Full Moon (Chapter 1)

Title: FULL MOON [Part 1]

Author: Myka Reien

Main Cast: EXO member (the couple will appear later)

Genre: Drama, Supernatural

Rate: T, GS

Lenght: Multichapter

Note: No bash, no flame, no peanut please~^^ Let’s be a good reader and good shipper~^^

HAPPY READING 뿅~뿅~

.

.

.

FULL MOON

[Part 1]

.

.

.

Kyungsoo’s POV

Aku benci musim dingin. Dari semua musim yang ada di dunia ini aku paling benci musim dingin. Kenapa harus ada musim dingin sih? Bukannya musim dingin itu musim yang paling mematikan? Suhu yang rendah di permukaan bumi dan tanah yang tidak produktif karena terlapisi es, bahkan binatang yang memiliki perlindungan tubuh alami seperti beruang dan tupai saja memilih untuk tidur panjang. Kenapa manusia yang memiliki kulit tipis tanpa apa-apa malah berani menantang alam? Dan apalagi itu yang bilang kalau musim dingin adalah musim yang romantis, berjalan-jalan berdua sambil bergandengan tangan di bawah siraman salju christmas eve. Dimana-mana musim untuk kawin kalau tidak musim semi ya musim panas. Aneh…

Yahh…walaupun ‘ku akui, kebencianku pada musim dingin adalah karena masalah pribadi, tapi tetap saja bagiku musim dingin yang romantis itu nonsense. Tidak ada sesuatu yang muncul, tumbuh, dan bersemi di tanah yang membeku. Tidak ada yang namanya kehangatan di bawah guyuran salju. Tidak ada apapun yang akan bertunas dari bawah tumpukan es selain air hambar yang meleleh dan hilang ke dalam tanah. Tak ada apapun. Musim dingin tidak menyisakan apapun. Untukku.

-o0o-

Author’s POV

“Kyungsoo-ya! Bangun!” teriak seorang yeoja membuat gundukan selimut di sebuah tempat tidur bergoyang-goyang. Tangan putih menjulur keluar mencari-cari jam yang tergeletak di rak tak jauh dari ranjangnya. Jam mungil dengan bentuk anjing putih itu dibawa ke bawah selimut disambut oleh suara desisan panjang.

Selimut tebal yang sudah mirip seperti kulit pembalut lumpia saking rapatnya membungkus tubuh di bawahnya itu kembali bergerak perlahan. Dengan masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, seorang yeoja bangkit dari posisi telungkupnya dan duduk mengumpulkan kesadaran.

“Kyungsoo-ya…!” nada tinggi yang dibarengi dengan suara pintu terbuka tersebut seketika teredam saat sang pemilik suara melihat adik perempuannya sudah duduk di tempat tidur dengan rambut berantakan dan mata masih setengah terpejam.

“Bangunlah, sudah jam tujuh,” ujar Lay.

“Hm.” Kyungsoo mengangguk-angguk dengan mata belum terbuka sepenuhnya.

“Cepatlah atau kau akan terlambat ke sekolah.” Lay kembali memperingatkan sambil menutup pintu kamar adiknya.

Kyungsoo menguap lebar seraya menjatuhkan badan ke atas kasurnya yang empuk dan hangat. Kembali ia bergelung dengan selimut motif puppy-nya dan hampir menutup mata kalau saja suara Lay tidak melengking menyamai suara petasan.

“Aku tidak mau ke sekolah,” rengek Kyungsoo begitu tiba di ruang makan. Seragam sekolah sudah terpasang rapi di tubuh mungilnya dan tas berada di tangannya. “Dingin sekali di luar,” sambungnya memelas.

“Mana ada orang yang tidak mau ke sekolah tapi sudah rapi begitu,” balas Lay sambil sibuk mengolesi roti dengan selai.

“Kalau Unnie bilang ‘jangan ke sekolah’ aku tidak akan berangkat,” kata Kyungsoo.

“Benarkah?” tanya Lay sanksi.

Kyungsoo mengangguk dengan wajah yakin.

“Baiklah, tapi kau harus melepas seragam itu di sini ya.” Sambil bicara begitu, Lay mengeluarkan ponselnya dan siap dalam mode video record.

“Unnie! Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku!?” Kyungsoo berteriak frustasi dengan nada suara manja.

Lay tertawa senang karena merasa sudah berhasil menjahili adik kecilnya.

“Makanlah sarapanmu dan segera ke sekolah. Aku ada jadwal pemotretan pagi ini,” ujar Lay menyodorkan beberapa lapis roti ke hadapan Kyungsoo.

“Apa Unnie akan pulang malam lagi?” tanya Kyungsoo setelah menelan gigitan pertamanya.

“Entahlah.” Lay mengangkat bahu. “Tapi pastikan pintu terkunci sebelum kau tidur. Jangan seperti kemarin! Bisa-bisanya kau tidur tanpa mengunci pintu. Bagaimana kalau ada penjahat yang masuk dan mencuri makanan?”

Kyungsoo nyengir.

“Sudah cukup aku saja yang pelupa, kau jangan ikut-ikutan.” Lay menasehati disambut anggukan cute oleh adiknya.

“Aigoo, adikku kyeopta~” dengan gemas Lay mencubit kedua pipi tembem Kyungsoo dibalas aegyo oleh gadis itu.

“Kyaa~! Unnie~~!” Kyungsoo membuat suaranya menjadi kecil seperti suara anak-anak.

Lay tertawa sambil mengusap rambut hitam Kyungsoo dengan sayang.

Selesai sarapan, Kyungsoo berlari ke arah beranda untuk memakai sepatunya. Lay mengambil kamera yang tergeletak di atas meja ruang tamu dan mengikuti adiknya.

“Kyungsoo-ya,” panggil Lay sambil mengarahkan kamera ke sosok adiknya yang sibuk memakai syal dan jaket.

Kyungsoo menoleh dan langsung tersenyum manis dengan tangan membentuk V sign.

Blitz, terdengar suara shutter kamera Lay. Yeoja itu memandang gambar hasil jepretannya dan tersenyum puas.

“Aku berangkat!” pamit Kyungsoo.

“Hati-hati di jalan,” balas Lay sembari berbalik akan menuju dapur.

“Unnie!!” tiba-tiba terdengar jeritan Kyungsoo dibarengi dengan suara pintu yang dibanting.

“Ada apa? Ada apa?” Lay tergoboh-goboh kembali ke beranda dan melihat adiknya berdiri mengusap-usap kedua tangan mungilnya.

“Di luar dingin sekali,” cicit Kyungsoo membuat Lay melongo.

-o0o-

Revolusi bumi masih berada di jalur peredaran awal bulan November, namun angin yang berhembus sudah terasa menusuk kulit dan hampir setiap harinya langit dihiasi oleh mendung tipis. Bahkan dalam satu minggu hujan bisa turun sampai lima kali. Ketidak teraturan perubahan musim dan cuaca seperti ini memang cukup merugikan, terutama bagi orang yang benci dingin seperti Kyungsoo. Biasanya dia mulai ‘bertarung’ melawan hawa dingin di pertengahan November hingga awal April. Namun sepertinya jadwal rutin itu harus sedikit bergeser dan molor lebih panjang.

Kyungsoo merapatkan tangan yang sudah bersedekap memeluk tubuhnya sendiri dan mempercepat jalannya ke arah sekolah yang berjarak hampir 1 km dari apartemennya. Udara pagi ini lebih dingin akibat hujan yang turun semalam, bahkan sinar matahari hampir tak terlihat di langit karena adanya kabut yang menggelayut bagai selambu raksasa. Dalam hati Kyungsoo merutuki rok pendek seragam sekolahnya, membuat sepasang kakinya nyaris mati rasa karena kedinginan.

“Selamat pagi, Wakil Ketua!” sebuah suara berat menyapa Kyungsoo dengan ramah disusul dengan suara decitan rem.

Seorang namja berperawakan tinggi menghentikan laju sepedanya tepat di sebelah Kyungsoo, dia menatap yeoja mungil itu sambil tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi seperti tentara berbaris. Untuk sesaat Kyungsoo tertegun melihat namja itu.

“Chanyeol-ah, benarkah ini kau?” Kyungsoo nampak kaget, tidak percaya melihat teman sekelasnya sudah berada di sebelahnya seperti penampakan.

“Ini benar-benar aku, Wakil Ketua. Kenapa cara bicaramu begitu?” wajah Chanyeol terlihat tidak suka.

Kyungsoo tertawa, “Mian, mian. Jarang sekali aku melihatmu sudah berseragam sepagi ini. Aigoo, mimpi apa aku semalam sampai-sampai uri Chanie tidak terlambat ke sekolah hari ini,” puji Kyungsoo sambil menepuk-nepuk lengan Chanyeol, sebenarnya dia ingin menepuk bahu namja itu tapi pundak Chanyeol berada di titik yang tak terjangkau oleh tangannya.

Chanyeol tersenyum sumringah mendapat pujian dari Wakil Ketua kelasnya.

“Ah, Wakil Ketua, kau mau ke sekolah ‘kan? Mau bareng?” Chanyeol menawarkan tumpangan.

Kyungsoo melihat bentuk sepeda Chanyeol yang tidak memiliki boncengan di belakang.

“Kau tidak akan menyuruhku untuk duduk di situ ‘kan?” Kyungsoo menunjuk besi yang menghubungan pedal dengan pegangan tangan sepeda, lokasinya persis berada di depan dada Chanyeol.

“Wakil Ketua keberatan?” sahut Chanyeol polos. “Bagaimana kalau di belakang?” namja itu menunjuk roda belakang yang memiliki besi tempat pijakan kaki di porosnya.

Kyungsoo manyun sebentar. “Baiklah,” ujarnya membuat temannya kembali tersenyum lebar. Lumayan daripada berjalan kedinginan, batin Kyungsoo.

“Pegangan yang kuat, Wakil Ketua!” pesan Chanyeol, posisi tubuhnya sudah seperti pembalap sepeda gunung.

“Ya! Jangan mengebut! ‘ku cekik kau kalau mengebut!” ujar Kyungsoo berpegangan pada kedua pundak temannya.

“Hati-hati rokmu!” kata Chanyeol di kayuhan pertamanya.

“YA! Park Chanyeol!” seru Kyungsoo hebring ketika sepeda melaju cepat menembus kabut yang mulai menipis menyisakan embun yang menempel di permukaan kulit dan kaca.

-o0o-

Waa…waa…waa…

Suasana kelas begitu gaduh saat Kyungsoo menginjakkan kaki di ruang kelasnya, kelas 2-2. Hampir semua warga kelas mengeluarkan suara dan berlarian mengelilingi ruangan seperti gasingan.

“Ya! Kau sudah berangkat juga!?” seru Chanyeol yang masuk setelah Kyungsoo, suaranya yang bass sempat mengagetkan yeoja itu.

Chanyeol berlari ke deretan bangku paling belakang dan melakukan high five dengan beberapa namja lain yang penampilannya sama-sama berantakan seperti dia.

“Mana Kai?” tanya Chanyeol pada seorang temannya.

“Jangan tanya kalau soal dia sih,” jawab Tao sambil melakukan gerakan seperti memotong lehernya sendiri.

“Wahh, kau tidak bangunkan dia lagi?” tuding Chanyeol pada Tao yang mengangguk bangga. “Kerja bagus!” sambungnya dengan tawa girang.

“Kau berangkat bersama Wakil Ketua?” tanya Tao seraya mengendus-endus tubuh Chanyeol seperti seekor anjing.

“Iya, kami berpapasan di jalan. Benar ‘kan, Wakil Ketua?” Chanyeol melempar pertanyaan pada Kyungsoo.

Kyungsoo menjawab dengan anggukan. “Aku senang kalian tidak terlambat hari ini. Kalau kalian seperti ini selama seminggu, aku yakin poin kalian pasti naik.” Kyungsoo mengacungkan kedua jempol tangannya.

“Kalau kau menjanjikan hal lain selain poin, aku pastikan aku tidak akan terlambat selama sebulan,” janji Tao.

“Benarkah? Apa itu?” tanya Kyungsoo penasaran.

“Temani aku tidur selama sebulan. Jadi kau akan bisa membangunkanku tiap pagi selama sebulan.” Suara Tao merendah dengan desisan seksi ditambah bonus kedipan sebelah matanya.

Kyungsoo melotot. “GILA!” umpatnya membuat Tao dan Chanyeol tertawa bersama-sama.

“Kau lihat wajahnya? Kau lihat wajahnya tadi waktu marah?” Tao bertanya pada Chanyeol yang kegirangan.

“Kyeoptaaa~~~!” koor dua namja tersebut serempak lalu terbahak-bahak, sementara Kyungsoo hanya bisa memonyongkan mulut menahan kesal karena berhasil dikerjai (lagi) oleh duo usil itu.

Drrt, drrt, sesuatu bergetar di dalam saku jas sekolah Kyungsoo. Yeoja itu mengambil ponselnya dan mendesis membaca sms yang masuk. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah seorang namja yang duduk di deretan bangku nomor dua dari belakang, yang dengan tenang (terlihat seperti) membaca buku tanpa mempedulikan keributan di sekitarnya.

Kepala Sehun bergerak melepaskan pandangan dari deretan kalimat yang sedari tadi ditekuninya ketika sebuah layar ponsel teracung tepat di depan hidungnya.

 

Luhan Sonsaengnim : Kyungsoo-ya, guru sedang ada pekerjaan di kantor. Untuk homeroom kali ini tolong kau dan Ketua Oh yang urus ya. Terima kasih^^

 

Selesai membaca sms di hape Kyungsoo, Sehun kembali menatap ke lembaran bukunya tanpa mengatakan apa-apa.

“Ketua, tidakkah kau harus melakukan sesuatu?” tanya Kyungsoo sambil berjongkok meletakkan dagu di meja Sehun.

“Yang dikirimi sms ‘kan kau,” jawab Sehun datar.

“Apa kau tidak membaca kalau namamu juga tercantum?” kejar Kyungsoo.

Sehun menghela napas panjang dan menutup buku di tangannya, dia berdiri menegakkan tubuhnya yang menjulang lantas bergerak keluar dari balik mejanya. Kyungsoo mengikuti Ketua Kelasnya dari belakang dengan senyum tersungging.

Sehun berhenti di belakang meja guru, berdiri dengan mulut tipis yang menutup rapat, menatap menyeluruh ke teman-temannya yang entah sejak kapan sudah duduk tertib di kursi masing-masing tanpa ada suara sedikitpun, seolah mereka semua sedang menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut sang Ketua Kelas. Kyungsoo yang melihat kenyataan teman-temannya yang tadi begitu ribut seperti ayam lepas dari kandang dan sekarang mendadak sudah tenang, hanya bisa melongo.

Sejak kapan mereka diam? Batin Kyungsoo takjub. Lalu matanya mengarah pada Sehun dengan kilat seribu tanya.

Apa memang karisma Ketua Kelas sehebat ini? Pikirnya kagum.

“Pagi ini Xi Sonsaengnim tidak bisa hadir untuk sesi homeroom. Jadi kita akan mendiskusikan sesuatu untuk mengisi waktu,” ujar Sehun membuka suara. “Apa ada komplain?”

Kyungsoo mengangkat tangan, mencuri perhatian Sehun dan seisi kelas.

“Bagaimana kalau kita lanjutkan diskusi kita tentang persiapan perayaan natal?” tanya Kyungsoo mengangsurkan topik.

Sehun mengangguk-angguk. “Ide bagus. Kita belum mendapat kesepakatan untuk itu,” ujarnya.

“Mengenai perayaan natal yang diagendakan untuk seluruh siswa di kelas ini, apa ada masukan?” Sehun beralih pada teman-teman sekelasnya.

“Ketua.” Seorang siswa mengangkat tangannya. “Selama aku hidup, aku belum pernah merayakan natal tanpa keluargaku. Aku takut aku tidak bisa ikut event ini,” keluhnya disambut sorakan orang sekelas. Suara Chanyeol dan Tao yang paling mendominasi.

“Kau pikir berapa umurmu sekarang? Bagaimana bisa kau masih bersembunyi di ketiak Ibumu? Anak mami! Anak mami!” ledek Tao.

“Culun! Culun!” sambung Chanyeol.

“Bukan begitu! Tapi semua keluargaku akan berkumpul waktu natal!” bela siswa yang disoraki dengan ekspresi hampir menangis.

“Ketua.” Siswa lain mengangkat tangannya. “Aku sepertinya juga tidak bisa. Setelah aku pikir-pikir, rasanya aku ingin melewatkan natal di rumah saja. Mianhe…”

“Aku juga tidak diijinkan Umma-ku, Ketua.” Suara-suara penolakan mulai bermunculan.

“Kenapa sekarang kalian jadi mundur? Padahal kemarin kalian begitu bersemangat,” tanya Kyungsoo heran melihat sikap teman-temannya.

“Mau bagaimana lagi, Kyungsoo-ya. Rata-rata kami belum boleh keluar malam karena kami masih 17 tahun,” sahut seorang yeoja yang tempat duduknya paling dekat dengan meja guru.

“Bukankah kalian sudah berkali-kali menginap di luar karena event sekolah tahun-tahun kemarin?” bantah Kyungsoo.

“Itu karena event sekolah. Sementara ini ‘kan event kelas, tidak ada persetujuan resmi dari pihak sekolah. Sulit untuk mendapatkan ijin,” tukas siswi yang lain diamini oleh teman-temannya.

Kyungsoo mengangguk-angguk. Kemudian dia beralih memandang Ketua Kelasnya yang masih diam melihat kegaduhan yang ada.

“Ketua, bagaimana? Kalau begini, rencananya bisa gagal,” desis Kyungsoo.

Sehun menghela napas sebelum bicara.

“Baiklah.” Seisi kelas serempak diam begitu suara Sehun terdengar. “Pikirkan baik-baik apakah kalian akan ikut acara ini atau tidak. Batas waktunya sampai minggu depan. Jumlah orang yang ikut tidak akan merubah rencana sama sekali. Kita tetap akan mengadakan perayaan natal di Pyeongchang dan menginap selama 3 hari 4 malam. Sekian.”

“Jadi, berapapun orang yang ikut, acara ini akan tetap berjalan?” tanya seorang namja.

“Benar. Karena pembiayaan acara ini dari individu dan vila juga vila pribadi keluargaku, transportasi juga sudah disediakan dari sana. Jadi banyak atau sedikit yang ikut tidak akan merugikan keuangan kelas,” jelas Sehun.

“Benar itu. Kalian membawa uang hanya untuk bermain dan bersenang-senang untuk diri kalian sendiri tanpa harus memikirkan soal bus, makan, tidur, dan mandi. Supir bus pribadi, makan mewah, kamar luas, bahkan ada perlengkapan ski dan lain-lain. Yang tidak ikut bakal rugi sampai mati!” Chanyeol memprovokasi.

“Jarang-jarang Ketua Kelas begini baik lhooo…!” imbuh Tao menciptakan aura kebimbangan sampai ke sudut kelas, membuat kelas ribut kembali.

“Ketua.” Siswa yang tadi pertama mengangkat tangan, kembali mengangkat tangan.

“Waktu berpikirnya masih sampai minggu depan ‘kan?” tanyanya agak malu.

Sehun mengangguk menuai senyum lega dari teman-temannya.

“Jika tidak ada pertanyaan lagi, sesi diskusi kita tutup…”

Sreek, suara pintu digeser menghentikan kalimat Sehun. Seorang wanita muda berdiri di luar pintu kelas dan menunduk sekilas meminta maaf karena sudah mengganggu acara.

“Kyungsoo-ya, sini.” Luhan melambaikan tangan sambil berbisik.

“Naega?” Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri dijawab anggukan oleh wali kelasnya.

Segera Kyungsoo berjalan ke arah pintu. Sebelum menutup pintu, mata Luhan sempat bertemu dengan mata Sehun yang lurus menatapnya. Terlihat ada kecanggungan di mata guru muda itu dan sebelum dia jadi salah tingkah dia segera menutup pintu. Melihat pintu yang ditutup terburu-buru, Sehun hanya bisa menyembunyikan kekecewaannya.

-o0o-

“Ada apa, Sonsaengnim?” tanya Kyungsoo. Tidak biasanya Luhan yang paling sensitif pada murid yang bolos atau meninggalkan kelas, mendadak memanggil sendiri muridnya untuk keluar. Pastilah dia punya motif yang kuat di balik sikapnya itu.

“Mianhe, Kyungsoo-ya. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus mengapakan anak itu,” ujar Luhan dengan wajah menyesal.

Kyungsoo terdiam sejenak lalu matanya membelalak seolah tahu arah pembicaraan gurunya.

“Ah, Sonsaengnim, waee!?” suara Kyungsoo langsung berubah protes.

“Mianhe.” Luhan menyatukan kedua tangannya di depan wajah baby face-nya. “Sekali ini saja, Kyungsoo-ya. Ne? Aku tidak tega kalau harus menyerahkannya ke guru BP. Sekali ini saja. Jebal…” pinta Luhan dengan muka memelas.

“Sonsaengnim…” ekspresi Kyungsoo jauh lebih melas dari gurunya namun tetap saja badannya digiring Luhan ke depan pintu ruang BP.

“Jika dia ketahuan tidak berbaju rapi, hukumannya akan lebih berat,” cicit Luhan.

“Andweyo, Sonsaengnim. Sonsaengnim tahu sendiri dia orang yang sangat keras kepala,” rengek Kyungsoo.

“Arasseo, ara. Tapi aku tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi. Kau ‘kan Wakil Ketua…”

“Ketua Kelas? Bukankah ada Ketua Oh?” potong Kyungsoo.

“Aku tidak percaya padanya,” tukas Luhan. “Mereka satu geng. Bagaimana bisa aku percaya pada Ketua Oh?” suara Luhan berubah tegas.

“Sekali ini saja. Ne, Kyungsoo-ya?” guru muda itu kembali merajuk pada muridnya.

Kyungsoo mendengus sesaat lalu kepalanya mengangguk, tidak tega pada gurunya yang memang sudah pasti sangat lelah mengurus murid badung satu itu. Walaupun Kyungsoo sendiri merasa tidak ikhlas dalam hati.

Melihat anggukan Kyungsoo, Luhan langsung bersorak.

“Terima kasih, Kyungsoo-ya. Aku tahu kau memang muridku yang paaaling manis dan bisa diandalkan! Uri Kyungsoo kyeopta~!” Luhan memegang kedua pipi siswanya dengan senang.

“Kalau begitu aku akan buatkan ijin keluar untukmu. Jangan terlambat di kelas bahasa Cina nanti ya,” pamit Luhan lalu berjalan pergi meninggalkan Kyungsoo dengan langkah-langkah ringan.

Kyungsoo memandang punggung sempit gurunya sambil mengulum senyuman geli. Usia guru itu sudah hampir 25 tahun tapi sikapnya masih lincah dan ceria seperti anak remaja. Bahkan wajahnya yang baby face membuat banyak orang tak percaya bila dia sudah mencapai umur seperempat abad.

Kyungsoo berbalik menatap pintu ruang BP yang berdiri kokoh laksana pintu benteng pertahanan. Gadis itu menarik napas dalam-dalam seperti mengumpulkan keberanian dan tangannya perlahan meraih pegangan pintu. Dengan napas tertahan dia memutar knop dan mendorong pintu ke dalam.

-TBC-

Will be continued in [Part 2]❤

Ada kesan, pesan, saran, & kritik?

Please support me with your comment and review below^^

Hamsahamnida~ *bow*

NB: FF ini pernah di-publish di www.fanfiction.net a/n author Myka Reien

Iklan

7 pemikiran pada “Full Moon (Chapter 1)

  1. Annyeong author~ aku reader baru niih, salam kenal ^^
    Kyaa~ aku suka banget jalan cerita ff ini thor. Semua couple terbooming sepanjang abad(?) ada 😀
    Kira2 luhan menyuruh kyungie utk apa yaa? Blm jelas, semakin membuatku penasaran.
    Lanjut baca yaaa 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s