Faithful (Chapter 6)

go (4)

Title: Faithful

Author: EunikeM (@eunike_keke0708)

Cast: Exo-K Chanyeol, F(x) Luna, Exo-M Kris

Support cast: F(x) Krystal, F(x) Sulli, Exo-M Lay and.. find it!

Genre: Romance, Frindship, comedy (?) marriage

Rating: Teen

Lenght: Chaptered

Ai.. ai… i’m bek again!!! Dan kini sudah memasuki chapter 6 huwaaa… panjang juga ini.. tp gpp lah.. Cemungut!! Mumpung ayee lagi liburan wkwkw 😀 thanks yaa buat mimin yang udah mau nge-post, kawan-kawan yang mau membaca epep ini dan PLEASEEEE BANGET pake ZZZZ COMMENT yaaa!! Don’t be plagiat or bash!! 😀 yohaa sekian *bowww. Jangan lupa mampir dan baca trs comment di blogku yahhh: http://www.myeunikeblogger.blogspot.com

“Oh! Maaf, ternyata kalian” lelaki ini tertawa renyah karena merasa ia menjadi pusat perhatian keempat manusia ini. “Oya, sudah waktunya aku harus pulang. Bye~” seperti Luna mengerti mengapa orang ini datang kemari dan ia beranjak dari tempat duduk, lalu berpamitan. “Baik, kami berdua pulang dulu” Luna bersama seorang pria ini, berlalu sambil melambaikan tangan. “Bye hyung~ bye oenni~” sisa mereka bertiga, ahkirnya melanjutkan lagi “forum” tersebut. Namun, Krystal dan Sulli hanya mengangguk-angguk, sepertinya mereka tahu jawabannya. ~

—***—

“Aahhh!! Ahkirnya, skripsiku selesai juga. Tinggal aku kumpul!” senyum Luna mengembang diwajahnya. Yah.. walaupun lelah fisik maupun psikis melanda, tidak sia-sia ia belajar dengan keras. Buktinya, baru dirinya yang menyelesaikan skripsi paling awal. Sambil menata meja belajar dan menyusun lembara-lembaran kertas skripsi tersebut, ponsel Luna yang ada diatas kasurnya bergetar.

“Nddrttt.. ndrrett…” kira-kira seperti itulah bunyinya. Segera, Luna menghampirinya. “hah?” Luna terkejut dengan nama yang tertera di layar ponselnya. “Ya, halo?” “em, Luna. Segeralah ke kampus. “Tumben sekali dia menelepon” Luna berkata dalam hatinya. “Luna? Apakah kau dengar aku?” seseorang diseberang sana mulai membuyarkan lamunan Luna. “Oh, ya. Maaf, memangnya ada apa?” “sekarang sudah jam delapan Luna, saatnya ke kampus” “hah????!! Jam delapan?” teriak Luna lewat telepon. “Aduh.. noona, jangan mulai teriak lagi!” “yaa!!! Kris!!” “oh.. ma.. maaf” “berarti aku tidak tidur semalaman?” “maksudmu?” “kau kemarin mengantarku pulang sampai rumah jam empat sore. Lalu, aku makan, mandi dan mulai mengerjakan skripsi dari jam enam hingga pagi??? Aduh!!!” Luna baru menyadari bahwa ia tidak tidur semalaman demi skripsinya, iapun hanya bisa merutuki dirinya. “Kau, tidak mengantuk?” “baiklah, aku mandi dulu! Bye~” “eeiittss, tunggu!” “apalagi?” jawab Luna frustasi. “Ayah menyuruhku untuk menjemputmu” kata Kris malu-malu. “Menjemputku? Aissh, baiklah. Terserah kau saja! Kutunggu secepatnya! Bye~” “ya, bye~” Luna menutup teleponnya dan segera melesat kekamar mandi yang pastinya untuk mandi. Orang bilang, dengan mandi kita dapat membuang sial. Dengan mandi juga tubuh merasa fresh dan menghilangkan rasa kantuk.

“Ah.. segarnya. Tunggu, jam berapa ini? Kenapa Kris belum muncul?” Luna menengok kearah jam dindingnya dan menunjukkan angka 8.30. “Jangan bilang ia telat menjemputku!” lagi-lagi Luna kesal kali ini. Ia buru-buru memasukkan seluruh barangnya kedalam tas yang biasa ia gunakan untuk pergi kuliah. Sudah hampir lima tahun semenjak ia sekolah menengah, ia tak pernah mengganti tasnya. Hingga bentuknya sudah tak karuan lagi. Bolong dimana-mana. “Aduh, tas cantikku” Luna mengelus-elus tasnya sambil melihat betapa malang tasnya ini. “Ya! Mengapa aku malah memikirkan tasku? Aduh!! Telat kan!” Luna melirik jam tangan yang ia kenakan dipergelangan tangan kirinya. Segeralah ia berlari keluar kamar dan melihat ruangan disebelahnya sudah tidak berpenghuni. Yap! Itu kamar Lay. Berarti ia sudah berangkat dari tadi. “Kenapa ia tak mengajakku berangkat bersama?” pikirnya. Ia menuruni tangga dengan berbagai gerutuan tentang Kris yang ia sangka lupa menjemputnya dan membuatnya telat.

“Aku bisa telat, Kris belum juga menjemputku. Bagaimana ini?” “bagaimana apanya?” seorang lelaki berperawakan tinggi, berkulit putih, rambutnya hitam sedikit kecoklatan jagung yang tergerai hingga menutupi telinga dan kening, ditata agak berantakan namun teratur, kini mengenakan kemeja putih yang bawahnya dibiarkan keluar, memakai jeans berwarna hitam yang pas dengan kakinya, lengan bajunya ditekuk sampai kesiku, mengenakan gelang tali berwarna hitam yang ia lilitkan ditangan sebelah kiri, dan ia memakai sepatu berwarna senada dengan kemejanya.*bayangin aja Kris pake baju kyk gitu wkwk*

Luna otomatis menoleh lurus kedepan, matanya menangkap lelaki dengan deskripsi seperti tadi sedang mengembangkan senyum menawannya. “Wah.. tampan sekali Kris”tak disadari mulut Luna ternganga lebar, membuat Kris merasa ada sesuatu yang sedang melanda wanita yang kini menatap dirinya. “Lu.. luna?” Kris berjalan mendekat kearah Luna dan kini wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter, membuat Luna gelagapan setengah mati dan segera kembali ke ekspresi semula. “Ah, kau mengagetkanku saja” “kau melamun ya barusan? Apa ada yang salah dengan pakaianku?” “kau tampan hari ini” untuk kedua kalinya, kalimat barusan tidak disadari Luna. Keluar begitu saja dari mulut wanita berambut coklat ini. “Apa?” Kris yang berpura-pura tidak mendengar ucapan Luna tadi, berlaga polos agar Luna mau mengulangi kata-katanya. “Aku memang tampan kok” kata Kris percaya diri. “Hah? Kau percaya diri sekali Kris” “kau juga..” “aku juga selalu cantik” timpal Luna cepat, “maksudku memang kau cantik hari ini” Kris tertawa melihat Luna yang pipinya mengeluarkan semburat merah. Semakin ia menyukai gadis ini.

“Yasudah, ayo kita berangkat” Luna menyudahi acara puji-memuji kali ini dan mereka berdua menemui ibu Luna dan berpamitan. “Ahjumma, kami berangkat ke kampus dulu. Annyeong~” Kris membungkukkan badan nya Sembilan puluh derajat kearah ahjumma yang ia panggil tadi. Luna selain mengucapkan salam, ia juga mencium kening ibunya. “Tumben sekali kau mencium ibumu?” Tanya ibu. Luna hanya tersenyum kecil dan menunduk malu. “Sekali-sekali tidak apa-apa kan? Aku pergi dulu ya bu~ bye~” ibunya hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebersamaan mereka berdua. Lalu, iapun keluar dan melambaikan tangan kearah anaknya dan “calon” menantunya nanti. Sembari melihat Luna dan Kris masuk dalam mobil BMW hitam milik Kris.

—***—

“Luna.. Luna..” Kris menggoyang-goyangkan lengan Luna. “Euuhh” tapi, ia hanya berbalik posisi membelakangi Kris. “Luna bangun! Sudah sampai” bisik Kris dengan lembut. “Aku masih mengantuk” dengan suara paraunya dan ia berbalik lagi menghadap Kris sambil melayangkan tangan kanannya kearah kepala Kris. “Aduh..!” Kris sedikit berteriak didalam mobil sambil mengelus puncak kepalanya. Tangan Luna yang tadi menghantam kepala Kris, kini telapak tangannya turun dan jatuh ke seluruh wajah tampan Kris. Yang dihantamnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan menyingkirkan perlahan tangan Luna. “Eh?” tiba-tiba Luna bangun dari tidurnya dan malihat Kris memegang pergelangan tangan Luna menyingkir dari wajahnya. “Kenapa tanganku ada diwajahmu?” Tanya Luna polos. Kris hanya bisa menghela napas. “Tadi aku membangunkanmu, dan ketika kau berbalik, tanganmu mengenai wajahku” “oh, maaf” Luna hanya tertawa lebar hingga gigi-giginya terlihat.

“Yasudah, ayo kita keluar. Kita sudah telat” kata Kris. Mereka ahkirnya keluar mobil dari sisi kanan dan sisi kiri. Mereka berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. “Tumben sekali kalian akur?” seorang laki-laki yang sangat familiar dimata mereka memulai perangnya, apalagi dengan Luna. “Lay..!” Kris mengeluarkan death glare-nya yang membuat Lay terbujur kaku. “Ma.. maaf hyung” ia hanya bisa cengar cengir didepan Kris. “Kau ini! Kenapa kau belum masuk kelas? Bukannya jadwal Wu seonsaengnim mengajar kelasmu?” “dia sedang mengurus skripsi mahasiswanya” “skripsi?” Tanya Luna dan Kris bersamaan. “Iya, konsultasi dimulai sejak satu jam tadi” “Kenapa bukan Victoria yang menggantikan?” “ia sedang kembali ke Cina untuk kampusnya” “kenapa ia tidak bilang padaku?” Lay hanya menggindikkan bahunya. “Lay, konsultasi skripsinya hingga jam berapa?” “kalau tidak salah, hingga jam sepuluh” buru-buru Luna melihat jam tangannya dan.. “Aaa.. lima belas menit lagi! Ayo Kris kita keatas!” Luna segera menyeret lengan Kris agar mereka tidak terlambat. Kris hanya bisa pasrah dan mengikut sembari tangan kanan yang tidak ikutan diseret Luna ia lambaikan kearah Lay. Adik Luna yang akan menjadi adik iparnya nanti, membalas lambaian tangan Kris dengan tawa khasnya. Tak habis pikir jika kakaknya nanti menikah dengan Kris akan menjadi seperti apa rumah tangganya.

—***—

Suara gemuruh seperti gempa menyerbu ruangan Wu seonsaengnim. Ada apakah gerangan? Kita lihat saja.

“Aku dulu yang masuk!” “aku dulu!” “aku!” “minggir sana! Aku yang datang duluan!” “aww!! Jangan injak kakiku!” “ya!! Aku duluan yang mengantri” dan bla..bla..blaa.. Begitulah suasana keributan seperti orang menunggu antrian dapat jatah makan gratis. Karena seminggu lagi akan ada sidang, berbondong-bondong mahasiswa meminta konsultasi dan ingin menumpuk skripsinya.

“Aku memang terlalu percaya diri” pikir Luna begitu ia melihat banyak sekali orang untuk mengantri konsultasi ataupun mengumpul skripsi. Ia kira, dia duluan yang akan datang dan mengumpul skripsi, ternyata… “Kris sudahkah kau mengerjakan skripsimu?” mata Luna masih mengamati kerumunan mahasiswa yang mengantri hingga keluar ruangan. “Sudah aku kumpul dan akan ditan..” “Apaaa!!!??” Luna memotong perkataan Kris dan otomatis memalingkan wajahnya dan mencengkram lengan Kris walau ia kalah tinggi darinya. “Ke.. kenapa?” Kris mengerutkan keningnya, dan jujur saja wajah Luna kali ini sangat seram. “Kenapa kau duluan yang mengumpulkan?” tanya Luna frustasi. Merasa tak terima dirinya tersaingi. “Ya, a.. aku kan beda jurusan dan dosen” “oh, aku lupa. Mian..” mereka diam beberapa saat ditempatnya berdiri. Menunggu kerumunan mahasiswa itu berkurang jumlahnya. “Mau ikut mengantri?” tanya Kris mencairkan suasana. “Okelah. Ayo mengantri, aku juga ingin mengumpulkan skripsiku”

-SKIP-

Kita skip saat mereka mengantri hingga antriannya selesai.

“Kenapa kalian baru datang jam segini?” tanya Wu seonsaengnim sambil matanya masih mengamati setumpukan skripsi mahasiswa yang ada di mejanya. “Luna telat bangun, yah” jawab Kris terus terang. “Aww!!” diam-diam, Luna mencubit lengan Kris karena mengatakan yang sesungguhnya. “Ada apa, Kris?” kepala Wu seonsaengnim yang tadi tertunduk, mendengar Kris berteriak kesakitan, ia mendongkakkan kepalanya. “Ah, tidak apa-apa ayah” jawabnya.

“Oh, seonsaengnim..” “panggil aku ahjussi atau appa saja” senyum tulus dari lelaki didepannya ini tersirat diwajahnya yang tak lagi muda. “Baiklah, em.. ahjussi. Aku ingin mengumpulkan ini” Luna menyodorkan berkas skripsinya dan diterima dengan senang hati oleh si ahjussi. “Baik, sudah kau perbaiki semua yang aku lingkari?” “sudah ah.. ahjussi” “oya, Victoria mengerjakan tugasku dengan baik kan?” “tugas apa ya?” tanya Luna bingung. “Dia aku suruh menjadi asisten dosenku. Kau melihatnya kerja bagus kan?” “i.. iya ahjussi. Dia juga wanita yang sabar, ramah dan baik” “kalau begitu, dia bisa menggantikanku” “ma.. maksud anda?” Tanya Luna terkejut, bersamaan dengan ekspresi terkejut Kris. “Ia baru mau melangsungkan studi S2-nya dan setelah lulus, akan ku rekomendasikan ke kampus ini.” “wah, pintar sekali Victoria” pikir Kris. “Ah, aku dikalahkan lagi. Dari mulai Chanyeol, sekarang dia duluan yang kuliah s2, aku lulus saja belum” rutuk Luna dalam hati. “Kenapa wajahmu berubah jadi sedih Luna?” tanya si ahjussi sembari memperhatikan perubahan raut wajah Luna. “Ah, ti.. tidak apa-apa ahjussi” Luna tersenyum dipaksakan.

Ada seorang lelaki berperawakan tinggi yang menyamai Kris, memasuki ruangan Wu seonsaengnim. “Chanyeol, ada apa?” Luna dan Kris otomatis menoleh kearah nama yang ayahnya sebut. “Aduh, manusia ini lagi” batin Luna kesal. Kris yang merasa ada hawa-hawa tidak enak diruangan tersebut, memutuskan untuk keluar. “Appa, aku ke bawah duluan ya~” “a.. aku ikut! Tunggu!” Luna menghentikan langkah Kris menuju pintu keluar ruang ayahnya. “Kalian berdua mau kemana?” tanya ayah Kris. “Em..” sebenarnya Kris bingung, keluar untuk melakukan apa. “Ka.. kami akan makan di cafetaria, bye~ ah.. ahjussi” “Kris! Jaga Luna!” teriak Wu seonsaengnim dari dalam ruangan. Mereka berdua melambaikan tangan kearah Wu seonsaengnim dan kemudian dibalasnya. Chanyeol hanya bisa menatap punggung mereka, khususnya Luna dari belakang.

At cafetaria

“Apa yang terjadi diantara kau dan Chanyeol?” Luna tersentak dan batuk-batuk akibat pertanyaan Kris. “Eh, ma.. maaf. Aku tidak bermak..” “uhuk.. uhuk, tidak apa-apa Kris” “ini minum” Kris menyodorkan minuman botolnya dan diteguknya botol tersebut hingga habis. “Waduh, ia tersedak, atau memang haus?” pikir Kris sambil ia tertawa melihat Luna masih batuk-batuk. “Apa yang kau tertawakan?” tatap Luna dingin. “Ah, tidak-tidak” Kris kembali diam. “Aku muak melihat tampangnya” jawab Luna. “Chanyeol? Kenapa?” “kau tahu pasti sifatnya” “ya, aku tahu mengapa kau putus dengan Chanyeol” “sudahlah jangan bahas. Ayo, kita pulang saja. Kau tidak ada kegiatan kan?” sebenarnya, Kris diajak Chanyeol beserta tim basketnya untuk bermain basket bersama, dan pastinya jika ia meminta Luna menemani, ia tidak akan mau. Ada Chanyeol, terutama. “Kris?” “ah, baiklah. Ayo pulang!” Kris terbuyarkan dari lamunannya. “Benar, kau tak ada kegiatan lain?” “sudah tadi, menengok skripsiku sebentar” jawabnya. “Oh, baik” “ayo pulang!” Mereka beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju tempat parkir dan pulang.

Dua minggu berlalu, *dicepetin aja, biar gak kelamaan* sidang untuk kelulusan sudah berahkir, dan mereka seangkatan termasuk Kris, Chanyeol, Luhan dan Luna sudah mengikuti acara wisuda dan pesta perpisahan dikampusnya.

—***—

“Luna, ibu punya sesuatu untukmu” ibu menyodorkan sebuah kotak kado berukuran besar. Luna yang sedang bersantai di sofa sambil menonton televisi, menoleh kearah ibunya. “Waahh.. apa ini bu?” “buka saja” raut wajah Luna semakin penasaran. Ketika ia membuka dan melihat isi hadiahnya, ia semakin bingung. “Gaun? Gaun pengantin? Untuk apa?” “kau menikah besok, nak” “haaah?!! Besok?” begitu terkejutnya Luna, hingga ibunya yang sedang menyesap teh hangat dicangkir harus menyemburkan kearah lantai. “Uhuk.. uhuk..” “i.. ibu tidak apa-apa?” tanya Luna panik. “Ti.. tidak apa-apa. Uhuk..” “ini minum lagi bu, maaf” “yah, tidak apa-apa. Kau coba dulu bajunya sana” “dicoba?” “iya, masak dibuang? Ya dicobalah” “i.. ya bu” Luna berganti pakaian di ruangan terdekat, kamar orang tuanya.

Luna keluar dengan gaun putih yang melekat ditubuhnya. Anggun memang. “Wah, anak ibu cantik sekali?” “yang benar bu?” tanya Luna antusias. Ibu pun mengangguk. “Gaun ini memang cantik. Tapi, apakah pernikahan ini harus dilangsungkan dan besok?” pikir Luna.

—***—

“Kris, ambil pakaian mu dan coba” ayahnya sambil duduk diatas sofa dan membaca koran dengan santainya. Tanpa menoleh kearah Kris yang berada di belakangnya. “Pakaian?” “iya” jawab ayah singkat. “Dimana?” “dilemari ayah dan ganti baju dikamar ayah saja” “baiklah” jawab Kris dengan raut wajah kebingungan.

“Yah, ini bukannya..” “kau, kau anakku?” ayah Kris berbalik dan ia memotong ucapan ayahnya karena melihat putra semata wayangnya terlihat sangat tampan. “Ya jelas anak ayah, masak anak tetangga” “kau tampan sekali nak” “aku memang tampan ayah” ujar Kris percaya diri. “Ayah, by the way, pakaian ini untuk acara apa?” “pernikahan mu besok” “haaah?!! Besok?” reaksi Kris dan Luna sama walau berbeda tempat. “Kau, jangan buat ayahmu jantungan” karena kerasnya suara Kris, hingga ayahnya terlonjak kaget. “Ta.. tapi ayah, besok? Yang benar saja” tanya Kris frustasi. “Besok kau akan tahu” Kris mengacak rambutnya hingga terlihat sangat berantakan.

—***—

Di dalam sebuah gereja termegah di Busan, terdapat banyak orang yang sedang menunggu kedua mempelai pengantin mengucapkan janji suci pernikahan. Kris dan Luna kini berdiri diatas pelaminan. Gaun putih yang memiliki panjang dua meter melekat ditubuh mungilnya. Dibalik gaunnya yang panjang, wanita ini memakai sepatu hak setinggi delapan senti dan bentuknya hampir sama seperti sepatu kaca. Rambut kuning jagungnya sengaja di buat bergelombang dengan rapi dan dimahkotai bak ratu sejagad. Didepannya terdapat seorang lelaki tampan, tinggi tegak mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu terpasang dikerahnya. Ia juga memakai sepatu pantofel hitam senada dengan jas-nya.

Sang pendeta yang berdiri diantara mereka bernama Kim Jun Myeon. “Yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia” kalimat pembuka yang dilontarkan sang pendeta. “Mati aku!” batin Luna. “Kim Luna-sshi *ceritanya* apakah anda bersedia mendampingi Wu Yi Fan-sshi dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat? Dan sampai maut memisahkan kalian?” Luna dengan gugup gelisah, matanya melirik kesana dan kemari. Ia pun tepat menatap manik mata ibunya. Mata milik sang ibu seakan berkata “lakukanlah!” “ehem.. iya” hening sejenak, “saya bersedia” katanya. “Baik” pendeta melanjutkan, “Wu Yi Fan-sshi, apakah anda bersedia mendampingi Kim Luna dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat? Dan sampai maut memisahkan kalian?” Kris pun ikut terlihat bingung. Bibirnya terasa mati rasa karena dari tadi ia menggigit bawah bibirnya. Dengan mengumpulkan keyakinannya, ia menjawab, “iya, saya bersedia”

Mereka berdua memasang cincin satu sama lain. Cincin yang indah memang, berwarna perak, bertahtakan berlian dan dibaliknya terdapat nama Kris dan Luna. Mempelai laki-laki mengenakan cincin bertuliskan nama Luna dan dikenakan di jari manis tangan kanannya. Mempelai wanita mengenakan cincin di jari manis tangan kanannya dengan nama Kris dibaliknya. Pendeta Kim Jun Myeon kini memegang tangan Luna dan Kris yang terdapat cincin pernikahan tadi dan menumpukan kedua tangan mereka.

“Di depan para jemaat gereja, dan di hadapan Tuhan, kalian telah menjadi pasanagan dalam Tuhan dan hanya maut yang dapat memisahkan kalian. Sekarang Kris, kau boleh mencium pengantinmu”

DEG!!

Jantung Luna dan Kris seakan berhenti. “Mencium? What?” “haruskah dilakukan, dan didepan para jemaat gereja?” pikir mereka berdua. Seakan badan Kris dengan sendirinya mulai mendekat kearah Luna. wajahnya dekat, dekat dan semakin dekat. Hingga tinggal berjarak tiga senti lagi. “Kris, jangan!” mata Luna terlihat berbicara. Tiba-tiba bibir Kris yang berhadapan dengan bibir mungil milik Luna berpindah posisi dan, chu~ Kris mencium kening putih Luna. “Kris?” seakan Luna terkejut, ia kira Kris akan mencium dan membuatnya malu dihadapan jemaat. “Sudahkan? Aku tahu bibirmu masih steril, hahaha” Kris berbisik lembut di telinga Luna. “Isshh, kau makin menyebalkan” Luna mengerucutkan bibirnya. “Prok.. ptok.. prok..” sorakan meriah terdengar dari kursi jemaat. Lay duduk disamping ayahnya dan dibelakangnya terdapat Luhan, Krystal, Sulli, Victoria dan pastinya Chanyeol. Beserta teman-teman mereka.

Mereka menggelar pesta pernikahan di ball room gedung megah yang terdapat disebelah gereja. Kris dan Luna tak henti-hentinya memancarkan ke anggunan dan ketampanannya. “Bro, selamat ya! Jaga dia baik-baik!” bisik Luhan ditelinga Kris, ia pun hanya tersenyum dan memeluk sahabatnya ini. Giliran Chanyeol bertatap muka dengan Kris. “Hei, hyung-ku beruntungnya kau” Chanyeol tersenyum sambil menghambur dipelukan Kris. “Ya, terimakasih” balas Kris. “Luna, maaf kan aku selama ini” Chanyeol berdalih ke arah Luna dan menjabat tangannya. “Baik, aku memaafkanmu” Luna mulai tersenyum. “Kau tidak mau memelukku seperti Kris-hyung memelukku?” “kau bercanda? Nanti dia cemburu” mata Luna melirik kearah Kris, dan untung saja orangnya tidak dengar, dan mereka bisa tertawa bersama kali ini.

“Oenni, hyung~ selamat yaa!!” teriak Krystal dan Sulli dan berhambur dipelukan Luna. “A.. aduh, jangan ke.. kencang-kencang memeluknya” “oh, maaf” jawab mereka serentak. “Terimakasih karena kalian mau datang ke acara ini” mereka berdua tersenyum berseri-seri. Malah seperti mereka yang sepertinya menikah. “Oya hyung, selamat ya!” Sulli menyalami Kris diikuti Krystal. “Impianmu tercapai!” bisik Krystal pada Kris. “Ah, kau ini! Sama saja seperi kakakmu” jawab Kris kesal. Namun, Krystal dan Sulli hanya bisa tertawa terbahak-bahak sambil lalu dari kedua mempelai. Selanjutnya, ada Victoria yang bertemu mereka dan menyalaminya. “Kris, Luna selamat ya! Kalian berdua sangat cocok!” Victoria menumpukan tangannya diatas tangan Luna dan Kris. “Terimakasih, Vic” “thank you Vic” jawab mereka berdua.

—***—

Mereka berdua diantar dengan mobil pengantin pulang kerumah. Kerumah siapa? Kita lihat.

“I.. ini rumah siapa?” jujur saja, Luna kagum dengan bangunan yang disebut rumah yang ada dihadapannya. Pasalnya, rumah ini banyak pepohonan rindang dan hampir seluruh dindingnya menggunakan kaca. Rumah impiannya. Di halaman terdapat lapangan basket kecil, sesuai dengan hobi Kris. “Ini rumah kalian” jawab ayah Kris. “Ru.. rumah kita?” tanya Kris dengan herannya. “Iya. Kami sudah mempersiapkan ini jauh hari” “yang benar ahjussi?” “panggil aku dengan sebutan appa. Karena sekarang kau juga menjadi anakku” “oh.. i.. iya appa” “Sudah, kalian masuk saja” lanjut ayah. Mereka berdua masuk dengan wajah penasaran, seberapa besar rumah ini? Dan Seberapa mewah rumah ini?

“Oya, ayah lupa memberi tahu kalian sesuatu” mereka berdua yang sedang menyusuri ruang tamu segera berbalik dan mendapati kedua orang tua Luna bersama dua orang, “anak kecil?” “siapa mereka?” pikir Luna. Mereka berdua segera menghampiri ketiga orang tuanya dan dua orang anak misterius ini. “Sebenarnya, ini juga menjadi alasan mengapa Wu seon.. oh, Wu ahjussi menikahkan kalian” kini Lay yang tak tahu asal kedatangannya, tiba-tiba muncul dari balik punggung ayahnya. “Lay?” tanya Luna dan Kris serempak. “Benar kata Lay, mereka berdua adalah anak teman ayah dan ayah Luna yang kedua nya meninggal sebulan yang lalu. Kami merasa kasihan pada anak kembar ini, dan kukira kalian sanggup mengurusnya. Sebelum kalian memiliki anak kandung kalian sendiri.” “Anak kandung?” lagi-lagi Kris dan Luna bertanya dengan serempak. “Ah, aku bisa gila jika memiliki anak dengan Kris, dan ini anak-anak yang terlihat sangat nakal” Luna merutuki dirinya sendiri. “Mereka sepertinya lucu, tapi.. entahlah” pikir Kris sedikit positif.

“Boleh kami memanggil kalian mommy dan daddy?” tanya kedua anak kembar ini. “Aaaa….!!!” teriak frustasi mereka berdua, siapa lagi jika bukan Luna dan Kris.

TBC

Nahhh…. TBC lagi…. huh!!! Capek juga buat FF tp gapaplah Fighting!!! Hope u like  please comment 

4 pemikiran pada “Faithful (Chapter 6)

  1. aaaaa,sukaa sukaa,huahhahaa>< ekspresi mereka wktu dikasih anak lucu bgt,
    ckckck~ semoga mereka bs ngurusnya,fighting!
    oh ya eon,lanjut yaa jgn lama-lama 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s