Problem (Eks-Jongdae)

Title: Problem (Eks-Jongdae)

Author: yixingprincess

Genre: School life, family, lil’ bit romance maybe? OTL

Lenght: Short story

Maincast: Luhan, Oh Sehee (OC), Jongdae

 Problem

Happy Reading

 

To                  : ohseheesama@xxxxx.com

From             : chenchen0921@xxxxx.com

Subject          : Urgent!

 

Oh Sehee ku yang cantik bak Sailor Moon. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau di opname. Luhan yang bilang. Beberapa puluh menit berselang setelah UTS terakhir yaitu pelajaran olahraga, kau jatuh pingsan dan dibawa ke UKS oleh Baekhyun. Sejam kemudian kau dibawa pulang oleh ayahmu dan Suho. Sehun yang melihat kau di dorong di atas ranjang beroda milik UKS menuju lapangan parkir (dimana ambulan sudah menunggumu) sesegukan menahan air mata di sebelahnya. Luhan bilang ia benar benar tidak mengerti mengapa kau bisa seperti itu.

Apa katanya, darl? Benar kau depresi seperti kata Sehun dan Luhan?

Tahu tidak, aku diberi kesempatan untuk libur lebih awal ke Korea untuk menjengukmu! Empat belas hari lagi menuju natal, Sehee! Akhirnya aku bisa memelukmu lagi sambil tiduran di sampingmu! Kau di rawat di rumah sakit mana? apa dekat dengan rumah? Lantai berapa? Kamar nomor berapa? Apa kau berdua dengan orang lain atau hanya sendirian?

Kuharap cuaca Beijing hari ini sangat baik hingga aku bisa cepat sampai padamu.

Sebentar lagi aku jadi manusia burung. Jaga dirimu sampai aku datang ya, prajurit!

 

Aku mencintaimu. Chu~ ❤

 

Sehee dapat merasakan cairan itu masuk lewat nadinya, jarum yang tertusuk di pergelangan tangan kirinya terasa sakit saat dirinya menggerakan tangan tempat cincin kawinnya kelak tersemat.

Kenapa juga dirinya harus drop akibat UTS yang serasa berkepanjangan layaknya paceklik di musim kemarau?

Perawat yang tadi mengganti cairan infus itu sudah pergi meninggalkannya dalam kesunyian kamar rawat inap yang serba putih ini, hanya setangkai bunga matahari yang terlihat kontras disana.  Sehee bingung, setiap perawat itu akan ia ajak bicara, perawat itu hanya tersenyum simpul dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sehee hanya bisa mangap untuk sedetik dan kembali bungkam dibuatnya.

Setelah bertarung dengan mengapa, kepala Sehee berdenyut-denyut. Sehee kemudian memutuskan untuk tidur hingga waktu kunjungan Sehun malam nanti.

Sore hari di Seoul saat itu. Matahari mulai tergelincir ke barat, bersamaaan dengan arus lalu lintas yang padat merayap menuju rumah. Burung-burung yang tinggal di pohon besar di taman sebelah rumah sakit sesekali menjenguknya. Setali tiga uang dengan penasarannya mereka terhadap bunga kuning besar dalam vas bunga berukuran sedang tersimpan di kosen jendela dan melakukan aktifitas rutin yaitu menghangatkan bulu-bulu mereka.

Sehee lelah tidur terus. Ayahnya bilang pada dokter jika Sehee jangan dulu dipulangkan dari rumah sakit karena berdasarkan grafik penyembuhan Sehee ada masa dimana Sehee kembali sakit dan bertambah parah dari keadaannya sekarang. Sehee hanya bisa bersabar sekarang, kesibukan ayahnya sebagai General Manager di sebuah agen perumahan membuatnya tak bisa selalu berada di sebelah Sehee.

E-mail dari Jongdae sudah ia terima sejam lalu. Sehee hanya bisa tersenyum miris membacanya.

Benar, dirinya depresi. Depresi akibat banyaknya tekanan yang ada di kepalanya. Sebagai anak kembar yang apa-apanya terbagi, pikiran Sehun adalah pikiran Sehee juga. Namun sepertinya pikiran Sehee bukan bagian dari pikiran Sehun.

Apa yang harus Sehee lakukan? Lazimnya, orang yang banyak pikiran pergi liburan, tapi Sehee bukan tipikal orang seperti itu. Ia benar-benar rindu seperangkat PlayStation miliknya, juga Harvest Moon tahun ke empatnya.

Beberapa kawannya sudah banyak berdatangan membawa cheese cake atau sekeranjang buahan tropis kesukaannya. Ada juga yang sekedar membuat rusuh ruangan Sehee dengan banyolan seperti yang di lakukan Baekhyun dan Woojae tempo hari. Teman-teman ibunya di arisan komplek datang membawa beberapa novel teenlit baru, sebotol jus dan satu kotak sandwich tuna kesukaan Sehee, selesai berbasa-basi dengan Sehee mereka pindah ke sudut lain dan mulai bergosip dengan ibunya.

Tapi dari sekian banyak orang yang datang, ia belum melihat wajah Kim Jongin.

Kemana perginya Kkamjong yang biasanya menyuapi Sehee saat sakit di UKS atau datang ke rumah saat Sehun pergi les hanya untuk mengecek apa ada jerawat di dahinya. Ia yang datang saat Sehee butuh teman duel main PS, ia datang saat Sehee butuh lawan tanding bulu tangkis, ia datang saat Kyungsoo tidak ada bersamanya.

Oh, Kkamjong.

Sehee tak bisa bohong kalau dirinya benar-benar menginginkan Jongin, meski perlakuan Kyungsoo padanya nanti akan lebih kejam daripada perlakuan Jongin setiap ia bertemu dengannya jika tidak sendirian. Kyungsoo si Madam jahat itu pasti akan memarahinya dan Jongin. Atau lebih tepatnya ia akan memutuskan hubungan persahabatan sejak anak-anak itu.

Memang ini salah Sehee, kenapa juga ia harus ikut-ikutan menyukai objek orientasi seks-nya Kyungsoo. Tapi apa ini bukan salah Kyungsoo juga jika dirinya melibatkan Sehee dalam urusan percintaannya dengan Jongin terus menerus dulu?

Suara pintu terbuka. Ujung buket bunga tulip hitam menyembul dari sela-sela pintu.

“Mama?” bisik Sehee. Tenggorokannya kering dan perih. Ia baru sadar bahwa lupa minum sejak pagi. Ia kangen ibunya. Ibunya belum menjenguk Sehee hari ini, dan yang tahu Sehee menggilai tulip hitam hanya ibunya dan Kim Jongin.

Namun apa yang ia dapat sekarang adalah seorang laki-laki bersweeter tribal dengan muka kusam akibat selesai bertarung dengan kemacetan.

Sehee tersenyum lebar, memekik dengan suara serak. “Kim Jongin!”

Jongdae berada di dalam mobil Toyota Corolla Third Generation keluaran tahun 1974 bersama Sehun yang menyetir dengan wajah datar di sebelahnya. Betapa senangnya ia saat tahu yang menjemput ke bandara adalah Sehun.

“Beruntung kau tinggi, aku jadi bisa melihat lengan putih susumu!”

“Ya, aku juga senang bertemu denganmu.”

“Bagaimana kabar Sehee?”

“Baik, meski kemarin suaranya mulai serak.”

Jongdae bungkam. Sehun benar-benar tidak ingin di ganggu.

Keluar dari lingkungan bandara dan masuk ke jalan tol dalam kota, Jongdae mulai mengantuk. Berusaha duduk tegak di samping kemudi, mempertahankan gejolak di perutnya untuk di keluarkan di tempat Sehee. Korea tidak banyak berubah selama hampir tiga tahun ia pergi untuk menetap di Beijing, tempat dimana dirinya merubah semua kegundahan dan kekangenannya menjadi pilihan paling mantap selama hidupnya.

Sehun menguap, Jongdae terperanjat kaget.

“Kau kenapa, hyung?” tanya Sehun. Ekspresi wajah datar ditambah mata yang mengantuk membuat Jongdae sedikit gemetaran. “A-ah, tidak, ini salah satu refleks ketika aku ingin buang air.” jawabnya seenak udel.

LOL Oh Jongdae. LOL.

“Oh.” Sebuah helaan nafas terdengar. Jongdae mengelus dada dalam pikirannya.

Satu hal kenapa Jongdae bisa menjamin Korea tidak berubah adalah ini: Sehun sama sekali tidak berubah, mobil tua hasil mogok makan Suho, Sehun dan Sehee selama tiga hari tidak berubah, jalanan ini tidak berubah, langit yang memayungi Seoul hampir seumur hidupnya juga tidak berubah.

“Apa tak apa kita biarkan Sehee sendirian?!”

Sehun menoleh, “Santai hyung, sedang ada Kim Jongin di sana.”

“Kim Jongin?! bukankah kau mentah-mentah melarang Sehee dekat dengannya? Sehee bahkan sering mengeluh akibat sikap protektif dirimu itu!” seru Jongdae.

Apa kepala Sehun terbentur sesuatu sebelumnya?

“Ini beda ceritanya. Tak ada orang lain lagi yang bisa aku andalkan selain ia, lagi pula Jongin dan Kyungsoo sudah putus.”

Jongdae menahan napasnya selama yang ia bisa. Ba-bagaimana bisa?

“Jangan mulai dengan kebiasaan abnormalmu, hyung!” Sehun mendorong pundak Jongdae hingga Jongdae oleng dan terantuk kaca mobil. Terpaksa Jongdae bernapas. “Aku menarik kesimpulan bahwa Kim Jongin sudah putus dengan Kyungsoo setelah aku melihatnya jalan dengan Minseok, ketua OSIS sekolahku, sekaligus bos yang menggajiku dengan bubble tea jika aku bersedia menemaninya patroli di pagi-pagi buta.”

Jongdae menoleh. Ia mulai mendengarkan.

“Yang kudapat dari Hyunah, tukang gosip di kelas ku. Kyungsoo dan Minseok sudah berhubungan—maksudku pacaran sejak lama, bahkan mereka sudah dekat saat SMP karena kursus di tempat yang sama. Alasan mereka pacaran aku tidak tahu karena Hyunah meminta aku kencan dengannya sebagai bayaran. Aku menolak itu mentah-mentah, yang bisa kencan denganku hanya ibu dan Sehee.”

“Berarti saat Kyungsoo dengan Jongin—“

“Ya, ia berselingkuh. Saat aku tanya orang-orang, mereka taunya Kyungsoo adalah pacar Minseok. Aku benar-benar bodoh selama ini kemana-mana dengan Minseok, tapi hal begini aku baru tahu sekarang? Haha.”

“Kemana Luhan?”

“Lulu?” mobil mulai mengurangi kecepatannya, mereka akhirnya keluar tol dalam kota. Sehun memutar stir, mereka melewati lampu tiga warna. Petunjuk jalan yang menunjukan Rumah Sakit ada di sebelah mana lewat begitu saja di atas kepala mereka. “Pergi olimpiade dengan Suho.”

Jongdae tersenyum. “Disana kami memanggilnya Xia Lu. Cobalah sesekali memanggilnya dengan nama itu, dia pasti akan memekik kangen Beijing.”

“Baiklah, Jongdae hyung.” kekeh Sehun pelan. “Kau mau langsung ke rumah atau rumah sakit dulu?”

“Seharusnya aku yang menggendongmu saat kau jatuh lemas tempo hari!”

Sehee terkikik. Tubuh Jongin mendesaknya ke sisi ranjang, kini kepalanya berada tepat di bawah lengan kanan Jongin. Bisa dimarahi dokter jika mereka kepergok sedang dalam posisi seperti ini. Kiamat kecil terjadi dan seluruh tetangganya pasti terbangun dan marah-marah.

“Aku benar-benar marah saat Edison menahanku agar tidak keluar kelas. Jujur aku iri pada Baekhyun yang bisa menggendongmu ala bridal style ke UKS.”

Tak bisa dilukiskan menggunakan jenis kanvas manapun, cat minyak terbaik sekalipun, atau spot melukis paling enak di dunia bagaimana abstraknya keadaan hati Sehee saat Jongin datang membawa seikat bunga kesukaannya. Serasa dengan mencium harum bunga itu, sistem imun nya kembali berbenah diri. Stronger than ever. Datangnya Jongin juga membawa kabar gembira: Sehun menyerahkan Sehee untuk beberapa jam kedepan padanya karena Sehun mesti menjemput Jongdae ke bandara dan pergi tawuran dengan test di tempat les. Ibu mereka sedang pergi menyusul suaminya, beliau sedang hura-hura di villa pantai bersama teman-teman kantor dan keluarga mereka dalam acara family gathering. Suho juga sedang pergi bersama Luhan membawa nama baik sekolah. Jadi, apa salahnya?

“Kenapa juga kamu mau saja di bawa olehnya?”

“Aku hampir pingsan, Kim Jongin.”

Jongin diam. Mereka berdua kemudian menatap langit-langit ruang inap.

“Tanganmu tidak pegal, Kkamjong?” tanya Sehee. Saat Sehee menoleh, hidungnya mencium leher Jongin. Harum sabun mandi cair khusus laki-laki yang menguar dari tubuh laki-laki di sampingnya, membiusnya sejenak. Jongin membalasnya dengan geraman entah-iya-atau-tidak.

“Kau suka kalau aku sakit atau sehat, Kkamjong?”

“Aku suka saat kau bersamaku. Sakit atau sehat aku tidak peduli.”

 

Di saat seperti itu, aku biasanya menjerit pada bantal, di depan Suho kadang-kadang, dan mencium pipi Sehun sambil menggigitnya kecil.

-Oh Sehee

“Cepat turun, nanti ada perawat yang masuk!” Sehee menggerakkan pinggangnya ke arah Jongin, mendorongnya pelan agar Jongin mau turun dari ranjang. Tapi Jongin malah bergeming.

Ck, sial!

Jongin malah mengecup kening Sehee kilat, matanya seperti orang yang saat itu juga mau melamar kekasihnya, sangat-sangat serius hingga membuat Sehee ingin muntah akibat sebal. Cepat ia menyahut. “Nanti saja. Aku suka aroma tubuh Sehee yang belum mandi.”

“Pffttt!!” Sehee menahan tawanya. Lelucon yang tadi itu benar-benar menyakitkan.

“Maaf, dimana kamar Nona Oh Sehee?”

“Lantai empat kamar 236.”

Sehun menepuk pundak Jongdae halus. “Kau sudah tahu di mana kan? Aku benar-benar sudah terlambat ke tempat les. Maaf tapi kita bertemu beberapa jam lagi. Hati-hati Jongdae hyung!” serunya sambil berlari keluar.

Jongdae menelan ludah melihat Sehun lari menjauhinya seperti orang dikejar anjing.

Ah, apa aku akan tersesat?

“Maaf suster!”

Suster di balik meja resepsionis menoleh, menatap Jongdae tak paham. Bukankah tadi sudah ia beri tahu?

“Anu..aku baru pertama kali ke rumah sakit ini. Bisakah kau tunjukan kamarnya?” Jongdae ragu, benak suster tak bisa di tebaknya.

Si suster kemudian menengok ke dalam ruangan perawat jaga, Jongdae harap-harap cemas menunggu apa si suster mau mengantarnya atau tidak. “Panggil perawat praktek itu!” serunya. Beberapa saat kemudian keluar laki-laki jangkung berseragam perawat yang sangat-sangat berbeda dengan yang di pakai si suster. Laki-laki itu bermasker, matanya tajam seperti mata elang. Sedetik, Jongdae mematung. Mata orang itu sepertinya ia pernah lihat.

“Tolong antar orang ini ke kamar 236, ya?”

“Baik.”

Laki-laki itu berjalan terlebih dahulu, Jongdae mengikutinya tanpa bersuara.

Rumah sakit itu sibuk. Jongdae bisa lihat beberapa suster yang berpakaian sama seperti suster di depannya. Pasien banyak berlalu lalang dengan selang di atas lengannya, ada suster juga yang berlari membawa peralatan, berkelompok sibuk mendorong ranjang beroda, sibuk mengobrol, ada juga dokter yang menunggu mesin kopi, gelisah kopinya tak keluar juga.

Jongdae akhirnya dibawa berbelok ketika melewati perempatan pertama setelah dari lobi rumah sakit ia dibawa berjalan lurus. Dia belok kiri menuju lorong gelap akibat lampu yang ada di atas sana, rusak. Hanya lampu di depan lift, pertigaan setelah mereka berbelok di perempatan dan lurus yang menyala.

“Ehm, anu..” Laki-laki itu menoleh, menatap—entah dahinya, entah jerawat juga entah rambut Jongdae yang mengkilap akibat minyak—nya. “Kau perawat baru?” tanya Jongdae kemudian. Laki-laki itu mengerutkan kening, cepat ia memalingkan mukanya.

“Praktek.” Hanya suara itu yang dapat Jongdae dengar, yang juga samar akibat masker di depan mukanya.

Oh Ya Tuhan.

Langkah mereka memantul di lorong sepi itu. Ternyata kamar-kamar di lorong itu sedang dalam perbaikan akibat kebakaran beberapa bulan lalu. Jongdae tahu karena berita itu dibawa Sehee yang saat itu di rawat akibat patah tulang pahanya. Separuh bagian rumah sakit itu ditenggelamkan asap hitam tebal, meski kebakaran hanya terjadi duaperempat bagian dari setengah itu.

Mereka sampai di dalam lift, berdesakan dengan pasien anak-anak berkursi roda yang asik menyuapi puding pada bonekanya, seorang suster yang memegangi kursi roda tak berpenumpang dan seorang dokter yang asik mengobrol dengan bapak yang sepertinya ayah dari anak di kursi roda itu. Obrolan mereka sejak tadi tak berhenti berputar pada  penyempitan pembuluh balik.

Jongdae dan perawat itu ada di salah satu sudut paling belakang, angka di atas kepala mereka tak jauh dari tempat berdiri menunjukan bahwa mereka akan pergi ke lantai enam. Dalam pikiran Jongdae ia mengingat-ingat. Seperti ia pernah melihat laki-laki ini di hidupnya. Ataukah laki-laki ini ternyata benar dirinya.

“A—“

Jongdae berhenti mangap. Ia membulatkan matanya.

Laki-laki itu menatapnya. Ya, Jongdae yakin benar laki-laki itu menatapnya.

Perlahan laki-laki itu meraih tengkuknya, masih menatap dirinya tajam. Ia membuka simpul maskernya. Jongdae mulai menahan napas, tak kuasa dengan apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya.

Terlepas.

“Lama tak jumpa, Chen—”

Hidungnya, dagunya, bibirnya. Tuhan ternyata memang dia.

“—Mantanku tercinta.”

 

Mereka sampai di depan pintu ruang inap Sehee. Entah Jongdae atau laki-laki bertitel mantannya itu, mereka tak mengatakan satu patah kata pun sejak suster praktek bernama asli Kevin Li itu mengenalkan dirinya kembali. Kini dengan wujud berbeda, dia hampir lulus dari akademi perawat dan siap bekerja sebagai kepala perawat di rumah sakit milik keluarganya di Vancouver sana.

Sebelum tangan Kris, nama panggilan Kevin dari orang-orang yang mencintai dan menyayanginya menarik kenop pintu, Jongdae membelah sekat keheningan dengan sebuah deheman yang hanya terdengar untuk dua orang.

“Apa?” tanya Kris. Dengan nada hampa, sangat sangat hampa.

“Aku..minta maaf atas segalanya. Kau pasti menderita. Sangat.”

Kris melepaskan genggamannya dari kenop pintu. Ia menghadapkan tubuhnya sejajar dengan Jongdae. Ia sangat senang dapat melihat Jongdae kembali yang sama sekali tidak berubah. Perasaannya pada laki-laki 15 sentimeter lebih pendek darinya juga tidak berubah meski tiga tahun sudah ia meninggalkannya. Meninggalkannya tanpa pesan, meninggalkannya dengan semua luka yang tak akan pernah mengering.

“Cepat masuk, Sehee ada di dalam sana.”

“Kau pernah menjenguknya?!”

“Meski tahu ia tidur disini, aku sama sekali tak tertarik.”

Kris tanpa ba bi bu lagi langsung membukakan pintu, menampakkan pemandangan sepasang anak ABG yang sedang berpelukan di atas ranjang memandang bingung ke arah pintu. Dengan lesu Jongdae masuk, menutup pintu setelah seluruh tubuhnya masuk kedalam ruangan. Dada Jongdae mendadak sakit. Sakit karena sikap Kris yang benar-benar datar di hadapannya.

Sehee bersuara dari balik tubuh Jongin. “Ah, Jongdae! Selamat datang! Maaf aku dalam posisi seperti ini.”

“No problem.” lirih Jongdae, ia melempar tas punggungnya ke sofa sebelum menjatuhkan tubuhnya kemudian. Sehee benar-benar tidak paham kenapa Jongdae menjadi seperti ini. Apa dia terjebak macet seperti Jongin atau karena Sehun meninggalkannya begitu saja. Mau bertanya pun ia tak enak hati. Jongdae baru datang setelah beberapa jam mengapung di partikel udara, Sehee yakin betul Jongdae pasti mengalami jetlag.

“Sehee, aku mau muntah.” Jongdae buru-buru bangun dari posisi tidurnya dari atas sofa untuk tiga orang yang terletak di sudut dekat pintu menuju kamar mandi yang berada di sebelah kanan tak jauh dari badan Sehee.

Selesai mengeluarkan semuanya, Jongdae menjatuhkan pantatnya di atas kursi kecil sebelah ranjang Sehee. “Sehee-sama?”

“Jongin-ssi lepaskan pelukanmu!” bisik Sehee cukup keras. Tapi Jongin bergeming. “Ada Jongdae di sebelahku!” tambahnya.

Jongin masih bergeming.

“Hei?! Kau tidur?!” seru Sehee.

Jongin masih bergeming juga.

Sehee meringis. “Oh my..Jongdae, aku minta maaf, bisa kau lepaskan tautan jemari Jongin di pinggangku?”

Jongdae berdecak sebal dan bangkit dengan paksa. “Mentang-mentang Sehun mengijinkanmu dengan Jongin.. eh, jadi ini Kim Jongin? Dia tampan juga.” Ia menatap lekat Jongin yang hampir mencium Sehee sebelum berusaha melepaskan tautan jemari Jongin.

“Itu harus!” Sehee tertawa kecil, desahan keluar kemudian setelah tautan jemari Jongin lepas bersamaan dengan terbukanya mata sipit Kim Jongin. Muka tanpa beban Jongin menatap Sehee bingung juga seorang laki-laki bermata sama dengan Sehee berdiri tak jauh di belakangnya. Apa ia sudah melewatkan banyak hal?

“Siapa, darl?” suara serak bangun tidur Jongin keluar.

Sehee kemudian menarik lengan Jongin yang terhimpit di antara tubuhnya dan tubuh Jongin, tangan kanan Sehee juga meraih lengan Jongdae yang masih menggantung bebas. Sehee kemudian menautkan keduanya tepat di atas dadanya. “Ini Oh Jongdae, sepupuku. Jongdae ini Jongin, Jongin ini Jongdae. Nama kalian hampir sama dan sedikit membuat lidahku keseleo.”

“Halo.” Sapa mereka bersamaan.

Suasana menjadi canggung tepat setelah kedua tangan itu berhenti berayun dan lepas. Jongin kemudian bangkit untuk mendudukan Sehee, menyangga punggung Sehee dengan beberapa bantal bawaan ibu Sehee dari dalam lemari. Jongin juga cepat meraih satu botol jus dari lemari pendingin dan memberikannya pada Jongdae. Setelah itu Jongin menyalakan televisi tepat beberapa meter dari ranjang Sehee. Jongdae hanya menonton si sibuk Jongin, Sehee hanya mesem namun akhirnya tersenyum simpul juga.

“Anggap saja penjara sendiri.” ucap Jongin datar.  Jongdae dan Sehee ngakak.

“Kim Jongin,”

Jongin mengangkat sebelah alisnya.

“Sehee telah bercerita banyak tentangmu padaku. Aku sudah tahu beberapa sifatmu darinya,” ujar Jongdae. “Bagaimana bisa kau taklukan Sehun? Apa Suho hyung juga demikian?”

Jongin mengeryitkan dahi. “Tak seperti yang kau bayangkan.”

Jongdae menatap Sehee yang serius pada tayangan di depannya, “Luhan belum menjengukmu?”

Sehee menggeram.

Tatapan Jongdae kini beralih pada tayangan yang sudah menarik seluruh fokus mata Sehee. “Sudah pukul berapa ini, apa Sehun akan datang?”

Tiga jam kemudian pintu kamar terbuka lebar. Sehun dengan mantel tebal, syal yang melilit hingga hampir menutupi hidung dan tas laptop di bahunya masuk dan menyimpan kantung plastik putih besar di atas meja. “Aku dapat seratus. Lagi. Sumpah! Teman-teman les malah saling bertaruh satu orang satu satu cup mi instan dan separuh dari mereka menang. Aku kecipratan sedikit.” ucapnya sambil menunjuk kantung putih itu.

“Syukurlah kalau be—uhuk uhuk!” Sehee batuk. Jongin segera memberi Sehee segelas air putih dan menatap infusan Sehee yang sudah kosong sebelum berbalik keluar. “Kau harus ganti infusan lagi, darl. Aku ke ruang perawat jaga dulu.” ucapnya sambil berjalan tergesa.

Sehun berdecih saat Jongin jalan melewati dirinya. “Dia sok sibuk!” tunjuknya pada pintu yang masih terbuka lebar.

“Tapi aku suka dia karena dia lebih sigap daripada kau!” cibir Jongdae.

Suasana mendadak hening, teriakan fans di debut mixgrup bernama Lost Hard Rythem perlahan mengecil akibat volume televisi yang Sehee kurangi.

Jongin sudah pergi, tinggal mereka bertiga.

“Katakan padaku, Oh Jongdae,” ucap Sehee, suaranya yang serak membuat Jongdae bergidik. “Tadi sore kau kenapa?”

Kamar itu mulai berhawa dingin dan mencekam.

Sehun berusaha mengorek secuil informasi dari Sehee yang beralih menatap tajam sepasang bola mata berlensa cokelat muda di sebelahnya, si empunya badan malah memainkan tutup botol jus yang isinya sudah habis sejak setengah jam lalu. Ia bergeming. Sebenarnya ada apa?

“Oh Jongdae!!”

“Aku bertemu Kris.”

Sehun dan Sehee saling pandang sebelum ternganga. “Hah?!!”

Jongdae berteriak. Penuh keputus asaan. “Ya! Aku bertemu Kris tadi!”

 

“Aku pulang sekarang, darl. Aku telpon nanti?” tanya Jongin sambil mengusap pelan pipi Sehee. Sehun memeletkan lidahnya sebal berkali-kali pada Jongin yang berdiri membelakanginya. Sehee tersenyum simpul. “Tidak usah, aku benar-benar kangen Jongdae jadi kupastikan mengobrol dengannya sebelum tidur. Tapi jangan khawatir, ada Sehun yang memarahiku jika tidak mau tidur juga.”

Jongin memutar kepalanya, menatap Sehun dengan tatapan kemenangan dan memberinya smirk setan kebanggannya.

Sehun benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi jika tidak buru-buru diamankan oleh Jongdae.

Jongin kembali menatap Sehee lembut. “Baiklah, butuh ciuman selamat malam?”

Sehee menggeleng heboh. Sehun ingin menusuk Jongin dengan pisau saat itu juga.

“Jongdae hyung, Sehunna aku pulang dulu. Sampai besok.” Jongin membungkukkan badannya sebelum kemudian berjalan keluar. Cepat Sehun berlari untuk menutup pintu supaya si kutu hitam itu tidak kembali masuk ke ruang inap adiknya itu.

“Kau lihat tadi hyung?! Itu smirk setan miliknya! Smirk itu biasanya ia gunakan untuk menakut-nakuti lawannya saat lomba voli antar sekolah! Coba lihat, lihat aku!!” Sehun berteriak heboh sambil mencoba meniru habis-habisan gaya Jongin saat memberikan smirk setan itu untuknya. Yang pastinya gagal 100% dan membuat Jongdae harus menahan sakit di perutnya.

Jika mereka berdua sibuk tertawa bersama, di sisi lain ruangan Sehee sibuk menatap gelas minumnya yang berubah menjadi vas bunga dadakan untuk tiga tangkai tulip hitam dari Jongin, sementara tulip yang lain ia simpan di vas bunga mataharinya, bunga matahari itu ia buang ke luar. Persetan dengan orang yang lihat atau marah-marah sekalipun. Perlakuan Jongin hari ini, Sehee sama sekali tidak pernah membayangkannya. Ia begitu manis hari ini. Ia memeluknya posesif. Ia juga rela berlarian mencari suster jaga demi infusan Sehee yang mengkerut.

Apa kepala Jongin sudah dipukul benda tumpul? Apa Madam Kyungsoo si gadis berbulu landak yang jinak-jinak jahat di mata Jongin sudah bisa merelakan kedekatannya dengan Jongin?

Tok! Tok!

Tawa Sehun dan Jongdae terhenti, Sehee yang melamun jadi terperanjat. Siapa yang datang jam setengah sepuluh malam begini? Jam besuk sudah berakhir sejak jam delapan.

“Buka saja, Sehun oppa.” Ujar Sehee.

Sehun berdecak. “Tumben kau panggil aku oppa. Akibat di peluk Jongin?”

Pintu terbuka, sesosok laki-laki jangkung berjaket kulit hitam, skinny jeans navy blue, masker, sarung tangan dan sepatu kulit berwarna senada dengan jaket berdiri tegak di ambang pintu. Sehee dan Sehun saling melempar pandang, tapi hanya Jongdae yang mematung. Ia mematung, menatap nanar laki-laki itu.

Sehun mengangkat alisnya. “Maaf, anda mencari siapa?” tanya Sehun takut-takut. Laki-laki itu hanya diam lalu berbelok, mulai berjalan menjauh dari kamar itu.

Tapi sebelum Sehun menambah pertanyannya, Jongdae berjalan keluar mengikuti laki-laki itu bergerak.

“Jong—“

“Biarkan,” sergah Sehee. “Biarkan mereka menyelesaikan apa yang sudah mereka lewatkan selama tiga tahun ini.”

Sehun menatap Sehee bingung.

 

To Be Continue~

 

Author cuap-cuap: Hi everyone, yixingprincess here! Ijinkan saya berkata-kata untuk beberapa menit saja. Ah lama banget ya terusan Kesan Pertama sampai sekarang, Tribute To Jongdae. Harap maklum ya karena sekarang saya seorang siswi kelas XII SMA yang akan tawuran dengan US, UN, dan yang lainnya. Sebenarnya sering ide bermunculan. Cuma karena ada banyak kerikil kecil yang menghalangi langkah hingga cukup membuat kaki saya terbenam, akhirnya saya malah niat menunggu libur akhir semester untuk meneruskan bagian ke tiga dari fanfic Problem ini.

Maaf ya readers semuanya, reviewnya di tunggu loh. Selamat tahun baru~ *kecupkecup*

7 pemikiran pada “Problem (Eks-Jongdae)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s