ada di dalam pikiran mu. ”

 

Memang nya di kening–ku ada tulisan ya? Baik-baik akan aku hapus sehingga kau tak bisa melihat nya lagi. Aku kembali mengikuti nya. Dan kau tau? Sedari tadi yang ku–lihat hanya trowongan besar, gelap sedikit mendapatkan cahaya dari lampu lampion yang di pajang di atas trowongan. Jadi begini, wujud asli barbedose jauh berbeda dari luar nya.

 

 

“ Kau adik Aiden bukan? Berapa umurmu?. ” Setelah tingkah nya yang konyol, seringai menyebalkan. Dari mana lagi ia tau aku adik Aiden?. Dan dia bertanya umur–ku? Hey tuan, aku jauh lebih muda dari mu.

 

“ Darimana kau mengetahui Aiden?. ”

 

“ Aiden adalah senio–, ”

 

“ Eh–maksud–ku aku sudah mengenal Aiden karena dia sering berkunjung ke–sini. Tentu saja aku sebagai seorang penjaga sekolah sudah sangat familiar dengan kakak mu itu. Hm–ya begitu–lah. ” Ia tersenyum kikuk. Alih-alih kembali menampak kan seringai nya lagi. Oh pagar Barbedose, harus berapa kali aku katakan seringai mu itu jauh lebih jelek ketimbang Aiden. Sekali lagi kau menampakkan nya percayalah akan ku–tendang kau.

 

“ Oh ya, kau belum menjawab berapa umur mu. Jadi, berapa umur mu nona. ”

 

“ 16 tahun. ”

 

“ Woah, di lihat dari wajah mu kau sama seperti nenek-nenek berusia 100 tahun. ”

 

Brengsek. Ingin sekali aku menendang bokong penjaga sialan. Sedari tadi yang hanya ia lakukan menghina–ku, dan terus menghina–ku. Aiden, aku butuh bantuan mu sekarang. Aku ingin kau mencabik-cabik mulut penjaga sekolah. Sial.

Wajah tampan, tapi mulut nya busuk. Matilah kau, menyebalkan.

 

“ Hanya bercanda. Nah, kau sudah sampai. ” Aku melirik dia sejenak. Lalu memusatkan mata pada pandangan di depan. Seketika nafas–ku tercekat. Bukan, bukan karena pasokan oksigen sudah habis. Pemandangan liang neraka sungguh luar biasa. Jauh sangat indah dari pada dekorasi sebelum aku memasuki trowongan. Mengesankan jika di banding sekolah–ku dulu, Petry.

 

Dekorasi kuno yang menghiasi gedung sekolah berhasil membuat aku tersenyum. Benar kata Aiden, sesungguhnya Barbedose seperti surga. Bangunan Barbedose terbagi tiga. Kurasa yang paling tengah sana itulah sekolah nya. Dan dua di antara nya pasti asrama murid Barbedose. Juga, di sini terdapat taman bunga rose bermacam warna. Darimana mereka tau aku suka rose?.

.

 

Tepat di ujung pembatas sana terdapat pagar besi yang membatasi antara Barbedose dan hutan kapas, aku bingung kenapa di tengah hutan kapas ada kolam yang air nya berwarna merah. Dan bau nya itu, terlalu amis.

 

“ Indah bukan?!. Tapi, ini masih bangunan luar nya saja. Sebenarnya saat memasuki kelas dan mengikuti pelatihan setiap hari ahad maka kau akan merasakan liang neraka yang sesungguh nya. ”

 

Aku menoleh kearah penjaga bersurai ikal itu. Mengapa ia begitu suka mengacaukan imajinasi–ku. Aiden tolonglah …

 

“ P. Chanyeol, berani-berani nya kau kabur dari kelas memanah, mematahkan panah profesor Grap, dan sekarang menyamar sebagai penjaga sekolah, menipu murid baru. Apa kau ingin aku hukum?. ” Aku kaget. Melihat pria tua berambut gimbal dengan tongkat, memukul punggung penjaga sekolah.

 

Kau tidak boleh melakukan tindak asusila itu tuan. Jadi, dia menipu–ku berpura-pura menjadi penjaga sekolah lalu kabur dari kelas memanah. Dan penjaga sekolah yang asli adalah Tn. Work? Aku melihat nama nya di jubah kiri yang ia pakai. Aku tertipu? Lagi dan lagi?

 

Oh Tuhan, Aku kesal, jauh lebih menyebalkan daripada di tertawai Aiden. Aku ingin pulang. Siapapun tolong bantu aku pulang ke–rumah. Berani-berani nya bocah tengik yang ternyata pelajar Barbedose menipu–ku. Pantas saja, ia mengetahui kakak–ku, Aiden. Seharusnya aku bisa menyadari itu.

 

Kepala–ku, kepala–ku mau pecah. Tuhan … penyambutan hari pertama di Barbedose sudah membuat emosi–ku meradang. Penjaga gadungan tamatlah riwayat mu, kau harus menunggu sampai aku selesai mengurusi administrasi–ku. Akan kubuat tubuh tinggi mu itu menjadi bola-bola daging makanan anjing peliharaan Aiden di rumah. Bersabarlah menunggu kematian mu tuan P. Chanyeol.

 

 

 

***

 

PETLOVPETRY, Barbedose.

 

Setelah penipuan yang di lakukan siswa barbedose, P. Chanyeol. Yang ku–ketahui dari Tn. Work aku bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa setelah ini mungkin nasib sial–ku akan terus berlanjut bahkan lebih parah. Penyambutan pertama saja sudah tampak begitu jelas kemungkinan besar nya.

 

Aku menghempas tubuh–ku pada ranjang kamar–ku di asrama. Sebenarnya, ini tidak tepat di sebut ranjang. Hanya beberapa potong bambu yang di jadikan satu menjadi alas tempat tidur. Sangat tidak nyaman untuk di tepati. Jadi, ini alasan mengapa Aiden sering mengeluh mengenai tidur nya yang kurang baik di asrama Barbedose.

 

Menangis, itulah yang aku lakukan sekarang. Bayangan mengenai masa depan yang suram, kesepian, jauh dari orang tua sama seperti tinggal di panti.

 

Aku mengedarkan pandangan ke–seluruh ruangan kamar–ku ini. Tiada satupun yang istimewa, ranjang terbuat dari bambu, dinding kamar yang di lapisi batu bata, lemari pakaian tampak seperti penyimpanan barang bekas. Sungguh, tidak ada yang istimewa. Tapi, ada satu yang harus aku syukuri dari tempat ini, setidaknya kamar mandi asrama masih bisa di katakan layak pakai.

Aku meringkuk, menangisi diri. Ah, sakit … bambu-bambu itu menyakiti badan–ku. Letak nya yang jarang dan dingin benar-benar menambah derita–ku. Percuma saja bangunan nya elegan, tapi kamar asrama sama seperti penjara.

 

Alas untuk kepala saja tidak ada. Terpaksa aku harus mengambil beberapa helai pakaian untuk menjadi ganjalan. Musim dingin yang awal nya begitu aku sukai kini menjadi periotas yang sangat ku–benci. Dingin nya itu sampai menusuk tulang, ah aku baru ingat musim dingin di Barbedose sama seperti saat kau berada di kutub utara, di mana suhu nya bisa membekukan tubuh mu. Aku tidak tau mengapa Barbedose berbanding terbalik dengan semua yang terjadi di Oetlovpetry. Barbedose bagaikan planet asing yang aneh.

 

 

***

 

 

Pagi itu aku bangun lebih awal, subuh hari aku sudah terbangun. Sebenarnya aku tidak tidur, melainkan menangisi kemalangan yang menimpa–ku. Aku berencana untuk berjalan-jalan mengelilingi Barbedose. Aku keluar dari kamar asrama. Asrama Barbedose begitu sepi, bisa ku–lihat pintu-pintu kamar belum satupun ada yang terbuka. Mungkin mereka enggan bangun di pagi yang begitu dingin. Kueratkan mantel bulu terbaik yang kupunya. Menghirup dalam aroma segar subuh hari.

 

Embun yang biasa nya kuminum saat bangun tidur, kini sangat terasa basah di telapak sepatu yang ku–pakai. Rumput-rumput di Barbedose begitu terawat, untuk sekedar menginjak nya saja aku tidak tega. Ah … sepi sekali, padahal suasana seperti ini sangat cocok untuk berolahraga sejenak.

 

Oh ya, Tn. Work bilang sekolah hari ini libur, karena kepala sekolah akan rapat bersama jenderal-jenderal besar di Petlovpetry. Dan ini kesempatan–ku untuk menjelajahi Barbedose, sebelum masuk sekolah esok hari.

 

Kulangkahkan kaki tepat di gedung sekolah. Gedung yang tinggi nya menjulang kelangit sebenarnya hampir sama seperti sekolah–ku dulu, di Petry. Hanya saja asitektur klasik nya yang membuat gedung sekolah ini berbeda. Aku menikmatin ya, di tambah lagi wangi bunga rose yang menyengat. Ah, sial. Pintu gedung di kunci, pasti karena sekolah libur satu hari makanya Tn. Work mengunci nya.

 

Aku mengistirahatkan kaki–ku di bangku panjang yang terletak tepat depan hutan kapas. Suasana masih gelap, dan terlalu pagi. Aku merutuki betapa bodoh nya aku nekat keluar dalam suasana gelap seperti ini. Tuhan … aku jadi merindukan rumah. Biasa nya jika hari libur, subuh hari aku akan membantu ibu memetik beberapa tanaman obat di kebun herbal untuk keperluan di klinik.

 

Aku baru saja akan beranjak, kembali ke–asrama. Tapi, siur suara rintihan menyapa gedang telinga–ku.

“ Tolong … ”

 

Sial, bulu kuduk–ku meremang. Tiada satupun orang di sini, lalu itu siapa …

“ Tolong aku … ”

 

Hantu?. Tidak, tidak. Tiada hantu di pagi hari, ibu sudah mengatakan itu berkali-kali. Jadi, tiada yang perlu aku takuti.

 

Di ujung sana hutan kapas yang di pagari tiang besi dan dalam nya terdapat kolam berwarna merah, di tengah nya muncul cahaya temaram yang mampu membuat tubuh–ku panas dingin. Cahaya itu semakin mendekat dan memudar menampak kan sesosok makhluk tak kasat mata. Tidak, bukan hantu melainkan sosok berwujud vampire. VAMPIRE?. Jantung–ku berdegup kencang, Takut. Aku takut bayangan nya begitu menakutkan, aku harus segera lari sebelum vampire itu menghisap habis darah–ku.

 

Kaki–ku, oh kaki–ku, kenapa bergerak sendiri?. Hey, berhenti jangan mendekati pagar besi. Oh jangan, jangan, tolong siapapun hentikan kaki–ku ini. Aku tidak menyuruh nya untuk berjalan kekolam. Ya … tuhan. Sakit, seluruh tubuh–ku tak bisa di gerakkan.

 

 

 

Vampire menyeringai, menampak kan kedua taring nya yang berliuran darah. Mata merah nya itu melotot telak kearah–ku. Demi tuhan, aku belum ingin mati. Jika, Kalaupun memang hari ini ajal–ku, aku tak ingin mati konyol di gigit vampire.

 

 

“ Kau santapan–ku pagi ini, Alena Azh… ”

 

 

 

 

 

 

 

-TBC-

 

 

Annyeong Haseyo ketemu lagi dengan saya Badratun Navis imnida h3h3(?) okay, thank ya yg sudah baca dengan ff ku yg gaje bin aneh bin jelek ini hehehe XD so, sekali lgi terima kasih buat yg sudah baca ff ku ;)) maaf ya part ini luhan nya belum muncul, inikan masi pengenalan dlu sama si alena yg benasib sial XD next part muncul kuq :””” ohya! Ff ini pernah aku post difb ku sendiri, juga di wordpress milik ku, jdi ini pure punya ku ya ;)) jika ingin mampir ke wordpress ku bisa berkunjung disini >>

http://lostpeterpan.wordpress.com

 

 

Iklan

10 pemikiran pada “Love in Barbedose (Chapter 1)

  1. Akhirnya nemu ff fantasi yang saya harapkan. Wow, keren banget penggunaan nama-namanya. Penasaran author bisa dapet inspirasi darimana.
    Ditunggu lanjutannya asap! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s