Go Sarang! (Chapter 10)

GO SARANG! (5)

Judul : GO SARANG! Chapter 10

Author : Xoxo_baekhun

Genre : Romance, Family, Relationship, Sad

Length : Chapters

Main Casts:

1. Elaine Lee

2. Park Chanyeol

Supporting Casts:

1. Lee’s Family

And others..

Rating : PG-15

Summary : Apa Sehun tidak dapat menerima hubungan Chanyeol dan El? Apa pula yang akan dilakukan El ketika menyadari Sehun masih juga mengharapkan cinta darinya?

LET’S GET STARTED ^^

 

Park JaeMin’s Rent Apartment

Irwon , Gangnam – Seoul – South Korea

El masih terus menangis sesunggukan sambil mengobati luka-luka di wajah Chanyeol. Sedari mereka sampai di Apartment Noona Chanyeol, El terus saja menangis tanpa berbicara apapun pada Chanyeol.

Tangisannya memang tidak kencang, tapi jelas terdengar isakannya.

“Sudahlah jangan menangis terus. Aku baik-baik saja.” Ucap Chanyeol sambil mengangkat wajah El menggunakan tangannya.

Chanyeol tersenyum dalam sakitnya, namun El tidak berhenti terisak.

“Bagaimana bisa kau bilang kalau kau baik-baik saja, sementara wajahmu babak belur seperti ini?!” Ucap El.

“Sungguh, aku baik-baik saja.” Jawab Chanyeol sembari memamerkan rentetan giginya.

Kemudian Chanyeol memeluk El hangat. Ia mengeratkan pelukannya pada El saat El juga membalas pelukannya.

“Kumohon jangan berkelahi lagi.” Ucap El ditengah pelukan mereka.

Chanyeol tidak membalas ucapan El, Ia hanya mencium puncak kepala El sambil tersenyum tipis.

‘Untukmu, aku akan melakukan apapun.’ Batin Chanyeol.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Chanyeol tiba-tiba.

Kemudian El melepaskan pelukannya, dan menatap Chanyeol bingung.

“Maksudmu?” Tanya El setelah menyeka air matanya.

Sungguh, Ia sudah lama sekali tidak menangis. El memang bukan sosok cengeng, Ia akan memilih tempat untuk menangis, dan memilih orang untuk ditangisi. Dan saat ini, Ia menangis untuk Chanyeol dan dihadapan pria itu.

Chanyeol membenarkan posisi duduknya, kemudian menghembuskan napas panjang.

“Pria tadi temanmu kan?” Tanya Chanyeol lagi.

El pun menangguk sambil menatap Chanyeol.

Kini Chanyeol tidak menunjukkan senyumannya, Ia hanya menatap El dalam diam dan dengan tatapan datar.

“Hanya teman?” Tanya Chanyeol serius.

“Ne. Sehun hanya temanku, waeyo?” Balas El.

Chanyeol tidak membalas ucapan El. Ia hanya duduk diam memandang El.

“Apa kalian pernah berpacaran sebelumnya?” Tanya Chanyeol setelah keduanya sempat diam beberapa saat.

El hanya menggeleng.

“Tidak. Kami tidak pernah berpacaran.” Jawab El.

“Tapi kenapa Ia memukulku setelah kubilang bahwa kau adalah kekasihku??” Tanya Chanyeol lagi.

El menatap Chanyeol dalam diam.

‘Apa Sehun cemburu?’ Tanyanya dalam hati

“Aku juga tidak tahu.” Jawab El akhirnya.

“Apa dia menyukaimu?” Tanya Chanyeol.

“Sudahlah, Oppa. Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak masuk akal.” Balas El.

Kemudian El kembali membersihkan luka-luka diwajah Chanyeol. Kini Ia sudah tidak menangis lagi, berbeda dengan Chanyeol yang malah terlihat kesakitan.

Setelah membersihkan luka-luka di wajah dan sekitar tangan Chanyeol, El segera membersihkan perlengkapan yang sedaritadi Ia gunakan.

“Kau ingin makan sesuatu, Oppa?” Tanya El setelah membantu Chanyeol menuju kamar tidurnya.

Chanyeol pun duduk di kasurnya, dan memegang lengan El yang sedang berdiri.

Ia hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

El pun ikut duduk disamping Chanyeol dan tersenyum. Ia meletakkan tangan kanannya di puncak kepala Chanyeol, dan mengusapnya lembut.

Chanyeol pun mengambil tangan El yang sedaritadi berada diatas kepalanya, kemudian Ia mencium punggung tangan El sambil memejamkan kedua matanya.

El pun tersipu malu sesaat, dan tersenyum.

“Oppa?” Panggil El setelah menyadari Chanyeol belum juga melepaskan ciumannya dari tangannya.

“Aku mencintaimu, El. Sangat mencintaimu.” Ucap Chanyeol tiba-tiba. Kemudian Ia mengangkat wajahnya, dan menatap El lembut.

El tidak bisa menutupi perasaan terkejutnya, kemudian Ia menatap Chanyeol. Ia melihat ketulusan dimata Chanyeol. Kebahagiaan disetiap senyuman dan pengorbanan yang pria itu berikan padanya.

Ia pun tersenyum, dan memeluk Chanyeol segera.

“Aku juga mencintaimu, Oppa.” Jawab El sambil tersenyum bahagia dipelukan Chanyeol.

Chanyeol pun tersenyum sangat senang dan mengeratkan pelukannya pada El.

“Terimakasih.” Balas Chanyeol.

“Untuk apa?” Tanya El dalam pelukan kebahagiaan mereka.

“Karena telah mengijinkanku untuk mencintaimu, dan memberikanku kesempatan untuk dicintai olehmu.” Jawab Chanyeol lembut.

El pun hanya tersenyum malu dibalik pelukannya, dan semakin mengeratkan pelukannya.

Seoul National University, Seoul

May 17th, 2013

Sebulan setelah perkelahian antara Chanyeol dan Sehun, hubungan El dan Sehun tidak berjalan dengan baik. Keduanya tidak pernah bertegur sapa satu sama lain. El selalu berusaha tidak menatap Sehun ketika keduanya bertemu secara tidak sengaja di kampus. Sehun pun juga tidak pernah berusaha untuk mengajak El berbicara.

Bahkan hubungan El jadi lebih dekat dengan salah satu sahabat Sehun, Luhan. Luhan beberapa kali menanyakan keadaan Chanyeol setelah perkelahian bulan lalu.

Seperti yang dilakukan Luhan saat ini. Menghampiri El yang sedang duduk sendirian di kantin SNU sambil membaca sebuah novel.

“Annyeonghasseyo.” Sapa Luhan ketika duduk dihadapan El.

El pun tersenyum dan membalas sapaan Luhan.

“Bagaimana kabar kekasihmu?” Tanya Luhan tanpa basa-basi.

“Ia baik-baik saja. Sudah benar-benar sembuh.” Jawab El senang.

Kemudian El meminum jus melon nya.

Luhan pun menangguk mengerti kemudian tersenyum.

“Itu sangat baik.” Ucap Luhan.

“Ne.” Balas El.

“Terimakasih karena sudah menanyakan keadaan kekasihku.” Ucap El lagi berterimakasih.

“Tidak apa-apa. Kurasa kekasihmu pria yang baik. Sangat sayang jika Ia harus menderita akibat luka-luka disekitar wajahnya.” Balas Luhan.

El pun mengangguk menyetujui ucapan Luhan barusan.

“Kau tidak ingin mengetahui keadaan Sehun?” Tanya Luhan tiba-tiba.

El pun menatap Luhan dalam diam. Sebenarnya Ia juga merasa kasihan pada Sehun dan penasaran terhadap keadaanya.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya El pada akhirnya.

“Buruk. Sangat buruk.” Jawab Luhan langsung.

“Ia benar-benar hidup seperti mayat hidup. Hidupnya sudah benar-benar kacau.” Sambung Luhan lagi.

“Benarkah?” Tanya El kaget.

Bagaimana tidak? Sehun terlihat baik-baik saja dimata El. Sehun tidak terlihat seperti mayat hidup jika di kampus.

“Ia hanya berusaha tegar diluar. Padahal aku yakin hatinya sangat terluka.” Jawab Luhan. Kemudian Ia menghembuskan napasnya, mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.

Lalu Luhan menatap El dengan tatapan memohon. El pun bingung ditatap seperti itu hanya bisa menaikan salah satu alisnya.

“Ada apa?” Tanya El bingung.

“Maukah kau berbicara dengannya?” Tanya Luhan.

“Maksudmu?” Ucap El bingung.

“Selesaikanlah masalah kalian. Kumohon ajaklah Sehun berbicara dan memperbaiki hubungan kalian. Aku tak ingin melihat Sehun seperti ini selamanya.” Jelas Luhan.

“Tapi kau tahu kan aku sudah punya kekasih dan aku tak ingin merusak hubunganku dengan kekasihku.” Jawab El.

“Iya, aku tahu. Tapi kumohon bicaralah dengan Sehun. Ajaklah Ia berpikir positif dan menerima hubunganmu dengan Chanyeol.” Balas Luhan.

“Aku tidak bisa, Luhan-ssi.” Jawab El pada akhirnya.

“Kumohon, El-ssi. Aku minta tolong padamu untuk yang pertama dan terakhir kalinya.” Ucap Luhan memohon.

El pun menatap Luhan dalam diam. Jujur, Ia takut jika Sehun ternyata masih mencintainya dan malah menghajar Chanyeol seperti dulu. Tapi Ia juga khawatir dengan keadaan Sehun saat ini.

“Baiklah, aku akan mencobanya.” Ucap El pada akhirnya.

Luhan pun tersenyum senang.

“Terimakasih, El-ssi.” Balas Luhan.

Kemudian Luhan mengajak El untuk ke Apartmentnya, tempat dimana Sehun berada.

Ya, memang akhir-akhir ini Sehun sering menginap di Apartment nya. Alasannya? Karena Sehun sedang patah hati, dan juga keberadaan Ibu Tirinya lah yang menyebabkan dirinya malas berada di rumahya sendiri.

Galleria Foret Apartment

Junghwa-dong, Seoul

“Kau tidak ikut masuk, Luhan-ssi?” Tanya El bingung setelah Luhan tetap diam diluar pintu Apartment-nya saat El sudah masuk lebih dulu.

“Ani. Kalian selesaikan saja masalah kalian terlebih dahulu. Aku akan menunggu di supermarket.” Jawab Luhan kemudian tersenyum.

El pun mengangguk menyetujui ucapan Luhan.

Setelah Luhan menutup pintu Apartment-nya dibalik pintu, El mengganti flat shoes nya dengan sandal rumah yang memang disediakan.

Kemudian Ia beranjak kedalam Apartment mewah Luhan. Ia sempat berkeliling sebentar sebelum akhirnya duduk di sofa berwarna putih susu.

‘Dimana Sehun?’ Tanyanya dalam hati.

“Hyung, kau sudah kembali??” Panggil Sehun setelah keluar dari sebuah ruangan.

El pun segera bangkit ketika Sehun menatapnya terkejut.

Ia membungkukkan kepalanya dan mencoba untuk tersenyum. Tapi tidak dengan Sehun yang masih menatapnya dalam diam. Sehun bahkan tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

“Bagaimana kau bisa masuk Apartment Luhan hyung?” Tanya Sehun pada akhirnya setelah menyadari Luhan tidak ada didalam Apartment.

“Luhan-ssi memintaku untuk berbicara padamu disini.” Jawab El.

Kemudian Ia berjalan mendekati Sehun. Ia menghentikan langkahnya hingga jarak 1 meter dari Sehun.

“Bisa kita berbicara?” Tanya El.

Sehun pun hanya menangguk, kemudian berjalan mendahului El dan duduk di sofa yang tadi El duduki. Kemudian El pun ikut berjalan, dan duduk disebelah Sehun.

Keduanya masih tidak mengeluarkan satu kata patah pun. Bahkan keduanya tidak bertatapan satu sama lain, hingga El memanggil Sehun.

“Bagaimana kedaanmu?” Tanya El.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Sehun singkat, kemudian membalikkan tatapannya kearah televisi.

“Benarkah?” Tanya El meyakinkan.

“Ne.” Jawab Sehun sambil mengangguk.

Kemudian El mengangguk mengerti dan tersenyum. Kemudian dirinya berdiri hingga Sehun memperhatikan El.

“Baiklah. Karena kau baik-baik saja, aku akan pulang sekarang.” Ucap El sambil tersenyum. Kemudian mengambil tasnya dan berjalan menjauhi Sehun.

Sehun hanya diam menatap punggung El. Hingga akhirnya Ia sudah tidak sanggup menahan perasaannya dan berjalan dengan cepat mengikuti langkah El.

Kemudian El terdiam setelah merasakan pelukan tiba-tiba dari Sehun. Ya, Sehun memeluk punggung El dalam diam. Kemudian Sehun membalikan tubuh El dan segera memeluknya kembali. Kali ini pelukannya lebih erat dari yang tadi.

Ada perasaan canggung pada El ketika Sehun memeluknya sangat erat. Ia bahkan tidak membalas pelukan Sehun.

“Kumohon, jangan pergi.” Ucap Sehun pelan. Sangat pelan.

Tanpa pernah El bayangkan sebelumnya, kini Sehun sudah menangis dalam diam dalam pelukannya. Sehun menangis sesaat, hingga akhirnya El membalas pelukan Sehun. El mengusap pelan punggung Sehun.

‘Kenapa Sehun malah menangis? Apa Ia benar-benar terluka?’ Tanya El dalam hatinya.

Setelah berpelukan cukup lama, El mengajak Sehun untuk duduk di sofa dan menenangkan pikiran keduanya, lebih tepatnya Sehun.

El memberikan Sehun minum, berharap pria dihadapannya bisa lebih tenang.

“Aku minta maaf untuk kejadian bulan lalu.” Ucap Sehun tiba-tiba.

Kemudian Ia menatap Sehun lembut.

“Aku benar-benar merasa bodoh karena telah melakukan hal-hal seperti itu.” Sambungnya lagi.

“Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Sehun setelah kembali menatap El.

“Aku memang sempat tak terima dengan kenyataan bahwa kau sudah memiliki kekasih, tapi sekarang aku sudah bisa menerimanya.” Sambungnya lagi, kemudian tersenyum kecil.

“Sehun-ah.” Panggil El.

“Aku harap Ia bisa menjadi yang terbaik untukmu.” Balas Sehun.

“Terimakasih, Sehun-ah.” Ucap El, kemudian memeluk Sehun.

“Aku bahagia jika kau bahagia.” Ucap Sehun sambil membalas pelukan El.

Sudah tak tampak senyuman Sehun, tapi jelas terlihat ke iklasan dari diri Sehun. Ia memang sudah mendapatkan banyak pelajaraan akhir-akhir ini, terlebih disaat dirinya datang berkunjung ke makam Ibu nya. Setelah itu, Ia merasa bahwa melepaskan seseorang yang kita cintai untuk melihatnya bahagia adalah hal yang baik.

“Kemarin lusa aku bertemu dengan kekasihmu.” Ucap Sehun tiba-tiba setelah keduanya sudah melepaskan pelukan mereka.

El pun terkejut mendengar pengakuan Sehun.

“Benarkah?” Tanya El.

Sehun hanya menangguk kemudian tersenyum

“Bagaimana kalian bisa bertemu?” Tanya El penasaran.

“Kami bertemu ditempatnya bekerja. Kurasa Ia pria yang baik.” Jawab Sehun.

El pun mengangguk menyetujui perkataan Sehun.

‘Kenapa Oppa tidak memberitahuku?’ Tanya El dalam hati.

SM Entertainment

Apgujeong, Seoul

Setelah menemui Sehun tadi, El langsung menuju SM Entertainment untuk menuntut penjelasan dari kekasihnya. El yakin bahwa kekasihnya itu sedang berada di SM, karena kata Baekhyun, hari ini Chanyeol tidak masuk kerja. Jadi itu tandanya apa lagi kalau bukan bekerja di SM.

Setelah mengetahui kekasihnya bekerja untuk sebuah Entertainment Music di Korea Selatan, El jadi lebih tahu mengenai musik korea atau yang biasa disebut k-pop. Ia bahkan sudah mengetahui beberapa group dan sudah memiliki boy band idola, yaitu Big Bang. Hal itu sering membuat Chanyeol kesal karena El lebih sering memuji lagu-lagu ciptaan G-Dragon dibanding lagu ciptaannya.

“Hello, El.” Sapa Jessica ketika keduanya bertemu secara tidak sengaja di lobby SM Entertainment.

“Hi, Jessica.” Balas El sambil tersenyum ramah.

Ya, setelah sering datang ke SM Entertainment untuk menemani sang kekasih, El memang mulai dekat dengan beberapa orang di SM Entertainment, Ia bahkan bisa masuk dan keluar gedung SM seperti orang dalam. Benar-benar beruntung.

“Are you going to see Chanyeol?” Tanya Jessica.

“Yes, I am. Did you see him?” Ucap El.

“Didn’t he tell you?”

El diam sejenak sebelum akhirnya menghentikan langkahnya menuju lift.

“Huh?” Tanya El bingung.

Kini Ia menatap Jessica lebih serius.

“He came back to his city, he said his little sister just got into hospital.” Jelas Jessica.

El pun menatap Jessica dalam diam, kemudian menggeleng pelan.

“Sorry.” Ucap Jessica menyesal.

Jessica tidak menyangka bahwa Chanyeol tidak memberitahu masalahnya pada kekasihnya.

“No worries. And thanks for the information.” Balas El kecewa.

“I have to go now. See you.” Sambung El sedikit kecewa. Kemudian berbalik dan menuju pintu keluar.

Bagaimana bisa kekasihnya sendiri tidak memberitahu masalanya pada dirinya? El benar-benar merasa tidak dianggap oleh Chanyeol. Seketika perasaannya jadi kesal.

“El, do you want to know about Chanyeol’s address in his city?” Tanya Jessica setelah berlari pelan menghampiri El.

El hanya diam tidak menjawab pertanyaan Jessica, hingga akhirnya Jessica menariknya ke sebuah meja besar, tempat staff SM berada.

“Tolong beritahu nona ini alamat lengkap Park Chanyeol, seorang pencipta lagu yang bekerja di divisi A.” Ucap Jessica pada pegawai pria dibalik meja panjangnya.

“Untuk apa, Jessica-ssi?” Tanya Pria itu setelah berdiri dari duduknya.

“Sudah beritahu saja. Lagi pula perempuan disampingku ini adalah kekasihnya.” Jelas Jessica.

Si Pria itu menatap El kemudian kembali menatap Jessica.

“Ne, Jessica-ssi.” Balas pria itu.

“Tunggulah sebentar.” Sambungnya lagi

“Thanks for you helps. I really thankful.” Ucap El pada Jessica setelah Jessica memberikan kertas berisikan alamat Chanyeol di kampung halamannya.

“It’s okay.” Balas Jessica sambil tersenyum ramah.

Mr. and Mrs. Lee’s House

Apgujeong- Gangnam, Seoul – South Korea

Setelah mengetahui bahwa Chanyeol pulang ke kampung halamannya tanpa memberitahu pada dirinya terlebih dahulu, pikiran El berlari kemana-mana.

‘Apa Oppa sudah tidak menganggapku lagi?’

‘Kenapa Oppa tidak memberitahuku? Kenapa Ia tidak menghubungiku?’

‘Apa Oppa sudah tidak mencintaiku lagi?’

‘Sebenarnya ada apa dengan adik Oppa?’

‘Apa Ia baik-baik saja?’

‘Apa yang harus aku lakukan?!?!?’

Tanyanya dalam pikirannya.

Bahkan disaat seperti ini, disaat Ia sedang makan malam dengan keluarganya, Ia tetap tidak bisa berhenti memikirkan keadaan kekasihnya, maupun adik kekasihnya itu.

Walaupun belum pernah bertemu dengan adik kekasihnya, kekasihnya itu pernah beberapa kali menceritakan tentang kondisi keluarganya dan juga kampung halamannya. Dan seingat El, Chanyeol memang pernah menceritakan kondisi adiknya yang sedang sakit.

“Bagaimana, El?” Tanya Tuan Lee kearah El ketika memperhatikan putri sulungnya terlihat sedang memperhatikan sesuatu.

Bukannya menjawab pertanyaan ayahnya, El masih diam sambil menatap kosong ke arah gelas minumnya. Tampaknya Ia tidak sadar akan pertanyaan yang disampaikan Ayahnya.

Adiknya pun menyenggol lengan El pelan. Kemudian El menatap adiknya sebal.

“Ada apa?” Tanya El pelan kepada adiknya.

“Kau yang ada apa.” Balas Tuan Lee sambil memperhatikan putrinya itu.

“Ne? Tidak ada apa-apa.” Jawab El, kemudian meneguk air minumnya.

“Kau ini daritadi terlihat sedang memikirkan sesuatu hingga tidak mendengarkan obrolan kami.” Ucap Tuan Lee.

El pun hanya menatap Ayahnya dengan tatapan minta maaf.

“Kau ada masalah?” Tanya Nyonya Lee khawatir.

El pun mengangguk setelah sempat diam sebelumnya.

“Ada apa?” Tanya Tuan Lee.

“Appa, kau tahu dimana Chun Chon?” Tanya El, kemudian menatap Ayah dan Ibunya bergantian.

“Chun Chon?” Tanya Tuan Lee mengulangi pertanyaan El.

El pun mengangguk, kemudian menatap bingung kedua orangtuanya ketika Tuan dan Nyonya Lee malah tertawa mendengar nama kota Chun Chon.

“Appa dan Eomma kenapa malah tertawa?” Tanya Dan bingung.

“Tentu saja kami mengetahuinya, El. Itu adalah kota dimana kami berasal.” Jawab Nyonya Lee yang telah lebih dulu mengontrol tawanya.

“Benarkah?” Tanya El dan Dan bersamaan.

Nyonya Lee pun mengangguk.

“Memangnya ada apa kau menanyakan Chun Chon?” Tanya Tuan Lee pada El penasaran.

El pun diam sejenak, dan menatap Ayah dan Ibunya bergantian.

“Apa besok pagi aku boleh kesana?” Tanya El.

Tuan dan Nyonya Lee, serta Dan pun terkejut mendengar permintaan El. Mereka menatap El dengan tatapan bingung.

“Kenapa kau mau kesana?” Tanya Tuan Lee.

“Aku ingin menemui kekasihku.” Ucap El.

Tuan Lee pun menatap El terkejut.

“Kekasih?” Ulang Nyonya Lee.

El pun menangguk.

“Maksudmu Chanyeol Oppa mu itu?” Tanya Nyonya Lee lagi.

“Ne. Ia sedang pulang ke kampung halamannya karena adik perempuannya sedang sakit. Bolehkah aku mengunjungi mereka?” Ucap El.

“Tentu saja boleh!!” Jawab Tuan Lee bersemangat, kemudian tertawa senang bersama istrinya.

“Appa kenapa bersikap seperti ini? Senang sekali.” Ucap Dan bingung.

“Kau tahu, Appa sangat senang karena El memiliki kekasih yang berasal dari kota yang sama dengan Appa dan Eomma.” Jelas Tuan Lee kepada Si Bungsu.

“Besok Sekertaris Min yang akan mengantarmu ke Chun Chon, berhubung Ia juga sedang ada tugas didekat sana, bagaimana?” Sambung Tuan Lee kemudian tersenyum.

Kemudian El pun mengangguk daan tersenyum senang setelah mendapatkan ijin dari kedua orangtuanya.

“Kau tidak mau ikut?” Tanya Nyonya Lee pada putri bungsunya.

Dan pun menggeleng.

“Besok aku kan harus sekolah.” Jawabnya.

“Baiklah.” Balas Nyonya Lee.

TBC…….

4 pemikiran pada “Go Sarang! (Chapter 10)

  1. Wow ffx i like much much much more. Sayang skali dilewatkan makax aku baca kebut so mianhae baru koment. Cepat y lanjutanx, smkin menarik aja. Bowbow saeng!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s