I Call It Happy Ending (Chapter 3)

Tittle: I Call It Happy Ending (Chapter 3)

Author: Lee Idil

Main Cast: Byun Baekhyun and Oh Hye Eun

Support Cast: Park ChanYeol

Genre: Romance

Part sebelumnya::

Chapter 1 : exofanfiction.wordpress.com/2012/08/04/i-call-it-happy-ending-chapter-1/

Chapter 2 : https://exofanfiction.wordpress.com/2012/09/12/i-call-it-happy-ending-chapter-2/

 

“Namja paling pintar di kelas ini, Kim Jong In.”

“Hh, Yeoja-yeoja itu mengerikan.”

“ChanYeol-ah, kita tukaran tempat duduk ya?”

“Nan jeongmal saranghae~”

“Selera kita sama.”

***

–Part 3–

“Chukkaeyo!”

Seru Nara kecut setelah medengarkan cerita dari sahabat kesayangannya itu. Hye Eun menceritakan bahwa Baekhyun menyukainya. Rasa kecewa pun melumuri seluruh hati Nara tanpa tersisa. Sudah sewajarnya sih rasa kecewa itu datang saat orang yang kau suka malah menyukai orang lain, apalagi sahabatmu sendiri. Menyebalkan sekali pastinya.

Ditambah Hye Eun yang sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan kehadiran namja popular itu. Tapi kenapa malah dia yang dapat menarik hati Baekhyun?

Belum bisa menerima semuanya, akhirnya Nara pergi meninggalkan mereka berdua.

Hye Eun dan Jinyo saling bertatapan. Hye Eun menggigiti bibirnya. Jelas sekali air wajahnya menunjukkan kecemasan. Hye Eun merasa sangat bersalah. Hey, tapi apa yang bisa dilakukannya? Bagaimanapun ia tidak menginginkan namja pemikat hati sahabatnya itu menyukainya. Itu terjadi begitu saja.

“Ani, gwenchana. Dia mungkin hanya shock.” Jinyo menenangkan Hye Eun lalu pergi untuk menenangkan Nara juga. Memang saat-saat seperti ini, Jinyolah yang paling berperan.

Kini tinggal Hye Eun sendiri yang tertinggal di kantin. Dan sialnya lagi, ia malah bertemu dengan namja pabo itu. Mata mereka saling bersiborok, namun Hye Eun lebih memilih untuk mengalihkannya dan segera pergi dari kantin.

Kali ini Baekhyun membiarkannya. Ia juga sangat sedikit terpukul karena Hye Eun membuang kontak mata dengannya. Dia pikir setelah mendengarkan lagu dari satu handsfree hubungan mereka jadi lebih hangat.

“Hei, itu Hye Eun!” Bisik Chanyeol yang baru menyadari kehadiran Hye Eun.

“Ara.”

“Kau tidak ingin menemuinya?”

“HYE EUN-SSI, SARANGHAE!!!” Baekhyun tiba-tiba berteriak ditengah keramaian kantin. Membuat semuanya hening beberapa saat, dan kemudian terdengan bisikan-bisikan tak senonoh.

Hye Eun mendengarnya, dan ia sangat malu. Ia menyumpahi kehidupan namja bernama Byun Baekhyun itu tidak akan bahagia. Kau tau, dia dipermalukan! Ia segera meninggalkan kantin yang sudah kembali ramai dengan ocehan-ocehan kasar dari yeoja-yeoja gila penggemar Baekhyun yang jelas-jelas tertuju untuknya.

Hidupnya tidak akan mudah setelah ini semua.

***

Baekhyun mondar-mandir di halte bus. Bus sudah lewat, dan dia harus menunggu bus berikutnya karena yeoja itu belum datang juga. Padahal ia ingin meminta maaf atas kesalahannya di kantin tadi. Ia sudah mempermalukan yeoja yang ia sayangi secara tidak langsung. Ah, betapa bodohnya.

Akhirnya Hye Eun pun tiba. Tapi sayang penampilannya saat ini agak semberaut. Rambut dan pakaiannya acak-acakan, juga sedikit terdapat lebam di lengannya. Tentu saja Baekhyun sangat khawatir.

Baekhyun mengambil tempat duduk disamping yeoja itu. Hye Eun sangat risih tapi mau bagaimana lagi, ia sudah tidak sanggup untuk berdiri sekadar mengganti posisi tempat duduknya.

“Kau kenapa?”

Baekhyun memulai percakapan. Hye Eun menatapnya dengan tatapan sinis, seolah semua hal buruk yang terjadi padanya itu karena namja ini.

“Ah, perkenalkan. Aku Baekhyun, kita belum pernah berkenalan kan? Tapi aku sudah tau namamu kok, kau Oh Hye Eun kan. Salam kenal.” Baekhyun berbicara terus menerus sangking gugupnya.

“Kalau aku boleh tau, luka di lenganmu itu kenapa?” Baekhyun bertanya lagi.

Hye Eun menghela napas sebentar, mencoba mengontrol emosinya. “Jelas sekali bukan ini perlakuan penggemarmu yang gila?” Ia menekankan kata penggemar.

Baekhyun terdiam. Ia sangat shock dengan kalimat yang di lontarkan Hye Eun. Ini membuatnya semakin merasa bersalah. Ah, memperlihatkan wajahnya di depan Hye Eun pun ia sudah tak sanggup, ia sangat malu. Ia hanya bisa terdiam. Dan keheningan pun meruak.

“Mian.” Akhirnya Baekhyun kembali angkat bicara.

“Selanjutnya, aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan seorang pun mengganggumu!”

Hye Eun memutarkan bola matanya dan memilih untuk tidak mendengarkan omong kosong namja pabo ini.

“Karena itu, kau harus mau menjadi yeojachinguku. Kau mau kan?!” Baekhyun berseru dengan semangat. Namun yang disampingnya keheranan bukan main.

***

Mereka berdua turun dari bus itu.

“Hye Eun-ssi, bagaimana? Kau belum menjawabnya.” Baekhyun terus mengikuti Hye Eun. Seperti anak kecil yang merengek di belikan permen oleh ibunya.

“Shireoyo!” Jawab Hye Eun dingin.

Hye Eun kembali berjalan. Meninggalkan Baekhyun sendiri. Ia berjalan, semakin jauh, memperbesar jarak diantara mereka. Semakin cepat. Tapi Baekhyun terus mengejanya.

Ah, bahkan langitpun menangis terharu melihat sedihnya kisah cinta ini.

“Hye Eun-ah!!” Teriaknya sia-sia.

“Aku tidak akan berhenti sampai kau menerimaku!!”

Hye Eun tetap pura-pura tidak mendengar. Sekarang ia sudah sampai rumahnya, dan segera cepat-cepat menutup pintu rumahnya. Namun tindakannya ditahan Baekhyun.

“Aku tidak akan pulang sampai kau menerimaku.” Bibir Baekhyun sudah membiru. Ia menggigil karena hujan yang deras. Begitu juga dengan Hye Eun.

“Jangan bermimpi!” Akhirnya Hye Eun yang menang dalam dorong mendorong pintu itu. Hye Eun selamat masuk kedalam rumahnya, sementara Baekhyun masih kedinginan di luar sana. Baekhyun sedikit terguncang dengan perkataan Hye Eun yang memang sangat menyakitkan.

***

Baekhyun memang bukan seorang pembual. Kalau dia katakan tidak akan pulang sebelum cintanya ditetima yeoja itu, dia tidak akan pulang. Ia bermalam di teras rumah Hye Eun dengan tubuh menggigil.

“Hey, kenapa kau ada disini? Apa yang terjadi denganmu?” Ucap seorang namja berperawakan tinggi cemas. Seorang namja terkulai lemas di depan terasnya dengan baju yang masih lembab padahal ini masih pagi buta.

Namja berperawakan tinggi itu segera memasukkan Baekhyun kedalam rumahnya. Baekhyun masih sedikit lemas, tapi ia sudah bangun.

“Aku pergi belanja dulu. Kalau kau perlu apa-apa, kau ketuk saja kamar yang itu. Dia adikku.” Namja itu menunjukkan kamar berpintu biru dengan hiasan bertuliskan ‘Hye Eun’ di depannya.

Baekhyun tersenyum melihat nama yang terukir di pintu itu, ia juga tak lupa mengucapakan terimakasih.

“Ah, salam kenal, aku Kris.”

Namja berperawakan tinggi bernama Kris itu memang benar-benar baik. Jarang sekali ada orang yang akan membiarkan orang yang tidak dikenali beristirahat di rumahnya.

Sudah hampir dua jam. Baekhyun terus melihat ke arah jam dinding putih sewarna dengan dinding ruangan ini. Yeoja itu tak kunjung keluar dari kamar. Apa yang dilakukannya? Apa dia sudah mandi? Apa dia sudah makan? Apa jangan-jangan dia sakit?

Beruntungnya Baekhyun. Tak berapa lama memikirkan itu. Malaikatnya segera keluar dari pintu biru itu. Dengan raut wajah yang tak pernah berubah untuknya. Datar dan dingin.

“Apa maumu?” Tanyanya sambil berjalan menuju suatu ruangan, sepertinya dapur. Benar, ia belum makan.

“Sudah ku bilang aku tidak akan berhenti.” Jawabnya tegas.

“Kau hanya menggangguku.” Ia segera masuk ke kamar lagi. Melihat aksinya, Baekhyun segera berlari kearahnya, dan menahannya agar ia tidak masuk ke ruangan itu lagi. Entah energi apa yang datang, padahal tadi untuk berdiri saja sulit sekali.

Mata mereka saling bersiborok. Biarpun itu tatapan yang sangat dingin, tapi sukses membuat pipi Baekhyun memanas. Membuat darahnya mengalir deras. Jantungnya juga berdegup kencang.

“Kumohon, jadilah yeojachingu ku!” Kata-kata itu terlontar dari mulutnya lagi. Entah sebodoh apa, padahal ia tau kalimat itu hanya akan menghasilkan penolakan.

Hye Eun menghela nafas. Segera berjalan menuju sofa panjang tempat Baekhyun berbaring tadi. “Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika berpacaran denganku.” Tatapnya dingin. Baekhyun masih terpaku melihatnya. Menurutnya, yeoja ini terlalu cantik dengan apapun yang digunakannya. Biarpun sekarang dia hanya menggunakan piyama tidur berwarna biru.

“Beri aku waktu untuk menyadarkanmu bahwa aku namja yang tepat untukmu” serunya pasti. “Kenapa kita tidak mencoba menjalani semua ini dulu?” Tanyanya lagi. “Aku akan berusaha menjadi namja terbaik yang pernah kau temui!” Tambahnya.

Hye Eun menatap namja pabo ini dengan tatapan kasihan. Memutar bola matanya, dan bilang “Keras kepala.” Ia menggigit apelnya lagi. Baekhyun terus memandanginya seduktif. Membuat Hye Eun bergidik ngeri. Hey, bagaimanapun sekarang mereka berdua berada dalam satu ruangan. Kau tau kan orang ketiga itu setan?!

Namun maksud Baekhyun bukan itu, ia hanya ingin kata ‘ne’, kata yang cuma terdiri dari dua huruf itu keluar dari bibir Hye Eun.

Dia mulai tak tahan, “Baiklah, terserahmu saja, yang penting segera keluar dari rumahku!” katanya sambil mendorong Baekhyun kearah pintu. Baekhyun masih berada dalam posisinya, “Maksudmu?” Ia masih tak percaya.

“Apalah, terserahmu, sekarang pergilah, dan jangan pernah bertemu dengan oppa-ku lagi!” katanya dengan jari telunjuk menunjuki dada Baekhyun. Masih tak suka dengan sikap yang ia ambil.

“Baiklah, aku akan pergi…chagi.” Baekhyun menyunggingkan senyum. Ia segera mengambil barangnya yang ada di sofa, dan segera keluar dari pintu. Tak lupa melambaikan tangan ke arah Hye Eun. Tapi Hye Eun malah segera membanting pintu rumahnya dengan keras.

 

 

 

4 pemikiran pada “I Call It Happy Ending (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s